cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
MENYOROT KARIR KERJA WANITA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.195 KB)

Abstract

Permasalahan kerja di Indonesia sampai sekarang  masih menjadi fenomena yang sangat sensitif;  hal ini disebabkan banyaknya orang yang berpotensi kerja akan tetapi karena terbatasnya kesempatan maka tidak dapat tertampung di pos-pos kerja.  Sementara itu untuk mencip-takan kerja secara mandiri mereka masih banyak mengalami kendala dan hambatan;  antara lain menyangkut pengalaman dan modal. Kerja atau pekerjaan, dengan demikian lalu berkembang menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi kebanyakan anggota masyarakat kita.        Kalau ada orang yang dengan "suka rela" mau membayar ratusan ribu rupiah, jutaan rupiah,  atau belasan juta rupiah sebagai salah satu "persyaratan" untuk mendapatkan pekerjaan hal itu membuktikan be-gitu mahalnya harga suatu kerja atau pekerjaan.  Dan,  dalam realitas memang banyak orang yang melakukannya.       Banyaknya orang yang berpotensi kerja  di satu sisi dan terbatas-nya kesempatan kerja di sisi yang lain telah menyebabkan banyaknya orang yang tidak tertampung di pos kerja;  dan inilah yang kemudian memunculkan istilah pengangguran. Pengangguran itu sendiri banyak jenisnya; antara lain adalah pengangguran kentara (real unemployed) bagi mereka yang sama sekali tidak bekerja atau memiliki pekerjaan dan pengangguran tidak kentara (invisible unemployed) bagi mereka yang sebenarnya memiliki pekerjaan akan tetapi belum maksimal dari sisi waktu kerja.       Secara nasional sekarang ini  terdapat sekitar 81 juta orang  yang "beruntung" memiliki pekerjaan tetap;  terdiri dari mereka yang dapat bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain,  bekerja dengan dibantu oleh orang lain khususnya anggota rumah tangga, bekerja dengan buruh tetap, bekerja sebagai buruh atau karyawan, serta pekerja keluarga. Apabila jumlah penduduk kita sekarang ini sekitar 200 juta maka jum-lah tersebut tentu masih relatif kecil.       Sebenarnya pihak pemerintah pun  terus menerus berusaha untuk meningkatkan partisipasi kerja masyarakat kita akan tetapi usaha ini belum berhasil secara maksimal.  Pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri sebagai salah satu bentuk usaha ternyata juga belum mendapatkan hasil yang memuaskan.
KOMUNITAS FANTASI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunitas fantasi merupakan forum yang terdiri dari peserta yang menciptakan lingkungan imajinasi.  Pelanggan AOL (American Online) diberikan fasilitas bermacam-macam. Dari AOL Inggris dapat menemukan berita baru selebritis, chat hidup, kejadian disekitar UK, topik dan informasi terbaik. AOL Perancis menyediakan fasilitas liburan di Perancis ketemu seseorang sebelum terbang, merencanakan malam di Paris atau ditempat yang dikehendaki di Perancis. AOL Jerman menyediakan fasilitas yang memudahkan seseorang bertemu di group@aol, belanja mudah, berita dan laporan terkini.   AOL Brazil menyediakan fasilitas untuk bertemu orang Brazil berkunjung ke home page dan menciptakan home page secara gratis, tempat yang terbaik menemukan cinta on-line di Brazil, berita dan sambungan ke tim sepakbola Brazil. AOL Jepang memberikan fasilitas dounload software versi Jepang. AOL Kanada memberikan kebebasan upgrade AOL 7.0  AOL Australia memberikan fasilitas untuk menemukan The Great South Land lewat AOL dan dapat mengirim ke kawan Australia Anda. AOL Mexico dan AOL Argentina yang memungkinkan kita untuk mendownload AIM (AOL Instant Messenger). Amazon, Barnes & Noble memasang iklan pada situs ini.
KAPAN INDONESIA MERAIH NOBEL? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.257 KB)

Abstract

Hanya satu hari setelah Panitya Nobel 2006 mengumumkan pemenang penghargaan Nobel Perdamaian, yaitu tanggal 13 Oktober yang lalu, segera saya memutuskan untuk tinggal sementara di Singapura. Untuk memudah-kan komunikasi ke beberapa kolega di berbagai negara, termasuk KR di Indonesia, saya memilih tinggal di Lantai 30 suatu apartemen yang terletak di Orchard Road Singapura; kira-kira seperti Nathan Road di Hong Kong atau Jalan Malioboro di Yogyakarta.        Beberapa kawan di Singapura ketika bertemu menyayangkan gagalnya Presiden RI Soesila Bambang Yudhayana (SBY) untuk meraih penghargaan nobel tahun ini. Bahkan mereka ada yang memperkirakan kasus asap yang ?disetor? Indonesia ke Malaysia dan Singapura ikut berperan menggagalkan penghargaan bergengsi tersebut.        Kebetulan hari itu koran The Straits Times memasang gambar SBY dengan judul ?Yudhoyono?s Second Years? dan memberitakan adanya tiga masalah besar yang tengah dihadapi pemerintahan SBY, yaitu gempa dan tsunami di Jawa, flu burung, serta asap. Masalah asap sangat menarik bagi masyarakat Singapura oleh karena mereka tidak merasa ?menyalakan api? koq menuai asap. Saya pun merasakan, dari lantai 30 apartemen ternyata jarak pandangnya menjadi ?pendek? karena asap.        Sejauh mana kebenaran hubungan asap dengan nobel bisa didiskusikan, tetapi penyayangan atas gagalnya SBY menerima nobel merupakan indikasi positif. Artinya mereka senang sekiranya SBY benar-benar memenangi Nobel Perdamaian. Hal ini penting karena di Indonesia sendiri banyak pihak yang kurang senang kalau SBY menerima nobel; apa arti nobel kalau masalah lumpur Lapindo tidak teratasi, tidak ada manfaatnya nobel kalau kinerja pemerintahannya amburadul, silakan saja menerima nobel kalau masalah pendidikan sudah tertangani baik, dan sebagainya.
KERANCUAN PEMAKAIAN INDEKS PRESTASI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.751 KB)

Abstract

       Suatu ketika  seorang teman lama datang pada kami dengan membawa sebuah keluhan. Apa pasal ..? Konon teman ini sangat tertarik pada program pemerintah untuk mening katkan kualitas tenaga edukatif di perguruan tinggi, PTN maupun PTS,  dengan membuka kesempatan bagi para dosen mereka yang berminat untuk mengikuti program pendidikan S2 dan S3 pada fakultas pasca sarjana (FPS) di dalam mau pun di luar negeri.       Teman tersebut bersungguh-sungguh ingin mengikuti program pendidikan pada FPS di dalam negeri;  tetapi serenta  akan mendaftarkan diri sebagai kandidat mahasiswa S2 ternyata harus menerima kenyataan yang "lain". Teman tersebut tidak diperkenankan mendaftarkan diri karena IP atau indeks prestasinya tidak memenuhi persyaratan.        Rupanya ada persyaratan tentang angka  IP minimal untuk dapat mengikuti belajar pada program S2 di dalam negeri; lepas dari IP tersebut "produksi" dari perguruan tinggi mana atau perguruan tinggi dengan kualifikasi yang bagaimana.       Teman tadi memang sempat "protes"; mengapa perguruan tinggi di dalam negeri kita memberikan persyaratan tentang IP minimal  bagi siapa saja yang mau melanjutkan pendidikannya pada program S2/S3,  sementara kebanyakan perguruan tinggi di luar negeri justru tidak pernah memberikan persyaratan yang serupa?  Apakah hal ini berarti bahwa mutu perguruan tinggi kita lebih baik dibandingkan mutu perguruan tinggi di luar negeri pada umumnya?
PASAR MUKHA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selain pasar San?a, pasar di Yaman pada masa kuno adalah pasar Muza atau Mukha atau Mocha. sepuluh sampai akhir bulan Ramadhan. San?a atau Sana?a atau Sanaa  terletak di jantung dataran tinggi Yaman yang dikelilingi beberapa gunung, misalnya Jabal Nuqum and Aiban. San?a terletak sekitar 370 km di sebelah utara Aden. San?a merupakan kota kuno yang dihuni oleh dinasti Saba sejak abad ketujuh sebelum Masehi (SM). San?a sebagai ibukota kerajaan Himyar pada abad keenam Masehi. Selain kerajaan Saba di wilayah Arab Selatan kuno adalah kerajaan Minea. Orang Saba hidup dari 750 SM sampai 115 SM. Sedangkan orang Minea hidup dari 700 SM sampai abad ketiga SM. Sejak 115 SM wilayah tersebut jatuh di tangan suku Himyar, yang berasal dari dataran tinggi sebelah barat daya Komoditas unggulan perdagangan kuno adalah cendana. Di pasar tersebut terdapat produk langka dan bernilai tinggi, seperti mutiara dari Teluk Persia, bumbu masak, kain dan pedang dari India, sutera dari Cina, budak, monyet, gading, emas, bulu burung unta dari Etiopia. Barang dagang yang diimpor meliputi kain berwarna ungu yang kasar dan halus, pakaian model Arab, dengan lengan polos, dibordir atau dirajut dengan emas, bubuk kunyit, daun pandan, kain muslin, rompi tebal, selimut yang polos atau yang dibuat berdasarkan model setempat, selempang dalam beragam warna, balsem beraroma dalam jumlah yang cukup banyak, minuman anggur dan gandum dalam jumlah yang tidak banyak. Orang Saba merupakan orang Phoenesia dari laut selatan. Mereka mengenal rute perjalanan, karang dan pelabuhannya, menguasai pergantian musim dan memonopoli perdagangan selama satu seperempat abad terakhir sebelum Masehi. Orang Saba membangun rute perjalanan darat antara Yaman dan Suriah di sepanjang pesisir barat semenanjung Arabia, yang mengarah ke Mesir, Suriah dan Mesopotamia. Jalur ke Suriah membuka pintu masuk ke Mediterania di Gazza (Gaza). Dari Hadramaut, yang kaya hasil wewangiannya, jalur kafilah mengarah ke Ma?rib, ibukota Saba dan dari Ma?rib bertemu dengan rute perdagangan yang utama. Di sepanjang rute selatan ke utara orang Saba membangun berbagai koloni mereka.
PESAN PENDIDIKAN DARI RADIO INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.354 KB)

Abstract

      Bila saja  perjalanan sejarah lima puluh satu tahun yang lalu, atau tepatnya tanggal 11 September 1945, bisa diputar ulang lagi maka hari ini kita akan menyaksikan kegembiraan dan kebahagiaan yang sangat dalam dengan berdirinya sebuah radio kebangsaan rakyat Indonesia; Radio Republik Indonesia (RRI).RRI memang merupakan perwujudan dari radio rakyat,  radio kebangsaan,  radio perjuangan, dan entah apa lagi sebutannya.       Ya ...,  RRI berdiri tanggal 11 September 1945  hanya dua puluh lima hari setelah bangsa kita menyatakan kemerdekaannya. Apabila momentum proklamasi kemerdekaan merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu maka berdirinya RRI juga merupakan puncak perjuangan putra-putra bangsa di bidang keradioan; kalau pro-klamasi merupakan pintu gerbang kemerdekaan maka berdirinya RRI merupakan pintu depan informasi. Kiasan kalimat ini menggambarkan demikian pentingnya suatu bangsa memiliki pemancar radio rakyat, radio kebangsaan dan radio perjuangan.       Memang,  apabila kita runut secara historis berdirinya RRI  yang mengawali berkembangnya radio Indonesia (RRI dan nonRRI) pada umumnya ternyata harus  melalui berbagai tahapan perjuangan yang cukup melelahkan; bukan hanya perjuangan ideologis, akan tetapi juga perjuangan fisik.         Perintisan berdirinya RRI  memang sudah dimulai  belasan tahun sebelumnya sejak pemerintah kolonial Belanda masih mencengkeramkan kuku-kukunya di bumi pertiwi ini.  Dengan begitu sangat mudah dibayangkan bila masa perintisan RRI pun tidak luput dari perjuangan fisik; bagaimana putra-putra kita harus melindungi peralatan pemancar dari rampasan musuh,  bagaimana mereka harus menyembunyikan alat-alat penting ketika ada "kunjungan" tentara kolonial, bagaimana mereka harus mempertahankan idealisme secara fisik, dsb.
PENDIDIKAN SEBAGAI KORBAN POLITIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.768 KB)

Abstract

Tulisan saya, 'Membenahi Pendidikan Nasional Indonesia', di harian ini akhirnya secara simpatik  mendapatkan respon dan debat dari tiga kolega  yang sehari-harinya berkecimpung langsung dalam dunia pendidikan; yaitu Prof. Ahmad Syafii Maarif, Prof. Suyanto, dan Prof. I Made Bandem. Bahkan menyusul Dra. Nahiyah J.Faraz. Sekalipun tidak seorang pun yang menyanggah opini saya mengenai kunci pembenahan pendidikan,  yaitu faktor anggaran pendidikan dan guru,  tetapi banyak penajaman dan informasi lain yang ber-manfaat untuk kita semua dari tanggapan ketiga kolega tersebut.       Ketiga kolega tersebut  baik secara implisit maupun eksplisit menyatakan bahwa kepentingan politik dalam jangka pendek seringkali telah mengalahkan kepentingan pendidikan sebagai suatu sistem yang dapat menghasilkan SDM berkualitas. Begitu pula kepentingan ekonomi jangka pendek tidak jarang telah menggeser kedudukan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.        Secara eksplisit dan gamblang Pak Syafii  menyatakan bahwa pendidikan kita selama empat dekade telah menjadi korban petualangan politik dan ekonomi,  yang ironisnya semuanya itu dilakukan atas nama Pancasila. Sementara itu Pak Suyanto secara tertulis juga menyatakan  bahwa rendahnya anggaran pendidikan  sebagai cermin rendahnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan terjadi karena di negara kesatuan ini para pemimpinnya tidak memiliki political will yang kuat untuk memperbaiki pendidikan nasional.       Apabila Pak Bandem mengeluh  tentang kurang tepatnya pe-merintah meletakkan otonomi di tingkat dua sebenarnya secara tidak langsung beliau juga ingin menyatakan bahwa dunia pendidikan kita memang telah menjadi korban politik.  Adapun logikanya sederhana,  keluarnya UU No.22/1999 tentang pemerintahan daerah sebenarnya lebih mengakomodasi pertimbangan politik. Kalau UU ini tidak cocok dengan kepentingan pendidikan nasional itu berarti pendidikan kita  telah menjadi korban politik.
BUKAN ARCHAISME, BUKAN PULA FUTURISME Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.537 KB)

Abstract

       Sebagai  lembaga kebudayaan  yang mempergunakan  pendidikan dalam arti luas sebagai medan kiprahnya wajarlah kalau Tamansiswa menyelenggarakan sarasehan secara nasional secara rutin. Sarasehan yang menghadirkan tokoh-tokoh nasional,  dari para menteri, pejabat, pimpinan partai politik, dosen, guru, mahasiswa, pakar, "pedagang" sampai dengan para praktisi budaya itu sendiri membahas berbagai hal yang berkait dengan perkembangan kebudayaan nasional kita. Sudah barang tenu dalam kebudayaan itu sendiri terkandung banyak elemen; antara lain politik, teknologi, pendidikan, hukum, sosial, kesenian dan sebagainya.        Sekarang ini rutinitas tersebut  sudah memasuki tahun yang kese-puluh; itulah sebabnya sarasehan yang dilaksanakan tanggal 19 dan 20 September 1997 merupakan sarasehan kebudayaan yang kesepuluh.       Menghubungkan konsepsi kebudayaan nasional  dengan nama  Ki Hadjar Dewantara kiranya memang tidak mengada-ada. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh karena Ki Hadjar pernah mendapatkan gelar doktor honoris causa (Dr. Hc.)  dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1956 karena jasanya yang besar di bidang kebudayaan dan konsepsi kebudayaannya yang "mengindonesia"; akan tetapi sosok Ki Hadjar memang benar-benar menggambarkan sosok manusia Indonesia yang gigih dan mempunyai  komitmen yang tinggi terhadap kebudayaan nasional kita.       Sejak mudanya Ki Hadjar  telah banyak mengekspresi pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep kebudayaannya melalui berbagai media massa kala itu;  katakanlah misalnya melalui media Wasita, Keloearga Poetera, Hindia Poetera, Poesara, dan sebagainya. Dari tulisan-tulisan Ki Hadjar memang nampak betapa tingginya komitmen tersebut.
MELAMBUNGKAN PERUSAHAAN DENGAN NILAI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Nilai merupakan panduan-panduan untuk bertindak atau bersikap yang berasal dari dalam diri, berupa prinsip-prinsip bagaimana menjalani hidup dan mengambil keputusan. Nilai, pertama kali dikenalkan oleh orang tua di masa kanak-kanak dan kemudian ditambah oleh guru, keyakinan agama, kawan serta lingkungan pergaulan. Nilai-nilai spiritual, saat ini merupakan fondasi perilaku individu yang sangat penting. Mengapa penting untuk mengetahui nilai-nilai seorang individu ? Meskipun ini tidak mempunyai suatu dampak langsung terhadap perilaku, nilai-nilai dengan kuat mempengaruhi sikap-sikap seorang. Jadi pengetahuan mengenai sistem nilai seorang individu dapat memberikan wawasan ke dalam sikap-sikapnya. Dengan diketahui bahwa bilai-nilai orang berlainan, para manajer dapat menggunakan Survai Nilai Rokeach, yang membagi nilai menjadi dua kelompok, yaitu nilai instrumen dan nilai tujuan yang dapat digunakan untuk menilai karyawan yang potensial dan menetapkan apakah nilai-nilai mereka segaris dengan nilai dominan dari organisasi. Kinerja dan kepuasaan seorang karyawan kemungkinan besar akan lebih mengaggap sangat penting, imaginasi, ketak bergantungan, dan kebebasan kemungkinan besar akan buruk kesesuaian nilainya  dengan suatu organisasi yang mengusahakan kepatuhan dari para karyawannya. Para manajer akan lebih kemungkinan mengahargai, menilai dengan positif, dan membagikan imbalan kepada para karyawan yang sesuai dalam organisasi, dan karyawan akan lebih besar kemungkinannya dipuaskan jika mereka mempersepsikan bahwa mereka memang sesuai. Ini membela manajemen yang berusaha keras selama seleksi karyawan baru untuk menemukan calon yang tidak hanya mempunyai kemampuan, pengalaman, dan motivasi untuk berprestasi, tetapi juga suatu sistem nilai yang sesuai (kompatibel) dengan sistem nilai organisasi. Para manajer hendaknya tertarik pada sikap-sikap karyawan mereka karena sikap memberikan peringatan terhadap problem potensial dan karena sikap mempengaruhi perilaku. Karyawanyang terpuaskan dan komitmen, misalnya mempunyai tingkat keluar dan kemangkiran yang lebih rendah. Bila para manajer menginginkan agar permohonan berhenti dan absensi berkurang ? terutama di antara karyawan mereka yang produktif ? mereka akan menginginkan melakukan hal-hal yang akan membangkitkan sikap kerja yang positif, demikian tulis Stephen Robbins dalam Organizational Behavior. Perusahaan yang dipandu dengan nilai terbukti sukses dalam jangka panjang. Grameen Bank merupakan perusahaan yang mengedepankan nilai dengan visinya mengenai dunia tanpa kemiskinan. Grameen Bank yang didirikan oleh Muhammad Yunus mempunyai hanya satu tujuan yaitu menyalurkan kredit bagi kaum miskin di Bangladesh. Nilai-nilai yang ditanamkan Muhammad Yunus kepada karyawan atau stafnya membuat Grameen Bank berkembang pesat. Pertama kali membantu kelompok ibu-ibu pengrajin bambu miskin itu, sekarang telah membantu 46.000 desa di Bangladesh.   Apalagi kalau dalam bisnis tersebut dipandu dengan nilai ibadah kepada Allah. ?Allah mengasihi orang yang mudah dalam penjualan, pembelian, pelunasan dan penagihan. Barang siapa memberi penangguhan kepada orang yang dalam kesusahan (untuk membayar hutang) atau membebaskannya, maka Allah akan menghisabnya dengan penghisaban yang ringan. Barang siapa menerima kembali pembelian dari orang-orang yang menyesali pembeliannya, niscaya Allah membatalkan (menghapus) kesalahannya pada hari kiamat.? sabda Rasulullah SAW.
DOKTOR DAN JABATAN ADMINISTRATIF Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.92 KB)

Abstract

       Sekarang ini terdapat indikasi mengenai banyaknya doktor yang lebih senang  memilih jabatan administratif dari pada menjadi seorang peneliti. Demikian sinyalemen yang  dikemukakan seorang guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Tejoyuwono Notohadiprawiro, baru-baru ini di dalam sebuah forum promosi kandidat doktor.          Semakin banyak penyandang derajat doktor mestinya kegiatan penelitian kita makin marak karena para doktor tersebut akan makin memperkuat barisan peneliti. Sayang, dalam kenyataannya tidak sedikit para penyandang derajatitu yang justru memilih memegang  jabatan administratif. Mereka ini beranggapan bahwa jabatan tersebut lebih bisa menjamin hidup berkecukupan; selain itu tidak banyak menuntut kemampuan dan keberanian berimajinasi, berfantasi dan berspekulasi, berinovasi serta bertualang dalam dunia penelitian atau riset.          Lebih lanjut Pak Tejo mengatakan bahwa mereka itu merupakan korban suatu rekayasa kehidupan yang menjadikan  jalur profesi administratif mempunyai jaminan hidup yang lebih berkecukupan. Mereka umumnya terjerat, karena kurang dipersiapkan untuk dapat bersikap tegar. Meskipun demikian mereka ini tidak dapat disalahkan karena pada dasarnya semua orang memang ingin hidup layak.

Page 98 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue