cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,398 Documents
ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT AKSES JALAN TOL MALANG – PANDAAN PADA KAWASAN KARANGLO, MALANG I Kadek Adit Putra I., M.Iqbal Ravanelli ,; Djakfar, Ludfi; Bowoputro, Hendi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.592 KB)

Abstract

Kawasan Karanglo merupakan jaringan jalan yang bisa menghubungkan Batu, Surabaya, dan Malang . Namun, dikarenakan kondisi jalan eksisting buruk dengan nilai VCR (Volume Capacity Ratio) yang  tinggi (dengan rata-rata 1),direncanakan adanya akses tol pada kawasan tersebut untuk mempercepat rute perjalanan dari Kota Surabaya menuju Kota Malang. Maka perlu analisis  terhadap perpindahan pergerakan dari jalan eksisting menuju jalan tol dan analisis dampak yang dhasilkan. Analisis perpindahan pergerakan dilakukan dengan survey asal tujuan, sedangkan untuk analisis dampak dilakukan perbandingan kinerja jaringan jalan mulai dari skenario simpang bersinyal 4 kaki dengan nilai VCR 1,15 dan tundaan 321,2 (F), skenario bundaran dengan nilai VCR rata-rata 1,25 dan tundaan 70,13 (F), skenario flyover dengan nilai VCR 0,90 dan tundaan 57,83 (E), skenario underpass dengan nilai VCR 0,64 dan tundaan 44,79 (E), skenario perbaikan underpass dengan pelebaran jalan dengan nilai VCR rata-rata 0,40 dan tundaan 14,53 (B). Untuk prediksi kinerja pada tahun mendatang dihitung dari tahun beroperasi (2018) hingga 5 tahun mendatang (2023), dengan VCR 0,55 dan tundaan 14,92 (B). Kata kunci :Kinerja Simpang, Kinerja Ruas, Akses Jalan Tol, Analisis Dampak Lalu Lintas, Underpass
PENGARUH RECYCLED COARSE AGGREGATE (RCA) TERHADAP KUAT LENTUR BALOK BETON SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) BERTULANGAN BAMBU Toruan, Andre Wirakusuma; Setyowulan, Desy; ,Devi Nurlinah, Eva Arifi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan mengedepankan subtitusi bahan alternatif terhadap balok beton, penelitian ini menggunakan agregat kasar daur ulang yang dipadukan dengan tulangan alternatif bambu yang dipilin. Dan untuk mendukung kekuatan dari bahan-bahan alternatif tersebut digunakan metode Self Compating Concrete (SCC) atau beton memadat sendiri yang dapat mengisi setiap cela pada bekisting tanpa memerlukan alat pemadat pada umumnya. Dengan membuat benda uji balok berukuran 15 cm x 25 cm x 160 cm bertulangan bambu pilin. Dimana tulangan bambu yang digunakan terdiri dari 3 batang bambu yang masing-masing memiliki ukuran diameter 4 mm dan panjang 150 cm. Masing-masing benda uji digunakan variasi yaitu 100% agregat kasar daur ulang dan 100% agregat kasar normal. Pengujian yang dilakukan berupa uji tekan pada benda uji silinder dengan menggunakan ekstensometer serta uji lentur dan lendutan pada benda uji balok yang menggunakan LVDT. Sehingga didapatkan beban dan lendutan yang terjadi pada balok beton SCC bertulangan bambu dengan variasi material agregat kasar yang berbeda. Hasil penelitian yang didapatkan adalah substitusi agregat kasar daur ulang pada balok SCC berpengaruh terhadap kuat tekan silinder dan kuat lentur balok. Jika dibandingkan dengan benda uji SCC normal yang memiliki kuat tekan rata-rata sebesar 27,39 MPa, kuat tekan benda uji SCC dengan agregat kasar daur ulang hanya memiliki rata-rata sebesar 21,96 MPa. Begitu pula dengan kuat lentur. Benda uji dengan material agregat kasar normal memiliki nilai rata-rata sebesar 2466,67 Kg, sedangkan benda uji agregat kasar daur ulang memiliki nilai rata-rata 2133,33 Kg. Lendutan yang terjadi pada balok SCC dengan agregat kasar normal adalah  sebesar 2,2 mm dan lendutan pada balok dengan material agregat kasar daur ulang adalah sebesar 1,95 mm. Ini dikarenakan balok SCC dengan agregat kasar normal memiliki fase plastis yang seiring dengan kemampuan balok dalam mengalami deformasi. Kata Kunci:Balok, kuat tekan, kuat lentur, lendutan, bambu pilin, agregat kasar daur ulang, dan SCC.
PENGARUH VARIASI AGREGAT KASAR DAUR ULANG (RCA) TERHADAP KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANGAN BAJA Pahlawan, Darni Mulia; Nuralinah, Devi; Setyowulan, Desy
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recycled Coarse Aggregate atau Agregat daur ulang merupakan beton sisa atau bongkahan beton yang sudah tidak digunakan dari pekerjaan konstruksi atau pengujian-pengujian yang telah dilakukan. Penggunaan recycled coarse aggregate ini bertujuan untuk mengurangi atau menganti agregat normal alam yang biasa digunakan dalam pekerjaan konstruksi. Dengan tingkat pembangunan yang sedang berkembang pesat di Indonesia, dikhawatirkan akan terjadi penambangan sumber daya alam secara besar-besaran. Disamping itu pula pemanfaatan agregat daur ulang ini juga belum begitu dimaksimalkan, sehingga bahan yang rusak ini hanya menjadi urugan atau dibuang begitu saja. Dampaknya dapat mengurangi tingkat kesuburan tanah disekitarnya.Dalam penelitian ini variasi yang digunakan adalah substitusi 100% komposisi agregat kasar daur ulang terhadap agregat normal alam. Benda uji yang akan dibuat yaitu balok beton berukuran 15 cm x 25 cm x 160 cm. Balok mengunakan tulang utama 2Φ-12. Pengujian yang akan dilakukan yaitu uji kuat lentur, lendutan. Untuk silinder beton dilakukan pengujian kuat tekan dan modulus elastisitas. Semua benda uji dilakukan perawatan selama 14 hari dan dilakukan pengujian pada saat umur 28 hari.Hasil dari pengujian balok beton menunjukkan bahwa beton dengan agregat daur ulang memiliki nilai yang lebih tinggi dalam menahan beban dibandingkan dengan beton agregat normal alam yaitu 1620 kgm banding 1575 kgm. Nilai lendutan yang terjadi pada balok beton agregat daur ulang yaitu 25,08 mm dan nilai lendutan balok beton normal yaitu 20,55 mm. Hasil dari pengujian kuat tekan silinder beton menunjukkan nilai kuat tekan aktual beton agregat daur ulang lebih tinggi dibandingkan beton agregat normal alam yaitu 29,78 MPa dan 26,23 MPa. Dengan nilai modulus elastisitas pada beton agregat daur ulang sebesar 56105,67 MPa dan beton agregat normal sebesar 35789,25 MPa. Kata Kunci : Recycled coarse aggregate, kuat lentur, kuat tekan, lendutan.  
PENGARUH VARIASI RECYCLED COARSED AGGREGATE (RCA) PADA UJI PULL OUT BAMBU PILIN DAN BAJA DENGAN BALOK BETON SELF COMPACTING CONCRETE (SCC). Syafii, Yusuf Achmad; Nuralinah, Devi; Setyowulan, Desy
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self Compating Concrete (SCC) atau beton yang dapat memadat sendiri adalah varian beton yang memiliki tingkat pengerjaan yang tinggi tetapi tidak memerlukan perlakuan khusus seperti beton normal. Pada umumnya Beton Normal memerlukan alat berupa vibrator untuk membantu proses pemadatan agar beton tidak mengalami segresi. Untuk mencegah hal terebut maka digunakanlah zat kimia bernama Superplasticizer. Pada penelitian ini pembuatan SCC digunakan untuk memanfaatkan potensi material agregat kasar daur ulang atau biasa disebut RCA (Recylcled Coarse Aggregate) dan juga tulangan berupa Bambu Pilin dengan dilakukanya Uji Pull Outatau sering disebut uji kuat lekat.. Agregat kasar daur ulang memiliki 80% kuat lekat dan 80% kuat tekan yang lebih rendah daripada agregat kasar alami. Sedangkan Tulangan bambu yang dipilin memiliki kekuatan tarik sebesar 60% lebih rendah daripada agregat kasar alami. Pada pengujian pull out bambu tegangan lekat tidak dapat diketahui karena tulangan terlebih dahulu mengalami kegagalan dan tidak terjadi keruntuhan cabut, tetapi hasil dari data didapatkan digunakan sebagai hasil uji Tarik bambu pilin dan dapat diketahui kuat Tarik tulangan bambu tersebut. Kata kunci: Pull Out, kuat lekat, bampu pilin, SCC, dan agregat daur ulang.
PENGARUH PERKUATAN MORTAR JAKET DENGAN VARIASI KONFIGURASI TULANGAN LONGITUDINAL BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG YANG MENGALAMIBEBAN PUNCAK Pratama, Dodi Rajendra; Wijatmiko, Indradi; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolom merupakan bagian terpenting suatu struktur bangunan yang berfungsi meneruskan dan menerima beban dari balok. Kolom retrofit kode A.1 dan A.2adalah kolom retrofit dengankonfigurasi tulangan longitudinal bambu sebanyak 4 buah ukuran 10 x 10 mm, dibandingkan dengan kolom retrofit kode B.1 dan B.2 adalah kolom retrofit dengan konfigurasi tulangan longitudinal bambu sebanyak  8 buah ukuran 10 x 5 mm. Hasil penelitian antara kolom kode A.1 dan B.1 menunjukkan bahwa jenis kolom A.1 dengan konfigurasi tulangan bambu 4 buah ukuran 10 x 10 mm memiliki peningkatan nilai gaya tekan maksimum yang sedikit lebih tinggi sebesar 11.08 % jika dibandingkan dengan kolom B.1. Sedangkan nilai kekakuan dan modulus elastisitas yang juga lebih tinggi jenis kolom A.1 yaitu sebesar 41.52 % dibandingkan jenis kolom B.1. Dan kolom A.1 memiliki nilai daktilitas yang  lebih efektif dibandingkan dengan kolom B.1, dimana kolom A.1 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 21.75 % sedangkan kolom B.1 mengalami penurunan daktilitas sebesar 3.24 %. Sedangkan penelitian antara kolom kode A.2 dan B.2, dapat disimpulkan kolom retrofit A.2 lebih efektif dibanding kolom retrofit B.2. Karena efektifitas daktilitas A.2 lebih besar 15.85 % dibandingkan B.2, serta peningkatan gaya tekan maksimum kolom retrofit A.2 lebih tinggi dari B.2 yaitu sebesar 7.27 %. Peningkatan daktilitas kolom retrofit A.1 dan A.2 lebih tinggi dari pada kolom B.1 dan B.2 yang hanya ditinjau pada saat beban puncak, dimana dengan rasio tulangan bambu sama kolom retrofit A.1 dan A.2 memiliki dimensi yang lebih gemuk dibanding B.1 dan B.2 yang menyebabkan tulangan akan menjadi lebih kaku dan berdeformasi lebih baik pada saat dan hingga beban mencapai maksimum. Kata Kunci : Jaket mortar, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas.
PENGARUH PERKUATAN MORTAR JAKET DENGAN VARIASI JARAK SENGKANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG YANG MENGALAMI BEBAN PUNCAK Jannah, Zulaika Nur; Wibowo, Ari; Remayanti, Christin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolom merupakan elemen vertikal yang berfungsi meneruskan beban dari balok menuju podasi. Dibandingkan dengan balok, kerusakan pada kolom memiliki potensi lebih besar untuk menyebabkan keruntuhan pada struktur bangunan.Hasil penelitian antara variasi A.1 dan A.2 yang sama-sama dipasang tulangan utama 4 buah 10x10 mm menunjukkan bahwa jenis kolom A.1 dengan variasi jarak sengkang 7 cmmengalami peningkatan nilai gaya tekan maksimum yang lebih tinggi sebesar 16,74 % jika dibandingkan dengan kolom A.2. Sedangkan penelitian antara kolom retrofit B.1 dan B.2yang sama-sama dipasang tulangan utama 8 buah 10x5 mm, dapat disimpulkan kolom retrofit B.1 lebih efektif dibanding dengan kolom retrofit B.2. Karena kolom retrofit B.1 memiliki peningkatan gaya tekan maksimumyanglebih tinggi sebesar 12,74 % dari pada jenis kolom B.2. Untuk peningkatan kekakuan, dan modulus elastisitas, kolom B.1 juga memiliki peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan jenis kolom B.2 masing-masing 30,69 % dan 30,69 %. Sedangkan untuk daktilitasnya kolom B.1 dan B.2 sama-sama tidak menunjukan perbedaan yang signifikan antara kolom asli dan retrofitnya. Untuk kolom B.1 mengalami penurunan daktilitas 3,24 % dan B.2 mengalami kenaikan daktilitas sebesar 4,89 %. Berdasarkan hasil penelitian ini, kolom retrofit dengan variasi jarak sengkang 7 cm (kolom retrofit A.1 dan B.1)  lebih efektif dibandingkan dengan jarak sengkang 11 cm (kolom retrofit A.2 dan A.2). Hal ini dikarenakan semakin rapat jarak sengkang yang dipasang maka efek kekangan dari sengkang tersebut akan semakin besar pula, sehingga menyebabkan peningkatan gaya tekan dan daktilitas. Kata Kunci :Jaket beton, jaket mortar, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas.
PENGARUH MORTAR JACKET RETROFIT DENGAN VARIASI JARAK SENGKANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG YANG MENGALAMI KERUNTUHAN AKSIAL Harijanto, Griffin Septian; Wibowo, Ari; Wijatmiko, Indradi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya bangunan beton yang mengalami keruntuhan menarik perhatian peneliti untuk mengatasinya dengan cara kolom retrofit. Penelitian kali ini meneliti tentang Mortar Jacketing yang merupakan modifikasi dari Concrete Jacketing. Mortar Jacketing adalah metode perkuatan kolom dengan cara penambahan beton baru yang menyelimuti kolom beton yang sudah ada menggunakan tulangan dan campuran mortar. Tulangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu petung untuk tulangan longitudinal dan bambu apus untuk tulangan transversal. Digunakan tulangan bambu karena bambu merupakan material terbaharui sehingga akan menciptakan bangunan yang ramah lingkungan (green building) dan juga pembangunan berkelanjutan (sustainable building). Penelitian ini menitikberatkan pada karakteristik kuat tekan maksimum, kekakuan, modulus elastisitas, dan daktilitas. Variabel yang akan dibandingkan pada penelitian ini yaitu jarak sengkang bambu yang berbeda pada rasio tulangan transversal yang sama yaitu 1,23. Dipakai 2 variasi jarak sengkang bambu, yaitu 7 cm dan 11 cm. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kolom retrofit dengan jarak tulangan transversal yang semakin rapat memiliki efektivitas yang lebih baik. Kata Kunci :concrete jacketing, mortar jacketing, jarak tulangan transversal
PENGARUH KONFIGURASI TULANGAN BAMBU DARI PERKUATAN MORTAR JAKET PADA KOLOM BETON BERTULANG YANG MENGALAMI KERUNTUHAN AKSIAL Suryo, Benediktus Rendy Diopasca; Wijatmiko, Indradi; Remayanti, Christin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolom merupakan komponen utama pada sebuah bangunan karena berfungsi sebagai penyalur beban dari balok ke elevasi yang lebih rendah hingga ke pondasi, Pada penelitian ini akan dibahas perkuatan kolom dengan metode mortar jacketing. Kolom retrofit kode A3 menggunakan tulangan longitudinal bambu sebanyak 4 buah ukuran 10 x 10 mm dengan jarak antar tulangan transversal 7cm, kolomretrofit kode B3 menggunakan tulangan longitudinal bambu sebanyak 8 buah berukuran 10 x 5 mm dengan jarak antar tulangan transversal 7 cm, kolom retrofit kode A4 menggunakan tulangan longitudinal bambu sebanyak 4 buah berukuran 10 x10 mm dengan jarak antar tulangan transversal 11 cm, dan kolom retrofit kodeB4 menggunakan tulangan longitudinal bambu sebanyak 8 buah berukuran 10 x 5 mm dengan jarak tulangan transversal 11 cm. Kolom retrofit A3 memiliki nilai kekakuan menurun 14,3% dari kolom asli, nilai daktilitas meningkat 92,4% dari kolom asli, modulus elastisitas menurun 14,3% dari kolom asli, dan kuat beban aksial meningkat 2,1% dari kolom asli. Kolom retrofit B3 memiliki nilai kekakuan menurun 26,7% dari kolom asli, nilai daktilitas meningkat 116,9% dari kolom asli, modulus elastisitas menurun 26,7% dari kolom asli, kuat beban aksial menurun 17,7% dari kolom asli. Kolom retrofit A4 memiliki nilai kekakuan menurun 22,3% dari kolom asli, nilai daktilitas meningkat 105,9% dari kolom asli, modulus elastisitas menurun 22,3% dari kolom asli, kuat beban aksial menurun 17,6% dari kolom asli. Kolom retrofit B4 memiliki nilai kekakuan menurun 26,3% dari kolom asli, nilai daktilitas  meningkat 46,88% dari kolom asli, modulus elastisitas menurun 26,3% dari kolom asli, hal ini juga disebabkan karena kolom retrofit bertulangan longitudinal 8 buah 10x5mm kelangsingan tulangannya lebih besar sehingga lebih mudah mengalami tekuk. . Kata Kunci : mortar jacketing, efektivitas, kuat beban aksial, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas.
Analisis Perilaku Abutment dengan Wing Wall pada Jembatan dalam Menahan Beban Tumbukan (Collision) Akibat Gempa Juniarty, Elliana; Setyowulan, Desy; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seluruh beban yang bekerja pada struktur atas jembatan sebagian besar ditumpu oleh abutment. Saat terjadi gempa, beban yang ditahan abutment menjadi semakin besar. Banyak keruntuhan jembatan saat gempa akibat kegagalan abutment. Kegagalan abutment yang umunya terjadi saat gempa berupa keretakan pada abutment dan berpindahnya atau bergesernya abutment. Abutment yang direncanakan berupa dinding parapet dari abutment. Dinding parapet direncanakan memiliki wing wall dikedua sisinya. Studi analisis ini menggunakan program software ABAQUS CAE 6.11 student edition. Perilaku abutment yang akan dilihat dari hasil analisis ini berupa, tegangan-regangan, defleksi horizontal, pola retak dan momen lentur yang terjadi akibat beban gempa. Selain itu, hasil dari studi analisis ini akan dibandingkan dengan studi analisis abutment tanpa wing wall dan hasil studi eksperimental. Data material yang digunakan pada studi analisis ini merupakan data pendekatan terhadap hasil uji tekan beton dan true stress – true strain uji tarik studi eksperimental. Dari hasil perbandingan perilaku abutment dengan wing wall dan abutment tanpa wing wall dapat disimpulkan bahwa wing wall memberikan efek yang cukup signifikan. Adanya wing wall pada struktur abutment membuat abutment menjadi lebih kaku, sehingga defleksi horizontal yang terjadi lebih kecil daripada abutment tanpa wing wall. Tegangan yang terjadi pada abutment dengan wing wall lebih besar dengan nilai regangan lebih kecil dibandingkan dengan abutment tanpa wing wall. Keretakan terbesar yang terjadi tidak hanya pada badan abutment akan tetapi keretakan terbesar juga terjadi pada titik pertemuan wing wall dengan badan abutment.Beban yang bekerja pada studi analisis ini hanya berupa beban gempa dan beban gravitasi, maka dari itu diperlukannya penilitian lebih lanjut dengan adanya perhitungan dari aspek – aspek lain yang mempengaruhi abutment. Kata kunci: Abutment, ABAQUS, Beban tumbukan, wing wall.
Analisis Perilaku Abutment tanpa Wing Wall Pada Jembatan dalam Menahan Beban Tumbukan (Collision) akibat Gempa Ikhsan, Erika Ainun Zakinah; Setyowulan, Desy; Susanti, Lilya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abutment merupakan struktur bawah jembatan yang mempunyai peranan penting dari suatu jembatan karena beban-beban dari  struktur atas jembatan langsung ditumpu oleh abutment.  Saat terjadi gempa, beban yang ditahan abutment menjadi semakin besar. Salah satu keruntuhan abutment disebabkan karena adanya beban tumbukan dari gelagar atas jembatan akibat gempa. Untuk menghindari kejadian tersebut, dibutuhkannya studi analisis dengan adanya beban gempa yang akan terjadi. Studi analisis ini menggunakan program software ABAQUS CAE 6.14student edition. Perilaku abutment yang akan dilihat dari hasil analisis ini berupa, tegangan-regangan, defleksi horizontal, pola retak dan momen lentur yang terjadi akibat beban gempa. Selain itu, hasil dari studi analisis ini akan dibandingkan dengan studi analisis abutment tanpa wing wall dan hasil studi eksperimental. Data material yang digunakan pada studi analisis ini merupakan data pendekatan terhadap hasil uji tekan beton yangdilakukan di labolatorium dengan kurva hognestad serta parameter damage lainnya dan true stress – true strainuntuk uji tarik baja dari labolatorium. Tegangan yang terjadi pada dinding parapet dengan lebih besar dibandingkan nilai tegangan yang dilakukan di labolatorium. Keretakan terbesar pada saat mencapai kapasistas maksimum parapet wall yaitu pada beban 3,5 ton dengan defleksi 8 cm. Kata Kunci :Abutment, Parapet, Gempa, Tegangan, Regangan, Pola retak, Defleksi, Momen Lentur

Page 60 of 140 | Total Record : 1398