cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM SPIRITUALITAS ISLAM (Suatu Upaya Menjadikan Perempuan Produktif) Jannah, Hasanatul
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Artikel ini mengulas tentang pemberdayaan perempuan dalam spritulitas Islam, Perempuan sudah semestinya berani  memulai memberdayakan dirinya sendiri dengan melakukan upaya-upaya revolusioner seperti: memiliki manajemen waktu, menambah wawasan informasi, pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan hak dan kewajibannya sebagai perempuan dan meningkatkan pemahaman tentang kesehatan diri, baik fisik maupun mental. Di mana faktor penunjang utama pemberdayaan adalah pendidikan yang menjadi kebutuhan  perempuan dimulai dari diri masing-masing. Dalam artikel ini juga diuraikan profil perempuan-perempuan Islam inspirasional yang banyak memberikan inspirasi bagi perempuan yang lain untuk majuKata kunci:Pemberdayaan perempuan, produktifitas, dan spiritualitas islamAbstract:This article reviews the women empowerment from the perspective of Islamic spirituality. Women should have been courageous to begin to empower themselves in performing revolutionary efforts: possesing time management, skill and knowledge concerning their obligation and right as women, and accelerating their comprehension on physical and mental self-soundnesses. However, the main factor that can support the women empowerment is education. It becomes the women need and must be fulfilled by themseves. This article is also about to break down the profiles of inspirative female Muslims that inspire the other women to progress.Key words:the women empowerment, productivity, and Islamic spirituality
ISLÂM, FEMINISME, DAN KONSEP KESETARAAN GENDER DALAM AL-QUR’ÂN Fadlan, Fadlan
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah menunjukkan bahwa perempuan pada masa awal Islâm mendapat penghargaan tinggi. Islâm mengangkat harkat dan martabat perempuan dari posisi yang kurang beruntung pada zaman jahiliyah. Di dalam al-Qur’ân, persoalan kesetaraan laki-laki dan perempuan ditegaskan secara eksplisit. Meskipun demikian, masyarakat muslim secara umum tidak memandang laki-laki dan perempuan sebagai setara. Akar mendalam yang mendasari penolakan dalam masyarakat muslim adalah keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk Allâh yang lebih rendah karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Selain itu, perempuan dianggap sebagai makhluk yang kurang akalnya sehingga harus selalu berada dalam bimbingan laki-laki. Akibatnya, produk-produk pemikiran Islâm sering memosisikan perempuan sebagai subordinat. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan, karena Islâm pada prinsipnya menjunjung tinggi kesetaraan dan tidak membedakan manusia berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, doktrin maupun pandangan yang mengatasnamakan agama yang sarat dengan praktik diskriminatif sudah selayaknya dikaji ulang, jika ingin Islâm tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam.History proves that woman had been highly respected in the early of Islamic period. Islam promoted the woman’s dignity and prestige from being uncivilzed in the time of jahiliyah. Al-Qur’an has explicitly stated that man and woman equity. However, Muslim community does not apply the same view of man-woman equity as stated in the holy scipture. The community believes that Allah creates women differently from men; women are considered weaker since they are created from the rib of the men. Hence, men think that most women are illogical then they must be under the guidance of men.  As a result, the products of Islamic studies place women as the sub-ordianated creation. This is quite apprehensive. On the other hand, Islamic teaching actually holds up the gender equality, it does not differ people from its gender. Consequently, there must be a restudied-discourse on a view or doctrin that answering to the name of religion practicing descriminative act on woman. It is about to purify the Islamic vision of being a rahmat (mercy) for the rest of mankind.
KEGELISAHAN INTELEKTUAL SEORANG FEMINIS (Telaah Pemikiran Fatima Mernissi Tentang Hermeneutika Hadîts) Zakariya, Nur Mukhlish
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Tulisan ini berusaha mendeskripsikan kegelisahan intelektual Fatimah Mernissi terhadap fenomena disparitas dan bias gender di dunia Islâm. Melalui pendekatan hermeneutika historis sosiologis terhadap al-Qur’ân dan –terutama—hadîts, Mernissi melahirkan kerangka teoritik Islam Politik  dan Islam Risalah. Dalam rangka mengentas bias gender yang menurutnya lebih merupakan konstruksi sosial komunitas muslim patriarkhi, Mernissi menyerukan “pembacaan baru” terhadap teks-teks agama melalui hermeneutika sehingga mampu menghadirkan Islam Risalah  dan mendekonstruksi yang terlanjur mengalami sakralisasi, pada hal sesungguhnya ia –Islâm Politik—tak lebih hanya sebagai “tafsir” belaka.Kata kunci:Hermeneutika, hadîts, dan misoginiAbstract:The present article attempts to describe an intellectual discomfort of  Fatimah Mernissi against disparity phenomena and gender bias in Islamic realm. Through the approach of historical-sociological hermeneutics-specifically- applied on hadits, Mernissi constructs theoretical framework of Islamic politic and Islamic treatise. She suggests a new reading way on religion texts using hermeneutic in order to pull out gender bias caused by the construction of  patriarchal-Muslim community. She states that it could represent the Islamic treatise and deconstruct sacred parts which she thinks a prodcut of interpretation from the Islamic politic. Key Words:Hermeneutics, hadîts, and misoginy
KOMPOLAN: KONTESTASI TRADISI PEREMPUAN MADURA Hidayati, Tatik
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Kompolan merupakan bagian tradisi keagamaan yang diisi dengan aktivitas spiritualitas dan ritualitas keagamaan. Aktivitas kompolan ini menjadi media penting bagi transformasi nilai-nilai agama di masyarakat. Aktivitas ini berkembang pesat dan mengakar kuat pada masyarakat Madura, terutama di daerah pedesaan. Sebagai bagian dari realitas sosial keagamaan kompolan pada masyarakat Madura dapat menjadi bagian penting dari legitimasi, justifikasi dan ideologisasi eksistensi keberagamaan mereka. Tulisan ini merupakan ringkasan riset yang dilakukan awal tahun 2000-an di Desa Madu Songennep. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan secara historis kompolan tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial yang terjadi pada tahun 1980-sampai awal 1990. Kompolan dalam konteks ini dijadikan agen yang mereproduksi sosial. Kompolan sebagai agen reproduksi sosial ini dimaknai sebagai hasil dari relasi keuasaan yang terjadi antar aktor yaitu relasi antara elite agama dengan peserta kompolan yang dalam prosesnya telah menimbulkan kekerasan simbolik dan kompolan mengambil peran dalam melestarikan bahkan menyebarluaskan dalam bentuk yang simbolik. Kata kunci:kompolan, nyai, dan klebunAbstract:Kompolan (gathering) becomes a part of religious tradition. It concerns the activity of religious spirituality and rituality. The activities in kompolan are the core media to transform the religious values of society. They are rapdily developed and stronly rooted into Madurese society, particularly in rural area. As a part of religious social reality , kompolan takes important role of legimitation, justification, and idiologization of Madurese people existance. This article higlights the study done at Madu village, Songennep (Sumenep) in 2000. The inertviewees are the member of kompolanand the leader (nyai). It results a finding that historically kompolan cannot be seperated from the social contact occured from 1980 to early 1990. In this contact, kompolan became an agent of social reproduction. It was a result of power relations between religion elites and kompolan members causing a symbolic violance. Hence, kompolan took control on conserving and disseminating in symbolic form. Key words:kompolan, nyai, and klebun
KONSTRUKSI GENDER, HEGEMONI KEKUASAAN, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN Marhumah, Marhumah
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakIsu gender adalah bagian dari persoalan sosial kemasyarakatan di Indonesia, yang persoalan utamanya  adalah kesenjangan mencolok antara laki-laki dan perempuan. Selama ini, sosialisasi gender adalah dengan cara mengedarkan pesan-pesan, wacana, nilai-nilai, norma-norma, kepercayaan dan model-model yang merepresentasikan kontruksi gender tertentu, yang dalam konsep Foucault sebagai diskursus (discourse). Dengan konsep wacana tersebut, sosialisasi gender mengandaikan adanya relasi pengetahuan dan kekuasaan. Di dalam dunia pesantren, berdasarkan berbagai studi, menunjukkan rendahnya sensitifitas gender, berupa miskinnya perhatian pada isu perempuan dibarengi dengan dominannya figur kiai dan ustadz. Perhatian pada isu gender muncul pada studi-studi pesantren pada periode yang lebih kemudian, misalnya hasil kajian yang menunjukkan adanya peran nyai yang sangat penting dalam turut menjaga keberlangsungan pesantren. Perkembangan ini mengisyaratkan menghangatnya pergesekan antara diskursus gender yang telah lama mapan dengan diskursus baru dalam proses sosialisasi gender di dunia pesantren.Kata kunci:Konstruksi gender, sosialisasi gender, kekuasaan, dan pesantrenAbstract:Gender issue appears as part of social problem in Indonesia. its  main problem is  that the exist of conspicuous discrepancy between man and woman. Gender socialization has been currently proposed by handing around messages, discourse, values, norms, belief, and presenting a model of certain gender construction. It is somewhat a discourse from the Foucault perspective. Thic concept puts knowledge and power in a relation to socialize gender discourse. Some studies show that in pesantren (Islamic boarding school) gender sensitivity is poor. The studies are proved  by the lack of attention on woman issues and the hegemony of kiai and ustadz figures. However, the interest on gender issues of pesantren studies turn up at the latest time. It is well described on the result of a study that nyai (femal Islamic scholar) takes an important role to survive the pesantren as an educational institution. This progress signals a clash of gender discourse and new discourses in the process of gender socialization in pesantren world.Key words:gender construction, gender socialization, power, and pesantren.
ARTIKULASI POLITIK PEREMPUAN MADURA (Studi atas Hambatan Kultural dan Tafsir Agama pada Partisipasi Politik Perempuan di Sumenep) Warits, Abd.
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Dalam sejarah manusia, perempuan sering mendapatkan tempat kedudukan di bawah laki-laki. Dalam pandangan berbagai agama, perempuan mendapatkan diskriminasi, menganalisasi yang dibentuk oleh ketidakadilan struktural sebagai akibat dari pandang bias gender di masyarakat. Dalam komunikasi mungkin sering ditunjukkan adanya ketidakadilan di atas, akibat penfsiran yang bias gender yang dilakukan atas sebagian tokoh agama. Akibatnya perempuan tidak dapat mengaktualisasikan sejarah dan perannya di ranah publik termasuk di dalamnya di wilayah politik praktis.  Untuk Masyarakat Sumenep yang relegius, di mana fatwâ agama (fatwâ kiai) menjadi referensi dan pijakan utama setiap kali menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan, maka akan sangat tepat bila pembebasan perempuan dari diskriminasi dimulai dengan membangun tafsîr yang ramah perempuanKata kunci:Perempuan, Madura, dan politikAbstract:In the history of mankind, woman is always placed under man. Even form the view of any religions, woman is descriminated and marginalized as a result of structural unjustice and gender bias. The unfair treatment has been justified from the gender bias interpretation commited by certain religious scholars. Thus, women are able to actualize their history and roles in public domain including practical practice domain. In Sumenep context, constructing a kind interpretation on woman role must be a brilliant choice since Sumenep people are religious and they hold on the religion fatwa (a binding ruling) tightly.Key words:Perempuan, Madura, dan politic
PEREMPUAN MADURA PESISIR MERETAS BUDAYA MODE PRODUKSI PATRIARKAT Mulyadi, Achmad
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Dalam rumah tangga,  perempuan memberikan semua pelayanan untuk suami, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya dan di luar rumah tangga, laki-laki mengendalikan dan membatasi peran publik perempuan. Fenomena ini oleh mode produksi patriarkat yang merugikan kaum perempuan. Peran perempuan dibatasi pada tugas-tugas domestik, yaitu sekitar “sumur, dapur dan kasur”. Peran ini dianggap sebagai hal ideal bagi seorang perempuan. Walau masih berakar kuat pada sebagian masyarakat, paradigma ini mulai ditolak seiring dengan gerakan emansipasi wanita. Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Branta Pesisir, keterlibatan istri nelayan mereka dalam wilyah publik sudah mentradisi secara turun tenurun. Tulisan ini mengekplorasi bagaimana mereka menabrak ortodoksi dan menakar realitas dengan meretas budaya produksi patriarkat. Kata kunci: peran, relasi, suami-istri, dan patriarkatAbstract:In the family, a woman contributes her whole potencies to her husband, children, and the other family members, on the other hand, a man takes controll and limits the public role of woman. Sylvia Walby name this phenomena as patriarchal-production mode that disservice the woman. The role of woman has been measured up by domestic jobs, it goes around bathroom, cooking room, and bed room. These roles are considered ideal for woman. This paradigm is deep-rooted in certain community, however, at the present time this has been resisted by woman emansipation movement. This article is based on the study at Baranta Pasisir women and  about to explore the role of fishermen’s wives in public domain. They demonstrate how they hit orthodox beliefs and mete the reality out by taking apart  the patriarchal-cultural products. Key words:dynamics, relation, husband-wife, patriarchat
PERAN EMANSIPATORIS PEREMPUAN PESISIR (Istri Nelayan sebagai Ujung Tombak Ekonomi) Wahyudi, Arif
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Perempuan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam bidang pembangunan masyarakat pesisir. Kehidupan nelayan yang kerapkali lekat dengan belenggu kemiskinan dan ketidakpastian penghasilan mendorong para perempuan nelayan untuk lebih giat memberikan kontribusi nyata dalam perekonomian rumah tangga mereka, khususnya pada aktivitas pasca penangkapan. Minimnya ketrampilan yang dimiliki, upah bekerja yang rendah hingga ketiadaan jaminan sosial kerja merupakan sebagian dari kendala-kendala yang selalu dihadapi oleh perempuan nelayan. Transfer pengetahuan berkenaan dengan pengelolaan hasil laut pasca penangkapan didukung dengan strategi pemasaran dan manajemen pengelolaan keuangan merupakan salah satu di antara program-program pengembangan masyarakat pesisir yang berorientasi pada perempuan, yang bisa dilakukan oleh pemerintah, sehingga apa yang telah dilakukan oleh para perempuan nelayan selama ini tidak lagi dipandang sebelah mata dan harapan untuk dapat hidup sejahtera serta bebas dari belenggu kemiskinan dapat pula terwujud.Kata Kunci:perempuan, rumah tangga nelayan, dan pemberdayaan kualitasAbstract:Women become one of  important components in the development of coatsal area  community. The lif of fisherman has been often identical with the poor life and the indeterminancy income. It encourages women in the coastal area to be more active in in supporting the family income by giving the real contribution mainly after fishing time. For these women,  life is not really easy. They face some troubles, inspite of they are poorly skilled they also underpaid and they don’t have work and social sureties. This article suggets some programs that is women oriented; they include knowledge transformation on sea product management, marketing strategy, and finance management. After all, we cannot in a capacity to  neglect what these women do to keep the family, to realize a  wealthy life, and to break free from  poverty. Key words:women, fisherman family, and quality empowerment.
SUNAT PEREMPUAN MADURA (Belenggu Adat, Normativitas Agama, dan Hak Asasi Manusia) Zamroni, Imam
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Artikel ini dimaksudkan untuk menggambarkan tentang the Famale Geneital Mutulation (FGM) di Madura, Jawa Timur, Indonesia yang difokuskan pada tigapersoalan, yaitu tradisi lokal, norma keagamaan, dan hak asasi manusia. FGM telah berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya di Madura sebagai tradisi lokal dan dorongan keagamaan. ia menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap perempuan. Lebih dari itu, setelah perempuan Madura masuk agama Islam, kyai sebagai pemimpin keagamaan lokal memberikan kontribusi yang kuat bagi pelaksanaan FGM di Madura, yakni dengan memberikan pembenaran dari sisi keagamaan-keislaman. Di samping itu, dari sisi kesehatan menunjukkan bahwa FGM tidak memberikan efek penting terutama dalam reproduksi perempuan. Pelaksanaan FGM tanpa berkomunikasi terlebih dahulu dengan  anak perempuan sebagai korban. Karenanya, praktik FGM merupakan pelanggaran hak asasi manusia dalam perspektif  World Health Organization (WHO). Penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan wawancara dan dokumentasi digunakan sebagai teknik pengumpulan data.Kata Kunci:sunat perempuan, adat, agama dan HAMAbstract:This article aims to describe the Female Genital Mutilation (FGM) in Madura-east Java Indonesia which focused on three issues there are local tradition, religious norm, and human right. FGM have been doing from generation to generation in Maduresse as local traditions and religious urge. It is become some obligation as if and must be done every woman. More over, after entry of Islamic religion in Madura, kiai as local-religious leader gave strong contribution to do FGM in the Maduresse which Islamic-religious justified. Besides that, in the medical perspective shows FGM doesn’t give important effect particularly in the woman reproduction. Carrying out of FGM is without communication first with daughter as sacrifice. Therefore, practices of FGM are infringement of human right as World Health Organization (WHO) perspective. Qualitative research is used as method in the research and interview and documentation as the data collection. Key Words: famale geneital mutulation, tradition, religion, and human rights.
NELONI, MITONI ATAU TINGKEBAN: (Perpaduan antara Tradisi Jawa dan Ritualitas Masyarakat Muslim) Adriana, Iswah
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 2 (2011): Islam, Budaya dan Perempuan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Tidak ada orang tua khususnya ibu yang mendambakan lahirnya generasi yang unggul dari dalam rahimnya. Karena itu proses kehamilan sampai melahirkan menjadi suatu proses yang sangat mereka perhatikan dalam rangka mewujudkan keinginan mereka tersebut. Bahkan segala bentuk rangkaian upacara telah mereka siapkan sejak dini. Namun terkadang harapan tersebut akan berbuah dosa jika mereka tidak sanggup memilah dan memilih mana yang bersandarkan al-Qur’ân dan HadîtsKata Kunci:tingkeban, walîmat al-haml, budaya dan IslamAbstract:No parents, especially mothers who longed for the birth of the generations that excels in her womb. Therefore the processof pregnancy until delivery into a process that is they notice in order to realize their desires are. In fact, any form of a series of ceremonies have been prepared by them early on. But sometimes these expectations will be sin, if they are not able to choose which one based on al-Quran and Hadîth.Key words:tingkeban, walîmat al-haml, culture, and Islâm

Page 2 of 15 | Total Record : 143