cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
agrivet@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jalan SWK 104 (Lingkar Utara) Condongcatur, Yogyakarta 55283
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Agrivet
ISSN : 14103796     EISSN : 27226018     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Agrivet (ISSN: 1410-3796) adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil penelitian dan ulasan mengenai berbagai aspek yang terkait dengan Agronomi dan bidang pertanian yang terkait (Budidaya Tanaman, Pemuliaan Tanaman, Hama Penyakit Tanaman dan Sumber Daya Lahan). Agrivet diterbitkan oleh Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN "Veteran" Yogyakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
APLIKASI PGPR DAN FLY ASH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) Vera Murdi; Sunadi; Jamilah; Milda Ernita; Zulman Harja Utama; Widodo Haryoko
Jurnal Agrivet Vol 32 No 1 (2026): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v32i1.16637

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan yaitu Mendapatkan interaksi PGPR dan Fly Ash Terhadap pertumbuhan, hasil dan ketahanan tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada lahan kering di Alahan Panjang. Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Ketinggian 970,50 meter di atas permukaan laut (dpl) yang dilaksanakan dari bulan Juni sampai Agustus 2025. Percobaan ini dirancang dengan menggnakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan. Perakuan pertama yaitu PGPR terdiri 4 taraf : tanpa PGPR, Pseudomonas sp, Bacillus sp, dan Sternotrophomoas sp. Faktor kedua yaitu dosis Fly Ash dengan 3 taraf yaitu 0 t/ha, 2 t/ha, dan, 4 t/ha. Setiap satuan percobaan terdiri dari 3 ulangan sehingga didapat 36 plot percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F pada taraf 1 % dan 5%, bila F hitung lebih besar dari F tabel, maka di uji lanjut dengan menggunakan uji DNMRT pada taraf 5% dan 1%. 1. Berdasarkan hasil penelitiam Terdapat interaksi PGPR dan Fly Ash terhadap pertumbuhan, hasil dan ketahanan tanaman bawang merah terhadap parameter tinggi tanaman pada perlakuan Stenothropomonas sp dengan dosis 2 ton/ha Fly Ash. Jumlah daun pada perlakuan Pesudomonas sp dengan dosis 2 ton/ha Fly Ash. Laju Tumbuh Relatif , Laju Asimilasi Besih dan diameter umbi. Kata kunci: Bawang Merah; PGPR; Fly Ash.
APPLICATION OF SIAM WEED COMPOST FERTILIZER AND IRRIGATION FREQUENCY ON GROWTH AND YIELD OF SHALLOTS (Allium ascalonicum L.) Najwa Raya Azzahra; Darban Haryanto; Ellen Rosyelina Sasmita; Heti Herastuti
Jurnal Agrivet Vol 32 No 1 (2026): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v32i1.16698

Abstract

Shallots are a horticultural commodity with high market demand, appropriate cultivation practices are required to increase productivity. Fertilization and irrigation are important for shallot cultivation. This study aimed to determine the interaction and most effective treatment between Siam weed compost dosage and irrigation frequency on the growth and yield of shallots. The experiment used a Completely Randomized Design (CRD) with two factors and one control. The first factor was Siam weed compost at doses of 10, 20, and 30 tons/ha. The second factor was irrigation frequency once per day, twice per day, and once every two days. ANOVA at 5% level was used to analyze the data, followed by DMRT for post hoc comparison at 5%. Differences between the control and treatment combinations were tested using orthogonal contrasts at the 5% level. The results showed an interaction between Siam weed compost and irrigation frequency. A compost dose of 30 tons/ha produced the highest root weight and volume, while irrigation twice per day improved root weight and volume. The treatment combinations differed significantly from the control in plant height at 4, 6, and 8 WAP, fresh and dry bulb weight per plant, bulb yield per plot and hectare, and harvest index.
Analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) Senyawa Bioaktif Daun Tanaman Buah Salju (Inga sp.) di Kawasan Bedugul, Bal Arendra Ariantoni; I Ketut Suada; Trisna Agung Phabiola; Putu Eka Pasmidi Ariati; Luh Putu Yuni Widyastuti
Jurnal Agrivet Vol 32 No 1 (2026): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v32i1.16726

Abstract

Tanaman buah salju (Inga sp.) merupakan spesies introduksi yang melimpah di kawasan Bedugul, Bali, namun informasi mengenai kandungan fitokimianya masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan senyawa bioaktif daun tanaman buah salju dari kawasan Bedugul, Bali. Analisis fitokimia dilakukan melalui maserasi menggunakan tiga pelarut dengan kepolarannya berbeda dengan perbandingan 2:1:1 (n-heksan, etil asetat, dan etanol 96%), kemudian dianalisis menggunakan instrumen Kromatografi Gas-Spektrometri Massa Shimadzu QP2010 SE dengan kolom kapiler Rtx-5MS. Analisis Kromatografi Gas-Spektrometri Massa berhasil mengidentifikasi 20 puncak kromatogram pada ekstrak daun tanaman buah salju dari kawasan Bedugul. Senyawa dengan kelimpahan tertinggi adalah metil risinoleat (methyl ricinoleate) dengan area sebesar 44,83%, diikuti oleh trifenilfosfin oksida (11,07%), heneikosana total (11,47%), eikosana total (7,11%), dan metil oleat (6,54%). Berdasarkan komposisi kimianya, senyawa-senyawa tersebut terklasifikasi ke dalam kelompok metil ester asam lemak (56,59%), hidrokarbon alifatik (20,11%), dan terpenoid (2,01%). Total senyawa yang berpotensi bioaktif mencapai 61,52% dari total ekstrak. Ekstrak daun tanaman buah salju dari kawasan Bedugul memiliki profil fitokimia yang kaya dengan berbagai potensi biologis, meliputi potensi antiinflamasi yang kuat melalui sinergi metil risinoleat (44,83%), sitral/neral (2,01%), dan asam lemak tak jenuh; potensi antimikroba dan antijamur berspektrum luas; potensi anti-biofilm melalui pentadekanal (1,08%) dan sitral/neral; serta potensi sebagai bahan baku industri oleokimia.
GROWTH RESPONSE AND YIELD OF RED ONION (Allium Ascalonicum L.) USING VARIOUS CONCENTRATIONS OF PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA AND RABBIT BIOURINE: RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) MENGGUNAKAN BERBAGAI KONSENTRASI PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA DAN BIOURINE KELINCI. Sheirly Suseno; Ellen Sasmita
Jurnal Agrivet Vol 32 No 1 (2026): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v32i1.16888

Abstract

Bawang merah merupakan produk hortikultura yang termasuk dalam kategori obat-obatan, sayuran, dan rempah-rempah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan konsentrasi PGPR dan biourin kelinci yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil bawang merah. Desain Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan satu kontrol digunakan dalam penelitian ini. Konsentrasi PGPR (40, 50, dan 60 ml/L) dan Biourin Kelinci (100, 150, dan 200 ml/L) masing-masing merupakan faktor pertama dan kedua. PGPR dan biourin kelinci tidak ada pada kontrol. ANOVA digunakan untuk menganalisis data. Untuk menentukan apakah terdapat perbedaan signifikan antar perlakuan, uji Kontras Ortogonal dan uji DMRT pada tingkat signifikansi 5% digunakan bersamaan dengan kontrol. Tinggi tanaman 28 hari setelah tanam, jumlah daun per rumpun dan per umbi, jumlah umbi, dan berat segar umbi semuanya menunjukkan interaksi antara perlakuan konsentrasi PGPR dan konsentrasi biourin kelinci. Dalam hal jumlah daun per umbi dan rasio pangkal akar 35 hari setelah tanam, kombinasi konsentrasi PGPR dan biourin kelinci menghasilkan hasil yang berbeda secara nyata dari kontrol. Empat belas hari setelah tanam, perlakuan konsentrasi PGPR 40 ml/L menghasilkan pertumbuhan dan hasil tertinggi pada tinggi tanaman. Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil bawang merah, tidak ada perbedaan yang terlihat antara perlakuan konsentrasi biourin kelinci mana pun.