cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
arabiyah@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jln. H. M. Yasin Limpo No. 36 Romangpolong, Samata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Shaut Al-'Arabiyah
ISSN : 2354564X     EISSN : 25500317     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Shaut Al-'Arabiyah published twice a year since 2013 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Arabic Education, Hadits, and Other Arabic Studies. This journal is published by the Arabic Education Department, Faculty of Education and Teachers Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 290 Documents
Kaidah Perubahan Bentuk Isim Mufrad Menjadi Bentuk Mutsana’ dan Bentuk Jama’ Rappe Rappe
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2704

Abstract

Tulisan ini mengungkapkan tentang kaidah perubahan bentuk mufrad menjadi bentuk mutsanna’ dan bentuk jama’ dalam bahasa Arab dengan pokok pembahasanya adalah bagaimana kaidah perubahan isim mufrad menjadi isim mutsanna’ dan bagaimana perubahan isim mufrad menjadi isim jama’?.Isim mufrad  adalah seluruh kata bahasa Arab bermakna ‘tunggal’ yang bukan bukan fi’il dan bukan pula huruf, isim mufrad dapat berubah menjadi isim mutsanna’ yang bermakna ‘dua’ dengan menambahkanانِ  atauيْنِ  pada akhir kata mufradnya.Dan isim mufrad juga dapat berubah bentuk menjadi isim jama’, baik jamak muizakkar, jamak muannats, maupun jama’ taksir.  Perubahan isim mufrad menjadi  jama’muzakkar setelah ditambahkanوْنَ  atau يْنَ pada akhirnya, perubahan isim mufrad menjadi jama’ muannats setelah ditambahkanات  pada akhirnya, dan perubahan isim mufrad menjadi jama’ taksir setelah dirubah bentuk mufradnya dengan cara menambahkan atau mengurangi huruf mufradnya.
Pemikiran Pendidikan Islam Ibnu Hazm Mawardi Djalaluddin
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1258

Abstract

Secara fitra manusia dilahirkan ke dunia ini tidak mempunyai pengetahuan tentang kehidupannya. Dalam melawan kegundahan, manusia mencari dan mencapai pemenuhan hajat hidupnya melalui ilmu. Tulisan ini mengetengahkan pengembaraan manusia mencari ilmu.san Ibnu Hazm dalam hubungan ini memberikan solusi bahwa dalam mencari ilmu, manusia dibantu oleh empat kekuatan, yaitu indra, asumsi, intuisi, dan akal pikiran. Metode dalam memperoleh ilmu menurut beliau dapat ditempuh melalui tiga cara: mendengar, membaca, menulis - mengawasi - observasi.
Model Pembelajaran Metaphorming Bakri Anwar
Shaut al Arabiyyah Vol 7 No 1 (2019): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v7i1.9915

Abstract

Suatu pertanyaan bagi para pendidik tentang kemandekan dalam sistim pendidikan kita. Banyak siswa mengeluh dengan banyaknya pelajaran yang membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya semua secara tuntas. Dengan kata lain bahwa guru dan murid terbebani dengan rutinitas yang sangat bertumpuk dengan seiring berjalannya waktu yang tanpa membuahkan hasil untuk anak didik. Dalam hal lain pimpinan sekolah memengang keputusan untuk mencari cara untuk menemukan kebermaknaan dalam pembelajaran. Semua ahli dalam bidang pendidikan dan psikologi mencari cara bagaimana menggali potensi siswa yang ada sehingga menjadi pandai dan jenius. Dan bagaimana cara menggali potensi sehingga menjadi siswa yang optimal untuk mendapat manfaat dalam proses belajar. Guru juga dituntut untuk memfasilitasi siswa sehingga menjadi siswa yang jenius yang bermanfaat bagi dirinya dam masyarakat sekitarnya. Maka metode metaphorminglah yang menjawab dan memproses siswa tersebuat dan menggali potensi yang ada dalam dirinya, dengan guru dapat mengoptimalkan krestifitas. Guru mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikirannya dengan mengkomunikasikan kepada siswa denga jelas dan baik. Kata metaphorming adalah kata yang beasal dari bahasa Yunani yaitu meta dan phora yaitu tindakan yang mengubah sesuatu yang bermakna. Ini di awali dengan memindahkan makna yang baru dan mengaosiasikan beberapa ide menjadi suatu ide yang baru. Dapat dikatakan bahwa metaphorming adalah pemikiran yang mendalam dan kreatif. Ini adalah awal dari pemikiran yang jenius. Pemikiran inilah yang memiliki tujuan yang riil dan bermanfaat yang menggunakan seluruh daya upaya semua organ tubuh kita sehingga menjadi suatu kesatuan menuju pemikirian yang essensial. Pemikiran inilah yang mengantar siswa menuju kepada kecepatan berfikir, berkreasi, menemukan suatu hal yang baru dan dapat menghubungkan sesuatu yang terlihat, sehingga saling terkait dan bermuara kepada penyelesaian masalah. Pembelajarn ini meningkatkan dan memperkaya pengalaman belajar antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa dan sebagainya. Kita lahir dengan kemampuan berkreasi, menggali potensi, sehingga menemukan yang bermakna karena dalam diri manusia terdapat belahan otak manusia baik kiri maupun kanan dimana belahan tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. Tugas belahan kiri yang utama adalah untuk bahasa, kata-kata, logika, matematika, urutan analisis. Sedangkan tugas belahan kanan adalah berpungsi selain dari bahasa, yang meliputi kreatifitas, irama, kesadaran ruang, imajinasi, melamun warna dan lain-lain. Dalam pembelajaran semua belahan otak harus dapat dikembangkan dan dihubungkan, bukan hanya satu belahan otak saja yang dikembangkan. Oleh karena itu metaphormimg adalah membuat koneksi dan keterkaitan antara analogi, simbol, visualisasi, hipotesa, bermain peran, analisis dan kreativitas. Ada empat tahap dalam metaphorming yaitu :Koneksi (connection), Penemuan ( discovery) Penciptaan ( invention) dan Aplikasi (application). Dimana peserta didik diharapkan mampu melintasi dan memahami keterkaitan antara bahan yang sedang dipelajari dengan bahan yang ada atau yang belum terpikirkan oleh orang lain. Kemampuan inilah yang pada akhirnya memberikan ruang kepada siswa untuk mengeksplorasi setiap pokok bahasan melalui proses befikir yang melibatkan semua belahan otak
Kemunduran Ilmu Pengetahuan dan Filsafat dalam Dunia Islam Ibrahim Nasbi
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i2.1225

Abstract

Islam adalah agama yang sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk senantiasa berpikir yang merupakan sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, salah satu ciri dari dunia Islam adalah penguasaan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat hingga mencapai suatu puncak kejayaan. Dalam bahasa lain, dunia Islam mejadi kiblat ilmu pengetahuan.Suatu fakta histories bahwa pemikiran dunia Islam mengalami suatu kemajuan yang hebat dalam waktu antara abad VIII dan abad XIII yang memberikan hasil nyata kepada Eropa.Namun kejayaan Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, akhirnya hilang dengan dihancurkannya pusat studi Islam di Baghdad oleh bangsa Mongol. Selain itu, factor intern umat Islam juga menjadi penyebab mundurnya ilmu pengetahuan dan filsafat. Hal ini terwujud dalam perbedaan antara fuqaha dan sufiyah, demikian pula antara Mu’tazilah dan Asya’ariyah. Kemunduran pemikiran Islam mengalami kemunduran setelah abad XIII M hingga sekarang.
أحاديث النبى صلي الله عليه وسلم في تقويم أخطاء الأطفال في الأخلاق Munir Munir
Shaut al Arabiyyah Vol 1 No 1 (2013): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v1i1.188

Abstract

ABSTRAKHadis-hadis yang terdapat dalam tulisan ini memaparkan tentang prilaku abi saw. dalam meluruskan kesalahan yang dilakukan anak pada beberapa hal terkait pada aspek akhlak dengan bijaksana sebagai berikut: (1) menegur anak yang melempar buah kurma, dengan sabda beliau "wahai anak jangan lagi berbuat seperti itu, makanlah buah kurma yang sudah jatuh seraya mendo'akannya sambil mengusap kepalanya, Ya Allah kenyangkanlah anak ini"; (2) Beliau makan bersama anak-anak sambil meluruskan kesalahan mereka ketika mengambil makanan secara serampangan dan menyuruh mereka  makan dengan membaca basmalah dan makan dengan tangan kanan serta mengambil makanan yang terdekat dari mereka; (3) Membiasakan anak menundukkan pandangan dan menjaga auratnya; (4) Membantu dan mengajar anak cara menguliti daging kambing. Ketika itu beliau melewati anak-anak yang sedang menguliti daging kambing dengan cara yang kurang benar lalu Nabi meminta izin kepada mereka untuk mengajari mereka dengan cara memperlihatkan bagaimana menguliti daging kambing secara baenar; (5) Menegur anak yang mencukur sebagian rambut kepalanya dan meninggalkan sebagian yang lain, dengan menyatakan "wahai nak, cukurlah seluruh rambut kepalamu atau membiarkannya seluruhnya (tidak mencukurnya
Linguistiq Al Qur’an Amrah Kasim
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2682

Abstract

-newline"> Kajian linguistiq Al-Qur’an dalam tulisan ini adalah sebuah kajian komperhensif terpadu dan sistematika bertujuan membahas Al-Qur’an dari sisi linguistiq dan penggunaannya. Al-Qur’an adalah wahyu ilahiyah, pembumian wahyu dalambeingkai kata dalam lafadz danstruktur kalimat yan mengandung ma’na dengan pesan-pesan nilai yang dikemas dalam untaian ayat-ayat yang menyebar sebanyak enam ribu enam ratus ayat. Dari analitas tersebut diatas sehingga dikatakan bahasa Al-Qur’an adalah sebuah koleksi linguistiq yang sangat apik teruntai dalam rangkaian ayat secara struktural terdiri dari kalimat induk dan awal kalimat, frasa klausa yang memerlukan kajian serius untuk memahaminya dan untuk bisa menyimak kemudian menempatkan wahyu ilahiayah secara proporsional.
Metode Qirā’ah dalam Pembelajaran Keterampilan Reseptif Berbahasa Arab untuk Pendidikan Tingkat Menengah Hidayatul Khoiriyah
Shaut al Arabiyyah Vol 7 No 2 (2019): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH (IN PRESS)
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v7i2.10805

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi metode qirā’ah dalam pembelajaran keterampilan reseptif berbahasa Arab untuk pendidikan tingkat menengah.  Metode yang digunakan adalah metode kajian pustaka (library research), sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan menelaah dan mengeksplorasi beberapa artikel jurnal, buku-buku, dan beberapa sumber data atau informasi lainnya yang dianggap relevan dengan kajian. Adapun hasil dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan metode qirā’ah merupakan salah satu alternatif bagi guru dalam mengajarkan keterampilan reseptif berbahasa Arab (mahārah al-istimā’ dan mahārah al-qirā’ah). Dalam pembelajaran keterampilan menyimak (mahārah al-istimā’) siswa mampu memahami isi dari apa yang telah disimak dan mengungkapkan kembali lewat bahasanya baik secara lisan maupun tulisan. Adapun dalam pembelajaran keterampilan membaca (mahārah al-qirā’ah) siswa mampu membaca teks Arab dengan fasih, mampu menerjemahkan dan mampu memahaminya dengan baik dan lancar.
Hadis Tarbawi Tentang Teman Bergaul Ammar Munir
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1254

Abstract

Menjawab problematika pergaulan dewasa ini, Islam dituntut untuk memberikan solusi dalam mengurai tindak kriminal massif yang marak terjadi dimasyarakat. Pembinaan nilai-nilai islam terhadap pribadi/individu kurang ampuh, rentan pudar bahkan hilang jika telah masuk ke dalam lingkungan pergaulan/pertemanan. Kegiatan untuk saling mempengaruhi prilaku, tarik menarik pemikiran, bahkan keyakinan, tidak dapat terelakkan lagi sehingga diperlukan batasan dan kajian mendalam terhadap etika dan adab dalam mencari teman bergaul.
الاشتغال والاختصاص وأمثلتهما في الجمل Munir Munir
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i2.1221

Abstract

Isytigal adalah mengedepankan isim (isim sabiq) dan mengakhirkan ‘amilnya (fi‘il atau yang serupa pengamalannya) disibukkan tentang nashabnya isim sabiq, sebab ‘amiltersebut sudah beramal pada damir yang merujuk pada isim sabiq atau pada sababnya (lafaz mudaf pada damir isim sabiq). Contoh: "خالد أكرمته"Ikhtisash adalah menashabkan isim dengan fi‘il yang dibuang, wajib ditaqdir dengan “أَخُصُّ” atau “أَعْنِيْ”; mengkhususkan/meringkaskan hukum pada damir selain ghaib dan sesudahnya ada isim zhahir ma‘rifat yang menjadi makna dari isim damir tersebut. Contoh: "نحن - العرب - نكرم الضيف".
Nilai-Nilai Keadilan dalam Harta Warisan Islam Mawardi Djalaluddin
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2705

Abstract

Islam datang membawa panji keadilan persamaan kedudukan laki-laki dan perempuan, anak-anak, orang dewasa, orang yang tua renta, suami, isteri saudara laki-laki dan saudara perempuan sesuai tingkatan masing-masing. Dari berbagai ketentuan dalam hukum kewarisan Islam, setidaknya ada lima azas (doktrin) yang disepakati sebagai sesuatu yang dianggap menyifati hukum kewarisan Islam, yaitu bersifat Ijbari, bilateral, individual, keadilan yang berimbang dan akibat kematian. Hal yang paling menonjol dalam pembahasan tentang keadilan menyangkut hukum kewarisan Islam adalah hak sama-sama dan saling mewarisi antara laki-laki dan perempuan serta perbandingan 2 : 1 (baca 2 banding 1) antara forsi laki-laki dan perempuan. Asas keadilan dalam hukum kewarisan Islam mengandung pengertian bahwa harus ada keseimbangan antara hak yang diperoleh dan harta warisan dengan kewajiban atau beban kehidupan yang harus ditanggungnya/ditunaikannya diantara para ahli waris.

Page 7 of 29 | Total Record : 290