cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
arabiyah@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jln. H. M. Yasin Limpo No. 36 Romangpolong, Samata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Shaut Al-'Arabiyah
ISSN : 2354564X     EISSN : 25500317     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Shaut Al-'Arabiyah published twice a year since 2013 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Arabic Education, Hadits, and Other Arabic Studies. This journal is published by the Arabic Education Department, Faculty of Education and Teachers Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 290 Documents
Makna Konotatif La`ib dan Lahwu dalam Konsep Al-Qur`an Nurfitriyani Hayati
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2691

Abstract

Kata la’ib dan lahwu dalam konsep al-Qur`an yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti bermain-main dan bersenda gurau ini seringkali dijadikan sebagai penggambaran kehidupan dunia. Bahkan kedua kata tersebut diasosiasikan sebagai bentuk kebiasaan orang-orang kafir. sehingga dalam konsep al-Qur`an kedua kata tersebut memiliki konotasi lain selain makna dasar yang dimilikinya. Untuk memahami lebih jauh makna konotatif dalam kedua kata tersebut penulis menggunakan pendekatan referensial semantik guna mengetahui acuan yang digunakan oleh kata la’ib dan lahwu itu sendiri dalam konsep al-Qur`an. Adapun hasil yang ditemukan penulis adalah kata la’ib dan lahwu memiliki gejala pengonotasian karena adanya acuan dari hasil pengamatan terhadap fakta yang dimiliki al-Qur`an perihal dunia dan orang-orang kafir. Dalam konsep al-Qur`an, kata la’ib dan lahwu diasosiasikan sebagai kebiasaan orang-orang kafir dan pengibaratan atas kehidupan dunia dengan jangka waktu pendeknya. Kata la’ib dan lahwu mengacu pada kegiatan yang sia-sia dan hanya membuat pelakunya lengah terhadap hal yang lebih penting, sehingga kedua kata ini memiliki makna konotatif yang negatif dalam al-Qur’an.
التمييز Abu Dzar Al-gifari
Shaut al Arabiyyah Vol 7 No 2 (2019): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH (IN PRESS)
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v7i2.11289

Abstract

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut : Pertama amyīz yaitu isim nakīrah yang dinasabkan untuk menjelaskan maksud kalimat terdahulu yang diragukan maksudnya. Atau dengan arti yang lain, setiap isim nakirah yang mengandung makna  من(min) untuk menjelaskan kata yang sebelumnya secara umum. Tamyīz merupakan isim mansub yang menjelaskan kata-kata benda yang masih samar-samar pengertiannya dan yang menashabkannya adalah kata-kata yang sebelumnya berupa fi’il atau ‘adad (kata bilangan, atau kata-kata miqdar (ukuran, timbangan, takaran dan lain). Kedua Tamyiz terbagi dua bagian, yaitu : (a)Tamyīz mufrad atau zāt, yaitu tamyīz yang menghilangkan kesamaran kalimah isim sebelumnya yang menunjukkan ukuran dan hitungan. Dengan kata lain, tamyīz zāt merupakan kalimat yang menjelaskan isim mubham yang diucapkan/dilafazkan. (b)Tamyīz nisbah atau jumlah, yaitu tamyīz yang menghilangkan kesamaran nisbah dalam jumlah. Dengan kata lain, tamyīz nisbah merupakan isim nakirah yang memperjelas suatu jumlah yang masih samar nisbahnya. Adapun syarat-syarat tamyīz sebagai berikut : (1)Tamyiz harus berupa isim nakirah, (2) Keadaan kalimatnya harus sempurna.
Musibah Perspektif Hadis Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1257

Abstract

Musibah yang dimaksudkan sebagai sesuatu yang menimpa, mencakup hal-hal yang  buruk maupun yang baik., tetapi kebanyakan orang memandang  sesuatu itu sebagai musibah jika dalam bentuk bencana dan malapetaka (yang tidak disukai), dan sedikit orang yang melihat dan menyadari berbagai kenikmatan –yang tidak disikapi dengan baik- sebagai  suatu musibah  yang dapat menggoyahkan dan merusak keimanan.Dari tujuh macam musibah yang dapat menimpa manusia menurut hadis Rasulullah saw., satu yang menyangkut fisik yaitu naṣab, dan  enam lainnya (waṣab, wahm, huzb, ażả, dan al-syaukah yusyảkuha), menyangkut fisik dan non fisik sekaligus. Ketujuh jenis musibah itu pada dasarnya tidak disukai oleh manusia dan tidak disebutkan tentang jenis musibah yang disukai. Rasulullah saw. Hanya menggambarkan sikap muslim yang begitu luar biasa dalam menyikapi kesusahan dan kebahagiaan yang menimpanya., dimana untuk yang pertama yaitu musibah berupa kesusahan dan kesedihan disikapinya dengan kesabaran, dan musibah berupa kesenangan disikapinya dengan kesyukuran, dan kedua sikap itu baik untuknya.Yang dituntut dari seorang muslim manakala ia mendapatkan musibah yang tidak disenangi adalah bersabar pada saat hantaman (saat-saat) pertama  (al-ṣadamat al-ulả), lalu ditindaklanjutinya dengan istirjả’ (inna lillảh wa inna ilaihi rảji’un), bahwa sesungguhnya kita dari Allah dan sesungguhnya kepada-Nya jualah kita akan kembali, sehingga tidak ada yang perlu dirisaukan secara berlebihan.
Al-‘Adad wa al-Ma’dūd Abu Dzar al-Gifari
Shaut al Arabiyyah Vol 7 No 1 (2019): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v7i1.9779

Abstract

Al-‘Adad adalah sesuatu yang menunjukkan terhadap hitungan atau bilangan, al-‘Adad ada dua macam yaitu Al-‘Adad al-Aṣlī yaitu apa yang menunjukkan terhadap jumlah sesuatu yang dihitung. Al-‘adad al-aṣlīada empat jenis yaitu Mufrad, mencakup bilangan dari واحد sampai عشرة, termasuk juga المئة, الألف, dan yang serupa seperti المليون dan المليار, Murakkab, mencakup bilangan dari أحدعشر sampai تسعةعشر, ‘Uqūd, yaitu bilangan عشرون, ثلاثونsampai تسعون, Ma’ṭūf, dari واحدوعشرون hingga تسعة و تسعون. Sedangkan Al-‘Adad al-Tartībī yaitu apa yang menunjukkan bilangan bertingkat. Al-‘Adad al-Tartībī ada empat jenis juga yaitu Mufrad, dari أول sampai عاشر, Murakkab, dari حادىعشر sampai تاسععشر, ‘Uqūd, yaitu عشرون sampai تسعون, dan mengikut juga المئة, الألف, المليون dan المليار, Ma’ṭūf, dari حادوعشرون sampai تاسعوتسعون. Selain bilangan ada juga kata dalam bahasa Arab, tidak menyebut bilangan tapi maknanya seperti bilangan.     
Konsep Metode Tahlili dalam Penafsiran Al-Qur’an La Ode Ismail Ahmad
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i2.1224

Abstract

Salah satu metode tafsir yang sering digunakan oleh para pengkaji al-Qur’an adalah metode tahlili. Metode Tahlili adalah metode menafsirkan al-Qur’an yang berusaha menjelaskan al-Qur’an dengan menguraikan berbagai seginya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh al-Qur’an. Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan mushaf al-Qur’an, menjelaskan kosa kata, konotasi kalimatnya, latar belakang turunnya ayat, kaitannya dengan ayat lain, baik sebelum maupun sesudahnya (munasabah), dan tidak ketinggalan pendapat-pendapat yang telah diberikan berkenaan dengan tafsiran ayat-ayat tersebut, baik yang disampaikan oleh Nabi saw., sahabat, para tabi’in maupun ahli tafsir lainnya, dan menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak dan lain sebagainya.Tujuan utama para ulama menafsirkan al-Qur’an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukjizatan al-Qur’an, sesuatu yang dirasa bukan menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini. Karena itu perlu pengembangan metode penafsiran karena metode ini menghasilkan gagasan yang beraneka ragam dan terpisah-pisah
المعرفة واستعمالها في اللغة العربية Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 1 No 1 (2013): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v1i1.187

Abstract

المعرفة واستعمالها في اللغة العربيةبقلم: هادينج* ABSTRAK Bahasa termasuk bahasa Arab berfungsi sebagai alat komunikasi yang dengannya manusia dapat mencurahkan isi hati, pikiran dan perasaannya serta bertukar pikiran dan pandangan antara dua orang atau antar anggota kelompok.Sebagai nikmat pemberian Allah swt. yang terpelihara dengan terpeliharanya al-Qur’an, bahasa Arab memiliki keistimewaan-keistimewaan jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia. Di antara keistimewaan-keistimewaan itu adalah dijadikanya sebagai bahasa al-Qur’an dan al-Sunnah sebagi dua sumber utama ajaran Islam, dan sebagai bahasa persatuan dunia Islam.Selain itu, bahasa Arab juga teristimewa dengan aneka macam ilmunya (علوم اللغة العربية) dan kaedahnya, dimana dengannya para penuturnya dan siapa saja yang menggunakannya dapat menghindari kesalahan-kesalahan dalam penggunaannya, baik secara lisan maupun tulisan.Dan di antara   ilmu itu adalah ilmu qawa’id al-Nahwi atau tata bahasa bagaimana menempatkan kata kata serta perubahannya dalam rangka menyusun kalimat dalam bahasa Arab sesuai dengan porsi dan posisinya masing-masing serta ketentuan terkait dengannya secara baik dan benar, termasuk di dalamnya ketentuan atau aturan berkaitan dengan isim-isim makrifah dengan berbagai bentuknya; yaitu makrifah dengan alif dan lam, makrifah dengan isim ‘alam, makrifah dengan isim isyarah, makrifah dengan isim dhamir, makrifah dengan isim mauhshul, dan makrifah karena sandar atau disandarkan kepada isim makrifah.    Kata Kunci: Bahasa Arab, Qawa’id, dan makrifah. المراجعالقرآن الكريم[1] http://arabic1lan.arabblogs.com/archive/2008/2/484791.html, Diakses Senin, 4/11/13 [1]http://www.islamstory.com/diakses, Rabu, 06-08-2013.الأنصاري، جمال الدين عبد الله بن هشام، شرح قطر الندى وبلّ الصدى، (بيروت-لبنان، 2008).ضيف، شوقي ، تجديد النحو(الطبعة الثانية؛ القاهرة: دار المعارف، 1982).عمر، أحمد مختار وأصدقائه، النحو الأساسي, (الطبعة الرابعة؛ الكويت: دار السلاسل، 1994.الغلاييني، الشيخ مصطفى,جامع الدروس العربية، الجزء الأول  (الطبعة الأولى؛ مصر: دار ابن هشام،، 2005).نعمة، فؤاد، ملخص قواعد اللغة العربية (الطبعة الثالثة والعشرون، القاهرة: المكتب العلمي للتاليف والترجمة بدون سنة). النقراط، عبد الله ، الشامل في العربية، (الطبعة الأولى؛ بنغازي – ليبيا: دار الكتب الوطنية، 203).   
Hadis Ḍa’īf (Sebab-Sebab Ke-Ḍa’īf-an dan Ke-Ḥujjah-annya Menurut Ulama Ahli Hadis) Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2683

Abstract

Hadis yang mencakup perkataan, perbuatan, taqrīr, hal ihwal serta sifat-sifat Nabi Muhammad saw., merupakan sumber kedua ajaran Islam setelah al-Qur’an. Hanya saja, untuk meyakini apakah sesuatu yang dinyatakan bersumber dari Nabi itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, perlu adanya upaya penelitian dan pengkajian  baik menyangkut kuantitas (jumlah) orang yang terlibat dalam periwayatannya berikut kualitas orang perorang yang terlibat dalam proses transformasi maupun terkait keabsahan isi atau materi beritanya itu sendiri agar seseorang tidak salah dalam memberikan penilaian dan menentukan sikap. Dan untuk melakukan pengkajian terkait kualitas suatu hadis,  pengetahuan terkait kriteria maupun syarat-syarat suatu hadis yang layak diterima atau bahkan ditolak untuk selanjutnya diamalkan merupakan suatu keharusan. Hadis ḍa’īf sebagai  salah satu jenis hadis dilihat dari segi kualitasnya menempati tingkat terendah setelah hadis sahih dan hasan dan sebab-sebab ke-ḍa’īf-an dan macam-macamnya serta bagaimana ke-ḥujjah-annya menjadi bahan diskusi dan pembahasan menarik di kalangan ulama ahli hadis antara yang menerima secara mutlak, menolak secara mutlak atau menerima dengan syarat-syarat tertentu, terutama jika dihubungkan dengan faḍā’il al-‘amal atau keutamaan beramal.
Struktur Frasa Berdasarkan Persamaan Distribusinya Dengan Golongan Kata Dalam Bahasa Arab Syindi Oktaviani R Tolinggi
Shaut al Arabiyyah Vol 7 No 2 (2019): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH (IN PRESS)
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v7i2.10313

Abstract

Frasa adalah satuan gramatika yang berupa gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam susunan kalimat. Di dalam bahasa Arab, istilah frasa tidak begitu populer di kalangan pengkaji bahasa Arab di Indonesia atau pun di dunia Arab sendiri. Ada pun istilah frasa di dalam bahasa Arab, ada yang mengartikan dengan tarkib dan ibaroh. Frasa berdasarkan persamaan distribusinya dengan golongan kata di dalam Bahasa Arab dibagi menjadi enam bagian, yaitu: Frasa nominal (اسمي), frasa adjektifal (وصفي), frasa numerial/bilangan (عددي), frasa adverbial (ظرفي), frasa preposisional (شبه جملة) dan frasa verbal (فعلي). 
Al-Nakirah wa al-Ma’rifah Hamka Ilyas
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1253

Abstract

Dalam pembahasan tentang isim, maka akan ditemukan berbagai macam kaidah-kaidah, misalnya ada kaidah isim muzakkar, dan mu’annas, isim mufrad, mutsannah dan jamak, isim nakirah dan ma’rifah. Dalam pemmaparan makalah ini yang dibahas adalah mengenai kaidah isim nakirah dan ma’rifah. Pemahaman dengan tepat dari maksud isim nakirah dan ma’rifah dalam suatu kalimat, baik kaliamat itu dalam bentuka bahasa lisan maupun dalam bahasa tulisan, seperti misalnya Alquran dan hadis, atau tulisan-tulisan arab lainnya,akan sangat mmbantu  dalam ketepatan pemberian makna pada kalimat tersebut, atau pada ayat yang terkandung dalam Alquran. Dalam makalah ini akan dikemukakan jenis-jenis dari isim nakirah dan ma’rifah dilengkapi dengan beberapa contoh yang diambil dari Alquran, serta maksud penggunaan dari dua bentuk isim tersebut.
النظري التصوري والقيم والمبادئ للأخلاق الكريمة في منظور القرآن الكريم Amrah Muhammad Qasim
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i2.1220

Abstract

This writing is entitled “....................” The writing discusses the basic principles of Al-Quran and ethics, as well as its application to human interaction with God (ubudiyah), human itself, and environment. In the Al-Quran is mentioned, that there is a balance of God’s creation, such as universe, environment, and social life. Based on this balance, God creates rules through Al-Quran, particularly ethics value and laws in order to keep the balance and to avoid disasters. Therefore, Islamic teaching could be realized in the human life, if the basic concept of Al-Quran that contains “akhlaqul karimah” (Islamic ethics) is implemented.

Page 6 of 29 | Total Record : 290