cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
BEKERJA DENGAN BAIK Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.53 KB)

Abstract

  Bekerja merupakan segala usaha maksimal yang dilakukan manusia dengan menggunakan akal atau anggota tubuhnya untuk menambah kekayaan, baik dilakukan secara perorangan ataupun secara kelompok, baik untuk pribadi atau untuk orang lain. Orang lain dapat berupa majikan, perusahaan swasta atau lembaga pemerintah. Pekerjaan dapat dilakukan dalam perdagangan (bisnis), perindustrian, perkebunan, dan bidang lainnya baik sebagai pimpinan perusahaan atau karyawan biasa atau bahkan buruh kasar. Allah menganjurkan untuk bekerja mencari karunia Allah di muka bumi ini. Al Qur?an surat At Taubah ayat 105 : Dan katakanlah : ?Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan?.  Dalam surat An Naba? ayat 11 : Dan kami jadikan siang untuk mencari kehidupan. Bekerja merupakan tugas kekhalifahan manusia, menjaga diri dari maksiat dan selalu bersyukur untuk meraih tujuan yang lebih besar. Dalam surat Al A?raaf ayat 10 : Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Bekerja merupakan bagian dari ibadah dan jihad yang harus dilaksanakan setelah menunaikan shalat serta akan mendapat keuntungan, jika selalu mengingat Allah. Seperti dalam surat Al Jumu?ah ayat 10 : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Rasulullah s.a.w. menganjurkan untuk bekerja sebaik-baiknya. Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya apabila seseorang di antara kamu semua itu mengambil talinya kemudian mencari kayu bakar dan diletakkan di punggungnya, hal itu lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang telah dikaruniai Allah dari keutamaan-Nya, kemudian meminta kepada kawannya itu, adakalanya diberi adakalanya ditolak (Bukhari dan Muslim). Rasulullah s.a.w. juga bersabda : Sebaik-baik pekerjaan adalah ialah usahanya seseorang pekerja apabila berbuat sebaik-baiknya (Ahmad). Dengan bekerja seseorang menjaga harga dirinya, dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, mencukupi kebutuhan keluarganya dan berbuat baik kepada kerabat dan tetangganya. Dengan demikian, maka bekerja merupakan bagian dari ibadah dan jihad, yang ditunjukkan oleh umat Islam pada zaman keemasannya yang mampu memakmurkan bumi dan menyejahterakan bangsa.  
'RUSUH MASSAL' DI MATA ILMUWAN SOSIAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.043 KB)

Abstract

       Akhir-akhir ini  banyak bermunculan kritik tajam  yang ditujukan kepada para ilmuwan sosial kita;  mereka itu dinilai kurang tanggap terhadap berbagai fenomena yang ada di tengah-tengah masyarakat, sehingga daya prediksi dan daya antisipasinya rendah.  Berbagai kasus dan peristiwa yang "meletus" di masyarakat sangat sering luput dari pengamatan ilmuwan sosial kita;  akibatnya mereka tidak dapat mem-berikan kontribusi yang memadai dalam proses solusi.       Pada bagian yang lain  ilmuwan sosial kita  dinilai hanya sanggup  memberikan analisis ketika suatu peristiwa, khususnya peristiwa antisosial, sudah terjadi; yang dalam ilmu sosiologi disebut analisis pasca peristiwa (post moment).  Ilmuwan sosial dinilai tidak pernah mampu memberikan analisis ketika suatu peristiwa, khususnya peristiwa anti-sosial, belum terjadi; yang di dalam ilmu sosiologi disebut analisis pra peristiwa (pre moment).  Dengan demikian kehebatan ilmuwan (dan ilmu) sosial menjadi sirna dikarenakan tidak pernah mampu mencegah terjadinya peristiwa antisosial yang seringkali membuat masyarakat takut dan/atau memakan banyak korban.       Ketika "Peristiwa Sanggau"  terjadi misalnya,  yaitu  perkelahian massal di Sanggau Kalimantan Barat yang banyak memakan korban, maka tidak satu pun ilmuwan sosial kita yang memprediksi sebelum peristiwa itu muncul.  Para ilmuwan sosial baru memberikan analisis sosiologisnya ketika peristiwa tersebut sudah terlanjur "meletus"; jadi mereka dianggap gagal mencegah terjadinya peristiwa itu. Seandainya sebelum peristiwa itu terjadi sudah ada semacam warning dari ilmu-wan sosial kita maka peristiwa antisosial itu dapat dicegah; meskipun secara teknis bukan oleh ilmuwan sosial itu sendiri.       Meletusnya "rusuh massal"   pada  berbagai daerah di  Indonesia konon juga terlepas dari pengamatan para ilmuwan kita; sehingga pen-cegahan dini atas peristiwa tersebut tidak dapat dilaksanakan.
PEMIMPIN YANG MULIA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keangkuhan eksekutif perusahaan salah satu penyebab jatuhnya perusahaan. Pada 2002, telah diketahui ambruknya perusahaan minyak Enron, karena eksekutifnya perilakunya menjijikan tehadap karyawan dengan memecat karyawannya secara besar-besaran, tetapi dibalik itu dilaporkan perusahaan masih mampu menemukan dana $200.000 untuk mendanai peti kemewahan pada apa yang dulunya bernama Enron Field. Perusahaan Polaroid, dilaporkan membatalkan tunjangan kesehatan pensiunan-pensiunan perusahaan menjelang petisi, sebaliknya manajemen dilaporkan mengajukan petisi kepada pengadilan kebangkrutan agar diijinkan untuk memberikan $19 juta sebagai bonus kepada para eksekutif supaya tidak meninggalkan perusahaan.  Demikian juga perusahaan Webvan yang membayar CEO-nya yang mengundurkan diri $375.000 pertahun seumur hidup, sebelum perusahaan tersebut menghentikan operasinya yang mem-PHK karyawan. Berkat insiden-insiden yang dipublikasikan secara heboh tentang keserakahan dan kesombongan eksekutif, Amerika kini tidak lagi percaya pada perusahaan-perusahaan besar untuk tingkat yang baru. Amerika menjanjikan Ekonomi Baru dan era kemakmuran baru yang tidak terbatas. Namun semuanya ternyata isapan jempol, tulis Mark Ingebretsen dalam bukunya Why Companies Fail.   ?Banyak eksekutif puncak cenderung membangun jarak dengan lini depan. Semakin besar perusahaan, semakin besar kemungkinan eksekutif-eksekutif puncak kehilangan kontak dengan lini depan. Ini bisa menjadi factor tunggal paling penting yang menghambat pertumbuhan perusahaan ?kata Jack Trout. . Tatapi sebaliknya, Sam Walton sebagai pendiri Wal-Mart, dengan bersahaja dan rendah hati mengunjungi lini depan (pramuniaga) dari setiap toko Wal-Mart sepanjang hidupnya. Dia bahkan mengabiskan tengah malamnya didok bongkar-muat dan berbicaran dengan kru. Gaya kepemimpinan Sam Walton yang dekat dengan karyawan tersebut mewarnai budaya perusahaan Wal-Mart hingga saat ini. Pada 2003, Wal-Mart terpilih sebagai perusahaan peringkat satu yang paling mengagumkan dunia, versi majalah Fortune. Demikian pula, tatkala Umar bin Khatab pergi ke Syam naik onta bersama dengan pembantunya. Umar bergiliran dengan pembantunya dalam menaiki onta. Bila Umar naik onta, maka pembantunya yang memegang talinya, sebaliknya bila pembantunya yang naik onta Umar yang memegang talinya, begitu seterusnya sampai di tempat yang dituju. Ketika sampai di Syam datanglah giliran Umar yang menarik tali, dalam perjalan tersebut Umar memegang tali onta dan mengepit sandalnya di bawah ketiak kiri. Gubernur Syam, Abu Ubadah mengetahui dan berkata ?Wahai Amirul Mukminin, para pembesar Syam telah keluar menjemput Anda, maka tidaklah pantas bila mereka melihat Anda seperti ini.? Umar berkata ?Sungguh dengan sebab Islam kita telah menjadi mulia, maka tidak peduli dengan omongan orang?.  Pemimpin yang memimpin dengan rendah hati tersebut merupakan pemimpin yang mulia baik di sisi Allah maupun di sisi manusia.
EFISIENSI SEKOLAH SWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.006 KB)

Abstract

       Ketika memberikan presentasi di dalam acara Munas V Ikatan Purnakaryawan Departemen Pendidikan dan Kebuda-yaan baru-baru ini di Semarang, Sekretaris Jenderal Dep-dikbud Hasan Walinono menyatakan bahwa efisiensi sekolah swasta di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Barangkali beliau  ingin menyatakan bahwa efisiensi  sekolah swasta masih rendah;  hanya karena etika saja beliau menyatakan dengan kalimat yang lebih "kultural".          Pada sisi yang lain beliau juga menyatakan bahwa pembinaan sekolah swasta dan negeri untuk peningkatan re levansi,  mutu maupun efisiensi dan efektivitasnya masih perlu ditingkatkan secara bertahap dan terencana.          Untuk  mendukung pernyataannya tersebut Pak Hasan sempat menyajikan data statistik sebagai berikut. Berda-sarkan pada statistik persekolahan tahun 1990/1991 versi Balitbang Dikbud maka siswa SMP swasta hanya berjumlah 2.145.305 anak untuk 12.994 sekolah, sedangkan siswa SMP negeri berjumlah 3.437.260 anak untuk 7.271 sekolah.
BISNIS KAUM HIMYAR (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Para misionaris Suriah yang menyelamatkan diri dari hukuman mungkin masuk ke Yaman pada masa tertentu yang belum kita ketahui pasti, tapi duta Kristen pertama ke Arab Selatan sepanjang yang kita baca diutus oleh Raja Constantianus pada 356 di bawah pimpinan Theophilus Indus, seorang Aria. Motif sebenarnya di balik misi ini adalah kepentingan politik internasional masa itu dan persaingan antara kerajaan Romawi dan Persia untuk menanamkan pengaruhnya di wilayah Arab Selatan. Theophilus berhasil membangun sebuah gereja di ?Adan (Aden) dan dua gereja lainnya di daerah Himyar. Najran, yang mulai mengenal agama Kristen mazhab Monofisit yang dibawa oleh seorang pendakwah dari Suriah bernama Taymiyun (Phemion), memeluk agama baru ini sekitar 500 Masehi. Ibn Hisyam dan al-Thabari memaparkan kepada kita kisah tentang sang asketik ini, yang ditangkap oleh Kafilah Arab dan dibawa ke Najran. Ya?qub dari Saruj (w.521) menulis sebuah surat pelipur lara dalam bahasa Suriah kepada orang-orang Kristen Najran. ?Umar ibn Khaththab, khalifah kedua, mendeportasi (635-636 M.) ke Irak orang-orang yang enggan memeluk Islam. Agama Yahudi juga tersebar di Yaman pada masa pemerintahan Himyar. Dari sanalah kemungkinan awal penyebarannya ke Arab Utara, mungkin sebagai akibat dari penaklukan Palestina dan penghancuran Yarusalem oleh Titus pada 70 M. Berdasarkan nama-nama yang ada, kebanyakan orang Yahudi yang masuk agama yahudi, bukan keturunan langsung Ibrahim. Pada paruh pertama abad ke-6, agama orang Ibrani ini memiliki pengaruh besar di Yaman sehingga raja Himyar yang terakhir, Dzu-Nuwas (seorang keturunan Tubba? As?ad Kamil) juga memeluk agama Yahudi. Tampaknya, semua orang Yahudi di Yaman yang berjumlah ratusan ribu itu kemudia pindah ke Israel setelah 1948.             Persaingan antara para penganut dua agama monoteis baru di Arab Selatan ternyata memicu munculnya kekerasan. Tentu saja, Dzu-Nuwas, yang mewakili semangat kekuatan nasionalistik, mengasosiasikan orang-orang Kristen pribumi dengan pengusa Abissinia Kristen yang jelas-jelas merupakan musuh mereka. Penguasa Yahudi inilah yang diriwayatkan telah melakukan pembunuhan besar-besarn terhadap orang Kristen Najran pada Oktober 523 (Q.S. 85: 4-8). Menurut literatur Arab, Dzu-Tsa?laban (atau Tsu?luban) berhasil menyelamatkan diri dan meminta pertolongan kepada Raja Justin I, raja Bizantium saat itu yang dipandang sebagai pelindung orang-orang Kristen. Kemudian Justin I menulis surat kepada Negus (Najasyi) di Abissinia (dalam berbagai tulisan terkenal dengan sebutan Kaleb Ela Ashbeha), karena ia merupakan kekuatan Kristen yang paling dekat dengan tempat kejadian. Negus diriwayatkan mengirim 70.000 tentaranya melintasi Laut Merah ke daratan Arab di bawah pimpinan Asyat. Serangan itu termasuk dalam suatu jaringan politik internasional yang berlangsung saat itu: Bizantium meminta Abissinia mengirimkan suku-suku Arab yang berada di bawah pengaruhnya dan mengerahkan mereka untuk melawan Persia. Pasukan Abissinia memenangkan pertempuran pada 523 dan 525. Pemimpin pada kemenangan kedua adalah Abrahah yang mengawali kariernya sebagai perwira di bawah komando Aryat, tetapi kemudian berselisih dengan atasannya dan akhirnya menjadi komandan tertinggi. Menurut al-Thabari, Dzu-Nuwas, yang memacu kudanya dengan kencang, terjun ke dalam gelombang laut dan lenyap untuk selamanya. Begitulah runtuhnya kerajaan monarki Himyar yang terakhir, sekaligus menandai awalnya dominasi Aksum yang dipimpin Abrahah sampai 570.. Kenangan yang tersisa dari kebesaran Dinasti kemerdekaan Himyar kuno adalah nama sebuah suku di timur Aden, Himyar.
BUDI PEKERTI DALAM KELUARGA DAN SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.45 KB)

Abstract

       Pentingnya pendidikan budi pekerti pada keluarga dilukiskan oleh Ki Hadjar dengan sangat berpengaruhnya normalitas keluarga terhadap perilaku sosial anak. Pada keluarga yang normal (harmonis) maka sang anak akan cenderung berperilaku sosial positif, dan sebaliknya pada keluarga yang tidak normal (rusak) maka sang anak akan cende-rung berperilaku sosial negatif (antisosial). Dengan mengutip data dari Stedelijke Kinderpolitie di Netherland (1950) yang menyatakan bah-wa dari 778 kasus kriminalitas ternyata 594 (76 persen) di antaranya berasal dari keluarga rusak,  maka Ki Hadjar berhasil membuktikan hipotesis sosialnya itu.  Tentu saja keadaan ini juga berlaku bagi anak-anak (dan remaja) di negara lain termasuk Indonesia meskipun dengan persentase yang berbeda.       Sampai kini  hipotesis tersebut dapat dibuktikan  secara  empirik. Angka-angka yang dikutip dari buku 'Etiologi Juvenile Delinquency' (1985) dapat diringkas sbb:  Abbot and Berckinridge menyatakan dari 13.000 remaja nakal (delinquent) ternyata 24 persen berasal dari keluarga rusak (broken home). Menurut Municipal of Court of Phi-ladelphia angka yang sama mencapai 47 persen,  dan dari persentase ini kebanyakan ternyata wanita.Angka versi California Youth Autho-rity mencapai 62 persen,  dan New Children Burreau mencapai 44 persen yang terdiri dari 35 persen laki-laki dan 52 persen wanita.         Secara eksplisit  Ki Hadjar menyatakan  bahwa alam keluarga itu adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial juga; sehingga bolehlah dikatakan bahwa keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan ujudnya daripada pusat lain-lainnya, untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan, budi pekerti (pembentukan watak individuil),  dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan.
PEMBARUAN PARADIGMA PENDIDIKAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.197 KB)

Abstract

Pada akhir tahun 1998 lalu Haneen Sayed, John Newman dan Peter Morrison  dibantu oleh puluhan pakar  atas nama Bank Dunia  membuat laporan pendidikan tentang Indonesia dengan judul 'Edu-cation in Indonesia : From Crisis to Recovery'.  Dari laporan yang terdiri dari tujuh bab tersebut  tergambarkan betapa "merananya" nasib pendidikan nasional Indonesia  dalam beberapa tahun terakhir ini. Angka putus sekolah meningkat, angka cuti kuliah naik, angka melanjutkan sekolah menurun, tingkat partisipasi pendidikan cenderung turun, dsb, merupakan indikator-indikator kuantitatif yang gampang dibaca.       Kita yang sempat membaca laporan tersebut  tentu akan me-rasa bersedih hati;  negara kita  yang sudah merdeka selama lebih dari setengah abad seolah-olah gagal di dalam membangun pendidik-annya. Secara umum laporan itu menyatakan bahwa pelaksanaan dan hasil pendidikan di Indonesia belum atau tidak memuaskan: unsatisfactory!.       Beberapa bulan kemudian muncul dua publikasi yang banyak diacu oleh para pakar pendidikan dan pemimpin negara.  Yang per-tama, UNDP menerbitkan satu laporan berjudul 'Human Development Report 1999'; dan yang kedua WEF menerbitkan laporan yang bertitel 'Global Competitiveness Report 1999'.         Kedua laporan tersebut  memang tidak secara eksplisit menulis mengenai kegagalan pendidikan di Indonesia;  akan tetapi secara tidak langsung memang menyatakan hal yang demikian. Dari laporan UNDP diketahui  bahwa Indonesia hanya ada di urutan ke-105 dari 174 negara dalam hal pembangunan manusianya;  dan kita berada di bawah Singapura (22), Brunei (25), Malaysia (56), dsb. Sementara itu dari laporan WEF diketahui bahwa Indonesia hanya berada pada ranking ke-37 dari 59 negara dalam hal daya saing; dan kita ada di bawah Singapura (1), Malaysia (16), Thailand (30), dsb.       Lengkaplah sudah!  Data yang berasal dari berbagai sumber tersebut secara objektif menjelaskan  begitu buruknya kinerja pen-didikan nasional Indonesia bila dibandingkan dengan negara-negara lain pada umumnya.
KETERBUKAAN PAK TRY SUTRISNO Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.178 KB)

Abstract

       Pada suatu waktu kami bertemu Pak Try Sutrisno di sebuah acara pendidikan dan kebudayaan. Waktu itu beliau "masih" menjadi Pangab, belum menjadi wakil presiden seperti sekarang ini.  Salah satu pesan beliau yang selalu saya ingat adalah mengenai keterbukaan.          Pak Try bertanya pada saya apakah pernah  melihat strip-tease. Kebetulan saya pernah hidup di manca negara waktu itu, baik di negara-negara Asia maupun Eropa; jadi kepada beliau saya katakan sudah pernah melihat melalui pengalaman hidup di negeri orang tersebut.  Lebih lanjut Pak Try bertanya  apakah saya pernah melihat penari Jawa Timur atau Bali yang suka memakai "kemben" kalau sedang menampilkan kemampuan seninya. Saya menjawab sudah; bah-kan dapat menyebutkan beberapa jenis tarian Jawa Timuran dan Bali yang pernah dan sering saya nikmati.          Apakah yang bisa dipetik hikmahnya dari kasus dua kultur itu? Kali ini saya menjadi "bengong" karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh beliau.          Akhirnya Pak Try menjelaskan makna filosofis yang terkandung di dalam kasus dua kultur itu tentang ada dan tidak adanya rambu-rambu pembatas keterbukaan yang menja di garis etik-kultural bangsa. Artinya kalau keterbukaan itu melampaui garis etik-kultural maka keterbukaan itu pada akhirnya tidak akan bermanfaat; bahkan bisa berubah menjadi boomerang bagi kita. Barulah saya mulai mengerti maksud Pak Try;dan Ki Suratman (Tamansiswa) yang berdiri di samping saya sempat manthuk-manthuk tanda setuju. Le-bih lanjut Pak Try berpesan,hendaknya kita mengembangkan keterbukaan tanpa melampaui garis etik-kultural.
TANTANGAN TVRI : PENDIDIKAN ! Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.717 KB)

Abstract

Usaha pentrapan aspek-aspek inovasi ini bukan hanya sekedar merupakan konsekuensi logis dari pendidikan yang berorientasikan pada kemajuan jaman, tetapi juga karena approach tradisional dan konvensional tidak mungkin lagi bisa menanggulangi masalah yang bertambah lama bertambah rumit.Salah satu di antara aspek-aspek inovasi itu ialah penggunaan siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting  memiliki potensi yang hebat jika penggunaannya dapat teratur dan terarah.                                 (Menteri P & K: 2 Jan 1972)       Seperempat abad yang silam, tepatnya pada tanggal 24 Agustus 1962 terjadilah peristiwa yang cukup bersifat monumental bagi dunia pertelevisian di Indonesia,  ialah berdirinya Televisi Republik Indonesia (TVRI).       Apabila  dibandingkan dengan usia Radio  Republik In-donesia (RRI) maka TVRI lebih muda tujuh belas tahun. Meskipun demikian bukan berarti TVRI kalah "menggigit" dalam  menciptakan sejarah pengabdiannya. Bahkan dalam beberapa tahun tera-khir ini semakin nampak nyata  betapa besarnya  ketergantungan masyarakat  terhadap  informasi yang diberikan oleh TVRI.       Kehadiran TVRI sendiri ditengah-tengah pemirsanya paling tidak mengemban empat misi;  masing-masing adalah misi penerang-an, pendidikan, kebudayaan dan hiburan. Dan diantara keempat misi ini maka misi pendidikan saat  ini kiranya menjadi tantangan yang sangat dan paling menarik bagi TVRI.
CUSTOMER EXPERIENCE MANAGEMENT (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meyer dan Schwager menggambarkan bahwa Customer Experience Management (CEM) merupakan proses yang melibatkan tiga macam monitoring, yaitu monitoring pola yang lalu, pola sekarang dan pola potensial. Jika perusahaan memonitor transaksi yang terjadi dalam jumlah besar dan kompleks oleh pelanggan individual, maka perusahaan akan melihat pola yang lalu. Monitoring pola yang lalu adalah menangkap pengalaman sekarang yang dimaksudkan untuk memperbaiki pengalaman transaksi, mengikuti tren dan tujuan pengalaman, menilai dampak dari inisiatif baru dan mengindentifikasi isu yang sedang berkembang. Metode yang digunakan dapat dengan Web-Based, in person atau survai lewat telepon, menggunakan forum dan blog. Misalnya pelayanan setelah instalasi atau penggunaan produk, tindak lanjut pelayanan pelanggan atau tindak lanjut pembelian produk baru oleh pelanggan Monitoring pola sekarang mengikuti isu hubungan dan pengalaman saat ini dengan pandangan yang tertuju pada identifikasi peluang yang akan datang. Pola sekarang adalah menjaga pengamatan yang mendalam sebelumnya secara konsisten, melihat ke masa depan dan melihat ke belakang dan menggunakan lebih banyak isu dan menggunakan pelanggan yang kritis. Metode yang digunakan selain survai web-based juga kontak langsung dengan orang atau lewat telepon serta forum dan kelompok yang terfokus. Misalnya kajian rekening dua tahunan, mempelajari bagaimana pelanggan menggunakan produk di rumah dan sebagainya. Monitoring pola potensial adalah monitoring target yang diperlukan untuk memperkenalkan dan menguji peluang masa depan. Metodenya bergantung pada pelanggan yang khusus atau masalah yang bersifat unik, sangat terfokus dan melibatkan pengetahuan tentang hubungan pelanggan yang telah ada. Misalnya studi desain etnografis, studi pasar pengguna khusus dan kelompok khusus. Untuk mendukung CEM, semua yang ada dalam perusahaan harus berfungsi dengan baik. Bagian pemasaran berfungsi menangkap rasa dan standar setiap orang yang menjadi target pasarnya, menyebarkan pengetahuan tentang target pasarnya ke dalam perusahaan dan kemudian menyesuaikan komunikasi seluruh pelanggan sesuai dengan keinginannya. Bagian pelayanan menjamin bahwa proses, ketrampilan dan praktik pelayanan disesuaikan dengan setiap titik sentuh dengan pelanggan. Bagian pengembangan produk akan berusaha menciptakan keistimewaan atau fitur yang dibutuhkan pelanggan. Termasuk juga pengalaman desain setelah mengamati pelanggan menggunakan produk, pelayanan dan mempelajari bagaimana pelanggan menginginkan produk yang sesuai dengannya dan menggambarkan produk yang membuatnya frustrasi dan kecewa, sehingga dapat dihindari.Bagian teknologi informasi dapat mengumpulkan, menganalisis dan mendistribusikan data CEM, mengintegrasikan informasi dengan yang dihasilkan Customer Relationship Management dan memonitor kemajuannya dalam satu tempat. Data tersebut harus mudah dipahami oleh manajer dan analis sistem, sehingga dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan yang cepat.

Page 99 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN WAWASAN 1989: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue