cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Studi Komunikasi dan Media
ISSN : 19785003     EISSN : 24076015     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 207 Documents
KOMUNIKASI PEMERINTAH DAN MASYARAKAT BERBASIS DIALEK BUDAYA LOKAL (Studi Kasus Proses Komunikasi Penunjang Pembangunan Berbasis Dialek Konjo pada Masyarakat di Tana Toa Kajang Kabupaten Bulukumba) Syarifuddin Syarifuddin
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 18, No 2 (2014): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.378 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2014.180209

Abstract

ABSTRACTThis study deals with the phenomenon of communication process between the Government and the community using Konjo dialect (local dialect). Research also wants to get an overview about othat communication process through that language. By using qualitative research approach and methods of case study introduced by Yin, this reseacch shows that Konjo dialect is a form of verbal communication process without media in interpersonal and small group-communication settings. The participants who use Konjo dialect are local peoples, communities in Tana Toa Kajang Bulukumba. The communication process is bound with communication message called Pasang ri Kajang which mean "Message, mandate; advice, mandate ; forecast ; and Warning/recall". The development agenct’s success in the communication process with Konjo dialect because they refer to the Development Support Communication principle. The agent has the support from the Liaison. Effects is still cognition. Conative effect is achieved because of life principle of Pasang ri Kajang that is "kamase-masea" which mean humbleness in life. In order to achieve the conative effect, it requires the spread of need for achieviement virus by liaison in Kajang tribal communities.Keywords : Communication; Development Support Communication; local culture,Konjo Dialect.ABSTRAK Penelitian ini ingin mengetahui fenomena proses komunikasi yang terjadi antara Pemerintah dan Masyarakat yang setting-nya berbasiskan pada dialek konjo. Penelitian ingin mendapatkan gambaran proses komunikasi melalui dialek konjo. Dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus model Yin, penelitian menunjukkan, dialek Konjo merupakan bentuk proses komunikasi lisan non media yang keberlangsungannya bisa dalam setting interpersonal maupun kelompok. Partisipan komunikasi berbasis dialek Konjo dalam realitasnya bersifat lokal (khusus), dilakukan komunitas suku Kajang di di Tana Toa Kajang Kabupaten Bulukumba saja. Proses komunikasi tersebut terikat dengan pesan komunikasi yang disebut Pasang ri Kajang. Makna isi dari Pasang ri Kajang itu yaitu “Pesan, wasiat, amanat; Nasihat atau wasiat; Amanat/amanah; Renungan/ramalan; dan Peringatan/mengingat”. Keberhasilan agen pembangunan menerapkan Proses komunikasi yang berbasis dialek Konjo, berdasarkan indikasinya karena berbasiskan pada prinsip Komunikasi Penunjang pembangunan (Development Support Communication-DSC). Para agen ini mendapat dukungan dari Liaison. Efek yang dicapai baru efek kognitif. Efek konatif tercapai berindikasi karena masyarakat Kajang masih terikat Pasang ri Kajang yang nota bene ditunjang prinsip hidup masyarakat yang disebut “kamase-masea” yang bermakna kehidupan yang serba sangat sederhana. Dalam kasus ini, untuk dapat mencapai efek konatif, maka sebagai prakondisi, diperlukan langkah awal berupa penyebaran virus need for achieviement oleh liaison di kalangan komunitas suku Kajang.Kata-kata Kunci : Komunikasi; Komunikasi Penunjang Pembangunan; Budaya Lokal. Dialek Konjo
AKTIFITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT MELALUI INTERNET Bambang Sunarwan
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 18, No 2 (2014): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.033 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2014.180206

Abstract

This research question focuses on communication activities of peoples by internet. To answer it, this one refers to the activity concept introduced by Levy and Windahl which refers to the dimension of audience’s orientation in the level of selectivity and involvment. By surveying respondents, this shows facts that audience orient themselves toward media usage. Accordingly, media efect will be moderate. Stronger effect of media to audiences takes place in media they select in the process of orientation selection, vice versa. Media which probably give a strong effect to audience in the level of selectivity are E-mail ; writing status in networking sites, chating space, and websites. Meanwhile, in the level of involvment, the media are web page, e.g., status in social networking sites, e-mail and chating space. Media which influeance audience strongly are facebook, yahoo messenger, yahoo mail, and google mail. Keywords : communication activities; Internet.ABSTRAKPermasalahan penelitian ini difokuskan pada aktifitas komunikasi anggota masyarakat melalui internet. Dalam upaya menjawabnya penelitian berbasiskan pada konsep aktifitas Levy dan Windahl yang merujuk pada dimensi orientasi khalayak dalam level selektifitas dan keterlibatan. Dengan metode survai pada responden, maka penelitian ini berhasil memperlihatkan bukti empirik bahwa khalayak itu memang secara absolut menentukan dirinya sendiri untuk mengorientasikan dirinya pada penggunaan media. Dengan begitu, efek dari media dengan sendirinya menjadi moderat. Efek media yang lebih kuat pada khalayak akan terjadi pada media yang terpilih dalam seleksi orientasi khalayak dan sebaliknya efek yang lemah akan terjadi pada media yang tidak terpilih. Media-media (saluran komunikasi) yang diduga akan berpengaruh kuat terhadap khalayak itu, dari fenomena level selektifitas yaitu : E-mail; Status dalam situs social Networking ; Chating Space/ruang ngobrol; dan websites. Sementara dari fenomena level keterlibatan, yaitu saluran-saluran dalam web page seperti “Status dalam situs social Networking ; E-mail dan Chating Space. Sedang nama-nama web page yang diduga akan sangat berpengaruh terhadap khalayak yaitu Face Book; Yahoo Messenger ; Yahoo mail dan Google Mail.
KONSTRUKSI REALITAS PERAN KPK DALAM PEMBERITAAN ONLINE TERKAIT KASUS KORUPSI (Studi Framing Beberapa Pemberitaan Online Terkait Peran KPK pada Kasus Korupsi Mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiah) Parulian Sitompul
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 18, No 2 (2014): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.807 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2014.180203

Abstract

ABSTRACTThis article presents the construction of KPK role in online news regarding corruption case. Frame model used is the one introduced by Robert Entmant. The research shows that there are two main construction in three online news. First, militancy of KPK, and its role as opposision towards illegal power of government. Second, frame of KPK as anti-elite organizations. It makes up KPK role in the eradication of corruption conducted by elites. Theoretically, research should be conducted to analyze news about KPK because of plentifulness of corruption cases. Practically, media should support news about the truth. News about corruption should not be exclusivly constructed or oppose law or universal justice.Key words : Reality Construction; online news; Framing.ABSTRAKTulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang konstruksirealitas peran KPK dalam pemberitaan online terkait kasus korupsi. Framing Robert Entmant dipakai sebagai perangkat pengumpulan data pada penelitian ini.Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat dua konstruksi utama dalam ketiga berita online. Pertama konstruksi bingkai militansi KPK, peran KPK sebagai opsi oposisi terhadap kekuatan penguasa atau pemerintah yang bergerak tidak pada nilai proses hukum tetapi pada nilai-nilai universal demokrasi. Kedua, konstruksi bingkai KPK sebagai organisasi anti elitis, ini merupakan konstruksi peran KPK sebagai bentuk perlawanannya kepada korupsi yang memang merupakan perilaku elite. Secara teoritis perlu dilakukan kajian wacana lebih dalam terkait pemberitaan tentang KPK, mengingat kasus yang banyak dan bergulir. Secara praktis bahwa media sebaiknya memberikan pemberitaan yang mendukung kebenaran. Dimana pemberitaan tentang korupsi jangan dijadikan sebuah konstruksi elitis ataupun konstruksi yang membangun opini tertentu yang menonjolkan sisi berlawanan dengan pengakuan hukum atau keadilan universal.Kata-kata kunci : Konstruksi Realitas; Berita Online; Framing.
MEDIA BARU, BUDAYA POLITIK DAN PARTISIPASI POLITIK (Survei Pemilih di Jambi, Babel dan Jakarta Mengenai Aktifitas Komunikasi Politik Melalui Media Baru) Bambang Mudjiyanto
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 18, No 2 (2014): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.144 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2014.180204

Abstract

This research tries to answer problems regarding phenomenon of political culture, and political participation of the peoples by using new media (population based on data in regional commission for general election). By survey, this research shows that there is variety of political culture in the three of research location. But, the over all inclination, the political culture is participant. Other finding is that there is vartiety of political participation as well. It shows that there is difference of political participation typology, specially apathetic one. The respondent proportion is different to each other but dominant, specially in Pangkal Pinang. Phenomenon of the same political typology in the three research locations is spectator one. Respondents in this typology become second dominant respondents in every location. Statistically, the relationship of those two variables is not significant. Relationship notations as follow: in Jakarta, X2 = 1,1857, df 3, p > α 0,05 (7,815). In Pangkal Pinang, X2 = 5,330, df 6, p > α 0,05 (12,592), in Jambi X2 = 2,0063, df 4, p > α 0,05 (9,488). Keywords : New Media; Political Culture; Participation Culture.ABSTRAK Penelitian ini berupaya menjawab persoalan menyangkut fenomena budaya politik dan partisipasi politik terkait penggunaan media baru oleh masyarakat (para anggota masyarakat yang secara sampling terpilih dari populasi pemilih menurut data KPUD). Dengan metode survai, penelitian ini menemukan bahwa memang terdapat keragaman budaya politik di tiga lokasi penelitian namun dengan satu kecenderungan di mana responden umumnya secara over all sudah memiliki budaya politik partisipan. Temuan lain yaitu bahwa fenomena partisipasi politik itu memang bervariasi adanya. Secara over all memperlihatkan bahwa di lokasi itu cenderung adanya perbedaan tipologi terkait dengan gejala partisipasi dimaksud. Perbedaan itu terutama menyangkut responden yang bertipologi apatis. Proporsi responden yang demikian berbeda jumlahnya di setiap lokasi, namun jadi bagian responden yang menonjol. Paling banyak dijumpai di Pangkal Pinang. Sedang tipologi politik lain yang cenderung sama gejalanya di tiga lokasi penelitian, yaitu tipologi Spektator. Responden bertipologi ini menjadi kelompok responden terbesar kedua di setiap lokasi penelitian. Secara statistik hubungan kedua variabel tidak signifikan. Notasi hubungan tersebut yaitu : Di Jakarta, X2 = 1,1857, df 3, p > α 0,05 (7,815). Di Pangkal Pinang , X2 = 5,330, df 6, p > α 0,05 (12,592). Di Jambi X2 =2,0063, df 4, p > α 0,05 (9,488).
REPRESENTASI ENKODING FENOMENA SURVEILENCE DAN MEDIA ONLINE (Analisis isi Isu Lokal dan Isu Potensi Lokal dalam Websites www.jambiekspress.co.id dan www.bangkapos.com.) Bambang Mudjiyanto
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.799 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190201

Abstract

Representation of encoding -related online media surveilence- has a difference. This shows the relevance to the media agenda theory, especially in the context of the media agenda. Regarding to this assumption, the online media is percepted differently by the two online media organizations. Regarding the differences in the importance of an issue for media organizations, this indicates that the system of government in Indonesia at this time, the interpretation of the various problems that can last so arbitrary from various parties, including online media organizations. This condition occurs and justifies Abdullah's assumption that in the era of democracy in Indonesia, hegemonic interpretation (monosemy) of rulers does not exist anymore and turned into an interpretation of polysemy. The dominance of the polysemy principle in the encoding media phenomenon related to the functions surveilence implementation and particularly concerning local issues and economic potential, seems to indicate a loss for the local government because the local government get a less support from the press in the development/revenue improvement. To maximize the function of local media surveilence, local government need to make approaches in building the local press awareness for the sake of public interest related to local issues.Key words: Representation; Encoding; Surveilence; Online mediaABSTRAKRepresentasi enkoding media online terkait pemeranan fungsi surveilence, dengan mana cenderung menunjukkan perbedaan yang relatif sifatnya, kiranya itu memperlihatkan ada relevansinya dengan media agenda theory, khususnya dalam konteks media agenda. Dalam kaitan asumsi ini, kedua media online dalam proses enkoding ternyata cenderung dipersepsi secara berbeda oleh kedua organisasi media online. Mengenai perbedaan arti pentingnya suatu isu bagi organisasi media, itu juga dapat mengindikasikan bahwa dalam era sistem pemerintahan di Indonesia saat ini, penafsiran terhadap berbagai masalah itu dapat berlangsung “begitu cair” dari berbagai pihak, termasuk tentunya di pihak organisasi media online dalam penelitian ini. Kondisi ini dimungkinkan terjadi dan sekaligus membenarkan asumsi Abdullah bahwa dalam era demokrasi di Indonesia saat  ini hegemoni interpretasi (monosemy) penguasa tiada lagi dan berganti menjadi interpretasi bersifat polysemy. Dominannya prinsip polysemy dalam fenomena enkoding media terkait pelaksanaan fungsi surveilence dan khususnya menyangkut isu-isu lokal dan potensi ekonomi lokal, tampaknya itu mengindikasikan kerugian bagi pemerintah lokal karena dengan begitu pemerintah daerah setempat jadi kurang dapat dukungan dari pihak pers dalam rangka pengembangann daerah  di bidang pendapatan. Untuk memaksimalkan fungsi surveilence media lokal, kiranya pemerintah setempat perlu melakukan pendekatan-pendekatan yang dapat menyadarkan pers lokal akan kepentingan bersama terkait pemediasian isu lokal.Kata-kata kunci : Representasi; Enkoding ; Surveilence; Media Online
REPRESENTASI POLITY DAN TRIVIA DALAM AGENDA MEDIA (Studi Agenda Media SK Ibukota) Ari Cahyo Nugroho
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.201 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190104

Abstract

ABSTRACT This content analysis research deals with the representation of ‘polity and trivia’ issues in media agenda from capital city newspapers. This issue is from the emergence phenomenon of trivia issue in media agenda, incidentally,it should ideally appear through the nature of the polity issues. This research seeks to discover ‘how’ the representation of polity and trivia issue in media agenda from capital city newspapers. Based on the research results, through the method of content analysis, it concluded that the representation of media agenda ‘polity and trivia issue’ in newspaper, can beexpressed in agenda setting theory throught the concept of agenda. Regarding the emergence of the trivia issue, in the dominance of media polity in issues agenda, other than to justify the truth of agenda setting theory; this also indicates the truth of catharsis hypothesis, that with scheduled trivia issue, editorial media organization will have a positive effect, also for the audience. In the future, for the development of the agenda media theory, researchers should develop his/hers analysis, such doing a trial ‘difference’ test between samples, related to media agenda. And also ‘performs a deepening’ related to the agenda in the trivia issues agenda relationship. Key Words: Representation; Media Agenda ; Polity; Trivia. ABSTRAK Penenelitian konten analysis ini mempermasalahkan representasi isu polity dan trivia dalam agenda media suratkabar Ibukota. Permasalahan ini sendiri berangkat dari fenomena munculnya isu trivia dalam pengagendaan media, yang nota bene di sisi lain idealnya muncul melalui isu-isu bersifat polity. Penelitian ini berupaya menemukan bagaimana representasi isu polity dan trivia dalam agenda media suratkabar Ibukota. Berdasarkan hasil penelitian melalui metode content analysis, disimpulkan bahwa representasi isu polity dan trivia dalam pengagendaan media suratkabar itu menjadi justifikasi akan kebenaran yang dikemukakan dalam teori agenda setting menyangkut konsep agenda Mengenai munculnya isu trivia dalam dominasi isu polity dalam pengagendaan media, selain dengan sendirinya membenarkan kebenaran asumsi theory agenda setting, ini juga mengindikasikan kebenaran akan hipotesis katarsis, bahwa dengan mengagendakan isu trivia itu, organisasi redaksi media berharap akan memiliki efek positif juga bagi para audience. Untuk pengembagan teori agenda media ke depan, hendaknya peneliti itu melakukan pengembangan analisisnya yang diantaranya melakukan uji-uji beda di antara sampel menyangkut pengagendaan media. Selain itu juga melakukan pendalaman terkait dengan pengagendaan dalam hubungan pengagendaan isu-isu trivia. Kata-Kata Kunci : Representasi; Agena Media; Polity; Trivia.
INTERKONEKSI DAN PEMBANGUNAN E-GOVT Ari Cahyo Nugroho
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.114 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190206

Abstract

The background of this study is interconnection phenomenon that has hardly examined. This one focuses on questioning the network interconnection structure application in the public service, including e-govt. The results show that Interconnection network structure has been already adopted. The ability of computer radius  between computers is 5-10 km, with 10-100 Mbps bandwitch, with LAN Network Interconnection Structure. Router and gateway are already interconnected, except LAN. In overall, LAN is the network structure with related phenomenon, the stage of e-gov adopted in goverment, variants of 12 question was done in the development of e-govt agencies context. There are 3 that adopted: information site creation, human resources preparation, and internal dissemination of information sites. The level of e-govt development phase are divided into 4: preparation, maturation, consolidation and utilization. But generally, the level is in the preparation phase. The public has not be able to enjoy public service. The condition is not favorable to the public caused by a number factors of humanity (such as culture of sharing-sharring the information; culture of documentation). This increased interconnection implementation related and e-govt ahead requires an urgence of implementation of socializing and technical guidance related to implementation of interconnection and e-govt in the Government apparatus.Key words: Interconnection; Development; E-Govt.  ABSTRAKBerlatarbelakangkan fenomena interkoneksi yang hampir belum pernah diteliti,  penelitian fokus mempertanyakan penerapan struktur jaringan interkoneksi di instansi pelayanan publik bidang informasi dan dokumentasi dan termasuk kualitas tahapan pembangunan e-govt di instansi bersangkutan. Hasilnya menunjukkan struktur jaringan interkoneksi umumnya sudah diadopsi namun masih cukup banyak juga belum mengadopsi. Kemampuan jarak tempuh antar komputer yang sudah terkoneksi berkisar 5-10 km. Bandwhitch-nya 10-100 Mbps. Lingkup struktur jaringan interkoneksi itu bersifat LAN. Router dan gateway sudah dimiliki namun LAN-LAN itu belum terinterkoneksi. Secara overall struktur jaringan interkoneksi yang diadopsi itu, yaitu jaringan interkoneksi LAN. Terkait fenomena Tahapan e-government yang diadopsi di instansi, maka 12 varian persoalan sudah dilakukan dalam konteks pembangunan dan pengembangan e-govt instansi. Namun tiga yang banyak diadopsi : pembuatan situs informasi, penyiapan sdm, dan sosialisasi situs informasi untuk internal. Level tahapan pengembangan e-govt terbagi empat: persiapan, pematangan, pemantapan dan pemanfaatan. Namun umumnya level itu baru dalam tahap persiapan. Karenanya publik jadi relatif belum dapat menikmati layanan publik. Kondisi tidak menguntungkan publik tersebut disebabkan sejumlah faktor humanity (seperti kultur berbagi-sharring informasi); kultur dokumentasi). Terkait ini peningkatan implementasi interkoneksi dan e-govt ke depan memerlukan urgensi pelaksanaan sosialisasi dan bimbingan teknis terkait implementasi interkoneksi dan e-govt  di kalangan aparatur pemerintah.Kata-kata kunci : Interkoneksi ; Pembangunan; E-Govt.
PENELITIAN KOMUNIKASI PENDEKATAN KUALITATIF BERBASIS TEKS Imran Hasyim Ali
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.174 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190109

Abstract

ABSTRACT This article tries to explain the bridging of qualitative approach study. This article focuses on the bridging oriented to qualitative-research approach, especially qualitative text-based approach of Communication Research. The results show that as one of approaches, qualitative research approach is based on a postheriori-data principle belief. On the basis of data source criterion, qualitative research approach, -especially qualitative approach of research Communication- is divided into two groups. First, field-based qualitative approach and (second) text-based qualitative approaches. The text-based qualitative approach included text analysis model of Theo Van Leewin, Marxist analysis, etc. Keywords: communication research; qualitative approach; text. ABSTRAK Artikel ini berupaya memaparkan pem-bridging-an megenai penelitian dengan pendekatan kualitatif. Fokus pem-bridging-an diorientasikan pada penelitian pendekatan kualitatif, khususnya penelitian komunikasi pendekatan kualitatif berbasis teks. Dari hasil bahasan dapat dikemukakan bahwa sebagai salah satu pendekatan, maka penelitian pendekatan kualitatif bertolak dari keyakinan pada data yang berbasiskan pada prinsip apostheriori. Berdasarkan kriterium sumber perolehan data, Penelitian Pendekatan Kualitatif, khususnya Penelitian Komunikasi dengan Pendekatan Kualitatif terbedakan menjadi dua kelompok. Pertama Penelitian Komunikasi dengan Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan “field” dan kedua Penelitian Komunikasi dengan Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan Teks. Penelitian Komunikasi dengan Pendekatan Kualitatif yang berbasiskan Teks, diantaranya adalah model analisis teks Theo Van Leewin, model analisis teks Marxis, dll. Kata-kata kunci : Penelitian komunikasi; pendekatan kualitatif; teks.
DEMOKRASI, KOMUNIKASI POLITIK INDONESIA DAN GLOBALISASI (Identifikasi dan Harapan Perencanaan Ulang) Aa Bambang A.S
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.779 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190211

Abstract

This article aims to explore and describe the democratic political communication and democracy of Indonesia type. We hope that the country's political communicators make good planning. Therefore, this article gives an overview of the basic political communication planning. This article identifies the characteristics of Indonesian peoples from the theory of sociology and anthropology. This then scrutinized it on the basis of historical reality, which the author experienced in childhood, especially in author residence. The results show that in fact Indonesia has a distinctive political communication, based on the Indonesia democratic system: Demokrasi Gotong Royong or well known as Demokrasi Pancasila. In the world it can be regarded as a form of monistic emancipatory model. Unfortunately, democracy got eroded by two trajectories of globalization which resulted in two figures causing a history accident. Efforts of Sukarno’s and Gusdur-Mega’s temporarily got stuck. But it’s not in uselessness. There is the light of hope that in the future time, peoples of Indonesia keep building characters. Hence, it’s suggested to develop conceptually, policy, and socialization on the model of democratic Indonesia.Keywords: democracy, political communication, globalization, communication plan. AbstrakArtikel ini bertujuan menelusuri dan menggambarkan komunikasi politik demokratis sekaligus demokrasi khas Indonesia. Dengan harapan ada perencanaan lebih lanjut dan matang bagi para komunikator politik negeri ini. Untuk itu, disiapkan pula gambaran dasar perencanaan komunikasi politik yang mengarah ke sana. Identifikasi dimulai dari karakteristik manusia Indonesia secara teoretis sosiologis dan antropologis, kemudian dikritisi berdasarkan realitas kesejarahan (masa lalu) di lapangan, yang penulis alami pada masa kecil, terutama di kampung halaman penulis. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia memiliki komunikasi politik yang khas, yang didasarkan pula pada sistem demokrasi Indonesia: Demokrasi Gotong Royong atau yang lebih dikenal –sebutannya (tidak substansinya)– Demokrasi Pancasila; yang didunia bisa dikatakan sebagai bentuk Model Monistik Emansipatory. Sayang demokrasi ini terkikis oleh dua lintasan globalisasi yang memunculkan pula dua tokoh penyebab kecelakaan sejarah. Upaya Sukarno dan GusDur-Mega untuk sementara terhambat. Memang tidaklah dia-sia. Setidaknya diharapkan masih ada anak bangsa yang mau melanjutkan caracter building yang mereka upayakan.Untuk itu disarankan pengembangan secara konsepsional, kebijakan, dan sosialisasi tentang model demokrasi Indonesia tersebut.Kata-kata : demokrasi, komuniaksi politik, globalisasi, perencanaan komunikasi
MASYARAKAT DAN INFORMASI PRODUK BERDAYA SAING INTERNATIONAL Hasyim Ali Imran
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.894 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190202

Abstract

Based on the sixth point of nawacita, this study aims to overview community cognition level regarding economy potential (local products) in their region and the Internet potential to enhance their product competitiveness internationally. Based on the  results of data overall analysis, community cognition level about the economy potential (local products) in their region is generally low. A relatively small numbers of community are in moderate and none have high knowledge. Regarding cognition about Internet potential to enhance competitiveness of the local products in the world, most peoples have moderate knowledge, and many of them have low knowledge. This study finds no high knowledgeable community members. Statistically, this study finds no significant relationship between the characteristics and cognition variabel. This is an indicator that among respondents, there are not agentic individuals. It  indicates that Kepulauan Seribu peoples are apathetic toward their environment. Further researches are recommended to use extranous variables in the instrument. Because of low cognition of society regarding local economy and the Internet potential as a medium for enhancing local economy to be internationally-competitive, we suggest to make efforts to empower them, to improve their cognition, for example by socialization or technical guidance.Keywords : community; information; cognition, local products; Internet potential. ABSTRAKBerlatarbelakangkan point ke enam nawacita, penelitian bertujuan mendapatkan gambaran mengenai kadar kognisi masyarakat terkait potensi-potensi ekonomi (produk lokal) dan kognisi terkait potensi internet sebagai sarana peningkat daya saing produk mereka di tingkat international. Hasil analisis over all terhadap data yang dikumpulkan dengan teknik survai menunjukkan bahwa kadar kognisi potensi-potensi ekonomi (produk lokal) umumnya masih relatif rendah. Relatif sedikit jumlah mereka yang sudah relatif sedang dan tidak dijumpai satupun yang sudah berpengetahuan tinggi. Begitupun menyangkut kognisi tentang Potensi Internet sebagai peningkat daya saing produk lokal di kancah international, anggota masyarakat kebanyakan masih berpengetahuan sedang dan masih cukup banyak pula yang masih berpengetahuan rendah. Sementara tidak ditemukan satupun anggota masyarakat yang sudah berpengetahuan tinggi. Secara statistik tidak ditemukan adanya hubungan signifikan antara variabel karakteristik dengan variabel kognisi. Ketidaksignifikanan ini menjadi indikator bahwa di kalangan responden itu umumnya masih belum ditemukan individu-individu yang berkualitas “agentic” dan ini sekaligus mengindikasikan bahwa masyarakat kepulauan seribu itu tampak cenderung apatis terhadap lingkungannya. Untuk pelaksanaan penelitian sejenis di masa mendatang, perlu menyertakan variabel extranous dalam instrumen penelitian. Sehubungan masih banyaknya anggota masyarakat yang kognisinya masih rendah maka perlu dilakukan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat guna upaya peningkatan kognisi mereka, misalnya dengan sosialisasi atau bimtek. Kata-kata kunci : Masyarakat;Informasi; Kognisi; Produk Lokal; Potensi internet.

Page 6 of 21 | Total Record : 207


Filter by Year

2011 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 28 No No. 2 (2024): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA (JSKM) Vol 28 No No 1 (2024): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA (JSKM) Vol 27 No 2 (2023): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA (JSKM) Vol 27 No 1 (2023): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA Vol 26 No 2 (2022): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA Vol 26 No 1 (2022): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA Vol 25, No 2 (2021): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 25, No 1 (2021): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 24, No 2 (2020): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 24, No 1 (2020): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 23, No 2 (2019): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 23, No 1 (2019): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 22, No 2 (2018): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 22, No 2 (2018): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 22, No 1 (2018): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 22, No 1 (2018): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 21, No 2 (2017): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 21, No 2 (2017): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 21, No 1 (2017): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 21, No 1 (2017): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 20, No 2 (2016): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 20, No 1 (2016): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 18, No 2 (2014): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 18, No 1 (2014): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 17, No 2 (2013): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 17, No 1 (2013): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 16, No 2 (2012): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 16, No 1 (2012): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 15, No 2 (2011): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 15, No 1 (2011): Jurnal Studi Komunikasi dan media More Issue