cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
KEBERFUNGSIAN ITEM DIFERENSIAL PADA TES POTENSI UM UGM (DIFFERENTIAL ITEM FUNCTIONING IN THE SCHOLASTIC APTITUDE TEST OF THE GADJAH MADA UNIVERSITY SELECTION TEST) Haryanta, *
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan memeriksa kualitas ujian tulis tes masuk Universitas Gadjah Mada (UM UGM), khususnyaTes Potensi Akademik, berdasarkan pendekatan item response theory (IRT). Kualitas item ujian tulis masukberdasarkan CTT meliputi goodness of fit dan differential item functioning (DIF). Sampel penelitian terdiri dari3.000 lembar jawab dari populasi 29.234 lembar jawab calon mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada tahunakademik 2007. Objek penelitian ini adalah Tes Potensi Akademik yang terdiri dari 3 subtes: (1) Verbal, (2) Kuantitatif,dan (3) Penalaran. Tes ini meliputi 60 item dengan 4 distraktor dan 1 kunci. Bias item dianalisis denganprogram BILOG. Hasil-hasil penelitian adalah: (1) dengan pendekatan IRT, 38.33% dari seluruh item berkualitasbaik, 33.33% berkualitas sedang, dan 28.33% berkualitas buruk; (2) dalam pendeteksian DIF, 3 item ditemukanterkontaminasi DIF.Kata kunci: Tes Potensi Akademik, analisis item, IRT, DIF
MERUBAH PERILAKU MEROKOK DENGAN SUBLIMINAL CONDITIONING: SEBUAH PENELITIAN EKSPERIMENTAL (CHANGE SMOKING BEHAVIOR BY SUBLIMINAL CONDITIONING: AN EXPERIMENTAL STUDY) Thomas, Whisnu; Tyas Suci, Eunike Sri
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 1 (2010): VOL 7, NO 1 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Subliminal messages merupakan cara mempengaruhi sikap, tindakan, dan keputusan manusia dengan memasukkan informasi ke pikirannya dalam waktu yang sangat cepat sehingga tidak dapat ditangkap oleh indera manusia. Subliminal messages berhasil dilakukan dalam bidang industri dan perdagangan, namun kurang berhasil dilakukan di bidang klinis untuk terapi karena berbagai kelemahan. Peneliti mencoba memperbaikinya dengan mengubah subliminal messages menjadi subliminal conditioning dan diuji coba sebagai terapi berhenti merokok. Subliminal conditioning tidak menyampaikan pesan, melainkan asosiasi. Metode penelitian ini adalah eksperimen laboratorium desain within group, dengan variabel bebas subliminal conditioning dan variabel terikat perilaku merokok. Partisipan penelitian adalah mahasiswa sebuah universitas swasta di Jakarta berusia 20 tahun atau lebih, merokok minimal 5 batang seminggu dan ingin berhenti merokok. Dari 34 partisipan yang mendaftar, hanya data dari 12 partisipan yang dapat digunakan. Asosiasi yang diberikan adalah merokok dengan rasa takut, dengan memberikan gambar rokok bersamaan dengan gambar yang menakutkan berupa orang mati secara tragis, yang diselipkan dalam sebuah film serial. Eksperimen dilakukan dengan menonton film tersebut selama satu jam per hari dalam 10 hari berturut-turut, kecuali hari minggu. Partisipan diminta untuk mencatat perilaku merokok mereka setiap hari selama eksperimen berlangsung. Berdasarkan hasil analisis statistik Wilcoxon Signed Rank Test, terapi subliminal conditioning terbukti berhasil menurunkan perilaku merokok secara signifikan (Z = 2.1, p < 0.05), namun tidak cukup kuat untuk membuat partisipan berhenti merokok. Penelitian ini merupakan awal pengembangan terapi bagi perokok dan perlu dikembangkan di masa depan. Hal yang perlu diperhatikan adalah persiapan eksperimen yang lebih terkontrol, jumlah partisipan yang lebih banyak, dan tingkat kecanduan rokok yang lebih tinggi.Kata kunci: subliminal, conditioning, merokok, terapi, psikoterapi, adiksi.Subliminal messages are the ways to influence human attitude, decision and action by inserting information to his/her mind in a so fast a fashion that it can’t be captured by human sense. Subliminal messages have been successfully applied in the area of industry and trade, but not so in clinical area as a therapy due to a number of weaknesses. We tried to improve it by modifying subliminal messages into subliminal conditioning, and examined it to smokers. Subliminal conditioning does not send messages, but associations. This study was a laboratory experiment with a within group design. The independent variable was Subliminal Conditioning, and the dependent variable is smoking behavior. Participants were selected from students at a private university in Jakarta aged at least 20 years old, and smoked at least five cigarettes a week. Of the 34 participants who participated in the study, only the data of 12 of them could be used. The association was smoking with fear, in which a picture of a cigarette was concurrently presented with a picture of a tragic death to the participants through a movie serial. The participants were required to watch the movie serial one hour each day for 10 consecutive days, except Sunday. They were also required to make notes on the number of cigarettes they smoked every day during the experimental week. Using the Wilcoxon Signed Rank Test, the study showed that subliminal conditioning therapy was able to significantly reduce their smoking behavior (Z = 2.1, p < 0.05), though it failed to entirely stop their smoking behavior. This research was a start to the development a better therapy for smokers. The use of a better control, more participants, and higher level of smoking addiction was recommended for future research.Keywords: subliminal, conditioning, smoking cessation,therapy, psychotherapy, addiction.
PSIKOLOGI PEREMPUAN:KONTEKSTUALISASI DAN KONSTRUKTIVISME DALAM PSIKOLOGI (WOMEN PSYCHOLOGY: CONTEXTUALISATION AND CONSTRUCTIVISM IN PSYCHOLOGY) Nurrachman, Nani
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 1 (2010): VOL 7, NO 1 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diskusi dan perdebatan tentang kedudukan psikologi perempuan dalam ilmu psikologi hingga kini masih terus berlangsung. Secara akademik, masih ada pertanyaan apakah perlu psikologi perempuan diajarkan tersendiri/terpisah dari psikologi arus utama yang selama ini diajarkan. Secara kualitatif pengalaman hidup perempuan berbeda dengan pengalaman hidup laki-laki. Perilaku preskriptif lingkungan sosiokultural yang dikenakan kepada perempuan merupakan keniscayaan peran budaya yang inheren dalam membentuk perilaku perempuan. Dengan demikian, interpretasi terhadap berbagai gejala perilaku perempuan perlu dipahami secara kontekstual. Psikologi perempuan tidak cukup hanya dideskripsikan melalui suatu penjelasan (eksplanasi) tetapi juga harus mencakup pemahaman diri dalam konteks sosial-budayanya dari sudut perempuan yang mengalaminya. Hal ini disebabkan karena perilaku perempuan merupakan hasil interrelasi dan dialektika antara aspek biopsikologis dengan aspek psikososiokulturalnya. Berbagai studi psikologi perempuan yang ada dalam konteks sosial budaya Indonesia dipaparkan di sini untuk memperkuat argumentasi tersebut di atas.Kata kunci: aspek biospsiko-sosiokultural, psikologi perempuan, perilaku perempuanThe status of the psychology of women, especially in Indonesia, has been and is still greatly debated whether or not it should be taught as a separate subject in the curriculum which is still based on mainstream psychology. Women’s different biopsychological make up which molds her life experience and the way she constructs herself as well as her behaviour is what makes the psychological study of women should be distinct from that of men. Simply because she is a woman, social cultural factors play a significant influence on the way she views herself and others as well as the way others view her. For this reason, it is not enough to explain the biopsychological essence of women, but it also needs to understand her existence based on how she constructs her world and herself. Various psychological studies of women, including those conducted in the context of Indonesian culture are presented here to support this argument.Key words: psychology of women, biopsychological-sociocultural, women’s behaviour
KECENDERUNGAN MENCARI SENSASI SEKSUAL DAN PERILAKU SEKS BERESIKO : SUATU STUDI META - ANALISIS Rahardjo, Wahyu
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku seks berisiko telah dipertimbangkan sebagai salah satu fenomena sosial yang meluas belakangan ini. Konsekuensi buruk dari fakta ini adalah pada meningkatnya kasus HIV/AIDS di banyak belahan dunia. Perilaku-perilaku seperti ketidakkonsistenan penggunaan kondom, memiliki pasangan seks dalam jumlah banyak, dan dilakukannya hubungan seks tertentu ditengarai dilakukan karena kecenderungan mencari sensasi seksual yang dimiliki individu. Studi meta-analisis ini berisikan 59 studi dari 13 artikel yang melibatkan sekitar 16009 partisipan dari pria dan wanita heteroseksual hingga pria homoseksual. Hasil studi memperlihatkan korelasi positif yang signifikan antara kecenderungan mencari sensasi seksual dengan perilaku seks berisiko. Dengan demikian, hasil ini mendukung hasil penelitian sebelumnya serta juga memberikan masukan lebih jauh kepada peneliti lain untuk mempertimbangkan variabel-variabel lain dalam memprediksi perilaku seks berisiko.Kata kunci: kecenderungan mencari sensasi seksual, perilaku seks berisiko
PEMBENTUKAN IDENTITAS MUJAHID GLOBAL PADA TERPIDANA KASUS TERORISME DI INDONESIA (THE FORMATION OF A GLOBAL MUJAHID IDENTITY IN CONVICTS OF TERRORISM IN INDONESIA) Mirra, Noor Milla; Faturochman, Faturochman
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 2 (2009): VOL 6, NO 2 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Identity issue is a motivational theme frequently employed in terrorism field, especially since many youth are interested in terrorist organization. Social identity viewed as the appropriate perspective while discussing the dynamics of identity formation due to the better analysis power provided by group psychology than the one explained in individual level. This research aimed to obtain the understanding of psychological dynamic of terrorism behaviors which embrace the identity formation to launch jihad outside the conflict area of convicted the Indonesian Bali Bombing. This research was conducted using phenomenological-based of ethnographic-narrative approach. Five terrorists were chosen as the main informants based on subject variation from preliminary exploration. They consisted of the convicted Indonesian Bali Bombing, three of them had been executed by a firing squad. Narrative analysis was conducted on interview results, documentation (manuscript, personal mail, audio record, audio-visual record and published autobiography) as well as research notes from ground observation. The research was performed in several locations such as the prison where the main informant was jailed and the narrative environment covered the informants’ hometown, family and school environment. This research found that, first, they subordinized their personal identity into group identity, based on their religious group. Strengthening process of identity took place when any threat existed toward their group. Secondly, the ideologization of jihad occurs in their group in which collective jihad is perceived as an obligation for all moslem. Ingroup mobility differentiates them into those who choose the conventional way and those who choose terror strategy to reach jihad fi sabilillah goal.Keyword: terrorism, identity, group identity, collective Jihad
AN INDIGENOUS PSYCHOLOGICAL STUDY ON ACHIEVEMENT AND FAILURE ATTRIBUTION AMONG HIGH SCHOOL AND UNIVERSITY STUDENTS: DOES SELF-SERVING BIAS APPLY IN INDONESIA? Kurnianingsih, Sri
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan pendekatan indigenous psychology yang bersifat bottom-up, peneliti menguji universalitas teori selfservingbias dan menjelaskan bagaimana atribusi berlaku dalam konteks Indonesia, khususnya cara siswa danmahasiswa di Indonesia mengatribusikan prestasi dan kegagalan mereka. Data dikumpulkan dari 248 siswa SMP,473 siswa SMA, dan 296 mahasiswa S1 yang diminta untuk menjawab 2 pertanyaan open-ended questionnaires:(1) faktor apa yang paling berperan dalam pencapaian prestasi Anda? dan (2) faktor apa yang paling berpengaruhterhadap kegagalan Anda? Hasil tabulasi respon-respon subjek menunjukkan: untuk atribusi prestasi, tidak adarespon yang mengacu pada faktor-faktor internal; sementara untuk atribusi kegagalan, 61.9% siswa SMP, 61.95%siswa SMA, dan 61.15% mahasiswa S1 menyebutkan faktor-faktor internal (diri sendiri). Kedua temuan ini mengindikasikanbahwa atribusi prestasi dan kegagalan pada siswa dan mahasiswa di Indonesia memiliki karakteristikunik. Hasil penelitian ini mendemonstrasikan bahwa teori self-serving bias tidak sepenuhnya berlaku pada konteksIndonesia. Perspektif nilai-nilai budaya digunakan untuk menginterpretasi fakta empiris tersebut.Kata kunci: self-serving bias, indigenous psychology, siswa Indonesia.
Pengembangan Literasi dengan Pendekatan Multisensori (MULTISENSORY APPROACH IN EARLY LITERACY DEVELOPMENT) Ruhaena, Lisnawati
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses belajar lebih efektif bila bersifat aktif dan memberikan kesempatan kepada anak untuk membangun pemahaman melalui pengalamannya sendiri. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah proses belajar dengan pendekatan multisensori dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran literasi? Untuk menjawab pertanyaan ini dilakukan penelitian tentang bagaimana pendekatan multisensori mengembangkan kemampuan literasi anak. Hipotesis dalam penelitian ini adalah pendekatan multisensori efektif mengembangkan kemampuan literasi anak usia 5 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan pretest-postest control group design. Subjek penelitian terdiri dari 30 anak kelompok kontrol dan 30 anak kelompok eksperimen. Pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran literasi menggunakan alat ukur modifikasi Early Reading Screening Instrument(ERSI; Morris, 2000). Hasil analisis data (t = -2,511; p = 0,015) menunjukkan perbedaan signifikan dalam hasil pembelajaran literasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, khususnya kemampuan literasi kelompok subjek yang belajar dengan pendekatan multisensori lebih berkembang dibandingkan kelompok subjek yang belajar tidak dengan pendekatan multisensori. Dengan demikian pendekatan multisensori lebih efektif mengembangkan kemampuan literasi anak usia 5 tahun. Implikasinya, pendekatan multisensori merupakan solusi agar anak prasekolah dapat belajar literasi dengan mengasah potensi kognitifnya dan dengan cara yang menyenangkan.Kata kunci: kemampuan literasi, multisensori, anak prasekolahLearning is more effective when it is active and provides the learner with an opportunity to build understanding through his/her own experience. It raises the question whether the learning process with multisensory approach can improve the effectiveness of early literacy learning? To answer this question a research has been done on how multisensory approach affected the developing of early literacy skills. The hypothesis tested was that multisensory approach was effective to develop literacy skills of children aged 5 years. This study is an experiment with the design of the control group pretest-posttest design. The subjects consisted of a control group and an experimental group that comprised 30 children each. The data were collected before and after the treatment, using the modified version of the Early Reading Screening Instrument (ERSI; Morris, 2000). The results of the data analysis (t = - 2.511, p = 0.015) showed a significant difference in literacy learning outcomes between the control group and the experimental group, namely that the group of subjects that learned to read using the multisensory approach had higher early literacy skills than that who used regular approach. The implication was that the multisensory approach is a solution for the preschool children to learn literacy by improving their cognitive potential with fun.Keywords: early literacy ability, multisensory approach, preschool children
KONFLIK INTRAPERSONAL WANITA LAJANG TERHADAP TUNTUTAN ORANGTUA UNTUK MENIKAH (INTRAPERSONAL CONFLICT OF SINGLE WOMEN TOWARDS PARENT’S DEMAND TO MARRIED) Dian Noviana, Catarina Laboure; Tyas Suci, Eunike Sri
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 1 (2010): VOL 7, NO 1 (2010)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah wanita lajang usia dewasa awal yang bekerja meningkat di Indonesia. Mereka memilih melajang karena ingin memusatkan waktu dan energinya pada karir. Di lain pihak, orangtua berharap anak wanitanya segera menikah agar terhindar dari pelabelan negatif oleh masyarakat, hidup anaknya terjamin, dan segera memberi cucu.Label yang paling sering didengar adalah “perawan tua” atau “tidak laku.” Hal ini membuat orangtua menuntut anak wanitanya segera menikah. Tuntutan ini membuat konflik intrapersonal pada wanita lajang yang bekerja. Konflik intrapersonal adalah konflik antara individu dengan dirinya sendiri dan terjadi pada waktu yang bersamaan ketika individu memiliki kebutuhan, keinginan, kenyataan dan nilai yang tidak sejalan satu sama lain dan tidak mungkin dua atau lebih kebutuhan dapat dipenuhi. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran konflik intrapersonal yang dialami wanita bekerja yang masih lajang pada usia dewasa awal menghadapi tuntutan menikah oleh orangtuanya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam kepada 4 subjek dari tingkat sosial menengah ke atas yang terbagi menjadi 2 kelompok usia: 25–29 dan 30–35 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuntutan orangtua untuk menikah bagi wanita lajang merupakan nilai yang harus dipatuhi. Intensitas konflik intrapersonal dipengaruhi oleh budaya, karakteristik subjek, seberapa besar nilai dapat mempengaruhi perilaku serta perasaan subjek, urutan kelahiran dan saudara yang sudah menikah. Penelitian ini diharapkan membuat cakrawala orangtua dalam memahami anak wanitanya yang hidup melajang di masa kini dan menjadi terbuka dan membuat mereka mampu mengkomunikasikan dengan baik keinginan mereka agar anak perempuannya segera menikah sehingga kesejahteraan mental anak tetap terjaga.Kata kunci: wanita lajang, konflik intrapersonal, harapan menikah, tuntutan orangtua.The number of single working women in their early adult life tends to increase in Indonesia. They chose to stay single because they want to spend their time and energy for their career. On the other hand, parents expect them to get married to avoid negative social labeling, to make sure that their daughters are secured, and also to give them grandchildren. The common labels include “perawan tua” or “tidak laku.” These make parents expect them to get married soon. This expectation creates intrapersonal conflict in single working women. Intrapersonal conflict is a conflict between an individual with herself and occurrs when the individual has needs, desires, realities and values that are inconsistent one another, and fails to meet two or more needs. This study aims to describe intrapersonal conflict in single working women agaist parents’ demand to get married. This study applied descriptive qualitative approach and used in-depth interviews to four respondents with various characteristics (middle to upper-middle class with two age groups: 25-29 and 30-35 years old). The results showed that parental demand to their single working daughters to get married is a value that must be obeyed. Intrapersonal conflict intensity is influenced by culture, respondents’ characteristics, the extent that value influences behavior, respondents’ feelings, birth order, and married sisters. In order to make intrapersonal conflict free from negative impact on single working women, it is hoped that this research may broaden parents’ understanding about their daughters. Parents’ expectation to their daughters to get married should be communicated so that it does not influence their daughters’ mental well-being.Keywords: single women, intrapersonal conflict, marriage expectation, parental demand
MENYIDIK KEBERADAAN SOCIAL DESIRABILITY (SD) PADA VARIABEL PENELITIAN PERILAKU Mangundjaya, W. G.
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak penelitian perilaku mendasarkan kesimpulannya pada data yang dikumpulkan lewat kuesioner self-report. Walaupun memiliki berbagai keunggulan dan favorit, metode pengumpulan data ini memiliki kelemahan, yang utama adalah kerentanannya pada bias social desirability (SD). Peneliti perlu mengontrol bias tersebut agar tidak mempengaruhi penarikan kesimpulan penelitian. Salah satu cara untuk mengontrolnya adalah menggunakan alat ukur SD. Penelitian ini memvalidasi alat ukur SD Strahan-Gerbasi (1972) yang sangat populer di kalangan peneliti perilaku (Thompson & Phua, 2005) dengan metode validasi kriteria dan melibatkan dua kelompok responden, Kelompok A dan B. Kelompok A diminta mengisi kuesioner seideal mungkin (SD tinggi), sedangkan Kelompok B diminta mengisi kuesioner tidak seideal mungkin (SD rendah). Hasil validasi menunjukkan bahwa alat ukur ini memiliki validitas yang baik (r = 0,88), kendati salah satu itemnya gugur. Kemudian, alat ukur diuji-cobakan pada sampel karyawan tetap sebuah organisasi untuk pemeriksaan reliabilitas. Hasilnya menunjukkan reliabilitas yang tidak tinggi (r = 0,68), namun dapat diterima mengingat jumlah itemnya yang sedikit. Walaupun terbukti valid, alat ukur ini memiliki berbagai keterbatasan selain reliabilitasnya yang tidak tinggi. Maka juga dibahas berbagai metode untuk mengurangi keterbatasan dan meningkatkan reliabilitas alat ukur ini.Kata kunci: social desirability (SD), metode penelitian self-report, alat ukur, khas Indonesia (indigenous).
SIKAP TERHADAP TIPE CINTA EROS DAN LUDUS, FANTASI EROTIS, DAN PERILAKU SEKS PRANIKAH PADA MAHASISWA PRIA YANG SUDAH PERNAH BERHUBUNGAN SEKS Rahardjo, Wahyu
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 2 (2009): VOL 6, NO 2 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku seks pranikah adalah suatu fenomena sosial yang dijumpai di mana-mana dan dapat terbentuk karena sikap terhadap tipe cinta eros dan ludus, dan fantasi erotis. Mahasiswa pria adalah salah satu kelompok yang sangat potensial melakukan perilaku seks pranikah. Tujuan dari studi ini adalah untuk melihat sumbangan sikap terhadap tipe cinta eros dan ludus, dan fantasi erotis terhadap perilaku seks pranikah pada mahasiswa yang pernah berhubungan seks. Sekitar 99 orang mahasiswa pria dari lima fakultas yang berbeda dari sebuah universitas X di Jakarta menjadi partisipan. Perilaku seks pranikah berkorelasi dengan usia masturbasi pertama kali, selisih usia pacaran pertama kali dan masturbasi pertama kali, IPK, sikap terhadap tipe cinta eros dan ludus, dan fantasi erotis. Perilaku seks pranikah juga berbeda jika dilihat berdasarkan usia hubungan seks pertama kali, pikiran untuk berhenti melakukan perilaku seks pranikah, perasaan terkait dengan hubungan seks pertama, dan evaluasi hubungan seks pertama. Sumbangan sikap terhadap tipe cinta eros dan ludus, dan fantasi erotis secara bersama-sama terhadap perilaku seks pranikah sebesar 21.8%. Oleh karenanya, variabel-variabel lain harus dipertimbangkan sebagai prediktor perilaku seks pranikah untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif.Kata Kunci: sikap terhadap tipe cinta eros dan ludus, fantasi erotis, perilaku seks pranikah, mahasiswa pria

Page 2 of 4 | Total Record : 40