cover
Contact Name
Zulkifli Ahmad
Contact Email
zul_bio@unkhair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
technounkhair@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
Techno: Jurnal Penelitian
Published by Universitas Khairun
ISSN : 1978610X     EISSN : 25807129     DOI : -
TECHNO: Jurnal Penelitian diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Khairun, dua kali terbit dalam setahun dengan jumlah artikel dalam sekali terbit sebanyak 8 tulisan.
Arjuna Subject : -
Articles 169 Documents
ANALISIS PROKSIMAT POTENSI BRIKET BIOARANG SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF DI DESA KUSU, MALUKU UTARA Muhammad Hidayat Jaja Miharja
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 5, No 1 (2016): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tk.v5i1.782

Abstract

Telah dilakukan analisis proksimat potensi briket bioarang di Desa Kusu Maluku Utara. Hal ini dilakukan untuk mengetahui baku mutu dan standar dari briket bioarang yang dihasilkan agar sesuai dengan standar Nasional Indonesia (SNI) No. SNI 01-6235-2000. Penelitian dilakukan dengan cara mengambil sampel uji briket bioarang yang dihancurkan sampai diperoleh partikel halus dan homogen berukuran 150 mesh. Partikel tersebut selanjutnya dianalisis proksimat enam parameter dengan standar analisis ASTM D–3302 dan ASTM D–5142, yaitu parameter kadar air (inherent moisture), kadar air total (total moisture), kadar abu (ash), kadar zat volatil (volatile matter), kandungan energi (calorific value), dan kadar karbon (fixed carbon). Hasil penelitian menunjukan bahwa semua parameter memenuhi standar SNI, terkecuali parameter kadar zat volatil yang melebihi 1-1,5% dari standar yang ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara umum, briket bioarang Desa Kusu memenuhi standar briket dan ekspor serta membutuhkan perbaikan dan evaluasi pada kadar zat volatil.Kata kunci : Briket bioarang, kadar zat volatil
ISOLASI BAKTERI PENDEGRADASI SENYAWA PIREN DARI PERAIRAN PELABUHAN PAOTERE Hadija Enryani Ismail; Nursiah La Nafiea; Seniwati Dali
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 4, No 02 (2015): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tk.v4i02.338

Abstract

Hidokarbon Aromatik Polisiklik (HAP) merupakan salah satu bahan polutan pada tanah, air dan udara. Senyawa ini memiliki potensi risiko terhadap kesehatan manusia, karena beberapasenyawanya bersifat karsinogenik dan beracun untuk organisme laut. Piren merupakan salah satu senyawa HAP yang berbahaya dan sulit didegradasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan isolat bakteri yang berasal dari perairan pelabuhan Paotere yang mampu mendegradasi senyawa piren. Dari hasil isolasi dan karakterisasi biokimiawi sesuai Bergey’smanual of determinative bacteriology diperoleh untuk ketiga isolat mempunyai ciri-ciri yang mengarah pada bakteri Alcaligenes untuk isolat A, Sphingobacterium untuk isolat B danBaccilus untuk isolat C.Kata kunci : Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (HAP), piren, isolasi bakteri, biodegradasi Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (HAP) is one of the pollutants in the soil, water and air. These compounds have the potential risk to human health, because some compounds are carcinogenic and toxic to marine organisms. Pyrene is one of HAP compounds are dangerous and difficult to degrade. The aim of this study was to obtain bacterial isolates originating from harbor waters Paotere capable of degrading pyrene compound. From the results of isolation and characterization of biochemical according Bergey's manual of determinative bacteriology obtained for all three isolates has characteristics that lead tobacterial isolates Alcaligenes for A, Sphingobacterium for B and Baccilus for isolate C.Keywords: Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (HAP), pyrene, isolation of bacteria,biodegradation    
Birdwatching Track: Peluang Konservasi Burung di RPH Tambak Ngargoyoso Karanganyar Jawa Tengah Dewi Puspita Sari; Siti Fadzillah; Wahyu Trianingsih
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 9, No 1 (2020): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tjp.v9i1.1733

Abstract

Resort Pemangku Hutan (Forest Manager Resort) or RPH Tambak is one of the forests managed by Indonesian State Forestry Enterprise in the northern part of Lawu Mountain, Surakarta. RPH Tambak located in the Berjo village, in Ngargoyoso, Central Java. This area offers ecotourism attraction for locals and international tourists. The management of forest becomes the main focus with involvement from the locals and stakeholders. This area is a potential area for avian conservation although this area is still relatively unknown. Because of its virgin forest and natural landscape, RPH Tambak has the potential to become a birdwatching spot. The aim of this research is to gather data about local avian species, to interpret the initial data for ecotourism, and to make a birdwatching track. The research methods used in this research are by tracking, and surveying the local avian species to create a roadmap for birdwatching track. The finding of this research is there are 40 species of birds from 25 families living along as cosmopolite and rarely in the birdwatching track. The birdwatching track has 5 posts with different specifications (vegetation, altitude, and tracking time) and tracking distance to make various contact with local avian species. The birdwatching track will be maintained by locals that has the access to the peak of the Lawu Mountain.
INVENTARISASI JENIS TANAMAN OBAT TRADISIONAL YANG BERKHASIAT UNTUK PENGOBATAN PENYAKIT KULIT DI BEBERAPA KELURAHAN PULAU TERNATE DAN TERNATE SELATAN Wirda A.Z Umagap
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tk.v7i01.327

Abstract

Pada dasarnya masyarakat Indonesia telah menggunakan pengobatan penyakit kulit dengan cara modern seperti salep, namun dengan cara yang ada belum juga berhasil untuk sembuh. Bahkan membuat si penderita mengeluh dan depresi terhadap penyakit yang dideritanya, sehingga mereka berusaha mencari berbagai macam pengobatan alternatif yang lebih ilmiah dan sederhana seperti pengobatan dengan cara tradisional. Dalam pengobatannya dengan menggunakan tanaman yang berkhasiat obat terutama penyakit kulit dan jenis tanamannya belum banyak diteliti serta belum banyak dikenal oleh masyarakat. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tanaman tradisional yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit kulit. Jenis penelitian ini mengunakan tipe deskriptif yang lokasi penelitiannya dilakukan di kelurahan Sasa, Jambula dan Kastela, Kota Ternate. Sampelnya adalah semua jenis tanaman yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit kulit yang telah terinventarisasi. Pengumpulan data dilakukan dengan mengunakan sistem jelajah atau eksplorasi dengan analisis datanya dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil penelitian bahwa jenis tanaman yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit kulit yang telah terinventarisasi dengan menggunakan tehnik jelajah yang ditemukan di kelurahan Sasa, Jambula, dan Kastela berjumlah 15 jenis tanaman dengan 11 famili yang dipakai dalam pengobatan penyakit kulit. Dari hasil wawancara bahwa cara pengolahan jenis tanaman tersebut ada yang ditumbuk, diiris-iris, dan dipotong-potong lalu dioleskan ke bagian yang sakit. Masyarakat setempat lebih cenderung menggunakan jenis tanaman tersebut sebagai obat tradisional untuk pengobatan penyakit kulitKata Kunci: Inventarisasi, tanaman obat, pengobatan alternatif, penyakit kulit
IDENTIFIKASI DAN PENANGANAN KAWASAN KUMUH PADA KELURAHAN MAKASSAR TIMUR Endah Harisun; M Amrin MS Conoras; Muhammad Darwis
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 8, No 1 (2019): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tk.v8i1.979

Abstract

Salah satu kawasan permukiman kumuh di kota Ternate adalah Kelurahan Makassar Timur merupakan salah satu kelurahan yang secara administratif berada pada Kecamatan Kota Ternate Tengah yang memiliki luas wilayah yaitu 27.75 Ha yang terdiri jumlah 4 Rukun Warga dan 8 Rukun Tetangga. Jumlah Penduduk Kelurahan Makassar Timur berjumlah 1979 kepala keluarga (KK) dengan Jumlah jiwa seluruhnya 7.520 jiwa terdiri dari 3.841 laki-laki dan 3.679 Perempuan.  Menurut data Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) kota Ternate tahun 2015, disebutkan bahwa Kelurahan Makassar Timur yang termasuk Kawasan Prioritas penanganan kawasan kumuh adalah zona 1 berada di RT 01/ RW 01, zona 2  berada di RT 03/ RW 02 dan zona 3 berada di RT 04/RW 02  mempunyai  sekitar luas 9.45 Ha. Sedangkan yang menjadi prioritas penelitian adalah zona 1 RT 01/RW01.Metode penelitian yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode penelitian deskriptif. Dimana metode penelitian deskriptif adalah salah satu metode penelitan yang banyak digunakan pada penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu kejadian. Yang menjadi objek penelitian dan menjadi standard dalam melakukan analisis adalah panduan identifikasi kawasan permukiman kumuh yang dikeluarkan oleh DITJEN Cipta Karya. yaitu : (a) Tingkat Kondisi Bangunan dan (b) Kondisi Prasarana Sarana.Kesimpulan diambil berdasarkan hasil analisis tersebut berupa rekomendasi desain maupun konsep permukiman kumuh. 
Strategi Pengembangan Agroforestri Di Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate Mahdi Tamrin; Abdul Kadir Kamaluddin
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 9, No 2 (2020): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tjp.v9i2.1933

Abstract

Agroforestri merupakan sistem penggunaan lahan terpadu, yang memiliki aspek sosial dan ekologi, dilaksanakan melalui perpaduan antara pepohonan dengan tanaman pertanian dan atau ternak (hewan), baik secara bersama–sama atau bergiliran, sehingga dari satu unit lahan dapat diperoleh hasil–hasil nabati dan hewani secara optimal dan berkesinambungan. Tujuan dari penelitina ini yaitu (1) Melihat bagaimana pola pengembangan agroforestri di Kecamatan Pulau Ternate (2) Strategi apa yang diterapkan masyarakat dalam mengembangkan agroforestri Kecamatan Pulau Ternate. Pengambilan data dilakukan dengan observasi lapangan secara lansung di lahan agroforestri yang dipilih secara sengaja atau purposive sampling. Analisis strategis pengembangan agroforestri  dilakukan menggunakan analisis SWOT (strengths, weakness, opportunity dan threats). Hasil penelitian menunjukkan perhitungan skor pada matrik EFAS dan IFAS pengembangan agroforestri di kacamatan Pulau Ternate berada pada posisi kuadran II (0.48 ;–0.27). Kuadran II merupakan situasi petani dalam menghadapi ancaman, namun petani masih memiliki kekuatan dari segi internal yaitu strategi yang harus diterapkan dengan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Selanjutnya ditentukan strategi terpilih sebagai alternatif pengembangan yakni (1) sosialisasi kesadaran lingkungan dan pemahaman tentang manfaat agroforestri untuk meminimalisir terjadinya konversi lahan (S1, S3, S4, S5, T1, T3, T5), (2) mengembangkan pola agroforestri dengan penerapan teknologi untuk peningkatan produktifitas lahan  dan produksi hasil yang tinggi dan beragam (S2, S3, S5, T1, T2, T3, T4, T5) dan (3) mempertahankan serta meningkatkan  kualitas produk agroforestri (S1, S2, S3, T1, T2, T5).
KEANEKARAGAMAN JENIS KERANG (KELAS BIVALVIA) DI PERAIRAN PULAU SIBU KECAMATAN OBA UTARA KOTA TIDORE KEPULAUAN Wirda A.Z. Umagapi; Lintal Muna
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 2 (2018): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tk.v7i2.797

Abstract

Menurut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, di Perairan Ternate, Tidore dan sekitarnya memiliki kekayaan hayati laut yang tinggi dan dapat dipastikan bahwa perairan ini merupakan bagian dari pusat kekayaan keanekaragaman laut dunia. Pulau Sibu merupakan pulau yang terletak di Desa Guraping Kecamatan Oba Utara Kabupaten Kota Tidore Kepulauan. Letak geografis Pulau Sibu adalah 0°43′28″LU127°34′50″BT ( Wikipedia, 2016). Kondisi geografisnya yang dikelilingi oleh tumbuhan mangrove dan karang memungkinkan pulau ini kaya akan biota laut, salah satunya adalah kerang yang dalam sistematikanya tergolong kedalam kelas Bivalvia. Selain itu, pulau ini oleh Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dijadikan sebagai salah satu tempat wisata. Perlu adanya monitoring tentang kondisi biota laut yang berada di kawasan Pulau tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan dominasi kerang (kelas Bivalvia) di Perairan Pulau Sibu Kecamatan Oba Utara Kabupaten Kota Tidore Kepulauan. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kuantitatif, yang berlokasi di Perairan Pulau Sibu Desa Guraping Kecamatan Oba Utara Kabupaten Kota Tidore Kepulauan. Adapun waktu penelitian yaitu selama 3 bulan mulai dari Agustus sampai dengan Oktober 2016. Penelitian ini menggunakan metode line transek, dengan panjang transek/lintasan sepanjang 50 m sebanyak 2 lintasan. Masing-masing lintasan terdiri dari 5 kuadran, dengan ukuran masing-masing kuadran 2x2 m. hasil penelitian di analisis dengan menggunakan indeks keanekaragaman jenis (H’) dan nilai dominansi (C). Hasil penelitian menunjukan bahwa keanekaragaman jenis kerang di peraian Pulau Sibu tergolong rendah dengan indeks keanekaragaman jenis rata-rata pada lintasan I yaitu 0,23 dan lintasan II 0,28. Nilai dominansi menunjukan bahwa Tridacna maxima mendominasi di perairan Pulau Sibu dengan nilai dominansi pada lintasan I 0,67 dan lintasan II 0,53 yang tergolong dominansi sedang. Kata Kunci : Bilvalvia, Keanekaragaman Jenis, Pulau Sibu
Jenis Tumbuhan Bertahan Hidup di Lahan Kering Riri Yulianti Rusdi; A. R. Tolangara; Hasna Ahmad
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 6, No 02 (2017): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tk.v6i02.564

Abstract

AbstrakAir merupakan bagian terbesar penyusun jaringan tumbuh-tumbuhan. Air berfungsi  mengatur setiap proses metabolisme tanaman secara langsung atau tidak langsung. Air yang tersedia di dalam tanah berada pada kapasitas lapang. Air pada kapasitas lapang adalah air yang tetap tersimpan dalam tanah. Air dapat hilang dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah, air tersebut daapt hilang melewati stomata, kutikula, dan lentisel disebut transpirasi. Air pun dapat hilang akibatnya tanah menjadi kering. Apabila tanaman hidup dalam kondisi ini,  maka tanaman akan mengalami cekaman air (Water stress) dan akhirnya mati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang mampu bertahan hidup di lahan kering beserta lamanya waktu tanaman dalam bertahan hidup.  Penelitian ini bersifat eksperimen yang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) , dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Pemberian air sekali dalam 9 bulan dan pengamatan dilakukan seminggu sekali dengan parameter tinggi tanaman dan jumlah daun. Sedangkan untuk faktor lingkungan berupa pH, suhu dan kelembaban tanah diukur pada awal penelitian dan akhir penelitian. Kemudian data tersebut dianalisis menggunakan uji Koefisien Variasi (KV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tanaman yang mampu bertahan hidup di lahan kering adalah jagung dengan waktu 20 minggu (5 bulan).Kata Kunci : Jenis Tumbuhan, bertahan hidup, lahan kering Abstract Water is the biggest constituent of plant tissues. Water serves to regulate all plant metabolism processes, directly or indirectly. Water available in the soil is in field capacity, which is water that is kept in the soil. The water can be lost in form of vapor from plant living tissues located on the soil surface. The water can be lost through stomata, cuticle and lenticel and it is called transpiration. The loss of water causes soil to dry. If plant lives in this condition, the plant will experience water stress and eventually it will die. The research aimed to find out the type of plant that able to survive on dry land and the duration of the survival. The research was an experimental research using a completely randomized design (RAL) with four treatments and 5 repetitions. Watering was conducted once in 9 months and observation was conducted once in a week with parameters of plant height and number of leaves. Regarding the environmental factors, namely, pH, temperature and, soil humidity, they were measured in the beginning and end of the research. Data was analyzed using variance coefficient (KV) test. The research result indicated that type of plant that survived on dry land was corn with 20 weeks (5 months) of period.  Keywords: Type of plant, survival, dry land
Pengetahuan Lokal Masyarakat Kepulauan Tentang Tumbuhan Anti-nyamuk Said Hasan; Dharmawaty M Taher; M. Nasir Tamalene
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 9, No 1 (2020): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tjp.v9i1.1544

Abstract

The Utilization of natural materials from local plants as mosquito repellent starts from the deepening of information about local knowledge of the community. Research about anti-mosquito is important to overcome problems of the use of synthetic anti-mosquitoes on the market; besides that, this is also to preserve the community's local wisdom. The purpose of this study is to describe the local knowledge of the island community about the use of anti-mosquito plants and analyze the potential of plants that are most widely used by people in the islands as anti-mosquito lotion products. The method used is the exploratory survey method. Data collection is done by interviewing techniques, in-depth observation of informants, and documentation. The most used anti-mosquito plant data were analyzed by phytochemical components. The results showed that there were 9 species of anti-mosquito plants used by the community, namely Tagetes erecta L, Lavandula L, Cymbopogon citratus, Citrus aurantifolia, Syzygium aromaticum, Evodia suaveolens, Catharanthus roseus (L) G. Don., Alphitonia incana BL., and Polygala paniculata. Alphitonia incana BL is the most widely used type of society and contains phytochemical compounds, alkaloids, terpenoids, flavonoids, phenolics, and tannins. The Alphitonia incana BL., has the potential to be developed as an anti-mosquito lotion product.
Etnobotany in Customary Ceremony in Dayak Society, UUD Danum Hendrikus Julung; Benediktus Ege
TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 9, No 2 (2020): Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tjp.v9i2.2227

Abstract

The Dayak Uud Danum people still maintain the traditional ceremonies of birth, marriage, death and traditional medicine. This tradition is carried out as a tribute to the cultural heritage of the ancestors. This tradition cannot be separated from the use of plants as media which have an important role. However, the effects of globalization can threaten the sustainability of these plants, so an inventory of their existence is needed. This study aims to identify various types of plants used in various customary traditions in the Dayak Uud Danum tribe in Kemangai Village, Ambalau District. The research method used is a survey method with data collection tools in the form of semi-structured interviews. The results showed that there were 6 family of plants used for traditional birth rituals, 3 families for traditional marriage, 5 families for traditional death rituals, and 35 families for traditional medicine. Processing plants for custom births by boiling, drinking and eating. In a wedding ceremony the processing of plants is eaten, wrapped and wrapped. In traditional death rituals, plants are used to make coffins, and statues are symbols of respect for the deceased. As for traditional medicine, most plants are processed by boiling and drinking. The parts of the plants that are most widely used in the four traditional rituals of the Dayak Uud Danum are the leaves, roots and stems.

Page 2 of 17 | Total Record : 169