cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 554 Documents
The Effect of Different Media Content on Protease Activity Bacillus subtilis Siti Nurkasanah; Nashi Widodo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Enzymes were protein molecules that synthesized cells to accelerate biochemical reactions. One of the microorganisms that produce a protease was Bacillus subtilis. B. subtilis used in this research consisted of isolate 1 and isolate 2. Methods used include thequalitative assay of protease activity through theclear zone on skim milk agar and calculation of protease activity on production media such as NB (Nutrient Broth) and TSB (Tryptic Soy Broth). Based on the results revealed that the clear zonediameter isolate 2 better than the isolate 1 after 24hours and 48 hours incubation periods. It showed both isolates having the possibility in different strains but within a species. The highest protease activity calculation obtained from TSB production media respectively  0,14 Unit /ml unit and 0.12 Unit/ml. Keywords:B. subtilis, clear zone, protease, TSB
BRADYKININ B2 RECEPTOR GENE POLYMORPHISM ANALYSIS IN HYPERTENSIVE PATIENTS AT DR SAIFUL ANWAR HOSPITAL MALANG Johan Aloysius; Nashi Widodo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypertension is a major health problem in the world. When blood volume is low, juxtaglomerular cells in the kidneys secrete renin and prorenin activates the blood circulation. Plasma renin converts angiotensinogen released by the liver into angiotensin I, which is then converted to angiotensin II by the enzyme angiotensin converting enzyme (ACE) located in the pulmonary vascular endothelium. Angiotensin II causes blood vessels to constrict, resulting in increased blood pressure. ACEi inhibit the formation of angiotensin I into angiotensin II, and activate Bradykinin (BK), which causes blood vessels to dilate, thereby reducing blood pressure. However, administration of ACEi periodically cause the accumulation of BK in pulmonary vessels that cause inflammation (cough) in some people who suspected mediated by Bradykinin B2 receptor (BK2R) gene. Total of the subjects in this study is 52 subjects, DNA extracted from white blood cells (leukocytes) as much as 200 mL from whole blood by using the QIAamp kit (Qiagen). Gene BK2R in humans amplified by the method of Polymerase Chain Reaction (PCR) method using the following primers F (5-GCAGAGCTCAGCTGGAGGCG-3), and R (5-CCTCCTCGGAGCCCAGAAG-3) and identified by the method of Single Strand Conformation Polymorphism (SSCP). Results of this study shows three different genotypes there are CC, CT, and TT. Subjects with the CC genotype were most susceptible to cough, and subjects with CT genotype were least susceptible.   Keywords : ACE inhibitors, B2 Receptor, Cough, SSCP
Makroinvertebrata sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Waduk Batujai di Lombok Tengah Lalu Achmad Tan Tilar Wangsajati Sukmaring Kalih; I Gede Nano Septian; Denianto Yoga Sativa
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.03.05

Abstract

Waduk Batujai yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah merupakan penampung dari beberapa aliran sungai di wilayah tersebut. Hal ini menjadikan Waduk Batujai menjadi tempat akumulasi berbagai bentuk bahan pencemar yang terbawa oleh sungai-sungai inletnya. Pengambilan contoh makroinvertebrata dilakukan dengan menggunakan jala atau jaring dengan ukuran bukaan 30x30 cm2. Selain itu, beberapa parameter fisik dan kimia lingkungan juga diamati seperti suhu, kecerahan, salinitas, dan pH. Analisis data dilakukan untuk mengetahui tingkat kelimpahan, keanekaragaman, dominansi, dan indeks penting biotik. Data hasil analisis diperoleh suatu bentuk kuantifikasi kondisi perairan yang selanjutnya diuraikan secara deskriptif. Makroinvertebrata yang telah teridentifikasi dari hasil sampling dalam penelitian ini sebanyak 495 individu dari 19 spesies dalam 10 famili berbeda. Spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu Anisops breddini. Keberadaan makroinvertebrata yang ada di Waduk Batujai memperlihatkan nilai Family Biotic Index (FBI) sebesar 4,73. Nilai tersebut berada di kisaran 4,26-5,00 dengan kategori kualitas air yang “Baik”. Analisis SIGNAL 2 untuk makroinvertebrata Waduk Batujai menunjukkan nilai sebesar 5,73 yang mengkategorikan Waduk Batujai sebagai habitat yang baik.
[Retraction Notice to] : Analisis Hubungan Kekerabatan Genetik Padi Lokal Jawa Timur Berdasarkan pada DNA Gen matK Kurniawan Setia Putra; Dwi Listyorini; Suharti Suharti
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.01.05

Abstract

Artikel ini telah ditarik oleh penerbit atas permintaan dari Editor-in-Chief. Penulis telah menerbitkan naskahnya ke jurnal lainnya juga. Artikel jurnal tersebut telah diterbitkan di El-Hayah: Jurnal Biologi vol 6 (4), Maret 2018 (http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/bio/article/view/5578). Artkel ini telah memenuhi prosedur manajemen pengiriman naskah. Pihak penulis telah menerima hasil review, dan juga telah merevisinya sesuai permintaan reviewer. Salah satu syarat pengiriman naskah untuk publikasi dalam jurnal ini adalah bahwa penulis menyatakan secara eksplisit bahwa karya mereka asli dan belum muncul dalam publikasi di tempat lain, dan juga tidak dipertimbangkan oleh jurnal lain. Karena itu, artikel ini termasuk dalam kategori penyalahgunaan berat terhadap sistem penerbitan ilmiah. Komunitas ilmiah mengambil pandangan yang sangat kuat tentang masalah ini, dan kami sampaikan permohonan maaf bagi para pembaca jurnal bahwasanya hal ini tidak terdeteksi selama proses pengiriman.
Kandungan Oksalat Umbi Porang (Amorphophallus muelleri Blume) Hasil Penanaman dengan Perlakuan Pupuk P dan K Dhike Ardhian; Serafinah Indriyani
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan salah satu tanaman bergizi yang memiliki asam oksalat yang berdampak negatif bagi kesehatan manusia. Pupuk P dan K diduga dapat digunakan untuk mereduksi kandungan oksalat pada porang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  pengaruh pemberian pupuk P dan K secara tunggal maupun kombinasi pada kandungan oksalat umbi porang dan mengetahui jenis dan dosis pupuk yang dapat mereduksi kandungan oksalat. Perlakuan terdiri dari kombinasi empat dosis pupuk K dan empat dosis pupuk P dengan dosis yang sama yaitu 0;2,16;4,32;dan 6,36 g/12 kg tanah yang diaplikasikan ke tanaman porang yang ditumbuhkan hingga empat bulan. Oksalat terlarut dianalisis dengan volumetri dan oksalat tidak terlarut dianalisis dengan spektrofotometri (AAS). Analisis statistik menggunakan ANOVA dilanjutkan uji Tukey α = 5%. Kombinasi pupuk P dan K serta pupuk P tunggal tidak mempengaruhi kandungan oksalat terlarut, tidak terlarut, dan total pada umbi porang. Pemberian pupuk K tunggal pada dosis 2,16 g/12 kg tanah mampu menurunkan kandungan oksalat total sebanyak 34,3 %. Dengan demikian dosis Pupuk K ini berpotensi untuk menurunkan kandungan oksalat total umbi porang.   Kata kunci : oksalat, pupuk K, pupuk P, spektrofotometri, volumetri
ANALISIS KADAR LUTEINIZING HORMONE (LH) PADA SERUM SAPI FRIESIAN HOLSTEIN POST PARTUM DENGAN PENAMBAHAN SELENIUM DAN VITAMIN E Ririn Dwi Prasetiani; Sri Rahayu; Aris Soewondo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS KADAR LUTEINIZING HORMONE (LH) PADA SERUM SAPI FRIESIAN HOLSTEIN POST PARTUM DENGAN PENAMBAHAN SELENIUM DAN VITAMIN E   Ririn Dwi Prasetiani1), Sri Rahayu2), Aris Soewondo3) 1),2),3) Laboratorium Biomolekuler dan Seluler, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang 65145, Jawa Timur, Indonesia. E-mail: ririndwi68@yahoo.com ABSTRAK Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan bangsa sapi yang memiliki produksi susu tertinggi dibandingkan bangsa-bangsa sapi perah lainnya. Banyak peternak yang menginginkan peningkatan produktifitas sapinya dengan asumsi setiap 1 ekor sapi setidaknya melahirkan 1 ekor anak sapi setiap tahun. Namun banyak masalah yang ditimbulkan pada sapi postpartum, salah satunya akibat peningkatan radikal bebas pada tubuh sapi postpartum, sehingga asumsi tersebut tidak terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian selenium dan vitamin E secara intramuskular terhadap kadar Luteinizing Hormone (LH) serum sapi FH postpartum. Hewan coba yang digunakan adalah 6 ekor sapi bunting 7 bulan yang dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 3 ekor untuk kelompok kontrol (P0/ tidak diinjeksi selenium dan vitamin E) dan perlakuan (P1/di injeksi sodium selenite 1,5 mg/ml + vitamin E 50 mg/ml). Injeksi dilakukan 5 kali yaitu saat sapi bunting 7 bulan, 8 bulan, saat 2 minggu sebelum melahirkan, 7 hari dan 14 hari setelah melahirkan. Pengambilan serum untuk pengujian kadar LH dilakukan dua kali dari masing-masing hewan coba, yaitu pada 25 hari dan 45 hari postpartum. Pemeriksaan kadar LH dilakukan dengan teknik ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sodium selenite 1,5 mg/ml + vitamin E 50 mg/ml cenderung menyebabkan peningkatan LH serum sapi FH pada 25 dan 45 hari postpartum.   Kata kunci: LH, sapi FH, selenium, vitamin E ABSTRACT Holstein Friesian dairy cows (FH) is a group of cows that have the highest milk production compared to other dairy cattle groups. Many farmers want to increase the productivity of the cow with the assumption that every one cow give birth to at least 1 cow each year. But many problems caused in postpartum cows, one of which is due to the increase of free radicals in the postpartum cows body, so the assumptions are not met. This study was conducted to analyze the effect of selenium and vitamin E intramuscularly in LH levels serum of dairy cow FH postpartum. There are 6 cows divided into two groups, 3 cows for each group. First group is control (P0) which no administration of sodium selenite and vitamin E, and second group is treatment (P1) that intramuscularly injected of sodium selenite 1.5 mg/ml + vitamin E 50 mg/ml). Injection of selenium and vitamin E conducted 5 times when 7 months, 8 months cows gestation, two weeks before calving, seven days after calving and 14 days after calving. Serum sampling for testing levels of LH take in 25 days and 45 days postpartum on each cows. The level of LH was conducted by ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay). The results showed that administration of sodium selenite 1.5 mg/ml + vitamin E 50 mg/ml causes increased LH levels serum that taken 25 days, 45 days postpartum.   Keywords: dairy cow FH, LH, selenium, vitamin E
Variasi Spasial Pertumbuhan dan Produktivitas Padi Merah Akibat Pengairan Berbeda di Sawah Organik Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang Tiara Ayu Pratiwi; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to observe spatial variation of the Aek Sibundong red rice growth and productivity in three different areas of an organic rice field under different water logging levels, as well as to determine the interaction among rice growth with weeds and rice field’s abiotic factors on two planting seasons in the Sengguruh Village, Kepanjen District Malang Regency. Observations were conducted with a purposive sampling based on water logging in three areas. Red rice growths were observed in four growth phases: 20, 48, 82, 102 dap (days after planting) includes plant height, biomass, number of tillers and panicles, grain number and biomass. Weeds (taxa richness, % coverage and biomass) were observed using sampling plots of 0.25 m2. Abiotic factors include soil (pH, soil organic matter and soil bulk density) and rice field water (presence or absence of logging, pH, and conductivity). Data were analyzed using SPSS and PAST software. The result showed there were spatial variations of rice growth in three areas. Rice planted close by irrigation channel has taller plant height and more number of tillers and panicles but not significantly different from those planted in another two areas. However, rice planted close by irrigation channel tends to produces vegetative biomass and grain ten times more than those planted far by irrigation channel. Water logging decreased coverage and taxa richness of weeds. Some weeds after manual weeding had no effect on productivity of panicles and grains. High content of soils organic matter occurred at early vegetative phase and decreased at late reproductive phase, so the lower soils bulk density. Keywords: Growth, productivity, red rice, spatial variation
Skrining dan Identifikasi Bakteri Pektinolitik Endosimbion dalam Sistem Pencernaan Serangga Penggerek Kopi (Hypothenemus hampei Ferr) Gatot Kusiyanto; Purwatiningsih Purwatiningsih; Kahar Muzakhar
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2019.007.02.1

Abstract

Serangga Hypothenemus hampei memiliki kemampuan untuk menggerek biji kopi, dan digunakannya sebagai sumber makanan, tempat hidup dan siklus hidup. Aktivitas hidup dari  H. hampei menyebabkan rontoknya buah kopi dan penurunan kualitas serta kuantitas buah kopi hingga 40%. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat bakteri pektinolitik yang memiliki toleransi tinggi terhadap lingkungan khususnya kafein, tanin dan polifenol. Prosedur penelitian terdiri dari tahap pembuatan media skrining bakteri pektinase, isolasi bakteri endosimbion dan identifikasi spesies serta fisiologi bakteri. Berdasarkan hasil identifikasi dan skrining bakteri pada sistem pencernaan H. hampei didapatkan 15 isolat bakteri pektinolitik endosimbion. Hasil identifikasi tiga isolat terpilih diketahui bahwa isolat 2B termasuk golongan Enterobacter sp. atau Actinobacillus sp., isolat 31B masuk ke dalam Micrococcus sp. dan isolat 42B termasuk Chromobacterium sp. Penelitian ini berguna sebagai kajian untuk strategi penanganan hama serangga H. hampei dengan menghambat pertumbuhan bakteri pektinolitik.
Analisis Polimorfisme Gen Human Angiotensinogen (hAGT) di Daerah Promoter -217 Pada Penderita Hipertensi Kota Malang Secara PCR-Sekuensing Siti Fatiyatur Rahmah; Nashi Widodo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Polimorfisme RAAS (renin-angiotensin-aldosteron system) dikatakan sebagai penentu hipertensi dan beberapa kerusakan organ target. Angiotensinogen merupakan protein awal dalam RAAS yang memacu timbulnya hipertensi. Diketahui bahwa populasi skala besar ras Amerika dan Afrika yang terkena hipertensi, terjadi polimorfisme pada daerah promoter  di titik -217 A/G. Variasi basa pada titik -217 dari guanine menjadi adenine meningkatkan laju ekspresi gen angiotensinogen. Peningkatan ini terjadi akibat dari interaksi yang kuat antara faktor transkripsi GR dan C/EBP-β dengan daerah promoter gen angiotensinogen. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui polimorfisme gen human angiotensinogen (hAGT) di daerah promoter -217 pada komunitas hipertensi di Kota Malang. Metode yang digunakan yaitu isolasi whole genome (QIAamp Isolation Whole Genome Kit) dari sampel darah pasien hipertensi di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Polymerase Chain Reaction (PCR) dan sekuensing. Analisis yang dilakukan yaitu menggunakan software AB sequence Scanner, Bioedit dan BLAST NCBI. Setelah dilakukan analisis diketahui bahwa tidak ditemukan adanya polimorfisme di daerah promoter -217 gen hAGT pada sampel pasien, namun ditemukan polimorfisme justru dititik yang lain yaitu -6.   Kata Kunci : Hipertensi, gen hAGT, angiotensinogen, promoter -217 A/G
Uji Kualitatif dan Kuantitatif Isolat Bakteri Lipolitik dari Limbah Cair Pabrik Pengolahan Ikan Kecamatan Muncar, Banyuwangi Niken Candra Bestari; Suharjono Suharjono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya industri pengolahan ikan di Muncar, Banyuwangi, menghasilkan limbah cair yang mengandung minyak ikan. Bakteri lipolitik yang hidup dalam limbah cair tersebut dapat menghidrolisis lipid menjadi asam lemak dan gliserol dengan memproduksi lipase. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan isolat bakteri lipolitik yang unggul dari limbah cair pabrik ikan. Isolasi bakteri menggunakan media mineral sederhana, uji kualitatif enzim berdasarkan diameter zona bening menggunakan substrat minyak zaitun 5 % ditambah metil merah 0,01 %. Data diameter zona bening pada hari ke-7 inkubasi dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dengan taraf signifikansi 95%. Aktivitas lipase dari 4 isolat dengan diameter zona bening tertinggi diuji secara kuantitatif dengan metode titrimetri menggunakan NaOH 0,03 N. Diameter zona bening isolat 1me, 3ma, 3mb, dan 3mc secara berurutan adalah 4,08±0,21 mm; 3,94±0,03 mm; 3,99±3,15 mm; dan 4,02±0,15 mm. Aktivitas lipase optimum isolat 1me,  3ma, 3mb, dan 3mc secara berurutan sebesar 3,52 U/ml (jam ke-24); 3,98 U/ml (jam ke-30);  3,74 U/ml (jam ke-34), dan 4,05 U/ml (jam ke-34).