Articles
899 Documents
PEMANFAATAN ABU LIMBAH GERGAJI KAYU SEBAGAI CAMPURAN PEMBUATAN BETON
Melvin Junius Indra;
Christianto Tjondro;
Handoko Sugiharto
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (295.241 KB)
Berbagai penelitian mengenai pemanfaatan material wood ash, khususnya sebagai material pengganti semen (pozzolan) telah dilakukan. Penelitian ini berfokus pada pengaruh penggunaan wood ash sebagai bahan campuran beton terhadap workability, kuat tekan dan kuat tarik dari beton. Presentase penggantian kadar semen dengan wood ash yang digunakan adalah sebesar 10%, 15% dan 20%. Tes X-Ray Fluorescence dilakukan untuk mengetahui komposisi kimia dari abu kayu tersebut. Hasil menunjukkan bahwa wood ash yang digunakan merupakan pozzolan tipe C dengan total kadar SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 sebesar 63.97%. Uji kuat tekan dilakukan pada umur 7,14, dan 28 hari. Sedangkan uji tarik dilakukan pada umur 7 dan 28 hari. Hasil menunjukkan bahwa beton dengan wood ash memiliki workability yang lebih rendah dibandingkan beton yang tanpa wood ash. Dari segi kekuatan, beton dengan wood ash memiliki kuat tekan dan kuat tarik yang masih berada dibawah kekuatan beton normal namun memiliki perkembangan kekuatan yang lebih baik dibandingkan beton normal.
OPTIMASI PENGGUNAAN FLY ASH DAN BOTTOM ASH PLTU SURALAYA DALAM PEMBUATAN PAVING BLOCK MUTU TINGGI
Aldwin Ivan Gan;
Henry Sutikno;
Antoni Antoni;
Djwantoro Hardjito
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 7, No 2 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (419.574 KB)
Fly ash dan bottom ash merupakan limbah hasil pembakaran batu bara yang dapat dimanfaatkan dalam bidang konstruksi. Pemanfaatan bottom ash masih sangat jarang, sehingga pada penelitian ini bottom ash dan fly ash dimanfaatkan untuk menggantikan sebagian agregat halus dan semen dalam pembuatan paving block. Untuk menghasilkan paving block dengan kuat tekan yang optimal, perlu dicari kepadatan tertinggi dari kombinasi agregat halus yang digunakan. Selain kuat tekan, penyerapan air dan ketahanan aus juga menjadi kualifikasi dalam penentuan mutu paving block.Dari hasil pembuatan paving block, kuat tekan tertinggi yang bisa didapat dari penambahan bottom ash yaitu 41.60 MPa dengan kode C1BA3 yang masuk dalam kelas A. Namun untuk uji penyerapan air dan ketahanan aus, paving C1BA3 hanya masuk dalam kelas B dan C. Dengan penambahan fly ash, kuat tekan maksimum yang dihasilkan hanya mencapai 26.80 MPa yang masuk dalam kelas B. Akan tetapi penambahan fly ash berdampak pada ketahanan aus yang pada awalnya hanya memenuhi kelas C, kini bisa mencapai kelas A. Secara keseluruhan, paving block yang menghasilkan mutu paling bagus dan ekonomis yaitu paving dengan kode C5F5B30, dengan komposisi 50% semen : 50% fly ash dan 100% bottom ash.
PENGEMBANGAN TABEL BAJA SEBAGAI ALAT BANTU DALAM PELAKSANAAN KONSTRUKSI BAJA
Michael Dharmawan;
Effendy Tanojo;
Pamuda Pudjisuryadi
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (254.945 KB)
Baja banyak digunakan sebagai elemen struktur dalam proyek konstruksi karena banyak keunggulan. Pada umumnya, seorang kontraktor memakai tabel profil baja sebagai alat bantu dalam melaksanakan konstruksi baja. Tabel profil baja yang sekarang ada, hanya berisi spesifikasi baja seperti berat, luas, momen inersia, radius girasi, dan modulus elastis. Tugas akhir ini menghasilkan alat bantu untuk tabel profil berupa penambahan tabel mengenai kuat tekan nominal, kuat Tarik nominal, momen nominal, modulus plastis pada balok profil baja yang mengacu pada SNI 03-1729-2002. Pengembangan tabel ini akan memudahkan para kontraktor maupun designer dalam menentukan kapasitas-kapasitas, serta memudahkan untuk memilih profil baja yang cocok dalam pelaksanaan konstruksi.
PENGARUH PERKUATAN MENGGUNAKAN CLAMP PADA KEKUATAN SILINDER BETON BERONGGA
Kintarman Kintarman;
Sophian Sutedja;
Gogot Setyo Budi;
Hurijanto Koentjoro
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): AGUSTUS 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (531.859 KB)
Dalam pembuatan tiang pondasi, beton yang diterapkan dalam pondasi dapat berbentuk kotak atau tiang spun pile. Produksi tiang spun pile menggunakan metode spinning sehingga kekuatan tekan beton kemungkinan tidak merata antara dinding di bagian dalam dan bagian luar. Berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah pernah dilakukan, perkuatan eksternal (external confinement) pada beton solid bisa meningkatkan performa beton terkompresi yang mengalami gaya lentur siklik atau gaya dinamis akibat kejadian seismik, serta menaikkan regangan pada beton. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian kuat tekan serta regangan terhadap silinder beton berongga dengan mutu beton fc’= 50 MPa dan 33 MPa dengan perkuatan eksternal menggunakan clamp baja. Panjang dan diameter silinder beton masing-masing adalah 30cm dan 15cm, dan diameter rongga yang terbentuk akibat proses spinning adalah 5cm. Clamp dengan tebal 1.7mm dan lebar 27mm, dipasang pada benda uji dengan jarak tertentu sebesar 3, 4, dan 5 buah clamp baja. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, perkuatan silinder beton berongga dengan menggunakan clamp mampu menaikkan tegangan hancur beton serta meningkatnya regangan. Selain itu, penambahan clamp pada silinder beton berongga berpengaruh pada pola keruntuhan, dimana pola keruntuhan silinder beton berongga dengan clamp secara umum terjadi di antara clamp baja. Pemberian clamp baja pada silinder beton berongga yang diisi dengan beton mutu fc’ = 19 MPa memiliki kekuatan yang hampir sama dengan silinder beton berongga tanpa isi.
PENELITIAN AWAL TENTANG PENGARUH PENGGUNAAN CONSOL POLYMER LATEX SEBAGAI CAMPURAN PADA BALOK BETON
Niko Sebastian;
Robert Darwin;
Handoko Sugiharto
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2015): AGUSTUS 2015
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (287.16 KB)
Dalam dunia konstruksi, beton adalah barang yang sering kita jumpai. Seringkali beton yang kita dijumpai sudah dicampur dengan admixture untuk memperoleh hasil kekuatan beton yang maksimal. Salah satu jenis admixture yang ada yaitu latex. Oleh karena hal tersebut maka dilakukan penelitian. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan consol polymer latex pada campuran beton. Consol polymer latex ini termasuk dalam jenis latex yaitu jenis latex emulsi. Dalam penelitian ini dilakukan 4 jenis percobaan, yaitu pengujian kuat tekan, kuat lentur, kuat tarik dan momen nominal beton. Semua tes dilakukan pengujian pada 7, 14, dan 28 hari, serta dilakukan juga tes pada saat 1 hari untuk beton yang telah dicampur dengan consol polymer latex.
PENGARUH KADAR AIR, WAKTU, DAN KEPADATAN TANAH URUG EKSPANSIF TERHADAP FRIKSI TIANG
Darwin Hughie;
Christien Halim;
Gogot Setyo Budi;
Daniel Tjandra
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2019): FEBRUARI 2019
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (383.951 KB)
Penelitian ini mempelajari pengaruh kadar air, waktu, dan kepadatan tanah ekspansif terhadap friksi tiang. Model tiang yang digunakan terbuat dari baja berukuran 1 cm dan tinggi 30 cm. Variasi kepadatan tanah adalah 56 tumbukan, 40 tumbukan, dan 25 tumbukan sesuai standar Proctor (AASHTO-T99-74). Pengujian yang dilakukan meliputi pengaruh kadar air, waktu, dan kepadatan tanah terhadap friksi tiang, disamping itu juga dilakukan tes untuk mengetahui pengaruh kepadatan terhadap penyerapan, dan pengembangan yang terjadi di tanah ekspansif pada masing-masing kepadatan. Hasil dari tes menunjukkan bahwa tingkat kepadatan yang lebih tinggi menyebabkan nilai friksi yang lebih besar. Sedangkan untuk variasi kadar air, ditemukan bahwa kadar air dengan penambahan 5% dari OMC menghasilkan nilai friksi yang lebih besar dibandingkan dengan kadar air optimum (OMC). Dari segi waktu, adanya peningkatan nilai friksi seiring berjalannya waktu ditunjukkan oleh sampel dengan wetting 5% (untuk semua tingkat kepadatan). Sedangkan untuk tes pengaruh kepadatan tanah terhadap penyerapan air didapatkan hasil bahwa penyerapan semakin kecil dengan bertambahnya kepadatan tanah, begitupula sebaliknya.
KRITISI DESAIN PSEUDO ELASTIS PADA BANGUNAN BERATURAN 6- DAN 10-LANTAI DENGAN DENAH PERSEGI PANJANG DI WILAYAH 6 PETA GEMPA INDONESIA
Jimmy Setiawan;
Victor Kopaloma;
Benjamin Lumantarna
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (352.938 KB)
Metode Pseudo Elastis merupakan sebuah metode desain alternatif yang dikembangkan untuk perencanaan bangunan yang didesain terhadap gempa selain metode Desain Kapasitas. Perencanaan Pseudo Elastis memperbolehkan terjadinya sendi-sendi plastis pada ujung atas dan bawah kolom interior, sedangkan kolom eksteriornya harus berperilaku elastis penuh, kecuali ujung bawah kolom lantai dasar. Pola keruntuhan yang diharapkan setelah terjadi gempa merupakan partial side sway mechanism. Untuk menjamin terjadinya distribusi gaya geser pada kolom eksterior, maka diperlukan pembesaran gaya dalam kolom elastis akibat gempa berupa Faktor Pengali (FP). Tujuan penelitian ini adalah menguji asumsi penyaluran gaya geser dasar pada desain Pseudo Elastis dan menguji terjadinya partial side sway mechanism pada bangunan beraturan 6- dan 10-lantai berdenah persegi panjang di wilayah 6 peta gempa Indonesia. Kinerja bangunan diperiksa dengan metode dynamic non-linear time history analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asumsi penyaluran gaya geser dasar pada desain Pseudo Elastis tidak selalu terjadi pada bangunan yang ditinjau.Untuk hasil kinerja bangunan, partial side sway mechanism terjadi pada bangunan 6-lantai untuk arah memanjang dan melintang, dan bangunan 10-lantai pada arah memanjang bangunan, sedangkan arah melintangnya tidak terjadi karena mengalami soft storey di lantai ke-2.
CARA PENDEKATAN PERHITUNGAN KUANTITAS PEMBESIAN PADA KOLOM STRUKTUR BETON BERTULANG
Ivana Tanjung;
Ronald Aristotelin;
Budiman Proboyo;
Indriani Santoso
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2018): FEBRUARI 2018
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (359.692 KB)
Besi, beton, dan bekisting merupakan material utama beton bertulang. Estimasi kuantitas besi dilakukan seoptimal mungkin karena harga besi yang lebih mahal dibandingkan dengan material lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas pembesian kolom struktur beton bertulang dengan menggunakan dua metode, yaitu metode definitif (Bar Bending Schedule) dan metode pendekatan. Data yang digunakan antara lain denah struktur, denah pondasi, dan detail struktur. Metode pendekatan menghitung volume besi per meter panjang, hasilnya dikalikan dengan tinggi kolom sehingga menghasilkan kebutuhan volume tulangan yang disebut Wpendekatan. Selain itu, kebutuhan besi juga dihitung menggunakan metode Bar Bending Schedule dan menghasilkan WBBS. Kemudian dicari nilai hasil bagi dari WBBS dan Wpendekatan. Dari penelitian, didapatkan 2 nilai α, yaitu 1.393 untuk tulangan utama dan 1.485 untuk sengkang. Selanjutnya, kuantitas pembesian yang digunakan dalam Bill of Quantity ditentukan dengan menggunakan nilai α dikalikan Wpendekatan dan panjang kolom. Penggunaan metode pendekatan dapat mempersingkat waktu perhitungan dan mendapatkan hasil yang mendekati perhitungan Bar Bending Schedule
PERBANDINGAN PERENCANAAN SAMBUNGAN KAYU DENGAN BAUT DAN PAKU BERDASARKAN PKKI 1961 NI-5 DAN SNI 7973:2013
Eman Christianto;
Budisetyono T.;
Ruslan Dj.
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2015): AGUSTUS 2015
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (270.675 KB)
Seiring perkembangan teknologi, manusia mulai beralih menggunakan material baja dan beton, tetapi di daerah yang sulit untuk membuat bangunan dari beton atau baja, solusinya dapat menggunakan material kayu. Kayu memiliki kelemahan yaitu mempunyai panjang yang terbatas sehingga diperlukan sambungan. Sambungan baut dan paku telah diatur dalam PKKI 1961 NI-5 dan disempurnakan dalam SNI 7973:2013.Struktur yang ditinjau berupa sambungan batang kayu dan diasumsikan sebagai atap rangka batang yang terlindung dan balok yang terlindung. Beban yang diberikan berupa beban terpusat dan beban merata, yang terdiri dari beban mati, beban hidup di atas atap, beban hidup, beban hujan, dan beban angin. Semakin besar diameter baut dan paku yang digunakan maka jumlah baut dan paku akan sama dengan peraturan PKKI 1961 NI-5 dan SNI 7973:2013 (untuk DTI). Sedangkan semakin kecil diameter baut yang digunakan dengan SNI 7973:2013 (untuk DFBK) maka jumlah baut akan lebih sedikit dari PKKI 1961 NI-5 dan semakin kecil diameter paku yang digunakan dengan PKKI 1961 NI-5 maka jumlah paku akan lebih sedikit dari SNI 7973:2013 (untuk DFBK).
ANALISIS TANTANGAN DAN MANFAAT BANGUNAN HIJAU
Gregorius Kevin;
Iwan Anggalimanto;
Herry P. Chandra;
Soehendro Ratnawidjaja
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 5, No 2 (2016): AGUSTUS 2016
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (506.484 KB)
Konsep Bangunan Hijau atau Green Building muncul sebagai cara untuk mengurangi kerusakan lingkungan. Selain dapat mengurangi kerusakan lingkungan, Bangunan Hijau juga dapat memberikan manfaat dari segi finansial, pasar, industri serta dampak positif bagi pengguna gedung tersebut. Namun, penerapan konsep Bangunan Hijau dapat dikatakan tidaklah mudah, terdapat tantangan-tantangan dalam mewujudkan konsep Bangunan Hijau. Penelitian ini bertujuan mengetahui apa yang menjadi tantangan dalam mewujudkan Bangunan Hijau serta manfaat yang didapat. Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada kontraktor dan konsultan di Surabaya. Analisa data hasil kuesioner selanjutnya dianalisa menggunakan statistik deskirptif dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Dari hasil analisa data, 3 manfaat utama dari Bangunan Hijau menurut pendapat responden adalah Bangunan Hijau dapat meningkatakn nilai asset gedung, menurukan biaya operasional gedung, dan meningkatkan kenyamanan dan kesehatan pengguna gedung. Sedangkan menurut pendapat responden, yang menjadi tantangan dalam mewujudkan Bangunan Hijau adalah kurangnya perhatian publik terhadap Bangunan Hijau, keraguan informasi tentang metode Bangunan Hijau, dan Risiko dan ketidakpastian dalam membangun Bangunan Hijau.