cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 554 Documents
Histopatologi Hati dan Paru Mencit (Mus musculus) yang Terpapar Formalin dan Benzo(α)pyrene Rike Wahyuningroom; Aris Soewondo; Sri Widyarti
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian formalin dan benzo(α)pyrene terhadap struktur jaringan hati dan paru mencit (Mus musculus). Mencit jantan berumur dua bulan terpapar formalin dosis 2 mg/kg berat badan dengan perlakuan oral selama 60 hari dan terpapar benzo(α)pyrene dosis 250 mg/kg berat badan dengan perlakuan injeksi intraperitoneal sebanyak empat kali setelah 30 hari dengan selang waktu satu hari. Stuktur histologi hati dan paru mencit dianalisis secara deskriptif. Jumlah hepatosit yang mengalami nekrosis dianalisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney pada software SPSS 16.0 for Windows. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian formalin, benzo(α)pyrene dan kombinasi antara formalin dan benzo(α)pyrene meningkatkan jumlah hepatosit yang mengalami nekrosis. Nekrosis terjadi di sekitar area portal triad dan di sekitar area vena sentralis pada hati mencit, sedangkan nekrosis terjadi di sekitar area vena pada paru mencit. Kata kunci: benzo(α)pyrene, formalin, hati, nekrosis, paru
Performansi Biologis Induk Bandeng (Chanos chanos forskall) Hasil Seleksi dalam Mendukung Domestikasi dan Pengembangan Budidaya di Tambak Tony Setia Dharma; Gigih Setia Wibawa; A.A Kt. Alit; Gede S. Sumiarsa
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.02.6

Abstract

Bandeng merupakan ikan yang memiliki rasa daging yang enak, harga relatif terjangkau oleh segala lapisan masyarakat dapat dibudidayakan secara polikultur dengan komoditas lainnya dan banyak petani yang melakukan usaha budidaya. Kendala di masyarakat bahwa pertumbuhan benih bandeng yang dihasilkan oleh pembenih memiliki variasi ukuran yang tinggi, dan pertumbuhan yang lambat di tambak. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui teknologi budidaya ikan bandeng, dan memperoleh data biologi induk bandeng G-1. Hewan uji yang digunakan adalah induk bandeng G-1. Penelitian dilakukan secara deskriptif, yaitu melakukan pengamatan secara fenotipik meliputi pertumbuhan setiap dua bulan sekali. Parameter yang diamati adalah beberapa aspek biologi bandeng hasil seleksi antara lain kualitas telur, sintasan, pertumbuhan, pengujian warna, kualitas daging, toleransi terhadap lingkungan, dan ketahanan terhadap penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tetas telur berkisar 80-90,30%, dan memiliki ketahanan larva (SAI) mencapai 4,0-4,6 hari setelah menetas. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih G-2 pada pembenihan umur 14-16  hari (SR) mencapai 60-85%, panjang total (TL) 1,68-1,72 cm, Warna induk bandeng dan ukuran konsumsi dengan menggunakan adalah hijau pada nomor TC.4408 dan perak TC.5501. Kualitas daging dari bandeng G-1 memiliki nilai 8. Kadar histamin untuk semua lokasi budidaya ND (non-detections). Toleransi benih terhadap lingkungan, ikan bandeng memiliki ketahanan terhadap salinitas 0-45 ppt, suhu 20-40°C, pH 6-9, dan oksigen lebih dari 2 ppm, kemudian memiliki ketahanan terhadap penyakit.
Ketertarikan Arthropoda pada Blok Refugia (Ageratum conyzoides, Ageratum houstonianum, Commelina diffusa) di Perkebunan Apel Desa Poncokusumo fevilia suksma wardani; Amin Setyo Leksono; Bagyo Yanuwiadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Ekosistem yang terganggu dan aplikasi pestisida menyebabkan penurunan diversitas Arthropoda. Keberadaan Arthropoda dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan refugia di sekitar perkebunan apel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan, struktur komunitas, diversitas dan komposisi Arthropoda, efek blok refugia terhadap pola kunjungan Arthropoda, dan status fungsional Arthropoda yang ditemukan. Pengamatan Arthropoda dilakukan secara visual control.  Pengukuran faktor abiotik meliputi suhu udara dan intensitas cahaya. Pengambilan data dilakukan empat kali pada musim buah dan empat kali sehari di setiap kombinasi refugia selama 15 menit setiap periode. Analisis struktur komunitas Arthropoda didapat dari nilai penting dan diversitas (Indeks Shannon-Wienner). Pola kunjungan dan komposisi Arthropoda (IBC) dibandingkan antar blok. Kelimpahan Arthropoda berjumlah 1434 individu terdiri dari 8 ordo dengan 28 famili, 5 famili tertinggi yaitu Aleyrodidae, Syrphidae, Pieridae, Tabanidae  1 dan Formicidae 2 dengan INP tertinggi yaitu Aleyrodidae (33,95 %). Diversitas Arthropoda sedang sampai tinggi dengan nilai 2-3. Rata-rata kesamaan komposisi Arthropoda menunjukkan tingkat kesamaan yang sedang. Pola kunjungan Arthropoda ke blok refugia menunjukkan adanya ketertarikan Arthropoda pada blok 1,2 dan 4 sehingga blok 1 dan 2 direkomendasikan sebagai blok untuk manipulasi habitat. Status fungsional Arthropoda yang ditemukan terdiri dari herbivor (54,14 %), polinator (28,72 %) dan predator (17,13 %).   Kata kunci: Arthropoda, refugia, musim buah, visual control  
Analisis Vegetasi Riparian di Tepi Sungai Porong, Kabupaten Sidoarjo Rulik Oktaviani; Bagyo Yanuwiadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keanekaragaman spesies, spesies dominan, dan spesies yang berpotensi sebagai fitoremidiator di tepi Sungai Porong, Kabupaten Sidoarjo. Analisis vegetasi riparian dilakukan di empat stasiun, yaitu area dekat tambak (1), pabrik (2), TPL Lapindo (3), dan pemukiman (4) menggunakan metode kuadran. Tiap pengamatan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan vegetasi riparian di area dekat tambak mempunyai keanekaragaman spesies paling tinggi bila dibandingkan dengan area lainnya, ditunjukkan oleh indeks keanekaragaman spesies (1,03) dengan kategori sedang (1≤H’≤3). Area dekat pabrik (0,95), TPL Lapindo (0,88), dan pemukiman (0,95) mempunyai keanekaragaman spesies kategori rendah (H’ < 1). Turi, tebu, dan rumput Bermuda mendominasi area dekat tambak. Pepaya, pisang, dan rumput gegenjuran mendominasi area dekat pabrik. Buah anjang dan rumput Bermuda mendominasi area dekat TPL Lapindo. Sementara, di area dekat pemukiman, tumbuhan yang mendominasi adalah pohon jati, buah anjang, dan rumput Bermuda.
KADAR MDA SPERMATOZOA SETELAH PROSES PEMBEKUAN Khairatul Insani Febrianti; Sri Rahayu; Agung Pramana W.M; Aris Soewondo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek lama pembekuan semen terhadap kadar MDA spermatozoa dan persentase viabilitas spermatozoa. Sampel yang digunakan berupa  semen beku sapi Limousin dengan lama pembekuan 2 bulan dan 3 bulan yang dikoleksi dari BBIB Singosari. Semen beku yang telah dithawing diencerkan dengan Phosphate Buffer Saline (PBS) kemudian disentrifugasi untuk memisahkan spermatozoa dan seminal plasma. Kadar MDA spermatozoa diukur dengan menggunakan uji TBA dan spektrofotometer. Pengamatan viabilitas spermatozoa dilakukan dengan menggunakan pewarnaan eosin-negrosin. Data berupa kadar MDA spermatozoa dan persentase viabilitas dianalisis dengan uji-t berpasangan dan korelasi pearson menggunakan spss 16.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar MDA spermatozoa pada lama pembekuan 2 bulan (0,0777±0,008 nM) dan 3 bulan (0,0919±0,016 nM) tidak berbeda nyata (p<0,05). Terdapat korelasi negatif antara persentase viabilitas dan kadar MDA pada spermatozoa. Kata kunci: MDA, semen beku, spermatozoa 
Etnobotani Tradisi Syariat di Kampung Adat Urug, Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor Muhammad Qais Izzuddin; Rodliyati Azrianingsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses tradisi syariat dan pemanfaatan tumbuhan terkait tradisi syariat. Penelitian dilakukan pada bulan Nopember 2013 sampai Mei 2014. Metode etnobotani yang digunakan yaitu metode survei, dibagi menjadi wawancara (semiterstruktur) dan observasi. Penentuan responden menggunakan snowball sampling dengan informan kunci Kepala Adat Urug Pusat dan Tengah. Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung kegiatan syariat di rumah Kepala Adat Urug. Data disampaikan secara kualitatif dalam bentuk deskripsi. Kegiatan syariat menggunakan media khusus berupa panglay (Zingiber cassumunar Roxb.) atau air putih. Kegiatan ini diawali dengan peminta doa menyampaikan maksud/tujuan kepada Kepala Adat. Kepala Adat memanjatkan doa kepada Allah SWT berdasarkan tujuan peminta doa menggunakan media panglay atau air putih, kemudian diakhiri dengan mendekatkan media tersebut ke kepala dan dua sisi dada beliau, dan meludahinya. Setelah itu, Kepala Adat menjelaskan tata cara penggunaan dan penyimpanan media tersebut berdasarkan tata cara Kampung Adat Urug. Penggunaan media panglay dengan cara dihisap sebelum dan sesudah melakukan tujuan. Penggunaan media air putih dengan cara diminum sebelum melakukan tujuan. Penggunaan rimpang panglay untuk syariat akan mempengaruhi kesehatan seperti antiinflamasi (antiradang), analgesik dan chondroprotektif. Tradisi syariat secara aspek konservasi menjaga eksistensi panglay melalui penanaman tumbuhan tersebut di pekarangan warga. Kata kunci: air, Allah SWT, kesehatan, kristal, panglay.
Ethnobotanical Study of Plant in Historical-Religious Tourism Area and the Sacred Place at Sumenep, Madura Eva Kristinawati Putri; Ahmad Bashri
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.03.3

Abstract

An ethnobotanical study in the Sumenep regency of Madura island has been carried out by observing nine locations, including the historical-religious tourism area and sacred places. This article described plant diversity, use value associated with local knowledge, and socio-cultural value associated with local wisdom. Totally 35 respondents were interviewed consist of primary respondents from each research area and typical respondents. Totally 31 plant species were found in study sites, covering cultivated and socio-cultural plants. Plant diversity was related to role of the location where they took place. Sumenep Palace, the main tourism area located in the center of town, reached the highest diversity of two socio-cultural and 18 cultivated plants as its domestication efforts to attract visitors. Ficus benjamina had the highest socio-cultural values as a usual dwelling for spirits and used to place some offerings, accelerate fortune and specific occasions. The local wisdom of Sumenep people directly related to how these plants can provide benefits, such as Manilkara kauki and Morinda citrifolia which were valuable as socio-cultural plants and fruit trees at once. Ficus benjamina which were valuable as socio-cultural plants related to local wisdom indirectly.
ANALISIS POLIMORFISME GEN Growth Differentiation Factor 9 (GDF-9) dan HUBUNGANNYA DENGAN KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN pada SAPI PO pangesti dimy arta; Sri Rahayu
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya polimorfisme gen GDF-9 pada sapi PO (Bos indicus) dan hubungannya dengan keberhasilan inseminasi buatan pada sapi PO. Sampel Sapi PO diambil dari Pasuruan secara acak. DNA diisolasi dari darah menggunakan metode Salting out. Gen GDF-9 diamplifikasi dengan teknik PCR menggunakan primer GDF-9 forward (5’- GCCCA CCCACACACCTAAAGTTTA-3’) dan GDF-9 reverse (5’ GCACA CCAACAGCTGAAAGAGGTA-3’). Polimorfisme gen GDF-9 dianalisis menggunakan teknik PCR-RFLP dengan enzim restriksi HaeIII. Berdasarkan hasil RFLP diperoleh dua tipe haplotip. Haplotip I terpotong dengan ukuran fragmen DNA 70 bp, 100 bp, 290 bp dan 590 bp. Haplotip II terpotong dengan ukuran fragmen DNA 70 bp, 100 bp, 120 bp, 290 bp dan 590 bp. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat polimorfisme gen GDF-9 pada sapi PO. Namun, tidak terdapat hubungan antara polimorfisme gen GDF-9 tersebut dengan keberhasilan inseminasi buatan pada sapi PO.   Kata kunci : gen GDF-9, polimorfisme, Sapi PO
Diversitas, Pemetaan, dan Persepsi Masyarakat terhadap Herpetofauna Diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu, Kabupaten Banyuwangi Anggun Sausan Firdaus; Alifah Nur Rahmawati; Erintha Eka Wardani; Mulyadiane Meishinta Putri; Bagyo Yanuwiyadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu berada di kawasan hutan Petak 8, Forest Resort Songgon, Hutan Rogojampi, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Rowo Bayu berada pada ketinggian 630 meter diatas permukaan laut dan memiliki 3 sumber air dan rowo, sehingga menjadikan wilayah tersebut memiliki kelembaban udara yang tinggi.Kondisi tersebut memungkinkan untuk beberapa jenis hewan dapat hidup, terutama kelompok herpetofauna. Sampai saat ini, belum banyak penelitian tentang herpetofauna di kawasan tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap konservasi herpetofauna, mendeskripsikan diversitas, memetakan persebaran dan deskripsi habitat, serta menentukan karakteristik herpetofauna diurnal di Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara semi terstruktur, morfometri,Visual Encounter Survey (VES), dan fences trap.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 4 titik lokasi penting ditemukannya berudu yaitu Rowo Bayu, Sumber Kamulyan, Sumber Dewi Gangga, dan Sumber Kaputren,  serta 1 titik yang merupakan mikrohabitat Microhyla. Spesies yang didapatkan dari fences trap adalah Huia masonii(Boulenger, 1884). Famili yang didapatkan darimetode VES yaitu 3 famili dari kelas anura yaitu Microhylidae, Ranidae, dan Dicroglossidaedan 4 famili dari kelas reptil yaituScincidae, Agamidae, Colubridae, dan Natricidae. Kawasan Wana Wisata Rowo Bayu didominasi oleh berudu dari genus Microhyla. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan ciri karakteristik Eutropismultifasciata adalah Snout Vent Length (SVL), ciri karakteristik Hylarana rufipes adalah Hind Limb Length (HLL), tetapi ciri karakteristik Microhyla achatina tidak diketahui karena ukuran tubuh sangat kecil. Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden mendukung upaya konservasi dengan cara tidak merusak atau mengganggu habitat herpetofauna.
ETHANOL EXTRACTS OF PROPOLIS (EEP) AGAINST LYMPHOCYTE ACTIVATION CELLS IN HEALTHY MICE (Mus Musculus) BALB/C Emi Rohmawati; Muhaimin Rifa&#039;i
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 4 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Propolis is a substance like glue formed by honey bees from resin of plant which has the ability to stimulate immune system. The purpose of this study is to determine the ethanol extract of propolis on the activity of lymphocytes in healthy Balb/c mice and to asses the optimum dose administration of EEP for lymphocyte activation in Balb /c mice. Methods: mice was aclimate for two weeks, mice control without treatment EEP and a other was treated with EEP dependent dose, dose  1 (50 mg/ kgBW),  dose 2 (100 mg/kgBW), and dose 3 (200 mg/kgBW). Spleen was isolated and to find out the amount of lymphocyte we analyzed with flow cytometry. Parameter measured in this experiment is quantitative by measuring relative number of T cells that consist of CD4+CD62L+, CD4+CD62Lˉ, CD8+CD62L+, dan CD8+CD62Lˉ. Then data was analyzed by SPSS 16.0 software for windows with ANOVA test and advanced by Tukey test and Gomes-Howell with an interval 0.05 is used. The result showed that ethanol extract of propolis can activate CD4 T cells so that CD4 T cell lost CD62L molecule and turned into T cells CD4+CD62Lˉ. Ethanol extract of propolis can enhance proliferation of naïve type of CD8 T cell, so that the number of T cell memory (TCM) decreased. Dose of 100 mg/kgBW of ethanolic propolis extract spatially act as immunostimulant for CD4+CD62Lˉ activation, while the dose of 200 mg/kgBW act as  immunosuppressant in the same cells. Key words: T cell activation,  propolis, Balb/c  mice.