cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
protanbp@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Produksi Tanaman
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23383976     EISSN : 25278452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Produksi Tanaman adalah Jurnal Pertanian yang diterbitkan oleh Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berisi hasil penelitian yang disusun oleh mahasiswa setelah menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi.
Arjuna Subject : -
Articles 3,493 Documents
PENGARUH CEKAMAN AIR DAN PEMBERIAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG UNGU (Solanum melongena L.) Karlina, Nabilla Prilly; Koesriharti, Koesriharti
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.973 KB) | DOI: 10.21776/714

Abstract

Tanaman terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu tanaman sayuran yang memiliki beberapa kandungan vitamin dan mineral. Tingginya tingkat konsumsi tanaman  tersebut tidak sepadan dengan jumlah peningkatan produksi terung di Indonesia. Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman adalah dengan cara ekstensifikasi. Lahan yang digunakan untuk ekstenifikasi ini tentunya memiliki beberapa permasalahan diantaranya keterbatasan air sehingga menyebabkan tanaman mengalami cekaman air. Pemberian pupuk akan membantu tanaman terung untuk beradaptasi ketika mengalami cekaman air. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh cekaman air dan pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung ungu. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Agustus 2016 di Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Jl. Rais Tanjung, Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rancangan acak kelompok faktorial (RAK) dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan cekaman (tidak disiram 10 hari) menunjukkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan kerapatan stomata yang lebih rendah dibandingkan perlakuan kontrol. Perlakuan P1 (Urea + SP-36 + KCl) menunjukkan kerapatan stomata yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan P4 : NPK (25:7:7). Perlakuan cekaman air dan pemberian pupuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga, jumlah buah panen per tanaman, dan bobot buah per tanaman.
RESPON TANAMAN KEDELAI (Glycine Max (L.) Merrill) VARIETAS GROBOGAN TERHADAP JARAK TANAM DAN PEMBERIAN MULSA ORGANIK Setiawan, Eko Agus; Sebayang, Husni Thamrin; Sudiarso, Sudiarso
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.667 KB) | DOI: 10.21776/715

Abstract

Salah satu cara meningkatkan produksi tanaman kedelai adalah dengan penggunaan mulsa yang tepat. Jenis mulsa yang biasa digunakan adalah sisa tanaman (mulsa organik). Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh jarak tanam dan pemberian mulsa organik terhadap pertumbuhan gulma serta untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max(L) Merrill) varietas grobogan. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Malang. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri atas 9 perlakuan dengan 3 ulangan, yaitu: (P1) Jarak tanam 15x20 cm dengan mulsa sekam padi, (P2) 20x20 cm dengan mulsa sekam padi, (P3) 25x20 cm dengan mulsa sekam padi, (P4) 15x20 cm dengan mulsa jerami padi, (P5) 20x20 cm dengan mulsa jerami padi, (P6) 25x20 cm dengan mulsa jerami padi, (P7) 15x20 cm dengan mulsa daun jati, (P8) 20x20 cm dengan mulsa daun jati, (P9) 25x20 cm dengan mulsa daun jati. Pengamatan pertumbuhan dilakukan secara destruktif dan non-destruktif. Pengamatan gulma meliputi analisis vegetasi dan bobot kering total gulma yang ditentukan dengan nilai SDR (Summed Dominance Ratio). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi jarak tanam 15x20 cm dengan mulsa jerami padi mampu menekan pertumbuhan gulma. Kombinasi jarak tanam 15x20 cm dengan mulsa sekam padi tidak mampu menekan spesies gulma Phylanthus niruri. Kombinasi jarak tanam 15x20 cm dengan mulsa sekam padi., jerami padi dan daun jati mampu mengikat tinggi tanaman, luas daun, bobot kering total tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman dan hasil biji per tanaman kedelai.
PENGARUH DOSIS KOMPOS DAN PUPUK FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KENTANG (Solanum tuberosum L.) VARIETAS DTO 28 DI DATARAN MEDIUM Salori, Agy; Barunawati, Nunun
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.162 KB) | DOI: 10.21776/716

Abstract

Produksi nasional kentang tahun 2013-2014 relatif tidak meningkat, sebesar 1.12-1.21 juta ton, dengan produktivitas sebesar 16.02 ton ha-1 (Kementerian Pertanian, 2015). Upaya meningkatkan produksi kentang adalah pengembangan budidaya di dataran medium, serta pemberian bahan organik dapat menambah unsur hara bagi tanaman termasuk Fosfor yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan tanaman kentang. Penelitian ini bertujuan mendapat-kan dosis kompos pada pemberian dosis fosfor yang optimum untuk pertumbuhan dan hasil kentang di dataran medium. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2016 di Desa Klino, Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan dosis fosfor dilakukan dengan 4 taraf yaitu 50 kg P2O5 ha-1 (S1), 100 kg P2O5 ha-1 (S2), 150 kg P2O5 ha-1 (S3) dan 200 kg P2O5 ha-1 (S4), serta 2 taraf dosis kompos yaitu 10 ton ha-1 (B1) dan 20 ton ha-1 (B2) Terdapat 8 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan dosis fosfor dan dosis kompos pada parameter pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Dengan pemberian dosis kompos 10 ton ha-1, perlakuan dosis fosfor 50 kg P2O5 ha-1, 100 kg P2O5 ha-1 dan 200 kg P2O5 ha-1 menghasilkan bobot umbi panen total (ton ha-1) yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan 150 kg P2O5 ha-1. Sedangkan dengan pemberian dosis kompos 20 ton ha-1, perlakuan dosis fosfor 200 kg P2O5 ha-1 memperoleh bobot umbi panen total tertinggi dibandingkan perlaku-an 50 kg P2O5 ha-1, 100 kg P2O5 ha-1 dan 150 kg P2O5 ha-1.
ANALISIS TINGKAT KENYAMANAN DAN ESTETIKA RUANG TERBUKA HIJAU ALUN-ALUN KABUPATEN SITUBONDO Husaimah, Faizil Hurro; Nurlaelih, Euis Ellih; Sitawati, Sitawati
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.476 KB) | DOI: 10.21776/717

Abstract

Alun-Alun Kabupaten Situbondo memiliki peran penting bagi masyarakat sekitar. Selain sebagai paru-paru kota, alun-alun memiliki banyak fungsi, diantaranya fungsi ekonomi, estetika, sosial, dan budaya. Tujuan penelitian untuk menganalisis tingkat kenyamanan dan estetika ruang terbuka hijau Alun-Alun Kabupaten Situbondo. Hipotesis penelitian ini adalah Alun-Alun Kabupaten Situbondo belum memenuhi kriteria tingkat kenyamanan (19.9 ≤ THI ≥ 27) dan nilai estetika rendah. Penelitian dilaksanakan bulan Februari – April 2015 di Alun-Alun Kabupaten Situbondo. Kabupaten Situbondo terletak di ujung timur Pulau Jawa bagian utara dengan posisi antara 7o35’ – 7o44’ Lintang Selatan dan 113o30’ – 114o42’ Bujur Timur. Kabupaten yang memiliki ketinggian antara 0 mdpl ini memiliki suhu rata-rata + 340C dan kelembaban + 47%. Tingkat kenyamanan dianalisis menggunakan metode THI (Thermal Humidity Index), metode SBE (Scenic Beauty Estimation) untuk menganalisis estetika alun-alun secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai THI alun-alun + 26.5 (nyaman). Waktu nyaman menurut metode THI ialah jam 06.00 – 09.02 WIB dan jam 16.32 – 18.00 WIB sama dengan hasil kuisioner responden. Sedangkan jam 09.03 – 16.31 WIB termasuk tidak nyaman. Sisi selatan alun-alun tidak nyaman. Sedangkan sisi sebelah utara, timur, barat, dan tengah alun-alun termasuk nyaman karena ternaungi oleh pohon mahoni (Swietenia mahagoni) dengan tingkat kerapatan 95% dan pohon glodokan tiang (Polyalthia longifolia). Alun-Alun Kabupaten Situbondo memiliki nilai SBE kategori keindahan sedang (-31.86). Area yang memiliki nilai SBE tertinggi terletak di sisi tengah alun-alun (0.21). Sedangkan nilai SBE terendah berada di sisi barat laut alun-alun (-88.97). Lanskap dengan nilai SBE tinggi didukung dengan prinsip desain yang lengkap serta memiliki kesan yang rapi dan bersih.
PENGARUH PEMBERIAN BIOURINE SAPI DAN BEBERAPA JENIS PUPUK ORGANIK PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) Yuliana, Nur Winda; Santosa, Mudji
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.731 KB) | DOI: 10.21776/718

Abstract

Bahan organik merupakan salah satu indikator kesuburan tanah. Kesuburan tanah berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang berpengaruh pada produksi tanaman. Bahan organik berupa biourine sapi, pupuk kandang sapi dan pupuk Petroganik memiliki pengaruh yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh biourine sapi, pupuk kandang sapi dan pupuk Petroganik pada tanaman padi serta menentukan kombinasi perlakuan yang terbaik pada pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Penelitian dilaksanakan di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu pada bulan Maret sampai Juli 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan biourine sapi, pupuk kandang sapi dan pupuk Petroganik berpengaruh nyata pada jumlah anakan, jumlah daun, luas daun, indeks luas daun, bobot bulir per rumpun dan hasil padi (ton ha-1). Perlakuan biourine sapi campuran (ditambahkan EM4+molase) dan pupuk kandang sapi 10 ton ha-1 memberikan pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya.
EFEKTIVITAS ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) HIDROGEN SIANAMIDA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN APEL (Malus sylvestris Mill.) var. MANALAGI Widayanti, Risky; Maghfoer, Mochammad Dawam
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.544 KB) | DOI: 10.21776/719

Abstract

Buah apel banyak digemari di Indonesia karena  mengandung gizi yang bermanfaat diantaranya ialah pektin, quercetin (anti kanker dan anti radang) serta vitamin C yang tinggi. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan konsentrasi optimum zat pengatur tumbuh hdrogen sianamida terhadap kecepatan kuncup membuka serta peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman apel. Penelitian telah dilaksanakan di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada bulan Mei sampai Agustus 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan perlakuan ialah konsentrasi hidrogen sianamida yang terdiri atas 5 taraf: (K0): Kontrol, (K1): konsentrasi 25 ml/l/pohon, (K2): konsentrasi 50 ml/l/pohon, (K3): konsentrasi 75 ml/l/ pohon, (K4): konsentrasi 100 ml/l/ pohon. Parameter pengamatan meliputi pertumbuh-an, hasil dan komponen hasil. Parameter pertumbuhan terdiri dari: persentase kuncup membuka (terminal dan lateral), jumlah daun, panjang tunas, diameter tunas. Parameter hasil dan komponen hasil meliput: jumlah bunga, persentase fruitset, jumlah buah/cabang, jumlah buah/pohon, berat buah/pohon, diameter buah. Bila terdapat pengaruh beda nyata maka dilakukan uji lanjutan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidrogen sianamida dapat menghasilkan persentase pecah tunas terminal dan lateral yang membuka, panjang tunas, diameter tunas, jumlah daun, jumlah bunga, jumlah biji, dan diameter buah lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman kontrol dan pada konsentrasi 50 ml/l dapat me-ningkatkan hasil bobot buah/pohon mencapai 10,37 kg/pohon. Perlakuan zat pengatur tumbuh hidrogen sianamida dengan konsentrasi 50 ml/l (K2) efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil pada tanaman apel varietas Manalagi.
PENGARUH PEMBERIAN HIDROGEN SIANAMIDA 520 g/L TERHADAP PERTUMBUHAN TUNAS DAN HASIL TANAMAN ANGGUR (Vitis vinivera L.) Rinaldi, Ridwan Aries; Koesriharti, Koesriharti
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.207 KB) | DOI: 10.21776/720

Abstract

Penurunan produktivitas merupakan masalah utama yang terjadi pada budidaya tanaman anggur di Indonesia. Salah satu kendala utama akibat adanya dormansi tunas setelah pemangkasan. Dormansi berkepanjangan setelah pemangkasan dapat menyebabkan pemecahan tunas baru tidak merata dan menghambat pertumbuh-an tunas. Untuk itu diperlukan zat pengatur tumbuh yang tepat salah satunya menggunakan hidrogen sianamida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh konsentrasi pada Hidrogen Sianamida 520 g/L yang efektif terhadap pertumbuhan mata tunas dan hasil tanaman anggur. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Juni 2016. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan yaitu tingkat  konsentrasi zat pengatur tumbuh hidrogen sianamida, (K0) : Kontrol, (K1) : konsentrasi 2,5%, (K2) : konsentrasi 5%, (K3) : konsentrasi 7,5%, (K4) : konsentrasi 10%.  yang diulang sebanyak 5 kali. Data dianalisis menggunakan analisis ragam atau uji F pada taraf 5%, jika terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidrogen sianamida mampu mempercepat waktu pemecahan tunas pada tanaman anggur. Perlakuan hidrogen sianamida dengan tingkat konsentrasi 2,5%, 5%  dan 7,5% efektif mempercepat munculnya tunas. Hasil penelitian juga menunjukkan aplikasi hidrogen sianamida pada tingkat konsentrasi 2,5% dan 5% memberikan hasil rerata yang paling baik pada variabel panjang tunas ketika 8 MSA serta jumlah tunas generatif per cabang. Pada konsentrasi 2,5% hidrogen sianamida mampu meningkatkan jumlah tandan bunga per pohon. Namun pada variabel hasil, perlakuan zat pengatur tumbuh hidrogen sianamida tidak dapat meningkatkan hasil buah tanaman anggur.
PENGARUH DOSIS BLOTONG TEBU DAN PUPUK UREA PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) Ruliwicaksono, Muhammad Rizky; Tyasmoro, Setyono Yudo; Sugito, Yogi
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.216 KB) | DOI: 10.21776/721

Abstract

Kebutuhan pangan disediakan melalui hasil produksi pertanian. Produksi hasil pertanian yang fluktuatif di Indonesia disebabkan oleh aplikasi teknologi budidaya masih rendah, terutama dalam teknologi pemupukan. Telah diketahui bahwa tanaman jagung manis, sangat respon terhadap pemberian pupuk nitrogen. Penggunaan pupuk nitrogen anorganik yang berlebihan secara terus menerus berpengaruh negatif terhadap sifat-sifat tanah. Salah satu bahan organik alami yang tersedia dan mudah didapatkan adalah blotong tebu. Blotong tebu diproduksi sekitar 3,8 % dari tebu yang digiling (Sutrisno et al., 2009). Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui apakah pemberian blotong dapat mengurangi pemberian pupuk urea pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Percobaan dilaksanakan pada bulan April 2016 sampai Juni 2016, di Dusun Sekar Putih, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara pemberian pupuk blotong dan pupuk urea pada fase awal pengamatan pertumbuhan tanaman jagung manis, namun pada pengamatan hasil tidak menunjukkan interaksi. Kombinasi perlakuan dosis pupuk blotong 250 kg ha-1 dan pupuk urea 125 kg ha-1 mampu meningkatkan indeks luas daun sebesar 8,01% dibandingkan perlakuan pupuk blotong 250 kg ha-1 dan kontrol, sedangkan kombinasi perlakuan pupuk blotong 125 kg ha-1 dan pupuk urea 125 kg ha-1 mampu meningkatkan laju pertumbuhan tanaman sebesar 29,02% dibandingkan perlakuan pupuk blotong 125 kg ha-1 dan kontrol.
RESPON DUA VARIETAS UBI JALAR (Ipomoea batatas L.) PADA FREKUENSI PENYIANGAN GULMA Saputra, Ryan Ananda; Sebayang, Husni Thamrin
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.637 KB) | DOI: 10.21776/722

Abstract

Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu tanaman penghasil karbohidrat yang memiliki potensi untuk menjadi bahan diversifikasi pangan. Produktivitas tanaman ubi jalar bisa mencapai sekitar 15-20 ton ha-1 (Zuraida dan Supriati, 2006). Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh tidak dikehendaki dalam suatu kegiatan budidaya. Karena dengan adanya gulma akan terjadi persaingan antara tanaman dengan gulma dan dapat menyebabkan penurunan produksi yang nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon dua varietas ubi jalar terhadap penyiangan gulma. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-September 2016 di UPT Benih Singosari, Malang. Penelitian ini merupakan penelitian sederhana dengan Rancangan Acak Kelompok yang diulang 3 kali kombinasi 2 perlakuan pada penelitian ini yaitu jenis varietas (V) yang terdiri atas varietas Antin-1 (V1) dan varietas Beta-1 (V2). Perlakuan penyiangan (G) yaitu, tanpa penyiangan (G0), penyiangan 14 HST (G1), penyiangan 14 dan 28 HST (G2), penyiangan 14, 28, dan 42 HST (G3) dan penyiangan 14, 28, 42, dan 56 HST (G4). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Penyiangan 3 kali dan 4 kali pada kedua varietas memberikan respon yang sama terhadapa hasil produksi umbi ubi jalar. Sedangkan penyiangan dengan frekuensi 3 kali (V1G3) nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman ubi jalar pada kedua varietas. Hasil produksi tanaman ubi jalar varietas antin-1 pada frekuensi penyiangan 3 kali (V1G3) yaitu 24.89 ton ha-1. Varietas Beta-1 hasil produksi tanaman ubi jalar pada frekuensi penyiangan 3 kali (V1G3) yaitu 25.16 ton ha-1.
RESPON TANAMAN PADI (Oryza sativa L) PADA PUPUK HIJAU Crotalaria juncea L. DAN PUPUK N ANORGANIK Aisyah, Nur Ulfa; Dwi Yamika, Wiwin Sumiya; Sumarni, Titin
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 5 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.76 KB) | DOI: 10.21776/723

Abstract

Rata-rata kandungan bahan organik di Indonesia yaitu <2% (Subowo, 2010). Penggunaan pupuk anorganik dengan dosis tinggi pun tidak memberikan respon yang optimal. Sehingga dibutuhkan penambahan bahan organik. Bahan organik yang bisa digunakan yaitu Crotalaria juncea L.. C. juncea 10 ton ha-1 dapat meningkatkan gabah kering 6,50% dibandingkan tanpa C. juncea (Sumarni, 2013). Oleh karena itu pada penelitian ini penambahan C. juncea dengan dosis yang lebih tinggi diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kandungan bahan organik serta menambah unsur hara khususnya unsur N. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui pengaruh pupuk hijau C. juncea dan pupuk N anorganik pada tanaman padi serta untuk mengetahui efektivitas C. juncea dalam menurunkan dosis pupuk N anorganik pada tanaman padi. Penelitian dimulai pada bulan April hingga September 2016 di Desa Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kabupaten Malang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial terdiri dari 2 faktor yang diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama ialah dosis C. juncea dengan 3 taraf yaitu : C. juncea 10 ton ha-1 (C1), C. juncea 15 ton ha-1 (C2) dan C. juncea 20 ton ha-1 (C3). Faktor kedua ialah pupuk N anorganik dengan 4 taraf yaitu : pupuk N 100% (N1), pupuk N 75% (N2), pupuk N 50% (N3) dan pupuk N 25% (N4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan C. juncea 20 ton ha-1 dengan 75% N anorganik memberikan pertumbuhan dan hasil yang sama dengan 100% N anorganik dengan C. juncea 15 ton ha-1. Penambahan C. juncea dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah sebesar 340,58% dari kandungan bahan organik sebelum penambahan C. juncea.

Page 64 of 350 | Total Record : 3493


Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 01 (2026): Januari Vol. 14 No. 2 (2026): Februari (In-Press) Vol. 13 No. 12 (2025): Desember Vol. 13 No. 11 (2025): November Vol. 13 No. 10 (2025): Oktober (In-Press) Vol. 13 No. 08 (2025): Agustus Vol. 13 No. 07 (2025): Juli Vol. 13 No. 06 (2025): Juni Vol. 13 No. 05 (2025): Mei Vol. 13 No. 04 (2025): April Vol. 13 No. 9 (2025): September Vol. 13 No. 3 (2025): Maret Vol. 13 No. 2 (2025): Februari Vol. 13 No. 1 (2025): Januari Vol. 12 No. 12 (2024): Desember Vol. 12 No. 11 (2024): November Vol. 12 No. 10 (2024): Oktober Vol. 12 No. 09 (2024): September Vol. 12 No. 05 (2024): Mei Vol. 12 No. 04 (2024): April Vol. 12 No. 8 (2024): Agustus Vol. 12 No. 7 (2024): Juli Vol. 12 No. 6 (2024): Juni Vol. 12 No. 3 (2024): Maret Vol. 12 No. 2 (2024): Februari Vol. 12 No. 1 (2024): Januari Vol. 11 No. 12 (2023): Desember Vol. 11 No. 11 (2023): November Vol. 11 No. 10 (2023): Oktober Vol. 11 No. 9 (2023): September Vol. 11 No. 8 (2023): Agustus Vol. 11 No. 7 (2023): Juli Vol. 11 No. 6 (2023): Juni Vol. 11 No. 5 (2023): Mei Vol. 11 No. 4 (2023): April Vol. 11 No. 3 (2023): Maret Vol. 11 No. 2 (2023): Februari Vol. 11 No. 1 (2023): Januari Vol. 10 No. 12 (2022): Terbitan Bulan Desember Vol. 10 No. 11 (2022): Terbitan Bulan November Vol. 10 No. 10 (2022): Terbitan Bulan Oktober Vol. 10 No. 9 (2022): Terbitan Bulan September Vol. 10 No. 8 (2022): Terbitan Bulan Agustus Vol. 10 No. 7 (2022) Vol 10, No 7 (2022) Vol. 10 No. 6 (2022) Vol 10, No 5 (2022) Vol. 10 No. 5 (2022) Vol. 10 No. 4 (2022) Vol 10, No 4 (2022) Vol. 10 No. 3 (2022) Vol 10, No 3 (2022) Vol. 10 No. 2 (2022) Vol 10, No 2 (2022) Vol. 10 No. 1 (2022) Vol 10, No 1 (2022) Vol 9, No 12 (2021) Vol. 9 No. 12 (2021) Vol. 9 No. 11 (2021) Vol 9, No 11 (2021) Vol. 9 No. 10 (2021) Vol 9, No 10 (2021) Vol 9, No 9 (2021) Vol. 9 No. 9 (2021) Vol. 9 No. 8 (2021) Vol 9, No 8 (2021) Vol. 9 No. 7 (2021) Vol 9, No 7 (2021) Vol. 9 No. 6 (2021) Vol 9, No 6 (2021) Vol. 9 No. 5 (2021) Vol 9, No 5 (2021) Vol 9, No 4 (2021) Vol. 9 No. 4 (2021) Vol 9, No 3 (2021) Vol. 9 No. 3 (2021) Vol. 9 No. 2 (2021) Vol 9, No 2 (2021) Vol. 9 No. 1 (2021) Vol 9, No 1 (2021) Vol 8, No 12 (2020) Vol. 8 No. 12 (2020) Vol. 8 No. 11 (2020) Vol 8, No 11 (2020) Vol 8, No 10 (2020) Vol. 8 No. 10 (2020) Vol. 8 No. 9 (2020) Vol 8, No 9 (2020) Vol 8, No 8 (2020) Vol. 8 No. 8 (2020) Vol 8, No 7 (2020) Vol. 8 No. 7 (2020) Vol. 8 No. 6 (2020) Vol 8, No 6 (2020) Vol 8, No 5 (2020) Vol. 8 No. 5 (2020) Vol. 8 No. 4 (2020) Vol 8, No 4 (2020) Vol. 8 No. 3 (2020) Vol 8, No 3 (2020) Vol 8, No 2 (2020) Vol. 8 No. 2 (2020) Vol. 8 No. 1 (2020) Vol 8, No 1 (2020) Vol 7, No 12 (2019) Vol. 7 No. 12 (2019) Vol 7, No 11 (2019) Vol. 7 No. 11 (2019) Vol. 7 No. 10 (2019) Vol 7, No 10 (2019) Vol 7, No 9 (2019) Vol. 7 No. 9 (2019) Vol. 7 No. 8 (2019) Vol 7, No 8 (2019) Vol. 7 No. 7 (2019) Vol 7, No 7 (2019) Vol 7, No 6 (2019) Vol. 7 No. 6 (2019) Vol. 7 No. 5 (2019) Vol 7, No 5 (2019) Vol 7, No 4 (2019) Vol. 7 No. 4 (2019) Vol 7, No 3 (2019) Vol. 7 No. 3 (2019) Vol 7, No 2 (2019) Vol. 7 No. 2 (2019) Vol. 7 No. 1 (2019) Vol 7, No 1 (2019) Vol. 6 No. 12 (2018) Vol 6, No 12 (2018) Vol. 6 No. 11 (2018) Vol 6, No 11 (2018) Vol 6, No 10 (2018) Vol 6, No 10 (2018) Vol. 6 No. 10 (2018) Vol. 6 No. 9 (2018) Vol 6, No 9 (2018) Vol 6, No 8 (2018) Vol. 6 No. 8 (2018) Vol 6, No 8 (2018) Vol 6, No 7 (2018) Vol 6, No 7 (2018) Vol. 6 No. 7 (2018) Vol. 6 No. 6 (2018) Vol 6, No 6 (2018) Vol 6, No 5 (2018) Vol. 6 No. 5 (2018) Vol 6, No 4 (2018) Vol. 6 No. 4 (2018) Vol. 6 No. 3 (2018) Vol 6, No 3 (2018) Vol 6, No 2 (2018) Vol 6, No 2 (2018) Vol. 6 No. 2 (2018) Vol 6, No 1 (2018) Vol. 6 No. 1 (2018) Vol 5, No 12 (2017) Vol. 5 No. 12 (2017) Vol 5, No 12 (2017) Vol 5, No 11 (2017) Vol. 5 No. 11 (2017) Vol. 5 No. 10 (2017) Vol 5, No 10 (2017) Vol. 5 No. 9 (2017) Vol 5, No 9 (2017) Vol 5, No 8 (2017) Vol. 5 No. 8 (2017) Vol. 5 No. 7 (2017) Vol 5, No 7 (2017) Vol 5, No 6 (2017) Vol. 5 No. 6 (2017) Vol. 5 No. 5 (2017) Vol 5, No 5 (2017) Vol. 5 No. 4 (2017) Vol 5, No 4 (2017) Vol 5, No 3 (2017) Vol. 5 No. 3 (2017) Vol. 5 No. 2 (2017) Vol 5, No 2 (2017) Vol. 5 No. 1 (2017) Vol 5, No 1 (2017) Vol 4, No 8 (2016) Vol. 4 No. 8 (2016) Vol. 4 No. 7 (2016) Vol 4, No 7 (2016) Vol 4, No 6 (2016) Vol. 4 No. 6 (2016) Vol. 4 No. 5 (2016) Vol 4, No 5 (2016) Vol. 4 No. 4 (2016) Vol 4, No 4 (2016) Vol 4, No 3 (2016) Vol. 4 No. 3 (2016) Vol. 4 No. 2 (2016) Vol 4, No 2 (2016) Vol 4, No 1 (2016) Vol. 4 No. 1 (2016) Vol 3, No 8 (2015) Vol. 3 No. 8 (2015) Vol 3, No 7 (2015) Vol. 3 No. 7 (2015) Vol 3, No 6 (2015) Vol. 3 No. 6 (2015) Vol. 3 No. 5 (2015) Vol 3, No 5 (2015) Vol. 3 No. 4 (2015) Vol 3, No 4 (2015) Vol 3, No 3 (2015) Vol. 3 No. 3 (2015) Vol. 3 No. 2 (2015) Vol 3, No 2 (2015) Vol 3, No 1 (2015) Vol. 3 No. 1 (2015) Vol 2, No 8 (2014) Vol. 2 No. 8 (2014) Vol. 2 No. 7 (2014) Vol 2, No 7 (2014) Vol 2, No 6 (2014) Vol. 2 No. 6 (2014) Vol. 2 No. 5 (2014) Vol 2, No 5 (2014) Vol. 2 No. 4 (2014) Vol 2, No 4 (2014) Vol 2, No 3 (2014) Vol. 2 No. 3 (2014) Vol. 2 No. 2 (2014) Vol 2, No 2 (2014) Vol 2, No 1 (2014) Vol. 2 No. 1 (2014) Vol 1, No 6 (2013) Vol. 1 No. 6 (2013) Vol. 1 No. 5 (2013) Vol 1, No 5 (2013) Vol 1, No 4 (2013) Vol. 1 No. 4 (2013) Vol. 1 No. 3 (2013) Vol 1, No 3 (2013) Vol. 1 No. 2 (2013) Vol 1, No 2 (2013) Vol 1, No 1 (2013) Vol. 1 No. 1 (2013) More Issue