Articles
1,592 Documents
ETIKA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (109.38 KB)
Oleh pimpinan MPR-RI, minggu lalu saya diminta memberikan presentasi dan kontribusi pemikiran di dalam pertemuan Panitya Ad Hoc II; adapun permasalahannya menyangkut etika kehidupan ber-bangsa. Meski bukan pertama kalinya saya memberikan presentasi dan kontribusi pemikiran kepada MPR, utamanya kepada Panitya Ad Hoc II, tetap saja saya merasa terhormat mendapatkan kesempatan seperti itu. Apalagi masalah yang dibahas menyangkut kehidupan di dalam berbangsa (dan bernegara). Di samping saya sendiri memang banyak pakar yang selama ini diakomodasi pemikiran dan gagasan-nya oleh anggota MPR kita. Ada sisi positif terhadap apa yang telah dan sedang dilakukan oleh MPR RI; dengan cara mengundang para nara sumber yang profesional di bidangnya serta mempunyai otorisasi di dalam disiplin ilmu yang ditekuninya maka sudah barang tentu para anggota MPR akan bertambah wawasannya. Dengan demikian produk atau doku-men politik yang dihasilkan akan lebih berbobot. Secara sosiologis hal itu juga dapat diartikan sebagai bagian dari cara untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat luas. Bukan hanya mengandalkan 90 dari 700 anggota MPR yang terpilih duduk dalam Panitya Ad Hoc I dan II saja dalam menjalankan tugas-tugas penyiapan dokumen politik akan tetapi pernik-pernik pemikiran dan gagasan yang ada di masyarakat, utamanya para pakar, pun dapat terakomodasi. Secara psikologis hal itu juga "menenteramkan" hati para pakar dan pemikir kita karena mereka itu memperoleh saluran yang lebih banyak untuk mengkomunikasikan pemikiran dan gagas-an yang dimilikinya.
MENGAMATI SITUASI PERBUKUAN NASIONAL KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (126.467 KB)
Sekitar tiga tahun yang lalu atau tepatnya pada Januari 1995 saya diundang ke Philippina oleh suatu organisasi yang bergerak di bidang pendidikan global dan perdamaian, Peaceful Council and Philippine Global Education (PCPGE). Disamping diminta memberi presentasi di dalam suatu seminar internasional di Manila, saya pun juga diminta untuk mengunjungi pabrik kertas yang ada di Kota Pampangga dekat Quezon City, memerlukan sekitar dua jam perjalan darat dari Manila. Rupanya pimpinan PCPGE ingin menunjukkan pada saya bahwa di Philippina telah memiliki pabrik kertas yang di samping berkapasitas internasional juga sangat memperhatikan lingkungan. Ketika tiba di tujuan saya pun mengakui bahwa pabrik kertas tersebut, namanya Trust International Paper Corporation (TIPCO), memang memiliki sistem kesehatan lingkungan yang baik. Saya dibawa ke suatu kolam besar berisi banyak jenis ikan yang airnya dialirkan dari limbah pa-brik. Oleh "orang pabrik" saya disilakan memancing dan membakar sendiri ikan hasil pancingan tersebut untuk digunakan sebagai "extra fooding" dalam acara santap siang. Selanjutnya dalam pertemuan dengan direksi TIPCO saya tanyakan masa depan pabrik kertas tersebut. Saat itu saya nyatakan bahwa masyarakat dunia sekarang ini, termasuk masyarakat Indonesia serta negara-negara lain di Asia termasuk Philippina sendiri, sedang berada dalam masa transisi dari ketergantungan pada media tulis ke media elektronik khususnya televisi dan komputer. Dengan keadaan seperti itu apakah pabrik-pabrik kertas tidak akan "gulung tikar" nantinya. Jawaban dari direksi ternyata di luar "perhitungan" saya; beliau mengatakan bahwa kemajuan teknologi apapun, termasuk teknologi elektronika selalu diiringi dengan kebutuhan kertas. Kalau hal ini tak diperhitungkan masak-masak maka suatu saat negara Anda pun, mak-sudnya Indonesia, bisa-bisa akan mengalami kekurangan kertas.
MASUKKAN 'PENDIDIKAN SEKS' DALAM KURIKULUM
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (116.681 KB)
Beberapa waktu berselang dr. Wimpie Pangkahila mengadakan penelitian tentang pandangan dan pengalaman seksual remaja di Pulau Bali atau tepatnya di Denpasar dan hasilnya membuat kita cengang: dari 663 responden (lebih banyak dari yang dilakukan di Yogyakarta) ternyata 155 (23,38%) diantaranya pernah melakukan hubungan senggama yang nota bene tentu bukan dengan suami/istrinya oleh karena responden tersebutkan belum bersuami/beristri. Bagi orang-orang suci (tak termasuk 'sok suci') tentunya berita-berita ini amat mengejutkan, tetapi bagi para remaja sendiri...? Mungkin biasa saja.Untuk menjadikan dua buah segitiga agar bisa sama dan sebangun memang belum cukup bila hanya baru sama besar dua buah sudutnya saja, tetapi masih diperlukan satu persyaratan lagi ialah harus memiliki (salah satu) sisi yang sama panjang. Peristiwa yang terjadi di Bali dan di Yogyakarta ialah sebangun (belum sama dan sebangun), sama-sama kegiatan angket seksualitas, sama-sama berlokasi di kota budaya, respondennya sama-sama remaja dan hasilnya sama-sama mengejutkan (?). Akan tetapi prosedurnya ...?Nah, barangkali saja inilah "salah satu sisi" yang dibutuhkan untuk membentuk dua buah segitiga tersebut menjadi sama dan sebangun.
PENDIDIKAN MELAWAN KORUPSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.707 KB)
Korupsi di Indonesia sepertinya bukan lagi bersifat kasus per kasus akan tetapi sudah menjadi budaya disebabkan melanda pada hampir semua orang (dan lembaga) yang mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Iklim korupsi menggelantung pada bangsa Indonesia saat ini. Dengan tanpa menafikan orang-orang yang masih ?lurus?, sepertinya setiap orang ingin memanfaatkan kesempatan untuk berkorupsi. Hasil studi PERC, Political & Economical Risk Consultancy (2004), yang baru saja dipublikasikan ke masyarakat internasional menunjukkan Indonesia sebagai negara yang paling korup di Asia. Negara-negara jiran Filipina dengan skor 8,33 di peringkat ke-4, Malaysia dengan skor 7,33 di peringkat ke-6, Thailand dengan skor 7,33 di peringkat ke-7, dan Singapura dengan skor 0,5 di peringkat paling bawah dari 12 negara yang distudi. Dalam hal ini Indonesia menjadi negara yang paling kotor, sementara itu Singapura menjadi negara yang paling bersih. Apabila kita perhatikan pen- capaian skornya, dengan skor 9,25 terjadinya praktek korupsi di Indonesia nyaris sempurna. Terjadinya praktek korupsi di Indonesia memang sudah sangat parah untuk ukuran normal. Bukan di kalangan masyarakat elite saja korupsi itu terjadi, akan tetapi di masyarakat grass root pun terjadinya praktek korupsi tidak bisa dihindarkan. Praktek korupsi pada masyarakat kelas atas terjadi di bank dan kantor-kantor besar yang penuh dengan uang; sementara itu praktek korupsi pada masyarakat kelas bawah terjadi di kantor-kantor kecil, pasar-pasar tradisional, sampai ke jalan-jalan di luar kota.
RELATIF KECIL, ANGGARAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (104.259 KB)
Pada awal November tahun 1999 yang lalu oleh Ketua Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) saya diminta memberikan presentasi mengenai kinerja pendidikan nasional dalam hubungannya dengan pembangunan manusia di hadapan sidang pleno badan terse-but. Selanjutnya dengan satu paper yang berjudul 'Analisis Human Development Index (HDI) Tahun 1999 United Nations Development Programme (UNDP)' saya presentasikan hasil analisis yang data dasarnya diambil dari laporan UNDP yang paling mutakhir. Sebanyak 174 negara anggota PBB menjadi populasi penelitian kepustakaan ini. Adapun salah satu kesimpulan yang menarik adalah terdapatnya korelasi yang positif antara besarnya anggaran pendidikan suatu negara dengan keberhasilan pembangunan manusia di negara yang bersangkutan. Secara statistik koefisien korelasinya sebesar 0,422 dengan predikat sangat signifikan. Apakah maknanya angka statistik tersebut? Maknanya ialah, secara empirik terbuktikan bahwa secara umum makin tinggi suatu negara mengalokasi anggaran pendidikan maka semakin berhasil ne-gara tersebut dalam menjalankan program pembangunan manusianya; sebaliknya makin rendah suatu negara mengalokasi anggaran pendidikan maka semakin gagal negara tersebut dalam menjalankan pro-gram pembangunan manusianya. Ilustrasi konkritnya bisa dilihat pada sepuluh negara terbaik dalam hal pembangunan manusia seperti Canada, Norwegia, Amerika Serikat, Swedia, Belanda, Inggris, dan Australia yang masing-ma-sing telah mengalokasi anggaran pendidikan di atas 5 persen dari GNP. Demikian pula yang sebaliknya, sepuluh negara terjelek dalam hal pembangunan manusia seperti Mali, Eritrea, Burundi, dan Burkina Faso ternyata masing-masing mengalokasi anggaran pendidikan kurang 4 persen dari GNP. Bahkan Mali dan Eritrea masing-masing hanya mengalokasi anggaran pendidikan sebesar 2,2 dan 1,8 persen dari GNP.
APAKAH MASIH PERLU MEMBANGUN SMA ?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (139.539 KB)
Apakah masih perlu membangun SMA? Pertanyaan ini kembali menjadi aktual setelah kita menikmati keterangan pemerintah tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 1990/91 yang disampaikan oleh Presiden RI Soeharto, di depan sidang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada tanggal 4 Januari 1990 yang lalu. Di dalam bagian dari pidatonya yang diperhatikan oleh banyak pengamat itu Presiden RI Soeharto mengemukakan bahwa sektor pendidikan masih mendapatkan prioritas; dan sebagian dari anggaran yang dialokasikan bagi sektor pendidikan akan digunakan untuk membangun lebih dari 470 SMP dan lebih dari 180 SMA. Bagi para pengamat pendidikan kiranya "statement" tersebut cukuplah menarik; terutama tentang rencana pemerintah untuk membangun (gedung-gedung) SMA (baru).
LPPH: TEMPAT GURU MENGELUH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (414.423 KB)
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke-50, 25 November 1995, kali ini barangkali agak istimewa daripada peringatan di tahun-tahun yang sebelumnya. Bukan saja peringatan kali ini yang dipusatkan di Solo Jawa Tengah (rencananya) dihadiri oleh Presiden RI, Bapak Soeharto, tetapi dalam kesempatan ini akan diresmikan terbentuknya Lembaga Pembinaan dan Pelayanan Hukum (LPPH) bagi para guru. Lembaga baru yang sengaja dipublikasi bertepatan dengan PGRI yang memasuki usia setengah abad tersebut konon nantinya akan dan dapat menampung berbagai keluhan guru; dan sedapat mungkin akan membantu menyelesaikan masalah. Kalau ada guru yang merasa diru-gikan atau diperlakukan tidak adil mereka dapat mengeluh dan minta bantuan pada LPPH. Istilah Pak Rusli Yunus selaku Wakil Sekretaris Jenderal PGRI bila nanti ada guru yang merasa dijahili oleh pengurus yayasan atau dihambat oleh birokrasi dapat mengadukan persoalannya ke LPPH PGRI. Konon LPPH memang disiapkan untuk membantu guru, tentunya para guru yang menjadi anggota PGRI. Kiranya perlu dicatat bahwa tidak semua guru (wajib) menjadi anggota PGRI. Di dalam realitasnya hanya guru SD yang mendominasi keanggotaan PGRI sehingga konon sekitar 85% anggota PGRI adalah guru SD; meskipun demikian PGRI tetap merupakan organisasi profesi di Indonesia dengan jumlah anggota yang paling banyak.
MENYIAPKAN MASYARAKAT MENELITI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.319 KB)
Kemajuan suatu bangsa dapat ditolok-ukuri dengan kebiasaan dan budaya masyarakatnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang masyarakatnya mempunyai kebiasaan dan budaya yang komunikatif, inovatif, dan terbuka terhadap budaya "manca" meskipun tidak semua budaya "manca" yang datang pasti diterimanya. Apabila dilihat dari dimensi kebiasaan dan budaya maka terdapat empat kelompok masyarakat yang memberikan cerminan terhadap kemajuan bangsanya; masing-masing adalah masyarakat tradisional, masyarakat membaca, masyarakat menulis, dan masyarakat meneliti. Di dalam masyarakat tradisional maka kebiasaan membaca, menulis dan meneliti tidak nampak sama sekali. Jadi meskipun ada sekelompok orang yang sebenarnya sudah dapat membaca dan menulis, akan tetapi karena mereka tidak pernah membaca, menulis dan meneliti, maka tidaklah terlalu salah mendudukkan kelompok orang tersebut dalam kelompok masyarakat tradisional. Dalam dunia perguruan tinggi ada "joke": terhadap dosen yang tidak memiliki kebiasaan membaca, menulis dan apalagi meneliti, maka kepadanya dihadiahi gelar sebagai "dosen tradisional".
NAMA SEKOLAH KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.663 KB)
Di Yogyakarta baru saja terjadi kasus unjuk rasa yang agak tidak biasa; sejumlah siswa sekolah menengah kejuruan melakukan "protes" atas penggantian nama sekolahnya. Pada kasus ini para siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) menyatakan amat berkeberatan dengan digantinya nama sekolah menjadi Sekolah Menengah Seni dan Keju- ruan (SMSK). Menurutnya SMSR memiliki kekhasan tersendiri kalau dibandingkan dengan SMSK; pada sisi yang lain dengan SMSR maka masa depannya lebih jelas, utamanya masa depan yang berhubungan dengan bidang seni rupa yang ditekuninya. Unjuk rasa tersebut memang tidak biasa dikarenakan para siswa sekolah menengah sudah mampu mengantisipasi masa depan dengan mengaitkan kekhasan dan nama sekolahnya. Lepas dari tepat dan tidak tepatnya metode unjuk rasa tersebut maka kasus tersebut juga dapat menandakan adanya kepedulian para siswa terhadap sekolah, sehingga "hanya" masalah nama saja menjadi bahan unjuk rasa. Yang lebih menarik lagi adalah bahwa masalah nama sekolah kejuruan tersebut akhirnya sampai kepada anggota DPR pada propinsi setempat. Lebih daripada itu kasus tersebut juga makin hangat dengan adanya aksi solidaritas dari para mahasiswa seni; mereka berpendapat bahwa apa yang diperjuangkan oleh siswa SMSR tersebut memang benar adanya, dalam arti nama SMSR hendaknya tetap dipertahankan tanpa harus menggantikannya dengan SMSK. Kalau berbagai media massa, lokal dan nasional, memberitakan secara luas hal itu menandakan adanya unsur ketidak-biasaan dalam kasus tersebut.
ANGGARAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TAK SEIMBANG
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.22 KB)
Dalam pidato kenegaraan tanggal 15 Agustus 2008 yang lalu Presiden SBY mengemukakan bahwa untuk tahun anggaran 2009, di tengah-tengah krisis harga minyak dan pangan dunia yang berdampak pada perekonomian Indonesia, kita telah bisa memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Lalu berapa nilai konkret anggaran pendidikan kita? Mudah dihitung! Untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, pendapatan negara serta belanja negara dalam RAPBN 2009 mencapai angka di atas 1.000 triliun rupiah; dengan demikian besarnya anggaran pendidikan setidak-tidaknya mencapai 200 triliun rupiah. Angka ini diperoleh dari 20 persen terhadap 1.000 triliun rupiah. Pada sisi yang lainnya Presiden SBY juga menyatakan anggaran fungsi kesehatan pun meningkat tajam, hampir tiga kali lipat, dari Rp 5,8 triliun rupiah pada tahun 2005, menjadi sekitar Rp 16 triliun rupiah pada tahun 2008. Selanjutnya secara implisit presiden memberi harapan akan naiknya anggaran kesehatan kita. Kenaikan anggaran pendidikan dan anggaran kesehatan sudah barang tentu sangat konstruktif; masalahnya sebandingkah besarnya anggaran pen-didikan di atas 200 triliun rupiah dengan besarnya anggaran kesehatan yang hanya sekitar sepersepuluhnya?