cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN" : 30 Documents clear
RATU BALQIS DALAM NARASI SEMIOTIKA AL QUR’AN Fathurrosyid, Fathurrosyid
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas perspektif wacana dan hubungan gender dalam Al-Qur’an, terutama di wilayah publik politikdengan menggunakan kisah objek formal, Ratu Balqis di Kerajaan Saba’ di Qs. al-Naml (27): 29-44.Menerapkan semiotika yang memberi arti dan maknayang mampu merekonstruksi pemahaman yang telah terkesan kaku dan eksklusif pada kisah Ratu Balqis.Melalui pemahaman semiotik, hubungan antara pria dan wanita mengacu pada simbol kesetaraan gender di antara mereka. Dalam konteks ayat-ayat ini Ratu Balqis ternyata menjadi simbol feminis sejati dengan menjelaskanketaatan dan penyerahan dirinya hanya untuk Allah swt,bukan untuk Nabi Sulaiman. Karena keduanya adalah hamba Allah swt yang tidak boleh mengklaim dirinya superior, sementara yang lain ditekan sebagai inferior.Keterlibatan Nabi Sulaiman dalam pengakuan Balqi sadalah hanya sebagai aktor dan mediator yang membuat mereka mengadopsi teologi monotheisme.kata kunci: Semiotika, Al-Qur’an, Ratu Balqis, Gender. This study tried to dismantle the discourse and genderrelations perspective of the Qur’an, especially in thepublic-political region by using formal object tale, of Queen Balqis in the Kingdom of Saba’ on Qs. al-Naml(27):29 - 44. Applying semiotics that signed meaning andsignificance was able to reconstruct the understanding which has been impressed rigid, exclusive and misogynicon the story of Queen Balqis. Through a semiotic understanding, relationships between men and women refer to the gender equality symbols between them. Inthe context of these verses, Queen Balqis turned outto be a true feminist symbol through clarifying herobedience and submission only to Allah swt, not toProphet Solomon. Because both are the servants of Allahswt that should not be claiming to be the superior, whileothers are suppressed as the inferior. The involvement of Prophet Solomon in Balqis’ confession was merely as theactor and mediator that made them adopting a theology of monotheism.Keywords: Semiotics, Al-Qu’an, Queen Balqis, Gender
KETELADANAN PEREMPUAN DALAM SASTRA QUR’ANI : ANALISIS KRITIK SASTRA FEMINIS KISAH PEREMPUAN DALAM AL QURAN Nasir, Amin
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cerita dalam Al-Qur’an bukan hanya cerita untuk dongeng semata-mata, tapi  juga mengandung pelajaran,tuntutan, dan petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an secara khusus membahas jenis perempuan menurut perbuatan mereka. Al-Qur’an mengacu pada seorang wanita sholehah dan wanita yg dzalim. Penelitian ini menganalisis empat cerita wanita, yaitu: Asiyah, ibu Musa, Ratu Saba’,dan istri Nabi Nuh dan Nabi Lut. Qur’an menegaskan pandangan perempuan sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas pilihannya, baik tindakan terpuji atauaktivitas tirani. Perempuan diakui sebagai pribadi yang mandiri yang tidak bergantung pada sosok laki-laki.Orang wanita mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan, baik atau buruk.Kata Kunci: Kritik Sastra, Perempuan Teladan, Al-Qur’an. Stories in the Qur’an is not just a fairytale story for sheer,but it also contains lessons, demands, and instructionsfor humans. The Qur’an specifically discuss the types ofwomen according to their deeds. The Qur’an refers to anideal woman and a bad women. This research analyzedfour women stories : Asiyah, Moses mother, the QueenSaba’ and Mrs Nuh dan Mrs Lut. Qur’an confirms theview of women as a person who fully responsible for herchoice, either commendable action or tyranny activity.Women are recognized as an independent person whodoes not rely on the male figure. A woman getting a reward for what she has does, good and bad.Keywords: Literary Criticism, Women  Idols, Al-Qur’an.
BIDADARI DALAM KONSTRUKSI TAFSIR AL QUR’AN : ANALISIS GENDER ATAS PEMIKIRAN AMINA WADUD MUHSIN DALAM PENAFSIRAN AL QUR’AN Saidah, Nor
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penafsiran visi penting al-Qur’an tentang temanpendamping dalam surga telah mengalami biaspatriarkhi. Amina Wadud mencoba membaca ulang ayatayatini dengan pendekatan hermeneutik berkeadilangender. Menggunakan metode deskriptif, artikel inimeyimpulkan Amina membedakan dua kata yang sering disalahpahami dan dianggap identik yaitu kata hur ddanazwaj. Gambaran mengenai teman di surga bagi kaumberiman dimunculkan dalam tiga tingkatan. Pertama, sebutan hu>r al-‘ayu>n yang berarti pasangan untuk lakilakiberiman (bidadari). Kata ini mencerminkan tingkatberpikir Makkah Jahiliyyah. Kedua, istilah zawj yangmenggambarkan periode Madinah yang bermaknapasangan yang diidamkan baik untuk laki-laki maupunperempuan. Dan ketiga, al-Qur’an menyebutkan sesuatuyang melebihi kedua peringkat sebelumnya yaitu kedekatan di sisi Allah swt swt.Kata kunci : Amina Wadud, Bidadari, Tafsir Feminis.
RETHINKING HAK-HAK PEREMPUAN DALAM PERNIKAHAN: TELAAH ATAS PEMIKIRAN TAFSIR WAHBAH AL-ZUHAILI Kaltsum, Lilik Umi
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktek kekerasan dan pelecehan banyak dilakukan priaterhadap wanita dalam pernikahan akan menjauhkanrumah tangga dari tujuan utama pernikahan. Situasi iniberlangsung terus-menerus dengan dalih agama. Beberapaayat dari Al-Qur’an diposisikan sebagai legalitas tindakanarogansi dan superior. Tulisan ini berfokus pada ayat ayat yang mengurangi hak-hak perempuan dalam perkawinan,dihubungkan dengan gambaran yang lengkap darihak perempuan dalam perkawinan, diharapkanmeminimalkan terjadinya kekerasan di tangga rumahdan dapat menghidupkan kembali semangat Alquranuntuk kemerdekaan perempuan dan pembebasanperbudakan yang tidak manusiawi. Penafsiran alZuhailiterhadapayat-ayat tersebut terbagi menjadi dua bagian antara penafsiran yang masih ditemukan adanya bias gender dan beberapa penafsiran yang agak ramah terhadap perempuan seperti penghargaannya atas peran reproduktif perempuan.Kata kunci: Hak-Hak Perempuan, unggul, Pemimpin keluarga
PEREMPUAN DALAM RELASI KUASA TAFSIR AL QUR’AN : TELAAH ATAS CORAK TAFSIR UMMU SALAMAH R.A Mahmudah, Nur
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hindun bint Abi Umayyah (Ummu Salamah) merupakansahabat perempuan terpenting kedua setelah Aishah yang paling banyak terlibat dalam penafsiran al-Qur’an. Artikelini merekonstruksi tafsir Ummu Salamah dalam halsumber tafsir, sumber dan nilai sanad serta karakteritiktafsir. Studi ini menghasilkan sejumlah kesimpulan Sumber tafsir yang digunakan oleh Ummu Salamah terdirisejumlah sumber eksternal maupun internal. Kualitas sanad tafsir merentang dari s}ah}i>h, h}asan dan dha‘i>f. TafsirUmmu Salamah menafsirkan berbagai ayat baik yang berkaitan dengan aspek teologis, hukum maupun sosial.Secara khusus, untuk tafsir yang bersumber dari Nabi,mayoritas bersumber dari pertanyaan Ummu Salamahkepada Nabi atas beberapa ayat al-Quran. Upaya UmmuSalamah ini dalam satu sisi dapat mewakili keterlibatanperempuan dalam memahami dan menafsirkan al-Quran.Di samping itu, juga ditemukan adanya ayat-ayat yang secara spesifik berbicara untuk menjawab protes Ummu Salamah yang diabadikan dalam al-Quran. Kata Kunci: Penafsiran Perempuan, Teks Suci, UmmuSalamah
EGALITERIANISME DALAM KELUARGA MENURUT AL-QURAN : STUDI PEMIKIRAN BARLAS BARLAS TERHADAP Q.S. AN-NISA’ AYAT 1 Fauziyah, Fauziyah
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Barlas Barlas merupakan salah satu tokoh feminis muslim yang kontroversial dalam memahami ayat sikap egaliterkeluarga. Penafsiran Barlas sangat berbeda dengan paramufassir sebelumnya terutama ulama klasik. Denganmetode analisis deduktif induktif dengan tingkatananalisis deskriptif, artikel ini menyimpulkan Barlasmenafsirkan tentang keluarga dalam al-Quran dengansemangat pembebasannya, menunjukkan bahwa keluargadalam Islam tidak bersifat patriarkis, mengingat bahwaperlakuan al-Quran terhadap laki-laki dan perempuandalam kapasitasnya sebagai orang tua atau pasangantidak didasarkan pada asumsi tentang keistimewaan ataukekuasaan laki-laki atau ketidaksetaraan jender bahkanal-Quran menurut Barlas telah memasukkan ibu kedalamwilayah penghormatan simbolis yang diasosiakan denganTuhan, sehingga ibu diangkat posisinya melebihi ayah.Penghormatan simbolis ini terlihat pada surat al-Nisa’ayat 1 dimana Barlas menafsirkan konsep taqwa kepadaTuhan dan kepada ibu. Barlas menegaskan bahwa ayahdalam tradisi patriarki tidak sesuai dengan al-Quran.Barlas dengan semangat pembebasan menafsiri ayatayattersebut dengan menerapkan hermenutik yang berdasarkan ontology ketuhanan.Kata Kunci: Egaliterianisme, Keluarga, Barlas Barlas. Barlas Barlas is a feminist Muslim figure who has controversial understanding about egalitarian attitudes of a family. Barlas interpretation is very different fromthe previous commentators, especially classical scholars.By using inductive deductive method of analysis withdescriptive level of analysis, this article concludes thatthe interpretation of Barlas on the family in the Koranindicates that the family is not patriarchal in Islambecause the Qur’an treatment to men and women intheir capacity as parents or spouses is not based onassumptions about privilege or power of men or genderinequality. In fact, according to Barlas, the Koran hasincluded a mother into symbolic honor region, which isassociated with God, so that the position of a motheris raised exceeds the father’s. This symbolic tribute isshown at Surah An-Nisa ‘verse 1 where Barlas interpretsthe concept of piety to God and to the mother. Barlasconfirms that the father in the patriarchal tradition is not appropriate with the Koran.Keywords: Egaliterianisme, family, Barlas Barlas.
STUDI PERBANDINGAN ATAS OTONOMI PEREMPUAN DALAM AL-QUR’AN DAN BIBEL
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mencoba melacak kembali dugaan orang bahwa teks-teks suci Al-Qur’an dan Alkitab telah menciptakan budaya patriarki di masyarakat. teks-teks suci tidak lebih dari pernyataan tentang wanita. Pernyataan-pernyataan ini membangkitkan keberadaan feminisme sebagai perspektif dan aktivisme, baik ideologi dan metodologi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membaca dan mempertimbangkan kembali penggunaan ayat-ayat tersebut yang didasarkan pada tradisi atau budaya yang telah menciptakan gambar perempuan yang tergantung pada laki-laki, yang kemudian memberikan perbandingan antara dua sumber teologi.Berdasarkan beberapa ayat tentang penciptaan perempuan,peran perempuan dan warisannya, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya dua kitab suci yang berbeda, Alkitab dan Al-Qur’an membawa semangat yang sama dalam berbicara tentang perempuan sebagai individu yang memiliki hidup otonom sendiriKata Kunci: Otonomi, Wanita, Kekuasaan, Al-Qur’an,Al-kitab. This paper attempts to trace back allegedly that thesacred texts of the Qur’an and Bible have been creatinga culture of patriarchy in the society. Sacred texts are not more than/nothing but a statement about women.These statements awaken the existence of  feminism asperspective and activism, both ideology and methodology. The purposes of this article are to read and to reconsider the use of such verses that are based on a tradition or culture that has created images of women who dependon men, which then owes a comparation between  two sources of theology. Based on some verses about womencreation, role of women and her inheritance, this paper’s findings indicate that essentially two different scriptures,Bible and Al-Qur’an carry an identical spirit in talking about women as individuals who have their own autonomous life.Keywords: Autonomy, Women, Power, Al-Qur’an, Bible
MELIHAT LOGIKA AL-QURAN TENTANG PEREMPUAN MELALUI TERJEMAH REFORMIS Iwanebel, Fejrian Yazdajird
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merangkum ide-ide baru yang mencoba untuk memahami pengembalian istilah yang terkait dengan perempuan dalam Al Qur’an dengan memeriksa sebuah karya Qur’an terjemahan berjudul “Al-Qur’an:Sebuah terjemahan Reformer”. Karya ini menawarkan metodologi baru dalam membaca Al-Qur’an, melalui“Qur’an saja”, membiarkan Qur’an berbicara tentang dirinya sendiri melalui proses redefinisi kata-kata dan koherensi logis. Salah satu bentuk terjemahan yangtampak berbeda dari yang lain, misalnya di QS. An-Nisa (4): 34, ar-rija>lu qawwamu>na ‘ala an-Nisa’ diterjemahkan dengan laki-laki “untuk mendukung” para wanita.Dalam ayat yang sama, ia juga diterjemahkan sebagai salihat dengan “perempuan yang direformasi”. Dalam terjemahan progresif membutuhkan sentuhan aspekhistoris sehingga terjemahan ini tidak lepas dari maknaasli. Jika mereka mengabaikan data historis, penafsiranpara ulama, Ulumul Quran, hadits nabi, dan sebagainya untuk menggunakan tekstualitas Al-Qur’an sebagai penafsir Al-Qur’an, bukan tidak mungkin bahwa merekaakan memiliki kesalahpahaman.kata kunci: Keadilan, Reformis, Quran, Wanita. This paper reviews new ideas that try to make sense of returning the terms related to women in the Qur’an by examining a work of Qur’an translation entitled “ Qur’an: A translation Reformer”. This work offersa new methodology in reading the Qur’an, through “Qur’an alone”, it is let the Qur’an speaks about itself through a process of redefinition of words and logical coherence. One form of translation seems different fromthe others, for example in the QS. An-Nisa (4): 34, ar-rija>lu qawwamuna ‘ala an-Nisa’ translated by men are “to support” the women. In the same paragraph, he alsotranslated as-salihat with “the reformed women”. This progressive translation in the researcher’s point of view needs a touch of historical aspects so that translation is not separated from the original meaning of which is understood by the first audience. If they ignore the historical data, the interpretation of the scholars, Ulumul Quran, hadith of the prophet, and more likely to use thetextuality of the Quran as the interpreter of the Qur’an, it is not impossible that they will have misconceptions.Keywords: Justice, Reformers, Quran, Women.
TAFSIR FEMINIS M.QURAISH SHIHAB : TELAAH AYAT-AYAT GENDER DALAM TAFSIR AL-MISBAH Wartini, Atik
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah interpretasi dan pemahaman selalu berdasarkankondisi sosial, politik, dan budaya mereka. Al Misbahadalah salah satu penafsiran Alquran modern Indonesiayang terkenal yang ditulis oleh M. Quraish Shihab. Artikelini berhubungan dengan pemikiran Quraish tentangperempuan melalui tafsirnya. Tulisan Ini menyimpulkanbahwa Quraisy membuat interpretasi kuno, tapi ia tidakmenyangkal adanya interpretasi baru. Ia membangunjembatan dan alur rantai sehingga interpretasi sensitif jender dapat dipertimbangkan dalam penafsiran masadepan. Pembaharuan ini mengalami kemajuan perlahandan pasti, dapat dibuktikan dengan tidak adanyapenolakan dalam penafsiran ketika ia menafsirkan ayat-ayat tentang wanita dan isu-isu gender.Kata kunci: Penafsiran Qur’an, Al-Misbah, Ayat Gender
WAJAH MASKULIN TAFSIR AL-QUR’AN : STUDI INTERTEKSTUALITAS AYAT-AYAT KESETARAAN GENDER Atabik, Ahmad
PALASTREN Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

al-Qur’an yang diwahyukan dalam bahasa Arab tidak dapat dilepaskan dari visi gender dalam bahasa Arab. Artikel ini membahas pada aspek-aspek isu-isu gender yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran, yang memberikan bias gender,baik secara tekstual maupun kontekstual. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menemukan bias gender bahasaArab dalam Al-Qur’an. Bias gender ini juga mempengaruhi penafsiran. Ini membutuhkan pemahaman yang mendalam dan sangat sistematis, dengan menggunakan metodologi penafsiran yang tepat sebagai penafsiran Al-Qur’ankata kunci: Maskulin, Kajian Gender, Tafsir Al-Qur’an. In this simple article, the researcher will be more orientedon those aspects of gender issues contained in the verses of the Koran, which provides gender bias, both in textual and contextual. Through qualitative method, thisresearch will find the gender bias in the Arabic languagein the Qur’an. It is because the Qur’an, religious texts(text) has chosen the Arabic language in which aspects of gender bias in the Arabic language (as language choice inthe Lord Mediation), also affect the interpretation. Thisrequires an understanding of a very systematic and indepth by using the proper interpretation methodology as the interpretation of the Qur’anKeywords: Masculine, Gender Studies, interpretation ofal-Qur’an.

Page 1 of 3 | Total Record : 30