cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
protanbp@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Produksi Tanaman
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23383976     EISSN : 25278452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Produksi Tanaman adalah Jurnal Pertanian yang diterbitkan oleh Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berisi hasil penelitian yang disusun oleh mahasiswa setelah menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi.
Arjuna Subject : -
Articles 3,493 Documents
Karakterisasi Sifat Kuantitatif Pada Dua Populasi Tanaman Melon (Cucumis melo L.) Generasi F2 Nurrohman, Taufik; Adiredjo, Afifuddin Latif
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 11 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1594

Abstract

Melon (Cucumis melo L.) merupakan komoditas holtikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pada umumnya, konsumen menyukai buah melon yang manis dan berbobot. Melon yang manis dan berbobot dapat direncanakan dari kegiatan karakterisasi. Karakterisasi merupakan kegiatan mendeskripsikan sifat tanaman dan menghasilkan informasi penting untuk dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan membandingkan karakter kuantitatif dari dua populasi tanaman melon. Metode penelitian ini adalah dengan menanam 2 populasi tanaman melon generasi F2 hasil persilangan Melindo (ME) x Madesta (MD) dan Melindo (ME) x Glamour (GL). Setiap populasi memiliki 25 tanaman dengan 2 ulangan. Penelitian dilaksanakan di greenhouse Jatimulyo Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Pengamatan dilakukan pada 11 karakter kuantitatif dan mengacu pada The International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI) Descriptors for Melon (Cucumis melo L.) tahun 2003. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan statistik parametrik menggunakan Independent Sample T-test taraf 5%, One-Way ANOVA Test taraf 5% dan Kolmogorov-Smirnov (K-S Test) taraf 5%. Hasil identifikasi didapatkan dua populasi tanaman melon menunjukkan perbedaan penampilan fenotip pada setiap populasi. Dari hasil analisis didapatkan (1) nilai kemiripan rerata pada karakter kuantitatif antarpopulasi terdapat pada karakter diameter batang, umur berbunga cabang hermaprodit pada cabang ke-8, diameter buah, tebal daging buah, dan tebal kulit buah, (2) nilai kemiripan rerata pada karakter kuantitatif antarpopulasi tidak terdapat pada karakter panjang daun, lebar daun, bobot buah, dan kadar, dan (3) nilai kemiripan rerata pada karakter kuantitatif antarpopulasi tidak dapat diketahui terdapat pada karakter umur panen dan panjang buah dikarenakan karakter umur panen tidak terdistribusi normal dan karakter panjang buah tidak homogen.
Pengaruh Dosis Biourin Sapi dan Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Fuadi, Anwar; Saraswati, Ika Dyah; Nurlaelih, Euis Elih
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 11 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1595

Abstract

Bawang merah merupakan salah satu komoditi sayuran utama di Indonesia. Namun Produksi bawang merah di Indonesia masih cenderung fluktuatif. Upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi bawang merah adalah memperbaiki teknis budidaya dengan mengaplikasikan biourin sapi dan pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh berbagai dosis biourin sapi dan pupuk organik pada pertumbuhan dan hasil bawang merah serta interaksi keduanya. Penelitian dilaksanakan di green house Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Kecamatan Lowokwaru Kota Malang pada bulan Oktober 2020 sampai Desember 2020. Penelitian ini menggunakan RAK F 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor 1 merupakan dosis biourin sapi (B) yang terdiri dari tiga taraf 60, 120 dan 180 ml tanaman-1 (B). Faktor 2 merupakan perlakuan dosis pupuk organik (P) yang terdiri dari tiga taraf yaitu 100 200 dan 300 g tanaman-1. Pengamatan dilakukan saat tanaman berumur 14, 28, 42, dan 56 hst. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (uji F) pada tingkat kesalahan 5%, dan dilanjutkan dengan uji BNT pada tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi dosis biourin sapi menunjukkan hasil berbeda nyata pada variabel jumlah daun, luas daun, jumlah anakan, bobot segar total tanaman dan bobot kering total tanaman. Sedangkan pemberian berbagai dosis pupuk organik menunjukkan hasil berbeda nyata pada variabel jumlah anakan, bobot segar total tanaman, bobot kering tanaman. Pemberian biorin 180 ml tanaman-1 dengan dosis pupuk organik 300 g tanaman-1 atau perlakuan P3B3 merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi bawang merah.
Pengaruh Dosis Mulsa Jerami Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.) Priandi, Asril; Azizah, Nur; Sugito, Yogi
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 11 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1597

Abstract

Tanaman sawi hijau telah banyak dibudidayakan di Indonesia, namun produktivitas masih tergolong rendah. Adanya penurunan produktivitas tanaman sawi dapat disebabkan oleh beberapa kompetisi antara tanaman budidaya dengan gulma. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan tidak merusak lingkungan yaitu dengan penggunaan mulsa jerami. Penelitian ini bertujuan untuk  mempelajari pengaruh dosis mulsa jerami terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau dan mendapatkan dosis mulsa jerami yang optimum terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau. Hipotesis dari penelitian ini adalah penggunaan mulsa jerami dengan dosis optimum dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau.Penelitian dilaksanakan bulan Juni-Juli di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari 6 perlakuan yaitu, Tanpa Mulsa, 3 ton ha-1,6 ton ha -1, 9 ton ha-1, 12 ton ha-1, 15 ton ha-1 dan 4 ulangan. Variabel pengamatan meliputi jumlah daun, luas daun, indeks luas daun, bobot kering total tanaman, laju pertumbuhan tanaman, dan bobot segar per hektar. Hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa aplikasi mulsa jerami berpengaruh nyata pada luas daun, indeks luas daun, bobot kering, dan bobot segar tanaman sawi per hektar seiring dengan penambahan dosis mulsa jerami sampai dengan 12 ton ha-1 dan menurun dengan penambahan dosis 15 ton ha-1. Berdasarkan hasil analisis regresi, diperoleh dosis mulsa optimum mulsa jerami untuk pertumbuhan dan hasil sawi hijau sebesar 11,43 ton ha-1 dengan persamaan y = -0,0298x2 + 0,68x + 7,56 (R2 = 0,9108).
Pengaruh Kombinasi Media Tanam dan Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Kualitas Selada Hijau (Lactuca sativa L) Putri, Grizhelda Moniteria Tiffani; Nugroho, Agung; Sandrakirana, Ratih
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 11 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1598

Abstract

Selada (Lactuca sativa L.) merupakan kelompok sayuran daun yang dikonsumsi oleh masyarakat seluruh dunia. Tanaman selada tumbuh baik di daerah iklim tropis maupun subtropis. Untuk mendapatkan produksi yang meningkat perlu adanya komposisi media yang tepat. Salah satunya melalui aplikasi penggunaan pupuk kandang dan cocopeat. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yang diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kombinasi pada perlakuan media tanam pupuk kandang pada beberapa parameter pengamatan dan dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Kombinasi perlakuan media tanam tanah 50% dan cocopeat 50% + pupuk kandang 15 ton/ha memiliki hasil tertinggi pada parameter pertumbuhan, dan kombinasi perlakuan media tanam tanah 100% + pupuk kandang 15 ton/ha memiliki hasil tertinggi pada kualitas selada.
Lobster Air Tawar Australia Datang Pasokan Bibit Terjamin Anto, Yudi
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 10 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1601

Abstract

Beberapa bongkah es batu itu segera dimasukkan dalam kolam berukuran 1 m x2,5 m. Setelah yakin air kolam itu bersuhu 20°C, sang empunya mencemplungkan sekitar 330 set lobster walkamin berukuran 12,5—20 cm. Semua diimpor langsung dari Australia. Tak sampai 3 hari lobster walkamin itu sudah berpindah ke tangan peternak.Dari sebuah kolam sang empunya, Sugiono, memperoleh pendapatan Rp4,5-juta.Sebagai importir, sejak 3 bulan silam Sugiyono memang getol untuk mengatasi kekurangan bibit. Bayangkan seekor lobster walkamin bisa memproduksi 700— 800 telur,” ujar pemilik TO Yabby Farm di Jakarta Timur itu.Sampai pertengahan Agustus 2006, ayah 1 putri itu sudah mengimpor 1.540 lobster walkamin. Memang sebagian besar pembelinya plasma binaan. Mereka mendapat prioritas karena farm mitra usaha tani sendiri mendapat order pasokan bibit hingga 50.000 ekor ukuran 2 inci per bulan. “Sampai sekarang belum terlayani,” ujarnya. Itu berarti 2— 3 kali lipat daripada produksi indukan lobster lokal yang cuma 300—400 butir.Boyong indukanIndukan lobster walkamin memang spesial. Menurut Freshwater Fisheriesh and Aquaculture Center (FFCA) di Queensland, Australia, strain silangan redclaw dari Sungai Flinders dan Gilbert itu memiliki pertumbuhan 37% lebih cepat daripada semua strain terbaik yang ada seperti strain flinders dan gilbert.Padahal, strain flinders bila dibandingkan lobster lokal (tanpa inbreeding) lebih cepat sekitar 10—20%. Dalam waktu 1 bulan starin flinders bisa menembus ukuran 5 cm; lokal butuh 2 bulan. lobster walkamin lebih singkat lagi, kurang dari sebulan untuk ukuran yang sama. Cepatnya pertumbuhan lobster lobster walkamin diharapkan bisa memenuhi permintaan pasar lobster ukuran konsumsi.Keunggulan lobster walkamin membuat Ir Cuncun Setiawan di Bintaro, Tangerang, ikut membeli 60 set berukuran 12 cm. “lobster walkamin bisa menutupi kekurangan bibit untuk mencetak lobster konsumsi,” ujar pemilik Bintaro Fish Farm itu.Pun Bernard Raharjo di Meruya, Jakarta Barat. Ia sengaja memesan 50 indukan lobster walkamin untuk mendongkrak produksi bibit. Maklum ia hanya mampu menghasilkan 10.000 bibit per bulan dari total permintaan 12.000—15.000 bibit/bulan.“Sudah banyak yang minta, tapi tidak bisa dipenuhi. Tidak ada barang,” ujar Bejo. Begitu juga dengan Rico, peternak di Yogyakarta.Margin tinggiHarga lobster walkamin sebetulnya cukup mahal. Di tangan peternak, ukuran 12,5 cm dibandrol Rp1,5-juta/set. Ukuran 15 cm ke atas mencapai Rp2,l-juta/set. Satu set terdiri dari 5 jantan dan 3 betina. Namun meski harga relatif mahal, tidak menyurutkan peminat untuk membeli lobster walkamin. Agung Lukito di Jakarta Timur misalnya. Untuk mendapatkan 8 set indukan ia rela merogoh '<ocek Rpl2-juta. “Harus adu cepat dengan peternak lain. Kalau tidak, ya kehabisan barang,” ujar Agung.Tingginya harga sebanding tingginya produksi telur. Umumnya indukan siap produksi sekitar 3—4 bulan ke depan. Setiap siklus kawin betina sepanjang 12,5 cm bisa menggendong hingga 700 telur. Dengan asumsi tingkat kelulusan hidup dari telur sampai ukuran 5 cm sebesar 90%, diperoleh 630 bibit siap jual.Berdasarkan lacakan Trubus, harga bibit 5 cm berkisar Rp2.500—Rp3.000 per ekor. Pendapatan yang diperoleh dari setiap .nduk betina Rp 1,58-juta per siklus. Angka itu jauh lebih tinggi ketimbang memakai induk lokal yang hanya menghasilkan Rp900.000/siklus.Atasi inbreedingMenurut FX Santoso Produktivitas indukan lokal juga sebetulnya bisa setara lobster walkamin, Misal ukurannya minimal 12,5 cm. berkurangnya produksi bibit yang Terjadi sekarang ini lantaran indukan yang dipakai belum mencapai ukuran ideal. Indukan ideal minimal berukuran 12,5 cm. “Kurang dari itu pasti produksinya sedikit,” ujar pemilik Santoso Farm di Surabaya itu.Hal lain yang menyebabkan produksi bibit melorot adalah inbreeding. Indukan lokal inbreeding berukuran 14 cm maksimal hanya menghasilkan 300 burayak. Padahal, sebelum kasus perkawinan sedarah itu, betina lokal dapat menghasilkan 500 telur. “Akibat inbreeding anakan menjadi kuntet. Kalau kuntet produksi bisa turun hingga 80%,” ujar Santoso.Inbreeding dapat dicegah dengan seleksi bibit dan indukan. Itu pula yang dilakukan Iwan Wibowo, peternak di Yogyakarta. Ia sengaja membeli induk jantan dan betina dari tempat berbeda. Di setiap kolam pemijahan tertera asal-usul induk. Anakan yang dihasilkan pun diletakkan dalam kolam terpisah dan ditandai. “Dengan cara itu sampai sekarang saya belum alami inbreeding" ujar Iwan.Cara serupa dijalani Agung. Menurutnya, indukan lobster walkamin pun sebaiknya tidak dikawinkan dengan sesama lobster walkamin. “Malah bisa inbreeding juga,” tuturnya. Solusinya, indukan lobster walkamin betina yang didatangkan dikawinkan dengan jantan lokal. Keunggulan lobster walkamin jantan dan betina sama-sama menurunkan anakan kualitas baik. Karena itu janji manis lobster walkamin dapat memenuhi harapan peternak seperti Sugiono bukan lagi sebuah impian.
Evaluasi Keragaman Pada Populasi F2 Tanaman Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) Firmansyah, Rahmanda Ilman; Yulianah, Izmi; Kuswanto, Kuswanto
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 12 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1603

Abstract

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) memiliki nutrisi yang sama baiknya dengan kedelai. Permasalahan tersebut menjadi peluang pengembangan kecipir pada kegiatan perakitan tanaman melalui proses pemuliaan tanaman yang diawali dengan karakterisasi dan evaluasi keragaman. Hasil keragaman tertinggi terdapat pada populasi F2, hal tersebut disebabkan karena pada populasi ini terjadi segregasi. Penelitian ini dilaksanakan di lahan budidaya Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur yang berlangsung pada bulan April-November 2019. Penelitian ini menggunakan metode single plant, dengan karakter yang diamati sebanyak 28 karakter pada total 300 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan dari keempat populasi F2 memiliki perbedaan karakter yang muncul pada masing-masing karakter dari masing-masing populasi. Berdasarkan hasil analisis data kualitatif menunjukkan hasil keragaman yang dominan beragam dan hanya beberapa karakter menunjukkan hasil keragaman yang seragam. Sedangkan pada analisis karakter kuantitatif, koefisien keragaman yang diperoleh cenderung rendah hingga sedang, dan hanya ditemukan satu hasil koefisien keragaman kategori tinggi (≥ 50,1%) yaitu pada hasil biji per tanaman di populasi F2.1.
Keragaman Karakteristik Fisik Biji 22 Genotipe Jarak Kepyar (Ricinus communis L.) sebagai Dasar Seleksi Amali, Mukhlash; Soegianto, Andy; Waluyo, Budi
Jurnal Produksi Tanaman Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1604

Abstract

Jarak kepyar (Ricinus communis L.) tergolong dalam famili Euphorbiaceae. Tanaman ini berpeluang secara ekonomis. Bijinya mengandung minyak hingga 40-60%. Minyak jarak kepyar dapat dimanfaatkan ke banyak kegunaan di dunia industri di antaranya sumber bahan bakar biodesel, bahan kosmetika, polimer plastik berupa resin dan cat. Produksi jarak kepyar di Indonesia masih fluktuatif. Salah satu cara dalam meningkatkan produktivitas tanaman jarak kepyar ialah dengan pemuliaan tanaman. Untuk memperoleh varietas yang memiliki sifat yang unggul diperlukan adanya keragaman genetik. Keragaman genetik merupakan hal mendasar agar seleksi bisa berjalan efektif. Adapun karakteristik fisik biji jarak kepyar sendiri dapat digunakan sebagai dasar dalam kegiatan seleksi. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui keragaman karakter kuantitatif dan kualitatif biji pada 22 genotipe jarak kepyar sebagai dasar dalam seleksi. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2021. Bahan yang digunakan dalam penelitian ialah 22 genotipe jarak kepyar hasil seleksi tahan layu fusarium, pupuk NPK dan urea, deskriptor UPOV (Ricinus communis L.), polibag 40×40 cm, tanah, dan air. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok diulang 2 kali. Setiap plot terdiri dari 3 tanaman. Jarak antar plot 60x60 cm. Pengamatan dilakukan pada karakter kuantitatif dan kualitatif biji jarak kepyar. Hasil analisis menunjukkan hasil yang sangat nyata. Nilai koefisien variasi genetik (KVG) dan koefisien variasi fenotip (KVF) diperoleh hasil berkriteria rendah hingga tinggi pada karakter kuantitatif biji. Sedangkan pada karakter kualitatif biji diperoleh nilai koefisien kemiripan yang rendah atau keragaman genetik yang tinggi.
Pengaruh Tingkat EC (Electrical Conductivity) Dan Nutrisi Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L. var chinensis) Pada Hidroponik Sistem Sumbu (Wick System) Labeda, Amelia Gabriela; Koesriharti, Koesriharti
Jurnal Produksi Tanaman Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1606

Abstract

Pakcoy merupakan jenis sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena mudah untuk didapatkan dan baik dikonsumsi segar tanpa diolah maupun dalam bentuk olahan. Selain itu, tanaman pakcoy juga diminati karena mengandung protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin E dan vitamin K yang sangat baik untuk kesehatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi pakcoy yaitu melalui teknik budidaya secara hidroponik. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui dan mendapatkan nilai EC (Electrical Conductivity) dan kombinasi nutrisi yang tepat sehingga dapat memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy terbaik pada sistem hidroponik sumbu. Bahan yang digunakan didalam penelitian yaitu benih pakcoy varietas Green, Nutrisi AB Mix Kebun Sayur Surabaya, biourin kelinci, dan pH up. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2021 hingga Juli 2021 di Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Hasil percobaan ini menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan tingkat EC dan kombinasi nutrisi terhadap diameter batang. Perlakuan tingkat EC berpengaruh nyata terhadap bobot segar total tanaman pakcoy dengan pertumbuhan pakcoy terbaik dengan pemberian EC sebesar 2 mS/cm. Perlakuan kombinasi nutrisi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy seperti panjang tanaman, jumlah daun, diameter batang, luas daun per tanaman, bobot segar total, dan kadar klorofil dengan nutrisi terbaik pada nutrisi 100% AB mix dan kombinasi nutrisi 75% AB mix + 25% biourin kelinci.
Pengaruh Dosis Pupuk P dan Konsentrasi Giberelin Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Santoso, Adenia Ratnaputri; Maghfoer, Moch Dawam
Jurnal Produksi Tanaman Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1607

Abstract

Mentimun merupakan salah satu tanaman sayur yang dibudidayakan di Indonesia. Mentimun memiliki banyak manfaat dan kandungan gizi yang berguna untuk kesehatan manusia. Fosfor merupakan salah satu unsur hara yang dibutuhkan tanaman karena tergolong dalam unsur hara esensial. Giberelin merupakan salah satu hormon tanaman atau fitohormon yang berperan penting dalam fisiologis tanaman, terutama pada pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui interaksi antar perlakuan. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September hingga November 2020 di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Jatimulyo Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Penelitian ini menggunakan faktor dosis pupuk fosfor yang terdiri dari 4 taraf, yaitu 30 kg P2O5 ha-1, 60 kg P2O5 ha-1, 90 kg P2O5 ha-1, dan 120 kg P2O5 ha-1 serta faktor konsentrasi giberelin yang terdiri dari 4 taraf, yaitu tanpa giberelin, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat interaksi pada pengamatan panjang tanaman, jumlah daun dan indeks klorofil pada umur 23 HST hingga 37 HST serta pada parameter jumlah bunga betina tanaman mentimun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk fosfor dengan dosis 120 kg P2O5 ha-1 dan giberelin konsentrasi 200 ppm mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun dibandingkan dengan perlakuan pupuk fosfor dosis 30 kg P2O5 ha-1 dan tanpa giberelin (P0G0).
Korelasi dan Sidik Lintas Karakter Kuantitatif Sepuluh Varietas Kacang Hijau (Vigna Radiata L.) Terhadap Cekaman Genangan Fase Vegetatif Al-Jabbar, Bambang; Purnamaningsih, Sri Lestari
Jurnal Produksi Tanaman Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1608

Abstract

Kacang hijau (Vigna radiata L.)  merupakan komoditas tanaman pangan penting di Indonesia yang bernilai gizi tinggi. Produksi dan kualitas hasil kacang hijau berpotensi menurun dikarenakan perubahan pola dan intensitas curah hujan yang menyebabkan kondisi kelebihan air atau lahan tergenang. Salah satu upaya pengembangan kacang hijau yang toleran terhadap kondisi cekaman genangan dapat dilakukan melalui kegiatan evaluasi toleransi berbagai varietas kacang hijau yang telah dilepas sebagai sumber plasma nutfah untuk memperoleh genotip kacang hijau yang toleran terhadap cekaman genangan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah  untuk mengetahui karakter yang berkorelasi terhadap ketahanan kacang hijau pada kondisi cekaman genangan di fase vegetatif dengan mencari tahu keeratan hubungan karakter bobot kering akar terhadap karakter lainnya yang menjadi indikator berlangsungnya mekanisme toleransi kacang hijau terhadap cekaman genangan. Kegiatan penelitian berlangsung di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (BALITKABI), Jl. Raya Kendalpayak Km.8, Kecamatan Pakisaji, Kota Malang, Jawa Timur dari bulan Mei 2021 hingga Juli 2021. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok terhadap 10 varietas kacang hijau dengan taraf penggenangan selama 10 hari ketika tanaman telah berusia 20 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks klorofil daun, volume akar, berat kering batang, berat kering daun, dan luas daun berkorelasi positif terhadap karakter berat kering akar. Selain itu diketahui pula bahwa karakter berat kering daun memiliki pengaruh langsung terbesar terhadap berat kering akar per tanaman, sedangkan karakter berat kering batang memiliki pengaruh langsung terhadap karakter bobot biji per tanaman.

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 01 (2026): Januari Vol. 14 No. 2 (2026): Februari (In-Press) Vol. 13 No. 12 (2025): Desember Vol. 13 No. 11 (2025): November Vol. 13 No. 10 (2025): Oktober (In-Press) Vol. 13 No. 08 (2025): Agustus Vol. 13 No. 07 (2025): Juli Vol. 13 No. 06 (2025): Juni Vol. 13 No. 05 (2025): Mei Vol. 13 No. 04 (2025): April Vol. 13 No. 9 (2025): September Vol. 13 No. 3 (2025): Maret Vol. 13 No. 2 (2025): Februari Vol. 13 No. 1 (2025): Januari Vol. 12 No. 12 (2024): Desember Vol. 12 No. 11 (2024): November Vol. 12 No. 10 (2024): Oktober Vol. 12 No. 09 (2024): September Vol. 12 No. 05 (2024): Mei Vol. 12 No. 04 (2024): April Vol. 12 No. 8 (2024): Agustus Vol. 12 No. 7 (2024): Juli Vol. 12 No. 6 (2024): Juni Vol. 12 No. 3 (2024): Maret Vol. 12 No. 2 (2024): Februari Vol. 12 No. 1 (2024): Januari Vol. 11 No. 12 (2023): Desember Vol. 11 No. 11 (2023): November Vol. 11 No. 10 (2023): Oktober Vol. 11 No. 9 (2023): September Vol. 11 No. 8 (2023): Agustus Vol. 11 No. 7 (2023): Juli Vol. 11 No. 6 (2023): Juni Vol. 11 No. 5 (2023): Mei Vol. 11 No. 4 (2023): April Vol. 11 No. 3 (2023): Maret Vol. 11 No. 2 (2023): Februari Vol. 11 No. 1 (2023): Januari Vol. 10 No. 12 (2022): Terbitan Bulan Desember Vol. 10 No. 11 (2022): Terbitan Bulan November Vol. 10 No. 10 (2022): Terbitan Bulan Oktober Vol. 10 No. 9 (2022): Terbitan Bulan September Vol. 10 No. 8 (2022): Terbitan Bulan Agustus Vol. 10 No. 7 (2022) Vol 10, No 7 (2022) Vol. 10 No. 6 (2022) Vol 10, No 5 (2022) Vol. 10 No. 5 (2022) Vol. 10 No. 4 (2022) Vol 10, No 4 (2022) Vol. 10 No. 3 (2022) Vol 10, No 3 (2022) Vol. 10 No. 2 (2022) Vol 10, No 2 (2022) Vol. 10 No. 1 (2022) Vol 10, No 1 (2022) Vol 9, No 12 (2021) Vol. 9 No. 12 (2021) Vol. 9 No. 11 (2021) Vol 9, No 11 (2021) Vol. 9 No. 10 (2021) Vol 9, No 10 (2021) Vol 9, No 9 (2021) Vol. 9 No. 9 (2021) Vol. 9 No. 8 (2021) Vol 9, No 8 (2021) Vol. 9 No. 7 (2021) Vol 9, No 7 (2021) Vol. 9 No. 6 (2021) Vol 9, No 6 (2021) Vol. 9 No. 5 (2021) Vol 9, No 5 (2021) Vol 9, No 4 (2021) Vol. 9 No. 4 (2021) Vol 9, No 3 (2021) Vol. 9 No. 3 (2021) Vol. 9 No. 2 (2021) Vol 9, No 2 (2021) Vol. 9 No. 1 (2021) Vol 9, No 1 (2021) Vol 8, No 12 (2020) Vol. 8 No. 12 (2020) Vol. 8 No. 11 (2020) Vol 8, No 11 (2020) Vol 8, No 10 (2020) Vol. 8 No. 10 (2020) Vol. 8 No. 9 (2020) Vol 8, No 9 (2020) Vol 8, No 8 (2020) Vol. 8 No. 8 (2020) Vol 8, No 7 (2020) Vol. 8 No. 7 (2020) Vol. 8 No. 6 (2020) Vol 8, No 6 (2020) Vol 8, No 5 (2020) Vol. 8 No. 5 (2020) Vol. 8 No. 4 (2020) Vol 8, No 4 (2020) Vol. 8 No. 3 (2020) Vol 8, No 3 (2020) Vol 8, No 2 (2020) Vol. 8 No. 2 (2020) Vol. 8 No. 1 (2020) Vol 8, No 1 (2020) Vol 7, No 12 (2019) Vol. 7 No. 12 (2019) Vol 7, No 11 (2019) Vol. 7 No. 11 (2019) Vol. 7 No. 10 (2019) Vol 7, No 10 (2019) Vol 7, No 9 (2019) Vol. 7 No. 9 (2019) Vol. 7 No. 8 (2019) Vol 7, No 8 (2019) Vol. 7 No. 7 (2019) Vol 7, No 7 (2019) Vol 7, No 6 (2019) Vol. 7 No. 6 (2019) Vol. 7 No. 5 (2019) Vol 7, No 5 (2019) Vol 7, No 4 (2019) Vol. 7 No. 4 (2019) Vol 7, No 3 (2019) Vol. 7 No. 3 (2019) Vol 7, No 2 (2019) Vol. 7 No. 2 (2019) Vol. 7 No. 1 (2019) Vol 7, No 1 (2019) Vol. 6 No. 12 (2018) Vol 6, No 12 (2018) Vol. 6 No. 11 (2018) Vol 6, No 11 (2018) Vol 6, No 10 (2018) Vol 6, No 10 (2018) Vol. 6 No. 10 (2018) Vol. 6 No. 9 (2018) Vol 6, No 9 (2018) Vol 6, No 8 (2018) Vol. 6 No. 8 (2018) Vol 6, No 8 (2018) Vol 6, No 7 (2018) Vol 6, No 7 (2018) Vol. 6 No. 7 (2018) Vol. 6 No. 6 (2018) Vol 6, No 6 (2018) Vol 6, No 5 (2018) Vol. 6 No. 5 (2018) Vol 6, No 4 (2018) Vol. 6 No. 4 (2018) Vol. 6 No. 3 (2018) Vol 6, No 3 (2018) Vol 6, No 2 (2018) Vol. 6 No. 2 (2018) Vol 6, No 2 (2018) Vol. 6 No. 1 (2018) Vol 6, No 1 (2018) Vol. 5 No. 12 (2017) Vol 5, No 12 (2017) Vol 5, No 12 (2017) Vol 5, No 11 (2017) Vol. 5 No. 11 (2017) Vol. 5 No. 10 (2017) Vol 5, No 10 (2017) Vol. 5 No. 9 (2017) Vol 5, No 9 (2017) Vol 5, No 8 (2017) Vol. 5 No. 8 (2017) Vol. 5 No. 7 (2017) Vol 5, No 7 (2017) Vol 5, No 6 (2017) Vol. 5 No. 6 (2017) Vol. 5 No. 5 (2017) Vol 5, No 5 (2017) Vol. 5 No. 4 (2017) Vol 5, No 4 (2017) Vol 5, No 3 (2017) Vol. 5 No. 3 (2017) Vol. 5 No. 2 (2017) Vol 5, No 2 (2017) Vol. 5 No. 1 (2017) Vol 5, No 1 (2017) Vol 4, No 8 (2016) Vol. 4 No. 8 (2016) Vol. 4 No. 7 (2016) Vol 4, No 7 (2016) Vol 4, No 6 (2016) Vol. 4 No. 6 (2016) Vol. 4 No. 5 (2016) Vol 4, No 5 (2016) Vol. 4 No. 4 (2016) Vol 4, No 4 (2016) Vol 4, No 3 (2016) Vol. 4 No. 3 (2016) Vol. 4 No. 2 (2016) Vol 4, No 2 (2016) Vol 4, No 1 (2016) Vol. 4 No. 1 (2016) Vol 3, No 8 (2015) Vol. 3 No. 8 (2015) Vol 3, No 7 (2015) Vol. 3 No. 7 (2015) Vol 3, No 6 (2015) Vol. 3 No. 6 (2015) Vol. 3 No. 5 (2015) Vol 3, No 5 (2015) Vol. 3 No. 4 (2015) Vol 3, No 4 (2015) Vol 3, No 3 (2015) Vol. 3 No. 3 (2015) Vol. 3 No. 2 (2015) Vol 3, No 2 (2015) Vol 3, No 1 (2015) Vol. 3 No. 1 (2015) Vol 2, No 8 (2014) Vol. 2 No. 8 (2014) Vol. 2 No. 7 (2014) Vol 2, No 7 (2014) Vol 2, No 6 (2014) Vol. 2 No. 6 (2014) Vol. 2 No. 5 (2014) Vol 2, No 5 (2014) Vol. 2 No. 4 (2014) Vol 2, No 4 (2014) Vol 2, No 3 (2014) Vol. 2 No. 3 (2014) Vol. 2 No. 2 (2014) Vol 2, No 2 (2014) Vol 2, No 1 (2014) Vol. 2 No. 1 (2014) Vol 1, No 6 (2013) Vol. 1 No. 6 (2013) Vol. 1 No. 5 (2013) Vol 1, No 5 (2013) Vol 1, No 4 (2013) Vol. 1 No. 4 (2013) Vol. 1 No. 3 (2013) Vol 1, No 3 (2013) Vol. 1 No. 2 (2013) Vol 1, No 2 (2013) Vol 1, No 1 (2013) Vol. 1 No. 1 (2013) More Issue