Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"1989: HARIAN WAWASAN"
:
11 Documents
clear
MENGERLING POTENSI SMP TERBUKA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (97.851 KB)
      Belum lama ini terselenggarakan pertemuan ilmiah yang bertujuan menganalisis dan mengantisipasi efektivitas pelaksanaan SMP Terbuka di negara kita, terutama SMP Terbuka di Adiwerna, Jawa Tengah; karena pertemuan tersebut memang dilangsungkan di tempat itu.      Dari pertemuan tersebut akhirnya diperoleh suatu kesimpul-an bahwa efektivitas pelaksanaan SMP Terbuka (di Adiwerna) relatif tinggi; hal ini ditunjukkan oleh eksis tensi SMP Terbuka tersebut yang semakin dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya, dalam artian bahwa masyarakat sekitar semakin merasakan perlunya diselenggarakan SMP dengan sistem pengajaran nonkonvensional tersebut.      Pada sisi yang lain dilihat dari daya serap terhadap kurikulum serta perkembangan jumlah siswanya, maka penyelenggaraan SMP Terbuka (di Adiwerna) tersebut juga tidak mengecewakan.      Good news! Berita tersebut tentu saja cukup bagus dan membanggakan. Di tengah-tengah pemerintah sedang ber upaya keras untuk menaikkan daya tampung lembaga pendidikan menengah pertama, maka terdapat sistem pengajaran nonkonvensional pada jenjang tersebut yang efektivitas-nya relatif tinggi. Dengan demikian kalau sistem nonkonvensional ini dapat dikembangkan lebih lanjut tentu akan membantu upaya peningkatan daya tampung sekolah.
KONTRIBUSI AKADEMIK TEORI KONVERGENSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.227 KB)
      Setiap menjelang tahun akademik baru seperti saat ini maka setiap lembaga perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) dihadapkan pada masalah klasik tentang sistem seleksi masuk; yaitu sistem untuk menyeleksi kandidat mahasiswa baru yang benar-benar mempunyai kemampuan dasar untuk mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi.       Permasalahan tersebut juga dihadapi oleh masyarakat kita pada umumnya, terutama bagi mereka yang mempunyai kepenting-an untuk "mengkapling" kursi belajar pada perguruan tinggi, karena sebelum mendapatkan kursi belajar mereka akan dihadapkan pada sistem seleksi tersebut.      Tahun ini penyelenggaraan seleksi masuk pada PTN, yang "dikenalkan" dengan istilah Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) direncanakan akan dilakukan secara serempak tanggal 6 dan 7 Juni 1989; sedangkan untuk PTS waktu penyelenggaraannya sangat bervareasi, tetapi pada umumnya dilakukan lebih dari satu gelombang.      Bagaimanakah sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang efektif itu? Marilah kita bersama-sama mencoba untuk menganalisisnya.
MENGHITUNG DAMPAK ALIH FUNGSI SPG
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (94.845 KB)
      Tahun ajaran baru 1989/90 yang sebentar lagi akan kita hadapi bersama nampaknya akan ditandai dengan suatu peristiwa yang cukup monumental: yaitu tamatnya riwayat sekolah pendidik-an guru, SPG. Kalau dalam satu atau dua tahun terakhir ini masih berada dalam proses, maka pada tahun 1989/90 nanti kiranya sejarah SPG benar-benar akan berakhir.      Kalau kita sempat mengadakan perjalanan keliling di negeri tercinta ini maka kita akan menyaksikan papan-papan nama SPG yang "diturunkan", serta diganti dengan papan nama yang baru: SMA atau SMTAK, sekolah menengah tingkat atas kejuruan.      Itu semua merupakan akibat atau konsekuensi logis dari kebijakan Depdikbud tentang alih fungsi sekolah pen didikan guru, sekolah yang telah banyak jasanya di dalam memproduksi guru-guru sekolah dasar.       Tamatnya riwayat SPG memang akan mencegah terjadinya permasalahan pendidikan dasar dan menengah yang kian kompleks, terutama menyangkut semakin melimpahnya angka pengangguran lulusan SPG itu sendiri; akan tetapi bukan berarti bahwa alih fungsi SPG tersebut tidak mempunyai dampak sama sekali terhadap dunia pendidikan di negara kita.
SMP TERBUKA YANG MENJADI PILIHAN (1)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.144 KB)
      Keinginan dan tekad pemerintah untuk melaksanakan wajib belajar SMTP mulai akhir Pelita V nanti nampaknya berdampak positif terhadap upaya-upaya meningkatkan daya tampung SMTP di negara kita yang sampai saat ini angkanya masih relatif rendah, sekitar 70%. Ini berarti bahwa pemerintah (dan masyarakat) baru sanggup menyediakan 70 kursi belajar dari setiap 100 lulusan SD.      Dengan kondisi seperti itu tentunya belum "layak" wajib belajar dicanangkan secara resmi; masalahnya wajib belajar itu sendiri akan membawa resiko.      Apakah resikonya ...? Sewaktu-waktu yang diwajib-belajarkan menuntut sarana dan fasilitas belajar, asal masih di dalam batas-batas yang wajar, maka mau tak mau pemerintah sebagai pihak yang mewajibbelajarkan warganya wajib memenuhi tuntutan itu.      Implikasinya: pemerintah berkewajiban menyediakan sarana dan fasilitas belajar yang memadai terlebih dahulu, termasuk menyediakan kursi belajar di sekolah dalam jumlah yang cukup, sebelum mencanangkan program wajib belajar itu sendiri.
MENGAPA HASIL EBTANAS MENURUN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.402 KB)
      Sudah sekitar tiga empat minggu yang lalu hasil Ebtanas SMTP diumumkan; bahkan hasil penerimaan siswa baru di SMTA yang nota bene menggunakan NEM SMTP pun telah diumumkan pula; tetapi sampai kini masih ada pertanyaan yang belum terjawab secara tuntas, yaitu mengapa hasil Ebtanas siswa SMTP berkecenderungan menurun.      Sebagai ilustrasi NEM yang tertinggi pada siswa SMTP se-kodya Semarang tahun yang lalu mencapai angka di atas 54,00; sementara untuk tahun ini NEM yang tertinggi hanya menunjuk pada angka 52,92. NEM rata-rata sekolah yang tertinggi pun ternyata juga mengalami penurunan. Tahun ini NEM rata-rata sekolah yang tertinggi hanya men capai 42,85; pada hal setahun yang lalu angkanya di atas 43,50.       Sebagai informasi yang lebih lengkap untuk tahun ini ada siswa yang NEM-nya hanya bersikutat di sekitar angka 22,00; sedangkan pada sisi yang lain ada sekolah yang NEM rata-rata siswanya hanya mencapai angka 22,77. Nah ...., dapat kita hitung bersama betapa rendahnya NEM rata-rata untuk setiap mata pelajaran yang diEbtanaskan.      Keadaan seperti tersebut, yang menunjukkan adanya penu-runan pencapaian hasil Ebtanas oleh siswa, ternyata dialami pula oleh banyak daerah lain di wilayah Propinsi Jawa Tengah pada khususnya dan di negara kita pada umumnya. Akhirnya muncullah sebuah pertanyaan yang bernada "evaluatif", mengapa hasil Ebtanas SMTP untuk tahun ini mengalami penurunan?
KERANCUAN PEMAKAIAN INDEKS PRESTASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.751 KB)
Suatu ketika seorang teman lama datang pada kami dengan membawa sebuah keluhan. Apa pasal ..? Konon teman ini sangat tertarik pada program pemerintah untuk mening katkan kualitas tenaga edukatif di perguruan tinggi, PTN maupun PTS, dengan membuka kesempatan bagi para dosen mereka yang berminat untuk mengikuti program pendidikan S2 dan S3 pada fakultas pasca sarjana (FPS) di dalam mau pun di luar negeri. Teman tersebut bersungguh-sungguh ingin mengikuti program pendidikan pada FPS di dalam negeri; tetapi serenta akan mendaftarkan diri sebagai kandidat mahasiswa S2 ternyata harus menerima kenyataan yang "lain". Teman tersebut tidak diperkenankan mendaftarkan diri karena IP atau indeks prestasinya tidak memenuhi persyaratan. Rupanya ada persyaratan tentang angka IP minimal untuk dapat mengikuti belajar pada program S2 di dalam negeri; lepas dari IP tersebut "produksi" dari perguruan tinggi mana atau perguruan tinggi dengan kualifikasi yang bagaimana. Teman tadi memang sempat "protes"; mengapa perguruan tinggi di dalam negeri kita memberikan persyaratan tentang IP minimal bagi siapa saja yang mau melanjutkan pendidikannya pada program S2/S3, sementara kebanyakan perguruan tinggi di luar negeri justru tidak pernah memberikan persyaratan yang serupa? Apakah hal ini berarti bahwa mutu perguruan tinggi kita lebih baik dibandingkan mutu perguruan tinggi di luar negeri pada umumnya?
MENGGALI POTENSI WANITA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.755 KB)
Konon menurut ceriteranya wanita itu makhluk yang lemah lembut; lemah karena tidak perkasa, serta lembut karena tidak garang. Hal ini ternyata ada "tetapi"-nya; yaitu kalau sampai wanita tersebut kehilangan kelemahan dan kelembutannya maka akan menjadi wanita yang perkasa dan "garang"; bahkan keperkasaan serta "kegarangan"-nya akan melebihi kaum pria. Tentunya kita boleh setuju dan boleh pula tidak, pembenaran dari hipotesis tersebut pun masih memerlukan bukti-bukti teoretik dan empirik yang cukup; akan tetapi pendapat kedua pakar dari University of Columbia yang juga diangkat sebagai staf pada 'Columbia Presbyterian Medical Center' yang berkedudukan di New York AS berikut ini kiranya sedikit banyak memberi "dukungan" terhadap hipotesis di atas. Landrum B. and Shettles MD di dalam bukunya "Your Baby's Sex: Now You Can Choose" mengintrodusir sbb: dari hasil penelitian tentang daya tahan terhadap berbagai penyakit, tekanan hidup, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkung-annya, umur, dan sebagainya, telah lama diketahui oleh para ahli bahwa kaum laki-laki justru lebih lemah dibandingkan dengan kaum wanita. Memang laki-laki mempunyai otot yang lebih kekar, tetapi daya tahan untuk tetap hidup justru lebih lemah kalau diban- dingkan dengan wanita. Tentu kita boleh percaya atau boleh tidak percaya terhadap kesimpulan tersebut di atas; akan tetapi bahwa kaum wanita pun mempunyai potensi serta daya juang yang cukup hebat, dan tidak kalah dengan apa yang dimiliki oleh kaum pria, kiranya memang tidak perlu didiskusikan lagi.
SEKOLAH-SEKOLAH YANG HAMPIR "TAMAT"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.981 KB)
Sungguh mengenaskan ......! Itulah kesan pertama terhadap "sekolah-sekolah peralihan" yang pada tahun ajaran baru ini tidak mendapatkan siswa baru dalam jumlah yang memadai. Meskipun tidak seluruh sekolah peralihan mengalami nasib yang buruk, akan tetapi sekolah-sekolah tersebut umumnya belum beruntung dapat "dilabuhi" oleh nasib yang baik. Seperti telah kita ketahui bersama beberapa waktu yang lalu Depdikbud mengambil kebijakan untuk mengadakan refungsionalisasi atau alih fungsi terhadap Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Sekolah Guru Olahraga (SGO). Hal ini terpaksa dilakukan karena adanya kejenuhan lulusan sekolah keguruan tersebut atas kesem-patan kerjanya. Alih fungsi SPG/SGO tersebut dipandang merupakan "the best alternative", meski bukan merupakan "perfect solution". Kiranya hal ini wajar-wajar saja; pilihan yang terbaik memang tidak selalu merupakan jalan keluar yang paling sempurna. Bagian dari ketidaksempurnaan tersebut nampaknya benar-benar dapat dan telah kita "nikmati" bersama saat ini; yaitu dengan banyaknya sekolah-sekolah peralihan yang mengalami kekurangan peminat. Bukan saja siswa baru yang sedikit jumlah-nya, tetapi untuk mengejar "minimum quantity line" saja banyak yang tidak sanggup.
SMP TERBUKA YANG MENJADI PILIHAN (2)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.487 KB)
Salah satu pertanyaan yang cukup sering dilontarkan oleh masyarakat berkisar pada masalah kurikulum yang diaplikasikan pada SMP Terbuka; apakah kurikulumnya sama dengan kurikulum SMP biasa (reguler) ataukah mempunyai kurikulum yang spesifik. Kurikulum yang dipakai oleh SMP Terbuka adalah persis sama dengan kurikulum pada SMP reguler; sedangkan yang berbeda adalah cara menyampaikan kurikulum tersebut kepada anak didik, atau lebih tepat dikatakan perbedaannya terletak pada cara pengajarannya. Kurikulum pada SMP reguler disampaikan secara konvensional (klasikal), sedangkan kurikulum pada SMP Terbuka disampaikan secara nonkonvensional. Para siswa SMP Terbuka tidak dikenakan tatap muka langsung dengan gurunya sebagaimana yang terjadi pada siswa SMP reguler; tetapi mereka bebas belajar menurut waktu luang mereka masing-masing, atau menurut kesepakatan yang terjadi antara dirinya dengan anggota kelompok belajarnya. Apabila dalam satu daerah tertentu terdapat beberapa siswa SMP Terbuka yang tempat tinggalnya saling berdekatan maka kepada mereka dibentuklah kelompok belajar. Setiap 5 s/d 20 anggota kelompok belajar dibimbing oleh seorang guru pembimbing yang tidak harus berkualifikasi penuh sebagai guru SMP. Guru pembimbing merupakan tokoh masyarakat yang dipandang memiliki kemampuan membimbing; misalnya saja mantan guru, guru SD, camat, kepala desa, kepala lurah, mahasiswa, pensiunan ABRI, dan sebagainya.
MENGAPA MAHASISWA KITA BERAKSI ?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (93.112 KB)
Fenomena sosial baru tentang aksi mahasiswa yang berlangsung pada berbagai tempat akhir-akhir ini rupanya benar-benar telah menyita perhatian kita di samping juga mengundang pendapat dari berbagai kalangan; para tokoh politik, ilmuwan, budayawan, anggota DPR, menteri, serta Pangab. Lebih dari itu Presiden Soeharto sendiri nampaknya juga memberikan perhatian yang cukup serius terhadap berbagai aksi mahasiswa tersebut. Kalau beberapa waktu yang lalu Menko Polkam Soedomo menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa yang ditangkap hanya karena alasan mereka melakukan aksi, maka Panglima ABRI Try Soetrisno juga menegaskan bahwa pada dasarnya aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir ini tidak dilarang. Meskipun demikian Panglima ABRI yang juga sebagai Ketua Bakorstanas sempat mengingatkan bahwa sebagai bagian dari bangsa yang besar hendaknya para mahasiswa tidak bertindak "semrawut", dan dalam menyalurkan aspirasi dan partisipasinya pada pembangunan hendaknya mengikuti tatanan peraturan yang ada. Sangatlah simpatik apa yang dikemukakan oleh Pak Try tersebut di atas, karena dari segi "rasa" (afektif) dapat ditangkap sebagai nasehat dari seorang 'bapak' kepada anaknya, bukan sebagai polisi yang hendak menangkap maling yang membandel.