cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
LingTera
ISSN : 24069213     EISSN : 24771961     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 215 Documents
Variasi kedalaman makna eksperiensial teks intersemiotika novel Breaking Dawn dan film Breaking Dawn Part-1 Ika Puspita Rini; Sufriati Tanjung
LingTera Vol 3, No 1: May 2016
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.62 KB) | DOI: 10.21831/lt.v3i1.8472

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerjemahan intersemiotika yang melibatkan teks intersemiotika, yaitu: teks kebahasaan berupa novel Breaking Dawn dan teks nonkebahasaan-kebahasaan berupa film Breaking Dawn part 1. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi kedalaman makna eksperiensial pada teks intersemiotika novel Breaking Dawn dan film Breaking Dawn part 1, unsur film yang dipengaruhi oleh variasi, dan pengaruh variasi kedalaman makna eksperiensial terhadap kelogisan film Breaking Dawn part 1. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis isi. Hasil yang didapatkan, yaitu: pertama, variasi kedalaman makna eksperiensial film didominasi oleh kelompok variasi dangkal; kedua, seluruh unsur film menunjukkan adanya pengaruh variasi; ketiga, kelogisan film menunjukkan bahwa pada kelogisan internal, terdapat kelogisan pada unsur naratif, dan ketidaklogisan pada unsur mise-en-scène dan suara; sedangkan kelogisan eksternal menunjukkan adanya ketidaklogisan penggambaran film dengan temanya; dan keempat, film Breaking Dawn part 1 merupakan perwujudan kurang baik dari novel Breaking Dawn.Kata Kunci: penerjemahan intersemiotika, variasi kedalaman, dan makna eksperiensial Experiential meaning depth variation of intersemiotic texts Breaking Dawn novel and Breaking Dawn Part-1 movie AbstractThis research studied the intersemiotic translation that involved two intersemiotic texts: a lingual text in the form of Breaking Dawn novel and a lingual-non lingual text in the form of Breaking Dawn part 1 movie. The aims of the research were to find out the depth variation of the experiential meaning in the intersemiotic texts of Breaking Dawn novel and Breaking Dawn part 1 movie, the movie elements under the influence of variation, and the influence of experiential meaning depth variations onto the movie logic. This study was a qualitative research with the content analysis method.  The results were first, the “shallow” group dominated the depth variation of experiential meaning; second, all of the movie elements showed variation influence; third, the movie logic showed that the internal logic showing the narrative element logic and the mise-en-scène and audio elements improperness; while the external logic showed the movie visualization improperness related to the theme; and forth, Breaking Dawn part 1 movie was not a good realization of Breaking Dawn novel.Keywords: intersemiotic translation, depth variation, and experiential meaning
BACK MATTER (Subject Index, Author Index, Acknowledgment, Author Guidelines) -, -
LingTera Vol 3, No 2: October 2016
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.964 KB) | DOI: 10.21831/lt.v3i2.13217

Abstract

-
Analisis penggunaan deiksis pada buku bahasa inggris kelas X Kurikulum 2013 Nurdini Nurdini
LingTera Vol 4, No 2: October 2017
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.981 KB) | DOI: 10.21831/lt.v4i2.5589

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan penggunaan deiksis pada teks yang terdapat di buku Bahasa Inggris SMA/MA, Kelas X. Lebih spesifiknya, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan jenis dan makna deiksis serta mendeskripsikan arah acuan deiksis pada kata dan frase dalam teks di buku tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu mendeskripsikan jenis-jenis deiksis serta maknanya yang terdapat pada sumber penelitian. Sumber penelitian adalah teks-teks yang berupa materi ajar pada buku bahasa Inggris SMA/MA kelas X kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh pusat kurikulum dan perbukuan-Kemendikbud. Penelitian ini menghasilkan lima temuan. Pertama, tuturan yang terdapat pada teks dalam buku bahasa Inggris SMA/MA Kelas X Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengandung deiksis tiga jenis deiksis yaitu: (a) deiksis persona, (b) deiksis tempat, dan (c) deiksis waktu. Kedua, deiksis persona yang digunakan berbentuk pronomina persona tunggal atau jamak, dan bermakna subjek, objek, atau kepunyaan. Ketiga, deiksis tempat menggunakan kata keterangan tempat dan kata penunjukkan/demonstrativa. Keempat, deiksis waktu menggunakan keterangan waktu sekarang, waktu lampau, dan waktu yang akan datang. Kelima, posisi kata atau frase yang mengandung deiksis dalam tuturan, menentukan arah acuan anafora atau katafora. An analysis on the use of deixis in the text English book for tenth grade Curriculum 2013 AbstractThis research aims to describe the use of deixis in the text of English book for tenth grade curriculum 2013. Further this research aims to explain deixis’ types, deixis’ function, and deixis direction based on its reference. This research employs a descriptive qualitative method in which the subject is the text in English book for Tenth Grade curriculum 2013.The research reveals five findings. First, utterances occured in the text consist three types of deixis, those are (a) person deixis, (b) spatial deixis, and (c) time deixis. Second, person deixis occured in the form of singular or plural pronoun, and it has a function as subject, object, or possessive pronoun. Third, spatial deixis occured in the form of adverb of place and demonstrative. Fourth, time deixis occured using adverb of time which describes present, past, and future form. Fifth, the position of deictic word or phrase in the sentences implies its direction in the utterance, whether it’s anaphora or cataphora.
Penerapan metode inkuiri dalam pembelajaran membaca untuk meningkatkan aktivitas dan kemampuan menemukan gagasan utama Hamidah, Nur; Zamzani, Zamzani
LingTera Vol 3, No 1: May 2016
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.69 KB) | DOI: 10.21831/lt.v3i1.8474

Abstract

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan kemampuan menemukan gagasan utama paragraf melalui penerapan metode inkuiri dalam pembelajaran membaca. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan observasi, pada wawancara, pengisian lembar check list, dan uji kompetensi. Setiap pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran membaca dicatat oleh kolaborator dalam sebuah catatan lapangan. Selama tindakan, aktivitas siswa selalu dipantau dan diberi skor sesua kriteria yang ditentukan. Sementara itu, untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menemukan gagasan utama paragraf dilakukan uji kompetensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan diterapkannya metode inkuiri dalam pembelajaran membaca, ada peningkatan aktivitas dan kemampuan menemukan gagasan utama paragraf. Pada pembelajaran sebelum tindakan, aktivitas siswa mempunyai skor rata-rata atau mean 10,81 meningkat menjadi 13,68 pada tindakan siklus I, dan meningkat lagi menjadi 14,95 pada siklus II. Dilihat dari segi hasil, pembelajaran membaca dengan menggunakan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa berupa kemampuan menemukan gagasan utama paragraf. Skor rata-rata uji kompetensi sebelum tindakan 6,04, meningkat menjadi 7,86 pada uji siklus I, dan meningkat lagi menjadi 8,32 pada uji siklus II.Kata Kunci: aktivitas siswa, gagasan utama paragraf, metode inkuiri. The implementation of inquiry methods in the reading learning to improve the activity and ability on finding the main idea AbstractThis research is action research that aims at increasing the activity and the ability to find the main idea of a paragraph through the implementation of the inquiry methods in the reading learning. Data collected by way of observation, interviews, check list, and competency tests. Each execution of actions in reading learning was recorded by collaborators in a field note. During the action, active students were closely monitored and scored according to the criteria specified. In the meantime, a competency test was given to find out the the students' skills in finding the main idea of the paragraph. The results of this study indicate that there is an improvement in the student’s activity and the ability to find the paragraph main idea. In The learning prior to the action, the student’s activity had an average score of 10.81 and increased to 13.68 in the first cycle of action and increased again to 14.95 in the second cycle. In terms of performance, the inquiry method could improve student’s ability to find the paragraph main idea. The competency average score was 6.04 before the action and increased to 7.86 in the first cycle test, and increased again to 8.32 in the second cycle test.Keywords: student’s activeness, the paragraph main idea, inquiry method
KESEPADANAN MAKNA SOSIOKULTURAL TERJEMAHAN LAKON LUBDAKA BUKU THE INVISIBLE MIRROR Andayani, Ni Putu Tisna
LingTera Vol 3, No 2: October 2016
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.324 KB) | DOI: 10.21831/lt.v3i2.11115

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi makna sosiokultural buku The Invisible Mirror, (2) menganalisis tingkat kesepadanan makna sosiokultural buku tersebut melalui kajian teoretis studi penerjemahan, (3) mencermati strategi penerjemahan yang digunakan di dalam buku tersebut bagian pertunjukan wayang tradisi lakon Lubdaka dari bahasa Bali ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dan (4) membandingkan ideologi penerjemahan yang mendominasi penerjemahan dari bahasa Bali ke bahasa Indonesia dengan ideologi penerjemahan dari bahasa Bali ke bahasa Inggris. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif. Subjek penelitian yakni buku The Invisible Mirror, Siwaratrikalpa: Balinese literature in performance. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca, simak, catat (BSC) dan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan makna-makna budaya yang teridentifikasi, wujud makna budaya sociofact dan mantifact paling sulit diatasi kesenjangan makna budayanya dibandingkan dengan wujud budaya artifact di T2 dan T3. Strategi penerjemahan yang mendominasi di T2 adalah transposisi 55,6%. Sedangkan terjemahan dari bahasa Bali ke dalam bahasa Inggris (T3) menunjukkan bahwa strategi penerjemahan yang paling banyak muncul yakni transposisi 58,8%. Hasil analisis data ideologi penerjemahan menunjukkan bahwa penerjemah cenderung menggunakan ideologi foreignisasi yakni sebanyak 61,1% di T2 dan 52,3% di T3. Dengan demikian penerjemah di T2 dan T3 berusaha untuk mempertahankan atmosfir dan cita rasa kultural Bali.Kata Kunci: kesepadanan makna, sosiokultural, analisis komponen makna, strategi penerjemahan, ideologi penerjemahan THE SOCIO-CULTURAL MEANING EQUIVALENCE ON LUBDAKA’S PLAY TRANSLATION IN THE INVISIBLE MIRROR BOOK AbstractThis study aims to: (1) identify the socio-cultural meaning of The Invisible Mirror book, (2) analyze the socio-cultural meaning equivalence degree of the book through theoretical translation studies, (3) observe the translation strategies used in the book on Lubdaka’s traditional puppet play from Balinese language into Indonesian and English, and (4) compare the ideology that dominates the translations from Balinese language into Indonesian and Balinese language into English. This research is a qualitative descriptive study and supported by quantitative data. The research subject is The Invisible Mirror book: Balinese literature in performance. The BSC data collection techniques meaning to read, observe, and note techniques were used in this study along with the triangulation technique. The data were analyzed using the intralingual equivalent methods by linking and comparing elements lingually contained in one language or in several different languages. The results showed that meanings identified, the cultural meaning forms of sociofact and mantifact are the most difficult to address the cultural meaning gaps compared to the artifact at T2 (Indonesia) and T3 (English). The translation strategies that dominate the T2 (bahasa Indonesia) are transposition at 55.6%. While the translation from Balinese into English T3 shows that the most frequent translation strategy used is transposition at 58.8%. The result of the analysis of the translation ideology shows that the translators tend to use foreignization ideology as much as 61.1% in bahasa Indonesia (T2) and 52.3% in English language (T3).Keywords: meaning equivalence, socio-cultural, componential analysis, translating strategy, translation ideology 
Pengaruh penguasaan sintaksis, tingkat pengetahuan dongeng, dan minat baca terhadap pemahaman bacaan dalam BSE Septianna Nurul Suryani
LingTera Vol 4, No 1: May 2017
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.52 KB) | DOI: 10.21831/lt.v4i1.13635

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh penguasaan sintaksis, tingkat pengetahuan tentang teori dongeng, dan minat baca terhadap pemahaman bacaan dalam BSE; (2) hubungan antara penguasaan sintaksis dan pemahaman bacaan dongeng dalam BSE; (3) hubungan antara tingkat pengetahuan tentang teori dongeng dan pemahaman bacaan dongeng dalam BSE, dan (4) hubungan antara minat baca dan pemahaman bacaan dongeng dalam BSE. Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto. Subjek penelitian adalah siswa kelas 5 SD Negeri se-Kabupaten Sleman. Sampel sebanyak 370 siswa yang ditentukan menggunakan teknik stratified cluster propotionate random sampling. Pengumpulan data menggunakan tes dan angket dengan model skala likert. Uji kualitas instrumen tes menggunakan Item Respon Theory (IRT) dengan program QUEST, dan instrumen angket dengan analisis faktor menggunakan program SPSS. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama variabel penguasaan sintaksis (X1), tingkat pengetahuan tentang teori dongeng (X2), dan minat baca (X3) terhadap pemahaman bacaan dongeng dalam BSE (Y); (2) terdapat hubungan yang signifikan antara variabel  penguasaan sintaksis (X1) dan pemahaman bacaan dongeng dalam BSE (Y); (3) terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat pengetahuan tentang teori dongeng (X2) dan pemahaman bacaan dongeng dalam BSE (Y); dan (4) terdapat hubungan yang signifikan antara variabel  minat baca (X3) dan pemahaman bacaan dongeng dalam BSE (Y). The effect of syntax mastery, knowledge of tale theory, and reading interest on the comprehension in school e-books AbstractThis research has four purposes. The four purposes include: (1) the effect of syntax mastery, knowledge of tale theory, and reading interest on the comprehension of the tales in school e-books; (2) the correlation between syntax mastery and the comprehension of tales in school e-books; (3) the correlation between knowledge of tale theory and the comprehension of tales in school e-books, and (4) the correlation between reading interest and comprehension of tales in school e-books. This research is an ex-post facto study. The subject was grade 5 students of state elementary schools in Sleman Regency. A sample of 370 students was established using stratified cluster propotionate random sampling technique. The data were collected using tests and questionnaires with the Likert scale model. The quality of the tests was validated by means of Item Response Theory (IRT) using the QUEST program, and the questionnaires were validated by means of the factor analysis using the SPSS program. The data analysis technique used in this research was multiple regression and followed by partial correlation. The result of the analysis shows that: (1) there is a significant effect of syntax mastery (X1), knowledge of tale theory (X2), and reading interest (X3) on the comprehension of tales in school e-books (Y); (2) there is a significant effect of syntax mastery (X1) on comprehension of tales in school e-books (Y); (3) there is a significant effect of knowledge of tale theory (X2) on comprehension of tales in school e-books (Y); and (4) there is a significant effect of reading interest (X3) on comprehension of tales in school e-books (Y).
PENGGUNAAN ALIH KODE (CODE SWITCHING) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI MA MU’ALLIMAAT MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Rahmina Rahmina; Roswita Lumban Tobing
LingTera Vol 3, No 2: October 2016
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.111 KB) | DOI: 10.21831/lt.v3i2.6314

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis penggunaan alih kode yang terjadi dalam pembelajaran bahasa Inggris, dan (2) faktor yang melatarbelakangi terjadinya penggunaan alih kode dalam pembelajaran bahasa Inggris di MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang guru dan 175 siswa kelas X. Objek dalam penelitian ini adalah tuturan penggunaan alih kode yang meliputi  jenis alih kode dan faktor yang melatarbelakangi terjadinya penggunaan alih kode dalam pembelajaran bahasa Inggris di MA Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan alih kode dalam pembelajaran bahasa Inggris di MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta terjadi sejumlah 166 data. Selanjutnya, seluruh data terbagi dalam 2 jenis alih kode, yaitu; (1) intra-sentential code switching terjadi sejumlah 61 data (37%), dan (2) inter-sentential code switching terjadi sejumlah 105 data (63%). Berikutnya, faktor yang melatarbelakangi terjadinya penggunaan alih kode dalam pembelajaran bahasa Inggris terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor linguistik dan faktor non-linguistik. Faktor yang paling dominan melatarbelakangi terjadinya alih kode adalah faktor linguistik dari segi kurangnya penguasaan bahasa Inggris yang dimiliki oleh siswa.Kata kunci: alih kode, pembelajaran bahasa Inggris THE USE OF CODE SWITCHING IN ENGLISH LANGUAGE LEARNING AT MA MU’ALLIMAAT MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA. AbstractThis research aims to describe: (1) the types of code switching in English language learning, and (2) the background factors in using code switching in English language learning  at MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. This research was descriptive-qualitative. The subjects were 2 English teachers and 175 students of X grade. The objects were the utterances of code switching which include the types of code switching and the background factors in using code switching in English language learning at MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. The result of the research shows that the use of code switching in English language learning at MA Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta is 166 data. All data are divided into 2 types of code switching. They are as follows: (1) intra-sentential code switching is 61 data (37%) and (2) inter-sentential code switching is 105 data (63%). Next, the background factors in using code switching in English language learning are linguistic and non-linguistic factors. The dominant background factor in using code switching in English language learning is the linguistic factor in the lack of student capability in English.Keyword: code switching,  English language learning
Tindak tutur bertanya dosen dalam pembelajaran bahasa Inggris pada jurusan bahasa Inggris di STKIP Yapis Dompu Ety Haerunnisa
LingTera Vol 4, No 1: May 2017
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.736 KB) | DOI: 10.21831/lt.v4i1.13585

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur bertanya dosen dalam proses pembelajaran pada jurusan bahasa Inggris di STKIP YAPIS Dompu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan naturalistik. Subjek penelitian ini adalah tiga orang dosen yang mengajar pada jurusan bahasa Inggris semester IV di STKIP YAPIS Dompu, sedangkan objek penelitiannya adalah unit tindak tutur bertanya dosen dalam proses pembelajaran bahasa Inggris semester IV di STKIP YAPIS Dompu. Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat beberapa bentuk tindak tutur bertanya dosen dalam proses pembelajaran pada jurusan bahasa Inggris di STKIP YAPIS Dompu, (a) bentuk tindak tutur langsung literal, (b) bentuk tindak tutur langsung tidak literal, dan (c) bentuk tindak tutur tidak langsung literal, (2) terdapat beberapa fungsi tindak tutur bertanya dosen dalam proses pembelajaran pada jurusan bahasa Inggris di STKIP YAPIS Dompu, yaitu (a) meminta, (b) menguji, (c) mengkonfirmasi, (d) menawarkan, (e) memerintah, (f) memotivasi, (g) menegur, dan (h) mengapersepsi. Lecturers’ speech acts in asking questions in English class at English Departement in STKIP Yapis Dompu AbstractThis study aims to know and describe the forms and the function of lecturers’ speech acts in asking questions at semester IV of English Departement in STKIP YAPIS Dompu. The research design of this study was descriptive qualitative using naturalistic approach. The research subjects were the three lecturers while the objects were the lecturers’ speech acts in asking questions at semester IV of English Department in STKIP YAPIS Dompu. The results of the research are as follows: (1) there are some forms of lecturers’ speech act in asking questions at semester IV of English Departement in STKIP YAPIS Dompu, such as, (a) literal forms of direct speech act, (b) nonliteral forms of direct speech act, and (c) literal forms of indirect speech act, (2) there are some functions of lecturers’ speech act in asking questions at semester IV of English Departement in STKIP YAPIS Dompu, such as, (a) to ask, (b) to test, (c) to confirm, (d) to offer, (e) to command, (f) to motivate, (g) to reprimand, and (h) to construct apperception.
An evaluation on meaning of bahasa Indonesia dubbing found in Spongebob Squarepants cartoon based on linguistic, cultural, and children’s literature aspects Yuni Savitri Maulani; Sufriati Tanjung
LingTera Vol 4, No 2: October 2017
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.796 KB) | DOI: 10.21831/lt.v4i2.5720

Abstract

This research is in the scope of the translation evaluation of Spongebob Squarepants based on linguistic, culture and children literature aspects. This study aimed to evaluate: (1) Both of appropriate and inappropriate meaning based on linguistic aspects  which consist of: grammatical hierarchy and translation type in Spongebob Squarepants dubbing, (2) The meaning leads to the gay and capitalism cultural aspects in Spongebob Squarepants dubbing, and (3) The unlogic meaning to children's literature aspect in Spongebob Squarepants dubbing.This research is a descriptive-qualitative method, with the subject is Bahasa Indonesia dubbing's Spongebob Squarepants while the object is meaning evaluation on linguistic, cultural and children literature. The data analysis uses Milles and Hubberman (1992) The research results are: (1) Based on linguistic aspect is taken from 7 dialogues of Spongebob Squarepants Bahasa Indonesia dubbing of Newmark's, the meaning has been good overall, because they no inappropriateness or translation error in word, phrase, clause and sentence. which is a lot of inappropriate meaning so that it causes a total error meaning (neither semantic sentence nor communicative), (2) The cultural aspect related to gay and capitalism cultural taken from  dialogues of Spongebob Squarepants Bahasa Indonesiadubbing, in accordance with one of Newmark's criterion that is the culture uses target language culture. Later, the most dominant of gay cultural are in episodes 5 and 6, example: Sandy: A Citylacra SpongeBob: Sandy, please..the language! While capitalism is in episodes 1 and 3, example: We're getting a goermet chef from the chef exchange program and I'm going to raise me price to the roof, and (3) Based on children's literature aspect taken from dialogues of Spongebob Squarepants which are not related to its elements in accordance with Kennedy's criterion mostly about: the sea world theme as if land world, illogic sea creatures such as: a sponge, a computer,, and a squirrel, and also the setting about American terms applied in seabed.
Penerjemahan nama persona dalam Novel Tintentod karya Cornelia Funke Fanidya Hikhmatus Syiam; Pratomo Widodo
LingTera Vol 6, No 2: October 2019
Publisher : Department of Applied Linguistics, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lt.v6i2.27081

Abstract

Dalam penelitian penerjemahan ini akan dikaji tentang nama persona dalam novel fantasi berjudul Tintentod karya Cornelia Funke. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nama persona serta hasil terjemahannya, mengklasifikasi nama persona tersebut berdasarkan kategorisasi nama serta menganalisis teknik penerjemahan yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah novel Tintentod berbahasa Jerman serta novel terjemahannya yang berbahasa Indonesia berjudul Tintentod dan berbahasa Inggris berjudul Inkdeath. Data dalam penelitian ini adalah satuan lingual yang berupa nama persona. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat. Teknik analisis yang digunakan adalah padan translasional. Dari hasil penilitian didapatkan: Pertama, terdapat 104 nama persona dari 78 tokoh di dalam novel Tintentod. Kedua, 65.3% nama persona yang ada dalam novel Tintentod termasuk dalam kategori nama depan dan nama pemberian. Ketiga, teknik transfer paling sering digunakan dalam penerjemahan nama persona baik dari bahasa Jerman ke Indonesia maupun bahasa Jerman ke Inggris. Perbedaannya teknik transfer lebih dominan dalam penerjemahan berbahasa Indonesia yakni 54.8% sedangkan pada penerjemahan berbahasa Inggris terdapat dua teknik yang sering digunakan yakni teknik trasfer sebesar 44.2% dan teknik diterjemahkan sebesar 43.2%. The translation of personal names in Tintentod Novel by Cornelia Funke AbstractThis study explores the translation of personal names in a fantasy novel that originally titled Tintentod and written by Cornelia Funke. This study aimed to investigate how personal names rendered into Indonesian and into English, to determine the names categorization of the personal names that found in novel and to analyze the translation techniques that used to translate the texts. This research was a descriptive qualitative. This study draws its data from novels originally written in German and translated into Indonesian titled Tintentod and into English titled Inkdeath. The data were linguistic units containing personal names. The data were collected through observations and note taking technique. The analysis technique was a translational. The research results are: (1) There are 107 personal name and 78 character found in this research. (2) they are classified into three categories, 65.3% of the personal names are included in the first categories. they are classified into first name and giving name category.(3) The transfer technique is mostly used in the personal name translation both from German into Indonesian and into English. The transfer technique is more dominant in Indonesian than in English. There are two translation techniques used in English, transfer technique 44.2% and translated technique 43.2%.

Page 11 of 22 | Total Record : 215