cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
DILEMA "MUATAN LOKAL" DALAM KURIKULUM Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.802 KB)

Abstract

       Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Fuad Hassan, baru-baru ini mengkomunikasikan gagasannya untuk mengembangkan potensi masing-masing daerah yang akan dimanifestasikan menjadi "muatan lokal" dalam kurikulum.       Yang dimaksud dengan "muatan lokal" ialah merupakan kelompok mata pelajaran dalam struktur kurikulum yang oleh suatu daerah dianggap sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat.  Dengan demikian para pelajar dari masing-masing daerah akan mempunyai kesempatan yang terstruktur dan terorganisir dalam mempelajari potensi daerahnya.       Lebih lanjut Mendikbud memberikan ilustrasi pelajar di Bali akan menerima kurikulum tentang seni ukir, pelajar di daerah yang potensi utamanya adalah perikanan juga akan menerima kurikulum yang mempelajari masalah-masalah perikanan, dsb.       Sasaran dari gagasan ini adalah siswa sekolah dasar dan menengah, di seluruh tanah air tentunya.  Sementara realisasinya akan dimulai pada awal tahun Pelita Kelima yang akan datang.
BP3 BUKAN BADAN PEMERAS PESERTA PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.879 KB)

Abstract

       Seorang bupati kepala daerah  di Jawa baru-baru ini  menyatakan himbauannya agar para pengurus BP3 di sekolah-sekolah (negeri) hen-daknya hati-hati dan bersikap arif dalam menentukan sumbangan yang dikenakan pada para orang tua siswa (baru).  Sumbangan, maksudnya sumbangan pendidikan atau yang oleh masyarakat kita lebih dikenal dengan istilah "uang BP3",  tersebut hendaknya jangan memberatkan orang tua siswa.       Himbauan Pak Bupati tersebut kiranya cukup tepat dan mengena; rupanya beliau mengerti benar tentang keluhan-keluhan yang dihadapi oleh warganya. Seperti kita ketahui sudah menjadi semacam tradisi pada bulan-bulan awal tahun ajaran baru seperti sekarang ini banyak orang tua siswa yang mengeluhkan besarnya sumbangan pendidikan yang ditarik oleh pengurus BP3.  Banyak orang tua yang merasa berat untuk membayar sumbangan pendidikan tersebut; sama beratnya kalau dia harus menolak membayar sumbangan yang sudah ditentukan oleh para pengurusnya.       Sumbangan pendidikan  (ditarik oleh pengurus BP3)  yang besar-nya hampir senantiasa lebih besar daripada uang sekolah  (ditarik oleh pengurus sekolah) terkadang menimbulkan persepsi keliru di kalangan orang tua siswa atas keberadaan badan itu sendiri.  Badan yang diben-tuk secara legal oleh kepala sekolah ini kemudian dipersepsi sebagai kepanjangan tangan sekolah dalam hal kutip mengutip dana. Badan ini dipersepsi sebagai upaya legitimasi dari pihak sekolah untuk mengutip dan mengeruk dana dari masyarakat, khususnya dari orang tua.       Itulah sebabnya di masyarakat seringkali muncul sinisme  tentang eksistensi BP3; misalnya BP3 yang sesungguhnya akronim dari Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan lalu dikepanjangkan secara salah menjadi Biro Penyantun Pelaksanaan Pendidikan, Badan Pembina Pelaksana Pendidikan, Badan Pemeras Peserta Pendidikan, dsb.
BELAJAR KECERDASAN SPIRITUAL DARI TUKANG KAYU (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.423 KB)

Abstract

 Kita telah belajar banyak dari tukang kayu dalam menjalani hidup, terutama dalam menyikapi anaknya yang menderita autis. Kita telah belajar bagaimana tukang kayu memandang anak sebagai titipan Tuhan yang tidak bisa ditukar dengan yang anak yang lain dan berusaha menjaga titipan Tuhan tersebut dengan baik. Kita juga telah belajar bagaimana tukang kayu tersebut menjalani hidupnya dengan penuh kesabaran, ketabahan dan penuh kasih sayang dalam mendapingi, mendidik dan mengobati anaknya dengan harapan anaknya sembuh di kemudian hari. Doa ia lantunkan setiap hari kepada Allah, karena Allah yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit, tetapi hingga kini anak itu belum diberikan kesembuhan. Kisah tukang kayu tersebut mengingatkan saya kepada kawan saya yang juga mempunyai anak yang menderita autis. Kawan tersebut tiba-tiba berkunjung ke kantor saya. Setelah dipersilakan masuk oleh sekretaris saya, ia mengucapkan salam kepada saya dan sayapun membalas salam tersebut. Kemudian saya berjabat tangan dengannya.  Saya mempersilakan duduk dan menanyakan kabar keluarganya. Ia menjawab seperti biasanya baik-baik saja. Ia mengemukakan keinginannya untuk mengundang saya mengisi seminar Entrepreneurship di kampusnya. Ia telah membaca buku saya yang sederhana dengan judul SMART IN Entrepreneur : Belajar dari Pengusaha Top Dunia., yang memotivasinya untuk menjadi pengusaha dan ingin menularkan kepada mahasiswanya. Setelah berbicara panjang mengenai entrpreneurship dan bagaimana jiwa entrepreneurship tersebut tertanam pada mahasiswanya, ia mulai berbicara mengenai keluarganya.  Ia mulai bercerita tentang anak-anaknya. ”Anak saya yang kecil menderita autis Pak Yanto. Saya bersama istri sudah berusaha untuk mengobatinya dengan biaya yang banyak, tetapi belum diberi kesembuhan” kata kawan saya tersebut. ”Saya berdoa kepada Allah mudah-mudah putra Bapak diberi kesembuhan dari-Nya. Allah yang menurunkan penyakit, sekaligus yang menyembukan penyakit itu” saya menghibur. ”Saya berusaha saya kuat-kuatkan Pak Yanto, tetapi kadangkala istri saya merasa tidak kuat, karena mendapat cobaan yang berat. Saya juga berusaha untuk membesarkan hatinya untuk tetap kuat” kata kawan saya.  ”Andaikan saya yang menjadi Bapak, barang kali saya juga tidak kuat” saya mencoba memahami perasaannya. Sejenak kemudian, ia melanjutkan ceritanya : ”Sebenarnya saya dan istri saya masih kuat Pak Yanto, tetapi kadangkala tetangga dan kawan saya memojokkan saya dan istri saya. Lebih-lebih orang tua dan mertua saya yang membuat saya semakin berat.” Kemudian ia menirukan apa yang dikatakan orang tuanya ”Kamu itu dosanya apa to nak, kok anakmu seperti itu”. Kawan saya tersebut tidak bisa menjawab dan merasa bertambah sedih. Memikirkan anaknya saja sudah bersedih, apalagi dikomentari oleh orang tua, kawan dan tetangganya. Saya dapat merasakan betapa sedihnya andaikata saya menjadi kawan saya tersebut. Kemudian saya berkata kepada kawan saya tersebut ”Sesungguhnya Bapak itu manusia pilihan Tuhan. Anak penderita autis itu hanya dititipkan kepada manusia pilihan saja. Tidak ditipkan kepada orang biasa, seperti saya”. Dengan mata berkaca-kaca kawan saya tersebut mengatakan ”Hanya Pak Yanto yang mengatakan seperti itu. Selama ini saya tidak pernah ada orang yang mengatakan seperti itu”. Saya sangat beruntung bertemu dengan orang-orang pilihan Tuhan dan belajar dari mereka kecerdasan spiritual yang sangat tinggi, untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia pilihan Tuhan.
SAKITNYA DITUSUK HACKER SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.696 KB)

Abstract

Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sedang membawa beban berat karena banyaknya complain anggota masyarakat, termasuk pimpinan partai politik, terhadap pelaksanaan pemilu legislatif; sekarang dipusingkan oleh serangan kaum peretas, penggondam, penghancur, atau yang dalam dunia maya lebih dikenal dengan sebutan hacker.          Betapa tidak, kalau sampai serangan kaum peretas tersebut berhasil maka rusaklah data pemilu legislatif; hancurlah tabulasi data nasional pemi-lihan umum tahun 2009. Dan kalau hal ini terjadi maka bukan saja KPU yang akan menangis, tetapi Indonesia akan berduka. Kalau data itu rusak maka pemilihan umum yang telah menghabiskan dana triliunan rupiah tidak mampu menghasilkan apa-apa terkecuali ketegangan, keberingasan dan saling menyalahkan antaranak bangsa.          Sekarang telah terbentuk “Tim Penyelamat Data” yang unsurnya dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (SIRTII) dan Mabes POLRI. Meskipun tim ini sudah bekerja keras tetapi belum ada satu pun kaum peretas dapat ditangkap. Data pemilu sampai sekarang memang masih aman tetapi tetap saja berpotensi dihancurkan.
PRIVAT LES DAN BIMBINGAN TES SEBUAH TINJAUAN SOSIOEDUKATIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN MASA KINI
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.495 KB)

Abstract

Berangkat dari rasa kurang puas terhadap pelajaran yang didapat melalui sekolahnya maka seorang siswa SMTA kemudian mengikuti kegiatan bimbingan tes dengan sepercik harapan agar mendapatkan materi praktis demi mempertahankan kontinuitas studinya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Beberapa alasan telah dikemukakan oleh siswa tersebut kenapa dia sampai mengikuti kegiatan bimbingan tes diantaranya ialah waktu tatap muka di dalam kelas dirasakan relatif pendek sehingga gurunya hanya menyampaikan materi pelajaran secara garis besar saja, belajar di kelas dirasa kurang efektif karena kuantitas siswa yang terlalu besar, perlunya penyegaran kembali terhadap materi pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya dsb.Lain lagi dengan apa yang dialami oleh seorang siswi SMTP, dia merasa aikyunya rendah sehingga sulit menerima pesan yang diberikan oleh gurunya di kelas, maka kemudia orang tuanya mendatangkan guru privat (private teacher) di rumah bagi putri tercintanya.Alasannya cukup rasional ialah untuk meningkatkan kemampuan intelektual putranya yang beraikyu sedang-sedang saja.
AIDS BUKAN PENYAKIT KETURUNAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.129 KB)

Abstract

       Terminologi AIDS merupakan singkatan dari  Acquired Immune Deficiency Syndrome,  yaitu salah satu jenis "penyakit" yang teramat populer di seluruh dunia pada akhir-akhir ini; meski sebenarnya AIDS itu sendiri merupakan jenis "penyakit" yang relatif baru. Sebenarnya AIDS merupakan suatu sindrom atau kumpulan gejala, jadi bukan merupakan penyakit; akan tetapi karena oleh masyarakat umum sudah dikenal sebagai jenis penyakit maka selanjutnya AIDS dimasukkan di dalam kelompok penyakit.       Secara medis penyakit yang relatif ganas tersebut baru ditemukan awal tahun 1980-an yang silam;  meskipun konon ada pula yang mela-porkan sejak tahun 1970-an AIDS sudah berhasil diidentifikasi oleh manusia.  Penyakit yang sukar dikendalikan tersebut kini menarik per-hatian dunia,  bukan saja di kalangan medis akan tetapi ternyata juga kalangan masyarakat umum.       Penyakit tersebut  tidak pandang bulu  di dalam memilih sasaran; politisi, ilmuwan, penyanyi, olahragawan,  wanita tuna susila, pejabat dan juga masyarakat umum. Bahkan, para dokter pun tidak akan luput dari incaran AIDS.  Kalau penyanyi yang terkenal Freddy "Queen" Mercury harus merelakan nyawa,  kalau olahragawan AS berprestasi Earvin Magic Johnson pernah menderita,  dan kalau pernah ada dua WTS di Gang Dolly Surabaya harus kehilangan langganan,  itu semua merupakan contoh konkrit dari hasil kiprahnya AIDS.       Pada era globalisasi ini distribusi informasi berjalan sangat cepat,  begitu halnya dengan AIDS.  Penyakit ini telah menyebar di seluruh dunia; tidak terkecuali Indonesia dan negara-negara ASEAN yang lain. Itulah sebabnya ketika menteri-menteri kesehatan se-ASEAN bertemu di Jakarta beberapa waktu lalu mereka sepakat untuk menjadikan AIDS sebagai masalah regional yang diberi prioritas.
TIPPING POINT Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesuksesan suatu perusahaan bergantung pada strategi yang diterapkan, tetapi kadangkala justru di luar dari strategi dari hal-hal yang kecil. Bahkan hal-hal yang kecil kadangkala dapat membuat perubahan besar tanpa sengaja. Jika hal ini terjadi pada perusahaan, maka perusahaan tersebut akan sukses dalam penjualan. Peristiwa ini terjadi pada Wolverine, perusahaan pembuat sepatu dengan merek Hush Puppies. Sepatu klasik berkulit suede dengan sol ringan dari karet mentah buatan Amerika tersebut penjualannya menurun tajam, hingga hanya 30.000 pasang per tahun dan kebanyakan di toko-toko atau gerai-gerai sederhana di kota kecil yang jauh dari keramaian.  Bahkan perusahaan Wolverine berpikir untuk menghentikan produksinya. Tiba-tiba, pada akhir 1994 dan awal 1995 terjadi keajaiban. Pada acara pembukaan cabang sebuah rumah mode, dua eksekutif Hush Puppies, Owen Baxter dan Geoffrey Lewis bertemu dengan seorang perancang mode dari New York yang dalam perbincangan santai bercerita kepada mereka bahwa Hush Puppies klasik mendadak digandrungi para hipster di mklub dan kafe-kafe di kawasan pusat bisnis Manhattan. “Beberapa toko barang bekas di Village dan Soho menjual sepatu buatan kami. Banyak orang yang menyerbu toko-toko kecil itu, memborong semuanya” kata Owen Baxter. “Isaac Mizrahi juga memakai Hush Puppies” kata Sang Perancang mode. Untuk beberapa lama cerita tersebut, bagi Baxter dan Lewis cerita tersebut hanya gurauan. Bagi mereka tidak masuk akal bila sepatu yang begitu ketinggalan zaman tiba-tiba menjadi terkenal. Perancang mode John Barlett, yang menggunakan Hush Puppies dalam koleksi mesin seminya. Kemudian disusul, Anna Sui yang digunakan untuk pergelaran busana. Jooel Fitzgerald membuat dan memasang balon setinggi tujuh setengah meter berbentuk anak anjing berbulu lembut, berkaki pendek dan bertelingan panjang yang merupakan simbol dari merek Hush Puppies. Bahkan Fitzgerald memasang simbol tersebut di atas atap tokonya di Hollywood dan mengosongkan galeri seni di sebelahnya untuk dijadikan butik khusus Hush Puppies. Ketika ia sedang mengecat dan menata rak-rak, aktor Pee-wee Herman datang dan meminta disediakan beberapa pasang. “Promosi dari mulut ke mulut betul-betul ampuh” kata Joel Fitzgerald. Pada 1995, Hush Puppies terjual 430.000 pasang dan tahun berikutnya dapat menjual empat kali lipat dan 1997 terjual lebih banyak lagi yang akhirnya Hush Puppies mengukuhkan diri sebagai pelengkapan busana ngetren kaum remaja di Amerika. Hush Puppies juga memenangkan penghargaan asesori terbaik dari Council of Fashion Designers dalam sebuah jamuan makan malam di Lincoln Center dan presiden perusahaan tersebut naik panggung bersama Calvin Klein dan Donna Karan untuk menerima penghargaan atas pretasi Hush Puppies. Meledaknya penjualan sepatu Hush Puppies, hanya gara-gara ulah remaja iseng di East Village dan Soho yang hanya segelintir saja. Remaja-remaja itu, siapapun mereka sama sekali tidak bermaksud mempromosikannya. Mereka mengenakan sepatu ini semata-mata hanya ingin tampil beda. Namun, entah bagaimana keisengan itu menular ke remaja lain sampai akhirnya akhirnya ada dua perancang mode yang menggunakannya untuk menawarkan mata dagangan mereka yang lain. Sepatu ini muncul di permukaan karena kebetulan. Sepatu tersebut mencapai titik popularitas tertentu karena kebetulan tersebut menurut Malcolm Gladwell dikatakan mencapai tipping point. Doa dapat mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, sesuatu yang sepele menjadi luar biasa. Doa yang diikuti dengan usaha yang keras dapat menjadikan tipping point.
INTI MASALAH PENYERAGAMAN SEPATU SISWA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.696 KB)

Abstract

       Belum lagi kasus pemalsuan NEM yang kebetulan terjadi di Jawa Barat dapat terselesaikan secara tuntas kini propinsi yang berada pada bagian barat Pulau Jawa itu kembali menjadi pusat perhatian masyara-kat, khususnya masyarakat pendidikan kita.  Kali ini kasusnya bukan soal pemalsuan NEM atau pemalsuan nilai yang lain, tetapi menyangkut penyeragaman sepatu anak-anak sekolah.  Barangkali saja lagi-lagi sifatnya secara "kebetulan",  kalau Propinsi Jawa Barat dipilih sebagai tempat untuk menguji coba gagasan atau ide penyeragaman sepatu anak-anak sekolah.       Untung saja  reaksi masyarakat yang begitu dahsyat lebih melihat pada latar belakang idenya dan bukan pada tempat uji cobanya; dalam kasus ini masyarakat lebih melihat pada latar belakang ide penyeragamannya, bukan pada Jawa Baratnya.       Ketika berita mengenai  penyeragaman sepatu  anak-anak sekolah muncul di permukaan maka segeralah sambutan masyarakat mencuat ke permukaan pula.  Banyak kalangan masyarakat segera memberikan responnya;  dari praktisi sekolah,  pakar pendidikan,  orang tua siswa, para siswa itu sendiri,  sampai pada kalangan wakil rakyat semuanya telah mengambil bagian.  Banyak pendapat yang mencuat berkait de-ngan penyeragaman sepatu tersebut, namun begitu kalau dikuantifikasi barangkali pendapat yang tidak setuju atas penyeragaman tersebut terasa lebih dominan.       Ada yang menyatakan penyeragaman sepatu itu dapat membebani rakyat, khususnya dari kalangan tidak berpunya;  di sisi lain ada pula yang menyatakan bahwa penyeragaman sepatu dapat menjauhkan rak-yat dari sekolah.  Secara pedagogis penyeragaman yang terlalu ketat dipandang akan mematikan kreativitas siswa.  Atas dasar seperti itulah maka banyak pendapat yang menyatakan ketidaksetujuan penyeragam-an sepatu di kalangan anak didik.
PETA PENDIDIKAN DAN PETA PERSEKOLAHAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.591 KB)

Abstract

       Ketidaksiapan pemerintah kita baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah  untuk menghadapi otonomi pemerintahan bidang pendidikan makin nyata.  Meskipun secara resmi era otonomi sudah dicanangkan semenjak awal tahun 2001 ini tetapi tanda-tanda untuk menjalankannya masih belum begitu nampak. Meskipun tahap diskusi sudah dilaksanakan di berbagai tempat dan kesempatan, akan tetapi dalam tahap operasional masih nun jauh di sana.          Memang, respon masyarakat terhadap berbagai masalah yang berkembang cukup "dahsyat",  bahkan terkadang emosional. Dalam masalah pengangkatan guru misalnya;  ketika Pak Yahya Muhaimin selaku menteri pendidikan mengusulkan  agar seleksi dan pengangkatan guru PNS (pegawai negeri sipil)  masih dilakukan oleh pusat  maka banyak orang daerah yang menyatakan ketidaksetujuannya.  Ada yang menyatakan bahwa usulan Pak Yahya tersebut sebagai antidesentralisasi, ada yang menyatakan hal itu tidak rasional, dan bahkan ada pula yang menyatakan usulan tersebut membuktikan ketidakmauan pemerintah pusat untuk melepas kewenangan.          Apa yang terjadi? Apakah pemerintah daerah sudah memper-siapkan diri untuk menseleksi dan mengangkat guru PNS di daerah masing-masing? Sama sekali tidak!  Jangankan mempersiapkan diri untuk menyeleksi dan mengangkat, sedangkan kalau ditanyakan apa masih ada kekurangan guru secara konkrit saja belum semua daerah mampu menjawabnya.               Itu sekedar ilustrasi saja. Ilustrasi lain bisa menyangkut hal yang beraneka ragam;  dari soal kurikulum, sarana pendidikan, fa-silitas belajar sampai dengan soal mutu.
BERIKAN “NAFAS” PADA SEKOLAH PERALIHAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.747 KB)

Abstract

       Peristiwanya telah serta sungguh-sungguh terjadi; meskipun demikian sama sekali saya tidak bermaksud untuk mengirimkannya pada rubrik Sungguh-Sungguh Terjadi di pojok kanan-bawah halaman satu  "milik" surat kabar yang tengah kita baca ini.       Peristiwa apa itu ....? Yeach, bayangkan! Sekolah yang sudah mempunyai gedung dan fasilitas yang memadai, memiliki guru tetap dan tenaga administrasi yang memadai pula, status formalnya pun diakui oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud),  bahkan lembaga ini pernah "mengakar" di hati masyarakat, tiba-tiba saja harus mengalami "musibah": sekolah itu hanya diminati oleh kurang dari 10 (baca: sepuluh) orang siswa baru.       Persoalannya adalah,  apakah cukup efektif penyelenggaraan pendidikan yang diikuti oleh kurang dari 10 siswa; pada hal penyediaan sarana, fasilitas dan gurunya dapat dikonsumsi oleh lebih dari 100 siswa.       Itu hanya sebagian persoalan saja,  masih banyak lagi persoalan lainnya yang lebih kompleks;  antara lain bagaimana suatu sekolah tingkat SMTA dapat mempertahakan eksistensi dan perikehidupan akademisnya dengan "hanya" mengandalkan kurang dari 10 siswa.  Banyak hal yang akan terpengaruhi oleh sedikitnya siswa itu:  motivasi mengajar gurunya, kegiatan ekstra institusionalnya, dsb.

Page 29 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN WAWASAN 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue