cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 554 Documents
Keanekaragaman Arthropoda Kanopi yang Berpotensi Polinator pada Tanaman Apel (Malus sylvestris Mill.) di Lahan Apel Bumiaji ervin jumiatin; Bagyo Yanuwiadi; Amin Setyo Leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Bumiaji adalah salah satu wilayah penghasil buah apel di Jawa Timur. Namun, selama beberapa dekade terakhir produktivitas tanaman apel di Bumiaji menurun. Salah satu penyebabnya adalah aplikasi pestisida, dan penurunan komposisi Arthropoda sebagai polinator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan Arthropoda polinator tanaman ape dimusim bunga dan buah, mengetahui komposisi dan struktur komunitas Arthropoda kanopi, dan mengetahui hubungan faktor lingkungan (suhu, cahaya, kelembaban) dan dilakukan pencuplikan empat hari sekali sebanyak empat kali pada bulan Juli sampai desember 2012. Pencuplikan dilakukan dengan metode jebakan ember (pan trap) warna biru dan kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jumlah keseluruhan Arthroposa kanopi yang ditemukan sebanyak 1121 individu, dari 9 odo, 33 famili. Nilai indeks diversitas (Shannon-wiener) musim bunga lebih tinggi (H’=3.1) dibanding musim buah (H’=2.7). Persentase kelimpahan Arthropoda polinator pada musim bunga lebih tinggi yaitu 25% dan 21% pada musim buah. Nilai KR dan INP paling tinggi bejana kuning musim bunga ditemukan pada famili Vespidae yaitu 6.1% dan 13%. Pada bejana biru di musim bunga kelimpahan dan INP tertinggi dari famili Formicidae yaitu sebesar 8.9% dan 18.3%. Kelimpahan dan INP pada bejana kuning musim buah tertinggi ditemukan pada famili Colletidae 4.4% dan 12%. Sedangkan pada bejana biru musim buah , kelimpahan relatif dan INP tertinggi dari ordo Formicidae sebesar  11.4% dan 19.9%. Tingkat kesamaan komposisi antar dua musim dihitung dengan indeks Bray-Curtis yaitu sebesar 0.66 pada musim bunga dan 0.83 pada musim buah. Berdasarkan uji Pearson-Correlation, kelembaban berkorelasi negatif dengan kelimpahan. Kata kunci : Faktor lingkungan, kelimpahan, komposisi, musim bunga, polinator.
Potensi Beberapa Hidromakrofita Lokal untuk Meningkatkan Kualitas Air Lindi Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang Retno Dewi Khinanty; Catur Retnaningdyah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2016.005.01.1

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menentukan potensi hidromakrofita lokal sebagai agen fitoremediasi air lindi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Talangagung Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan lima perlakuan hidromakrofita lokal, yaitu kontrol (tanpa hidromakrofita), Ludwigia adscendens, Alternanthera sessilis, Typha angustifolia, dan polikultur ketiganya pada 25% air lindi dengan lima kaliulangan. Setiap perlakuan diinkubasi selama 30 hari di rumah kaca. Kualitas air lindi yang diamati adalah DO, turbiditas, nitrat, ortofosfat, dan BOD yang dipantau setiap enam hari sekali. Data tiap parameter dianalisis dengan uji beda antar waktu pantau pada masing-masing perlakuan. Semua hidromakrofita perlakuan mampu meningkatkan kualitas air lindi, yang ditandai dengan peningkatan nilai DO serta penurunan turbiditas, nitrat, ortofosfat, dan BOD. Hidromakrofita L. adscendens, T.angustifolia, dan polikultur (polikultur ketiga jenis tanaman) mampu menurunkan konsentrasi nitrat, ortofosfat, dan BOD sejak hari ke-12, sedangkan hidromakrofita A. sessilis sejak hari ke-18.Hidromakrofita A. sessilis mampu menurunkan 73,8% konsentrasi nitrat pada hari ke-30 dan 68,4% konsentrasi ortofosfat pada hari ke-24. Penurunan BOD (61,4%) terbesar ditemukan pada perlakuanhidromakrofita L. adscendens dan T. angustifolia hari ke-30
Perkembangan sel T CD4 dan CD62L pada Organ Spleen Mencit yang diinfeksi Salmonella typhimurium setelah pemberian Ekstrak Ethanol Daun Polyscias obtusa dan Elephantopus scaber Nida Asif; Muhammad Sasmito Djati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 4 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polyscias obtusa dan Elephantopus scaber merupakan tanaman yang memiliki kemampuan Immunomodulator. Penelitian menggunakan dua tanaman obat ini secara bersama diharapkan dapat diketahui manfaat sinergis antara kedua tanaman obatini. Penelitian ini dilakukan menggunakan hewan coba mencit Balb/C Musmusculus yang diinfeksi dengan bakteri Salmonella typhi (dosis 108). Treatment diberikansecara oral dari ekstrak etanol daun Tapak liman dan Kedondong laut dengan perbandingan dosis antara kedua yaitu (0%:100%; dan50%:50%) dengan dosis awal Elephantopus scaber dan Polyscias obtuse sebesar 50mg/KgBB. Pembedahan dilakukan pada hari ke-14 dan ke-18 setelah dilakukan injeksi. Sel limfosit diisolasi dari organ spleen, dianalisa dengan flowcitometry dan dianalisa hasil dengan one way ANOVA menggunakan SPSS 16.0 dan dilanjutkan uji Tukey. Berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa perlakuan pemberian ekstrak etanol daun Kedondong laut dan Tapak liman menurunkan jumlah relative sel TCD4+ secara signifikan yaitu sebesar 6,29% dibandingkan kontrol positif 18,9%, dan dibandingkan dengan pemberian ekstrak daun tapak liman saja tidak menurun secara signifikan yaitu sebesar 9.22% hal tersebut menunjukkan adanya efek imunosupresan dari Tapak liman dan Kedondong laut yang diberikan bersamaan. Jumlah relative sel T CD62L+ menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan pada perlakuan pemberian ekstrak etanol daun Kedondong laut dan Tapak liman yaitu sebesar 14,19% dibandingkan kontrol yaitu 5,35%, dan menurun pada perlakuan pemberian tapak liman saja, hal ini menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanoldaun Kedondong laut dan Tapak liman mempengaruhi proliferasi sel naive
Nilai Ekologi (Ecological Value) Hiu Hasil Tangkapan Nelayan di PPN Brondong Lamongan Jawa Timur Nourma Yulita; Djoni Eko Susiono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.01.04

Abstract

Perairan Indonesia adalah perairan tropis yang memiliki sumberdaya ikan beraneka ragam jenisnya, diantaranya adalah hiu, Keberadaan hiu di perairan laut juga memiliki nilai fungsi ekologi sebagai kantung biomassa yang cukup besar mengingat massa hewan ini yang besar pula. Metode yang digunakan adalah Pengambilan dan pengukuran  sampel, Pengambilan sampel ikan hiu dilakukan setiap hari selama 3 bulan di PPN Brondong. Semua jenis ikan hiu di data kemudian di ambil 50-100 sampel untuk diukur parameter panjang dan lebar tubuh. Selanjutnya masing masing sampel ditimbang untuk mendapatkan berat basah (Kg), setelah di ukur sampel ikan dikeringkan secara alami untuk mendapatkan berat kering nya. Hasil dari penelitian ini didapatkan ada 29 jenis hiu dan nilai tertinggi ekologi pada jenis Sphyrna Lewini.
Peta dan Pola Persebaran Porang (Amorphophallus muelleri Blume) Pada Beberapa Area di Kabupaten Jember Ratna Wulan Sari; Rodliyati Azrianingsih; Brian Rahardi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan jenis tanaman umbi-umbian yang mengandung glukomanan. Di Jepang, tepung umbi Porang sudah dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri. Di Indonesia sendiri selain masyarakatnya yang belum mengerti cara memanfaatkan porang, mereka juga belum mengerti lokasi keberadaan porang. Penelitian ini bertujuan untuk membuat peta persebaran Porang serta untuk mengetahui pola persebarannya di Kabupaten Jember. Penelitian awal dilakukan dengan mencari informasi mengenai keberadaan tanaman Porang. Lokasi koordinat porang yang ditemukan ditandai dengan GPS. Lokasi koordinat Porang yang telah didapatkan ditampilkan dalam bentuk peta persebaran menggunakan program Quantum GIS 1.7.4. Pola persebaran Porang dianalisis menggunakan Indeks Morisita. Porang di Kabupaten Jember terbagi menjadi dua jenis yaitu Porang yang tumbuh liar dan Porang budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Porang budidaya memiliki pola persebaran seragam dan random, sedangkan Porang yang tumbuh liar memiliki pola persebaran mengelompok dan random. Pada umumnya Porang yang ditanam dapat membentuk pola persebaran yang seragam, mengelompok maupun random, ini dikarenakan adanya campur tangan dari penanamnya. Sedangkan Porang yang tumbuh liar akan membentuk pola persebaran mengelompok maupun random, hal ini disebabkan Porang tumbuh secara alami. Kata kunci: Porang, Pemetaan, pola persebaran, Kabupaten Jember
Komposisi Takson Tingkat Suku Serangga yang Terperangkap dalam Kantong Nepenthes spp. di Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah Adventus Panda; Yohanes Edi Gunawan
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.02.1

Abstract

Serangga merupakan ordo penting dalam kelas Arthropoda, karena serangga merupakan salah satuindikator keseimbangan dan kesehatan suatu ekosistem. Peran ekologis anggota ordo ini sangat penting, terutama dalam hal interaksi hewan-tumbuhan, termasuk hubungannya dengan manusia.Salah satu bentuk interaksi tersebut adalah tingkat tropik. Dalam konteks komunitas, tingkatan tropik juga terjadi dalam skala mikro, seperti pada Kantong Nepenthes spp.Nepenthes spp. Modifikasi daun serupa kantong pada Nepenthes spp. hanya dapat dijumpai tumbuh liar pada tanah yang miskin unsur hara, seperti pada tanah gambut di Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari komposisi takson tingkat suku serangga yang terperangkap dalam kantung Nepenthes spp. Penelitian menggunakan teknik survey, dengan sistem jalur dikombinasikan dengan plot berpetak (transects with nested plot). Pengambilan data dilakukan di dua lokasi berbeda di Taman Nasional Sebangau, yakni kawasan Habaring Hurung (SPTN Wilayah I Kota Palangkaraya) pada Juli 2016, dan kawasan Eks. Kanal PT. Sanitra Sebangau Indah (SSI), yang merupakan wilayah SPTN Wilayah II Pulang Pisau, pada September 2016. Pemilihan lokasi didasarkan pada kelimpahan Nepenthes spp., perbedaan tipe habitat dan kemudahan aksesibillitasHasil pengambilan data berupa spesimen, dibawa ke laboratorium dan dilanjutkan dengan identifikasi sampai pada tingkat suku. Hasil penelitian menunjukkan takson tingkat suku serangga yang terperangkap dalam Kantong Nepenthes yang ditemukan selama penelitian di Resort Habaring Hurung, adalah sebanyak sembilan takson suku serangga. Sementara itu di area Kanal Eks PT. SSI Taman Nasional Sebangau menunjukkan delapan takson suku serangga. Takson suku yang secara konsisten dijumpai hampir di seluruh specimen kantung pada dua lokasi kajian adalah dari kelompok takson suku Formicidae (Semut), Culicidae (Nyamuk) dan Thormisidae (Laba-laba kepiting)
Prevalensi dan Identifikasi Berdasarkan Sekuen ITS Kapang Patogen Batang Tanaman Apel Var. Anna (Malus sylvestris (L.) Mill.) di Kota Batu Ilham Rizqy Isnain; Suharjono Suharjono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penurunan jumlah pohon apel produktif mengakibatkan rendahnya daya saing apel di dalam negeri. Berkurangnya jumlah tanaman apel produktif salah satunya disebabkan oleh kapang patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies kapang patogen yang menyerang batang tanaman apel berdasarkan sekuen ITS. Sampel diambil dari perkebunan Gabes, Dusun Junggo, Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kapang diisolasi dari lima batang bergejala penyakit dan dimurnikan, diuji patogenisitas terhadap bibit tanaman apel, isolasi DNA, dan identifikasi molekular. Berdasarkan hasil penelitian gejala AN3 banyak ditemui pada perkebunan organik dengan prevalensi  59,6 , sedangkan gejala AN5 merupakan gejala penyakit yang paling sedikit dengan prevalensi  1,69. Isolat AN5.2 teridentifikasi sebagai Neofusicoccum parvum yang menyebabkan penyakit busuk kering dan berakibat kematian pada batang, sedangkan isolat AN3.2 teridentifikasi sebagai Aureobasidium pullulans.   Kata kunci: Aureobasidium pullulans, identifikasi molekular, kapang patogen, Malus sylvestris Mill., Neofusicoccum parvum
Profil Protein Spermatozoa Setelah Pembekuan Mochammad Dwi Susan; Sri Rahayu
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil protein spermatozoa sebelum dan setelah pembekuan. Protein spermatozoa diisolasi dari 10 sampel sapi Friesian holstein dengan pemisahan fraksi atas dan bawah hasil sentrifugasi. Profil protein kemudian dianalisis menggunakan SDS PAGE dengan konsentrasi separating gel 12,5%. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan profil protein spermatozoa sebelum dan setelah pembekuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada fraksi atas semen segar ditemukan 12 pita protein spermatozoa dengan berat molekul 144, 128, 99, 90, 83, 59, 31, 20, 14, 12, 10 dan 9 kDa, dan pada semen beku ditemukan 8 pita protein spermatozoa dengan berat molekul 144, 128, 99, 90, 83, 59, 31, 14 dan 12 kDa. Sementara itu pada fraksi bawah semen segar ditemukan 16 pita protein dengan berat molekul 128, 116, 103, 90, 75, 69, 48, 40, 31, 26, 20, 14, 10, 9, 7 dan 6 kDa, dan 11 pita protein dengan berat molekul 128, 116, 103, 90, 75, 69, 48, 40, 31, 20 dan 14 kDa pada semen beku. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulka bahwa terdapat perbedaan profil protein spermatozoa sebelum dan setelah pembekuan yang dilihat dari variasi berat molekul protein pada masing – masing perlakuan. kata kunci        : pembekuan, protein, SDS PAGE, spermatozoa.
Analisis Pertumbuhan Dua Varietas Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Pada Berbagai Perlakuan Pemupukan Erningtyas Widyaswari; Mudji Santosa; Moch. Dawam Maghfoer
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.03.2

Abstract

Peningkatan pertumbuhan tanaman padi dapat dilakukan melalui pemberian stimulan organik dan pupuk anorganik dan juga penggunaan varietas yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian pupuk dan penggunaan varietas dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman padi. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2016 sampai dengan Juli 2016, di Dusun Sekarputih, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu dengan ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu varietas padi (V) dan dosis pemupukan (P) yang diulang 3 kali. Pengamatan yang diamati ialah indeks luas daun, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan tanaman pada 49, 63, 77 dan 91 hst. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman padi dengan menggunakan varietas hibrida Mapan-P.05 didapatkan hasil indeks luas daun lebih tinggi dibandingkan varietas Ciherang. Perlakuan pemberian pupuk dengan dosis 100 kg phonska+100 kg urea+biourin sapi (P4) dan dosis 100 kg phonska+100 kg urea+biourin sapi+EM-4 (P6) menghasilkan indeks luas daun yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan EM-4 (P3) pada umur 63 hst.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Annona muricata Linn. terhadap Peningkatan Jumlah B220 pada Mus musculus Dewi Parlina Ningrum; Sri Widyarti; Muhaimin Rifai'i
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Imunomodulator merupakan bahan yang dapat mengembalikan ketidakseimbangan sistem imun. Daun sirsak (Annona muricata) mempunyai senyawa-senyawa aktif yang berperan sebagai agen imunomodulator, salah satunya flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun sirsak terhadap peningkatan jumlah sel B220 pada mencit. Daun sirsak diekstrak menggunakan metode maserasi dan mesin rotatori evaporator. Selanjutnya ekstrak daun sirsak diberikan pada 4 kelompok mencit secara oral dengan dosis 0, 25, 50, dan 100 mg/kg BB setiap hari selama 2 minggu. Setelah perlakuan, dilakukan dislokasi pada mencit, kemudian sel-sel limfositnya diisolasi dari bone marrow dan dilakukan perhitungan jumlah sel dengan flowcytometry dan haemocytometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun sirsak (A. muricata) menunjukkan pengaruh signifikan terhadap peningkatan jumlah sel B220 sebesar 123 % dari 32.56 x 106 menjadi 72.7 x 106 pada dosis 50 mg/kg BB. Kata kunci: ekstrak etanol, daun sirsak, sel B220