cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
Analisis Penataan Ruang Area Bar pada Kedai Kopi di Jakarta Berdasarkan Prosedur Pembuatan Minuman Kopi Muhammad Abi Ramadhan; Rinawati Puji Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedai kopi menjadi salah satu tempat publik yang paling sering dikunjungi masyarakat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di Jakarta. Hingga kini perkembangan kedai kopi dapat dibagi menjadi 3 (tiga) gelombang dan kedai kopi gelombang ketiga yang menjadi objek penelitian ini merupakan kedai kopi Specialty yang pada umumnya dikelola secara independen serta mengedepankan kualitas kopi dengan berbagai metode penyajian dan prosedur yang spesifik yang dilakukan oleh Barista di area Bar. Maka dari itu, penataan ruang dari area Bar dapat berkontribusi dalam efektivitas dan efisiensi kerja dari pelakunya. Penataan ruang dalam hal ini dapat dirincikan sebagai penataan yang ideal dari furnitur, peralatan, dan jumlah pelaku di dalam luas ruang yang disediakan dengan tujuan untuk mengoptimalkan kinerja. Melalui analisis secara kualitatif-desktriptif yang dilakukan pada 3 (tiga) kedai terpilih, ditemukan bahwa penataan ruang memiliki pengaruh terhadap keefektifan dan keefisienan kerja dari Barista dalam menjalakan prosedur-prosedur pembuatan minuman kopi, terutama dalam hal jumlah perpindahan tempat yang dilakukan yang disebabkan oleh zonasi, pembagian ruang, serta dimensi dari area Bar itu sendiri.
Evaluasi Purna Huni Aspek Teknis Ruang Poli Bangunan Puskesmas Gedangan Hazzara Damar Eryasa; Tito Haripradianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sarana pelayanan kesehatan yang mencakup wilayah kerja terkecil adalah Puskesmas. Puskesmas Gedangan terletak di Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Ruang poli merupakan tumpuan unit pelayanan pertama yang berperan penting dalam memenuhi pelayanan utama yang menyediakan pelayanan kesehatan. Hasil observasi awal menunjukan adanya aspek teknis pada ruang poli yang belum memenuhi standar. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesesuaian sepuluh ruang poli, ditinjau dari aspek teknis dan dikomparasikan dengan Peraturan Menteri Kesehatan No.43 tahun 2019 tentang Puskesmas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif, Data primer didapatkan dari observasi kualitas pencahayaan dan penghawaan, sistem air bersih, sanitasi, dan higiene, sistem kelistrikan, sistem komunikasi, dan sistem proteksi kebakaran. Pengukuran dilakukan untuk memperoleh data tingkat pencahayaan, suhu, dan akustik. Data sekunder diperoleh dari studi literatur. Hasil analisis dan pembahasan pada penelitian menemukan bahwa sistem pencahayaan sebagian besar ruang poli telah sesuai. Penghawaan pada ruang poli sebagian besar telah sesuai. Sistem air bersih, sistem pengolahan limbah cair, sistem pengolahan limbah padat, dan sistem higiene sebagian besar sudah sesuai. Sistem kelistrikan seluruhnya telah sesuai. Sistem komunikasi di dalam bangunan pada ruang poli puskesmas gedangan seluruhnya telah sesuai. Sistem proteksi kebakaran masih belum sepenuhnya sesuai. Kata kunci: puskesmas, evaluasi purna huni, aspek teknis ABSTRACT The health facility that covers the smallest working area is the Puskesmas. Gedangan Health Center is located in Gedangan District, Sidoarjo Regency. The ward room is the service unit which plays an important role in fulfilling the main services that provide health services. Preliminary observation results show that there are technical aspects in the ward room that do not meet the standards. This study aims to assess the suitability level of ten ward rooms, in terms of technical aspects and compared with Peraturan Menteri Kesehatan No. 43 tahun 2019 tentang Puskesmas. The research was conducted using qualitative methods with descriptive analysis. The primary data was obtained from observing the quality of lighting and ventilation, clean water, sanitation and hygiene systems, electrical systems, communication systems, and fire protection systems. Measurements were made to obtain data on lighting levels, temperature, and acoustics. Secondary data obtained from literature studies. The results of the analysis and discussion of the study found that the lighting systems for most of the ward rooms were appropriate. Most of the ventilation in the ward room is appropriate. Clean water systems, liquid waste treatment systems, solid waste treatment systems, and hygiene systems are mostly appropriate. The entire electrical system is in accordance. The communication system inside the building in the ward room of the Gedangan Health Center is completely appropriate. The fire protection system is not fully compliant. Keywords: puskesmas, post occupancy evaluation, technical aspect
Pengaruh Aplikasi Arsitektur Biofilik Terhadap Kenyamanan Termal NK Cafe Malang Yohannes Handhika; Andika Citraningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH APLIKASI ARSITEKTUR BIOFILIK TERHADAP KENYAMANAN TERMAL NK CAFÉ MALANG Yohannes Handhika Rahadi¹ dan Andika Citraningrum² 1 Mahasiswa Program Sarjana Arsitektur, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2 Dosen Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Alamat Email Penulis: yoh.dhika@gmail.com ABSTRAK Permasalahan yang kerap kali muncul dalam arsitektur adalah bagaimana mencapai kenyamanan termal bangunan yang maksimal dengan beban penggunaan energi yang minimal. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah dengan menerapkan prinsip desain biofilik pada bangunan. Desain biofilik adalah desain yang berlandaskan aspek biofilia yang bertujuan untuk menghasilkan ruang yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia secara fisik. (Browning et al., 2014). Tujuan dari penerapan desain biofilik pada bangunan adalah untuk menciptakan efek restorasi (healing) bagi tubuh, menstimuli indera manusia yang bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan ruang (Heerwagen et al., 2011). Prinsip desain biofilik menekankan agar bangunan dapat menciptakan kenyamanan secara keseluruhan, baik kenyamanan sensori maupun termal seperti yang terdapat dalam 14 prinsip desain biofilik menurut Browning, Ryan & Clancy (2014). Penelitian ini berlokasi di NK Café Malang dan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan prinsip desain biofilik terhadap kenyamanan termal ruang serta mengetahui persepsi pengguna NK Café terhadap kenyamanan termal ruang menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data secara deskriptif dan evaluatif. Observasi visual terhadap kondisi eksisting yang kemudian dianalisis menggunakan 14 prinsip desain biofilik dilakukan untuk mengetahui bentuk penerapan desain biofilik. Kemudian pengambilan data berupa pengukuran suhu serta penyebaran kuesioner yang disusun menggunakan ASHRAE Standard 55-2017 serta SNI 03-6572-2001. Hasil pengukuran temperatur udara dianalisis menggunakan suhu netral serta suhu lingkungan (outdoor) Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dari hasil pengukuran dengan hasil survey kuesioner pengunjung NK Café, yang dipengaruhi oleh beberapa variabel pengukuran serta penerapan prinsip desain biofilik pada NK Café. Kata kunci: Kenyamanan Termal. Desain Biofilik, Temperatur Ruangan, Persepsi Pengguna
The Effect of Glass Material on The Thermal Comfort of Apartment Unit as A Place to Live: Thermal Comfort of Glass Material Rafiqa Rahmi
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is located on the equator which makes this country have a tropical climate so that it has an influence on the planning of buildings in it, for example apartments. The majority of high-rise apartments in Indonesia use glass curtain walls, but this affects the thermal comfort of the apartment space as a living and active environment, for example in the U-Residence 2 apartment studio unit, Tangerang. Evaluation regarding the use of glass uses a descriptive method with quantitative data based on field observations. From the results of the study it can be concluded that the U-Residence 2 apartment has a thermal environmental performance that tends to be hot and humid so it is necessary to increase the temperature quality mechanically so that it can be declared comfortable.
Pengaruh Tata Massa Permukiman Tepi Sungai Terhadap Lingkungan Termal Kawasan (Studi Kasus : Kampung Warna-Warni Jodipan) alya nafisa fidelista
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan menjadi kampung wisata mengakibatkan terbentuknya aktivitas baru berwisata pada ruang publik koridor jalan kampung Warna-Warni Jodipan yang membutuhkan kondisi nyaman sehingga perlu ada analisis kesesuaian dengan lingkungan fisik kampung yang memiliki kepadatan cukup tinggi. Perancangan lingkungan permukiman yang baik dengan aspek pembentuk lingkungan permukiman seperti tata massa bangunan dan konfigurasinya termasuk dimensi dan jarak antar bangunan akan mempengaruhi iklim mikronya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan bagaimana pengaruh tata massa permukiman tepi sungai terhadap lingkungan termal kawasan khususnya pada ruang publik koridor jalan Kampung Warna-Warni Jodipan melalui teknik visual dan pengukuran lingkungan termal. Teknik visual digunakan untuk mengetahui kriteria elemen pembentuk tata massa permukiman tepi sungai berupa solid dan void, sedangkan pengukuran lingkungan termal bertujuan untuk menilai suhu dan kelembaban udara pada koridor jalan kampung Warna-Warni Jodipan. Hasil penelitian menunjukkan tata massa permukiman melalui elemen solid dan void mempengaruhi kondisi lingkungan termal Kampung Warna-Warni Jodipan. Pola massa akan mempengaruhi kerapatan dan jarak antar bangunan, lebar koridor, serta pelingkup koridor. Posisi dan elevasi koridor jalan terhadap sungai juga mempengaruhi lingkungan termal, semakin dekat koridor dengan sungai, kelembaban akan semakin tinggi dengan suhu yang rendah.
Penarapan Gold for Green Building pada Gedung Perkantoran Menara Danareksa di Jakarta Pusat, Indonesia Arinda Kamila Putri; Iwan Wibisono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Specific strategies have been developed to raise environmental awareness, also known as the "green building concept," to lessen the detrimental effects of buildings on the environment. Green construction is becoming more profitable and in demand in the global construction sector as demand for more environmentally friendly building solutions rises (USGBC, 2016). The Green Building Council Indonesia (GBCI), a member of the World GBC and the only green building organization recognized globally in Indonesia, has produced a reference standard for assessing green construction criteria known as GREENSHIP. The focus of this research is how the Gold for Green Building The specification is applied to the Menara Danareksa Office Building in Central Jakarta, Indonesia. Parameters of GREENSHIP New Building ver. 1.2 developed by GBCI was used in this study. Menara Danareksa Indonesia received 53 points from the assessment for each category. Results include Land Use Efficiency (13 points), Energy Conservation (13 points), Water Conservation (19 points), Material Cycle (2 points), Spatial Comfort (3 points), and Environmental Management (3 points). The results of this study indicate that Danareksa Tower is eligible to be declared a green building with GOLD specifications according to GBCI, with points obtained of 53 points or 69% which is appropriate at the building stage in planning.
Perencanaan Gedung Depo Arsip Kota Makassar dengan Pendekatan Sustainable Design Aqilla Fadya Amarel
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kegiatan preservasi arsip diharapkan berjalan baik pada setiap instansi dengan didukung fasilitas dan sarana prasarana yang mendukung. Kegiatan preservasi arsip ini dilakukan pada Gedung Arsip untuk setiap daerahnya, salah satunya yaitu Kota Makassar. Perencanaan gedung arsip ini memiliki regulasi dan aturan tertentu yang didukung dengan metode menganalisis preseden bangunan gedung arsip lainnya yang telah terbangun dan sesuai dengan regulasi dan konsep yang akan digunakan. Salah satu konsep perencanaan yang sesuai dengan tujuan dari preservasi arsip ini dapat didukung dengan konsep bangunan yang menerapkan konsep sustainable dan juga konsep ikonik dari Kota Makassar itu sendiri. Konsep Sustainable yang akan diterapkan ialah sistem renewable energy dan juga pemilihan jenis renewable material untuk bangunannya. Penerapan akan dilakukan dengan pemanfaatan kembali air hujan untuk keperluan domestik dan juga penggunaan sistem fotovoltaic untuk mengurangi penggunaan energi pada bangunan. Selain itu, penerapan bangunan secara ikonik akan diterapkan pada bagian fasade bangunannya dengan penggunaan pada secondary skin dan juga sun shadingnya yang diambil dari motif batik Sulawesi Selatan dan juga dari bentukan kertas arsip yang dimodifikasi. Sehingga, dari semua penerapan konsep yang ada dan didukung dengan sistem tata ruang yang efisien, Gedung Depo Arsip Kota Makassar diharapkan dapat mendukung jalannya preservasi arsip hingga jangka waktu yang panjang.
PENERAPAN POLA INTERIOR BIOPHILIC DESIGN PADA TEMPAT REFLEXOLOGY DAN SPA DI KOTA MALANG Dinda Maisyarah Alvira
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola apa saja yang sudah diterapkan dalam interior bangunan tempat SPA dan Reflexology di kota Malang. Penerapan pola Biophilic Design pada tempat SPA dan Reflexology mampu memberi efek relaksasi dan menciptakan efek restoratif bagi fisik dan psikologis pengunjung yang mana sejalan dengan tujuan dari tempat SPA dan Reflexology. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan melakukan analisis terhadap penerapan 14 pola design Biophilic pada area lobby/ruang tunggu, ruang pemijatan, area koridor, dan toilet. Penerapan pola diklasifikasikan kedalam 3 tingkatan yaitu teridentifikasi mayor, teridentifikasi minor, dan tidak teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 dari 14 pola yang teridentifikasi penerapannya pada tempat Reflexology dan SPA. Secara keseluruhan, dari 14 pola Biophilic Design, pola yang teridentifikasi secara mayor yaitu terdapat 2 pola, 8 pola secara minor, dan 4 pola tidak teridentifikasi sehingga pengimplementasian konsep Biophilic Design pada tempat Reflexology dan SPA di kota Malang dinilai penerapannya sebagai teridentifikasi minor. Kata kunci: Biophilic Design. Reflexology dan SPA, Interior, Restoratif
Pengaruh Desain Pasif Terhadap Kinerja Lingkungan Termal Rumah Vernakular Bolon Di Desa Marsangap, Sumatera Utara Deby Saputri
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Rumah vernakular Bolon merupakan bentuk arsitektur tradisional yang telah ada sejak lama di Desa Marsangap, Sumatera Utara. Rumah vernakular bolon dianggap mampu memberikan kenyamanan termal bagi penghuninya karena didesain dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, termasuk iklim, topografi, dan sumber daya alam yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dan penerapan desain pasif terhadap kinerja lingkungan termal rumah vernakular Bolon dengan metode analisis visual, pengukuran lapangan, dan komparasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pasif yang terintegrasi dengan rumah vernakular Bolon dapat memberikan kinerja lingkungan termal yang cukup baik. Elemen desain pasif yang sesuai terhadap kinerja lingkungan termal yakni: orientasi bangunan, volume atap yang lebar, peninggian lantai, material dinding dengan konduktivitas rendah dan penggunaan dinding berpori. Sedangkan elemen yang kurang sesuai yaitu: orientasi matahari pada dinding, bukaan yang masih belum memenuhi, menggunakan material penutup atap dengan konduktivitas tinggi dan warna atap gelap, serta tata lingkungan yang kurang memiliki vegetasi peneduh. Kata kunci: Desain pasif, Kinerja lingkungan termal, Rumah vernakular Bolon
Perancangan Apartemen Low-rise dengan Penerapan Arsitektur Bioklimatik di Desa Tibubeneng Samuel Christian Wihartono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi digital telah membuka peluang bagi perantau digital (digital nomads) untuk bekerja dari mana saja. Terlebih dengan adanya dukungan dari pemerintah melalui Work From Bali untuk meningkatkan pariwisata di Provinsi Bali. Salah satu daerah pariwisata yang berkembang dan diminati oleh investor di pulau dewata ini adalah Kabupaten Badung, terkhusus Desa Tibubeneng. Dengan segudang potensi pariwisata dan ekonomi serta kualitas hidup yang baik ini, telah mengundang investor maupun tenaga kerja untuk berkarir dan menetap di pulau dewata. Hal ini menyebabkan meledaknya tingkat migrasi masyarakat dan berdampak pada semakin terbatasnya lahan untuk hunian. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah apartemen low-rise yang sesuai dengan ketentuan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2009-2029 Pasal 95 ayat 2 yang membatasi ketinggian maksimal hunian vertikal setinggi 15 meter. Kondisi daerah Desa Tibubeneng yang berada pada pesisir pantai menjadikan arsitektur bioklimatik dirasa tepat untuk membantu mengurangi beban pendinginan pada tapak. Guna menerapkan konsep bioklimatik ini dengan tepat, metode rasionalisme digunakan melalui studi preseden, standar serta ketentuan terkait pada perancangan. Untuk memperoleh hasil optimal, dilakukan simulasi pembayangan dan perhitungan efektivitas penghawaan alami. Hasil rancangan berupa apartemen low-rise dengan penerapan bioklimatik yang telah teruji efektif pada penghawaan dan peneduhannya. Digital transformation has opened opportunities for digital nomads to work from anywhere. Especially with the support from the government through Work From Bali to increase tourism in the Province of Bali. One of the tourism areas that is developing and is in demand by investors on this island of the gods is Badung Regency, especially Tibubeneng Village. With a myriad of tourism and economic potentials as well as a good quality of life, this has invited investors and workers to have a career and settle down on the island of the gods. This led to an explosion in the rate of migration of people and had an impact on increasingly limited land for housing. One solution that can be implemented is a low-rise apartment that complies with the provisions of the Bali Provincial Spatial Plan 2009-2029 Article 95 paragraph 2 which limits the maximum vertical height of 15 meters for vertical housings. The condition of the Tibubeneng Village area which is on the coast makes the bioclimatic architecture felt appropriate to help reduce the cooling load on the site. In order to properly apply this bioclimatic concept, the rationalism method is used through studies of precedents, standards and related provisions in design. To obtain optimal results, shadowing simulations and calculations of the effectiveness of natural ventilation are carried out. The result of the design is a low-rise apartment with the application of bioclimatic which has been tested to be effective in terms of ventilation and shading.