cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
KETIDAKADILAN SEBAGAI SUMBER RADIKALISME DALAM AGAMA: SUATU ANALISIS BERBASIS TEORI KEADILAN DALAM PENDEKATAN PSIKOLOGI Ancok, Djamaludin
Jurnal Psikologi Indonesia No 01 (2008): Jurnal Psikologi Indonesia No.1, 2008
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian tentang radikalisme dalam agama telah banyak dibahas dari berbagai perspektif. Makalah ini akan menyajikan sebuah analisis dengan melihat radikalisme agama dari tiga perspektif keadilan, yakni Ketidakadilan Distributif, Ketidakadilan Prosedural, dan Ketidakadilan Interaksional. Keadilan akan terwujud apabila kedua pihak yang berinteraksi memberikan input dan memperoleh output (sumberdaya di bidang ekonomi, politik, dll.) relatif setara antara Pihak-I dengan Pihak-II. Keadilan akan terwujud apabila kedua pihak yang berinteraksi memperoleh kesempatan yang setara di dalam mengatur input dan memperoleh output (sumberdaya di bidang ekonomi, politik, dll). Keadilan juga akan terwujud apabila kedua pihak memperlakukan pihak manapun yang berinteraksi dengan mereka dalam kesetaraan, tanpa pilih kasih dan standar ganda untuk memperoleh output. Radikalisme dipicu oleh adanya persepsi Ketidakadilan Prosedural dan Ketidakadilan Distributif yang dilakukan oleh Blok Negara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan instrumen ekonomi dan politik berupa lembaga IMF, World Bank, dan WTO. Dari sisi Ketidakadilan Interaksional pihak Blok Barat telah berbuat tidak adil dengan menerapkan standar ganda dalam hubungan mereka dengan Israel yang sangat berbeda dengan perlakuan mereka pada negara-negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam.Kata kunci: Radikalisme Agama, Keadilan (justice), Konflik (conflict)
Kompilasi Jurnal Psikologi Indonesia No 2 Tahun 2008 Himpsi, Admin
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 5, No 02 (2008)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompilasi Jurnal Psikologi Indonesia No 2 Tahun 2008
MODEL-MODEL PSIKOLOGI KEBHINNEKATUNGGALIKAAN DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Faturochman, Faturochman
Jurnal Psikologi Indonesia No 01 (2008): Jurnal Psikologi Indonesia No.1, 2008
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persatuan Indonesia secara politis sudah didefinisikan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan salah satu sila dasar negara tetapi secara psikologis masih belum jelas. Dari perspektif psikologi sosial, dapat dikembangkan beberapa model persatuan dalam kebhinnekaan. Pertama adalah dekategorisasi dan personalisasi. Maksudnya, dari berbagai suku, golongan serta kelompok yang mengalami salinasi kategori atau identitas kelompok sangat kuat, dilakukan upaya agar identitas kelompok hilang. Model kedua adalah rekategorisasi, yaitu melebur kategori “kami” dan “mereka” menjadi “kita”. Sepintas upaya rekategorisasi untuk membentuk identitas Indonesia merupakan upaya ideal. Kenyataan menunjukkan bahwa upaya ini tidak berhasil. Model ketiga yaitu model diferensiasi mutual. Model ini mengakui adanya perbedaan-perbedaan tetapi mereka memiliki peran-peran yang komplementer yang akan mendukung keberhasilan tujuan umum. Model selanjutnya disebut model hibrida. Model ini mengakui bahwa individu pada umumnya memiliki lebih dari satu identitas. Orang dengan identitas seperti ini bisa saja memperlakukan identitas dirinya secara hirarkhis atau memiliki persilangan kategori. Di era global seperti sekarang ini tampaknya model hibrida ini akan lebih berkembang sekaligus dapat mengakomodasi kepentingan berbagai pihak tanpa perlu penyeragaman. Untuk mengikat model hibrida dalam persatuan bangsa masih diperlukan pengembangan aspek psikologis lain, di antaranya adalah penghormatan, kepercayaan, keadilan, kebijaksanaan, dan pemaafan atas kesalahan pihak lain.Kata kunci: psikologi kebhinnekatunggalikaan, dekategorisasi, rekategorisasi, diferensiasi mutual, multi identitas, persilangan kategori.
EFEKTIVITAS METODE MODIFIKASI PERILAKU ”TOKEN ECONOMY” DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI KELAS (THE EFFECTIVENESS OF BEHAVIOR MODIFICATION METHOD OF ”TOKEN ECONOMY” IN THE CLASSROOM LEARNING AND TEACHING PROCESS) Indrijati, Herdina
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 01 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan melihat apakah ada perbedaan efektivitas antara metode Token Economy dan Metode Konvensional terhadap munculnya perilaku: (1) menjawab dengan benar pertanyaan guru, (2) bertanya pada guru tentang materi pelajaran, (3) menanggapi pertanyaan atau jawaban guru maupun teman, dan (4) menjawab pertanyaan dari guru meskipun salah. Populasi penelitian adalah siswa kelas 2 SMP Negeri 5 Jember. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling, Tipe penelitian ini adalah eksperimen. Data dianalisis dengan t-Test. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan efektivitas antara Metode Token Economy dan Metode Konvensional dalam memunculkan empat perilaku siswa yang diteliti. Disimpulkan bahwa penerapan Metode Token Economymeningkatkan kemunculan perilaku positif yang diharapkan.Kata kunci: perilaku menjawab pertanyaan, modifikasi perilaku, manajemen kelas, metode token economy, metode konvensional.
BIAS HEURISTIK DALAM PROSES PENILAIAN DAN PENGAMBILAN STRATEGI TERORISME Milla, Mirra Noor
Jurnal Psikologi Indonesia No 01 (2008): Jurnal Psikologi Indonesia No.1, 2008
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membunuh warga sipil di luar wilayah konflik sebagai upaya jihad merupakan keputusan yang tidak manusiawi. Teori Keterbatasan Rasionalitas menganggap bahwa pengambil keputusan dibatasi oleh informasi yang kurang memadai tentang sifat dasar permasalahan dan solusi yang mungkin diperoleh, maka pengambil keputusan akan bersandar pada prinsip heuristik. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana keyakinan agama yang dimiliki memberi pengaruh pada bias heuristik dalam proses penilaian dan pengambilan keputusan strategi terorisme sebagai jihad. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Informan utamanya adalah terpidana kasus terorisme di Indonesia yang telah mendapat putusan tetap pengadilan. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi yang diambil dari hasil wawancara, biografi dan catatan tentang kisah hidup dari para pelaku aksi terorisme di Indonesia. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: pertama, terdapat kepercayaan tentang sangat pentingnya melakukan jihad dalam Islam, yang representasinya diperoleh dari ayat-ayat Al Qur’an, hadist dan tarikh Islam, dan diyakini dengan kuat oleh pelaku aksi terorisme. Kedua, faktor situasional dan kontekstual berupa tekanan dari pemerintah yang menghalangi penerapan syariat Islam, penganiayaan terhadap umat Islam di berbagai penjuru dunia oleh kelompok non Islam, dan ketidakadilan dalam kondisi terbatasnya pilihan akan sumber daya menyebabkan mereka mengandalkan pada prinsip heuristik dalam penilaian dan pengambilan keputusan untuk melakukan jihad. Ketiga, terdapat cara memposisikan masalah yang bias, bias persepsi, terlalu percaya diri, serta terlalu cepat mencapai konsensus dan konformitas kelompok (groupthink). Keempat, terdapat perbedaan evaluasi diri dari para pelaku setelah ditangkap berdasarkan kompetensi dan pengetahuannya akan permasalahan secara keseluruhan. Pemimpin yang memiliki informasi lebih banyak tentang permasalahan yang dihadapi cenderung bertahan dengan keyakinannya dan tidak menyesali tindakannya dibanding partisipan atau anggota kelompok yang kurang memiliki informasi yang memadai tentang permasalahan ketika keputusan dibuat. Secara keseluruhan terdapat implikasi bahwa adanya keyakinan yang kuat yang mendasari pengambilan keputusan cenderung melahirkan bias heuristik yang sistematik daripada profitable.Kata kunci: bias heuristik, pengambilan keputusan, strategi terorisme
MEMBANGUN KARAKTER ANAK MELALUI PRETEND PLAY (BUILDING CHILD CHARACTER THROUGH PRETEND PLAY) Suminar, Dewi Retno
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 01 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa prasekolah anak mendapat pendidikan yang membentuk karakter melalui bermain. Namun tidak semua alat bermain mampu mengembangkan karakter anak. Permainan yang menunjang pembangunan karakter adalah pretend play, yaitu bentuk permainan yang mengandung unsur berpura-pura. Berbeda dengan role play, pretend play mengikuti seperangkat aturan dan menggunakan peralatan. Role play menekankan peran yang dimainkan, pretend play menekankan peralatan sebagai penunjang unsur “pura-pura.” Pretend play dipengaruhi oleh budaya. Dimensi perkembangan yang terlibat dalam pretend play adalah kognitif, afektif, dan psikomotor. Melalui pretend play anak melakukan representasi simbol, meta kognisi dan empati. Aneka perilaku dasar tersebut dapatdigunakan sebagai acuan pengembangan pribadi selanjutnya.Kata kunci: pretend play, role play, karakter, representasi simbol, meta kognisi.
MENCAPAI KEBAHAGIAAN BERSAMA DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Prihartanti, Nanik
Jurnal Psikologi Indonesia No 01 (2008): Jurnal Psikologi Indonesia No.1, 2008
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk, terdiri atas suku-suku bangsa. Dalam masyarakat majemuk, adanya batas-batas sukubangsa yang didasari oleh stereotype dan prasangka menghasilkan penjenjangan sosial secara primodial yang subjektif. Konflik-konflik antar etnik dan antar agama yang terjadi, pada dasarnya berintikan pada permasalahan hubungan antara etnik asli setempat dengan pendatang. Konflik-konflik itu terjadi karena adanya pengaktifan jati diri etnik untuk solidaritas memperebutkan sumberdaya yang ada. Dengan adanya stereotipe dan prasangka serta ideologi keetnikan, masyarakat menjadi lebih mudah saling cakar daripada berangkulan, lebih mudah saling curiga daripada saling mempercayai, lebih mudah bertengkar daripada bersahabat, lebih mudah menerjang daripada memberi jalan dan seterusnya. Berkaitan dengan masalah ini, ada baiknya kita terus mencoba berbagai macam pengetahuan untuk mewujudkan perdamaian masyarakat. Salah satu sumber pengetahuan yang bersifat natural, halus, dan mengajarkan rasa damai, persaudaraan, serta kebahagiaan, adalah ”kawruh jiwa”-nya Ki Ageng Suryomentaram. Konsep pendekatan ukuran keempat dikenalkan oleh Ki Ageng Suryomentaram sebagai pendekatan yang mampu mempromosikan kebahagiaan bagi umat dalam hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat majemuk. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa dengan ukuran keempat (dimensi IV) itu seseorang yang ada pada tahapan tersebut selain mengerti diri sendiri, mengerti hukum-hukum alam, juga mengerti rasa (raos) orang atau pihak lain. Ukuran keempat adalah salah satu alat dalam rasa seseorang yang dapat dipergunakan untuk merasakan rasa orang lain.Bergaul dengan orang lain, berarti kita berhadapan dengan rasa atau perasaaan orang lain. Seseorang yang mulai menginjak dewasa semestinya mulai meninggalkan sifat-sifat egoistik dan memasuki keinginan-keinginan untuk berbuat baik bagi orang lain. Individu dan masyarakat bukan dua badan terpisah, melainkan satu keutuhan. Untuk dapat hidup berdampingan secara damai dan bahagia di tengah masyarakat majemuk, hal yang pertama kali harus diusahakan adalah mendewasakan individu-individunya terlebih dahulu. Dewasa dalam arti mampu bertumbuh sampai pada identitas manusia tanpa ciri. Konsep hidup bahagia yang dimaksud Ki Ageng adalah hidup bahagia bersama. Bukan bahagia sendiri lalu orang lain tidak bahagia. Seseorang mustahil dapat hidup bahagia tanpa berusaha mendukung kebahagiaan orang lain. Dengan pendekatan ukuran keempat itu diharapkan tata kehidupan masyarakat menjadi lebih sehat dan bahagia. Pengembangan ukuran keempat diharapkan menyebabkan tata pergaulan menjadi lebih halus, penuh kasih sayang, sehat, dan indah.Kata kunci: stereotype, kawruh jiwa, ukuran keempat, Kramadangsa, juru catat.
MEMAHAMI PERILAKU PROKRASTINASI AKADEMIK BERDASAR TINGKAT SELF REGULATION LEARNING (UNDERSTANDING ACADEMIC PROCRASTINATION BEHAVIOR BASED ON SELF-REGULATION LEARNING LEVEL) Mastuti, Endah
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 01 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan memahami perilaku prokrastinasi (menunda pekerjaan) mahasiswa dari segi self regulation learning. Sampel penelitian terdiri dari 65 mahasiswa psikologi semester empat sampai delapan Universitas Airlangga Surabaya. Alat ukur yang digunakan adalah skala prokrastinasi akademik dan skala self regulation learning.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat self-regulation learning dan perilaku prokrastinasi akademik mahasiswa. Disimpulkan, meski memiliki tingkat pengaturan diri yang tinggi terhadap tugastugas perkuliahan, namun mahasiswa tidak terlepas dari perilaku prokrastinasi. Diduga, di kalangan mahasiswa perilaku ini sudah menjadi suatu trait. Akibatnya, betapa pun tingkat self regulation learning mereka, prokrastinasi masih terjadi. Hal ini sesuai pendapat Ferrari dkk. bahwa prokrastinasi merupakan suatu trait kepribadian. Sebagai trait prokrastinasi tidak sekadar merupakan perilaku menunda, tetapi melibatkan aneka komponen perilaku maupun struktur mental lain yang saling terkait dan dapat diungkap baik secara langsung maupun tidak langsung.Kata kunci: prokrastinasi akademik, self regulation learning, trait
MEMBANGUN BUDAYA DAMAI BERKESINAMBUNGAN: PENDEKATAN TEORI IDENTITAS SOSIAL, ETNOSENTRISME DAN PSIKOLOGI KOMUNITAS DI POSO, SULAWESI TENGAH Savitri, Setiawati Intan
Jurnal Psikologi Indonesia No 01 (2008): Jurnal Psikologi Indonesia No.1, 2008
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik di kabupaten Poso telah berlangsung berkepanjangan. Berdasarkan realitas tersebut, terciptanya budaya damai yang berkesinambungan adalah hal yang sangat didambakan terjadi di daerah konflik. Teori identitas sosial dan etnosentrisme memiliki pandangan yang unik terhadap relasi antar kelompok. Etnosentrisme melihat bahwa relasi antar kelompok umumnya terjadi karena kecenderungan kelompok memandang dirinya sebagai pusat dari segalanya sehingga terjadi in-group favouritism, dan menjadikan hal tersebut untuk mengukur hal-hal diluar kelompoknya, sehingga terjadi out-group derogation. Teori identitas sosial melihat bahwa individu cenderung mendefinisikan diri untuk memperluas dan mengembangkan diri dalam kelompok sosial dan cenderung untuk mencari identitas sosial yang positif. Kedua teori ini merupakan salah satu cara untuk menjelaskan relasi kelompok yang memungkinkan terjadinya konflik dan dari teori tersebut pula dapat dikembangkan upaya intervensi untuk meredakan konflik. Intervensi tersebut dapat dilakukan dengan dua cara: pertama, membangun kontak yang kooperatif antar kelompok, kedua, melakukan perubahan struktur dari kategori sosial yang ada. Psikologi komunitas sebagai salah satu pendekatan dalam psikologi menjadi salah satu cara untuk menciptakan budaya damai, sebab dengan memperhatikan aspek-aspek yang dimiliki komunitas setempat, upaya perdamaian akan lebih dapat diterima oleh semua pihak yang sedang berkonflik. Elemen-elemen penentu dalam penyelesaian konflik, yakni pemerintah, militer, dan masyarakat setempat, memiliki peran penting dalam pengembangan budaya damai dengan berdasarkan prinsip-prinsip intervensi psikologi sosial dan psikologi komunitas. Pemerintah berperan secara struktural untuk memahami masyarakatnya dan mengembangkan masyarakat, militer berperan sebagai pihak yang netral dan melindungi semua pihak, dan masyarakat diharapkan bersedia untuk menerima dan berpartisipasi dalam upaya-upaya perubahan menuju perdamaian.Kata kunci: budaya damai, identitas sosial, etnosentrisme, konflik, psikologi komunitas.
ADAPTASI FAIRY TALE TEST (FTT) DALAM BAHASA INDONESIA: SUATU STUDI AWAL [ADAPTATION OF THE FAIRY TALE TEST (FTT) INTO BAHASA INDONESIA: A PRELIMINARY STUDY] Halim, Magdalena
Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 01 (2009)
Publisher : Jurnal Psikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan alat ukur kepribadian di Indonesia masih sangat terbatas sampai saat ini. Beranjak dari keterbatasan perkembangan alat ukur kepribadian untuk anak-anak di Indonesia, peneliti mengadaptasi Fairy Tale Test (Coulacoglou, 2004) ke dalam bahasa Indonesia. Tujuan utamanya adalah memperkaya ketersediaan alat ukur kepribadian bagi anak-anak di Indonesia yang reliabel dan valid. Sampel penelitian ini adalah 200 anak yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Mereka berusia antara 6-12 tahun dan memiliki latar belakang sosial ekonomi dari rendah ke tinggi. Reliabilitas alat ukur ini secara umum cukup memuaskan, namun validitasnya dalam bahasa Indonesia relatif belum memuaskan, khususnya validitas konstruk beberapa subskala. Banyak hal yang mempengaruhi hasil tersebut dicoba dibahas lebih lanjut.Kata kunci: alat ukur kepribadian, adaptasi, Fairy Tale Test.

Page 4 of 4 | Total Record : 40