cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
STUDI PERUBAHAN KARAKTERISTIK HIDROLOGI (DEBIT PUNCAK DAN WAKTU PUNCAK) AKIBAT PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI BEBERAPA SUB DAS JENEBERANG PROVINSI SULAWESI SELATAN Alamsyah, Muhammad Bayu; Limantara, Lily Montarcih; Wahyuni, Sri
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan tata guna lahan pada DAS akan sangat mempengaruhi karakteristik hidrologi suatu kawasan, karakteristik hidrologi meliputi debit puncak dan waktu puncak pada sungai. Permasalahan yang diperkirakan ada pada perubahan tata guna lahan ini adalah meningkat atau menurunnya aliran permukaan yangaberpengaruh terhadap besar kecilnya debit puncak pada outlet DAS. Penelitian ini diharapkan untuk mengetahui apakah perubahan tata guna lahan pada sekitaran DAS Jeneberang berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan karakteristik hidrologi DAS Jeneberang. Kebutuhan data pada penelitian ini menggunakan data sekunder seperti pasangan data curah hujan jam-jaman dan data debit (2008-1017), peta rupa bumi dan peta tematik berupa peta wilayah administrasi, peta penggunaan lahan dan peta topografi. Analisis perhitungan yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan 2 (dua) alat bantu software yaitu MS. Excel untuk melakukan perhitungan statistik dan ArcGIS 10.3 untuk melakukan pengolahan data peta. Hasil penelitian diperoleh penggunaan lahan pada DAS Jeneberang adalah agrikebun, agriladang, agrisawah, hutan, pemukiman, rawa/tambak dan semak belukar. Dari hasil pengolahan diketahui perubahan kawasan semak belukar menjadi kawasan hutan menjadi perubahan paling besar. Hasil perubahan ini sejalan dengan prinsip dasar hidrologi dikarenakan rerata debit yang dihasilkan dari perhitungan menggunakan Hidrograf Satuan Pengamatan (HSP) cara Metode Collins dengan perbandingan tahun awal dan tahun akhir mengalami penurunan.Land use changes in the watershed will greatly affect the hydrological characteristics of an area, hydrological characteristics including peak discharge and peak times in rivers. The problem that is predicted to exist in this land use change is an increase or decrease in surface runoff so that it affects the size of the peak discharge at the watershed outlet. This study aims to determine whether changes in land use around the Jeneberang watershed have a significant effect on changes in the hydrological characteristics of the Jeneberang watershed. The data requirements in this study use secondary data such as pairs of hourly rainfall data and discharge data (2008-1017), earth maps and thematic maps in the form of administrative area maps, land use maps and topographic maps. Analysis of calculations carried out in this study using 2 (two) software tools, namely MS. Excel for performing statistical calculations and ArcGIS 10.3 for processing map data. The results showed that land uses in the Jeneberang watershed were agriculture, forests, settlements, swamps/ponds and shrubs. From the results of processing, it is known that the changes in scrub areas to forest areas is the biggest changes. The results of this changes are in line with the basic principles of hydrology because the average discharge resulting from calculations using the Hydrograph of the Unit of Observation (HSP) method of the Collins Method with the comparison of the initial year and the final year has decreased.
STUDI PENERAPAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN RAINFALL ANOMALY INDEX (RAI) UNTUK MENGESTIMASI KEKERINGAN PADA DAS BONDOYUDA, KABUPATEN LUMAJANG Aprianto, Kukuh Ardian; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekeringan merupakan bencana alam yang dipengaruhi fenomena El Nino – Southern Oscillation (ENSO). Mitigasi kekeringan dapat dilakukan dengan menghitung indeks kejadiannya. Penelitian ini menghitung nilai indeks kekeringan pada DAS Bondoyuda Kabupaten Lumajang. Analisa kekeringan menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan Rainfall Anomaly Index (RAI). Analisa kesesuaian menggunakan korelasi determinan untuk membandingkan Southern Oscillation Index (SOI) dengan indeks terhitung. Data yang diperlukan yaitu curah hujan, peta topografi dan administrasi wilayah, serta SOI. Perhitungan indeks kekeringan menggunakan defisit 6 bulanan dikarenakan mengikuti trend musim kemarau dan penghujan. Indeks kekeringan terpilih dipetakan dengan Arcgis 10.5 menggunakan interpolasi Kriging untuk mendapatkan sebaran kekeringannya. Hasil indeks SPI didapatkan kekeringan terparah pada tahun 2013 sebesar -3,936, sedangkan RAI pada tahun 2012 sebesar -3,418. Kesesuaian korelasi determinan kedua indeks dengan SOI pada kriteria sangat lemah sampai cukup, sehingga diperlukan grafik data hujan sebagai variabel pembanding alternatif. Hubungan grafik data hujan dengan RAI menunjukkan kesesuaian trend pada lembah dan bukit yang terbentuk. Selama pengamatan didapatkan rata – rata kekeringan setiap tahunnya melanda 31 desa selama 20 tahun (1999 – 2018).Drought is a natural disaster influenced by the El Nino – Southern Oscillation (ENSO) phenomenon. Drought mitigation can be done by calculating the occurrence index. This study calculates the drought index value in the Bondoyuda watershed in Lumajang Regency. Drought analysis uses the Standardized Precipitation Index (SPI) and Rainfall Anomaly Index (RAI) methods. Suitability analysis uses correlation determinants to compare the Southern Oscillation Index (SOI) with calculated indices. The data required are rainfall, topographic maps, and regional administration, as well as SOI. The drought index calculation uses a 6 – month deficit because it follows the trend of the dry and rainy seasons. The selected drought index was mapped with Arcgis 10.5 using Kriging interpolation to get drought distribution. The SPI index results obtained worst drought in 2013 of -3,936, while the RAI in 2012 was -3,418. The suitability of correlation determinants of the two indexes with SOI on the criteria is very weak to sufficient so that a rain data chart is needed as an alternative comparative variable. The relationship between the rain data charts the RAI shows the suitability of trend in the formed valleys and hills. During the observation, it was found that the average drought each year hit 31 villages for 20 years (1999 - 2018). 
Studi Erosi Menggunakan Model Agricultural Non-Point Source Pollution (AGNPS) pada DAS Kali Lamong Provinsi Jawa Timur Majid, Haidar Naufal; Sholichin, Moh.; Asmaranto, Runi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan tata guna lahan dari yang semula hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, maupun ladang berdampak pada tingginya laju erosi pada DAS Kali Lamong, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Studi ini bertujuan untuk memetakan kondisi existing persebaran laju erosi beserta tingkat bahaya erosi pada DAS Kali Lamong, sehingga kemudian dapat diberikan saran penanggulangan berupa skenario lahan baru. Perhitungan menggunakan model Agricultural Non-Point Source Pollution (AGNPS) diperoleh laju erosi rata-rata DAS sebesar 31,771 ton/ha/tahun. Hasil analisis tingkat bahaya erosi berdasarkan Indeks Bahaya Erosi oleh Hammer (1981) diperoleh indeks dengan tingkat rendah (indeks <1) seluas 460,8 km2, tingkat sedang (indeks 1-4) seluas 200,88 km2, tingkat tinggi (indeks 4-10) seluas 42,93 km2, dan tingkat sangat tinggi (indeks >10) seluas 63,27 km2. Berdasarkan perhitungan sediment delivery ratio (SDR), didapatkan hasil perkiraan sedimen sebesar 34.228,031 ton/tahun atau 28.532,231 m3/tahun. Skenario lahan baru disusun berdasarkan RLKT - Departemen Kehutanan. Dari hasil simulasi skenario lahan baru, tidak didapati indeks bahaya erosi pada tingkat tinggi maupun sangat tinggi. Hasil tersebut menunjukkan skenario lahan yang baru dapat mengurangi laju erosi dan tingkat bahaya erosi pada DAS Kali Lamong. The transformation of land-use from forestry into agricultures, plantations, and fields have an impact on the high-rate of erosion at Kali Lamong Watershed, Gresik Regency, East Java Province. This study is purposed to map the existing condition of the erosion rate and the erosion hazard level at Kali Lamong Watershed, so that it can be resolved in the form of a new land-use scenario recommendation. Based on the calculation by using the Agricultural Non-Point Source Pollution (AGNPS) model, it is obtained the watershed’s average erosion rate of 31,771 ton/ha/year. The analysis result of the  erosion hazard level using the Erosion Hazard Index by Hammer (1981), shows that the index at low level (index <1) in an area of 460,8 km2, medium level (index 1-4) in an area of 200,88 km2, high level (index 4-10) in an area of 42,93 km2, and very high level (index >10) in an area of 63,27 km2. Based on the calculation of the sediment delivery ratio (SDR), it is obtained the sediment value of 34.228,031 ton/year or 28.532,231 m3/year. The new land-use scenario is arranged based on RLKT from the Indonesian Department of Forestry. From the simulation of the new land-use scenario result, it is not obtained the erosion hazard index at either high or very high level. The result shows that the new land-use scenario can reduce the erosion rate and the erosion hazard level at Kali Lamong Watershed. 
Analisa Neraca Air pada Waduk Sutami berdasarkan Data Pengukuran dan Data Satelit Berlian, Ramadhan Sangsang; Wahyuni, Sri; Sisinggih, Dian
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan air yang meningkat sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan manusia maka dilakukan antisipasi terhadap ketersediaan air dengan melakukan analisis terhadap ketersediaan air waduk sutami. Ketersediaan air yang dipengaruhi oleh besarnya curah hujan dan evaporasi. Ketersediaan data pengukuran yang kurang memadai menjadi salah satu permasalahan. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memanfaatkan data satelit. Namun, data satelit harus dilakukan uji kesesuaian data terlebih dahulu untuk mengetahui kecocokan antara data pengukuran dan data satelit. Metode uji kesesuaian data  yang digunakan yaitu, Root Mean Squared Error (RMSE), Nash Sutchliffe Efficiency (NSE), Koefisien Korelasi, dan Uji Kesalahan Relatif (KR). Uji kesesuaian data dilakukan dengan dua perhitungan, yaitu uji kesesuaian dara tidak terkoreksi dan uji kesesuaian data terkoreksi. Hasil analisis menunjukkan uji kesesuain data terkoreksi  memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan data tidak terkoreksi. Sedangkan untuk hasil analisis neraca air dengan menggunakan data pengukuran dan data satelit memiliki pola trend yang sama. Dan dapat disimpulkan bahwa data satelit yang digunakan dapat dijadikan sebagai alternatif data pengukuran. The increasing of water demand is coherent with population growth and also the increasing of human activities, so it is imoortant to give an anticipation of water availability by analyzing the Sutami Reservoir water. Water availability is affected by the amount of rainfall and evaporation. The availability of inadequate measurement data is one of the problems. This problem can be solved by utilizing satellite data. However, satellite data must be tested in advance in order to determine the compatibility between measurement data and satellite data. Data suitability test methods used including, Root Mean Squared Error (RMSE), Nash Sutchliffe Efficiency (NSE), Correlation Coefficient, and Relative Error Test (KR). The data suitability test is carried out with two calculations, the uncorrected data suitability test and the corrected data suitability test. The analysis shows that the corrected data suitability test has a better value compared to the uncorrected data. As for the results of water balance analysis using measurement data and satellite data have the same trend pattern. And it can be concluded that the satellite data used can be used as an alternative measurement data. 
STUDI PENANGANAN TEKNIS BANJIR DI DAS KALI LAMONG, KABUPATEN GRESIK – JAWA TIMUR Indrajayatama, Ridho Satria; Sholichin, Moh.; Dermawan, Very
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kali Lamong merupakan salah satu sungai yang berada di Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur. Kali Lamong memiliki luas DAS sebesar kurang lebih 720 km2 dan panjang sungai sepanjang 103 km dengan 6 anak sungai utama. Perubahan tata guna lahan yang terjadi membuat tiap tahunnya terjadi banjir di Kabupaten Gresik akibat luapan Kali Lamong. Dibutuhkan upaya penanganan teknis guna menanggulangi banjir. Terdapat dua usulan teknis yang dianalisa yaitu perencanaan tanggul urugan dengan concrete sheetpile (CCSP) dan kolam retensi. Pada studi ini, dilakukan analisa hidrologi guna mendapatkan debit banjir rancangan pada lokasi studi. Selanjutnya akan dilakukan analisa hidrolika dengan program HEC-RAS 5.0.7. dengan debit banjir rencana Q25 tahun sebagai dasar perencanaan usulan teknis. Usulan pertama adalah perencanaan tanggul dengan tinggi 4,5 meter dan direkomendasikan menggunakan produk PT. Wika Beton (Persero) Tbk dengan tipe W-325. Tanggul ini memiliki efektifitas mereduksi banjir sebesar 100%. Sedangkan usulan teknis kedua adalah dengan 1 unit kolam retensi pada hulu Kali Lamong dengan tampungan total 409692 m3. Perencanaan inlet kolam retensi menggunakan pelimpah samping dan outletnya berupa pintu pengeluaran yang memiliki waktu pengurasan kolam selama 3 jam 6 menit. Kolam retensi memiliki efektifitas mereduksi banjir sebesar 11,4%. Berdasarkan efektifitas mereduksi banjir dari dua usulan teknis tersebut, penanganan teknis dengan tanggul yang dipilih guna menangani banjir di Kali Lamong. Kali Lamong is a river located in Gresik Regency, East Java Province. Kali Lamong has a watershed area of ​​approximately 720 km2 and a river length of 103 km with 6 main tributaries. Changes in land use that occur each year cause flooding in the Gresik Regency due to the overflow of Kali Lamong. It takes technical handling efforts to tackle flooding. There are two technical proposals analyzed, namely the embankment design with concrete sheet pile (CCSP) and retention ponds. In this study, a hydrological analysis was carried out to obtain the design flood discharge at the study location. Next, a hydraulic analysis will be carried out using the HEC-RAS 5.0.7 program. with the Q25 year plan flood discharge as the basis for planning technical proposals. The first proposal is to plan a dyke with a height of 4.5 meters and it is recommended to use PT. Wika Beton (Persero) Tbk with type W-325. This embankment has a flood reduction effectiveness of 100%. Meanwhile, the second technical proposal is a retention pond in the upper reaches of the Lamong River with a total storage capacity of 409692 m3. The retention pond inlet planning uses a side spillway and its outlet is a discharge gate that has a pool drainage time of 3 hours 6 minutes. The retention pond has the effect of reducing flooding by 11.4%. Based on the effectiveness of reducing floods from the two technical proposals, the technical handling with the embankment was chosen to handle flooding in Kali Lamong.
Studi Evaluasi Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur Pradana, Ravi; Haribowo, Riyanto; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Pandanrejo merupakan salah satu desa yang ada di Kota Batu, dimana desa tersebut telah menggunakan sistem IPAL Komunal untuk mengolah air limbah sebelum dibuang ke sungai dan effluennya dimanfaatkan untuk irigasi sawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dari Instalasi Pengolahan Air Limbah  (IPAL) Desa Pandanrejo dengan membandingkan parameter air limbah dan untuk menemukan solusi jika kadar effluen melebihi baku mutu air limbah. Langkah awal dari penelitian ini adalah melakukan sampling pada 4 titik sesuai dengan HRT perencanaan dengan parameter yang digunakan adalah BOD, COD, dan TSS. Selanjutnya, membandingkan parameter yang didapat dengan baku mutu air limbah yang mengacu pada Keputusan Menteri Negara LH No. 112 Tahun 2003, Peraturan Menteri LHK No. 68 Tahun 2016, dan PP RI No. 82 Tahun 2001. Hasil sampling menunjukkan effluen tidak memenuhi baku mutu air limbah dan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja IPAL, maka dilakukan perencanaan perbaikan IPAL dengan proyeksi penduduk 10 tahun ke depan. Selain itu dilakukan evaluasi pada operasional dan pemeliharaan guna untuk menjaga kinerja pengolahan IPAL. Pandanrejo Village is one of the villages in Batu City, where the village has used the Communal IPAL system to treat wastewater before it is discharged into the river and the effluent is used for irrigation of rice fields. This study aims to evaluate the performance of the Pandanrejo Village Wastewater Treatment Plant (WWTP) by comparing wastewater parameters and to find a solution if the effluent level exceeds the wastewater quality standard. The initial step of this study was to conduct sampling at 4 points according to the planning HRT with parameters used were BOD, COD, and TSS. Furthermore, comparing the parameters obtained with the wastewater quality standard refers to the Keputusan Menteri Negara No. 112 Tahun 2003, Peraturan Menteri LHK No. 68 Tahun 2016, and PP RI No. 82 Tahun 2001. The results of the sampling show that the effluent does not meet the quality standards of wastewater and seeing the factors that affect the performance of WWTP, planning for WWTP improvement is carried out with population projections for the next 10 years. In addition, an evaluation of the operation and maintenance is carried out in order to maintain the performance of WWTP processing.
STUDI PENILAIAN INDEKS KINERJA IRIGASI DAN ANGKA KEBUTUHAN NYATA OPERASI DAN PEMELIHARAAN (AKNOP) PADA DAERAH IRIGASI SURAK KECAMATAN LAWANG KABUPATEN MALANG Iqbal, Muhammad; Prayogo, Tri Budi; Wahyuni, Sri
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan Aset Irigasi dibutuhkan sebagai manajemen untuk aset irigasi sehingga dapat terus mempertahankan kondisi dan fungsi dari aset tersebut. Daerah Irigasi Surak mempunyai bangunan pengambilan yang terletak pada Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Saluran Primer Irigasi Surak berada pada sepanjang jalan nasional melintasi Kecamatan Purwosari Kabuapten Pasuruan. Dari hasil inventarisasi data awal yang didapatkan pada tahun 2018, terdapat 2 titik kerusakan yang ada pada saluran dan setelah dilakukan inventarisasi ulang menjadi 21 titik kerusakan yang terdiri dari 1 bangunan liar yang terdapat pada tengah saluran, 14 kerusakan lining saluran, dan 6 saluran yang dipenuhi oleh sedimen dan sampah. Untuk indeks kinerja irigasi dari Daerah Irigasi Surak mendapatkan nilai sebesar 77,56% (Kondisi Sedang) dimana untuk aspek prasarana fisik sebesar 39,1%, aspek ketersediaan air 5,4%, aspek indeks pertanaman sebesar 4,4%, aspek sarana penunjang O&P sebesar 7,8%, aspek organisasi dan personalia sebesar 10,8%, aspek dokumentasi sebesar 3,8%, dan aspek perkumpulan petani pemakai air sebesar 6,3%. Perhitungan prioritas Daerah Irigasi Surak dengan menggunakan metode ranking dimana mengurutkan dari nilai aset terendah ke tertinggi. Sehingga didapatkan hasil dimana 24 aset dengan kondisi sedang, 43 aset dalam kondisi baik, dan 146 dalam kondisi baik sekali. Untuk perhitungan AKNOP didapatkan sebesar  Rp. 1.561.741.648,82 dengan Rp. 208.506.890,00 untuk biaya operasi dan Rp. 1.353.234.758,82 untuk biaya pemeliharaan. Sementara untuk penanganan rehabilitasi nya didapatkan untuk 24 aset membutuhkan pemeliharaan berkala bersifat perbaikan, 43 aset membutuhkan pemeliharaan berkala bersifat perawatan, dan 146 aset cukup dilakukan pemeliharaan rutin. Irrigation Asset Management is required as management for irrigation assets to maintain the value of asset’s function and condition. Surak Irrigation Area’s intake building is located in Lawang Subdistrict, Malang Regency. Surak Irrigation Primary Channel is located along the national road, passing through Purwosari Subdistrict, Pasuruan District. From the intial data that obtained in 2018, there were 2 points of damage in the channel. After resurveying in 2020, there are 21 points of damage consisting of 1 illegal building in the middle of the channel, 14 points of damage to channel’s lining, 6 section of channel that filled with waste and sediment. For the irrigation performance index of the Surak Irrigation Area yield the value of 77.56% (moderate condition) where for the physical infrastructure aspect is 39.1%, the water availability aspect is 5.4%, the planting index aspect is 4.4%, the operation and management supporting facilities aspect is 7.8%, organizational and personnel aspect is 10.8%, documentation aspect is 3.8%, and Irrigation user farmer association aspects are 6.3%. Calculation of the priority of Surak Irrigation Area is using the ranking method, which ranks from the lowest to the highest asset value. So that the results obtained where 24 assets are in moderate condition, 43 assets are in good condition, and 146 are in very good condition. For Real Cost Value of Maintaining and Operating Irrigation calculation, it is Rp. 1,561,741,648.82 with Rp. 208,506,890.00 for operating costs and Rp. 1,353,234,758.82 for maintenance costs. While for rehabilitation, it is found that 24 assets need regular maintenance and repair, 24 assets need regular maintenance, and 146 assets need to be done routinely.
STUDI KELAYAKAN RENCANA PEMBANGUNAN EMBUNG PENIWEN DESA PENIWEN KECAMATAN KROMENGAN KABUPATEN MALANG Ferina, Marisa Ayu; Limantara, Lily Montarcih; Sholichin, Moh.
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Malang yakni daerah agraris dengan jumlah penduduk 2.544.315 (BPS Kab Malang, 2018), oleh karena itu dibutuhkan ketersediaan air baku untuk irigasi. Pengaruh perubahan iklim, air menjadi berkurang dan banyak mata air yang mati pada musim kemarau, untuk itu pembangunan embung menjadi solusi utama.Studi ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan Embung Peniwen ditinjau dari aspek teknis dan aspek ekonomi. Dari analisis teknis Embung Peniwen dapat menampung volume air sebesar 52.032,55 m3 dengan areal irigasi 75 Ha. Sedangkan simulasi tampungan, Embung Peniwen dapat memenuhi kebutuhan air irigasi dengan pola tanam Padi-Padi-Palawija Dari hasil perhitungan diperoleh nilai pembangunan sebesar Rp. 6.185.840.000 termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kondisi normal diperoleh nilai NPV=Rp. 794.466.428, B/C=1,116, EIRR=14,440%. Kondisi manfaat turun 10%, biaya tetap diperoleh NPV=Rp. 31.998.961, B/C=1,005, EIRR=12,102%. Kondisi manfaat dan biaya tetap, pelaksanaan terlambat 1 tahun diperoleh NPV=Rp. 77.759.182, B/C=1,133, EIRR=12,216%. Disimpulkan bahwa pembangunan Embung Peniwen layak secara teknis dan ekonomi untuk dibangun.Malang Regency is an agricultural area with a population of 2,544,315 (BPS Kab Malang, 2018), therefore it requires the availability of raw water for irrigation. The effect of climate change is that water is reduced and many springs die in the dry season, so the construction of embung is the main solution. This study aims to determine the feasibility of developing the Peniwen Embung in terms of technical and economic aspects. From the technical analysis, the Peniwen Embung can accommodate a volume of water of 52,032.55 m3 with an irrigation area of 75 hectares. While the storage simulation, Peniwen Embung can meet the needs of irrigation water with the cropping pattern of Rice-Padi-Palawija. From the calculation results, the development value is Rp. 6,185,840,000 including Value Added Tax (VAT). Under normal conditions, the NPV value = Rp. 794,466,428, B / C = 1,116, EIRR = 14,440%. Benefit condition decreased by 10%, fixed cost obtained NPV = Rp. 31,998,961, B / C = 1,005, EIRR = 12.102%. Conditions for benefits and fixed costs, one year late implementation, the NPV = Rp. 77,759,182, B / C = 1,133, EIRR = 12,216%. It was concluded that the construction of the Peniwen Embung was technically and economically feasible to BUILD.Kabupaten Malang yakni daerah agraris dengan jumlah penduduk 2.544.315 (BPS Kab Malang, 2018), oleh karena itu dibutuhkan ketersediaan air baku untuk irigasi. Pengaruh perubahan iklim, air menjadi berkurang dan banyak mata air yang mati pada musim kemarau, untuk itu pembangunan embung menjadi solusi utama.Studi ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan Embung Peniwen ditinjau dari aspek teknis dan aspek ekonomi. Dari analisis teknis Embung Peniwen dapat menampung volume air sebesar 52.032,55 m3 dengan areal irigasi 75 Ha. Sedangkan simulasi tampungan, Embung Peniwen dapat memenuhi kebutuhan air irigasi dengan pola tanam Padi-Padi-Palawija Dari hasil perhitungan diperoleh nilai pembangunan sebesar Rp. 6.185.840.000 termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kondisi normal diperoleh nilai NPV=Rp. 794.466.428, B/C=1,116, EIRR=14,440%. Kondisi manfaat turun 10%, biaya tetap diperoleh NPV=Rp. 31.998.961, B/C=1,005, EIRR=12,102%. Kondisi manfaat dan biaya tetap, pelaksanaan terlambat 1 tahun diperoleh NPV=Rp. 77.759.182, B/C=1,133, EIRR=12,216%. Disimpulkan bahwa pembangunan Embung Peniwen layak secara teknis dan ekonomi untuk dibangun.Kabupaten Malang yakni daerah agraris dengan jumlah penduduk 2.544.315 (BPS Kab Malang, 2018), oleh karena itu dibutuhkan ketersediaan air baku untuk irigasi. Pengaruh perubahan iklim, air menjadi berkurang dan banyak mata air yang mati pada musim kemarau, untuk itu pembangunan embung menjadi solusi utama.Studi ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan Embung Peniwen ditinjau dari aspek teknis dan aspek ekonomi. Dari analisis teknis Embung Peniwen dapat menampung volume air sebesar 52.032,55 m3 dengan areal irigasi 75 Ha. Sedangkan simulasi tampungan, Embung Peniwen dapat memenuhi kebutuhan air irigasi dengan pola tanam Padi-Padi-Palawija Dari hasil perhitungan diperoleh nilai pembangunan sebesar Rp. 6.185.840.000 termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kondisi normal diperoleh nilai NPV=Rp. 794.466.428, B/C=1,116, EIRR=14,440%. Kondisi manfaat turun 10%, biaya tetap diperoleh NPV=Rp. 31.998.961, B/C=1,005, EIRR=12,102%. Kondisi manfaat dan biaya tetap, pelaksanaan terlambat 1 tahun diperoleh NPV=Rp. 77.759.182, B/C=1,133, EIRR=12,216%. Disimpulkan bahwa pembangunan Embung Peniwen layak secara teknis dan ekonomi untuk dibangun.
STUDI KEKERINGAN METEOROLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN PERCENT NORMAL INDEX (PNI) DI SUB DAS KADALPANG KABUPATEN PASURUAN Dukhosagt, Aini Nurnabilla; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada Kabupaten Pasuruan di tahun 2018, terdapat 20 desa di 5 kecamatan yang ditetapkan sebagai daerah rawan bencana. Maka perlu dilakukan studi analisis indeks kekeringan untuk dapat meminimalkan kerugian dan penanggulangan maupun penanganan bencana sesuai skala prioritasnya. Analisis indeks kekeringan meteorologi menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan metode Percent Normal Index (PNI). Hasil indeks kekeringan meteorologi kemudian dianalisis kesesuaian dengan indeks kekeringan hidrologi metode Standardized Streamflow Index (SSI) guna mengetahui metode yang lebih sesuai di Sub DAS Kadalpang. Kejadian kekeringan terparah metode SPI pada periode defisit 1, 3, dan 6 bulanan pada tahun 2018 sedangkan pada periode defisit 12 bulanan pada tahun 2004. Untuk metode PNI terjadi sepanjang tahun pengamatan kecuali 2010. Setelah dilakukan analisis kesesuaian, diperoleh hasil korelasi lemah dan hasil kesesuaian yang rendah dengan membandingkan pola dan klasifikasi. Sehingga dilakukan perbandingan pola dengan debit dan curah hujan untuk memperkuat pengambilan keputusan. Perbandingan pola dengan metode PNI memperoleh kesesuaian terbesar, sebesar 69% dan 85%. Hasil peta persebaran kekeringan dalam kurun waktu 20 tahun melanda hampir seluruh desa di Sub Das  Kadalpang yang terjadi pada bulan Juni, Juli, Agustus, September dan Oktober.In Pasuruan Regency in 2018, there were 20 villages in 5 sub-districts that were designated as disaster-prone areas. So it is necessary to do a drought index analysis study to be able to minimize losses and mitigate and handle disasters according to the priority scale. Meteorological drought index analysis uses the Standardized Precipitation Index (SPI) method and the Percent Normal Index (PNI) method. The results of the meteorological drought index were then analyzed according to the hydrological drought index using the Standardized Streamflow Index (SSI) method to determine which method was more suitable in the Kadalpang Sub-watershed. The worst drought incidence was in the SPI method in the deficit period 1, 3, and 6 months in 2018 while in the 12-month deficit period in 2004. For the PNI method occurred throughout the observation year except 2010. After the suitability analysis was carried out, the results of weak correlation and low conformity were obtained by comparing patterns and classifications. So that the comparison of patterns with discharge and rainfall is carried out to strengthen decision making. The comparison of the pattern with the PNI method obtained the greatest suitability, amounting to 69% and 85%. The results of the map of the distribution of drought over a period of 20 years that hit almost all villages in Sub Das Kadalpang which occurred in June, July, August, September and October.
Penerapan Metode Theory of Run untuk Perhitungan Kekeringan Meteorologi di DAS Welang Harjono, Marie Augustin Alvidian Pangestuti Ais; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang yang berada di wilayah DAS Welang merupakan wilayah yang dinyatakan darurat kekeringan. Analisis indeks kekeringan dibutuhkan di DAS Welang untuk mengetahui peta sebaran berdasarkan tingkat kekeringannya. Dalam studi ini digunakan perhitungan besarnya indeksmkekeringan meteorologi metode Theory of Run yang distandarisasi dengan metode Z-Index untuk mengetahui jumlah dan durasi kekeringan, kemudian dibandingkan dengan indeks kekeringan hidrologi berdasarkan data debit dengan perhitungan metode Z-Index guna mengetahui tingkat kesesuaian metode Theory of Run di DAS Welang. Metode Theory of Run menunjukkan terjadinyagdurasigkekeringangterpanjanggselamag25 bulan, dengangjumlah kekeringan terbesar yaitu 1410 mm. Z-Index dari Theory of Run menghasilkan indeks kekeringan terbesar dengan nilai 3,82 dan indeks kekeringan terkecil dengan nilai -3,05. Perhitungan data debit dengan Z-Index menghasilkan nilai indeks kekeringan terbesar 2,22 dan indeks kekeringan terkecil sebesar -2,18. Analisis kesesuaian kedua indeks kekeringan menghasilkan persentase kesesuaian 35,29% - 51,47% yang dinyatakan memiliki Hubungan Langsung Positif Lemah. Peta sebaran kekeringan digambar menggunakan metode IDW. Tahun terkering terjadi di tahun 2001, 2007, dan 2008. Terdapat 59 kejadian kekeringan parah pada rata-rata 41 desa yang terjadi di bulan Februari, April, dan Desember di DAS Welang. Pasuruan Regency and Malang regency which are in Welang watershed area are declared as drought emergency areas. Drought index analysis in Welang watershed is needed to have information about drought distribution map according to the level of drought. This study is performed the calculation of meteorological drought index using Theory of Run method which is standardized with Z-Index method to find out the amounts and duration of drought, then will be compared with hydrological drought index based on dicharge data calculated using Z-Index method to find out the suitability level of Theory of Run method in Welang watershed. Theory of Run method shows the longest drought duration occured for 25 months, and the highest number of drought is 1410 mm. Z-Index of Theory of Run produced the highest drought index value (3,82) and the smallest drought index value (-3,05). The calculation of discharge data with Z-Index method produces the highest drought index value (2,22) and the smallest drought index (-2,18). Conformity percentage results of conformity analysis of the two drought indexes are 35,29% - 51,47% which stated that have a Weak Positive Direct Relationship. The drought distribution map is drawn using IDW method. The driest years occured in 2001, 2007, and 2008. There were 59 severe drought events in an average of 41 villages that occured in February, April, and December in Welang watershed.