cover
Contact Name
Darus Altin
Contact Email
darus_altin@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
darus_altin@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Sain Peternakan Indonesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 19783000     EISSN : 25287109     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Sain Peternakan Indonesia (JSPI) pISSN 1978 – 3000 dan eISSN 2528 – 7109 adalah majalah ilmiah resmi yang dikeluarkan oleh Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, sebagai sumbangannya kepada pengembangan Ilmu Peternakan yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris yang memuat hasil-hasil penelitian,telaah/tinjauan pustaka, kasus lapang atau gagasan dalam bidang peternakan.
Arjuna Subject : -
Articles 572 Documents
Comparison of direct microscopy and molecular method to detect amoebiasis cases from stool specimen and also identify the Entamoeba species involved in infection: A study of Nepal R. K. Das; R. Paudya; S. K. Singh; E. Sulistyowati; M. Saud
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.13.1.101-110

Abstract

Direct microscopic examination of stained or unstained wet mount preparations or fixed-stained smears of clinical material can often provide the etiological diagnosis of an infectious process. A total of 266 human stools specimens from children of america by a combination of microscopic examination and molecular method. In molecular method, nested polymerase chain reaction (Nested-PCR) targeting genomic Entamoeba species was used. Stool specimens were collected from Southern Plains of Nepal and analyzed at the Kathmandu Center for Genomics and Research Laboratory. The stool specimens were processed by wet mount method using saline as well as iodine staining and examined via microscopy for the presence of Entamoeba cysts or trophozoites. Furthermore, the stool specimens were characterized using Nested-PCR targeting genomic Entamoeba species. Based on microscopic examination, the overall prevalence of Entamoeba infection was 17.6% (47/266). The PCR results showed that 52 (19.5%) specimens are successfully generated species-specific amplicons. Males (21.7% in PCR) were more commonly infected compared to females (16.6% in PCR). Comparison by age groups show 10-15 years age-group (26.6% in PCR) had higher infection than age-group 5-10 years (16.6%) years and 1-5 years (15.2%). The infection with E. histolytica (100%; 52/266) was the predominant cause of amoebiasis, while the infection with E. dispar and E. moshkovskii was not found. PCR is a more effective method for the identification of Entamoeba infection than microscopy.
Pengaruh Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) sebagai Bahan Dipping Puting terhadap Jumlah Coliform dan pH Susu G. E. Suhendar; P. Sambodho; D. W. Harjanti
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.265-276

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) sebagai larutan dipping puting dalam menurunkan jumlah cemaran Coliform pada susu, dan pengaruhnya terhadap pH susu. Pengaruh ekstrak terhadap tingkat peradangan ambing juga dideteksi menggunakan California Mastitis Test. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berjenjang (split-plot in time), dengan empat kelompok perlakuan dan masing-masing empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pencelupan puting sapi perah ke dalam larutan yang mengandung 1%, 3% dan 5% ekstrak daun Belimbing Wuluh (T1, T2 dan T3). Kontrol positif menggunakan antiseptik sintetis komersial  berupa povidone iodine (K+). Pencelupan puting dilakukan setiap hari selama 9 hari, yaitu setelah pemerahan pagi dan sore. Sample susu diambil pada sebelum perlakuan dan pada hari ke-3, 6 dan 9. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara perlakuan antiseptik dengan hari pengambilan sample disetiap pada parameter jumlah Coliform, pH susu, maupun tingkat peradangan ambing. Perbedaan perlakuan konsentrasi ekstrak dan povidon iodine menghasilkan penurunan Coliform dalam jumlah yang sama. Lama aplikasi dipping (3, 6 dan 9 hari) menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah Coliform, dimana semakin jika dipping dilakukan secara rutin setiap hari maka jumlah Coliform semakin menurun. Simpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun Belimbing Wuluh terbukti efektif sebagai antibakteri dan dapat digunakan sebagai anternatif terhadap antiseptik sintetis komersial. Pencelupan putting sapi kedalam antiseptik setelah pemerahan  harus selalu dilakukan secara rutin. Kata kunci : daun Belimbing Wuluh, antiseptik, susu, Coliform, pH susu
Pemanfaatan Recording untuk Meningkatkan Manajemen Ternak Kerbau di Kecamatan Matawai La Pawu Kabupaten Sumba Timur Aris Umbu Hina Pari
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.13.1.20-28

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan recording untuk meningkatkan manajemen ternak kerbau di desa Paribokul Kecamatan Matawai La Pawu Kabupaten Sumba Timur.  Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan Maret 2017 dengan metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan wawancara langsung terhadap 115 responden.  Data dianalisis dengan pendekatan statistik deskriptif yang digambarkan pada tabel frekuensi dari setiap indikator atau dimensi. Adapun variabel-variabel yang diukur adalah recording terhadap populasi, silsilah/keturunan, reproduksi dan riwayat kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85% peternak belum memanfaatkan recording dengan baik sehingga peningkatan populasi ternak kerbau belum signifikan. Kata kunci : recording, populasi, ternak kerbau
Peranan Inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dan Pupuk Fosfat terhadap Produktivitas dan Kandungan Nutrisi Indigofera zollingeriana B. Herlina; Sutejo Sutejo; J. Laksono
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.2.184-190

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  seberapa besar peranan inokulasi Fungi Micoriza arbuskular untuk meningkatkan produksi tanaman Indigofera dan kandungan nutrisi. Penelitian ini  menggunakan metode Eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial  dengan 2 faktor. Faktor pertaman  adalah fungi mikoriza dengan level pemberian M0 : Tanpa Mikoriza, M1 : 5 gr / polybag, M2 : 10 gr / polybag. Faktor kedua fosfat dengan perlakuan, F0 : Tanpa Pupuk fosfat, F1 : Pupuk RP 270kg/ha  F2 : Pupuk SP-36 (36% P2O5) 150 kg/ha. Hasil penelitian menunjukan bahwa fungi mikoriza dan fosfat berpengaruh tidak nyata (P>0,05) pada peubah  tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, berat basah berangkasan, berat kering berangkasan, protein kasar dan serat kasar.  Secara tabulasi perlakuan mikoriza (M2) 10 gr Mikoriza/ polybag memberikan hasil yang terbaik pada peubah  tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, berat basah berangkasan, berat kering berangkasan, protein kasar dan serat kasar.  Untuk perlakuan fosfat (F1) Pupuk RP (20% P2O5) 270kg/ha /1,08 gr/polybag memberikan hasil terbaik untuk parameter pengamatan tinggi tanaman, diameter batang, berat basah berangkasan, berat kering berangkasan. Interaksi mikoriza dengan pupuk fosfat berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan dan kandungan nutrisi tanaman indigofera.Kata kunci: Fungi Mikoriza Arbuskular, Pupuk Fosfat, Indigofera
Evaluasi Mikroklimat dalam Kandang Menggunakan Tinggi Atap Kandang Berbeda yang Berkaitan dengan Respon Fisiologis Sapi Bali Dewasa di Kecamatan XIV Koto Kabupaten Mukomuko D. Suherman; S. Muryanto; E. Sulistyowati
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.4.397-410

Abstract

Penelitian ini untuk mengevaluasi frekuensi pernapasan, denyut jantung dan suhu rektal sapi Bali dewasa, yang berkaitan dengan mikroklimat dalam kandang (suhu dan kelembaban udara) pada tinggi atap kandang yang berbeda. Kandang terdiri dari dua tinggi atap kandang yang berbeda, yaitu 200-250 cm (Kandang I) dan tinggi atap kandang >250-300 cm (Kandang II). Penelitian dilaksanakan selama satu bulan, dari tanggal 25 April 2017 sampai 28 Juni 2017 di kandang peternak di Kec. XIV Koto, Kab. Mukomuko. Penelitian ini menggunakan ternak Sapi Bali dewasa sebanyak 40 ekor, pada masing-masing tinggi atap kandang yang berbeda sebanyak 20 ekor. Metode penelitian dengan cara pengukuran langsung dan deskripsi, pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pagi, siang, dan sore. Variabel yang diamati meliputi respon fisiologis Sapi Bali dewasa dan mikroklimat pada tinggi atap kandang yang berbeda, yang dideskripsikan dan dianalisis menggunakan persamaan regresi. Tinggi atap kandang memberikan pengaruh terhadap mikroklimat dalam kandang, semakin tinggi atap kandang mempengaruhi penurunan suhu udara dan peningkatan kelembaban udara dalam kandang. Frekuensi pernapasan dan denyut jantung meningkat seiring dengan meningkatnya suhu udara dan kelembaban udara dalam kandang.Kata kunci: Tinggi atap kandang, mikroklimat kandang, respon fisiologis, sapi bali dewasa.
Tingkah Laku Reproduksi Merak Hijau (Pavo Muticus) pada Umur yang Berbeda di UD. Tawang Arum Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun N. D. Nareswari; D. Samsudewa; Y. S. Ondho
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.94-101

Abstract

Penelitian bertujuan untuk untuk mengetahui kebutuhan dasar merak hijau melalui tingkah laku reproduksinya dengan umur yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober  – Desember 2015 di UD. Tawang Arum, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Parameter yang diamati adalah durasi, frekuensi dan pola tingkah laku reproduksi merak hijau. Penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merak hijau jantan berumur 10 tahun lebih banyak menampakkan tingkah laku reproduksi dibandingkan yang lain, begitupun pada merak hijau betina pada umur 10 tahun lebih banyak melakukan tingkah laku reproduksi berupa merespon merak hijau jantan dibandingkan lainnya. Aktivitas merak hijau lebih banyak digunakan untuk bertengger dan berjalan dibandingkan dengan tingkah laku reproduksinya.  Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara umur dengan tingkah laku reproduksi merak hijau.  Merak hijau jantan (umur 10 tahun) lebih banyak melakukan tingkah laku reproduksi jika dibandingkan dengan merak hijau jantan lainnya yang memiliki umur lebih muda(4 dan 5 tahun), yaitu melakukan  display sebanyak 2,5 kali dibandingkan merak hijau umur 4 tahun yang hanya 2 kali. Kata kunci : Tingkah Laku Reproduksi, Merak Hijau, Umur
Nilai Nutrisi Silase Limbah Sayur Kol dengan Penambahan Dedak Padi dan Lama Fermentasi yang Berbeda S. Superianto; A. E. Harahap; A. Ali
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 13, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.13.2.172-181

Abstract

Limbah sayur kol memiliki kadar air yang tinggi sehingga cepat mengalami pembusukan maka salah satu alternatif penggunaannya dengan silase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai nutrisi yang terkandung dalam silase limbah sayur kol dengan penambahan dedak padi dan lama fermentasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial (2x3) yaitu faktor A adalah level penambahan dedak padi 0% dan 35%. Faktor B yaitu lama fermentasi 0 hari, 7 hari dan 14 hari. Parameter yang diukur adalah Bahan Kering (BK), Protein Kasar (PK), Lemak Kasar (LK), Abu dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN). Hasil penelitian menunjukan pemberian substrat dedak padi 35% memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan Bahan Kering (BK), Lemak Kasar (LK), Serat Kasar (SK), Abu dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN). Tidak berpengaruh nyata terhadap terhadap kandungan Protein Kasar (PK) (P>0,05). Lama fermentasi tidak berpengaruh nyata (P<0,05) Terhadap Bahan Kering (BK), Lemak Kasar (LK), Serat Kasar (SK) dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) dan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan penurunan Abu. Perlakuan terbaik terdapat pada level penambahan dedak padi 35% dan lama fermentasi 14 hari dilihat dari penurunan kandungan abu sebesar 11,38%Kata kunci: Kualitas nutrisi, silase, limbah sayur kol, fermentasi
Pengaruh Bobot Badan Induk Generasi Pertama terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas pada Itik Magelang di Satuan Kerja Itik Banyubiru-Ambarawa E.P. Dewi; E. Suprijatna; E. Kurnianto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.1-8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bobot badan induk terhadap hasil produksi telur, fertilitas, daya tetas dan bobot tetas pada itik Magelang generasi pertama. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2015 di Satuan Kerja Itik Banyubiru Ambarawa. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35 ekor itik Magelang generasi pertama (G1) yang terdiri dari 30 ekor betina dan 5 ekor jantan berumur 6 bulan, yang ditempatkan pada 5 flock dengan perbandingan nisbah perkawinan 1:6. Masing-masing flock dibedakan menurut bobot badan induk itik Magelang. Metode klasifikasi satu arah digunakan sebagai rancangan percobaan pada penelitian ini. Data dianalisis menggunakan prosedur general linear model dari SAS. Paremeter yang diukur adalah jumlah telur, persen fertilitas dan daya tetas telur, serta bobot tetas day old duck (DOD).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bobot badan pada induk Itik Magelang memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap bobot telur dan bobot tetas (DOD), tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap fertilitas dan daya tetas. Bobot badan induk yang baik untuk pembibitan adalah yang mempunyai bobot badan sedang (1,682-2,08 kg).Kata kunci: itik Magelang, bobot induk, fertilitas, daya tetas, bobot tetas
Performan Puyuh Local Asal Payakumbuh, Bengkulu dan Hasil Persilangannya D. Kaharuddin; Kususiyah Kususiyah
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.317-324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performans puyuh lokal asal Payakumbuh dan Bengkulu serta hasil persilangannya. Penelitian ini dilaksanakan dikandang unggas Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.Puyuh tetua didapatkan dengan cara menetas telur puyuh bibit dari Payakumbuh dan Bengkulu masing-masing 600 butir dan puyuh persilangan adalah hasil penetasan telur hasil perkawinan 75 ekor puyuh betina Bengkulu dengan 25 ekor puyuh jantan Payakumbuh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan fertilitas dan daya tetas dengan nilai heterosis masing-masing 16,77 dan 15,12%. Hasil persilangan menghasil berat badan dan pertambahan berat badan pada umur dua, empat dan enam minggu melebihi berat badan pertambahan berat badan kedua tetuanya.  Hal ini memberi harapan untuk dapat diproduksi puyuh persilangan ini pada skala besar, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Kata kunci:  fertilitas, daya tetas, heterosis
Profil Hematologi pada Rusa Timor (Cervus timorensis) Betina Berahi yang Disuplementasi Mineral pada Satu Siklus Berahi A. Safithri; D. Samsudewa; Isroli Isroli
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.13.1.63-75

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suplementasi mineral seng (Zn), Selenium (Se) dan Magnesium (Mg) terhadap dinamika profil hematologi selama fase estrus Rusa Timor. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada penangkar bahwa pemberian suplementasi mineral dapat meningkatkan kadar eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit sehingga memperbaiki dinamika dari estrogen sehingga dapat memperbaiki kualitas berahi pada Rusa Timor. Perlakuan diberikan berupa suplementasi mineral pada 5 ekor rusa (T1) dan tanpa suplementasi mineral (T0) selama 8 minggu, dan dilanjutkan dengan pemasangan spon MPA selama 16 hari untuk dilakukan sinkronisasi berahi. Sampel darah diambil secara berurutan pada jam ke - 0, ke-24, ke-72, ke-84, ke-96, ke-108, ke-120 dan ke-144 setelah pencabutan spon MPA untuk dilakukan pengamatan profil hematologi. Paremeter yang diukur meliputi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaanperbedaan nyata (P?0,05) total eritrosit pada jam ke -72 serta sangat nyata (P?0,01) pada jam ke- 96, 108 dan 120. Terdapat perbedaan nyata (P?0,05) kadar hemoglobin pada jam ke- 108. Perbedaan nyata (P?0,05) nilai hematokrit pada jam ke- 0, 24, 72, 84 dan 96 serta perbedaan sangat nyata (P?0,01) terjadi pada jam ke- 120.Kata kunci : Profil hematologi, Rusa Timor, Mineral