cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
PENDIDIKAN PADA MILENIUM KE-3 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.419 KB)

Abstract

       Pertemuan penting  kalangan pengembang pendidikan swasta di negara-negara Asia Pasifik baru-baru ini dilaksanakan di Manila, Philippina melalui forum Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE).  Ada dua agenda penting di dalam pertemuan ini; masing-masing ialah pertemuan pimpinan (board meeting) yang diikuti oleh 13 orang dan kongres ke-21 yang diikuti oleh sekitar 300 orang.      Dalam tradisi PAPE memang sudah dibiasakan adanya kongres tahunan yang dilaksanakan secara bergiliran di masing-masing ne-gara anggota. Kalau tahun ini diselenggarakan di Manila, Philippina maka tahun sebelumnya kongres dilaksanakan di Seoul, Korea; dan tahun depan akan dilaksanakan di Hawai, Amerika Serikat (AS). Di dalam kongres tahunan ini  dibahas persoalan-persoalan pendidikan yang berkembang,  baik yang berskala internasional maupun yang berskala regional, khususnya di kawasan Asia Pasifik.       Kongres ke-21  menampilkan "kata-kata kunci"  dari seorang pakar pendidikan bernama Bro. Andrew Gonzalez, FSC; di samping sekretaris Departemen Pendidikan Philippina,  dia adalah Presiden Asosiasi Universitas-Universitas Katholik di Asia. Dalam kongres ini juga ditampilkan presentasi dari nara sumber lain di luar Philippina antara lain dari Indonesia.  Oleh panitia saya diminta membawakan makalah dengan judul "The National Education Performance for Sus-tainable Development in The Third Millennium".       Setidak-tidaknya ada tiga permasalahan yang berkembang di dalam kongres ke-21;  masing-masing adalah tuntutan pendidikan di Milenium Ke-3, kinerja pendidikan yang bervariasi di negara-negara anggota PAPE,  serta peran pendidikan swasta di dalam membangun kinerja pendidikan di masing-masing negara.
HIRUK PIKUK PENDIDIKAN TINGGI DI TAHUN 1992 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.885 KB)

Abstract

       Berita gembira telah membuka lembaran pendidikan tahun 1992; yaitu berita tentang naiknya anggaran sektor pendidikan. Dalam menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tanggal 6 Januari 1992 di hadapan sidang DPR maka Presiden Soeharto menyatakan adanya kenaikan anggaran untuk sektor pendidikan.          Dalam bagian pidatonya tersebut Presiden menyata-kan bahwa sektor pendidikan tetap mendapatkan prioritas. Ini memang benar karena sejak beberapa tahun sebelumnya sektor pendidikan juga selalu mendapatkan prioritas. Se-jak tahun 1989/1990 s/d 1991/1992  RAPBN kita senantiasa menempatkan  sektor pendidikan dalam kelompok  "the best three" untuk soal jumlah dana. Pada RAPBN 1992/1993 yang dikomunikasikan presiden di awal tahun 1992 tersebut maka sektor pendidikan dengan alokasi dana lebih dari Rp 3,0 trilyun kembali masuk dalam kelompok tersebut.          Apabila dibandingkan dengan besarnya alokasi dana dalam RAPBN satu tahun sebelumnya yang jumlahnya "hanya" sekitar Rp 2,50 trilyun maka sektor pendidikan tahun ini memang  mengalami kenaikan anggaran yang sangat berarti.  Kenaikan ini bukan saja meningkatkan nilai rupiah untuk melaksanakan pembangunan pendidikan, tetapi kenaikan ini membuktikan betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan di bidang pendidikan.
RIBA DALAM BERBAGAI AGAMA (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.16 KB)

Abstract

 Mengenai Perjanjian Lama, tiga referensi mengenai riba berasal dari Pentateuch (lima kitab pertama dari Kitab Injil), Hukum Musa, Mazmur, dan dihubungkan dengan Daud. Menurut urutan historisnya, tiga referensi itu adalah :   Jika engkau meminjamkan uang kepada siapa saja dari umatku yang miskin, janganlah engkau menjadi pemungut riba (usury) baginya, jangan jika engkau membebankan riba padanya. (Eksodus 22:25)   Dan jika saudaramu bertambah miskin, dan hancur karenamu; maka engkau harus membebaskannya: ya, meskipun ia orang tak dikenal, atau orang yang singgah; agar ia bisa hidup karenamu. Jangan memungut riba darinya, atau tambahan: melainkan takutlah kepada Tuhanmu; sehingga saudaramu bisa hidup karenamu. Janganlah engkau memberinya uang dengan riba, dan jangan juga meminjaminya makanan-makanan untuk mendapatkan tambahan (Letivikus 25:35-7).   Janganlah engkau meminjamkan dengan riba kepada saudaramu; riba dari uang, riba dari makanan, riba dari apa pun yang dipinjamkan berdasarkan riba: Kepada orang yang tidak dikenal engkau boleh meminjamkan dengan riba; tapi kepada saudaramu engkau tidak boleh meminjamkan dengan riba (Ulangan 23:19-20).   Tuhan, siapa yang akan tinggal dalam tempat peribadatanmu, siapa yang akan berdiam di bukit kudusmu? Dialah orang yang tidak membungakan uangnya, tidak juga meminta imbalan atas orang yang tidak berdosa. Orang yang melakukan ini tidak akan pernah dipindahkan. (Mazmur 15:1,5).   Dalam Eksodus dan Ulangan, istilah Alkitab (bahasa Yahudi) untuk bunga neshekh, meskipun dalam Letivikus istilah neshekh muncul bersama dengan tarbit atau marbit. Dalam Encyclopedia Judaica dikatakan bahwa neshekh, yang artinya ?gigitan?, adalah istilah yang digunakan untuk permintaan bunga dari sudut pandang debitur, dan tarbit atau marbit, yang artinya ?tambahan? adalah istilah yang digunakan untuk perolehan bunga oleh kreditur (Cohn, 1971:28). Namun dalam kedua arti itu nampak bahwa pelarangan atas bunga bukanlah pelarangan atas riba (usury) dalam pengertian masa kini dari istilah tersebut, yaitu, bunga yang berlebihan, melainkan pelarangan terhadap semua bunga, meskipun sedikit. Cohn menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan dalam hukum di antara berbagai macam tingkat bunga, karena semua bunga dilarang (Lewis and Algaoud, 2001:269). Tiga segi lainnya dari perintah Musa adalah: Pertama, paling tidak dalam dua hal, pelarangan riba dikaitkan dengan pinjaman untuk kemiskinan dan pinjaman untuk konsumsi (kemungkinan merupakan bentuk pinjaman yang paling banyak pada masa itu). Kedua, dua dari pasal-pasal itu memperluas pelarangan sampai pada setiap bentuk pinjaman, tidak hanya uang, termasuk makanan (pinjaman makanan) yang diberikan untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu perjanjian bersyarat bisa dianggap sebagai perjanjian ribawi. Ketiga, tiga segi itu semuanya menjelaskan bahwa pelarangan tersebut menunjuk kepada pinjaman terhadap ?saudara?, yaitu sesama anggota suku atau penganut agama yang sama. Membebankan bunga kepada ?orang asing? dibolehkan. Dengan demikian, kaum Yahudi membolehkan penarikan bunga dari non-Yahudi, dan kaum Kristen membebankan bunga pada kaum ?Saracen? (sebutan untuk bangsa Arab dan, lebih luas lagi, kaum muslim pada umumnya pada Abad Pertengahan)  
DARI JEPANG KE NEGARA-NEGARA PASIFIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.262 KB)

Abstract

       Seandainya saja "Bali Post" dapat memuat artikel ini dalam kurun waktu antara tanggal 18 s/d 21 September 1992 maka di Kuala Lumpur, Malaysia, masih berlangsung pertemuan penting yang melibatkan para pakar pendidikan dari negara-negara Pasifik; yaitu XIV'th Congress of Pan Pacific Association of Private School Education (PAPE). Pertemuan ini diikuti oleh delegasi negara-negara anggotanya; Jepang, Canada, Amerika Serikat (AS), New Zealand, Taiwan, Thailand, Malaysia. Indonesia juga mengirimkan delegasinya ke dalam forum pendidikan di tingkat internasional itu; kebetulan saya pun diminta berpartisipasi dalam pertemuan yang memang saya minati itu.          Konggres PAPE diselenggarakan setiap tahun dengan mengambil tempat secara berganti-ganti; misalnya dua tahun lalu Indonesia mendapat giliran, setahun kemudiannya adalah Canada, dan sekarang ini di malaysia.          Secara empirik saya memiliki semacam kenangan de-ngan forum-forum yang diprakarsai PAPE.  Memang, bertemu dengan teman-teman pakar, praktisi serta birokrat pendi-dikan dari berbagai negara yang tergabung di bawah panji PAPE sangat mengasyikkan;  kita dapat membagi pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan baru tentang pendidikan,ter-utama pengalaman dan pengetahuan pendidikan di negaranya masing-masing.Bergeraknya pengetahuan dan teknologi yang melaju dengan sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir ini  menyebabkan kita tak pernah kering dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan baru di bidang pendidikan.
PASAR NAZAT Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setelah selesai dari Mina, selanjutnya pasar diadakan di Nazat yang terletak di wilayah Khaibar diadadakan mulai pada sepuluh sampai akhir bulan Muharram.  Pada abad ke tujuh masehi, Khaibar merupakan sebuah daerah yang subur ditengah-tengah gurun, di situ terdapat air (oase) dengan berbagai perkebunan dan pepohonan kurma terletak sekitar 150 km sebelah utara Medinah (dahulu Yatsrib) Saudi Arabia.  Pada saat itu perjalanan dari Medinah sampai Khaibar dibutuhkan waktu selama tiga hari. Penduduknya adalah orang-orang Yahudi yang mempelopori pemberdayaan oase dan menjadikan hidup mereka berkembang dari hasil tanaman kurma, maupun dari bisnis dan kerajinan yang secara keseluruhan menjadikan hidup mereka sejahtera. Nazat salah dari wilayah Khaibar, disamping wilayah Syaqq dan Katibah. Masing-masing wilayah tersebut dipisahkan secara alami, misalnya wilayah gurun, wilayah aliran lava dan wilayah rawa. Disamping itu, tiap-tiap wilayah tersebut terdapat benteng-benteng yang di dalamnya terdapat pertokoan, perumahan dan kandang-kandang. Masing-masing benteng dihuni oleh keluarga-keluarga secara terpisah dan dikelilingi oleh ladang yang mereka berdayakan dan pohon palem serta kuburan. Agar benteng tersebut mempunyai kemampuan untuk bertahan lebih baik, maka dibuat di atas bukit dengan dasar bangunan dari batu. Di wilayah Nazat terdapat benteng Na?im, Sha?ab, Katabiyyah dan Buqlah. Di wilayah Syaqq dapat ditemukan benteng Ubay dan Bari. Sedangkan di wilayah Katibah mencakup benteng Qumush, Wathih dan Salalim. Ketika pasukan Muslim memasuki kota Khaibar, pasukan Muslim menemukan senjata perang, 20 bal pakaian Yaman dan 500 mantel yang menunjukkan bisnis yang dilakukan oleh orang Yahudi. Pendapat dari para ahli senjata perang tersebut dapat berupa pedang, tombak, perisai atau senjata lain yang dijual orang Yahudi kepada orang Arab. Demikian pula pakaian dan mantel oleh orang Yahudi dimaksudkan untuk dijual, tidak dimungkinkan dalam jumlah besar sebagai barang mewah untuk digunakan sendiri secara eksklusif. Setelah benteng terkepung selama 14 hari dan mereka meyakini tidak akan menang dalam pertempuran, maka putra pemimpin mereka, Ibnu Abi Al-Haqiq menghadap Rasulullah s.a.w. mengajukan tawaran damai dan meminta Rasulullah s.a.w. menjamin keselamatan penduduk setempat. Sebagai imbalannya, kaum Islam dipersilakan mengambil tanah, harta benda, perhiasan dan seluruh binatang ternak yang ada. Rasulullah s.a.w. kemudian menerima tawaran tersebut. Khaibar ditundukkan Islam pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriah yang bertepatan dengan bulan Agustus 628 M.
MENIMBANG NASIB DAN WIBAWA GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.079 KB)

Abstract

Barangkali tidak ada yang tidak sependapat untuk menyatakan bahwa sekarang ini tengah terjadi pergeseran persepsi terhadap profesi guru secara evolutif; perlahan tetapi terus berproses. Terjadinya pergeseran persepsi ini dikarenakan adanya hubungan resiprokal antara persepsi itu sendiri di satu pihak dengan perilaku guru di ma-syarakat pada pihak yang lain. Profesi guru, yang tempo dulu pernah didudukkan pada strata singgasana oleh masyarakat, sekarang ini nampaknya sudah tidak lagi. Tempo dulu para guru sepertinya bukan menjadi kelompok biasa di dalam masyarakat, dalam konotasi yang positif, sebab memiliki status sosial yang benar-benar terhormat. Di berbagai tempat guru dianggap sebagai "sesepuh", tempat mana masyarakat memercayakan sebagai tumpahan berbagai persoalan sosial untuk mencari solusinya. Begitu konstruktifnya persepsi masyarakat ter hadap profesi guru maka seandainya di negara kita, waktu itu, diadakan survei tentang tokoh nonformal di masyara-kat (nonformal leader) maka hampir bisa dipastikan bahwa guru akan menjadi kelompok dominan dalam respondennya. Itulah gambaran guru tempo dulu, yang barangkali sekarang ini tinggal menjadi kenangan manis. Apakah saat ini gambaran guru tersebut telah mengalami transformasi? Barangkali ada benarnya! Meski guru tetap saja menjadi "pahlawan tanpa tanda jasa" akan tetapi persepsi masyara kat terhadapnya tidak lagi sekonstruktif dulu; meskipun juga jangan diinterpretasi sebagai persepsi destruktif.
PENDIDIKAN UNTUK BANGSA SELATAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.355 KB)

Abstract

       Beberapa hari lalu masyarakat dunia, khususnya masyarakat Afrika,  kehilangan salah seorang negarawan dan tokoh pendidikan yang sangat disegani dan dihormati.  Dia adalah  Julius Kambarage Nyerere, atau yang oleh masyarakat dunia dikenal dengan Nyerere. Namanya sangat populer tidak saja di negara-negara dunia ketiga pada khususnya, dan juga di negara-negara Afrika pada khususnya lagi, akan tetapi juga sangat populer di negara-negara maju pada umumnya.       Di samping berhasil mengantar Tanzania untuk menjadi suatu negara Merdeka dari jajahan Inggris pada tahun 1961 sehingga oleh rakyatnya disebut Bapak Bangsa, Nyerere yang antiimperalisme itu juga aktif di berbagai organisasi internasional; diantaranya sebagai pendiri dan aktivis  Organization for African Unity (OAU), "Forum Peduli Pendidikan Negara-Negara Selatan"  atau  South Commission,  Persatuan dan Penghormatan Hak Azasi Manusia, dan sebagainya.       Nyerere juga seorang tokoh pendidikan yang secara sistematis mengkomunikasikan konsep-konsepnya  untuk memajukan bangsa yang tertinggal. Dalam bukunya yang berjudul "Education for Self-Relience" (1978)  kentara sekali keinginan dari sang penulis  untuk menyadarkan bangsanya agar dapat menyadari kekurangannya dalam banyak hal.  Dan kekurangan itu hanyalah dapat diperbaiki melalui pendidikan sebab tanpa pendidikan maka masyarakat Tanzania pada khususnya dan bangsa Afrika pada umumnya akan makin tertinggal dari negara-negara lain yang lebih maju. Di samping disebut Bapak Bangsa,  Nyerere juga disebut dengan Mwalimu yang  berarti Sang Guru.  Karena kredibilitasnya beliau pernah didaulat untuk memimpin Forum Peduli Pendidikan Negara-Negara Selatan.
KEPEMIMPINAN VISIONER PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.515 KB)

Abstract

         Sudah merupakan rahasia umum  mengenai rendahnya kinerja pendidikan nasional kita.  Bukan karena hasil studi PERC, Political and Economical Risk Consultancy (2000)  menempatkan Indonesia di ranking ke-12 dari 12 negara di Asia  berdasarkan solidnya kinerja pendidikan; tetapi dari berbagai tolok ukur yang diterima masyarakat internasional memang menunjukkan buruknya kinerja pendidikan kita,  katakanlah antara lain dengan indeks pembangunan manusia, daya saing ekonomi, diterimanya lulusan pendidikan di pasar global dan sebagainya.          Rendahnya kinerja pendidikan nasional tersebut  tidak lepas dari visi kepemimpinan kolektif pemerintah,  baik pemerintah pusat maupun daerah.  Sangat ironis, negara Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam  baik yang sudah tergali dan termanfaatkan maupun yang belum tergali dan termanfaatkan  kurang memiliki pemimpin atau negarawan  yang mempunyai visi kepemimpinan jauh ke depan untuk memajukan bangsa.          Keadaan tersebut di atas bukan saja dialami sekarang,  akan tetapi sudah dirasakan  sejak bertahun-tahun yang lalu ketika kon-disi ekonomi dan politik tidak sekompleks saat ini.          Para petinggi pemerintah kita ternyata cenderung disibukkan oleh masalah-masalah instan  serta terlena pada persoalan-persoalan yang berjangka pendek sehingga kurang mampu memecahkan permasalahan bangsa di dalam jangka panjang ke depan. Sampai sekarang kita tidak dapat menggambarkan  bagaimana profil bangsa Indonesia seperempat abad  ke depan  dikarenakan  para petinggi pemerintah memang tidak memiliki desain perencanaan yang matang.
MENGAPA MAHASISWA KITA BERAKSI ? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.112 KB)

Abstract

       Fenomena sosial baru tentang aksi mahasiswa yang berlangsung pada berbagai tempat akhir-akhir ini rupanya benar-benar telah menyita perhatian kita di samping juga mengundang pendapat dari berbagai kalangan;  para tokoh politik, ilmuwan, budayawan, anggota DPR, menteri, serta Pangab. Lebih dari itu Presiden Soeharto sendiri nampaknya juga memberikan perhatian yang cukup serius terhadap berbagai aksi mahasiswa tersebut.       Kalau beberapa waktu yang lalu Menko Polkam Soedomo menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa yang ditangkap hanya karena alasan mereka melakukan aksi, maka Panglima ABRI Try Soetrisno  juga menegaskan bahwa pada dasarnya aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir ini tidak dilarang.       Meskipun demikian Panglima ABRI yang juga sebagai Ketua Bakorstanas sempat mengingatkan bahwa sebagai bagian dari bangsa yang besar hendaknya para mahasiswa tidak bertindak "semrawut", dan dalam menyalurkan aspirasi dan partisipasinya  pada pembangunan hendaknya mengikuti tatanan peraturan yang ada.       Sangatlah simpatik apa yang dikemukakan oleh Pak Try tersebut di atas,  karena dari segi "rasa" (afektif) dapat ditangkap sebagai nasehat dari seorang 'bapak' kepada anaknya, bukan sebagai polisi yang hendak menangkap maling yang membandel.
BISNIS KAUM TSAMUD (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaum Tsamud merupakan orang Arab kuno, baik sebagai suku atau kelompok yang hidup dari 2300 SM sampai 200 SM. Meskipun kaum Tsamud kemungkinan berasal dari Arab Selatan, sekelompok besar rupa-rupanya berpindah menuju ke utara pada awal tahun tersebut, secara tradisional menempati lereng Gunung Athlab. Hasil temuan dari para arkeolog, sejumlah batu karang dari hasil budaya kaum Tsamud tidak hanya di temukan di Gunung Athlab, tetapi juga di seluruh Arab Tengah.  Berdasarkan sumber Al-Qur?an, Catatan orang Assyiria dan prasasti di candi Yunani dari Barat Laut Hijaz pada 169 Masehi. Sumber sejarah menyatakan bahwa orang yang disebut Tsamud sungguh-sungguh ada. Komunitas al-Hijr dimuat di dalam Al-Qur?an dianggap sama dengan orang Thamud. Nama lain orang Thamud adalah Ashab al-Hijr. Maka, kata ?Tsamud? merupakan nama orang atau kaum, sementara kota al-Hijr merupakan satu dari kota yang didirikan oleh orang ini. Penjelasan ahli geografi Yunani, Pliny sepakat dengan pendapat ini. Pliny menulis bahwa Domatha dan Hegra (Hijr) berlokasi di tempat tinggal Thamud dan kemudian membuat kota Hijr yang sekarang ini. Hijr merupakan jalur utama perdagangan, karena pada 1900 SM sampai 200 SM berhubungan dagang dengan kaum Nabasia. Produk utama kaum Tsamud adalah barang pecah belah (tembikar) yang unik, berkualitas tinggi dan mempunyai seni yang tinggi serta mempunyai kemampuan berproduksi dalam jumlah yang besar. Produk yang diperdagangkan kaum Tsamud antara lain kemenyan, myrrh dan rempah-rempah dari Arab Selatan. Dari hasil perdagangan tersebut memberikan kekayaan, sehingga memungkinkan mereka membangun istana, rumah yang dipahat dan makam pada batu karang. Kota tersebut berada 347 km di sebelah utara Medinah. Pada sekitar 200 SM, kaum Nabasia menggantikan kaum Tsamud menguasai kota Dedan (Al Ula) sampai Al Hijr (Madain Saleh). Situs arkeologi penting ditemukan di kota Al Ula yang telah dihuni sampai 1970, yang merupakan sebuah percontohan kota Islam yang dikenali kembali pada abad ke-11 Masehi. Khuraibah merupakan sebuah situs Kerajaan Lihyanite, yang terdapat sejumlah besar makam. Ditemukan pula, Ikmah yang merupakan sebuah sungai (wadi) pada batunya memuat prasasti Lihyanite dan Minea. Al Mabiyat yang merupakan bangunan sebuah kota Islam yang luas yang telah digali  dan memang benar Al Hijr merupakan kota kematian. Juga ditemukan peninggalan Jalam Kereta Api Hijaz yang digunakan untuk mengangkut jamaah haji dari Damaskus ke Medinah. Al Hijr merupakan lembah tempat kaum Tsamud mengambil air pegunungan Madain Saleh, sehingga kota ini dikenal pula dengan sebutan Madain Saleh (kota Nabi Saleh). Dataran tingginya terhampar lembah Al-Qura dengan aliran airnya melewati al?Ula yang berjarak 25 km dari arah utara. Sumber paling kuno yang terkenal yang meberi referensi terhadap Thamud adalah sejarah kemanangan Raja Babilonia, Sargon II (abad ke-8 SM),  yang menundukkan orang Thamud di Arab Utara. Yunani juga memberi referensi bahwa orang ini sebagai ?Tamudaei? atau Thamud dalam tulisan Aristpteles, Ptolomeus dan Pliny.             Kaum Tsamud hidup pada masa Nabi Saleh dan kaum Tsamud sebagai penyembah berhala dan menjadi pemakmur bumi dengan melakukan perdagangan. Kemudian Allah SWT mengutus Nabi Saleh untuk menyembah Allah kepada mereka. Dalam Al Qur?an surat Al A?raaf ayat 73 : Dan (Kami telah mengutus), kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata ?Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan pedih. Dalam surat Huud ayat 61-62 :  Dan kepada kaum Tsamud (Kami telah mengutus) saudara mereka, Saleh. Ia berkata ?Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do?a hamba-Nya).

Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SURYA POS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue