cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Studi Komunikasi dan Media
ISSN : 19785003     EISSN : 24076015     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 207 Documents
AGENDA MEDIA SURATKABAR (Analisis Isi Suratkabar Ibukota) Felix Tawang
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.904 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190105

Abstract

ABSTRACT This research focuses on agenda of capital city media regarding salience issue and valence issue. To deal with that issue, researcher refers to the concept of media agenda in agenda setting theory. By using content analysis method toward four newspapers (Kompas, Media Indonesia, Republika, and Rakyat Merdeka), this research indicates the truth of assumption in agenda setting theory: what media regards as important will be regarded as important one by audiences. For further studies, those ones (salience issue and valence issue) should be tested (T-test and studying more about the cause of both side coverage principle abandoning in media agenda). It should be conducted to develop agenda setting theory especially about media agenda study. Keywords: Media Agenda; Newspapers; Salience Issue;valence issue ABSTRAK Pada intinya riset ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Agenda Media Suratkabar Ibukota terkait fenomena salience issue dan valence isu. Upaya menjawab fenomena ini sendiri dilakukan dengan cara mengacu pada konsep agenda media dalam tradisi media agenda setting theory. Dengan menggunakan metode content analysis terhadap empat suratakabar ibukota (Kompas, Media Indonesia, Republika dan Rakyat Merdeka), maka berdasarkan fenomena salience issue dan valence issue penelitian ini kembali membuktikan kebenaran akan asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam teori agenda setting, bahwa apa yang dianggap penting oleh media juga sebagai dianggap penting oleh khalayaknya. Bagi pelaksanaan studi sejenis di masa-masa mendatang, hendaknya kedua hal tadi (uji beda dan pendalaman sebab tidak gunakannya prinsip cover "both side" dalam pengagendaan media), perlu dilakukan para peneliti guna pengembangan teori agenda setting dan khususnya menyangkut studi pada fase studi agenda media. Kata-kata kunci : Agenda Media; Suratkabar; Salience Issue ; Valence Issue
POLITICAL MARKETING DAN MEDIA SOSIAL (Studi Political Marketing Capres RI 2014 Melalui Facebook) Christiany Juditha
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.454 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190207

Abstract

The background of this research is the phenomenon of wasteful cost of political campaigns in the 2014 presidential election and the distrust towards the candidate of the leaders. This study focuses on the issue of political marketing. The research objective is to get an overview of  candidates political marketing (Prabowo and Jokowi) through Facebook. The method used is qualitative content analysis of the 4 categories of political marketing: policy, figures, parties and imaging. The study concluded that Prabowo policies tend to be global while Jokowi sectoral. Prabowo was described as confident, assertive, strong, trustworthy person and experienced one. Jokowi was depicted as a person who always listen, pay attention, love, defend and likes blusukan. Prabowo wanted to build a democratic nation. While Jokowi hoped Indonesia as a sovereign, independent, and cultured state. In image building, Prabowo highlighted the desire of supporters while Jokowi highlighted the working program. Political marketing is an attempt to provide political education by offering product quality according to the needs of society. Presidential candidates need to understand and carefully offer a product for public policy requires a presidential candidate who is able to accomplish state country, not rhetoric. Keywords :  Political marketing;  social media, presiden  candidate;  general  election;                Facebook. ABSTRAKBerlatarbelakangkan fenomena borosnya biaya kampanye politik dalam pilpres 2014 dan masih sangat tingginya ketidakpercayaan masyarakat terhadap calon pemimpin, penelitian ini fokus pada persoalan pemasaran politik (political marketing). Tujuannya untuk mendapatkan gambaran political marketing capres Prabowo dan Jokowi melalui Facebook. Metode yang digunakan adalah analisis isi kualitatif dengan 4 kategori political marketing :  kebijakan, figur, partai dan pencitraan. Hasil penelitian menyimpulkan kebijakan Prabowo bersifat global sementara Jokowi per sektoral. Prabowo digambarkan sebagai pribadi yang percaya diri, tegas, kuat, amanah dan berpengalaman. Jokowi tergambar sebagai pribadi yang selalu mendengar, memperhatikan, mencintai, membela serta gemar blusukan. Prabowo ingin membangun demokrasi bangsa, sementara Jokowi berharap Indonesia sebagai negara berdaulat, berdikari dan berkebudayaan. Dalam membangun pencitraannya, Prabowo sangat menonjolkan keinginan para pendukungnya, sedangkan Jokowi lebih menonjolkan program kerja. Political marketing  merupakan upaya untuk memberikan pendidikan politik dengan menawarkan produk berkualitas sesuai kebutuhan masyarakat. Capres perlu memahami dan cermat dalam menawarkan produk kebijakan karena kini  masyarakat membutuhkan capres yang mampu menyelesaikan persolan negara, bukan hanya sekedar retorika belaka.Kata Kunci : Political marketing; media sosial ;calon presiden; Pemilu; Facebook.
KOMPARASI KEBENARAN, RELEVANSI, KESEIMBANGAN DAN NETRALITAS DALAM PEMBERITAAN (Studi Konten Analisis Terkait Pemberitaan Pemilu Presiden 2014 di Harian Kompas dan Koran Sindo) THE COMPARASION OF TRUTH, RELEVANCE, BALANCE AND NETRALITY IN NEWS REPORTING Emmy Poentarie
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.186 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190101

Abstract

ABSTRACTBackground of this research is an expectation toward mass media in order to work professionally, independently, and objectively in presidential election news reporting 2014. This article focuses on the issue of truth, relevance, balance, and netrality in news reporting regarding presidential election 2014 in Kompas and Koran Sindo daily. By content analysis, the result shows that: First truth category, Kompas has higher-level factuality than Koran Sindo. Second, relevance category,Kompasin reporting presidential election 2014 tends to keep factuality by minimalizing sensational contents. Meanwhile, this research found that Koran Sindo reported a number of sensational and dramatized news. Third, balance category, Kompas and Koran Sindo have same performance regarding presidential election 2014. They tend to abandon balance of news sources till. They emphasize oneside-cover report rather than cover-both-side one.Fourth, neutrality category, Kompas dailytends to be objective, proportional in presidential election campaign news report 2014. It gives balanced frequency for Prabowo-Hatta and Jokowi-JK. Contrarily, Koran Sindo is not objective.Frequency of the presiden/vice-president is not proportional. Koran Sindo emphasizesPrabowo-Hatta more rather that Jokowi-JK do.Keywords : Comparison; Truth, Relevance, Balance; Netrality; News. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tuntutan agar media massa berkinerja secara profesional, independen dan obyektif dalam pemberitaan kampanye PemiluPresiden 2014. Permasalahan difokuskan pada persoalan kebenaran, relevansi, keseimbangan dan netralitas dalam pemberitaan terkait masalah Pemilu Pilpres 2014 pada Harian Kompas dan Koran Sindo. Dengan metode analisis isi, hasilnya menunjukkan : Pertama kategori kebenaran, Kompas memiliki faktualitas yang cenderung tinggi dibandingkan dengan Koran Sindo. Kedua, kategori relevansi, Kompas dalam menyajikan berita kampanye Pemilu Presiden 2014 cenderung menjaga faktualitas dengan meminimalisasi hal-hal yang mengandung sensasionalisme. Sedangkan Koran Sindo masih ditemui sejumlah berita yang tergolong sensasionalisme yang mengandung unsur dramatisasi. Ketiga, kategori keseimbangan, Harian Kompas dan Koran Sindo memiliki kinerja yang sama terkait dengan pemberitaan Kampanye Pemilu Presiden 2014 yakni cenderung menggunakan nara sumber tidak berimbang sehingga lebih menonjolkan penggunaan teknik liputan satu sisi (one side cover) dari pada banyak sisi (cover both side). Keempat, kategori netralitas, Koran Kompas cenderung obyektif, proporsional dalam pemberitaan terkait dengan pelaksanaan kampanye Pemilu Presiden 2014, memberi porsi frekuensi kemunculan yang berimbang baik pasangan calon presiden Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Sedangkan Koran Sindo tidak obyektif, kemunculan berita terkait dengan pasangan calon presiden/wakil presiden tidak proporsional cenderung berat sebelah. Koran Sindo lebih menonjolkan Prabowo-Hatta daripada Jokowi-JK.Kata-kata kunci : Komparasi; Kebenaran, Relevansi, Keseimbangan; Netralitas; Berita.
KOMUNITAS PEDESAAN DAN POLA SELEKTIFITAS INTERNET (Survai Komunitas Desa Kading, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan) Rukman Pala
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.81 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190203

Abstract

This study Background is to view the rural community condition regarding internet. This study focuses on the selectivity pattern issue of internet access and these pattern significance with  rural communities characteristics. The findings of rural community activity phenomenon -in the context of audience orientation dimensions, at the level selectivity, involvement and utilization which- shows the the internet use variation, become evidence that individuals in rural communities are active. Activities theoretically occur because peoples in rural communities psychologically have "needs and gratifications". The such activities emergence because of the five alternatives of "needs and gratifications". Attempts to see this  relationship significance was done in this study, at least, by knowing the significance of the characteristic relationship variable and selectivity pattern variable. But it doesn’t get proof statistically in this research. Neither  significance of individual characteristic variables with the type of information does. Theoretically those relations are not significant statistically. Even the association is more unsignificant when viewed from other minor variables within information types. The cause may be intervening/extraneous variables. Further research must implement similar research to make the theory advancementKeyword : patterns; selectivity; Internet; community; rural. ABSTRAKBerlatarbelakangkan upaya melihat kondisi komunitas pedesaan terkait internet, penelitian fokus pada persoalan pola selektifitas akses internet dan persoalan signifikansi pola dimaksud dengan karaktersistik anggota komunitas pedesaan. Temuan fenomena aktifitas komunitas pedesaan dalam konteks dimensi orientasi khalayak  pada level selektifitas, keterlibatam dan pemanfaatan yang notabene memperlihatkan variansi terkait penggunaan internet, menjadi fakta empiris pembukti individu komunitas pedesaan memang aktif adanya. Aktifitas itu secara teoritis dimungkinkan karena dalam diri individu komunitas pedesaan secara psikologis dilengkapi beberapa “needs and gratification”. Dengan demikian, munculnya fenomena ragam aktifitas individu komunitas pedesaan, secara teoritis itu dimungkinkan sehubungan dengan adanya lima alternatif “needs and gratification”. Upaya melihat signifikansi hubungan itu sendiri dilakukan dalam penelitian ini. Setidaknya dilakukan dengan cara berupaya mengetahui signifikansi keterkaitan variabel Karaktersistik dan variabel Pola Selektifitas. Asumsi itu tidak menemukan kebenarannya secara statistik dalam riset ini. Begitu pula ketika signifikansi tadi dilihat keterkaitannya menyangkut variabel karakteristik individu dengan jenis informasi. Secara teoritis hubungan keduanya tidak signifikan secara statistik. Bahkan tampak menjadi sangat tidak signifikan ketika asosiasi itu ditinjau pada variabel-variabel minor lainnya pada variabel mayor jenis informasi. Penyebabnya mungkin dari sejumlah variabel intervening atau sejumlah variabel extranous.  Pelaksaan penelitian sejenis melalui survai bersifat advance menjadi suatu keharusan dilakukan peneliti berikutnya untuk pengembangan teori. Kata-kata kunci : Pola ; Selektifitas; Internet; Komunitas; Pedesaan.
AKTIFITAS KOMUNIKASI DAN INFORMASI MELALUI INTERNET (Survai pada Masyarakat Kota Makassar, Kecamatan Biringkanaya,Kelurahan Paccerakkang) Muhammad Rustam
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.333 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190106

Abstract

ABSTRACT Background of this research is to study phenomenon of communication activities and public information by individuals associated with many current alternatives in respect of ICT development, this study focuseson that phenomenon according to four indicators. By survey method, study concludes that E-mail is a very familiachannel among community. Based on the distribution, frequentcy of accessing a web page, respondents are divided into two group : respondents who do not and very often. Respondents who answered frequently access Internet using email media. All respondents recognized web page once they access. Proportion of the most accessed web pages are like Facebook, Yahoo mail, or news portal. Related how frequently access web pages related to the interests of the move to communicate and informed the web pages are the most frequently accessed Facebook Webpage. Other Webpage relatively dominant frequently accessed is Yahoo mail. While other web pages that are relatively widely accessible web page like Yahoo Messenger, News Portal, Google Mail, and Youtube. Overall, majority of community members have scores were related communication activities and information via internet. Respondents low scores indicate significance even though few in number. Furthermore, respondents who had high scores is still relatively small. Keywords: Communication Activity ; Information; Internet. ABSTRAK Berlatarbelakangkan keinginan mempelajari fenomena aktifitas komunikasi dan informasi yang dilakukan individu masyarakat berkaitan dengan banyaknya alternatif saat ini sehubungan dengan perkembangan TIK, penelitiaan ini fokus nmempelajari fenomena dimaksud menurut empat indikator. Dengan menggunakan metode survai, penelitian ini menyimpulkan bahwa E-mail merupakan saluran yang relatif sudah sangat akrab di kalangan anggota masyarakat. Secara dikotomistik, tingkat keseringan responden dalam mengakses halaman web terbagi menjadi dua, antara responden yang “tidak pernah dan Sangat sering”. Responden lebih dominan sering mengakses internet dengan frekuensi sering melalui saluran email. Semua halaman web diakui responden pernah mereka akses. Proporsi pengakses terbanyak yaitu seperti halaman web Face Book; Yahoo mail ; atau Portal Berita; Terkait dengan tingkat keseringan mengakses halaman web dalam kaitan kepentingan beraktifitas untuk berkomunikasi dan berinformasi, halaman web yang paling sering diakses adalah Web Page Face Book. Web page lainnya yang relatif dominan sering diakses Yahoo mail. Sementara halaman web lainnya yang relatif signifikan jumlah responden yang sering mengakses yaitu seperti Yahoo Messenger; Portal Berita-Google Mail ; dan Youtube. Secara over all, sebagian besar anggota masyarakat masih berskor sedang terkait aktifitas komunikasi dan informasinya melalui internet. Responden berskor rendah meskipun tidak banyak namun jumlahnya cukup berarti. Responden berskor tinggi jumlahnya masih relatif sedikit. Kata-kata kunci : Aktifitas Komunikasi dan Informasi; Internet.
TELECENTERS DAN EKSISTENSINYA (Survai Eksistensi PLIK di Provinsi Jambi, Bengkulu dan Bangka Belitung) Felix Tawaang
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.093 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190208

Abstract

This study questions the existence of telecentres in Bengkulu, Jambi, and Bangka Belitung. The study concludes that telecentres or PLIK indicates that telecentres generally do not operate accordance with its objectives. This phenomenon indicates that the implementation telecentres establishement for the first time in Velmdalen, Swedia- was not in realization. Operating-PLIK - according to theory of telecenters- generally is included into the category of basic model telecenters. Referring to the report of APJII, this phenomenon occurs also in the country of Chile (Latin America) and South Africa. Some PLIK such as the District Kepahiang and Curup change from the basic model of telecentres becomes a model of telephone cafe. A number of PLIK operating, according to the indicators of telecenters are excluded from category of ideal telecenters of ideal model, the one of Multi-purpose Community telecentres-MCT. Therefore, in addition to addressing the technical shortcomings earlier, it needs to improve the quality of the resource managers.Key words: Telecenters ; PLIK; Existence; Telecentres Model; Province.   ABSTRAKPenelitian ini pada dasarnya mempertanyakan eksistensi telecenters di Provinsi Bengkulu, Jambi serta Bangka Belitung. Hasil studi menyimpulkan bahwa telecenters yang dalam kenyataan disebut PLIK itu mengindikasikan bahwa telecenters-telecenters itu umumnya tidak beroperasi sesuai dengan tujuan pengadaan program telecenters. Dengan fenomena ini, maka hakekat dari pelaksanaan Telecentres sebagaimana pembentukannya pertama kali di Velmdalen, Swedia itu dengan sendirinya jadi tidak mungkin terwujud. Selanjutnya, terkait dengan PLIK-PLIK yang dijumpai masih eksis beroperasi, mengacu pada teori telecenters, maka PLIK-PLIK dimaksud umumnya termasuk dalam kategori telecenters yang berbasis model dasar.  Mengacu pada catatan APJII, ini berarti fenomenanya sama dengan yang terjadi di negara-negara seperti Chili (Amerika Latin) dan Afrika Selatan, di  mana telecenters model dasar juga memang banyak dijumpai di sana. Beberapa PLIK seperti di Kabupaten Kepahiang dan Curup, dijumpai PLIK yang berganti model, dari telecenters bermodel dasar menjadi model wartel. Dari sejumlah PLIK yang beroperasi tadi, sesuai dengan indikator telecenters, maka tidak satupun di antaranya yang termasuk kategori model ideal-telecenters model Multi-purpose Community Telecenters-MCT. Untuk itu, maka di samping mengatasi kekurangan-kekurangan teknis tadi, kiranya perlu juga meningkatkan kualitas sumber daya penegelolanya.Kata-kata kunci : Telecenters; PLIK, Eksistensi; Model Telecenters; Provinsi
PELIPUTAN INVESTIGASI, PROFESIONALISME WARTAWAN INVESTIGASI DAN INTERPLAY ANTARA STRUKTUR DAN AGENCY (Studi Kasus Dalam Praktiknya di majalah Tempo) Johny Herfan
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.666 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190102

Abstract

ABSTRACTBackground of this study is the phenomenon of investigative reporting practice in relation to the journalist’s professionalism. This research method is the case study. This research focuses oninvestigative reporting practice in Tempo magazine; journalist’s professionalism in investigating in perspective of competency standards of reporter; and interplay between structure and agency. The conclusion is journalist have competency to conduct investigative reporting on the basis of good experience. In the implementation of journalist-competency standard, detail process of investigation can not be conducted according to working procedure. The fact shows that investigative reporting ofTempo is earlier in situation anticipation. In the process of investigative reporting,the role of structure and agency gives freedom to each other for journalists. Investigation team’s rule of Tempo enables and constrains according to rule and resources. But, Tempo investigative reporting team has its own standards. In certain cases of investigative reporting, Tempo reporters implement higher level of competency than journalist-competency standard. Related to Structuration theory between structure and agency structure in reality, structure do not overburden team performance.The structure does not hold a decisive role. Interplay does not depend on structure. Other researchers should conduct observation research in media which apply competency test for reporters from other agencies. Keywords: Investigative Coverage; Professionalism of InvestigatingJournalist; Interplay; Structure; Agency. ABSTRAKBerlatarbelakangkan fenomena praktik liputan investigasi dalam kaitan profesionalisme wartawan, penelitian bermetode studi kasus ini fokus pada soal : praktik peliputaninvestigasi di majalah Tempo; profesionalisme wartawan investigasi dalam perspektif Standar Kompetensi Wartawan di Majalah Tempo; dan interplay antara struktur dan agency dalam praktik peliputan investigasi di majalah Tempo. Penelitian menyimpulkan : Wartawan berkompeten dalam SKW melakukan peliputan investigasi berdasarkan pengalaman yang mumpuni. Di dalam penerapan SKW, rincian teknis proses kerja investigasi tidak dapat dilakukan oleh wartawan berkompeten sesuai dengan urutan langkah kerja. Kenyataan di lapangan menunjukkan tim peliputan investigasi Tempo lebih dini mengantisipasi situasi. Dalam proses organisasi liputan investigasi, perananstruktur dan agensi saling memberi keleluasaan bagi wartawan. Aturan yang dimiliki tim investigasi Tempo memberi enabling dan constraining, sesuai dengan rule dan resources. Akan tetapi, tim liputan investigasi Tempo memiliki tolok ukur tersendiri. Dalam kasus peliputan investigasi tertentubahkan tim investigasi Tempo menerapkan standar kompetensi wartawan yang lebih tinggi materi peliputannya daripada SKW. Terkait Teori Strukturasi antara struktur dan agency ternyata struktur pada investigasi Tempo tidak terlalu membebani kinerja tim. Struktur tidak memegang peranan yang menentukan. Interplay tidak tergantung dari tujuan struktur. Para peneliti lain perlu melakukan penelitian observasi di media yang mengikuti uji kompetensi wartawan dari lembaga lain.Kata-kata Kunci : Peliputan Investigasi; Profesionalisme Wartawan Investigasi; Interplay; Struktur ; Agency.
PENGGUNAAN INTERNET PADA MASYARAKAT PERKOTAAN (Survai Aktifitas Komunikasi Masyarakat Kelurahan Karombasan Utara, Kecamatan Wanea, Kota Manado melalui Medium Internet Femy F Umboh
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31445/jskm.2015.190204

Abstract

Beckground of this research is that internet use among urban peoples is better than rural people’s one.This study focuses on urban people’s internet usage. By referring to uses and gratification theory introduced by Katz, Blumler and Gurevitch and Levy’s concept of activities in operationalization of variableuse, and by survey technique, this study indicates that regarding activity phenomenon of “before”, their internet use motives are :information seeking; entertainment; playing games; workingand killing time. Generally, dominant motives are: information seeking; entertainment; playing games; working. In the actvity of “during”, research finds that respondents need time between 1–5 hours in every access for entertainment,1–5 hours for playing game, < 1 hours untill 11-15 hours to work. Many respondents use internet at home and places where they work. They use internet at home three time more than other places. There are 17 contentsthey access. Those contents have been accessed but most of them do never. Respondents tend to access social media. They access 2-4 times within a week for the last six months.Keywords: Urban people; Internet uses. ABSTRAKBerlatarbelakangkan indikasi masyarakat perkotaan lebih baik akses internetnya dari pada masyarakat pedesaan, penelitian fokus pada masalah penggunaan internet masyarakat perkotaan. Mengacu konsep uses dalam model teori Uses and Gratification dari Katz, Blumler dan Gurevitch dan konsep aktifitas dari Levy dalam mengoperasionalkan variabel penggunaan, hasil penelitian dengan menggunakan teknik pengumpulan data survai menunjukkan bahwa terkait fenomena aktifitas “sebelum”, motif mereka menggunakan internet yaitu ; Cari Informasi; Hiburan; Bermain game; Bekerja dan Mengisi Waktu Senggang. Umumnya responden menonjol pada motif : Cari Informasi; Hiburan; main game; dan bekerja. Dalam hubungan aktifitas “selama”, temuan menunjukkan durasi waktu yang dihabiskan responden bermotif hiburan kebanyakan 1–5 jam per akses. Responden bermotif main game, kebanyakan 1–5 jam. Responden bermotif kerja, kebanyakan menghabiskan antara < 1 jam hingga 11 - 15 jam. Responden lebih banyak menggunakan internet di rumah dan di tempat kerja. Pengakses internet 3 kali seminggu di rumah relatif lebih banyak dari pada kelompok pengakses lainnya. Terdapat 17 ragam konten internet yang diakses. Umumnya ragam konten ini sudah diakses namun demikian bagian terbesarnya mengaku tidak pernah mengakses ragam konten itu. Media sosial menjadi konten yang cenderung banyak diakses dan mereka  lebih banyak mengaksesnya 2 kali-4 kali dalam seminggu selama enam bulan terakhir.Kata-kata kunci : Masyarakat Perkotaan ; Penggunaan Internet
AKTIFITAS KOMUNIKASI DAN MEDIA SOSIAL(Survai Pola Komunikasi Masyarakat DKI Jakarta Melalui Social Network Sites) Sunarwan Bambang
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.32 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190107

Abstract

ABSTRACT This research dealts with people’s communication activities by social network sites. To answer it, -by survey method- this one observed that phenomenon on the basis of activities introduced by Levy and Windahl, activities are divided into two dimension, dimension of communication sequence especially in activities“during”of media exposure. Variety of communication activities through social networking sites indicates that in terms of the media use including internet, individuals activly direct themselves. They become active independent selectors to meet with their satisfaction. These research findings provide empirical facts that strengthen the assumptions of uses and gratification theory model. The reason why the respondents have a specific activity pattern in the use of social networking sites, according to the assumption of uses-and-gratification theory model, it results from antecedent variable e.g., motive, individual characteristics and the like.For further researches, it needs to involve antecedent variables in research so as to be a guide to obtain empirical data for uses-and-gratification theory model development. Keywords : communication activities; social media;social network sites ABSTRAK Riset ini pada persoalan bagaimana aktifitas komunikasi masyarakat melalui social network sites. Dalam upaya menjawab persoalan tersebut, melalui metode survai penelitian ini mengoservasi fenomena dimaksud berdasarkan penggunaan konsep aktifitasnya Levy dan Windahl, aktifitas dalam dimensi kedua, dimensi urutan komunikasi terutama pada aktifitas selama terjadinya terpaan media. Ragam aktifitas komunikasi melalui situs jejaring sosial mengindikasikan bahwa dalam kaitan penggunaan media termasuk medium internet, individu itu aktif atau mengarahkan dirinya sendiri. Individu sepenuhnya menjadi selektor aktif yang independen guna memenuhi kepuasan dirinya. Temuan riset ini kembali menjadi fakta empirikal yang dapat memperkuat asumsi dalam model teori uses and gratification. Penyebab mengapa kalangan responden dalam penelitian ini menjadi memiliki pola-polanya secara tertentu dalam beraktifitas menggunakan situs jejaring sosial tadi, sesuai dengan asumsi dalam model teori uses and gratification, penyebabnya berkaitan dengan variabel anteseden seperti motif, karakteristik individu dan sejenisnya. Peneliti yang tertarik melakukan penelitian serupa di masa mendatang, kiranya sangat perlu memasukkan variabel anteseden tadi dalam riset sebagai penuntun bagi perolehan data empirik demi pengembangan model teori uses and gratifitcation. Kata-kata kunci : Aktifitas Komunikasi ; Media Sosial ; Social Network Sites
CELLULAR PHONE AND THE USAGE (Problems of Cellular Phone’s Usage In Blank Spot Areas of Indonesia) KARMAN; A R Berto
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.038 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2015.190209

Abstract

Telepon seluler sebagai bentuk teknologi komunikasi mudah dijangkau lapisan masyarakat Indonesia. Namun, Kondisi geografis menyebabkan akses ke daerah menjadi sulit. Padahal, di daerah banyak potensi konsumen telepon seluler namun tidak difasilitasi dengan infrastruktur telekomunikasi. Fenomena ini menarik dikaji khususnya mengenai bagaimana pola penggunaan dan fungsi telepon seluler sebagai teknologi komunikasi tereduksi oleh keterbatasan infrastruktur. Tulisan ini akan mengeksplorasi, mengidentifikasi, dan memetakan pokok-pokok permasalahan terkait dengan pemanfaatan telepon seluler di daerah blankspot di Indonesia, serta ingin mengetahui trend penelitian kedepannya. Metode penelitian ingin adalah dengan melakukan tinjauan literatur terhadap publikasi terkait masalah ini. Hasilnya menunjukkan bahwa dari ketiga aspek permasalahan di atas (masalah teknis, organisasional, dan budaya) tidak dapat diperlakukan secara terpisah, tapi kesatuan yang saling terkait. Masalah teknis pada telepon seluler berkaitan dengan masalah organisasional (pemerintah dan swasta), dan masalah budaya (lokalitas daerah). Karena keragaman budaya di Indonesia, penelitian ini menganjurkan untuk menggunakan konstruktivis untuk mengkaji penetrasi teknologi telepon seluler. Analisis dilakukan untuk mengetahui bagaimana individu/kelompok merekonstruksi teknologi komunikasi sesuai konteks sosial-budaya. Karena konteks budaya yang khas di setiap daerah, generalisasi kuantitatif harus dikesampingkan, lebih menekankan pada keragaman konstruksi dan kokonstruksi individu/kelompok.Kata-kata Kunci: Permasalahan Infrastruktur; Permasalahan Kultur; Penggunaan Telepon                                   Seluler; Daerah Blankspot. ABSTRACTMobile phone as a form of communication technology is acceptable by many peoples. But geographical condition makes them difficult to access. In fact, many potential mobile-phones consumers are in rural areas. They have no enough telecommunications infrastructure. This phenomenon is interesting to study specially about how the usage and function of cell phone get reduced for bad infrastructure. This article will explore, identify, and map the problems related to mobile-phone usage in the blankspot in Indonesia. This one also wants to know future research trend. By literature review, this study shows that all three aspects of mobile phone usage (technical, organizational, and cultural issues) cannot be separated, but interrelated between one-and-among another. Technical issues on the mobile phone’s usage are related to organizational (government and private) and cultural ones. Because of the diversity of cultures in Indonesia, this study recommends to use a constructivism paradigm to study mobile phone penetration. The analysis then will be conducted to know how the individual/group reconstruct and  co-construct  communications  technology on the basis of their own socio-culture context. Because of cultural difference in each area, researchers can set aside generalization principle and focuses more on every individual or group’s construction to communication technology. Keywords: problems of infrastructure; problems of culture; cellular phone usage; Blank spot                       areas.

Page 7 of 21 | Total Record : 207


Filter by Year

2011 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 28 No No. 2 (2024): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA (JSKM) Vol 28 No No 1 (2024): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA (JSKM) Vol 27 No 2 (2023): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA (JSKM) Vol 27 No 1 (2023): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA Vol 26 No 2 (2022): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA Vol 26 No 1 (2022): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA Vol 25, No 2 (2021): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 25, No 1 (2021): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 24, No 2 (2020): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 24, No 1 (2020): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 23, No 2 (2019): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 23, No 1 (2019): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 22, No 2 (2018): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 22, No 2 (2018): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 22, No 1 (2018): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 22, No 1 (2018): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 21, No 2 (2017): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 21, No 2 (2017): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 21, No 1 (2017): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 21, No 1 (2017): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 20, No 2 (2016): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 20, No 1 (2016): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA Vol 19, No 2 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 19, No 1 (2015): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 18, No 2 (2014): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 18, No 1 (2014): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 17, No 2 (2013): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 17, No 1 (2013): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 16, No 2 (2012): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 16, No 1 (2012): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 15, No 2 (2011): Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 15, No 1 (2011): Jurnal Studi Komunikasi dan media More Issue