cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
MODEL MUSYAWARAH RENCANA AKSI PEREMPUAN (MUSRENA) RESPONSIF GENDER DI KOTA BANDA ACEH Oberlin Silalahi; Ratnawati Ratnawati
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 1 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i1.1718

Abstract

Partisipasi perempuan dalam perencaanaan pembangunan dan penganggaran dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) selama ini ternyata masih memiliki hambatan. Sebagai upaya penyelesaiannya, Pemerintah Kota Banda Aceh merumuskan strategi baru berupa Musyawarah Rencana Aksi Perempuan (Musrena) yang memberikan kesempatan partisipasi penuh pada perempuan sebagai upaya pengarusutamaan gender (PUG) dan Anggaran Responsif Gender (ARG) dari tingkat yang paling rendah yaitu desa/gampong. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi secara komprehensif tentang inovasi Musrena di Kota Banda Aceh. Melalui pendekatan kualitatif, data dalam penelitian ini didapatkan dari Focused Group Discussion (FGD), wawancara mendalam (Indepth-interview) dan desk-study (studi dokumen/dokumentasi). Hasil penelitian ini adalah: 1. Tumbuhnya motivasi dan kesadaran wanita di tingkat Gampong, kota/kabupaten untuk ikut berpartisipasi dalam perencaanaan pembangunan dan penganggaran yang responsif gender. 2. Musrena berbasis prinsip kesetaraan, anggaran yang berkeadilan gender, musyawarah dialogis, anti dominasi, keberpihakan kepada kelompok rentan, anti diskriminasi, dan pembangunan secara holistik. Based on the lack of women participation in development planning and budgeting within the Development Planning Meeting (Musrenbang), the government of Banda Aceh formulate a new strategy in the form of Council Action Plan for Women (Musrena) which provides an opportunity and full participation for women as gender mainstreaming (PUG) and the Gender Responsive Budgeting (ARG) on the lowest level; the village (gampong). This study aims to elaborate comprehensively on innovation of Musrena in Banda Aceh. Through a qualitative approach, the data in this study was obtained from Focused Group Discussion (FGD), interview (in depth-interview) and desk-study (documentation). The results of this study are: 1. Growth of motivation and awareness level of women in the village, city /county to participate in development planning and gender responsive budgeting. 2. Musrena based on the principles of: equality, gender fairly budgets, dialogical negotiation, anti-dominant, partiality, anti-discrimination, and holistic principle.
Perempuan dan Rekonsiliasi Peran Mama-mama Papalele dalam Membangun Rekonsiliasi Haria-Porto, Maluku Mauren Priscilla Agatha Latupeirissa
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i1.8050

Abstract

ABSTRAKTujuan yang hendak dicapai dalam tulisan ini yaitu mengidentifikasi dan menganalisis peran mama-mama papalele dalam rekonsiliasi Haria-Porto melalui aktivitas ekonomi lokal. Peran mama-mama melalui aktivitas ekonomi lokal yakni papalele mampu untuk menciptakan rekonsiliasi bagi Haria-Porto. Penulis menggunakan metode penelitian yaitu pengumpulan data yang dapat memberikan gambaran terhadap obyek yang hendak diteliti. Pendekatan yang dipakai yaitu pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Pendekatan ini dilakukan agar penulis dapat mengamati secara langsung transaksi jual-beli yang terjadi di pasar Haria-Porto dan mendapat gambaran mengenai peran mama-mama papalele dalam proses rekonsiliasi. Peran mama-mama papalele ini juga dapat menjadi suatu upaya bagi rekonsiliasi Haria-Porto. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah melalui peran mama-mama papalele dalam melakukan aktivitas ekonomi lokal ketika konflik terjadi,  dapat menciptakan dan membangun rekonsiliasi bagi Haria-Porto.ABSTRACTThis article aims to identify and analyze the role of mama-mama papalele in Haria-Porto reconciliation through local economic activity. Mama-mama’s functions through time economic activity, namely, papalele can make peace between Haria-Porto communities. Data collection is used as a research method to comprehend the object in the research. Besides, a qualitative approach combined with observation and interview method is utilized in this. It is done to directly observe the buying and selling transaction that occurs in the Haria-Porto market and have rough information regarding the role of mama-mama papalele in reconciliation’s process of Haria-Porto. This project concludes that the role of mama-mama papalele is doing a local economic activity during the conflict can promote reconciliation between Haria-Porto.
PENDIDIKAN SENSITIF GENDER DALAM ISLAM : TELAAH PARADIGMATIS DALAM SEJARAH INTELEKTUALISME ISLAM INDONESIA Zumrodi Zumrodi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i2.967

Abstract

Pendidikan Islam adalah proses untuk membangun seseorang secara holistik, baik dari sisi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Pendidikan Islam tidak mendiskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Diskriminasi dan bias gender sebenarnya terbentuk oleh budaya. Namun kesalahan penafsiran Al-Quran juga mempunyai peran dalam pemahaman konsep gender. Hal ini tidak terlepas dari tradisi sebagian orang yang menginterpretasi Al-Qur’an secara parsial dan tidak komprehensif, disamping pemahaman yang menekankan unsur tekstual ketimbang kontekstual. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bias gender dalam proses pendidikan dan juga cara untuk mengatasinya. Melalui metode kualitatif artikel ini menemukan bahwa pendidikan Islam sebenarnya memberikan pria dan wanita posisi yang proporsional tidak hanya dalam peran domestik, melainkan juga di masyarakat.kata kunci: Pendidikan, Islam, Gender.Islamic education is a process to build some person holistically, i.e. cognitive, affective, and psychomotor field. It does not discriminate men and women. The discrimination and gender bias merely constructed by culture. However the missinterpretation of Quran also takes a part of the gender issue. It comes from the tradition of some Moslem that interprete the Qur’an not in a comprehensive way. Moreover, it is understood textually and not contextually. This article aimed to explore the gender bias in terms of education process and also the way to solve it. Through the qualitative method this article finds that Islamic education actually gives both men and women a proportional position not only in domestic role but also in public one.Keywords:Education, Islam, Gender.
PRESTASI MANAJER JURNALIS PEREMPUAN DI RIAU TELEVISI DALAM PERSEPKTIF KESETARAAN GENDER nurhadi nurhadi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i2.5643

Abstract

Televisi merupakan media massa elektronik yang menjadi salah satu media paling bergengsi bagi para pejuang karir, tanpa terkecuali bagi seorang perempuan.Ada beberapa perempuan yang menempati posisi manajer di Riau Televisi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi kesetaraan gender jurnalis perempuan di Riau Televisi.Manajemen Riau Televisi memiliki 12 posisi kepemimpinan divisi. Dari beberapa divisi tersebut, hanya empat perempuanyang diposisikan sebagai manejer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data observasi dan wawancara. Data yang terkumpul dikaji dengan teori glass ceiling sebagai alat analisisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial dan kompetensi sangat menentukan mereka meraih prestasi sebagai manajer jurnalis di Riau Televisi.Dengan demikian prestasi sebagai menejer tak lagi ditentukan oleh jenis kelamin tetapi faktor kecerdasan sosial dan kompetensi lebih menentukan daripada yang lainnya.Penjelasan ini mematahkan anggapan bahwa Riau TV diskriminasi terhadap perempuan.
REFORMULASI HAK IJBAR FIQHI DALAM TANTANGAN ISU GENDER KONTEMPORER Husnul Haq
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i1.941

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konsep hak ijbar dalam fiqh, dan menyelidiki relevansinya dengan isu-isu gender saat ini. Penelitian ini dimulai dengan menjelaskan wali dan kepercayaan, makna hak ijbar, opini ulama ‘tentang hak ijbar, dan relevansi hakijbar terhadap isu-isu gender. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptifkualitatif,karena penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan dan menjelaskan hak ijbar di fiqh dilihatdari perspektif gender. Dengan menggunakan metodepenelitian yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa hak ijbar tidak berlaku untuk gadis-gadis yangmatang dan kompeten tentang hukum. Ini berarti hakuntuk memilih calon pendamping hidup adalah milikanak. Peran wali adalah sebagai pertimbangan pemberidan masukan saja. Perubahan sosial yang sangat signifikanmembuat wanita lebih mudah untuk berinteraksi denganlaki-laki, dan memungkinkan mereka untuk mengetahui sifat dan karakter mereka.kata kunci: fiqh, hak ijbar, wali
Pemberdayaan Keluarga Prasejahtera Melalui Program Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) di Kota Depok Khaerul Umam Noer; Dhea Ariesta Khairunnisa
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.8717

Abstract

Artikel ini menyajikan hasil penelitian tentang pemberdayaan ibu rumah tangga prasejahtera melalui program terpadu peningkatan perananan wanita menuju keluarga sehat sejahtera (P2WKSS). Ibu rumah tangga prasejahtera bekerja agar dapat membantu suami dalam mendukung perekonomian keluarga. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Cipayung dan Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, studi dokumentasi dan studi kepustakaan dengan melakukan analisa data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberdayaan yang dilakukan bagi ibu rumah tangga prasejahtera melalui program terpadu P2WKSS telah dilakukan sesuai dengan 7 tahapan pemberdayaan. Pada prakteknya program P2WKSS ini dapat menjadi salah satu alternatif program dalam memberikan pelatihan bagi ibu rumah tangga prasejahtera untuk menambah kemampuan dan keterampilan sehingga ibu rumah tangga prasejahtera dapat berusaha secara mandiri untuk meningkatkan perekonomian keluarga.This article presents the results of research on empowering underprivileged housewives through the Integrated Program to Increase the Role of Women towards Prosperous Families (P2WKSS). Poor housewives work so they can help their husbands support their families. This research was conducted in Cipayung and Ratujaya Village, Cipayung District, Depok City. In this study, researchers used qualitative research methods. This type of research is descriptive. Data collection used was interviews, observation, study, and study of literature by conducting data analysis. The results showed that the empowerment carried out for underprivileged housewives through the integrated P2WKSS program was carried out in accordance with the 7 stages of empowerment. In its practical program P2WKSS can be one of the alternative programs in providing training for underprivileged housewives to increase the ability and skills of underprivileged housewives to increase their own ability to improve their family economies.
KONSTRUKSI DAN REPRODUKSI BUDAYA KHITAN PEREMPUAN : PERGULATAN ANTARA TRADISI, KEBERAGAMAAN DAN KEKERASAN SEKSUAL DI JAWA Muhammad Mustaqim
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i1.979

Abstract

Pada masa sekarang ini, keberadaan khitan perempuan masih dalam perdebatan. Hal ini disebut sukarela sunat sukarela perempuan atau juga dikenal sebagai mutilasi Alat Kelamin Perempuan (FGM). Di sini, sunat perempuan sering dikaitkan dengan ajaran agama dan tradisi masyarakat yang harus selalu dijaga. Bagi Untuk beberapa feminis, sunat perempuan dianggap sebagai praktik kekerasan yang harus dihilangkan dari masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana tradisi, keberagamaan dan juga isu gender berpengaruh dalam membentuk pandangan masyarakat terkait praktik sunat perempuan ini. Budaya masyarakatdan tradisi keagamaan yang lebih bernuansa patriarki,menjadi legitimasi kelangsungan praktek ini. Melalui metode kualitatif, tulisan ini menemuka njelaskan beberapa tren sunat perempuan, pelaksanaannya padaperempuan, dimensi agama, tradisi dan tinjauan kritis dari praktek ini .Kata kunci: sunat perempuan, tradisi, agama dankekerasan jender. In today’s world, the existence of female circumcision isstill in debate. It is called  voluntary female circumcisionor it is also known as Female Genital Mutilation (FGM).Here, female circumcision is often associated with religiousteachings and traditions of society that must always bemaintained. For some feminists, female circumcision is considered as the practice of violence that should beeliminated from society. This paper aimed to explore howdoes the tradition, religiousity and also gender issue effectthe community way of thingking about circumcision.Community culture and religious traditions that havebeen more nuanced patriarchal, became the legitimacyof the continuity of this practice. Trough the qualitativemethod, this paper finds ssome trends of circumcision,it’s implementation for women, the religious dimension, tradition and critical review of this practice.Keywords: female circumcision, traditions, religious and gender violence
PENINGKATAN HARGA DIRI DIRI SPIRITUAL RENDAH MELALUI MODEL LOGO KONSELING FEMINIS BAGI PEREMPUAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG Jacob Daan Engel
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i1.2440

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this article is discussing low spiritual self-esteem of women of victims of trafficking at the “Mulya Jaya” Women’s Social Protection Home in Jakarta from the perspective of logo counseling model of feminist approach. This research is motivated by the crimes of women and children trafficking. This is a qualitative research in which data are collected through interview, observation and focus group discussion. Logo counseling model and feminist approach are intended to improve low spiritual self-esteem spirituality experienced by the victims especially dealing with self-exploration, self-acceptance, self-assertiveness, self-transcendence, values of attitudes and integrity that are oriented towards life, integrated in self-potential, self-activity and self-evaluation, which are useful for positive behavioral changes, namely from low spiritual self-esteem to healthy spiritual self-esteemKeywords: logo counseling model, feminist approach, low sporotual self-esteem, human traffickingABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji harga dirispiritual rendahperempuan korban perdagangan orangdi Rumah Perlindungan Sosial Wanita (RPSW) Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) “Mulya Jaya” Jakartadari perspektif model logo konseling dengan pendekatan feminis.Fakta yang memotivasi penelitian ini adalah masalah berbahaya yang berkembang di masyarakat, yaitu perdagangan orang perempuan dan anak-anak yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab.Pendekatan penelitian yang dipergunakan adalah penelitian kualitatif.Wawancara, observasidan focus group discussiondilakukan untuk mengumpulkan data kualitatif. Penelitian model logo konseling dengan pendekatan feminis dilakukanuntuk memperbaiki harga dirispiritualyang rendahperempuan korbanperdagangan orang, khususnya dalam eksplorasi diri para korban, penerimaan diri, ketegasan diri, transendensidiri, nilai-nilai sikap dan integritas diri yang berorientasi pada makna hidup, terintegrasi dalampotensi diri, aktivitas diri dan evaluasi diri, yang berguna bagi perubahan perilaku positif, yaitu dari harga diri spiritual rendah ke harga diri spiritual yang sehatKata kunci: model logo konseling, pendekatan feminis, harga diri spiritual rendah,perdagangan orang.    
URGENSITAS MANAJEMEN WAKTU DALAM PENDIDIKAN SPIRITUAL ANAK : STUDI KASUS PADA KOMUNITAS PENGAJIAN MUSLIMAT DINOYO, KOTA MALANG, JAWA TIMUR Yusuf Hanafi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i1.940

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas pola pengelolaan waktu dalam upaya mengembangkan kecerdasan spiritual anak di komunitas pengajian muslimat Dinoyo Malang Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan studi kasus untuk menemukan keunikan manjemen keluarga komunitas muslim. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa 80% kegiatan perempuan di waktu luang tidak digunakan secara efektif untuk mendidik moral dan mentalitas anak-anak mereka.Ini mengimplikasikan efektivitas waktu luang sebagai waktu produktif dalam meningkatkan kualitas keluargayang belum mencapai pola ideal yang diharapkan.Kecenderungan aktivitas yang dilakukan oleh ibu rumah tangga dalam mendampingi anak-anak mereka adalah aktivitas perawatan fisik. Banyak kegiatan yang tidak produktif tanpa memberikan pemahaman tentang nilai-nilai spiritual bagi anak. Dampaknya, anak-anak belajar tentang konflik , mimpi materialistis, dan sejenisnya.kata kunci: Manajemen Waktu, Kecerdasan Spiritual Anak.
Peace Education Taught by the Female Muslim Nobel Peace Prize Laureates in 21st Century Supaat Supaat; Suciati Suciati
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 1 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i1.6744

Abstract

AbstractWomen have a very important role in upholding world peace and security because they have the power that is not possessed by men, namely the maternal instinct which naturally can create peace with love, care and harmony. This study aims to find out Muslim women who received world peace awards in the 21st century and analyze the points of peace education that they teach and implement. This research was a qualitative descriptive study with the content analysis of the peace speech they deliver. Based on the analysis, it can be seen that there are three Muslim women who received world nobel peace prize in the 21st century, namely Shirin Ebadi, Tawakkul Karman and Malala Yousafzai. The messages of peace that become their focus are efforts for democracy and human rights, especially the struggle for human rights and children (Shirin Ebadi), nonviolent struggle against women's security and women's human rights for full participation in peace-building work (Tawakkul Karman), struggle against the oppression of children and young people and the right of all children to get education (Malala Yousafzai).