cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
BLOG SEBAGAI SARANA AKTUALISASI-DIRI (BLOG AS A MEANS FOR SELF-ACTUALIZATION) Manungkarjono, Oktavianus K.
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan blog dari website pribadi menjadi buku harian online merupakan gejala yang menarik. Sebagai buku harian pribadi, blog merupakan sebuah ruang tertutup tempat orang bisa menjaga privasi. Namun sifat layanan online menjadikan blog pribadi terbuka untuk diakses oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Sedikitnya jumlah kepustakaan tentang tujuan blog pribadi telah memunculkan aneka pertanyaan tentang manfaat blog. Penelitian kualitatif ini bertujuan mengelaborasi manfaat membuat blog bagi perkembangan pribadi. Partisipan penelitian ini meliputi 6 bloggers, yaitu mereka yang memiliki blog pribadi secara online, berumur 19-27 tahun, dan tinggal di Yogyakarta. Dalam analisis mereka dipisahkan berdasarkan jenis kelamin dan jumlah posting yang mereka tulis dalam blog pribadi mereka. Data kualitatif dikumpulkan lewat wawancara semi-terstruktur, kuesioner online, focus group discussion, dan dokumentasi posting blog. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi proses aktualisasi-diri melalui pengalamanan membuat blog. Sebagi sarana aktualisasi-diri blog memungkinkan para bloggers mengembangkan potensi internal mereka, khususnya menyalurkan bakat mereka lewat kegiatan menulis. Blog berfungsi sebagai representasi pribadi secara online untuk menunjukkan eksistensi mereka, di mana mereka bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan pribadi mereka. Selain itu, blog juga memungkinkan pemiliknya membuka diri terhadap aneka pengalaman baru. Blog memberi peluang bagi pemiliknya untuk mengembangkan kreativitas melampaui batas-batas yang mereka ciptakan sendiri.Kata kunci: blog, blogging, aktualisasi-diri, perkembangan-diri.
KARAKTERISTIK KESULITAN BELAJAR AKADEMIK PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI SURABAYA (THE CHARACTERISTICS OF ACADEMIC LEARNING DISABILITY IN ELEMEN- TARY SCHOOL STUDENTS IN SURABAYA) Paramita, Pramesti
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembahasan mengenai fasilitasi pembelajaran siswa dengan kebutuhan khusus termasuk berkesulitan belajar, semakin menghangat. Penelitian ini bertujuan mengungkap karakteristik siswa berkesulitan belajar di wilayah Surabaya untuk mengetahui apakah ada perbedaan karakteristik kesulitan belajar siswa yang ditemui di lapangan dengan apa yang dikemukakan oleh berbagai teori terkait. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama mencakup identifikasi kesulitan belajar akademik yang dialami siswa kelas III, IV dan V pada empat Sekolah Dasar Negeri di Surabaya. Tahap kedua mencakup pengumpulan data secara lebih spesifik pada sepuluh orang siswa yang pada tahap pertama terindikasi mengalami kesulitan belajar akademik. Hasil penelitian menunjukkan beberapa kekeliruan dalam membaca, meliputi membaca dengan tersendat-sendat/tidak lancar, menghilangkan kata, mengganti kata dan tidak memperhatikan tanda baca; serta beberapa kekeliruan dalam menulis, mencakup kurangnya spasi dan hilangnya huruf konsonan di akhir atau tengah kalimat. Jenis kekeliruan terakhir inilah kiranya yang terkait dengan aspek fonologis dalam bahasa Indonesia. Kesulitan matematika siswa tampaknya bersumber dari pemahaman yang kurang akan proses matematika dan soal cerita. Perlu studi lanjutan dengan sampel yang lebih besar mengenai karakteristik siswa berkesulitan belajar di berbagai daerah di Indonesia, sehingga dapat dirumuskan definisi kesulitan belajar yang sesuai dengan konteks budaya dan bahasa di Indonesia. Dengan demikian dapat dirancang program intervensi dan fasilitasi pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa.Kata kunci: kesulitan belajar akademik, karakteristikWithin the last few years, various researches have been done to develop the area of learning disability. This study aims to identify the characteristics of students with learning disabilities in Indonesia, particularly in the area of Surabaya, so it would be revealed whether there are any differences between the characteristics of students with learning disabilities within this community compared to those described by the existing theories of learning disabilities.This study is a descriptive study, which is divided into two phases. The first phase includes the identification of academic learning difficulties experienced by grade three, four and five students in four primary schools in Surabaya. The second phase includes a more specific data collection process on ten students that are indicated as having learning difficulties on the first phase. The results shows that reading errors includes influency, word omission, word substitution, and ignoring reading marks. Errors in writing includes lack of space and consonant omissions on the middle or the end of some words. In general, the last error seems to be influenced by the phonological aspect of Indonesian language. Meanwhile, the students’ difficulties in mathematics seem to be influenced by their lack of understanding of mathematical processes and essay questions. Implications of this study include the need of subsequent studies with larger samples regarding the characteristics of students with learning disabilities across many areas in Indonesia, so that a definition of learning disability that is more relevant to the Indonesian language and culture can be gained. Hence, interventions and learning programs which really suit the students’ needs can be designed.Keywords: academic learning difficulties, characterictis, Indonesia
PEMBENTUKAN PERILAKU DAMAI DI KALANGAN REMAJA:INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS TERHADAP PROSES KONSELING (THE FORMATION OF PEACE BEHAVIOR IN ADOLESCENTS:AN INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS OF THE COUNSELING PROCESS) Latipun, Latipun
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 1 (2010): VOL 7, NO 1 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis keefektifan Peer Conflict Resolution focused Counseling (PCRC) untuk meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja serta mengeksplorasi tahap-tahap dalam meningkatkan perilaku damai selama proses konseling. Subjek meliputi tujuh dari empat puluh siswa SMA di Mataram, Indonesia, yang menjalani proses konseling. Analisis data meliputi penerapan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) terhadap verbatim proses konseling. Hasilnya menunjukkan bahwa PCRC meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja, yang tercermin dari kecenderungan mereka menghargai orang lain, memecahkan masalah secara konstruktif, menghindari konflik dengan teman-teman mereka, dan berdamai dengan musuh mereka. Juga berhasil diidentifikasikan lima tahap peningkatan perilaku damai yang terbentuk secara bertahap selama proses konseling, meliputi: (1) kesadaran menyelesaikan konflik, (2) membebaskan hambatan psikologis dan membangun harapan untuk menyelesaikan konflik, (3) kesadaran perkembangan diri dan hubungan interpersonal, (4) pengembangan metode-metode konstruktif untuk menyelesaikan konflik, dan(5) memelihara dan mempromosikan perilaku damai di kalangan teman-teman.Kata kunci: Peer Conflict Resolution focused Counseling (PCRC), peaceful behavior, Interpretative Phenomenological Analysis (IPA).This research aimed to analyze the effectiveness of Peer Conflict Resolution focused Counseling (PCRC) in improving peaceful behavior among adolescents and exploring the stages in improving peaceful behavior during the counseling process. The subjects were 7 of the 40 senior high school students in Mataram, Indonesia, who had been undergoing a counseling process. The data analysis consisted of applying the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) on the verbatim of the counseling process. The results showed that PCRC enhanced peaceful behavior among adolescents, which was evident in their tendency to respect others, solve problems constructively, avoid conflicts with their friends, and reconcile with their opponent. Five stages of peaceful behavior improvement built gradually in the counseling process were also identified, including: (1) consciousness to resolve the conflict, (2) attempt to alleviate psychological barrier and nurture the hope to resolve the conflict, (3) self-improvement and interpersonal relationship, (4) development of constructive methods to resolve the conflict, and (5) aintainance and encouragement of peaceful behavior to one’s friends.Keywords: Peer Conflict Resolution focused Counseling (PCRC), peaceful behavior, Interpretative Phenomenological Analysis (IPA).
IDENTITAS GLOBAL: MEMBANGUN KESAMAAN TANPA MENYERAGAMKAN Susana, Tjipto
Jurnal Psikologi Indonesia No 01 (2008): Jurnal Psikologi Indonesia No.1, 2008
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik antar suku, agama, dan golongan serta tindakan kekerasan di Indonesia bukanlah hal baru. Berdasarkan kajian terhadap hasil-hasil penelitian maupun pemikiran para ahli dapat disimpulkan bahwa konflik-konflik tersebut berakar dari keinginan setiap kelompok untuk menunjukkan eksistensinya. Solidaritas, harmoni, dan toleransi tumbuh subur di dalam kelompok (in-group), tetapi tidak terhadap orang-orang di luar kelompoknya (out-group). Keragaman kelompok secara menyeluruh potensial menciptakan konflik, intoleransi, dan disharmoni. Identifikasi berlebihan terhadap sebuah entitas yang unik seperti kesukuan, kepartaian, ataupun keagamaan merupakan hambatan besar menuju pada identitas Indonesia yang baru. Upaya penyeragaman pada zaman Orde Baru dengan kekuasaan absolutnya di satu sisi memang meredam konflik tetapi di sisi lain, mematikan pluralisme. Menggunakan kerangka berpikir Arrow dan Sundberg (2004) tentang Identitas Internasional, penulis berpendapat tidaklah cukup mengembangkan Identitas Nasional. Perlu pengembangan identitas yang lebih luas, yaitu Identitas Global atau Global-Human Identity atau World-Mindedness. Identitas global merupakan identifikasi terhadap semua orang di dunia melampaui batas-batas kesukuan, keagamaan, kebangsaan, kenegaraan, atau ikatan personal. Dengan demikian tidak ada lagi batas antara in group dan out group. Secara esensial setiap orang akan dipersatukan dengan orang lain sebagai manusia (as a human being) dan oleh perasaan kemanusiaannya (in his/her humanity). Sehingga setiap orang akan mengembangkan sikap hormat dan toleransi yang luas. Perbedaan akan dihayati sebagai kebenaran paradoks. Dengan demikian Bhinneka Tunggal Ika bukanlah sekadar semboyan penghias Bangsa.Kata kunci: konflik, identitas nasional, identitas internasional, identitas global, in group, out group.
MANFAAT INDUCTION TRAINING & INTENSIVE TEAM BUILDING WORKSHOP YANG DIBERIKAN SECARA EXPERIENTIAL LEARNING DI HARIAN KOMPAS (THE BENEFIT OF INDUCTION TRAINING & INTENSIVE TEAM BUILDING WORKSHOP CONDUCTED USING THE EXPERIENTIAL LEARNING APPROACH IN KOMPAS D Adi, Widyarto
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 01 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Induction training atau orientasi (orientation) perlu diadakan bagi setiap orang yang memulai pekerjaan baru, baik sebagai karyawan baru maupun karyawan lama yang mendapat tugas baru setelah mengalami mutasi. Salah satu metode pelatihan yang mampu membuat peserta berpartisipasi baik secara fisik, mental, emosional sehingga terlibatsecara total adalah Experiential Learning. Metode lain yang mampu membuat peserta keluar dari kungkungan dinding kantor (wall-less) sehingga secara tidak sadar akan emperlihatkan real self-nya adalah metode outbound. Pengalaman di Kompas, gabungan kedua metode tersebut dapat dijadikan pelatihan intensif bagi pembinaan soliditas kelompok kerja atau intensive team building workshop.Kata kunci: induction training, experiential learning, outbound, team building.
GAMBARAN TANTANGAN KERAGAMAN ANTAR BUDAYA DAN STRATEGI PEMECAHANNYA PADA RELAWAN KEMANUSIAAN DI PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM. Panggabean, Hana; Angelina, Maesy
Jurnal Psikologi Indonesia No 01 (2008): Jurnal Psikologi Indonesia No.1, 2008
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana tsunami yang melanda propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di akhir tahun 2004 telah mengundang mengalirnya beragam bantuan kemanusiaan baik oleh relawan Indonesia, maupun relawan asing. Situasi pemberian bantuan antara relawan dengan rakyat Aceh merupakan sebuah situasi antar budaya yang multikultural (relawan orang Indonesia-rakyat Aceh) dan internasional (relawan asing-rakyat Aceh). Studi psikologi antar budaya sebelumnya membuktikan bahwa konflik sangat rentan terjadi dalam konteks pertemuan antar budaya dan berdampak pada tekanan psikologis yang mengganggu kesehatan mental individu. Artikel ini berusaha menggali perspektif psikologis dari masalah-masalah antar budaya yang terjadi dalam konteks kerja para relawan Indonesia di propinsi NAD dengan menggunakan kerangka teoretis utama tentang perspektif psikologis dari sebuah pertemuan budaya (Thomas, 1999), masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam konteks antar budaya (Smith, dkk, 2004; Panggabean, 2002) serta strategi pemecahan masalah antar budaya dalam konteks internasional (Adler,2002) dan Indonesia (Panggabean, 2004). Dengan fokus tersebut, artikel ini bertujuan menggambarkan salah satu konteks dimana tantangan budaya dalam masyarakat pluralistik seperti Indonesia sangat relevan bagi pencapaian tugas dan kesehatan mental individu, namun seringkali kurang mendapat perhatian maksimal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan wawancara semi-terstruktur kepada sembilan orang relawan Indonesia yang bekerja di propinsi NAD. Data diolah dengan teknik content-analysis. Hasil penelitian menunjukkan: (1) sebagian besar domain masalah antar budaya yang terjadi dalam konteks internasional ternyata juga dialami oleh para subyek, selain adanya domain masalah yang unik dan khas; (2) strategi pemecahan masalah antar budaya pada konteks internasional (Adler, 2002) dapat diaplikasikan pada konteks multikultural serta munculnya sejumlah strategi pemecahan masalah yang khas Indonesia (indigenous); (3) ada empat faktor lain yang membantu mengatasi masalah kultural, yaitu mental readiness, individual factors, work related factors, dan culture related factors; dan (4) umumnya pekerja bantuan kemanusiaan Indonesia tidak melakukan persiapan khusus sebelum berangkat, namun melakukan pembelajaran langsung di lapangan. Hasil penelitian ini membuahkan beberapa saran: (1) penelitian lanjutan yang dapat dilakukan antara lain adalah studi lebih lanjut tentang indikasi pergeseran budaya Aceh akibat intervensi program pekerja bantuan kemanusiaan, jenis pendekatan psikologis yang sesuai dengan karakteristik masyarakat tradisional Indonesia, studi longitudinal untuk melihat hubungan lama pengalaman di lapangan dengan pemilihan dan penggunaan strategi pemecahan masalah kultural, serta penelitian dengan topik serupa pada pekerja bantuan kemanusiaan di Yogyakarta; dan (2) perlunya memasukkan mental readiness dan pengalaman interkultural dalam kriteria seleksi calon pekerja bantuan kemanusiaan; penyusunan panduan sistematis tentang budaya setempat, masalah kultural, dan strategi pemecahan masalah; sharing sebagai bentuk orientasi informal yang bersifat praktis; serta lokakarya seputar penggunaan strategi pemecahan masalah di tengah-tengah masa tugas untuk mengekstraksikan pembelajaran gaya experential learning yang dialami pekerja bantuan kemanusiaan di lapangan.Kata kunci: Aceh, intercultural conflicts, cultural strategy, helping relations.
PERBEDAAN PROFIL KEPRIBADIAN ANTARA ANAK BERKESULITAN BELAJAR DAN ANAK TIDAK BERKESULITAN BELAJAR (STUDI BERDASARKAN FAIRY TALE TEST) [DIFFERENCES IN PERSONALITY PROFILES OF CHILDREN WITH LEARNING DIFFICULTIES AND CHILDREN WITH NO LEARNING DIFFICULTIES (A Firesta, Firesta
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 01 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak-anak dengan kesulitan belajar sering mengalami kegagalan dalam hal akademik. Akibatnya, mereka mendapat pandangan negatif dari orang-orang di sekelilingnya (Smith, 1998). Kegagalan akademik dan perlakuan negatif dari lingkungan dapat berdampak terhadap perkembangan kepribadian anak berkesulitan belajar yang berbedadari anak yang tidak berkesulitan belajar. Penelitian ini ingin melihat perbedaan gambaran profil kepribadian antara anak berkesulitan belajar dan anak tidak berkesulitan belajar dengan menggunakan Fairy Tale Test. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan gambaran profil kepribadian antara anak berkesulitan belajar dan anak tidak berkesulitanbelajar pada subscale Ambivalence, Desire for Superiority, Sense of Property, Aggression as Retaliation, Fear of Aggression, Oral Aggression, Oral Needs, Anxiety, Need for Affection, dan Relationship with Mother. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anxiety yang paling sering dialami oleh anak berkesulitan belajar adalah anxiety of rejection dan anxiety of innability. Sedangkan defense mechanism yang paling sering digunakan oleh anak berkesulitan belajar adalah denial.Kata kunci: kesulitan belajar, profil kepribadian, Fairy Tale Test
PSYCHOLOGY OF VOICE: A META-ANALYTIC REVIEW. APLIKASI DALAM KEADILAN PROSES PELAYANAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK (PSYCHOLOGY OF VOICE: A META-ANALYTIC REVIEW. AN APPLICATION IN THE PUBLIC SERVING PROCESS AND PUBLIC POLICY JUSTICE) Moordiningsih, Moordiningsih
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 01 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keadilan prosedural lebih menekankan proses yang dilalui daripada hasil yang dicapai. Artikel ini menyajikan hasil studi meta analisis terhadap aneka penelitian berupa baik survei maupun eksperimen tentang efek kesempatan mengemukakan pendapat (voice) terhadap proses yang adil. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang positifantara kesempatan mengemukakan pendapat dan keadilan prosedural. Prosedur yang adil memberikan kesempatan kepada fihak-fihak terkait untuk mengemukakan pendapat, baik mewakili pribadi maupun kelompok.. Prosedur yang adil mencakup prosedur untuk menegakkan keputusan atau kebijakan publik secara adil maupun dalam proses pemberian layanan jasa kepada konsumen. Aplikasi hasil studi meta analisis ini bisa ditemukan dalam beberapa situasi penelitian, seperti masyarakat sipil yang sedang menjalani proses peradilan, hubungan antara pimpinan dan karyawan, prosedur pelayanan pendidikan di perguruan tinggi, pemberian pelayanan kesehatan, dan keadilandalam proses seleksi menggunakan asesmen psikologi. Aplikasi lain adalah untuk mengkaji proses penegakan kebijakan publik yang berorientasi pada kemauan untuk mendengarkan suara atau memberikan kesempatan menyampaikan pendapat dari berbagai pihak atau elemen terkait dalam masyarakat sehingga dapat meminimalkankonflik, mewujudkan perdamaian, dan mencapai tujuan bersama yang lebih utama.Kata kunci: meta analisis, efek suara, keadilan prosedural
MEMETAKAN KEBHINEKAAN DALAM KONTINUM DESTRUKSI DAN KONSTRUKSI PEMIKIRAN AWAL MENGENAI PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGELOLA KEBHINEKAAN MENJADI SINERGI Poerwandari, Kristi
Jurnal Psikologi Indonesia No 01 (2008): Jurnal Psikologi Indonesia No.1, 2008
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebhinekaan adalah keniscayaan hidup yang berpotensi memunculkan konflik, kadang dengan implikasi lanjutan hingga bentuknya yang paling parah, menyakitkan dan menghancurkan. Meski demikian, menyeragamkan manusia atau membunuh kebhinekaan juga berarti membunuh esensi kehidupan yang terdalam itu sendiri. Bagaimana mengelola kebhinekaan menjadi sinergi? Untuk sampai pada jawaban memuaskan kita masih harus melalui jalan yang amat sangat panjang. (1) Perlu membedah dan memetakan terlebih dulu mengapa kelompok manusia yang berbeda-beda dapat saling menghancurkan melalui kekejaman yang paling durjana, dan itu berarti kembali pada teori-teori psikologi yang paling dasar mulai dari persepsi, emosi, kognisi dan kesadaran diri, serta bentukannya lebih lanjut seperti generalisasi, pengembangan prasangka hingga ke mekanisme pertahanan diri secara pribadi maupun kelompok. Sangat penting pula membedah peran konteks sosial dari yang paling mikro hingga paling makro. (2) Kemudian kita belajar dari kasus-kasus individu dan kelompok yang mampu mengedepankan penyelesaian konflik tanpa perendahan atau kekerasan terhadap kelompok lain, dan atau mampu secara otentik mencurahkan kepedulian pada kelompok lain. (3) Kesenjangan antara (a) konflik dan prasangka antar kelompok dan (b) kasus-kasus unik yang mampu mengedepankan kepedulian, penghormatan dan perdamaian perlu diisi dengan dikembangkannya pemikiran konseptual yang utuh-terintegrasi hingga terapannya yang paling konkrit mengenai bagaimana mengelola kebhinekaan menjadi sinergi. Tentang hal ini, diperlukan cara pandang yang utuh mengenai manusia dengan dimensi-dimensi hidupnya yang berjenjang hingga tingkatan tertingginya sebagai makhluk moral dan spiritual. Secara ringkasnya, untuk sementara pendekatan yang dicoba ditawarkan adalah psikologi holistik yang multidisipliner. Di dalamnya disertakan cara berpikir psikoanalisis sosial, psikologi kognitif dan psikologi belajar, di bawah payung psikologi eksistensial yang kuat mengakui peran konteks sosial-politik serta agama dan spiritualitas dalam perilaku manusia sebagai pribadi maupun kelompok.Kata kunci: kebhinekaan, destruksi, konstruksi, masyarakat plural, kontras budaya.
PERBEDAAN PROFIL KEPRIBADIAN ANTARA ANAK PANTI ASUHAN VINCENTIUS PUTRA DAN VINCENTIUS PUTRI BERDASARKAN FAIRY TALE TEST (DIFFERENCES IN PERSONALITY PROFILES BETWEEN ORPHAN CHILDREN IN THE VINCENTIUS BOY ORPHANAGE AND THE VINCENTIUS GIRL ORPHANAGE AS MEASU Renata, Rina
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 01 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan melihat profil kepribadian anak Panti Asuhan Vincentius Putra dan Vincentius Putri berdasarkan Fairy Tale Test. Subjek penelitian ini berusia 6-12 tahun yang sejak berumur balita diasuh di panti asuhan. Hasil penelitian menunjukan bahwa umumnya anak Panti Asuhan Vincentius Putra mempunyai skor tinggi pada subscales Sense of Property, Fear of Aggression, Oral Need, Desire to Help, Need for Affiliation, Anxiety, Depression, Need for Affection, Need for Protection dan Sexual Preoccupation dan mempunyai skor rendah pada subscale Relation with Mother dan Relation with Father dibandingkan populasi anak seusianya. Anak Panti Asuhan  incentius Putri umumnya mempunyai skor tinggi pada subscales Desire for Material Things, Sense of Property, Oral Need, Need for Affiliation, Anxiety, Depression, Need for Affection, Need for Protection dan Need for Approval dan mempunyai skor rendah pada subscales Relation with Mother, Relation with Father dan Self Esteem jika dibandingkan dengan populasi anak seusianya. Terdapat perbedaan signifikan marginal (LOS = 10%) padasubscales Desire for Material Things, Aggression Type A, Fear of Aggression, Desire to Help, Relationship with Mother, Adaptation to Fairy Tale Content dan Morality antara kelompok anak Panti Asuhan Vincentius Putra dan kelompok anak Panti Asuhan Vincentius Putri.Kata kunci: panti asuhan, kepribadian, Fairy Tale Test

Page 3 of 4 | Total Record : 40