cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
Nikah Subarang Ayie Kontestasi Nikah Formalistik di 50 Kota Sumatera Barat silfia hanani; Aidil Alfin; Ali Rahman
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.7448

Abstract

Subarang Ayie marriage, marriages that are performed through marriage services that are not regulated by the state, or not through procedures that have been established by applicable laws and regulations, so that this marriage does not have official documents, as regulated  by the state.  Ayie's Subarang marriage still occurs due to practices carried out by actors who need and need each other, making it difficult to be eliminated.  Marriage under the hand is still a rational and normative choice, especially among those who have problems in marriage.  Therefore, Subarang Ayie's marriage still survives.
AKTUALISASI DIRI PEREMPUAN DI TENGAH KEPENTINGAN DOMESTIK DAN PUBLIK Muflihah Muflihah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i1.984

Abstract

Laki-laki dan perempuan diciptakan dalam suatu bagan kemitraan simbiosis mutualistik. Penciptaan keduanya secara niscaya bertumpu kepada qudrah dan iradah Tuhan. Perempuan diberi hak dan kewajiban sebagaimana laki-laki. Perempuan mampu memerankan kewajiban kodratinya dan memiliki keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ikut berperan sebagai mitra laki-laki dalam mengemban tugas sebagai khalifatullah di bumi, aktif di ranah publik, baik melalui kegiatan sosial, intelektual, dan politik. Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan tidak menjadi pembeda yang membedakan antara superior dan inferior, meski naturalisasi sebagai seorang perempuan yang menstruasi,hamil, dan menyusui tetap dijalankan.kata kunci: qudrah, iradah, kesetaraan, mitra, publik,domestik, kesepahaman Men and women are created in a frame mutualisticsymbiotic partnership. Creation of the two is necessarilyrelying on Qudrah and will of The Lord. Women were given the rights and obligations as men. Women wereable to portray her nature obligations and have the desireto actualize herself, had a role as a male counterpart inthe task as representative of Allah on earth, active in thepublic sphere, whether through social, intellectual, andpolitical. Biological differences between men and womenis not a differentiator that distinguishes between superior and inferior, although natural character as a womanwho is menstruating, pregnant, and lactating are keeprunning.Keywords: Qudrah, will of god, equality, partners, public,domestic, understanding
Citra Diri Maskulin Para Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Tri Wuryaningsih; Arizal Mutahir; Ratna Dewi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i1.3827

Abstract

Persoalan kekerasan terhadap anak di Indonesia menjadi persoalan yang sangat serius. Pemerintah menyatakan bahwa ‘Indonesia Darurat Kekerasan terhadap Anak.’ Kasus kekerasan terhadap anak terus mengalami peningkatan. Kasus kekerasan seksual merupakan kasus terbanyak. Kasus kekerasan seksual tidak lepas dari gagasan maskulinitas yang sangat cenderung patriarkhis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menjelaskan tentang gagasan maskulinitas para pelaku kejahatan seksual terhadap anak yang berkenaan dengan makna dan struktur sosial yang melingkupi mereka. Untuk meraih tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Temuan penelitian ini adalah: tindakan seksual para pelaku kejahatan seksual tidak dapat dilepaskan dari pemaknaan mereka tentang gender dan seksualitasnya, laki-laki dianggap sebagai sang penakluk, pemangsa, dan perempuan sebagai pihak yang ditundukkan (objek seksual). Bagi kaum paedofil (pelaku sodomi), perempuan adalah sosok yang selalu membuatnya sakit hati. Anak-anak dijadikan pelampiasan hasrat seksualnya; para pelaku kejahatan seksual menganggap persetubuhan dengan anak dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak ada ancaman dan paksaan, bukan merupakan kekerasan atau tindak kejahatan; struktur sosial yang melingkupi para pelaku adalah: tingkat sosial ekonomi rendah, lingkungan pergaulan buruk, ketiadaan figur ayah, ketiadaan istri dalam jangka waktu lama, cenderung menutup diri dari lingkungannya, konsumsi obat-obat terlarang, minuman keras, materi pornografi serta seks bebas                                Kata kunci: kejahatan seksual, anak, maskulinitas, makna, struktur sosial Abstract"Indonesia Emergency Violence against Children" is the statement delivered by the government to show how the issue of violence against children in Indonesia has become a very serious problem. Currently the case of violence against children is increasing and cases of sexual violence cases occupy the highest among the other kinds of violence. This study aims to analyze and explain the idea of masculinity perpetrators of sexual crimes against children that focuses on the meaning and social structures that surround sexual offenders. The findings in this study are: 1) The sexual act of sexual offenders can not be separated from their meaning about gender and sexuality, in which the male sex is considered as the conqueror, predators, and women as the subjugated (sexual object). For the pedophile, the woman is a person who always made it hurt. Only the children can freely vent to his sexual desires; 2) According to sex offenders, that sexual intercourse with a child on the basis of consensual, there is no threat and coercion is not the violence or crime; 3) social structure that surrounds the sex offenders are: socio-economic level is low, the social environment is bad, the absence of a father figure, the absence of the wife in the long term, tend to close themselves from the environment, the consumption of illegal drugs, alcohol and pornographic material as well as free sex.Keywords: sexual crimes, child, masculinity, meaning, social structure
STUDI PERBANDINGAN ATAS OTONOMI PEREMPUAN DALAM AL-QUR’AN DAN BIBEL Limmatus Sauda'
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i2.989

Abstract

Tulisan ini mencoba melacak kembali dugaan orang bahwa teks-teks suci Al-Qur’an dan Alkitab telah menciptakan budaya patriarki di masyarakat. teks-teks suci tidak lebih dari pernyataan tentang wanita. Pernyataan-pernyataan ini membangkitkan keberadaan feminisme sebagai perspektif dan aktivisme, baik ideologi dan metodologi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk membaca dan mempertimbangkan kembali penggunaan ayat-ayat tersebut yang didasarkan pada tradisi atau budaya yang telah menciptakan gambar perempuan yang tergantung pada laki-laki, yang kemudian memberikan perbandingan antara dua sumber teologi.Berdasarkan beberapa ayat tentang penciptaan perempuan,peran perempuan dan warisannya, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya dua kitab suci yang berbeda, Alkitab dan Al-Qur’an membawa semangat yang sama dalam berbicara tentang perempuan sebagai individu yang memiliki hidup otonom sendiriKata Kunci: Otonomi, Wanita, Kekuasaan, Al-Qur’an,Al-kitab. This paper attempts to trace back allegedly that thesacred texts of the Qur’an and Bible have been creatinga culture of patriarchy in the society. Sacred texts are not more than/nothing but a statement about women.These statements awaken the existence of  feminism asperspective and activism, both ideology and methodology. The purposes of this article are to read and to reconsider the use of such verses that are based on a tradition or culture that has created images of women who dependon men, which then owes a comparation between  two sources of theology. Based on some verses about womencreation, role of women and her inheritance, this paper’s findings indicate that essentially two different scriptures,Bible and Al-Qur’an carry an identical spirit in talking about women as individuals who have their own autonomous life.Keywords: Autonomy, Women, Power, Al-Qur’an, Bible
Menenun Bagi Perempuan Melayu Riau: Antara Peluang Usaha dan Pelestarian Budaya Hasbullah Hasbullah; Wilaela Wilaela; Riska Syafitri
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 1 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i1.6867

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan aktivitas menenun bagi Perempuan Melayu yang dilihat dari dua sisi, yaitu peluang usaha dan pelestarian budaya. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah metode kualitatif dengan teknik wawancara sebagai pengumpul data utama. Data primer diperoleh dari wawancara dengan informan yang terdiri dari perajin tenun, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Hasil kajian ini menyimpulkan bahwa peluang usaha muncul sebagai akibat dari otonomi daerah dan kebijakan Pemerintah Provinsi Riau untuk menggali berbagai khasanah lokal khas Riau. Pada saat ini sudah muncul pusat-pusat penghasil kain tenun dan juga sentra-sentra yang menjual kain tenun. Sedangkan pelestarian budaya merupakan efek dari kebijakan tersebut yang membuat para perajin tenun kembali bergairah untuk menekuninya karena memiliki nilai ekonomis. Pewarisan keterampilan menenun tidak lagi hanya terbatas pada keluarga perajin, melainkan juga sudah meluas kapada masyarakat yang meminatinya. Pemerintah mendukung dengan berbagai program dan kebijakan agar keterampilan menenun tetap bertahan dan berkembang di tengah masyarakat Melayu Riau.
MELIHAT LOGIKA AL-QURAN TENTANG PEREMPUAN MELALUI TERJEMAH REFORMIS Fejrian Yazdajird Iwanebel
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i2.990

Abstract

Tulisan ini merangkum ide-ide baru yang mencoba untuk memahami pengembalian istilah yang terkait dengan perempuan dalam Al Qur’an dengan memeriksa sebuah karya Qur’an terjemahan berjudul “Al-Qur’an:Sebuah terjemahan Reformer”. Karya ini menawarkan metodologi baru dalam membaca Al-Qur’an, melalui“Qur’an saja”, membiarkan Qur’an berbicara tentang dirinya sendiri melalui proses redefinisi kata-kata dan koherensi logis. Salah satu bentuk terjemahan yangtampak berbeda dari yang lain, misalnya di QS. An-Nisa (4): 34, ar-rija>lu qawwamu>na ‘ala an-Nisa’ diterjemahkan dengan laki-laki “untuk mendukung” para wanita.Dalam ayat yang sama, ia juga diterjemahkan sebagai salihat dengan “perempuan yang direformasi”. Dalam terjemahan progresif membutuhkan sentuhan aspekhistoris sehingga terjemahan ini tidak lepas dari maknaasli. Jika mereka mengabaikan data historis, penafsiranpara ulama, Ulumul Quran, hadits nabi, dan sebagainya untuk menggunakan tekstualitas Al-Qur’an sebagai penafsir Al-Qur’an, bukan tidak mungkin bahwa merekaakan memiliki kesalahpahaman.kata kunci: Keadilan, Reformis, Quran, Wanita. This paper reviews new ideas that try to make sense of returning the terms related to women in the Qur’an by examining a work of Qur’an translation entitled “ Qur’an: A translation Reformer”. This work offersa new methodology in reading the Qur’an, through “Qur’an alone”, it is let the Qur’an speaks about itself through a process of redefinition of words and logical coherence. One form of translation seems different fromthe others, for example in the QS. An-Nisa (4): 34, ar-rija>lu qawwamuna ‘ala an-Nisa’ translated by men are “to support” the women. In the same paragraph, he alsotranslated as-salihat with “the reformed women”. This progressive translation in the researcher’s point of view needs a touch of historical aspects so that translation is not separated from the original meaning of which is understood by the first audience. If they ignore the historical data, the interpretation of the scholars, Ulumul Quran, hadith of the prophet, and more likely to use thetextuality of the Quran as the interpreter of the Qur’an, it is not impossible that they will have misconceptions.Keywords: Justice, Reformers, Quran, Women.
PERAN POLITIK PEREMPUAN MELALUI SINOMAN DI DESA GROBOG WETAN TEGAL DALAM PERSPEKTIF GENDER Zaki Mubarok
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i1.3444

Abstract

Sinoman dirumuskan sebagai tradisi saling membantu antar anggota masyarakat dalam aspek politik, sosial dan agama. Sinoman lazim dilakukan perempuan baik berupa pemberian materi atau pekerjaan nir transaksional. Dalam konteks politik pemilihan kepala desa, sinoman menjadi mekanisme vote gatter, kampaye, memberi dan menyajikan logistik selama pemilihan kepala desa. Meski berperan penting, perempuan tidak otomatis menjadi figur yang berada di tengah kekuasaan atau masuk dalam inti struktur kekuasaan. Sebaliknya, ia menjadi bagian luar dari sistem kekuasaan atau politik yang berjalan. Peran penting mereka dalam politik desa didasarkan pada semangat ibadah yang bersumber pada ajaran patuh kepada perintah suami atau laki-laki yang berkedudukan sebagai imam. Karena pilihan politik suami menjadi pilihan politik yang harus dipatuhi istri atau saudara perempuan lainnya. Peran perempuan dalam Sinoman memiliki pengaruh atas pembagian kekuasaan untuk suami atau saudara laki-lakinya di desa.
Kontruksi Perempuan dalam Media Baru: Analisis Semiotik Meme Ibu-Ibu Naik Motor di Media Sosial Yanti Dwi Astuti
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i2.2679

Abstract

Tingginya pemanfaatan internet dan media sosial melahirkan fenomena munculnya kreativitas warganet menciptakan berbagai parody gambar (meme) untuk mengekspresikan perasaan, kondisi dan mengkritisi sebuah fenomena. Meme telah membuka jalan baru untuk mengkombinasikan berbagai unsur seperti kreatifitas, seni, pesan dan humor kedalam budaya internet. Salah satu fenomenanya mengenai meme ibu-ibu naik motor yang lebih menekankan unsur parody yang cenderung hyperrealitas, hiperbola dan repetisi/alterasi menunjukkan bahwa kasus ini menarik dan layak diteliti lebih lanjut karena media bukanlah sebuah saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik sebagai pisau analisis untuk membedah pesan/makna yang terkandung dalam 12 meme ibu-ibu naik motor yang hits dimedia sosial  dengan menggunakan model segi tiga makna Charles Saunders Pierce, yaitu: Sign (tanda), object (objek) dan interpretasi (interpretant). Hasil penelitian menyimpulkan ada hubungan yang erat antara tanda, obyek dan penafsir. Tanda (gambar) meme yang dibangun warganet menanggapi perilaku ibu-ibu naik motor di jalan umum. Obyek (makna) umumnya berisi cibiran, sindiran dan ketidaksukaan warganet terhadap Ibu-ibu naik motor dan dikemas dalam bentuk satire (humor). Sementara penafsir atau sikap (pemikiran) kreator meme dan para warganet tidak semuanya sama. Dimana warganet umumnya ada yang menerima dan ada yang tidak setuju dengan isi meme ini. Beberapa warganet melabeli ibu-ibu naik motor sebagai sosok yang pantas di antisipasi. 
STUDI PSIKOLOGI POLITIK MENAKAR KEPRIBADIAN PEREMPUAN DALAM PANGGUNG POLITIK Saliyo Saliyo
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1019

Abstract

Psikologi politik memiliki dua dimensi yaitu aktivitas politik dan idiologi politik. Dimensi pertama tentang aktivitas politik berkaitan dengan apatisme politik, konformitas,kepemimpinan, mengikuti pola politik, isolasi politik, pengambilan keputusan politik, fleksibilitas, kekacuan politik dan kreativitas politik. Kedua dimensi idiologi berkaitan dengan intensitas idiologi dalam aktivitas politik. Idiologi politik seseorang  berkaitan dengan ekspresi kepribadian seseorang. Akhir-akhir ini telahterjadi revolusi ekstrim yaitu revolusi peran laki-lakidan perempuan serta revolusi teknologi. Tulisan inibertujuan untuk melihat bagaimana dua revolusi tersebutmenjadikan berubahnya peran laki-laki dan perempuan.Perubahan tersebut di antaranya adalah perempuan mampu tampil dalam sektor publik yaitu sektor politik.Dalam sejarah Islam ataupun perjuangan Indonesia,banyak perempuan mampu mewarnai untuk menjadi inspirasi perjuangan emansipasi wanita. Perempuantampil dalam sektor publik tidak hanya berbasis padaidiologi pragmatis, liberal pada kesataraan gender.Perempuan tampil disektor publik dengan keanggunan, kesantunan, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Perempuantampil disektor publik mampu menjadi tauladan bagi perempuan lainnya.kata kunci: Psikologi Politik, Perempuan, Panggung Politik. Political psychology has two dimensions, namely politicalactivity and political ideology. The first dimension ofpolitical activities related to political apathy, conformity,leadership, following the pattern of politics, politicalisolation, political decision-making, flexibility, politicalturmoil and political creativity. The second dimensionrelates to the intensity of the ideology  in politicalactivity. A person’s political ideology associated with theexpression of one’s personality. Lately there has been anextreme revolution in terms of men and women”s roleand also in technology. This paper aims to look at howthe two revolutions, change and affect the roles of menand women. Such changes are women ability to performin the public sector, namely the political sector. In thehistory of Islam or the struggle of Indonesia, manywomen capable of coloring to be inspiring struggle forthe emancipation of women. Women appear in the public sector is not only based on the ideology of pragmatic, liberal on gender equality. Women performing publicsector with elegance, modesty, intelligence, and wisdom.Women performing public sector is able to be a rolemodel for other women.Keywords: Political Psychology, Women, Politic Area.
PEREMPUAN, RESILIENSI DAN LINGKUNGAN (Studi Pada Ibu Yang Memiliki Anak Retardasi Mental) Rini Risnawita Suminta
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i1.2746

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran tentang resiliensi ibu yang memiliki anak retardasi mental. Metode penelitian ini adalah kualitatif eksploratif dengan menggunakan tiga orang subjek ibu berusia 30-45 tahun yang memiliki anak retardasi mental. Penentuan subjek menggunakan teknik purposif sampel.  Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tehnik wawancara, observasi, catatan lapangan dan dokumen-dokumen pribadi. Penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi ibu yang memiliki anak retardasi mental dilakukan  dengan menerima kondisi anak secara ikhlas, dan mengakui akan kekurangan anak. Ibu yang memiliki anak retardasi mental tetap mensyukuri anak sebagai anugrah dari Tuhan, tetap menyayangi anak tanpa rasa malu, berempati, dan terus berusaha mendidik anak. Selain itu, ibu yang  memiliki anak retardasi mental membuat dirinya  menjadi lebih sabar, pasrah dan selalu menjadi orang yang mau memperbaiki diri.