cover
Contact Name
Darus Altin
Contact Email
darus_altin@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
darus_altin@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Sain Peternakan Indonesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 19783000     EISSN : 25287109     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Sain Peternakan Indonesia (JSPI) pISSN 1978 – 3000 dan eISSN 2528 – 7109 adalah majalah ilmiah resmi yang dikeluarkan oleh Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, sebagai sumbangannya kepada pengembangan Ilmu Peternakan yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris yang memuat hasil-hasil penelitian,telaah/tinjauan pustaka, kasus lapang atau gagasan dalam bidang peternakan.
Arjuna Subject : -
Articles 572 Documents
Pemberian Pupuk Fosfat dan Fungi Mikoriza Arbuskular terhadap Pertumbuhan Tanaman Legum Pohon (Indigofera zollingeriana) J. Laksono; T. Karyono
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.046 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.12.2.165-170

Abstract

Tujuan dari penelitan ini adalah  untuk mengetahui pertumbuhan legum pohon  Indigofera terhadap pemberian pupuk fosfat dan fungi mikoriza. Metode penelitian yang digunakan adalah  dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap  (RAL) pola faktorial  dengan 2 faktor perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor pertama  adalah fungi mikoriza dengan level pemberian M0 : Tanpa Mikoriza, M1 : 5 gr Mikoriza / polybag, M2 : 10 gr Mikoriza/ polybag. Faktor kedua fosfat dengan perlakuan, P0 : Tanpa Pupuk, P1 : Pupuk Rock Fosfat (20% P2O5) 270kg/ha  P2 : Pupuk SP-36 (36% P2O5) 150 kg/ha.  Hasil penelitian pertumbuhan tanaman indigofera yang diberi perlakuan fungi mikoriza arbuskular dan pupuk fospat menunjukan berpengaruh nyata (P<0,05)  terhadap tinggi tanaman,  serta berpengaruh tidak nyata (P>0,05)  terhadap diameter batang, jumlah cabang dan jumlah nodul. Pertumbuhan tanaman Indigofera zollligeriana yang diberi pupuk fosfat P2 : Pupuk SP-36 (36% P2O5) 150 kg/ha dan Inokulasi fungi mikoriza M2 :10 gr Mikoriza/ polybag memberikan hasil terbaik pada parameter tinggi tanaman. Kata kunci: Mikoriza, pupuk fosfat, Indigofera, rock pospat
Penambahan Sari Kacang Hijau pada Tris sebagai Bahan Pengencer terhadap Motilitas, Daya Hidup dan Abnormalitas Spermatozoa Sapi Kebumen S. B Pradana; Y. S. Ondho; D. Samsudewa
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.396 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.11.2.134-140

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat sari kacang hijau sebagai bahan pengencer terhadap motilitas, daya hidup dan abnormalitas spermatozoa dan dapat memberikan informasi mengenai manfaat sari kacang hijau sebagai bahan pengencer semen terhadap motilitas, daya tahan hidup dan abnormalitas spermatozoa sapi PO Kebumen. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan faktorial dengan faktor dosis pengencer dan lama penyimpanan pada motilitas serta menggunakan Rancangan Acak Lengkap pada daya hidup dan abnormalitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa persentase motilitas, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa pemberian Tris sari kacang hijau dengan dosis yang berbeda 5%, 10%, dan 15% tidak memiliki perbedaan secara nyata (P>0,05)terhadap kualitas spermatozoa sapi PO Kebumen dan perlu adanya ekstraksi kacang hijau yang lebih untuk dipotimalkan untuk pembuatan sari kacang hijau sebagai bahan pengencer semen. Kata kunci: Semen cair, kacang hijau, dan kualitas spermatozoa.
Fase Pertumbuhan Isolat Bakteri Asam Laktat (BAL) Tempoyak Asal Jambi yang Disimpan Pada Suhu Kamar Mardalena Mardalena
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.475 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.11.1.58-66

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menentukan fase pertumbuhan bakteri asam laktat (BAL) dari tempoyak asal Jambi yang disimpan pada suhu kamar. Tempoyak terbuat dari daging buah durian tanpa biji yang telah ditambahkan garam dan disimpan dalam lingkungan an aerob selama seminggu. Penelitian dilakukan melalui isolasi bakteri asam laktat,  menghitung koloni bakteri, identifikasi morfologi koloni bakteri asam laktat secara mikrobiologi dengan pewarnaan gram dan melihat fase pertumbuhan bakteri asam laktat pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri asam laktat yang diisolasi dari tempoyak asal Jambi menunjukkan karakteristik koloni berbentuk bulat dan berwarna putih susu, gram positif (+), reaksi katalase negatif, isolat bakteri asam laktat berbentuk batang dan mampu tumbuh pada suhu kamar selama 6 jam penyimpanan saja. Kata kunci : Bakteri asam laktat, tempoyak, suhu kamar
Evaluasi Motilitas Dan Persentase Hidup Semen Segar Sapi PO Kebumen Pejantan Muda F.Y. Azzahra; E.T. Setiatin; D. Samsudewa
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.305 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.11.2.99-107

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi motilitas dan persentase hidup spermatozoa sapi PO Kebumen pada pejantan muda. Penelitian dilaksanakan di Desa Bocor Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semen yang ditampung dari  pejantan sapi PO Kebumen umur 1,5 tahun (n= 3 ekor) dan 2 tahun (n=3ekor). Bahan yang digunakan larutan eosin 2%, larutan NaCl 0,9 %,KY jelly, air panas, spiritus, akuabides. Peralatan yang digunakan adalah vagina buatan, bantal penghangat, handuk, tabung tulip, mikroskop, gelas objek, tabung reaksi,deck glass,pipet, aluminium foil, spuit 10 dan 50 ml, handtally counter, haemocytometer, kamera dan alat tulis. Rancangan percobaan yang digunakan terdiri dari 2 kelompok umur 1,5 tahun ( n = 3 ekor), 2 tahun (n = 3 ekor) masing -  masing ditampung semennya 4 kali sehingga terdapat 24 unit percobaan. Hasil pengamatan  motilitas umur 1,5 dan 2 tahun pada menit ke-0, ke-15 diperoleh nilai dengan  kisaran 50-70%, dan pada menit ke- 30  terrendah adalah 45%. Persentase hidup spermatozoa  umur 1,5 dan 2 tahun berkisar antara 50-85%. Kata kunci : Sapi PO Kebumen, semen, umur, motilitas, persentase hidup.
Performans Keturunan Ayam Arras dengan Ayam Arab (Ayam Ketarras) Umur 2-12 Minggu E. Gunawan; D. Kaharuddin; Kususiyah Kususiyah
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.585 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.13.1.89-100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performans keturunan ayam Arab dengan ayam Arras (Ayam Ketarras) umur 2-12 minggu. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai sejak 25 Juni sampai 25 Desember 2016 di CZAL. Perlakuan yang dicobakan adalah jenis ayam dengan P0 = ayam Ketarras dan P1 = ayam Arab. Penelitian ini menggunakan analisis Uji t dengan 2 perlakuan 15 ulangan. Setiap ulangan menggunakan 2 ekor ayam, sehingga masing-masing jenis ayam yang dibutuhkan 30 ekor. Variabel yang diamati adalah, konsumsi ransum, pertumbuahan, dan konversi ransum. Hasil uji t menunjukkan bahwa konsumsi ransum kumulatif kedua jenis ayam selama penelitian berbeda tidak nyata (t hitung<t tabel) kecuali pada minggu ke 2-7 dan 2-8 (t hitung>t tabel). Konsumsi ransum kumulatif ayam arab pada umur 2-7 dan 2-8 lebih tinggi dibandingkan ayam Ketarras. Konsumsi ransum kumulatif pada umur 2-12 minggu konsumsi ransum ayam Arab (3474,70 g) berbeda tidak nyata dibandingkan ayam Ketarras (3453,30 g). Rataan berat badan selama penelitian dari kedua jenis ayam berbeda tidak nyata (t hitung<t tabel) kecuali berat badan minggu ke 2, 11 dan 12 minggu. Berat badan ayam Arab umur 11 dan 12 minggu lebih tinggi dibanding ayam Ketarras. Capaian berat badan kedua jenis ayam umur 2-12 minggu berat badan ayam Arab (815,60 g) dan ayam Ketarras (753,23 g). Rataan pertambahan berat badan kedua jenis ayam berbeda nyata (t hitung>t tabel) kecuali umur 2-3, dan 2-8 minggu. Namun demikian pertambahan berat badan selama umur 2-12 minggu pada ayam Arab nyata lebih tinggi dibandingkan ayam Ketarras, yaitu ayam Arab (718,83 g) dan ayam Ketarras (645,07 g). Konversi ransum kumulatif kedua jenis ayam berbeda tidak nyata (t hitung<t tabel) kecuali pada umur 2-9, 2-10, 2-11, dan 2-12 minggu. Konversi ransum ayam Ketarras lebih tinggi dibanding ayam Arab. Konversi ransum secara keseluruhan kedua jenis ayam 2-12 minggu pada ayam Ketarras (5,38) berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan dengan ayam Arab (4,88). Secara kumulatif, selama umur 2-12 minggu, konsumsi ransum ayam Ketarras berbeda tidak nyata dengan capaian berat badan, pertambahan berat badan, yang lebih rendah dibanding ayam Arab. Konversi ransum kumulatif ayam Ketarras umur 2-12 minggu nyata lebih tinggi dibanding ayam Arab.Kata kunci : performans, pertumbuhan, ayam Arab, ayam Ketarras
Residu Pestisida pada Madu Apis cerana di Kawasan Hortikultura R. Saepudin; I. Badarina; Y. Nurhayati
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.106 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.12.3.256-264

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengukur tingkat kontaminasi pestisida pada madu yang dihasilkan oleh lebah madu A. cerana di perkebunan hortikultura. Lokasi penelitian adalah  di Desa Sumber Urip, Kecamatan Rejang Lebong dan Analisis kimiawi dilaksanakan di Laboratorium Saraswati Indo Genetec (SIG) Bogor. Penelitian ini menggunakan 2 sampel madu yang diambil dari integrasi tanaman hortikultura, disamping sampel madu penelitian ini menggunakan sepuluh responden peternak lebah. Data dikumpulkan melalui wawancara dan mengisi daftar pertanyaan yang meliputi: luas lahan, sayuran yang ditanam, pestisida yang digunakan, dosis penggunaan pestisida dan jumlah madu yang dihasilkan. Data yang diperoleh dari penelitian ini didiskusikan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa madu tidak menghasilkan residu pestisida residu golongan organofosfat yang terdeteksi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa madu yang dihasilkan dari perkebunan hortikultura aman untuk dikonsumsi karena tidak terdeteksi tercemar residu pestisida Kata kunci: madu, pestisida, residu , tanaman,  hortikultura
Pengaruh Pemberian Probiotik Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium terhadap Produksi Ayam Petelur yang Diinfeksi Escherichia coli K. Huda; W. P. Lokapirnasari; Soeharsono Soeharsono; S. Hidanah; N. Harijani; R. Kurnijasanti
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 14, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.984 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.14.2.154-160

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan probiotik Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium sp terhadap konsumsi pakan dan Hen Day Production (HDP) ayam petelur yang diinfeksi Escherichia coli. Sebanyak 120 ekor ayam petelur umur 25 minggu diacak menjadi 6 perlakuan, masing-masing perlakuan terdiri dari 4 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 ekor ayam petelur. perlakuan terdiri dari faktor a (infeksi dan non infeksi Escherichia coli) dan faktor b (pakan basal, AGP dan probiotik). Hasil penelitian Pemberian probiotik berpengaruh (p<0,05) terhadap konsumsi pakan, HDP dan berat telur. Faktor infeksi berpengaruh (p<0,05) terhadap HDP tetapi tidak berpengaruh (p>0,05) terhadap konsumsi pakan dan berat telur. Terdapat interaksi antara faktor probiotik dan infeksi (p<0,05) terhadap HDP dan berat telur tetapi tidak terdapat interaksi (p>0,05) antara faktor probiotik dan infeksi terhadap konsumsi pakan. Konsumsi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan pemberian probiotik diinfeksi yaitu 114,7 g, HDP tertinggi perlakuan pemberian probiotik noninfeksi yaitu 98,6% dan berat telur tertinggi terdapat pada perlakuan probiotik noninfeksi yaitu 60,5 g. Dapat disimpulkan bahwa pemberian probiotik Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium sp dapat menghasilkan performa produksi yang baik dan keuntungan yang tinggiKata kunci: Produksi, infeksi, probiotik, interaksi
Keragaman Genetik Itik Magelang Berdasarkan Lebar Kalung Leher Melalui Analisis Protein Plasma Darah di Satuan Kerja Itik Unit Banyubiru Ambarawa N.L. Maulani; Sutopo Sutopo; E. Kurnianto
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.043 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.11.1.23-30

Abstract

Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui tingkat keragaman genetik itik Magelang berdasarkan lebar kalung leher yang berbeda melalui analisis protein plasma darah. Sampel yang digunakan adalah plasma darah 14 ekor itik Magelang kalung sempit dan 14 ekor itik Magelang kalung sedang. Analisis polimorfisme darah yang diamati meliputi lokus Pre-Albumin (Pa), Albumin (Alb), Ceruloplasmin (Cp), Transferrin (Tf), Post-Transferin (P-Tf) dan Amylase-I (Amy-I). Susunan gen hasil elektroforesis digunakan untuk menghitung frekuensi gen. Ragam genetic ditentukan menggunakan rumus heterozigositas individual (h) dan rataan heterozigositas ( ). Pengujian keseimbangan Hardy-Weirnberg dengan perhitungan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lokus Pre-Albumin (Pa), Albumin (Alb), Ceruloplasmin (Cp), Transferin (Tf), Post-Transferin (P-Tf) dan Amylase-I (Amy-I) pada itik Magelang bersifat polimorfik. Lokus Transferin itik Magelang kalung sempit dan lokus Post-Tranferin serta Amylase-I pada itik Magelang kalung sedang memiliki hasil non-signifikan pada taraf pengujian 95% (P>0,05). Hal ini dapat dimaknai bahwa lokus tersebut tidak berada pada kondisi keseimbangan hukum Hardy-Weirnberg. Kata kunci: Itik Magelang, Polimorfisme, Elektroforesis.
Identifikasi Asal-usul Ayam Hutan Merah yang Dipelihara Masyarakat Di Kabupaten Seluma J. Setianto; Sutriyono Sutriyono; H. Prakoso; B. Zain
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.586 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.11.2.141-152

Abstract

Ayam hutan merah merupakan salah satu satwa penting yang mempunyai fungsi ekologi, ekonomi dan estetika. Masyarakat di Kabupaten Seluma telah memelihara ayam hutan merah. Sampai saat ini, belum banyak dikaji asal-usul ayam hutan merah yang dipelihara oleh masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi asal-usul ayam hutan merah, asal pembelian bibit, alat yang digunakan untuk berburu, dan kemurnian bibit. Pemilihan responden dilakukan dengan metode snowball sampling. Data diperoleh dari peternak yang dipilih sebagai responden dengan menggunakan kombinasi wawancara secara mendalam, daftar pertanyaan, dan pengamatan langsung. Hasil studi menunjukkan asal ayam hutan merah responden dari membeli sebanyak 51,11%, pemberian sebesar 17,78, berburu sebanyak 11,11%, serta berburu dan membeli sebanyak 9%. Dari responden yang membeli, 81,24 % responden membeli ayam hutan merah dari peternak, 12,5% dari pemburu, 3,13% dari pemburu dan peternak dan 3,13% dari pasar. Sebanyak 31,11% responden melakukan perburuan dan 68,89% tidak melakukan perburuan. Dari responden yang berburu, 7,14% menggunakan alat jaring, 7,14% alat racit, dan 85,72% kombinasi jaring dan racit. Bibit yang dibeli responden induk 6,25%, pejantan 56,25%, anak 6,25% serta induk dan pejantan 31,25%. Bibit yang diperoleh responden sebanyak 17,78% ayam hutan merah, 66,67% keturunan ayam hutan merah dan 15,56 ayam hutan merah dan keturunannya. Asal-usul ayam hutan merah diperoleh dari alam dengan cara berburu dan dari masyarakat dengan cara membeli maupun pemberian. Perolehan ayam hutan merah paling dominan diperoleh dari masyarakat sebesar 74,07%. Sisanya sebesar 25,93% diperoleh dari alam. Kata kunci: Ayam hutan merah, asal-usul, bibit, berburu
Pengaruh Pengencer Kombinasi Sari Kedelai dan Tris terhadap Kualitas Mikroskopis Spermatozoa Pejantan Sapi PO Kebumen Z. M. Rezki; D. Sansudewa; Y. S. Ondo
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.427 KB) | DOI: 10.31186/jspi.id.11.2.67-74

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motilitas, viabilitas, abnormalitas dan daya hidup spermatozoa pejantan Peranakan Ongole (PO) Kebumen yang telah diencerkan menggunakan sari kedelai. Materi yang digunakan adalah semen pejantan PO Kebumen sebanyak 2 ekor  berumur 2 tahun. Masing-masing ternak ditampung semennya kemudian dilakukan pengenceran. Rancangan yang digunakan adalah RAL untuk motilitas, persentase hidup, abnormalitas dan daya hidup yang diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati kualitasnya yaitu motilitas, persentase hidup, abnormalitas dan daya hidup.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada pengujian motilitas dan persentase hidup berbeda nyata (P<0,05), sedangkan abnormalitas dan daya hidup tidak berbeda nyata (P>0,05). Penambahan pengencer kombinasi antara sari kedelai dan Tris memiliki hasil yang tidak baik untuk motilitas, persentase hidup, abnormalitas dan daya hidup. Sari kedelai dan Tris yang digunakan dapat mempertahankan konfigurasi normal bentuk spermatozoa sehingga dapat meminimalisir persentase abnormalitas. Kata kunci: pengencer, sari kedelai, kualitas semen, pejantan Kebumen