cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
KI HADJAR SANG PENULIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: MAJALAH PENDOPO
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.471 KB)

Abstract

       "Mengarang itu gampang", itulah kalimat motivatif yang disuguhkan oleh Arswendo Atmowiloto. Sesungguhnyalah memang demikian; setidak-tidaknya untuk orang-orang tertentu yang memang berprofesi sebagai pengarang. Meski demikian anda "harus" percaya, bahwa menjadi penulis itu sungguh tak gampang.       Mengapa demikian ...? Penulis yang baik haruslah memegang teguh disiplin;  menyangkut materi, gaya, serta kualitas tulisan. Belum lagi unsur-unsur lain yang perlu dipertimbangkan pula, seperti aktualitas, produktivitas, dan sebagainya. Apakah hanya itu persyaratannya? Tidak! Penulis yang baik harus teguh dalam memegang argumentasi kebenarannya, kalau perlu harus berani "berperang".       Apakah seorang penulis harus "berperang"? Kadang- kadang ya!        Seorang penulis muda,  kebetulan seorang dosen, pernah datang pada kami untuk berkeluh:  ketika beberapa tulisannya berhasil menembus massmedia maka dia justru tidak disukai oleh pimpinannya. Konon, sang pimpinan itu menjadi cemas dan takut kalau akibat buruk atas tulisan sang penulis akan mengimbas pada diri dan lembaganya.  Memang demikian adanya, sebuah tulisan dapat menimbulkan berbagai akibat: baik atau buruk.
STRATEGI BISNIS PEDAGANG ANGKRINGAN (4) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.447 KB)

Abstract

 Aturan baru yang dilakukan pedagang angkringan juga dilakukan banyak perusahaan top dunia. Product terbaik 2008 yang menggunakan aturan baru adalah Hulu, yang merupakan situs video yang diprakarsai oleh perusahaan besar antara lain Fox, NBC, MGM, Sony, dan Warner Brothers. Hulu merupakan pesaing baru dari YouTube. Demikian pula Facebook, Flock, Wikipedia, Mozilla Firefox, Flicker, Google menggunakan aturan baru dengan konsep gratis. Tanpa menggunakan aturan baru sulit untuk dapat bersaing di masa revolusioner. Hal ini didukung dengan pernyataan Bill Gates, bahwa ?Microsoft selalu dua tahun jauhnya dari kegagalan?. Apa yang dikatakan Bill Gates menunjukkan bahwa persaingan pada saat ini membuat siklus hidup produk semakin menyempit, demikian pula siklus hidup strategi juga semakin pendek. Dengan demikian konsep bisnis apapun, bahkan yang luar biasapun akan segera kehilangan efisiensi ekonomi. Perbedaan antara menjadi pemimpin dan pengekor dalam industri tidak dapat lagi diukur dengan dasa warsa atau sepuluh tahun, tetapi sudah harus dalam tahun atau bulan. Saat ini tidak bisa lagi strategi untuk satu dasa warsa, tetapi strategi hanya untuk tahun demi tahun yang mengikuti putaran persaingan yang semakin cepat. Pendatang baru yang lain yang mempunyai aturan permainan baru, misalnya adalah Hotmail. Strategi Hotmail untuk merebut jutaan peselancar dunia maya, dengan melalui e-mail yang didukung iklan gratis untuk menempatkan situs web di Hotmail tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh American On Line (AOL) pada saat pertama kali meraih konsumennya, yaitu dengan besar-besaran melalui disket pendaftaran ke AOL. Dana yang lebih besar dan kemampuan yang lebih tidak di AOL tidak cukup untuk memenangkan persaingan dengan Hotmail. AOL hanya meraih 18 juta pelanggan. Sedangkan Hotmail dari 0 menjadi 10 juta pelanggan. Pada pertengahan 1999, menggelembung menjadi 40 juta dan akhirnya Hotmail menjadi sasaran akuisisi utama Microsoft. Charles Schwab dan Fidelity mengubah permainan baru dalam bidang keuangan dan perbankan yaitu dengan menganggap bahwa nasabah bank tersebut bukan hanya nasabah tetapi juga investor. Maka yang terjadi dalam dasa warsa terakhir, bank-bank kehilangan hampir separuh pangsa pasar pada aset finansial rumah tangga direbut pemain baru, seperti Charles Schwab dan Fidelity. Kata seorang CEO ?Dulu, saya menghabiskan sebagian besar waktu tentang bagaimana-bagaimana kami mengerjakannya? Bagaimana kami mengoperasikannya? Bagaimana efisiensi kami?.   Sekarang saya lebih banyak menghabiskan waktu memikirkan apa-kesempatan apa yang dapat dikejar? Aliansi apa yang dapat dibentuk? Teknologi apa yang bisa mendukung? Eksperimen apa yang harus dimulai? Inti utamanya adalah ketika perusahaan telah memeras hingga 5 % atau sampai nol efisiensi terakhir dengan bagaimana, maka orang lain akan menciptakan apa yang baru atau membuat aturan permainan baru. Itulah revolusi strategi untuk meraih kemenangan di era persaingan pada dasa warsa terakhir ini yang penuh dengan kesulitan.  
EVALUASI EBTANAS SMA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.327 KB)

Abstract

       Sebagaimana yang direncanakan semula maka Ebtanas SMA untuk tahun akademik 1993/1994 ini baru saja selesai dilaksanakan di sekolah-sekolah.  Ebtanas SMA yang dimu-lai tanggal 3 Mei 1994 telah berakhir tanggal 6 Mei 1994 sebagaimana yang terencanakan dalam jadual; dan bila tak ada aral melintang maka hasilnya akan diumumkan serentak pada tanggal 26 Mei 1994 yang akan datang.          Setelah Ebtanas SMA (dan SMK) selesai maka agenda akademik ini dilanjutkan ke SLTP untuk kemudian berakhir di SD.  Dalam sepuluh tahun terakhir ini sistem Ebtanas memang diberlakukan secara simultan di sekolah menengah, baik sekolah umum (SMA)  maupun  sekolah kejuruan (SMK), di SLTP dan di SD. Kesamaan sistem Ebtanas di antara se-kolah-sekolah ini menyangkut banyak hal,  dari mekanisme pembuatan materi soal,  pelaksanaan, mekanisme evaluasi, sampai prosedur mengkomunikasikan hasilnya.          Meskipun sistem Ebtanas berlaku di SMA, SMK, SLTP dan SD akan tetapi pelaksanaan Ebtanas SMA cukup menarik dicermati secara khusus. Banyak praktisi pendidikan ber-pendapat hasil Ebtanas SMA mencerminkan kualitas kandi-dat mahasiswa baru perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS di negara kita;  selanjutnya kualitas kandidat mahasiswa baru  perguruan tinggi dapat mencerminkan mutu calon pe-mimpin bangsa ini di masa depan.
PEMBATALAN PENELITIAN SDSB, MENURUNKAN KREDIBILITAS PENELITI? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.134 KB)

Abstract

       Apabila kita cermati secara teliti dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan yang positif, yaitu  lebih dipertimbangkannya temuan-temuan penelitian (research findings)  dalam proses pengambilan keputusan politik (political decision making process) oleh pemerin tah kita. Ambil contoh: ketika pemerintah akan mengambil keputusan mengenai "Musibah Dili" sekitar dua tahun lalu maka pemerintah sengaja membentuk  Komisi Penyelidik Na-sional (KPN) untuk melakukan penelitian dan hasilnya di-jadikan referensi utama pengambilan keputusan tersebut.          Dalam skala yang lebih kecil dipakainya temuan-temuan penelitian  sebagai  referensi utama dalam proses pengambilan keputusan juga telah dilakukan oleh berbagai departemen dan lembaga pemerintah;  misalnya oleh Depar-temen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Departemen Transmigrasi (Deptrans), Badan Koordinasi Keluarga Beren cana Nasional (BKKBN), dan sebagainya.          Kecenderungan tersebut tentu saja bernilai "maju" dan positif; di dalam negara-negara yang sudah maju maka temuan-temuan penelitian  senantiasa dijadikan referensi hampir dalam setiap pengambilan keputusan.
MEMUTUS PEREDARAN VCD PORNO Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.304 KB)

Abstract

       Sekitar dua puluh dua tahun yang silam, atau tepatnya pada awal tahun 1979  saya berjalan-jalan di pusat kota Amsterdam, Be-landa. Keramaian kota Amsterdam, meski tidak berkesan "crowded", tidaklah menarik bagi saya karena hal semacam ini dapat ditemukan di Jakarta atau kota besar lain di Indonesia.  Yang justru menarik bagi saya adalah,  suatu toko yang menjual segala peralatan untuk memuaskan  hasrat seksual seseorang,  dari peralatan kontrasepsi, alat kelamin sintetis, alat pemuas nafsu,  novel dan majalah porno, kaset dan film biru, sampai dengan boneka hidup.          Toko yang menjual peralatan seks,  oleh masyarakat Belanda disebut dengan sex shop,  seperti itu ternyata di Amsterdam ada beberapa jumlahnya.  Bahkan belakangan saya tahu bahwa di kota-kota besar yang lainnya seperti Den-Haag dan Rotterdam, juga ada yang membukanya. Pada umumnya di samping dijual peralatan seks,  di sex shop seperti ini  juga diputar film-film biru  di bioskop mini dengan masa putar empat menit,  lima menit,  sepuluh menit sampai dengan satu setengah jam.          Pengunjung sex shop tersebut umumnya bersikap biasa-biasa saja;  tidak ada perasaan malu atau "risih".  Mereka datang ke sex shop sebagaimana datang ke toko swalayan di tengah kota atau ke toko kelontong di pinggir kampung.  Ada yang muda, ada yang tua bahkan yang sudah gaek pun banyak yang berpartisipasi.          Belakangan lagi saya tahu bahwa keberadaan sex shop yang mengedarkan kaset porno dan memutar film biru di bioskop mininya juga ada di hampir semua kota-kota besar di berbagai negara yang pernah saya kunjungi.          Keberadaan sex shop ternyata tidak hanya di negara-negara Barat tetapi di negara-negara Timur pun juga demikian adanya. Di Jepang, Taiwan, Hong Kong, Cina, Malaysia, dan Singapura juga terdapat fasilitas seperti itu  meski terkadang  dengan bentuk dan cara yang berbeda. Di Shinjuku Jepang atau di Kowloon Hong Kong misalnya;  dengan cara yang gampang dan terkadang dengan harga yang ringan akan mendapatkan berbagai fasilitas pornografi apabila kita memang memerlukannya.          Semenjak dua puluh dua tahun yang lalu saya sudah "meng-hitung" kalau apa yang saya lihat di Belanda itu  cepat atau lambat akan terjadi juga di Indonesia.
KONTROL AKADEMIK KONTROL SOSIAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.414 KB)

Abstract

       Genderang "penertiban" bagi lembaga penyelenggara program MBA, Master of Business Administration, ditabuh sudah. Para penyelenggara program MBA pun nampaknya juga sudah mengantisipasinya, sudah pasang "kuda-kuda". Dalam beberapa bulan terakhir ini banyak penyelenggara program MBA yang diundang (bukan: dipanggil!) oleh Koordinator Kopertis di wilayah kerjanya masing-masing untuk diajak bermusyawarah tentang masa depan program tersebut.          Tidak bisa dipungkiri lagi; tumbuhnya lembaga MBA pada akhir-akhir ini memang bak cendawan di musim hujan, hampir di setiap kota besar bermunculan lembaga-lembaga dengan "format" yang menggiurkan. Dengan lama studi yang relatif singkat, 14 bulanan,  dengan jumlah kehadiran di kelas yang sangat dapat diatur, serta dengan kampus yang sering berpindah-pindah maka ijazah atau sertifikat pas-ti ada di tangan asalkan memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan, baik persyaratan akademis maupun persyaratan nonakademis.          Di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Yo-gyakarta, Surabaya, Denpasar, dsb, munculnya lembaga MBA benar-benar merupakan fenomena yang menarik dicermati; betapa tidak, di dalam satu kota secara hampir bersamaan muncul beberapa lembaga sekaligus.  Umumnya lembaga-lem-baga ini menawarkan aktivitas yang bervariasi, meskipun program utamanya sama,  yaitu MBA.  Barangkali berangkat dari kenyataan ini maka muncul pemikiran untuk menertib-kan lembaga-lembaga MBA tersebut.
MODALNYA PERHIASAN MILIK ISTRI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Perhiasan merupakan benda yang dipakai sebagai hiasan. Perhiasan yang dipakai istri kita dapat berupa kalung, cincin atau anting-anting. Perhiasan tersebut biasanya bahannya terbuat dari emas.  Istri memperoleh perhiasan tersebut dari mahar (emas kawin) ketika menikah atau dari pemberian orang tuanya atau hadiah dari sang suami tersayang. Perhiasan merupakan modalm yang dapat digunakan untuk memulai bisnis. Haji Ate Tohi dari Desa Sukagerang Garut memulai bisnisnya dari modal kalung, gelang dan anting-anting milik istrinya. ?Saya merayu istri saya agar merelakan  kalung, gelang dan anting-anting untuk modal. Saya sebenarnya malu untuk mengungkapkan, karena perhiasan tersebut saya berikan untuk istri saya, tidak dijual untuk modal? kata Ate Tohi. Meskipun mertuanya sebagai pengusaha kulit yang cukup kaya tetapi ia malu untuk meminta modal dari mertuanya. Dengan modal perhiasan  tersebut ia memulai bisnis dalam bidang perkulitan, karena mendapat dorongan dari teman dan keluarganya secara tidak sengaja. Ate Tohi sejak muda telah memahami seluk beluk kulit dari kakaknya sebagai penyamak kulit. Strategi yang dilakukan pada awalnya adalah mengikuti pameran di Jakarta pada 1990-an dengan menumpang pada stand milik kawannya, karena belum mampu menyewa stand sendiri. Setelah pameran tersebut, mulai banyak pelanggan yang datang ke tempat Ate Tohi, bahkan banyak pelanggannya dari orang asing. Pada saat krisis justru perusahaannya mendapat keuntungan besar. Bahkan industri mengalami booming saat terjadinya krisis, karena nilai dolar melonjak tajam, $US 1  menembus angka Rp.16.000,-. Ia mengubah pangsa pasar 80 % local menjadi ekspor. Strategi lain yang membuat ia sukses adalah strategi dalam mengelola keuangan. Ia menggunakan prinsip yang dipakai etnis Tionghoa, yaitu selalu mengendalikan pengeluaran paling banyak 50 % dari keuntungan.  Saat ini perusahaan Ate Tohi yang didirikan lebih dari 15 tahun yang lalu telah mempunyai omset lebih dari Rp. 5 milyar perbulan dan telah melakukan ekspor mempunyai karyawan lebih dari 500 orang. Pabrik penyamakan kulit dari Ate Tohi telah berkembang menjadi 2,4 hektar dan akan dikembangkan dengan produksi dua kali lipat. Ia melakukan investasi tersebut, karena ia memandang bahwa bisnis kulit masa depannya cerah dan pasarnya luas.             Demikian juga yang saya alami. ?Saya meneteskan air mata  ketika menjual cincin 2 gram yang bertuliskan M.Suyanto?  kata istri saya pada saat menjual cincin emas kawin kami di toko emas, sehingga saat ini kami tidak mempunyai cincin kawin. Cincin itu untuk mengatasi kesulitan dalam mengarungi bisnis yang hasilnya belum menentu. Memang untuk memulai bisnis, istri kita harus berkorban. Perhiasan milik istri sebagai modal yang mengagumkan. Semoga Allah membalasnya.
KAPAN "MUATAN LOKAL" DIFORMULASIKAN? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.092 KB)

Abstract

       Pada akhir tahun 1986 yang silam Mendikbud, Prof. Dr. Fuad Hassan pernah mengemukakan bahwa mulai awal tahun Pelita kelima nanti potensi daerah akan dikembangkan melalui 'muatan lokal' (ML) yang akan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah.  Yang dimaksud dengan ML adalah merupakan mata kelompok pelajaran dalam strktur kurikulum yang oleh suatu daerah dianggap sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat.  Jadi ML merupakan karakteristik atau kekhasan yang dimiliki oleh masing- masing daerah. ML bukan saja terdiri dari berbagai keterampilan dan kerajinan tradisional, tetapi juga berbagai manifestasi kebudayaan daerah yang bersanglutan;misalnya saja bahasa, tulisan daerah, legenda dan istiadat, dsb..lh8       Latar belakang munculnya gagasan ML adalah adanya semacam kekhawatiran tentang cukup banyaknya putra-putra daerah yang sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi daerah akan tetapi enggan melakukannya. Keengganan ini disebabkan tidak dimilikinya pengetahuan yang menyeluruh tentang potensi yang dimiliki daerahnya itu sendiri, apalagi skill untuk mengembangkannya.       Kalau keadaan itu dibiarkan terus berlanjut maka dikhawatirkan potensi yang sekaligus merupakan kekhasan daerah tidak berkembang, bahkan akan meluruh.       Berdasarkan adanya semacam kekhawatiran tersebut diatas, juga ada beberapa faktor lain yang ikut melatarbelakanginya, maka dari itu ML perlu diintegrasikan dalam kurikulum.  Sedang alokasi yang disediakan untuk ML direncanakan boleh mencapai angka 20% dari keseluruhan beban kurikulum.
UJIAN NASIONAL BAGI BSNP Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.994 KB)

Abstract

Ketika ujian nasional, saat itu namanya Ujian Akhir Nasional, banyak dipersoalkan masyarakat, penulis diminta secara formal maupun tak formal memberi masukan kepada pemerintah tentang bagaimana sebaiknya ujian nasional ke depan; pendek kata distop atau dilanjutkan. Pada saat itu banyak pakar yang mengatakan ujian nasional tidak fair, tidak transparan, banyak  kecurangan dalam pelaksanaan, dsb; sehingga mereka berpendapat dan ada yang meminta Depdiknas untuk menghentikan ujian nasional dan diganti dengan ujian sekolah.          Terhadap berbagai pendapat seperti itu penulis sempat ketawa kecil di hadapan para pengambil keputusan. Bahwa di lapangan banyak kecurangan, penulis tidak mengabaikan; sampai sekarang pun kecurangan itu masih ada, bahkan ada yang semakin menjadi-jadi. Masalahnya, kalau ujian nasional yang dipantau dari pusat saja banyak terjadi kecurangan, apalagi kalau ujian sekolah yang dilaksanakan. Apakah justru kita tidak akan bunuh diri dengan kecurangan seperti itu.          Penulis pun kemudian memberikan saran kepada pemerintah agar ujian nasional tetap dilaksanakan, akan tetapi dengan berbagai catatan. Salah satu catatan saya waktu itu adalah pembuat soal ujian nasional jangan Depdiknas tetapi lembaga yang mandiri, profesional, dan independen.
ATURAN BARU BISNIS Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisasi harus melakukan perubahan untuk dapat menyesuaikan dengan lingkungannya yang kompetitif. Perubahan bersangkut-paut dengan perihal membuat sesuatu dengan lain. Teknologi, persaingan, kejutan ekonomi, perubahan sosial, perubahan ekologi, angkatan kerja dan politik dunia merupakan kekuatan yang merangsang perubahan. Teknologi informasi yang canggih dapat mengubah cara bersaing, sehingga dapat meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan. Keberadaan internet membuat batas-batas geografis nyaris tidak berarti. Dalam industri manapun, apakah industri domistik atau internasional, apakah menghasilkan barang atau jasa, aturan persaingan tercakup dalam lima faktor persaingan, yaitu masuknya pendatang baru, ancaman produk substitusi, daya tawar-menawar pembeli, daya tawar-menawar pemasok dan persaingan di antara para pesaing yang ada (Porter,1985). Persaingan ala Porter ini perlu diubah dengan aturan persaingan yang baru yang perlu diwaspadai yang terdiri dari tiga hal. Pertama, ekonomi baru atau ekonomi digital, yang membuat pasar digerogoti perusahaan revolusioner, misalnya Amazon.com yang dahulunya hanya toko buku, tetapi sekarang berjualan bermacam-macam produk. eBay dahulu hanyalah lelang di internet, tetapi sekarang berbagai produk dijual. Bahkan beberapa fasilitas ditambahkan, misalnya PayPal, yang memungkinkan individu atau perusahaan membayar secara online. Fasilitas Skype yang memungkinkan berkomunikasi suara dan video secara gratis antara pengguna yang menggunakan perangkat lunak Skype. Shopping.com sebagai fasilitas yang memungkinkan pengguna membandingkan harga dalam berbelanja. Rent.com merupakan fasilitas yang melayani sewa apartemen di Amerika Serikat dan melintas ke negara lain. Online Claaified dirancang untuk orang-orang saling bertemu, saling bertukar ide, saling berbisnis pada tingkat lokal. Kedua, lepasnya para pekerja terbaik, misalnya karyawan yang dahulu bekerja di perusahaan besar, seperti AT&T, IBM, Xerox berpindah ke Google, Amazon, eBay dan sebagainya. Ketiga, perusahaan revolusioner merampas aset terbaik, misalnya eBay yang dahulu hanya perusahaan kecil, sekarang mampu mengakuisisi Butterfield & Butterfield yang merupakan rumah lelang terbesar ketiga di Amerika Serikat. Vodafone yang baru berusia 12 tahun mampu membeli perusahaan tertua, terbesar dan paling membanggakan di Jerman. Google yang sebaya dengan Vodafone telah mempunyai kapitalisasi pasar lebih dari 900 miliar dolar dan telah mengakuisisi banyak perusahaan. Barangkali kita tidak mengenal perusahaan seperti Akamai Technologies, iMergent, Palomar Medical Technologies, Intergital Communications, CyberSource, Perficient, Lam Research, Ceradyne, F5 Networks dan Armor Holdings. Padahal perusahaan tersebut merupakan 10 perusahaan dengan pertumbuhan paling cepat di dunia.

Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN KOMPAS 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue