cover
Contact Name
Thema Arrisaldi
Contact Email
arrisaldi@gmail.com
Phone
+6282243576656
Journal Mail Official
jurnalmtg@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta, Jalan SWK Ringroad Utara,Condong Catur Kabupaten Sleman jurnalmtg@upnyk.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah MTG
ISSN : 19790090     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Kebumian MTG (JMTG) is an Indonesian scientific journal published by the Geological Engineering Department, Faculty of Mineral and Technology, UPN "Veteran" Yogyakarta. The journal receives Indonesian or English articles. Those articles are selected and reviewed by our professional editors and peer reviewers. The published article in JMTG covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Petroleum, Mining,Geography and geo-environment. The subject covers a variety of topics including : geodynamics, sedimentology and stratigraphy, volcanology, engineering geology, environmental geology, hydrogeology, geo-hazard and mitigation, mineral resources, energy resources, medical geology, geo-archaeology, applied geophysics and geodesy.
Articles 144 Documents
PELAKSANAAN MANAJEMEN SUMBERDAYA AIRTANAH METODE SUMUR RESAPAN UNTUK KONSERVASI AIRTANAH PADA AKIFER DANGKAL (SHALLOW AQUIFER) DI WILAYAH DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA Bambang Sutedjo HS; Isrofah Isnaeni Nugro
Jurnal Ilmiah MTG Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Development of physical build progress at DKI Jakarta area is increase pass by increase all the sector to make changes fungtion of landform like than forest fungtion, farms fungtion make real estate area, hotels and industries area. And than recharge area to decrease that is all, maked to changes of hydrology cycle is that decrease water rainfall to infiltrated to increase of runoff water.Hydrology and some factor to affected groundwater static water level at the shallow aquifer and value of infiltration capacity, and rainfall at The DKI Jakarta area, to make total artificial recharge to be needed of conservation methode at shallow aquifer. Lower plain of Jakarta Coastal added at North part of West Java, with has spread from West part of Java to East following North Coastal from West Java until Cirebon City, with wide plus minus 40 Km. In the regional North Coatal plain added with some high area and sub – basin. Jakarta area is a part sedimentation sub – basin and they call of Ciputat sub – basin, the West part this basin bodered by Tangerang High, at the East part by Rengasdengklok High and at the South part gradational to Bogor Antikinorium.Generally of DKI Jakarta area has to investigation by Soekardi (1985(, Nippon Koei et. Al (Cisadane River Basin Development Feassibility / CRBDFS, 1987), with to make differeanted of Jakarta Groundwater Basin to four part that is Coastal area are North of Tangerang – Jakarta – Bekasi, , Terraces area at the central art basin, the Tertiary bedrock with small production and volcano slope area of Salak and Pangrango. Thickness of Quartenary sediment in the Central Basin to interpretative than 250 meters until 300 meters, and less thickness to South West – South – South East from Jakarta about 25 meters to 50 meters (Warsito, 1985), because closed by contack with Tertisru sediments.From the analysis are finally of infiltration capacity (after balanced point) at the DKI Jakarta area is variatiun. Finally of infiltration capacity is lower value (0,01 Cm/ minutes) they are at the location two, three, four, and the higher (1,98 Cm / minutes) at the location 71. Perbandingan of smaller value and higher value is 198. In the geography position higher value at the South part, and smaller value at the North part.
POTENSI BATUBARA DAERAH SELUMA DAN SEKITARNYA KABUPATEN SELUMA PROPINSI BENGKULU Hidayat Widodo
Jurnal Ilmiah MTG Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Magister Teknik Geologi Program Pascasarjana UPN ”Veteran” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Kebutuhan komoditas batubara saat ini dan diwaktu yang akan datang semakin meningkat baik sebagai reduktor maupun untuk power plant, hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk pengembangan energy alternatif selain minyak bumi dan juga meningkatnya keperluan domistik seperti pada sector industri maupun untuk keperluan ekspor. Sejalan dengan itu pemerintah telah melibatkan pihak swasta dalam pengusahaan batubara, maka diharapkan sumber energi batubara akan dapat menjadi komoditi yang berguna bagi Negara pada umumnya dan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada khususnya. Tujuan eksplorasi ini untuk mengetahui gambaran potensi penyebaran lapisan dan kualitas batubara sesuai dengan nilai ekonomisnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dan perusahaan maupun oleh kalangan mahasiswa sebagai pengetahuan. Eksplorasi yang dilakukan pada daerah ini berdasarkan metode pemetaan geologi permukaan berupa pengamatan morfologi, litologi, deskripsi singkapan batubara, pengukuran jurus dan kemiringan batubara maupun lapisan batuan, pengambilan sampel batubara untuk analisa kualitas di laboratorium. Peralatan yang digunakan dalam esplorasi antara lain kompas geologi, GPS, pita ukur, loupe, kamera dan lain-lain.
POTRET PAD DAN RELEVANSINYA TERHADAP KEMANDIRIAN DAERAH Nurul Maulidhini, ST
Jurnal Ilmiah MTG Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Filosofi otonomi daerah adalah mewujudkan kemandirian daerah di segala segi kehidupan, yang diukur melalui elemen Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di harapkan dengan otonomi, semua daerah di Indonesia mampu melaksanakan semua urusan pemerintahan dan pembangunan dengan bertumpu pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang di milikinya. Dengan melihat realita pencapaian PAD di hampir semua daerah di Indonesia, tujuan mulia otonomi tersebut bagaikan jauh panggang daripada api. Bukan kemandirian yang ada justru tingkat ketergantunagn terhadap pusat yang semakin besar
MINERALISASI LEAD-ZINC DAERAH RIAMKUSIK, KECAMATAN MARAU, KABUPATEN KETAPANG, PROPINSI KALIMANTAN BARAT Heru Sigit Purwanto
Jurnal Ilmiah MTG Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Penelitian berada di daerah Riamkusik, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Propinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Berdasarkan dari hasil pengamatan, pengukuran dan analisis struktur geologi terdapat satuan batuan yang ada pada daerah penelitian berupa satuan batuan batupasir, satuan batuan breksi dan intrusi andesit. Pola struktur sesar atau patahan yang memotong di daerah penelitian yang umumnya berarah Barat – Timur. Struktur geologi tersebut menjadikan koridor proses terjadinya jalur mineralisasi masif sulfida, sedangkan analisa geofisika IP menunjukan adanya jalur dan cebakan masif sulfida (Pb-Zn) pada kedalaman bervariasi antara 10 - 100 meter. Beberapa hasil pemboran pada kedalaman 40 – 75 meter menunjukkan mineralisasi kuat pada cebakan masif sulfida (galena, magnetit, spalerit, pirit, kalkopirit). Berdasarkan data hasil eksplorasi tersebut menunjukan bahwa daerah telitian prospek untuk ditambang skala kecil.
PEMBANGUNAN SISTIM PEMANTAUAN GERAKAN TANAH BERBASIS SMS Kusdaryanto Kusdaryanto
Jurnal Ilmiah MTG Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Pembangunan Sistim pemantauan Gerakan Tanah di Dusun Guyon Desa Tengklik Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar yang dikirim secara real time menggunakan sensor extensometer, tiltmeter, GPS dan curah hujan telah berhasil dibangun pada akhir 2011, data langsung dikirim dari stasiun transmiter yang ditempatkan di lokasi gerakan tanah melalui sort massage service (sms) salah satu provider, kecuali data GPS untuk mendapatkan data harus di down load di lapangan.Sistim pemantauan gerakan tanah ini untuk menunjang mitigasi bencana geologi, dilaksanakan berdasarkan kemampuan dan pengalaman yang telah dimiliki BPPTK (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) dari pengembangan rekayasa yang telah dilakukan sebelumnya.
SUSTAINABLE DEVELOPMENT AT BINTAN ISLAND Vitrisia Klastika
Jurnal Ilmiah MTG Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.277 KB)

Abstract

Indonesia has a great potential in the natural resources, especially Titan Mining in one of the beautiful islands, Bintan Island. Unfortunately, this potential is not encouraged with a good attitude of the Indonesia people. The hi-tech technology can not make Bintan Island become better; sustainable in its economy was stuck because the area has been damaged by mining irresponsibility. It needs participation from all people and both government organizations and non government organizations to make a better life in Bintan Island.
ALTERASI DAN MINERALISASI EMAS DAERAH PANINGKABAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN GUMELAR, KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH Heru Sigit Purwanto; Herry Riswandi
Jurnal Ilmiah MTG Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.281 KB)

Abstract

Lokasi penelitian terletak di daerah Paningkaban dan sekitarnya, termasukdalam wilayah Kecamatan Gumelar, Kabupaten Bayumas, Propinsi JawaTengah. Tujuan penelitian adalah untuk menunjukkan adanya kontrol strukturgeologi pada daerah penelitian yang mempengaruhi pola sebaran urat kuarsadan mineralisasi emas. Metodologi dalam penelitian diawali denganpengumpulan data, dan data awal ini kemudian dikompilasi untuk menentukantahap penelitian berikutnya. Penelitian ini meliputi pengamatan geomorfologi,stratigrafi, struktur dan alterasi mineralisasi. Geomorfologi daerah penelitiantersusun atas empat satuan bentuk asal yaitu: bentuk asal vukanik, struktural,karst, dan fluvial. Stratigrafi tersusun atas tujuh satuan litostratigrafi tak resmidan dua litodem, yaitu (dari tua – muda): satuan breksi-vulkanik Halang, satuanbatupasir Halang, Satuan lava-andesit Kumbang, satuan breksi-vulkanik Tapak,satuan batupasir Tapak, satuan batugamping Tapak, endapan aluvial, dan intrusiandesit. Alterasi hidrotermal yang terbentuk di daerah telitian dikelompokkanmenjadi tiga zonasi tipe alterasi yaitu alterasi argilik, alterasi propilitik, danalterasi sub-propilitik. Mineralisasi yang dijumpai di daerah telitian adalah pirit(FeS2), kalkopirit (CuFeS2), galena (Pbs), bornit (Cu5FeS4). Analisis strukturmakroskopis pada daerah penelitian berdasarkan arah kelurusan dugaan jejakdari struktur geologi dulu baik berupa sesar, ataupun arah kelurusan sumbuhlipatan, didapatkan arah umum dari kelurusan tersebut yaitu relatip berarah N3050 E (Baratlaut - Tenggara), dan N 0550 E (Timurlaut – Baratdaya). Di daerahtelitian proses mineralisasi dikontrol oleh struktur geologi berupa sesar dankekar. Dimana mineralisasi melimpah dan banyak dijumpai mengisi kekar-kekarterutama shear fracture yang secara umum berarah Timurlaut – Baratdaya danBaratlaut – Tenggara, dengan arah tegasan pada kekar-kekar yang diukur dilapangan relatif berarah Utara - Selatan. Penelitian ini akan menekankan padapengukuran dan analisis detil untuk mengetahuai proses mineralisasi emas danmineral lainnya yang dikontrol oleh pola struktur yang bekerja. Analisis kontrolstruktur dapat membantu dalam melokalisir daerah mineralisasi karena padadasarnya aktivitas dan proses kontrol struktur geologi merupakan koredor padajalannya magma maupun sisa magma yang membawa mineral-mineral,sehingga metode eksplorasi mineral bijih dengan kontrol struktur dapatdigunakan untuk menentukan cebakan mineralisasi endapan bijih emas padasistem cebakan emas maupun mineral lainnya pada suatu daerah lain.Kata kunci: litostratigrafi, struktur, zona bukaan, zona ubahan, mineralisasi,mineral logam.
ANALSIS STRATIGRAFI TERINTEGRASI (BIOSTRATIGRAFI, SEISMIK STRATIGRAFI DAN SIKUEN STRATIGRAFI) DALAM IDENTIFIKASI LINGKUNGAN PENGENDAPAN PADA UMUR OLIGOSEN – SEKARANG UNTUK EKSPLORASI HIDROKARBON SUB-CEKUNGAN PALEMBANG, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN Wahyuni Annisa Humairoh; Muhammad Virgiawan Agustin; Akmaludin Akmaludin
Jurnal Ilmiah MTG Vol 13, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah MTG Volume 13 No. 2, Desember 2022
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmtg.v13i3.9402

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini merupakan hasil dari studi stratigrafi terintegrasi dengan menggabungkan analisis biostratigrafi, seismik stratigrafi dan sikuen stratigrafi yang kemudian dapat menekankan identifikasi lingkungan pengendapan yang berkembang secara komprehensif pada Sub-Cekungan Palembang Selatan. Hasil ini akan sangat membantu dalam perkembangan eksplorasi hidrokarbon Sub-Cekungan Palembang Selatan yang merupakan cekungan yang produktif menghasilkan hidrokarbon. Penelitian ini menggunakan data 2D seismik dan satu data sumur (Ugong-1) yang menembusnya berisikan informasi biostratigrafi yang lengkap dari formasi tertua yakni Formasi Lahat hingga formasi termuda saat ini berupa Formasi Air Benakat dari analisis biostratigrafi yang dilakukan. Informasi litologi dan top marker dari data mudlog Ugong-1. Berdasarkan analisis biostratigrafi ditemukan sembilan zonasi dari biozonasi foraminifera plangtonik diseluruh interval formasi sumur Ugong-1 (Globigerina ampliapertura (P20/O2), Globigerina opima opima (P21/O3-O5), Globigerina opima nana (P22/O6-O7), Globigerina ciperoensis (P22/M1a), Tenuitella munda (N4/M1b), Globigerinoides primordius (N5/M2), Globigerina euapertura / Catapsydrax stainforthi (N7/M4a-M4b), Praeorbulina sicana (N8/M5a-M6), Orbulina universa (N9/M7)). Top Formasi Lahat bersesuaian dengan Top Zona P21, Top Formasi Talang Akar bersesuaian dengan Top Zona P22, Top Formasi Baturaja bersesuaian dengan Top Zona N4, Top Formasi Gumai bersesuaian dengan Top Zona N8. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat didefinisikan tiga sikuen pengendapan (SP1, SP2 dan SP3). Batas ketidakselarasan sangat tercermin pada data paleobatimetri dan data seismik, begitu pula dengan sikuen stratigrafinya. Lingkungan pengendapan teridentifikasi secara komprehensif diketiga SP.Kata kunci: Biostratigrafi, Seismik fasies, Seismik stratigrafi, Sikuen Stratigrafi, Sub-Cekungan Palembang Selatan. ABSTRACTThis research results from an integrated stratigraphic study by combining biostratigraphic, seismic stratigraphic, and sequence stratigraphic analysis, which can then emphasize the identification of depositional environments that develop comprehensively in the South Palembang Sub-Basin. These results will significantly assist in developing hydrocarbon exploration for the South Palembang Sub-Basin, a productive basin for producing hydrocarbons. This study uses 2D seismic data and one well data (Ugong-1) that penetrates contains complete biostratigraphic information from the oldest formation, namely the Lahat Formation, to the youngest formation currently, the Air Benakat Formation from the biostratigraphic analysis carried out: lithology and top marker information from Ugong-1 mudlog data. Based on the biostratigraphic analysis, nine biozonation of planktonic foraminifera were found throughout the formation interval of the Ugong-1 well (Globigerina ampliapertura (P20/O2), Globigerina opima opima (P21/O3-O5), Globigerina opima nana (P22/O6-O7), Globigerina ciperoensis (P22/M1a), Tenuitella munda (N4/M1b), Globigerinoides primordius (N5/M2), Globigerina euapertura / Catapsydrax stainforthi (N7/M4a-M4b), Praeorbulina sicana (N8/M5a-M6), Orbulina universa (N9/ M7)). The top of the Lahat Formation corresponds to Top Zone P21, the Top of the Talang Akar Formation corresponds to Top Zone P22, the Baturaja Formation corresponds to the Top Zone of N4, Top of the Gumai Formation corresponds to the Top Zone of N8. Based on the analysis, three depositional sequences (SP1, SP2, and SP3) can be defined. Unconformity boundaries are strongly reflected in paleo bathymetric data and seismic data, as well as sequence stratigraphy. The depositional environment is comprehensively identified in all three depositional sequences.Keywords: Biostratigraphy. Seismic facies, Seismic Stratigrafi, Sequence Stratigraphy, South Palembang Sub-Basin.
KLASIFIKASI MASSA BATUAN RMI (ROCK MASS INDEX) UNTUK ANALISIS KESTABILAN LERENG DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Hasan Tri Atmojo, S.T., M.T.; Imam Achmad Sadisun
Jurnal Ilmiah MTG Vol 13, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah MTG Volume 13 No. 2, Desember 2022
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmtg.v13i3.9397

Abstract

ABSTRAK - Pada penelitian ini akan digunakan studi klasifikasi massa batuan terhadap lereng alami, yaitu klasifikasi RMi dengan objek penelitian pada lokasi lereng batuan yang berada di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Lokasi penelitian memiliki morfologi bentuk lereng terjal dengan litologi dominan berupa batugamping. Klasifikasi RMi ini jarang digunakan karena memiliki beberapa parameter yang cukup rumit untuk dilakukan pembobotan. Untuk mendapatkan nilai bobot dari klasifikasi massa batuan dilakukan pengamatan lapangan dengan scanline dan pengambilan sampel batuan utuh. Hasil properti keteknikan dari klasifikasi massa batuan RMi dianalisis menggunakan metode elemen hingga (finite element method). Massa batuan di lokasi penelitian memiliki litologi dominan berupa batugamping kalkarenit, kalsirudit, dan kalsilutit dengan tingkat pelapukan rendah hingga sedang. Bobot massa batuan berdasarkan klasifikasi RMi berkisar 2,09 – 6,228 (high). Properti keteknikan dari massa batuan dari lima lokasi memiliki modulus deformasi (Em) berkisar 3.068 – 11.550 MPa, kohesi (c) berkisar 0.236 – 2.334 MPa, sudut geser dalam (ɸ) 37o – 57o, dan kuat tarik (σt) berkisar 0,04 – 0.80 MPa. Dari hasil analisis tersebut, properti keteknikan dari klasifikasi massa batuan RMi dapat diterapkan untuk analisis kestabilan lereng menggunakan metode elemen hingga. Rekomendasi penyangga dari klasifikasi RMi cukup signifikan berpengaruh pada faktor keamanan dan perpindahan kestabilan lereng. Kata kunci: Klasifikasi massa batuan RMi, kestabilan lereng, volume blok, metode elemen hingga ABSTRACT - In this research, a rock mass classification study on rock slopes will be used, the RMi classification with the research object on rock slope locations in Cipatat, West Bandung Regency, West Java Province. The research location has a steep slope morphology with dominant lithology in the form of limestone. The RMi classification is rarely used because it has several parameters that are quite complicated to weight. To obtain weight values from rock mass classification, field observations were carried out with a scanline and intact rock samples were taken. The results of the engineering properties of the RMi rock mass classification were analyzed using the finite element method. The rock mass at the study site has dominant lithology in the form of calcarenite, calcirudite, and calcilutite limestones with low to moderate weathering levels. The rock mass weight based on the RMi classification ranges from 2.09 to 6.228 (high). The engineering properties of the rock masses from five locations have a deformation modulus (Em) ranging from 3,068 – 11,550 MPa, cohesion (c) ranging from 0,236 – 2,334 MPa, internal friction angle (ɸ) 37o – 57o, and tensile strength (σt) ranging from 0,04 – 0.80 MPa. From the results of this analysis, the engineering properties of the RMi rock mass classification can be applied to slope stability analysis using the finite element method. Support recommendations from RMi classifications have quite an effect on the safety factor and slope stability, while another recommendation to make the slope more stable is to make a cut-off slope for each slope so that the slope is more stable.
ALTERASI DAN MINERALISASI DAERAH KOMBONGAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN PAKENJENG, KABUPATEN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT Fahreza Putra
Jurnal Ilmiah MTG Vol 13, No 1 (2022): Jurnal Ilmiah MTG Volume 13 No.1, Juli 2022
Publisher : Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmtg.v13i2.9459

Abstract

 AbstractThe research location administratively covers two sub-districts, named Pakenjeng District which consists of Wangunjaya, Jayamekar, Jatiwangi, Depok, Panyindangan Village, and Pamulihan District, namely Garumukti Village. Geographically it is located at the coordinates of the UTM WGS-84 zone 48S: X = 792500 mE-797000 mE; Y = 9175000 mN — 9178500 mN with an area of 4.5 x 3.5 . The geomorphology are the form by Structural Hills (S1), Intrusion Hills (V1), Eroded Hills (D1), and River Bodies (F1). The lithology found is a product of a volcanic process consisting of: Jampang volcanic breccia unit (Early Miocene-Late Miocene), Jampang andesitic lava unit (Early Miocene-Late Miocene), Wayang Andesite Intrusion (Late Miocene), and Alluvial Deposit Unit (Holocene). The geological structure is in the form of layers dipping are relative to the north, fractures with the relative main stress of NNW-ESE, and faults which are grouped into Middle Miocene faults (Kombongan and Bojongboled Fault), Late Miocene faults (Cikandang, Depok, and Wayang Fault), and Pliocene faults (Cimipir and Ciawitali Fault). Hydrothermal alteration occurs intensely in the studied area, resulting in silicic (Quartz ± Pyrite), argillic (Kaolinite ± Illite ± Pyrite ± Muscovite ± Quartz), and propylitic alteration (Chlorite ± Albit ± Zeolite ± Cystobalite). Hydrothermal alteration is controlled by faults of Middle Miocene age. The mineralization found in the form of pyrite (FeS2), sphalerite (ZnS), galena (PbS), and chalcopyrite (CuFeS2) minerals which occupy the silicic alteration zone in the veins in the right slip fault zone of Kombongan and Bojongboled. The mineralized zone occupies the base metal horizon and is a type of low sulfidation (LS) deposit. Keywords: Kombongan; Bojongboled; alteration; mineralization; low sulfidation Abstrak Lokasi penelitian secara administratif mencakup dua kecamatan yaitu Kecamatan Pakenjeng yang terdiri dari Desa Wangunjaya, Desa Jayamekar, Desa Jatiwangi, Desa Depok, Desa Panyindangan, dan Kecamatan Pamulihan yaitu Desa Garumukti. Secara geografis terletak pada koordinat UTM WGS-84 zona 48S: X= 792500 mE—797000 mE; Y= 9175000 mN—9178500 mN dengan luasan 4,5 x 3,5 . Geomorfologi berupa Perbukitan Struktural (S1), Bukit Intrusi (V1), Perbukitan Terkikis (D1), dan Tubuh Sungai (F1). Litologi yang dijumpai merupakan produk hasil proses vulkanik yang terdiri atas: Satuan breksi vulkanik Jampang (Miosen Awal-Miosen Akhir), Satuan lava andesit Jampang (Miosen Awal-Miosen Akhir), Intrusi Andesit wayang (Miosen Akhir), dan Satuan Endapan Aluvial (Holosen). Struktur geologi berupa kedudukan lapisan yang relatif ke arah utara, kekar dengan tegasan utama relatif NNW-ESE, dan sesar yang dikelompokan menjadi sesar berumur Miosen Tengah (Sesar Kombongan, Bojongboled), sesar berumur Miosen Akhir (Sesar Cikandang, Depok, dan Wayang) dan sesar berumur Pliosen (Sesar Cimipir dan Ciawitali). Alterasi hidrotermal terjadi secara intens di daerah telitian, menghasilkan altersi silisik (Kuarsa ± Pirit), argilik (Kaolinit ± Illit ± Pirit ± Muskovit ± Kuarsa), dan propilitik (Klorit ± Albit ± Zeolit ± Pirit ± Kristobalit). Alterasi hidrotermal dikontrol oleh sesar-sesar berumur Miosen Tengah. Mineralisasi yang dijumpai berupa mineral pirit (FeS2), sfalerit (ZnS), galena (PbS), dan kalkopirit (CuFeS2) yang menempati zona alterasi silisik pada urat di zona sesar mendatar kanan Kombongan dan Bojongboled. Zona mineralisasi daerah telitian menempati base metal horizon dan merupakan tipe endapan sulfidasi rendah (LS). Kata kunci: Kombongan;Bojongboled; alterasi; mineralisasi; sulfidasi rendah

Page 11 of 15 | Total Record : 144