cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
DESAIN ART AND CULINARY CENTER SEBAGAI PENGEMBANGAN WISATA DI KAWASAN ALUN-ALUN KOTA BATU Alanadia Putri Renardi; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kota Batu sebagai salah satu kota di Jawa Timur yang menjadi tujuan populer bagi wisatawan sehingga memiliki peluang tinggi untuk pengembangan destinasi wisata. Alun-Alun Kota Batu, merupakan salah satu tempat wisata yang populer dikunjungi. Hadirnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar alun-alun menciptakan industri kuliner baru yang mendukung pertumbuhan pariwisata di Kota Batu. Untuk pengembangan destinasi wisata, penting untuk memiliki ruang yang fleksibel dan memberikan manfaat sosial, budaya, dan lingkungan. Untuk itu, Art Space sebagai ruang kreatif publik diperlukan untuk meningkatkan kegiatan seni dan memberikan hiburan edukatif bagi masyarakat. Perancangan ini bertujuan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang positif melalui desain Art and Culinary Center sebagai pengembangan wisata di Kawasan Alun-Alun Kota Batu. Metode yang digunakan dalam mendesain yakni pendekatan pragmatisme diawali dengan mendiagnosis permasalahan pada desain dari aspek desain pengembangan destinasi pariwisata dan elemen desain ruang publik dengan fungsi kuliner dan pusat seni, kemudian mempertimbangkan tindakan alternatif bentuk yang kemudian dievaluasi. Pada perancangan Art and Culinary Center dengan pendekatan pragmatisme dilakukan dengan mengaitkan kriteria desain need, context, and form. Sehingga desain ini nantinya diharapkan menjadi destinasi wisata dengan aktivitas seni dan kuliner, daya tarik visual secara tiga dimensional yang dapat mencerminkan citra Kota Batu. Kata kunci: Pengembangan Wisata, Art and Culinary Center, Pragmatisme ABSTRACT Batu City as one of the cities in East Java, has become a popular destination for tourists so it has a high opportunity for the development of superior tourist destinations. Batu City Square is one of the popular tourist attractions visited. The presence of Street Vendors (PKL) around the square creates a new culinary industry that supports the growth of tourism in Batu City. For the development of tourist destinations, it is important to have a space that is flexible and provides social, cultural, and environmental benefits. For this reason, Art Space as a public creative space is needed to increase art activities and provide educational entertainment for the community. This design aims to present a positive tourism experience through the design of the Art and Culinary Center as a Tourism Development in the Batu City Square Area. The method used in design activities, namely the pragmatism approach, begins with diagnosing problems in the design from the design aspects of tourism destination development and public space design elements with culinary functions and art centers, then considering alternative forms of action which are then evaluated. In designing the Art and Culinary Center with a pragmatism approach, it is carried out by linking the design criteria of need, context, and form. So that this design is expected to become a tourist destination with art and culinary activities, and three-dimensional visual appeal that can reflect the image of Batu City. Keywords: Tourism Development, Art and Culinary Center, Pragmatism
Pengaruh Atap Transparan dan Indoor Garden Terhadap Suhu Dalam Ruang di Terminal Maospati Magetan Fatima Roisatul Mar'ah; Jono Wardoyo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Atap bangunan adalah salah satu elemen selubung pelindung bangunan dari panas matahari. Pengggunaan atap transparan fiberglass dapat menjadi solusi hemat energi untuk memasukkan cahaya kedalam bangunan, namun dengan penerapan atap transparan dengan dimensi yang besar maka dapat mempengaruhi suhu dalam ruang melalui transmisi panas oleh atap transparan. Indoor garden sebagai salah satu alternatif penghijauan memiliki potensi dalam pengatur iklim termal yang perlu diketahui. Untuk mengetahui pengaruh atap transparan dan potensi indoor garden dalam pengatur iklim termal. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mendeskripsikan hasil secara objektif melalui angka. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah penerapan atap transparan fiberglass dapat mempengaruhi suhu dalam ruang berupa meningkat suhu ruang dibawah atap transparan dan meningkatkan suhu ruang yang berdekatan dengan atap transparan. Potensi indoor garden sebagai pengatur iklim termal diketahui belum berpengaruh dalam meningkatkan kenyamanan termal akibat pengaruh panas atap transparan dan belum adanya parameter indoor garden dalam meningkatkan kenyamanan termal. Kata kunci: Atap transpran, Indoor Garden, Suhu dalam ruang ABSTRACT The roof of the building is one element of the building's protective covering from the sun's heat. The use of a transparent fiberglass roof can be an energy-efficient solution for incorporating light into the building, but with the application of a transparent roof with large dimensions it can affect the temperature in the room through heat transmission by the transparent roof. Indoor garden as an alternative for greening has potential in managing the thermal climate that needs to be known. To determine the effect of transparent roofs and the potential of indoor gardens in thermal climate settings. This study uses a quasi-experimental method with a quantitative descriptive approach to objectively describe results through numbers. The findings in this study are that the application of fiberglass transparent roofs can affect indoor temperature in the form of an increase in the room temperature of the transparent roof below and an increase in room temperature adjacent to the transparent roof. The potential of indoor parks as thermal climate regulators is known to have no effect on increasing thermal comfort due to the effect of transparent roof heat and there is no indoor garden parameter to increase thermal comfort. Keywords: transparent roof, indoor garden, room temperature
Penerapan Elemen Interior dalam Membentuk Suasana Ruang pada Ruang Kerja Coworking Space Di Kota Surabaya Indhira Shafa Rahmi Mardani; Rinawati P. Handajani
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan coworking space yang terus meningkat di Kota Surabaya harus diiringi dengan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pengguna. Suasana interior merupakan salah satu karakteristik terpenting saat memilih coworking space. Penataan desain interior menjadi atribut yang penting untuk dikaji lebih lanjut untuk memaksimalkan suasana ruang pada coworking space. Penelitian ini dilakukan pada tiga coworking space di Kota Surabaya yaitu Satu Atap Coworking Place and Food Station, VISMA Coffee, Art & Coworking Space, dan SUB Co Tierra. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap lima unit amatan pada ketiga objek coworking space, didapatkan hasil bahwa. Suasana ruang yang mencerminkan coworking space sebagai ruang yang inspiratif dapat ditemukan pada Satu Atap dan Visma. SUB Co mengusung konsep minimalis dan memiliki suasana ruang yang lebih tenang dan lega namun kurang mencerminkan nilai kreativitas pada coworking space. Kata kunci: elemen interior, suasana ruang, coworking space ABSTRACT The growth of coworking space that continues to increase in the city of Surabaya must be accompanied by facilities that suit the needs and preferences of users. Spatial atmosphere is one of the most important characteristics when choosing a coworking space. Interior design arrangement is an important attribute to be studied further to maximize the spatial atmosphere in a coworking space. This research was conducted in three coworking spaces in the city of Surabaya, namely Satu Atap Coworking Place and Food Station, VISMA Coffee, Art & Coworking Space, and SUB Co Tierra. The research method uses descriptive qualitative with data collection techniques using observation and documentation. Based on the results of the analysis that has been carried out on the five observation units on the three coworking space objects, the results show spatial atmosphere that reflects coworking space as an inspiring space can be found in Satu Atap and Visma. SUB Co carries a minimalist concept and has a calmer and more spacious atmosphere but does not reflect the value of creativity in coworking spaces. Keywords: interior element, spatial atmosphere, coworking space
PERANCANGAN PUSAT FILM DAN FOTOGRAFI DI KOTA BATU DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR ANALOGI Amanda Novelia; Heru Sufianto
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan sektor ekonomi kreatif fotografi dan film yang ditandai dengan munculnya berbagai macam event dan komuntas. Komunitas fotografi di Jawa Timur seperti KFI, Malang Jepret Jepret, Malang Photo Club, dan masih banyak lagi menandakan bahwa sektor film dan fotografi memiliki banyak peminat. Tingginya minat dan potensi pada sektor tersebut, menyebabkan kebutuhan akan fasilitas untuk meningkatkan perkembangan industri film dan fotografi serta wadah untuk mengapresiasi karya. Oleh karena itu, perlu didirikan Pusat Film dan Fotografi yang mewadahi kegiatan tourism di Kota Batu, sebagai wadah untuk komunitas fotografi dan film, serta meningkatkan perekonomian di Kota Batu melalui kegiatan komersial. Bangunan berlokasi di Kota Batu dan sangat strategis karena pariwisata di Kota Batu merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia. Perancangan ini menggunakan pendekatan arsitektur analogy pada fasad bangunan, interior, dan landscapenya. Menerapkan analogy berupa lensa kamera dan rol film. Tahapan proses perancangan menggunakan metode paradigma rasionalis dengan studi preseden objek sejenis dan studi preseden pendekatan. Hasil rancangan menerapkan prinsip analogy silmbolik. Fasilitas-fasilitas yang tersedia seperti galeri pameran, bioskop, studio foto, dan studio film yang dapat dipergunakan untuk wisatawan maupun penggiat seni.
Rekayasa Bukaan Untuk Memaksimalkan Penurunan Suhu Ruang Pada Museum Pendidikan Kota Surabaya Rahma Tiara Maharani; Jono Wardoyo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Suhu nyaman menjadi aspek utama yang harus diperhatikan dalam perencanaan bangunan karena berdampak langsung pada aktivitas di dalamnya. Untuk mencapai kenyamanan termal yang optimal, standar SNI 03-6572-2001 mengidentifikasi faktor-faktor seperti suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan sebagainya. Museum sebagai salah satu sarana publik yang populer di Indonesia juga menghadapi tantangan dalam menciptakan kenyamanan bagi pengunjung. Kota Surabaya, sebagai contoh, memiliki suhu harian yang relatif tinggi, sehingga peran ventilasi dan desain bukaan menjadi krusial dalam menghadapi kondisi tersebut. Museum Pendidikan di Surabaya merupakan salah satu contoh bangunan yang menghadapi masalah kenyamanan termal akibat desain bukaan yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting bukaan (ventilasi) pada zona-zona pameran di Museum Pendidikan Surabaya dan kinerjanya dalam mencapai kenyamanan termal, serta menyusun rekomendasi desain bukaan yang optimal dengan pendekatan rekayasa bukaan untuk mengurangi suhu pada zona-zona pameran melalui pengoptimalan strategi pendinginan alami. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif evaluatif dengan metode eksperimental. Hasil dari evaluasi objek kemudian dijadikan bahan analisis untuk menentukan rekomendasi yang tepat menggunakan software Sketchup dan Ecotect Analysis 2011 dengan merekayasa tipe bukaan. Berdasarkan hasil simulasi, bangunan museum dapat memanfaatkan sistem pendinginan alami secara optimal dengan memaksimalkan peran bukaan untuk membelokkan udara dengan bukaan tipe vertical jalousi window dikombinasikan dengan menambahkan lubang ventilasi di dinding terluar bangunan. Simulasi pada alternatif terpilih menunjukkan penurunan suhu ruang hingga 10,6%, sehingga rekomendasi desain tersebut dapat meningkatkan kenyamanan termal pengunjung dan mengoptimalkan strategi pendinginan alami pada Museum Pendidikan. Kata kunci: bukaan, museum, kenyamanan termal ABSTRACT Comfortable temperature is the main aspect that must be considered in building planning because it has a direct impact on the activities in it. To achieve optimal thermal comfort, the SNI 03-6572-2001 standard identifies factors such as air temperature, humidity, wind speed, and so on. Museums as one of the popular public facilities in Indonesia also face challenges in creating comfort for visitors. The city of Surabaya, for example, has a relatively high daily temperature, so the role of ventilation and opening design is crucial in dealing with these conditions. The Education Museum in Surabaya is one example of a building that faces thermal comfort problems due to suboptimal opening design. This study aims to evaluate the existing condition of openings (ventilation) in exhibition zones at Surabaya Education Museum and their performance in achieving thermal comfort, as well as formulate recommendations for optimal opening design with an aperture engineering approach to reduce temperature in exhibition zones through optimization of natural cooling strategies. The research method used in this study is an evaluative descriptive approach with experimental methods. The results of the object evaluation are then used as analysis material to determine the right recommendations using Sketchup and Ecotect Analysis 2011 software by engineering the type of opening. Based on the simulation results, the museum building can make optimal use of the natural cooling system by maximizing the role of openings to deflect air with vertical jalousi window type openings combined with adding ventilation holes in the outermost wall of the building. Simulations on selected alternatives showed a decrease in room temperature of up to 10.6%, so the design recommendations can improve visitors' thermal comfort and optimize the natural cooling strategy of the Museum. Keywords: opening, museum, thermal comfort
Adaptation of Scandinavian Architecture at Cafe in Batu City: Adaptasi Arsitektur Skandinavian pada Cafe di Kota Batu Amalia Devy Agustin; Jono Wardoyo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Arsitektur skandinavian merupakan gaya arsitektur yang berasal dari Kawasan Norwegia, Swedia, Finlandia, Islandia, dan Denmark. Arsitektur Skandinavia memiliki karakteristik yang minimalis, fungsional, dan berfokus pada penggunaan material alami seperti kayu dan batu. Gaya arsitektur Skandinavia ini dirancang untuk menghadapi iklim yang berbeda, yaitu iklim yang cenderung dingin, dengan suhu yang rendah dan jumlah sinar matahari yang terbatas. Kontras antara gaya arsitektur Skandinavia yang didasarkan pada iklim yang dingin dan iklim tropis di Indonesia yang panas dan lembap menimbulkan dampak terhadap kenyamanan termal bagi penghuninya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk adaptasi arsitektur skandinavian di iklim tropis serta mengetahui kinerja termal arsitektur Skandinavian di iklim tropis melalui metode analisis komparatif antara teori dengan kondisi objek studi, analisis evaluatif dari hasil pengukuran lapangan dengan SNI dan analisis korelasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa café dengan gaya arsitektur Skandinavian yang diterapkan di iklim tropis dapat beradaptasi dengan cukup baik. Elemen desain arsitektur skandinavian yang sesuai dengan iklim tropis meliputi: orientasi bangunan, denah, dinding, lantai, shading device, dan pengaruh luar. Sedangkan elemen yang kurang sesuai meliputi: atap karena menggunakan atap datar dengan material yang memiliki konduktivitas tinggi dan bukaan (pintu dan jendela) serta ventilasi yang belum memenuhi secara teori, SNI maupun hasil pengukuran. Kata kunci: Arsitektur Skandinavian, Arsitektur Tropis, Kinerja Termal ABSTRACT Scandinavian architecture is an architectural style originating from Norway, Sweden, Finland, Iceland, and Denmark. Scandinavian architecture has characteristics that are minimalist, functional, and focus on the use of natural materials such as wood and stone. This Scandinavian architectural style is designed to deal with different climates, namely climates that tend to be cold, with low temperatures and limited amounts of sunlight. The contrast between the Scandinavian architectural style based on the cold climate and the tropical climate in Indonesia which is hot and humid has an impact on thermal comfort for its inhabitants. This study aims to determine the form of adaptation of Scandinavian architecture in tropical climates and determine the thermal performance of Scandinavian architecture in tropical climates through comparative analysis methods between theory and the conditions of the object of study, evaluative analysis of field measurement results with SNI and correlation analysis. The results of this study show that cafes with Scandinavian architectural style applied in tropical climates can adapt quite well. Elements of Scandinavian architectural design that are suitable for tropical climates include: building orientation, floor plans, walls, floors, shading devices, and outside influences. While elements that are not suitable include: the roof because it uses a flat roof with materials that have high conductivity and openings (doors and windows) and ventilation that have not met in theory, SNI and measurement results. Keywords: Scandinavian Architecture, Tropic Architecture, Thermal Performance
Pengaruh Tata Letak Bangunan Terhadap Pembayangan Bangunan pada Permukiman di Kawasan Kayutangan Malang Diana Savitri
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rapatnya jarak antar bangunan yang ada di Kawasan Kayutangan tersebut menyebabkan adanya pembayangan yang terbentuk dari geometri permukiman yang ada di Kawasan Kayutangan karena paparan sinar matahari. Kampoeng Heritage Kayutangan merupakan kampung wisata tematik yang fokus pada budaya dan tergolong tergolong permukiman padat karena rapatnya jarak antar bangunan dan kecilnya lebar koridor. Keunikan dari Kampoeng Heritage Kayutangan adalah adanya sejumlah bangunan Belanda kuno yang dijadikan sebagai spot foto dengan nuansa vintage. Adanya wisatawan yang mengunjungi Kampung Heritage pada Kawasan Kayutangan Kota Malang berbanding terbalik dengan kondisi koridor di Kawasan tersebut yang tergolong sempit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dampak adanya keragaman tata letak bangunan terhadap pembayangan bangunan pada Kawasan Kayutangan Malang. Metode yang digunakan adalah simulasi digital dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian menunjukkan tingkat efektivitas pembayangan di Kawasan Kayutangan Malang.
VISIBILITY DAN LEGIBILITY SIGNAGE SEBAGAI PENDUKUNG WAYFINDING PADA BANDAR UDARA Naura Ashila; Triandriani Mustikawati
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bandara merupakan fasilitas publik yang secara umum melayani perjalanan udara serta dijadikan gerbang utama pengunjung dari berbagai daerah. Pada setiap perjalanan udara, bandara telah merancang jadwal yang jelas pada setiap keberangkatan dan kedatangan pesawat, sehingga bandara sangat erat kaitannya dengan isu efisiensi waktu. Sistem wayfinding dapat digunakan oleh bandara untuk meningkatkan efisiensi waktu operasional bandara terutama pada penggunaan signage sebagai salah satu elemen wayfinding. Studi ini mengkaji mengenai bagaimana visibility dan legibility signage mendukung wayfinding penumpang di Bandar Udara AbduLrachman Saleh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melihat kesesuaian visibility dan legibility signage yang tersedia pada bandara. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat beberapa signage yang meski sudah tersedia namun belum memenuhi aspek visibility dan legibilitynya, hal ini tentu akan mempengaruhi proses wayfinding penumpang. Pertimbangan aspek visibility dan legibility pada signage merupakan tahap penting dalam memaksimalkan wayfinding penumpang sehingga penumpang dapat memiliki pengalaman wayfinding yang baik pada terminal bandara
Architectural Elements and Child Accidents in Elementary School Environments in the Lowokwaru District Infaroyya Al Karimah Muhamad; Heru Sufianto
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Based on data from WHO and Riskedas, accidents involving children, including those that occur at schools, are known to have a high occurrence rate, with accidental injuries accounting for 21% of total child deaths. Among the age group of 5-14 years, which includes elementary school children, they contribute 9.7% to the overall figure. It is important to examine the architectural elements that often lead to accidents in elementary schools in the Lowokwaru District. This study focuses on the exterior areas within the elementary school environment. A qualitative method was employed, consisting of four stages: field observations, interviews with informants, problem identification, and recommendations. The findings indicate the need for improvements in dimensions of staircases that are not suitable for children, the use of slippery ceramic tiles in corridors, and uneven floor contours in the schoolyard. Recommendations include replacing the corridor floor with non-slip materials, using step nosings on the stairs, and adjusting the floor and ground contours to be more even.
Transformasi Unsur Arsitektur Lokal Songkok Recca Pada Perancangan Masjid Di Kota Makassar Putri Sukma Fijar Alam
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Provinsi Sulawesi selatan merupakan pintu masuk peradababan islam di Kawasan Indonesia Timur khususnya Kota Makassar. Sebagai kota dengan mayoritas pemeluk agama islam terbanyak di Sulawesi, Kota Makassar telah mendirikan 1300 masjid berdasarkan data Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Sebagai pintu masuk peradapan islam di Kawasan Indonesi Timur, Kota Makassar memerlukan perancangan masjid yang ikonik sebagai identitas utama umat muslim yang dipengaruhi oleh kearifan lokal. Tujuan terciptanya perancangan Masjid di Kota Makasar ini untuk menghadirkan identitas tempat yang dapat mengakomodasi kebutuhan ibadah, pendidikan, sosial, dan ekonomi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal. Songkok Recca merupakan kearifan lokal di Kota Makassar yang mejadi bentuk akulturasi budaya dalam penyebaran agama islam di Kawasan Indonesia Timur. Strategi desain dalam perancangan ini adalah mentransformasikan metafora Songkok Recca kedalam bentuk bangunan masjid menggunakan metode desain pragmatisme hingga menghasilkan visual bangunan yang ikonik. Konsep desain masjid adalah dengan menghasilkan ikon masuknya peradapan islam di Kota Makassar diwujudkan dengan bentuk massa bangunan yang eksploratif. dapat mengangkat potensi kearifan lokal kota makassar, khususnya songkok recca dapat di kenal lebih luas oleh masyarakat. Kata kunci: Arsitektur Metafora, Songkok Recca, Masjid, Makassar