cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal e-Komunikasi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal e-Komunikasi adalah jurnal versi online yang ditulis oleh mahasiswa dalam rangka mempublikasikan karya skripsinya. Ruang lingkup topik kajian adalah komunikasi massa, komunikasi korporat, human communication, dan komunikasi new media
Arjuna Subject : -
Articles 1,336 Documents
Sikap Umat Gereja Katolik Redemptor Mundi Terhadap Isi Facebook Redemptor Mundi Romanos Defiano; Titi Nur Vidyarini; Astri Yogatama
Jurnal e-Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): VOL 8, NO 2 AUGUST 2020
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gereja Katolik Redemptor Mundi merupakan salah satu gereja Katolik yang ada di Surabaya. Gereja Katolik Redemptor Mundi memiliki salah satu media komunikasi untuk pihak internal yaitu media sosial Facebook. Pesan yang di berikan melalui media komunikasi Facebook akan di terima oleh umat Gereja Katolik Redemptor Mundi sebagai komunikan. Umat Gereja Katolik Redemptor Mundi dalam memberikan feedback memiliki sikap yang berbeda – beda terkait isi pesan yang diberikan Gereja melalui Facebook ini. Dengan adanya Facebook, gereja berharap umat dapat mengetahui (Kognitif), menyukai (Afektif), kemudian mau memberi tanggappan berupa tindakan nyata (Konatif) terkait isi Facebook yang terbagi dalam caption, foto dan respon. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sikap umat Gereja Katolik Redemptor Mundi mengenai isi Facebook Redemptor Mundi. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan menggunakan metode survei dengan sample umat Gereja Katolik Redemptor Mundi. Hasil penelitian ini menunjukan sikap umat Gereja Katolik Redemptor Mundi mengenai isi Facebook Redemptor Mundi berada dalam nilai netral.
Representasi Interaksi Sosial antar Kelas dalam Film “Parasite” Silmauly B.S. Hutabarat; Agusly Irawan Aritonang; Megawati Wahjudianata
Jurnal e-Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): VOL 8, NO 2 AUGUST 2020
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana representasi interaksi sosial antar kelas dalam film “Parasite”. Interaksi sosial antar kelas atas dan kelas bawah digambarkan sesuai dengan realita yang dihadapi beberapa negara saat ini. Film ini berusaha untuk mengungkapkan bagaimana bentuk interaksi sosial antar kelas yaitu kelas atas dan kelas bawah. Metode yang digunakan adalah semiotika milik John Fiske dengan tiga level, yaitu level realitas, level representasi & level ideologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi sosial dalam bentuk kerja sama dan konflik. Dalam proses kerja sama kelas atas mengakui kemampuan dan kualitas kerja kelas bawah, tetapi dengan adanya kekuasaan kelas atas juga menunjukkan perilaku dehumanisme. Akibat perilaku kelas atas tersebut menimbulkan konflik sebagai bentuk pemberontakan kelas bawah dengan tujuan terbentuknya masyarakat tanpa pembedaan kelas- kelas dan kemanusiaan dalam arti penuh.
Representasi Perjuangan Hidup Anak Jalanan dalam Film Extraction Hizkia Nihand Haripradipta; Jandy Edipson Luik; Chory Angela Wijayanti
Jurnal e-Komunikasi Vol 9, No 2 (2021): VOL 9, NO 2 SEPTEMBER 2021
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini disusun untuk mengetahui bagaimana perjuangan hidup anak jalanan dalam film “Extraction”. “Extraction” merupakan film misi penyelamatan oleh mantan tentara Australian Special Air Service Regiment terhadap anak yang disandera oleh pemimpin bandar barkoba terbesar di Dhaka, Bangladesh. Perjuangan hidup anak jalanan merupakan cerita di dalam cerita atau narasi tertanam atau tersemat pada film ini. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode semiotika John Fiske melalui 3 level yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Perjuangan hidup anak jalanan disertai dengan ideologi orientalisme yang merupakan dimensi yang digunakan pada penelitian ini. Hasil yang ditemukan mengenai perjuangan hidup anak jalanan yang merupakan perwakilan timur dalam orientalisme pada film ini, berupa penggambaran anak jalanan yang pembohong, mencurigakan, dapat bekerja untuk penjahat, dan diidentifikasi sudah bisa menggunakan berbagai senjata seperti pisau, pedang, maupun senjata api. Namun anak jalanan memiliki karakter yang menghormati dan loyal kepada pemimpin tempat ia bekerja. Dominasi barat dalam orientalisme juga diperlihatkan dalam tokoh pemeran utama, yaitu Tayler Rake. Juga, cerita di dalam cerita mengenai perjuangan hidup anak jalanan dapat mempengaruhi cerita pokok dalam film ini.
Evaluasi Strategi Program Customer Relationship Management Kayu Bihi Farm Bali dalam Mempertahankan Loyalitas Pelanggan Yohana Suwanto; Felicia Goenawan; Astri Yogatama
Jurnal e-Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): VOL 8, NO 2 AUGUST 2020
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi strategi program Customer Relationship Management yang dijalankan oleh Kayu Bihi Farm Bali dalam mempertahankan loyalitas pelanggan. Evaluasi merupakan suatu tindakan yang penting untuk dilakukan perusahaan untuk mengetahui tindak lanjut dari program yang telah dijalankan. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus serta menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam (in-depth interview), observasi dan dokumentasi. Program Customer Relationship Management ini memiliki beberapa bentuk program di dalamnya yaitu Customer Gathering Community Sharing, Seminar dan Birthday Treatment. Evaluasi dilakukan berdasarkan sudut pandang pelanggan karena dalam hal ini, pelanggan adalah sasaran utama dari diadakannya program ini. Berdasarkan hasil evaluasi, dapat diketahui bahwa Customer Gathering telah mencapai tujuannya, meskipun terdapat beberapa kendala seperti partisipasi pelanggan dan minimnya keterlibatan staff Kayu Bihi Farm selama pelaksanaan program. Sedangkan permasalahan pada program Community Sharing terletak pada penggunaan bahasa dalam menyampaikan materi, pemberian reward untuk games dan waktu pelaksanaan program. Pada program Seminar ditemukan bahwa program ini tidak mencapai tujuannya dikarenakan ketidakpuasan pelanggan terhadap waktu pelaksanaan program yang dirasa kurang efektif. Kemudian pada program Birthday Treatment permasalahan yang ada ditemukan pada waktu klaim diskon yang kurang serta waktu penyerahan kue yang tidak tepat sehingga hal ini menjadi faktor ketidakberhasilan pada program secara keseluruhan.
Efektivitas Penggunaan Brand Ambassador Laneige Dalam Model VisCAP Nancy Nancy; Felicia Goenawan; Vita Monica
Jurnal e-Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): VOL 8, NO 2 AUGUST 2020
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses komunikasi yaitu bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk dapat menciptakan komunikasi yang lebih efekMf. Iklan yang baik dapat berperan sebagai pengingat di benak konsumen keMka mereka telah melihat iklan tersebut dan bisa menjadi top of mind. Iklan harus dikemas dengan baik agar menghasilkan iklan yang efekMf. Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan produknya, perusahaan menggunakan brand ambassador untuk menyampaikan pesan di dalam iklan. Brand Ambassador akan membantu membuat hubungan emosional yang lebih kuat antara sebuah brand /perusahaan dengan konsumen. Dalam peneliMan ini, peneliM bertujuan menjelaskan Mngkat efekMvitas penggunaan brand ambassador Laneige dengan menggunakan model VisCAP. Hasil PeneliMan ini membukMkan bahwa penggunaan brand ambassador efekMf untuk menyampaikan pesan di dalam iklan ke konsumen.
Sikap Generasi Milenial Terhadap Pesan Budaya Korea Dalam Iklan Mie Sedaap Selection ‘Korean Spicy Chicken’ Di Televisi Felecia Chrissindra Santoso; Ido Prijana Hadi; Desi Yoanita
Jurnal e-Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): VOL 8, NO 2 AUGUST 2020
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkembangnya budaya Korea atau Korean Wave di Indonesia merupakan salah satu dampak dari arus globalisasi. Penyebarannya di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara, terutama di Indonesia sangat pesat. Salah satu cara penyebarannya adalah dengan mengangkat unsur budaya Korea dalam iklan televisi. Dimana iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi dan agen penyebaran budaya yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku audiens baik secara langsung atau melalui media. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatahui sikap generasi milenial terhadap pesan budaya Korea dalam iklan Mie Sedaap Selection ‘Korean Spicy Chicken’ di televisi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, generasi milenial memiliki sikap yang positif terhadap pesan budaya Korea dalam iklan Mie Sedaap Selection ‘Korean Spicy Chicken’ di televisi. Pada komponen kognitif memiliki rata-rata 4,08, komponen afektif 3,83, dan komponen konatif 3,68. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa responden dalam penelitian ini mengetahui, menyukai, dan memiliki kecenderungan berperilaku positif terhadap pesan budaya Korea dalam iklan Mie Sedaap Selection ‘Korean Spicy Chicken’ di televisi.
Taktik Self Presentation Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta melalui Twitter @aniesbaswedan Evelyne Harsono; Gatut Priyowidodo; Jandy Edipson Luik
Jurnal e-Komunikasi Vol 9, No 2 (2021): VOL 9, NO 2 SEPTEMBER 2021
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self presentation adalah proses individu untuk membentuk image yang orang lain pikirkan maupun apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri. Taktik dalam self presentation terbagi menjadi dua indikator dengan 13 sub indikator yaitu defensive self presentation (excuse, justification, disclaimer, self handicapping, apology) dan assertive self presentation (ingratiation, intimidation, supplication, entitlement, enhancement, basking, blasting dan exemplification). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui taktik self presentation Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta melalui akun Twitter @aniesbaswedan. Penelitian ini ingin melihat bagaimana presentasi diri Anies Baswedan sebagai Gubernur tunggal mulai tanggal 27 Agustus 2018 hingga 14 April 2020. Sebagai Gubernur tunggal banyak pekerjaan yang harus dilakukan seorang diri sehingga Anies dapat kewalahan dalam mengerjakannya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode analisis isi kuantitatif yang menganalisis 748 sampel tweets. Temuan penelitian ini ini menunjukkan bahwa taktik dengan frekuensi yang tinggi dan sering ditampilkan adalah taktik assertive self presentation khususnya ingratiation, di mana Anies memberikan pujian kepada orang lain. Berbeda dengan taktik defensive self presentation di mana frekuensi penggunaannya sangat kecil. Dapat dilihat bahwa Anies Baswedan sebagai Gubernur tunggal tidak ingin memperlihatkan dirinya sebagai seseorang yang banyak melakukan defensive self presentation.
Brand Awareness Masyarakat Selong Terhadap PT. Cahaya Anugerah Abadi Adelia Edyna; Ido Prijana Hadi; Vita Monica
Jurnal e-Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): VOL 8, NO 2 AUGUST 2020
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Cahaya Anugerah Abadi merupakan salah satu dealer motor Yamaha yang berada di kota Selong, Lombok Timur. PT. Cahaya Anugerah Abadi merupakan pelopor pertama dealer Yamaha di kota Selong yang dapat bekerjasama dengan credit leasing dan menjadi dealer Yamaha dengan penghargaan terbanyak se kota Selong. Fenomena komunikasi yang ditemui oleh peneliti dalam penelitian ini didasari oleh teori brand awareness yang mengatakan bahwa brand awareness (kesadaran merek) merupakan kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu. Pada kenyataannya, masyarakat Selong kurang mengenal PT. Cahaya Anugerah Abadi, mereka hanya mengingat nama Yamaha saja dan menganggap bahwa PT. Cahaya Anugerah Abadi merupakan dealer motor yang sama dengan dealer motor Yamaha lainnya. Dari temuan fenomena tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat brand awareness masyarakat Selong terhadap PT. Cahaya Anugerah Abadi yang diukur dari kesadaran masyarakat terhadap keenam brand elements yang dimiliki PT Cahaya Anugerah Abadi yaitu Brand Name, Logo & Symbol, Slogan, Character, Packaging dan Jingle. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan menggunakan metode survey. Peneliti membagikan kuesioner terhadap 100 responden yang merupakan masyarakat Selong berusia 17 – 40 tahun, laki – laki dan perempuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat Brand Awareness masyarakat Surabaya terhadap PT. Cahaya Anugerah Abadi berada pada tingkatan dua tertinggi, yaitu Brand Recall.
Representasi Pola Komunikasi Keluarga dalam film Dua Garis Biru Melisa Fransisca Liemantara; Fanny Lesmana; Megawati Wahjudianata
Jurnal e-Komunikasi Vol 9, No 2 (2021): VOL 9, NO 2 SEPTEMBER 2021
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana gambaran pola komunikasi keluarga dalam film Dua Garis Biru. Film ini memberi pesan kepada penontonnya bahwa keterbukaan serta cara pandang yang tepat akan membuat pola komunikasi dalam keluarga menjadi efektif. Film ini menggambarkan bahwa pola komunikasi keluarga merupakan komunikasi yang unik dan tidak bisa disamakan antar satu keluarga dengan yang lain. Selain itu, pola komunikasi bukanlah hal yang mutlak dan dapat berubah sesuai keadaan. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Sedangkan, untuk metode, menggunakan semiotika dengan teknik analisis data milik John Fiske. Peneliti memakai semiotika milik John Fiske, karena peneliti merasa unit analisis milik John Fiske dapat lebih mudah digunakan untuk membaca representasi dari “pola komunikasi keluarga” melalui dialog, perilaku, latar, dan penampilan, baik dari komunikasi verbal maupun non verbal yang ada dalam setiap adegan pada film Dua Garis Biru. Hasil penelitian ini memperlihatkan penggambaran dua pola komunikasi keluarga berbeda yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi serta nilai-nilai yang dianut keluarga masing- masing.
Brand Awareness Masyarakat Surabaya Terhadap Brand Baru Kana Furniture Vionita Septiana Gunawan; Felicia Goenawan; Vita Monica
Jurnal e-Komunikasi Vol 8, No 1 (2020): VOL 8, NO 1 FEBRUARY 2020
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kana Furniture merupakan sebuah brand baru hasil dari rebranding yang dilakukan oleh Thema Home. Sebagai brand baru, peneliti tertarik untuk meneliti tingkat Brand Awareness. Kana Furniture telah mengkomunikasikan mengenai brand barunya yang meliputi kelima Brand Elements yang terdiri dari Brand Name, URL, Logo&Symbol, Slogan dan Packaging melalui media komunikasi yang dianggap efektif, yaitu media sosial Instagram. Brand Awareness merupakan aset yang tahan lama dan berkelanjutan, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat Brand Awareness masyarakat Surabaya terhadap brand baru Kana Furniture yang diukur dari kesadaran masyarakat terhadap kelima Brand Elements. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat Brand Awareness masyarakat Surabaya terhadap brand baru Kana Furniture ada pada tingkat Brand Recall.