cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
BIAS GENDER DALAM KONSTRUKSI HUKUM ISLAM DI INDONESIA Solikul Hadi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i1.997

Abstract

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat.Pengaturan peran laki-laki dan perempuan dalamkeluarga berdampak pada peran dan kedudukannya dalam masyarakat. Rumusan dalam Kompilasi Hukum Islam (KID) yang membedakan peran perempuan dan laki Iaki perlu  dikritisi.Pembagian peran di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHl) yang sangat patriarkis dalam banyak hal cenderung banyak diilhami oleh aturan aturan jauh sebelumnya yang bersifat diskriminati.  Ditingkat nasional, pemerintah Indonesia pada tahun 1974melakukan reformasi hukum keluarga berupa Undang Undang Perkawinan Nomor 1/1974 yang kemudian dilengkapi dengan Kompilasi Hukum Islam. Pada aturanfornal pemerintah itu, dapat ditemukan sejumlah normayang ambivalen. Di satu pihak pemerintah mengakuilegal capacity kaum perempuan, di satu pihak justru mengukuhkan peranan berdasarkan jenis kelamin (sexroles) dan stereotype terhadap perempuan dan laki laki dengan membagi secara kaku, peran perempuan di sektor domestik dan peran laki-Iaki di sektor publik.Kata Kunci: Rekonstruksi, Gender, Kompilasi Hukum Islam The family is the smallest unit of society. Setting theroles of men and women in the family have an impact onthe role and position in society. The formulation in theCompilation of Islamic Law which distinguish the roleof women and male-to be scrutinized. The division ofroles in the Compilation of Islamic Law very patriarchalin many cases tend to more or less inspired by the rulesahead of time that is diskriminati. At the national level,the Indonesian government in 1974 to reform familylaws such as the Marriage Law No. 1/1974 which wasthen fitted with Islamic Law Compilation. Fornal on therules of the government, can be found a number of normswere ambivalent. On the one hand it recognizes the legalcapacity of women, on the one hand it confirms the roleof gender (sex roles) and stereotypes of women and menby dividing rigidly, the role of women in the domestiksector and the role of male-in the public sector.Keywords: Reconstruction, Gender, Compilation ofIslamic Law
FENOMENA TABU MAKANAN PADA PEREMPUAN INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI FEMINIS Tania Intan
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 2 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i2.3757

Abstract

Fenomena tabu makanan yang dialami perempuan Indonesia berkaitan dengan dominasi kultur patriarki. Menggunakan studi dokumentasi, penelitian ini memperlihatkan bahwa  dalam masyarakat penganut sistem patriarki yang kuat, tabu-tabu, termasuk tabu makanan, lebih banyak diberlakukan pada perempuan dari pada laki-laki, dan bahwa tabu makanan berkaitan dengan kepentingan untuk berbagi sumber daya makanan. Beberapa tabu makanan bertentangan dengan ajaran kesehatan perempuan, terutama yang hamil atau menyusui, justru dilarang mengonsumsi makanan yang berprotein hewani tinggi yang diperlukan tubuh, dengan alasan kesehatan.  Dampak tabu makanan menyebabkan perempuan mengalami defisit gizi yang dapat membahayakan kesehatannya. Intervensi pemerintah dan kalangan akademisi diperlukan untuk mendistribusikan kesadaran perempuan tentang urgensi dari situasi tersebut
TAFSIR FEMINIS M.QURAISH SHIHAB : TELAAH AYAT-AYAT GENDER DALAM TAFSIR AL-MISBAH Atik Wartini
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i2.995

Abstract

Sebuah interpretasi dan pemahaman selalu berdasarkankondisi sosial, politik, dan budaya mereka. Al Misbahadalah salah satu penafsiran Alquran modern Indonesiayang terkenal yang ditulis oleh M. Quraish Shihab. Artikelini berhubungan dengan pemikiran Quraish tentangperempuan melalui tafsirnya. Tulisan Ini menyimpulkanbahwa Quraisy membuat interpretasi kuno, tapi ia tidakmenyangkal adanya interpretasi baru. Ia membangunjembatan dan alur rantai sehingga interpretasi sensitif jender dapat dipertimbangkan dalam penafsiran masadepan. Pembaharuan ini mengalami kemajuan perlahandan pasti, dapat dibuktikan dengan tidak adanyapenolakan dalam penafsiran ketika ia menafsirkan ayat-ayat tentang wanita dan isu-isu gender.Kata kunci: Penafsiran Qur’an, Al-Misbah, Ayat Gender
Is It Possible to Prevent Radicalism through Women's Participation in STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) Education?: Challenges and Opportunities Muhamad Imaduddin
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 1 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i1.4157

Abstract

Women and education as an effort to prevent radicalism are connected. If the international community tries to engage education as part of a strategy to reduce terrorism, it should be necessary to consider the content of education. One of the SDGs mandates in “equality” is the importance of women to be involved in mastering STEM. This study reveals how the challenges and opportunities for women's relationships and participation in STEM education can make it possible to prevent the emergence of radicalism. This was carried out by exploring several kinds of literature related to the level of women's participation and the usefulness of STEM education. The role of women is shown by their participation as learners, educators, and directly involved in the STEM industry as a workforce. As an educator, women's participation occupies a much better position than workforces. STEM content can be integrated with radicalism issues to be resolved in the classroom to practice critical thinking skills. Women as STEM workers face obstacles that have nothing to do with their abilities, such as stereotyping, discrimination, violence, and abuse. Religious education integrated with STEM education provides an opportunity to reduce radicalism values with women taking part in it.
KETIDAKADILAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN : STUDI PANDANGAN POLITIK PEREMPUAN ANGGOTA LEGISLATIF DI KABUPATEN KUDUS Farida Yuliani
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1030

Abstract

Penelitian ini ingin mengidentifikasi bentuk-bentuk kesenjangan gender dalam pembangunan pertaniandi Kabupaten Kudus serta seberapa jauh pandangan politik perempaun anggota legislatif di Kudus menjangkau pembangunan di bidang pertanian. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasusdan fenomenologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam pengambil keputusan, tidak ada kebijakankhusus untuk perempuan, tetapi arah kebijakan menujukesetaraan gender di mana perempuan sudah mulai terlibat aktif dalam gabungan kelompok tani tetapijumlah perempuan yang diakses teknologi baru ataumodal pertanian dari pemerintah dan wanita yangmengelola pertanian, masih kurang dari laki-laki. Dalammenyikapi hal ini legislator perempuan menyatakan perlunya pendidikan khusus sesuai dengan potensi petani lingkungan perempuan, sehingga mereka memiliki rasa kepercayaan diri dan mendapatkan posisi tawar yanglebih baik.Kata kunci: Perempuan legislator; kesenjangan gender;pertanian This article investigates the women legislator facing  gender gap in faming developmen in Kudus Central Java. This reasearch used a case study and phenomenological approach. The congclution of this article are women farm workers are always behind the men in terms oftecnological access. In the level of decicion maker, thereis no specific policy for women, but the policy directionis towards the gender equality where women have startedto be involved actively in the Joint Group of Farmers butthe number of women that accessed new technologiesor farming capital from government and women whomanage agricultural, still less than male. In addressingthis matter of women legislators expressed the needfor special education in accordance with the potentialof neighborhood women farmers, empowering womenthrough cooperatives and recitation, and revitalize thePKK as a means of distributing information, so they havemore capability, resulting sense of confidence and gain a better bargaining position.Keywords: Woman legislator, Gender gap, Agricultural
Fear of Success Perempuan Bekerja (Dalam Perspektif Budaya Jawa) Agustin Rahmawati; Suryanto Suryanto; Nurul Hartini
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v11i1.3556

Abstract

Fear of Success (FOS) yang dimengerti sebagai ketakutan akan konsekuensi yang akan diterima jika keberhasilan diraih, menjadikan perempuan enggan untuk berprestasi. Tidak terkecuali pada perempuan Jawa. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagaimana dinamika FOS pada perempuan Jawa. Metode yang digunakan adalah dengan mendasarkan pada literature review dari berbagai sumber, antara lain dari hasil-hasil penelitian terdahulu dan buku-buku referensi terkait. Telaah ini menghasilkan gambaran bahwa perempuan Jawa,dengan predikatnya sebagai kanca wingking bagi suami, memang harus sedikit menahan prestasinya untuk tetap bisa diterima dalam budayanya. Agar perempuan Jawa tetap menjadi perempuan ‘baik-baik’, maka harus memperhatikan pranata-pranata yang berlaku, sehingga pada akhirnya itu yang menyebabkan munculnya  fear of success, terutama pada perempuan bekerja. Namun demikian, dengan intervensi budaya yang tidak terelakkan, FOS masih bisa direduksi dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi. Dengan meningkatkan self esteem, selalu merasa optimis dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa datang, serta tetap berusaha positif terutama terhadap kultur yang ada, perempuan Jawa  mampu mengaktualisasikan dirinya, meskipun tidak bisa dipungkiri FOS masih  muncul dengan tingkat yang minimal.
EKOLOGI BIMBINGAN KARAKTER ISLAMI RAMAH ANAK DI TK KHAS DAARUT TAUHIID BANDUNG Farida Ulyani
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.2018

Abstract

Berbagai kebobrokan moral dan kekerasan terhadap anak yang terjadi akhir-akhir ini menuntut strategi terobosan dari bimbingan karakter yang ramah anak.  Riset ini membahas profil ideal ekologi bimbingan karakter Islami yang ramah anak di TK Khas Daarut Tauhiid Bandung.  Penelitian ini menggunakan metode studi kasus karena keunikannya. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian adalaha bahwa kondisi lingkungan sekolah tersebut cukup mengakomodasi dalam mengembangkan nilai-nilai moral yang meliputi: akhlak kepada Allah Swt, Rasulullah Saw, sesama manusia dan lingkungan. Penguatan ekologi Islami dilakukan dengan pengkondisian pada struktur ruang fisik dan sosial.  Sementara para guru melakukan pengauatan tiga struktur yang saling terkait yaitu: (a) Struktur peluang; diwujudkan dalam bentuk perangkat tugas, jenis dan berbagai bentuk kegiatan yang selaras dengan kebutuhan anak; (b) Struktur pendukung; perangkat sumber (resources) dan pengkondisian konteks yang sejalan dengan nilai-nilai karakter Islami; (c) Struktur penghargaan sesuai psikologi anak.Various moral depravity and violence against children happened lately demanded breakthrough strategy of a character guidance child-friendly. This research discusses the ideal ecological profile for Islamic character guidance in friendly child in TK Khas Daarut Tauhiid Bandung. This study uses a case study method because of its uniqueness. In collecting data using the method of observation, interviews and documentation methods. The results are: the ecological condition of  TK Khas Daarut Tauhiid has accommodated for Islamic character development at least in four aspect: character to Allah, the Prophet, human and environmental relations. In Strengthening of Islamic ecology  done by conditioning the physical space and social structure. Meanwhile the teacher made three interconnected structures conditioning, namely: (a) The structure of opportunities; embodied in the form of tasks, kinds and various forms of activities that are consistent with the needs of the child; (b) a supporting structure; device resources and conditioning context in line with the values of the Islamic character; (c) Structure of the award appropriate child psychology.
GELIAT PEREMPUAN PENJUAL IKAN DALAM PENGUATAN EKONOMI KELUARGA (STUDI PADA TEMPAT PENJUALAN IKAN BANYUTOWO-PATI) CAHYA, BAYU TRI; Nadhifah, Farikatun; SUPARWI, SUPARWI
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 14, No 2 (2021): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i2.10007

Abstract

nelayan. Profesi penjual ikan adalah pekerjaan yang lazim dilakukan oleh perempuan pesisir, dan juga merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perempuan secara kodrat berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus anak dan juga kebutuhan rumah tangga. Pada kenyataannya peran perempuan pesisir tidak boleh lagi di anggap biasa karena sebagian besar memiliki peran ganda sebagai suatu tindakan bagi pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan hal inilah yang berusaha diungkap dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data berdasarkan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan phenomenology. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap perempuan muslim sebagai penjual ikan yang berada di Desa Banyutowo Kabupaten Pati dalam upaya meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga nelayan. Berdasarkan hasil penelitian mengungkapakan bahwa perempuan muslim bekerja sebagai penjual ikan dilatarbelakangi oleh faktor kemiskinan, pemanfaatan waktu luang dan tersedianya lapangan pekerjaan. Kontribusi perempuan muslim dalam upaya meningkatkan pendapatan ekonomi yaitu adannya pemasukan ekonomi keluarga dan peran domestik perempuan di dalam rumah tangga. Upaya dalam meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga yaitu sebagai penjual ikan dan buruh pengasapan ikan. 
POLITISASI GENDER DAN HAK-HAK PEREMPUAN KENDALA STRUKTURAL KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM PENCALONAN LEGISLATIF Irwan Abdullah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1016

Abstract

Peluang partisipasi perempuan dalam politik melalui kuota tiga puluh persen pada kenyataannya masih mengalami sejumlah kendala struktural. Penyebabnya adalah kesalah pahaman dari peran perempuan yang menempatkan perempuan bukan sebagai pemimpin tetapi hanya sebagai ‘pemanis’ politik untuk menarik massa pemilih. Selain itu, kurangnya tindakan afirmatif yang dilakukan oleh pihak partai juga melemahkan posisi perempuan dalam politik. Artikel ini menyimpulkan bahwa hambatan struktural untuk keterlibatan perempuan dalam politik dapat diselesaikan dengan komitmen dan kerjasama dari berbagai pihak, yaitu perempuan itu sendiri, masyarakat, partai politik dannegara sebagai penjamin yang bertanggung jawab untuk pemenuhan hak-hak politik perempuan. Tanpa sinergi berbagai pihak, hak-hak politik perempuan masih akan diabaikan.kata kunci: Calon anggota legislatif perempuan, Hakpolitik perempuan, Reposisi perempuan The opportunities of women participation in politics through a quota of thirty percent in reality is still experiencing a number of structural constraints.The cause is a misconception of women role which places women not as a leader but only as a political‘sweetener’ to attract the masses of voters. Besides,the lack of affirmative actions undertaken by theparties also weakens the position of women in politics.The article concludes that the structural obstacles towomen’s involvement in politics can be solved with the commitment and cooperation of many parties, namelythe women themselves, society, political parties andthe state as the guarantor which is responsible for thefulfillment of the political rights of women. Without thesynergy of various parties, women’s political rights willstill be neglected.Keywords : Candidates for Legislative Women, Women’sPolitical Rights, Women Repositioning
KOSMOPOLITANISME, NEGOSIASI, DAN RESISTENSI: IDENTITAS PEREMPUAN MUSLIM DALAM IKLAN KOSMETIK MUSLIM DI INDONESIA Ferry Fauzi Hermawan
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i2.2734

Abstract

Tulisan ini bermaksud menganalisis identitas perempuan muslim kontemporer Indonesia melalui iklan kosmetik muslim Wardah. Iklan kosmetik tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari bisnis semata tetapi juga menjadi arena kontestasi, negosiasi, dan resistensi konstruksi identitas perempuan muslim Indonesia. Hasil analisis menunjukkan identitas perempuan muslim yang dibangun adalah tidak hanya sosok perempuan urban yang berpendidikan, taat pada ajaran agama, dan sopan tetapi juga dituntut untuk bersikap kosmopolit dengan bergabung pada pergerakan kebudayaan global, berinteraksi dengan orang asing, bahkan hidup di wilayah lain yang dalam hal ini wilayah barat. Selain itu, iklan Wardah juga menjadi sarana negosiasi dan resistensi ajaran Islam dan stigma media yang cenderung memberatkan perempuan. Iklan Wardah berusaha memberikan interpretasi ajaran Islam yang lebih ramah terhadap perempuan. Perempuan muslim Indonesia kontemporer dicitrakan sebagai sosok yang aktif di ruang publik tetapi tetap berjiwa sosial, tidak bergantung pada laki-laki, dan memiliki agensi diri untuk menentukan masa depan kehidupannya. Dari analisis yang dilakukan juga menunjukkan posisi perempuan berhijab dalam iklan Wardah memiliki posisi yang penting karena ia menjelma menjadi sosok otoritatif dalam menentukan keunggulan produk yang ditawarkan dalam iklan.This paper aims to analyze the identity of Muslim women in contemporary Indonesia through Wardah Muslim cosmetics advertising. Cosmetics’ advertising is not only function as a mere part of the business but also becomes an arena for contests, negotiations, and resistance to the construction of the identity of Indonesia’s Muslim women. The result shows that the identity of Muslim women are not only mirrored as a figure of an educated urban woman who is obedient to religion teachings and is also polite, but they are also forced to be cosmopolite by joining cultural movements globally, interacting with strangers, and even living in the other part of the world in this case in the West. Moreover, Wardah advertising is also become the media of negotiation and resistance to Islamic teachings and media stigma which tend to incriminate women. Wardah advertising attempts to provide interpretations of Islamic teachings that are more hospitable to women. Muslim women in contemporary Indonesia imaged as an active figure in public spaces but they still have a social spirit and not depend on men, and furthermore they have their own right to determine their future life. The analysis also shows that the position of a woman wearing “hijab” (a veil) in Wardah advertising has an important position because she has transformed into an authoritative figure to determine the excellence of products offered in the advertisement.