cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
Pengaruh Kepadatan Bangunan Terhadap Permeabilitas pada Rumah Sakit di Indonesia Vanessa Aulia Geraldine; Nedyomukti Imam Syafii
NALARs Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.2.117-128

Abstract

ABSTRAK. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia peningkatan akan kebutuhan layanan kesehatan juga semakin meningkat, khususnya kebutuhan rumah sakit. Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga saat ini sedang dalam tahap perencanaan untuk pembangunan. Pembangunan rumah sakit ini akan mempengaruhi kepadatan bangunan yang ada di kawasan eksisting. Berdasarkan penelitian terdahulu bahwa densitas bangunan memiliki pengaruh besar terhadap iklim mikro disekitarnya khususnya terhadap permeabilitas angin pada kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai densitas bangunan untuk mengoptimalkan permeabilitas kawasan agar sirkulasi udara dapat terdistribusi dengan optimal pada kawasan Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan. Penelitian ini akan menggunakan metode simulasi dengan Rhinoceros sebagai perangkat permodelan yang akan dilanjutkan dengan metode analisis CFD dari perangkat tambahan Grasshopper. Selanjutnya, untuk melakukan analisis simulasi CFD akan menggunakan salah satu perangkat bagian dari Ladybug Tools yaitu Butterfly. Hasil penelitian menunjukkan apabila pada kawasan RSPAW melakukan pengembangan dengan menambah kepadatan bangunan tanpa mempertimbangkan permeabilitas akan menurunkan kecepatan angin rata-ratanya. Permeabilitas yang dianjurkan adalah minimal 70% untuk mencapai kategori dapat diterima berdasarkan standar kenyamanan angin. Sedangkan untuk permeabilitas dibawah 70% dianggap kurang menguntungkan. Meskipun begitu, permeabilitas minimal 85% telah terbukti lebih baik pada kedua arah datang angin untuk dapat masuk kategori dapat diterima. Kata kunci: rumah sakit, permeabilitas udara, kepadatan bangunan, iklim mikro ABSTRACT. Along with population growth in Indonesia, the need for health services is also increasing, especially for hospitals. Dr. Ario Wirawan's Pulmonary Hospital is currently in the process of planning to develop. The development of this hospital will affect the density of existing buildings in the existing area; based on previous research, the density of buildings significantly influences the surrounding microclimate, especially wind permeability in the area. This study aims to determine the effect of various building densities to optimize the permeability of the area so that air circulation can be optimally distributed in the area of Dr. Ario Wirawan Lung Hospital. A simulation method with a quantitative approach will be used. This research will use Rhinoceros as a modeling tool followed by the CFD analysis method from Grasshopper enhancement.Furthermore, this research will use Ladybug Tools and Butterfly plugin to analyze the CFD simulation. The results show that if the RSPAW area develops by increasing the density of buildings without considering the permeability will reduce the average wind speed. The recommended permeability percentage is at least 70% to reach an acceptable category based on wind comfort standards, as more than 70% is acceptable. However, the permeability of at least 85% is better in both wind directions, being acceptable. Keywords: hospital, wind permeability, building density, microclimate
PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP KARAKTERISTIK HUNIAN PERTAMA Richard Elisa Fernando Pali; Allis Nurdini
NALARs Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.2.129-136

Abstract

ABSTRAK. Hunian memiliki peran penting bagi manusia. Fungsi hunian yang terus berkembang sejalan dengan zaman membuat hunian bukan hanya sebagai tempat bernaung dan tempat berlindung. Namun, dalam menentukan hunian yang sesuai dengan keinginan merupakan hal yang tidak mudah karena banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Anggaran yang dikeluarkan oleh seseorang untuk memiliki hunian tidak sedikit. Perbedaan pengalaman antara masyarakat yang baru ingin memiliki hunian pertama kali dengan masyarakat yang telah memiliki hunian sebelumnya, mempengaruhi preferensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui preferensi masyarakat terhadap karakteristik hunian yang ingin dimiliki pertama kali, sehingga dapat membantu memudahkan masyarakat yang kurang pengalaman dalam memilih hunian agar sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi wawasan baru untuk perencanaan hunian bagi pengembang perumahan maupun real estate. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang berisi pertanyaan terbuka yang dibagikan melalui media sosial. Data teks yang terkumpul dianalisis dengan analisis isi. Dari penelitian tersebut ditemukan empat aspek yang menjadi preferensi masyarakat dalam menentukan pilihan terhadap karakter hunian yang ingin dimiliki pertama kali yaitu desain, konfigurasi ruang, ramah lingkungan serta keamanan & kenyamanan. Kata kunci: preferensi, karakteristik hunian, hunian pertama ABSTRACT. Housing has an essential role for humans. The function of housing that continues to develop in line with the times has made housing not only a place of shelter. However, determining the right place to live is difficult because many factors need to be considered. The budget spent by someone to own a residence is large. Differences in experience between people who want to have a home for the first time and people who have had a place before affect preferences. This research aims to find people’s priorities for the characteristics of the dwelling they want to own for the first time to help make it easier for people with less experience to choose a house to match the desired criteria. This research is also expected to be a new insight into residential planning for housing developers and real estate. This research uses a qualitative approach. Data was collected through an online questionnaire containing open-ended questions shared via social media. The text data collected were analyzed using content analysis. This research found four aspects that become public preferences in determining the choice of the residential character they want to have for the first time: design, space configuration, environmental friendliness, and safety & comfort. Keywords: preferences, house characteristics, first house
PERANCANGAN AKSESIBILITAS PADA FASILITAS INTEGRASI ANTARMODA YANG RESPONSIF PANDEMI COVID-19 DI KAWASAN TOD DUKUH ATAS Muhammad Audi Daffi; Novia Sari Ristianti
NALARs Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.2.137-152

Abstract

Fasilitas integrasi antarmoda merupakan ruang publik yang rawan terhadap persebaran COVID-19. Aksesibilitas menjadi salah satu hal yang mempengaruhinya. Buruknya aksesibilitas dapat menyebabkan terjadinya kerumunan pengguna yang berpotensi menyebarkan virus. Perlunya merancang aksesibilitas yang responsif Pandemi COVID-19 untuk meminimalisir persebaran virus pada fasilitas integrasi antarmoda. Kawasan TOD Dukuh Atas merupakan kawasan transit yang terintegrasi dengan 4 jenis moda transportasi. Setiap harinya kawasan tersebut dipadati oleh 1,8 juta pengguna. Pengaturan sirkulasi dan signage untuk mendukung aksesibilitas di Kawasan TOD Dukuh Atas belum diatur dengan mempertimbangkan kebersihan dan kesehatan pengguna di masa Pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan rancangan aksesibilitas pada fasilitas integrasi antarmoda yang responsif Pandemi COVID-19 di Kawasan TOD Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Terdapat dua tahapan analisis. Pertama, identifikasi karakteristik pengguna berdasarkan behaviour setting dan place setting. Dihasilkan kecenderungan perilaku pada tujuh tipologi karakteristik pengguna. Kedua, merumuskan kebutuhan perancangan aksesibilitas pada fasilitas integrasi antarmoda berdasarkan aspek sirkulasi dan signage. Dari pengaturan sirkulasi dihasilkan 71% pengguna yang memilih memisahkan arah sirkulasi dalam rangka menerapkan physical distancing. Sedangkan dari pengaturan signage dihasilkan 72% pengguna memilih wayfinding dengan dimensi lebih tinggi dari manusia yang diletakan di persimpangan jalan sebanyak serta area entrance dan exit sebanyak.Intermodal integration facilities are public spaces prone to the spread of COVID-19. Accessibility is one of the things that affect it. Poor accessibility can lead to crowds of users potentially spreading the virus—the need to design accessibility to minimize the spread of the virus in intermodal integration facilities. The Dukuh Atas TOD area is a transit area integrated with four types of transportation modes. Every day the area is crowded with 1.8 million users. Circulation and signage arrangements to support accessibility in the Dukuh Atas TOD area have not been regulated by considering the cleanliness and health of users during the COVID-19 pandemic. This study aims to formulate an accessibility design for an intermodal integration facility responsive to the COVID-19 pandemic in the Dukuh Atas TOD area, Central Jakarta. This research uses quantitative methods. There are two stages of analysis. First, identify user characteristics based on behavior settings and place settings and generate behavioral tendencies on seven typologies of user characteristics. Second, formulate the need for accessibility design for intermodal integration facilities based on circulation and signage aspects. From the circulation settings, 71% of users chose the direction of the running circulation into one direction. Meanwhile, from the resulting signage settings, 72% of users chose wayfinding with dimensions higher than humans and placed at crossroads and entrance and exit areas from the signage arrangement.
IDENTIFIKASI ADAPTASI SPASIAL PADA HUNIAN VERNAKULAR. KASUS STUDI : RUMAH-RUMAH DI KOTA LAMA KUDUS Anisa Anisa; Ashadi Ashadi; Finta Lissimia; Rustama Fasda Bimatukmaru
NALARs Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.2.153-160

Abstract

ABSTRAK. Manusia dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan ruang sebagai wadah kegiatannya. Idealnya ruang direncanakan dan dirancang berdasarkan analisis kegiatan terlebih dahulu. Namun pada kenyataannya, manusia seringkali mendapatkan hunian yang sudah ada sebagai tempat melakukan kegiatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menafsirkan adaptasi spasial pada hunian vernakular. Kasus penelitian adalah rumah-rumah di Kota Lama Kudus dengan batasan rumah yang mempunyai bentuk asli berupa rumah tradisional Kudus. Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan dan wawancara, yang dilakukan bersamaan dengan proses analisis. Hasil penelitian ini adalah ditemukan adaptasi spasial yang terjadi pada hunian vernakular pada hunian di Kota Lama Kudus mengikuti tingkatan atau hirarki ruang. Selain itu juga ditemukan macam strategi adaptasi yang dilakukan pada ruang berupa perubahan tata ruang, perubahan fungsi ruang, dan perubahan ukuran ruang. Perubahan tersebut dilakukan sebagai upaya adaptasi spasial dengan tujuan tidak hanya memenuhi kebutuhan semata namun juga untuk menambah kenyamanan pengguna hunian. Kata kunci: adaptasi spasial, hunian, vernakular ABSTRAK. Humans in everyday life need space as a container for their activities. Ideally, space is planned and designed based on prior activity analysis. However, in reality, humans often get existing housing as a place to carry out activities. This research is a qualitative research that aims to describe and interpret spatial adaptations in vernacular dwellings. The research case is the houses in the Kudus Old City with the boundaries of houses that have the original form of the traditional Kudus house. Data collection was carried out by observation and interviews, which were carried out simultaneously with the analysis process. The results of this study found that spatial adaptations that occur in vernacular dwellings in the Old City of Kudus follow levels or spatial hierarchies. In addition, various adaptation strategies were also found in space in the form of spatial changes, changes in spatial functions, and changes in spatial size. These changes were made as a spatial adaptation effort with the aim of not only meeting the needs but also to increase the comfort of dwelling users. Kata kunci: spatial adaptations, dwelling, vernacular 
Studi Keindahan Karya Arsitektur (Studi Kasus Terhadap Arsitektur Rumoh Aceh dan Museum Tsunami Aceh) Fatimah Azzahra; sahriyadi sahriyadi
NALARs Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.2.103-116

Abstract

Ada dua mahakarya arsitektur di Aceh yakni, Rumoh Aceh dan Museum Tsunami Aceh. Rumoh Aceh keberadaannya mulai sulit ditemukan dan Museum Tsunami keberadannya semakin eksis. Muncul keinginan untuk memperjelas kedua karya tersebut dari sisi keindahan arsitektur yang  bertujuan sebagai identifikasi unsur keindahan bentuk dan ekspresi.Rumusan permasalahan adalah identifikasi keindahan bentuk dan keindahan ekspresi terhadap kedua bangunan yang bertujuan menemu-kenali dan menambah wawasan arsitektur sebagai wacana preservasi dan konservasi bangunan heritage. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif studi kasus dengan teknik analisis deskriptif.Hasil penelitian pada unsur keindahan bentuk kedua bangunan pada dasarnya sama yakni setiap unsur tersebut ditemukan. Namun, yang membedakan adalah konsep dan jenis bangunan tersebut seperti; histori, fungsi, bentuk, dan dimensi sehingga dalam hal ini kedua bangunan mempunyai nilai lebih dan kurang. Secara visual Museum Tsunami tampak indah dengan architecture combined metaphor-nya dan Rumoh Aceh tampak unik dan menarik dengan segala makna pada setiap elemen arsitekturnya. Pada keindahan ekspresi sangat jelas bahwa Museum Tsunami mampu mengekspresikan kondisi bencana gempa bumi dan tsunami dengan analogi metapora pada wujud bangunan sehingga terkesan sangat menarik sedangkan Rumoh Aceh dengan nuansa alaminya belum mampu memberikan keindahan ekspresi yang terlalu jauh.Diharapkan hasil penelitian ini bukan sebagai wacana justifikasi atau bahkan membandingkan kedua mahakarya tersebut. Tetapi harapan utama dalam penelitian ini adalah sebagai wadah pemahaman ilmu arsitektur berkelanjutan. Ada pribahasa “tak kenal maka tak sayang” yang dalam konteks ini adalah memberikan hal terkecil dalam pemahaman dan pengetahuan khususnya Arsitektur Tradisional Aceh agar mampu bertahan dalam himpitan karya – karya besar arsitektur pasca modern.
PREFERENSI WARNA DINDING RUANG DALAM PADA HUNIAN UNTUK MENGURANGI GEJALA GANGGUAN MENTAL BAGI PARA WANITA PASCABERSALIN Yeptadian Sari; Anggana Fitri Satwikasari; Yana Adharani
NALARs Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.2.161-168

Abstract

Inetrior merupakan bagian penting dari sebuah ruang yang dapat mempengaruhi pengguna ruangnya, dapat bermanfaat maupun merugikan penghuninya. Penghuni sebuah ruang bisa memiliki kondisi kesehatan yang bermacam-macam, salah satunya adalah keadaan penghuni wanita yang baru saja melahirkan yang memiliki kondisi khusus yang dapat mengakibatkan gangguan mental, yaitu keadaan yang biasa disebut sebagai baby blues, depresi pascapersalinan, dan atau psikosis pascabersalin. Banyak usaha penyembuhan di sekitar lingkungan wanita pascabersalin untuk mengurangi gejala gangguan mental tersebut, salah satunya dengan memperhatikan arsitektur di lingkungan wanita tersebut, termasuk diantaranya adalah dengan mengetahui warna-warna pada ruang dalam yang digunakan oleh para wanita pascapartum untuk mencegah terjadinya gangguan mental. Penelitian ini bermaksud untuk mencari tahu warna-warna yang dapat mempengaruhi suasana hati dan mencegah terjadinya gangguan mental pada wanita pascabersalin. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif statistik deskriptif. Penelitian ini menemukan bahwa di antara warna primer, sekunder dan perpaduan antara keduanya, warna yang disepakati dapat memperbaiki suasana hati dan mencegah gangguan mental pada penghuninya adalah warna kuning, biru dan hijau. Berdasarkan roda gradasi warna, ditemukan pula bahwa selain warna primer, sekunder dan perpaduannya, warna-warna tersier seperti warna krem yang merupakan perpaduan antara kuning dan putih, merah muda yang merupakan perpaduan antara merah dan putih dan hijau muda yang merupakan perpaduan antara warna biru, kuning dan putih, juga merupakan warna yang dianggap mampu mengurangi gejala gangguan mental pascapersalinan.
ARAHAN PELESTARIAN TATA RUANG PERMUKIMAN MASYARAKAT ETNIS MANDAILING DI SUMATERA UTARA Cut Nuraini; Qaanitah Azizah; Sri Muharrani
NALARs Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.23.1.1-16

Abstract

The Mandailing community settlement in North Sumatra has many historic elements. The purpose of this research is to identify the physical and non-physical aspects of the Mandailing community's residential areas in three villages that have the potential to be preserved and maintained, as well as to determine how large an area is appropriate for conservation. This study employs a descriptive-exploratory-qualitative approach to identify settlement physical elements (buildings, open spaces, and roads) and non-physical elements (socio-cultural, layout, orientation, and patterns) with the potential to be preserved. According to the study, physical characteristics are classified into physical buildings and non-buildings. Bagas Godang, Sopo Godang, Sopo Emme, mosques, Pancur Paridian, Sopo Saba, Sopo Ladang, and Bale Hombung are among the physical elements of the structure. Alaman Bolak Selangseutang, roads, rivers, plantation areas, fields, rice fields, and forests are non-building physical features. Non-physical aspects that impact the settlement environment include: a) using the Banua principle, b) differences in village status, and c) the spatial Dalihan Natolu Social System. Overall, the Mandailing residential area can be divided into two zones: conservation areas, which are planned to be renovated, restored, and rehabilitated using contextual Mandailing architectural designs while still adhering to local regulations, and preservation areas, which are allowed to preserve the existence of each of its constituent elements while adhering to local laws. The preservation and conservation policies that will be implemented in each case will be handled in a specific order based on established criteria, namely immediate handling of case 4 and subsequent handling of the following three points in the order of handling case 2, case 3, and case 1. Salah satu kawasan di Indonesia yang memiliki banyak elemen-elemen bersejarah adalah permukiman masyarakat Mandailing di Sumatera Utara. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen-elemen fisik dan non fisik kawasan permukiman masyarakat Mandailing di tiga kampung yang berpotensi untuk dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya serta menentukan seberapa luas kawasan yang layak untuk di konservasi. Kajian ini menggunakan metode deskriptif-eksploratif-kualitatif yang berupaya mengidentifikasi elemen fisik permukiman (bangunan, ruang terbuka, jalan) dan elemen non-fisik (sosial-budaya, tata letak, orientasi, pola) yang potensial untuk dilestarikan. Hasil penelitian menunjukkan aspek-aspek non-fisik yang dapat dilihat pengaruhnya terhadap lingkungan permukiman ini antara lain adalah a) penerapan prinsip Banua; b) perbedaan status kampung; c) Sistem Sosial Dalihan Natolu yang me-ruang. Secara keseluruhan kawasan permukiman Mandailing ini dapat diklasifikasikan atas dua kategori zona yaitu pertama, kawasan konservasi yang direncanakan untuk direnovasi, direstorasi dan direhabilitasi melalui kontekstual desain arsitektur Mandailing dan tetap memperhatikan aturan-aturan setempat; dan kedua, kawasan preservasi yang diberi kesempatan untuk tetap mempertahankan keberadaan tiap elemen-elemen penyusunannya tetapi juga tetap mempertahankan aturan-aturan setempat. Urutan penanganan terhadap kebijakan preservasi dan konservasi yang akan dilakukan pada tiap kasus memiliki urutan tertentu berdasar kriteria yang ditetapkan, yaitu penanganan segera terhadap kasus 4 dan penanganan berikutnya pada tiga kasus berikutnya dengan urutan penanganan adalah kasus 2, kasus 3 dan kasus 1.
UNSUR-UNSUR POLA BENTUK LANTAI BANGSAL WITANA DALAM KONTEKS VASTUSASTRA Ajeng Kusuma; T Yoyok Wahyu Subroto
NALARs Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.23.1.29-38

Abstract

Ngayogyakarta Hadiningrat Palace means realizing values based on local knowledge as a civilization indicator. Fact Yogyakarta palace, as the center of Javanese culture, is maintained and exists through intangible and tangible aspects. The reality of the distribution of local Javanese values, such as Javanese philosophy and way of life, is threatened among the younger generation. The physical revitalization of the Yogyakarta Palace on public crisis awareness of understanding philosophical meaning circulating. Understanding that Yogyakarta Palace's symbolic meaning can be learned through buildings, especially in the Witana ward, is vital. Witana has complete ornaments full of symbolic meaning by focusing on the floor as one of the architectural building's elements. What does the floor look like in Witana Ward? What is the process of the relationship between geometric shapes and meaning? What is the symbolic meaning of the Witana Ward floor pattern? Consider Witana's architectural symbol to invite all people to remember God Almighty. The research is urgent to formulate floor shapes in Witana Ward to formulate the relation between geometric shapes and meanings and formulate the symbolic meaning of floor patterns in Witana Ward, Yogyakarta Palace. The semiotic method with Peirce and Chandler's analytical model examines Ward Witana architectural forms, namely icons, indexes, and symbols, in a triadic system. The application of this method in the study of the elements of the Witana Ward floor pattern is to uncover latent factors to produce truths through local knowledge. The result is a system consisting of three sign components, built from floor pattern objects that have a relationship with Vastusastra as context. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah salah satu sarana perwujudan nilai (value) berdasarkan pengetahuan lokal yang dapat menjadi indikator perkembangan peradaban. Fakta bahwa Keraton Yogyakarta sebagai centrum kebudayaan Jawa yang masih terjaga dan eksis, dibuktikan melalui dua aspek yakni intangible serta tangible. Realitanya distribusi nilai lokal Jawa seperti filosofi kejawaan hingga pandangan hidup semakin terancam di kalangan generasi muda. Revitalisasi fisik Keraton Yogyakarta tentunya didasari kesadaran terhadap krisis pemahaman makna filosofis yang beredar di lingkungan publik. Vitalnya pemahaman mengenai makna simbolik di Keraton Yogyakarta dapat dipelajari melalui bangunan sebab memuat makna simbolik lengkap, khususnya di Bangsal Witana. Bangsal Witana memiliki kelengkapan ornamen sarat makna simbolik dengan berfokus pada lantai sebagai salah satu elemen penting pembangun Arsitektur. Seperti apa bentuk lantai di Bangsal Witana? Bagaimana proses relasi antar bentuk geometri dengan makna? Apa makna simbolik pola lantai Bangsal Witana? mengingat Bangsal Witana merupakan simbol Arsitektural guna mengajak seluruh rakyat untuk mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan urgensi penelitian untuk merumuskan bentuk lantai di Bangsal Witana, merumuskan proses relasi antar bentuk geometri dengan makna, serta merumuskan makna simbolik pola lantai di Bangsal Witana, Keraton Yogyakarta. Metode semiotika dengan model analisis milik Peirce dan Chandler, dimana mengkaji bentuk Arsitektur Bangsal Witana dalam sistem triadik yaitu ikon, indeks, dan simbol. Aplikasi metode tersebut dalam kajian unsur pola bentuk lantai Bangsal Witana guna mengungkap faktor laten sehingga menghasilkan kebenaran sesuai dengan pengetahuan lokal. Hasilnya berupa sistem yang terdiri dari tiga komponen tanda, terbangun dari objek pola lantai yang memiliki relasi dengan Vastusastra sebagai konteks.
ANALISIS KENYAMANAN PADA BANGUNAN MASJID DITINJAU DARI SISI THERMAL DAN KEBISINGAN. Studi Kasus : Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Depok Purnama, Muhammad Sega Sufia; Muhammad Sega Sufia Purnama; Mukhamad Risa Diki Pratama; Nurjannah Hamdani
NALARs Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.23.1.69-76

Abstract

The mosque is a place of worship for Muslims. These activities need a comfortable situation. The selected case study is the Ukhuwah Islamiyah Mosque, located within the University of Indonesia. Has a building area of approximately 2608 m2. This mosque is always crowded with students from various majors. This study aims to measure the level of thermal comfort and noise, compare it with existing standards, and prove the theory of passive design in tropical buildings. The method used in this research is direct measurement in the field. The sequence of work is to determine the measuring point and then place the measuring instrument at that point; the reading will be compared with the standard and analyzed. As a result, the temperature reading in the main prayer area shows the temperature is above the comfort standard of 300 - 320 C while the comfort standard is at 220 - 280 C. Judging from the measurements in the field, the noise ranges from 51 - 54 dB when compared with the average of comfort in a building of worship, which is 55 dB or still within reasonable limits. In conclusion, ventilation and noise are factors of tranquility in worship. In this study, the ventilation could be more optimal. However, the noise is still within reasonable limits. The application of tropical building theory has yet to provide maximum comfort.Masjid adalah tempat beribadah umat Islam. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, dibutuhkan kedaan yang nyaman. Studi kasus terpilh adalah Masjid Ukhuwah Islamiyah yang berada di dalam komplek Universitas Indonesia. Mempunyai luas bangunan kurang lebih 2608 m2.  Masjid ini selalu ramai oleh mahasiswa dari berbagai jurusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kenyamanan termal dan kebisingan lalu membandingkan dengan standar yang ada serta untuk membuktikan teori tentang desain pasif di bangunan tropis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran langsung di lapangan. Urutan kerjanya adalah menentukan titik ukur, lalu meletakan alat ukur di titik tersebut, pembacaan akan dibandingkan dengan standar dan di analisis. Hasilnya, Pembacaan suhu di daerah area shalat utama menunjukan suhu berada di atas standar kenyamanan yaitu 300 -  320 C sedangkan standar kenyamanan berada pada 220  -  280 C. Dilihat dari hasil pengukuran di lapangan, kebisingan suara berkisar antara 51 - 54 dB. Bila dibandingkan dengan standar kenyamanan dalam bangunan beribadah, yaitu 55 dB atau masih dalam batas wajar.  Kesimpulannya, Penghawaan dan kebisingan menjadi faktor ketenangan dalam melakukan ibadah. Dalam penelitian ini, penghawaan belum optimal namun, kebisingan masih di ambang batas wajar. Aplikasi teori bangunan tropis belum mampu memberikan kenyamanan secara maksimal.
REKOMENDASI DESAIN BANGUNAN SEHAT UNTUK FUNGSI HUNIAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOFILIK Anisza Ratnasari; Adiana Surya Pranata Putra
NALARs Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.23.1.39-48

Abstract

During the COVID-19 pandemic, all activities must be carried out at home, which makes us further away from nature. Productivity, health, and well-being must be in balance. The biophilic design approach of dwelling allows occupants to experience space and nature, both directly and indirectly. The qualitative method conducted through a literature review on biophilic design is the foundation for housing design. Therefore, implementing a biophilic strategy should accommodate occupancy needs and create spatial quality and the value of the design pattern. The design method is carried out by analyzing space requirements, evaluating case studies, and elaborating on biophilic design attributes. Applying these principles is manifested through characteristics of space, forms of play, and play elements. The outcome of the interaction of residents, buildings, and nature will accelerate the new normal; permanent residents can experience health and well-being. Selama pandemi COVID-19, semua aktivitas harus dilakukan di rumah. Hal ini berarti juga membuat kita semakin jauh dari alam. Tuntutan untuk tetap produktif harus juga diimbangi dengan kesehatan dan kenyamanan berhuni. Perancangan hunian dengan pendekatan desain biofilik dapat memberikan pengalaman penghuni untuk merasakan ruang dan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Metode kualitatif yang dilakukan melalui kajian literatur tentang desain biofilik dilakukan sebagai dasar perancangan hunian. Dengan demikian, implementasi desain biofilik tersebut seharusnya tidak hanya mengakomodasi kebutuhan berhuni, namun juga harus mampu menciptakan kualitas ruang dan nilai pada sebuah pola desain. Metode perancangan dilakukan melalui analisis kebutuhan ruang, studi preseden dan elaborasi atribut desain biofilik pada rancangan. Penerapan prinsip arsitektur biofilik terwujud melalui karakteristik ruang, bentuk ruang dan elemen ruang. Melalui pendekatan desain ini, interaksi penghuni, bangunan dan alam dengan optimal dapat mempercepat kenormalan baru. Sisi lain manfaat dari model perancangan ini, penghuni tetap dapat merasakan kesehatan dan kenyamanan berhuni.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue