cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 3 (2015)" : 54 Documents clear
Perbandingan Kadar IL-5 dan Jumlah Eosinofil Antara Anak dan Orang Dewasa yang Terinfeksi Ascaris Lumbricoides Darmadi Darmadi; Nuzulia Irawati; Ellyza Nasrul
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.359

Abstract

Abstrak Ascaris lumbricoides pada umumnya menginfeksi anak, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa. Respon imun hospes terhadap infeksi cacing dimulai dengan teraktifasinya Th2 dengan peningkatan yang signifikan dari IL-4, IL-5, IL-9, IL-10 dan IL-13. IL-5 yang terbentuk merangsang perkembangan dan aktivasi eosinofil. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan kadar IL-5 dan jumlah eosinofil antara anak dan orang dewasa yang terinfeksi oleh Ascaris lumbricoides. Telah dilakukan penelitian secara cross sectional terhadap 16 orang anak dan 16 orang dewasa yang terinfeksi Ascaris lumbricoides. Spesimen darah dan serum anak dan orang dewasa diperiksa IL-5 metode ELISA dan jumlah eosinofil metode mikroskopis. Data dianalisis dengan uji t independent dengan hasil statistik bermakna bila p<0,05. Didapatkan rerata kadar IL-5 anak 5,90±3,61 pg/ml dan 4,10±1,98 pg/ml rerata kadar IL-5 pada orang dewasa dengan nilai p=0,092 (p>0,05), sedangkan rerata jumlah eosinofil anak 14,56±7,77% dan 8,81±4,65% rerata jumlah eosinofil orang dewasa dengan nilai p=0,018 (p<0,05). Kadar IL-5 tidak berbeda signifikan antara anak dan orang dewasa, sebaliknya jumlah eosinofil terdapat perbedaan yang signifikan antara anak dan orang dewasa. Kesimpulan hasil penelitian ini ialah jumlah eosinofil anak lebih tinggi dari pada jumlah eosinofil orang dewasa yang terinfeksi Ascaris lumbricoides. Kata kunci: IL-5, jumlah eosinofil, anak, orang dewasa, infeksi Ascaris lumbricoides Abstract The infection of Ascaris lumbricides common infect children, but it also can be occurred to adult. The immune’s host respond to the worm infection begin from the activation of Th2 by the significant increasing from IL-4, IL-5, IL-9 and IL-13. IL-5 which formed stimulate the development and eosinofil’s activation. The objective of this study was to know the comparison IL-5 degree with the total of eosinofil between the child and adult who is infected by Ascaris lumbricides. The research has been done based on the cross sectional to the 16 chidlren ascarisis and 16 adultascarisis. The ascarisis’ sample serum and blood of the child and adult have taken to check IL-5 by ELISA method and the total eosinofil by mikroskopis method. The data was analyzed by t independent test, and the statistic’s result has meaning if can be reached p<0 05. The result’s f inding is the average degree of IL-5 to the child is 5.90±3,61 pg/mL and for adult is 4.10±1.98 pg/mL, with the p score is 0.092 (p>0.05) mean while the total of eosinofil in child is 14. 56±7.77% and for adult is 8.81± 4.65% mean while the total of eosinofil for adult with the p score is 0.018 (p<0.05). Based on the checked IL-5 degree is not available the differences between child and adult. On the contrary based on the totalof eosinofil is available the differences is meaningful between child and adult. It can be concluded that there are the total increasing eosinofil to the child who infected Ascaris lumbricides than in the adult.  Keywords: IL-5, the total of eosinofil, child, adult, Ascaris infection
Pengaruh Tehnik Akupresur dan TENS Terhadap Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Nelly Karlinah; Joserizal Serudji; Iskandar Syarif
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.395

Abstract

Abstrak Pengelolaan nyeri persalinan membutuhkan asuhan sayang ibu. Diperlukan suatu manajemen nyeri dalam persalinan dengan metode non farmakologi, salah satunya akupresur dan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dengan tujuan meningkatkan rasa aman dan nyaman pada ibu bersalin.Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh tehnik akupresur dan TENS terhadap intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif. Penelitian dilakukan diwilayah kerja Puskesmas Kampar Kiri Tengah dan Puskesmas Perhentian Raja. Jenis penelitian eksperimental dengan post test only control group desain dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling. Jumlah sampel 20 responden setiap kelompok total sampel 60 responden. Data dianalisis univariat dan bivariatmenggunakan uji chi-square. Proporsi intensitas nyeri dengan kategori sedang pada kelompok intervensi akupresur lebih besar dari pada kelompok kontrol pada pembukaan serviks 4 cm.  Berdasarkan uji statistik terdapat pengaruh bermakna dimana nilai p=0,011 (<0,05). Terdapat pengaruh yang bermakna antara kelompok intervensi TENS dankontrol pada pembukaan serviks 8 cm dengan nilai p=0,011 (<0,05). Kesimpulan pengaruh akupresur lebih baik digunakan pada pembukaan 4 cm, sedangkan pengaruh TENS lebih baik digunakan pada pembukaan 8 cm.Kata kunci: intensitas nyeri, akupresur, TENS Abstract Management of pain labor pain needs safe motherhood. It needs a pain management in labor by using nonpharmacological methods, such as acupressure and Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) that may increase safety and comfortable in childbirth. The objective of this study was to determine the effect of acupressure and TENS techniques on pain intensity first stage of labor active phase. This study had been done in Kampar Kiri Tengah and Perhentian Raja health care centres. It was an experimental research study with post test only control group design by using consecutive sampling method. Each group consist of 20 respondents so total sample of 60 respondents. The data analyzed by using univariate and chi-square  test for bivariate analysis. The proportion of the pain intensity with medium category in the acupressure intervention group is better than control group at 4 cm cervical dilation. Statistically, there are significant effect whith a p value= 0,011 (<0,05). There is a significant effect between TENS intervention group and control groups at 8 cm cervical dilation with p value= 0,011 (<0,05).It can be concluded that effect of acupressure is better used at the of 4 cm cervical dilation, while the effect of TENS is better used at 8 cm cervical dilationKeywords: pain intensity, accupressure, TENS
Perbedaan Kadar Malondialdehide dan Tromboksan B2 pada Remaja dengan Dismenore dan Tanpa Dismenore Berliana Irianti; Ermawati Ermawati; Arni Amir
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.350

Abstract

Abstrak Penyebab dismenore belum semuanya diketahui, ada dugaan peningkatan proses peroksida lipid yang akan mengaktivasi mediator inflamasi pada endometrium yang menimbulkan rasa nyeri haid (dismenore). Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar malondialdehide dan tromboksan B 2  pada dismenore dan tanpa dismenore. Studi observasional ini menggunakan desain potong lintang komparatif. Subjek penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu 23 remaja dismenore dan 23 remaja tanpa dismenore dengan waktu penelitian dari Juni sampai Juli 2014. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Biomedik dan Biokimia Universitas Andalas Padang. Pemeriksaan kadartromboksan B 2  menggunakan metode ELISA dan kadar malondialdehide menggunakan metode Asam Thiobarbiturat (TBA). Hasil penelitian diperoleh bahwa rerata kadar malondialdehid pada remaja dengan dismenore yaitu 2,60±0,63 µmol/ml, rerata remaja tanpa dismenore 1,98±0,12 µmol/ml dengan probabilitas p<0,05 (0,000), sedangkan reratakadar Tromboksan B 2  pada remaja dengan dismenore 20,043±9,56 ng/ml, rerata remaja tanpa dismenore 19,222±10,79 ng/ml, dengan probabilitas p>0,05 (0,786). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan rerata kadar malondialdehid pada remaja dengan dismenore dan tanpa dismenore dan tidak terdapatperbedaan signifikan pada kadar tromboksan B 2 pada remaja dengan dismenore dan tanpa dismenore.Kata kunci: remaja, dismenore, malondialdehide, tromboksan B2 Abstract The precise cause of dysmenorrhea is still unclear, there may be increased lipid peroxidation process will activate the inflammatory mediators at endometrium that cause menstrual cramps (dysmenorrhea). The objective of this study was to determine the difference of malondialdehyde levels and thromboxane B 2  levels in dysmenorrhea and without dysmenorrhea. It was an observational study with comparative cross-sectional design. The subjects consisted of two groups, they are 23 adolescent with dysmenorrhea and 23 adolescents without dysmenorrhea, done in Juny -July 2014. Sample analysis was conducted in Laboratory of Biochemistry and Biomedical Laboratory of Andalas University Padang. The examination of Thromboxane B 2  levels used ELISA and the examination of malondialdehyde levels used a Thiobarbituric acid method. The results showed the mean of malondialdehyde levels in adolescents withdysmenorrhea was 2.60±0.63 µmol/ml, the mean level in adolescent without dysmenorrhea was 1.98±0.12 µmol/ml with probability p<0.05 (0.000), while the mean levels of thromboxane B 2  in adolescents with dysmenorrhea was 20.043±9.56 ng/ml, the mean level in adolescent without dysmenorrhea was 19.222±10.79 ng/ml, with probabilityp>0.05 (0.786). It can be concluded that there is a significant difference in the mean of malondialdehyde levels between adolescents with dysmenorrhea and without dysmenorrhea and there is no significant differences in thromboxane B 2 level between adolescents with dysmenorrhea and without dysmenorrheaKeywords: adolescent, dysmenorrhea, malondialdehyde, thromboxane B2
Hubungan Resistensi Insulin dengan Gambaran Klinis Sindrom Ovarium Polikistik Meliza Wahyuni; Eva Decroli; Putri Sri Lasmini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.385

Abstract

Abstrak Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan kelainan endokrin dan metabolik pada wanita usia reproduksi. SOPK merupakan kumpulan gejala dari amenore, oligomenore, infertilitas, obesitas, hirsutisme, acne, alopesia, dan akantosis nigrikan. Resistensi insulin diyakini sebagai salah satu penyebab tersering dari SOPK melalui berbagai mekanisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan resistensi insulindengan gambaran klinis SOPK. Penelitian ini dilakukan pada pasien SOPK dengan menggunakan studi cross sectional dengan pendekatan retrospektif, yaitu mengumpulkan kejadian masa lalu dari tahun 2009 - 2011, jumlah sampel 105 orang. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan 33,3% penderita SOPK mengalami resistensi insulin. Berdasarkan gambaran klinis 35,23% amenore, 64,77% oligomenore, 72,04% infertilitas, 50,5% obesitas, 0,95% hirsutisme, acne 20%, alopesia dan akantosis nigrikan0%. Dari 33,3% SOPK dengan resistensi insulin 40% amenore, 60% oligomenore, 71,9% infertilitas, 77,14% obesitas, dan 0% hirsutisme. Berdasarkan hasil uji statistik ditemukan hubungan bermakna antara resistensi insulin dengan obesitas (p<0,05) dan tidak ditemukan hubungan bermakna antara resistensi insulin dengan infertilitas, hirsutisme, dan acne (p>0,05).Kata Kunci: SOPK, resistensi insulin, gambaran klinisAbstract Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is an endocrine and metabolic disorders that is common in reproductive-aged women. PCOS is a group of symptoms, such as amenorrhea, oligomenorrhea, infertility, obesity, hirsutism, acne, alopecia, and achanthosis nigricans. Insulin resistance is believed to be one of the most common causes of PCOS through a various mechanisms. The objective of this study was to find out the relationship between insulin resistance and clinical manifestation of PCOS. This research was done in patients with PCOS using cross sectional study with retrospective approach. Data was collected from 2009-2011, with the sample of 105 patients. This research used statistical analysis, that was chi square test. This research found that  33.3% patients of PCOS have insulin resistance. Based on clinical manifestation found that 35.23% amenorrhea, 64.77% oligomenorrhea, 72.04% infertility, 50.5% obesity, 0.95% hirsutism, 20% acne, 0% alopecia and achanthosis nigricans. From 33.3% PCOS with insulin resistance, 40% amenorrhea, 60%  oligomenorrhea, 71.9% infertility, 77.14% obesity, and 0% hirsutism. The results showed that there is a significant relationship between insulin resistance and obesity (p<0.05) and no significant reslationship between insulin resistance and infertility, hirsutism, and acne (p>0.05).Keyword: PCOS, insulin resistance, clinical manifestation 
Hubungan Pemberian Makanan Tambahan Dini terhadap Status Gizi Bayi Usia 4-6 Bulan di Daerah Pantai Kota Padang Tahun 2013 Fenny Oktrina Fauthrisna; Masrul Masrul; Eva Chundrayetti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.376

Abstract

Abstrak Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka kematian bayi dan balita tertinggi di dunia, dengan persentase gizi kurang dalam kriteria sedang dan berat. Hal ini berkaitan dengan beberapa faktor, salah satunya adalah pemberian makanan tambahan dini. Makanan tambahan dini adalah makanan selain ASI yang diberikan pada bayi sebelum usia 6 bulan. Pemberian makanan tambahan dini tersebut dapat menyebabkan gangguan-gangguan kesehatan, seperti diare, infeksi saluran pernafasan, dan lain-lain, yang akan memengaruhi status gizi bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian makanan tambahan dini terhadap status gizi bayi usia 46 bulan. Metode  penelitian menggunakan pendekatan cross sectional, dengan populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 4-6 bulan di kecamatan Padang Barat, Padang Utara, dan Koto Tangah, kota Padang dan jumlah sampel sebanyak 126 orang. Data diambil melalui pengukuran antropometri (penimbangan berat badan dan usia bayi) dan kuisioner. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan Fisher’s Exact Test. Hasil uji statistikmenunjukkan nilai p 0,043 (p value < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian makanan tambahan dini dengan status gizi bayi usia 4-6 bulan. Kesimpulan  penelitian ini ialah pemberian makanan tambahan dini dapat menyebabkan gizi kurang pada bayi usia 4-6 bulan.Kata kunci: makanan tambahan dini, status gizi, bayi, gizi kurangAbstract Indonesia is one of countries which has highest infant and child mortality in the world, with the percentage of malnutrition in moderate and severe criteria. It is related to several factors, one of which is an early complementary feeding. Early complementary food is the food other than breast milk given to infants before 6 months of age. Earlysupplementary feeding can cause health problems, such as diarrhea, respiratory tract infections, etc., which will affect the nutritional status of infants. The objective of this study was to determine the relationship of early complementary feeding on the nutritional status of infants aged 4-6 months. This research is using a cross sectional study’ method,however the entire population is mothers with  infants aged 4-6 months in the district of West Padang, North Padang and Koto Tangah, Padang city and the total sample of 126 people. Data retrieved through anthropometricmeasurements (weight and age of babies) and questionnaires. Relationships between variables were analyzed using Fisher's Exact Test. Statistical test results showed the p value of 0.043 (p value <0.05), which means that there is a significant relationship between early complementary feeding and nutritional status of infants aged 4-6 months. Theconclusion is early supplementary feeding can cause malnutrition in infants aged 4-6 months.Keywords: early complementary feeding, nutritional status, infant, malnutrition
Hubungan Umur, Jenis Kelamin dan Perlakuan Penatalaksanaan dengan Ukuran Tonsil pada Penderita Tonsilitis Kronis di Bagian THT-KL RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2013 Annisa Oktaria Shalihat; Novialdi Novialdi; Lili Irawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.365

Abstract

Abstrak Tonsilitis kronis adalah infeksi berulang yang paling sering terjadi pada tenggorok terutama pada usia anak anak dan remaja. Ukuran tonsil dan adenoid cenderung kecil pada usia <7 tahun, bertambah besar pada usia 7-15 tahun dan cenderung mengecil pada usia tua. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan umur, jenis kelamin dan perlakuan penatalaksanaan dengan ukuran tonsil pada penderita tonsilitis kronis di bagian THT-KL RSUP DR. M. Djamil Padang tahun 2013. Penelitian bersifat analitik dengan menggunakan teknik non probability sampling yaknipurposive sampling sehingga didapatkan 149 penderita tonsilitis kronis dari data  rekam medis RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2013. Data yang diperoleh diolah secara komputerisasi. Hasil penelitian ini didapatkan distribusi frekuensi penderita tonsilitis kronis terbanyak berdasarkan umur pada kelompok umur 11-20 tahun 70 penderita (47,0%), jenis kelamin perempuan 84 penderita (56,4%), ukuran tonsil T3-T3 82 penderita (55%) dan penatalaksanaan operatif 93 penderita (62,4%). Ada hubungan yang bermakna antara umur dengan ukuran tonsil (p=0,000), tidak adahubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan ukuran tonsil (p=0,806) dan ada hubungan yang bermakna antara perlakuan penatalaksanaan dengan ukuran tonsil (p=0,010) pada penderita tonsilitis kronis di bagian THT-KL RSUP DR. M. Djamil Padang tahun 2013.Kata kunci: tonsilitis kronis, ukuran tonsil, tatalaksana Abstract Chronic tonsillitis is recurrent infections in the throat, especially in the age of children and adolescents. The size of the tonsils and adenoids tend to be small at age <7 years, large increases in the age of 7-15 years and tends to shrink in old age. The objective of this study was to determine the relationship of age, gender and management treatment with tonsil size in patients with chronic tonsillitis in departement of ENT-HN at the DR. M. Djamil Padang General Hospital in 2013. Analytic research using non probability sampling technique that is purposive sampling to obtain 149 patients with chronic tonsillitis from data taken in the medical records department of DR. M. Djamil Padang General Hospital in 2013. Data were processed with computer. Results of this study showed that the distribution of most patients with chronic tonsillitis based on age in the age group 11-20 years 70 patients (47.0%), female gender 84 patients (56.4%), tonsil size T3-T3 82 patients (55%) and operative management of 93 patients (62.4%), There is significant relationship between age with tonsil size (p = 0.000), there is no significant relationship between gender withtonsil size (p = 0.806) and there is significant relationship between management treatment with tonsil size (p = 0.010) in patients with chronic tonsillitis in departement of ENT-HN at the DR. M. Djamil Padang General Hospital in 2013. Keywords:  chronic tonsillitis, tonsil size, treatment
Peran Asupan Zat Gizi Makronutrien Ibu Hamil terhadap Berat Badan Lahir Bayi di Kota Padang Mila Syari; Joserizal Serudji; Ulvi Mariati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.355

Abstract

Abstrak Pertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan oleh kondisi janin saat didalam kandungan dan asupan zat gizi makanan ibu selama kehamilan. Ibu dengan asupan makanan kurang saat hamil akan mengalami gangguan pertumbuhan dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran asupan zat gizi makronutrien ibu hamil terhadap berat badan lahir bayi. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan rancangan case control. Subjek kasus yaitu 19 orang ibu bersalin aterm dengan bayi BBLR, dan subjek kontrol 21 orang ibu bersalin dengan bayi berat badan lahir normal di RSUD Rasidin dan RST Reksodiwiryo Kota Padang yang memenuhi kriteria inklusi, dengan teknik consecutive sampling. Analisis menggunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95% (α = 0,05). Asupan zat gizi makronutrien merupakan faktor risiko terjadinya BBLR.Asupan energi kurang memiliki 76 kali risiko untuk terjadinya BBLR (p=0,01), asupan protein kurang memiliki risiko 8 kali untuk terjadinya BBLR (p= 0,02), asupan konsumsi lemak kurang memiliki risiko 7 kali untuk terjadinya BBLR (p=0,01) dan asupan konsumsi karbohidrat kurang memiliki 12 kali risiko untuk melahirkan bayi BBLR (p=0,01). Dapatdisimpulkan bahwa asupan zat gizi makronutrien (Energi, Karbohidrat, Lemak dan Protein) yang kurang memiliki resiko untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.Kata kunci: asupan makronutrien, ibu hamil, berat badan lahir bayi, BBLR. Abstract Growth and development of children determined by the condition of the fetus in the uterus and maternal dietary intake during pregnancy. Women with low food intake during pregnancy will have babies with  impaired growth and Low Birth Weight (LBW). The objective of this study was to know the role of intake macronutrient during pregnancy on birth weight.  This study was an observational analytic study with case control design. The subjects were 19 full-term women inpartu with LBW babies and 21 full-term women inpartu with normal birth weight babies in RSU Rasidin andRST Reksodiwiryo Padang, which met the inclusion criteria with a consecutive sampling technique, data were analyzed using chi-square test in 95% confidence level (α = 0.05). Intake of macronutrient is a risk factor of low birth weight. Intake of low energy consumption has 76 times risk for low birth weight (p=0.02), intake of low fat consumption has 7 times risk for low birth weight (0.01) and intake of low carbohydrate hasa 12 times risk for low birth weight (p=0.01). It can be conclude that intake of low macronutrient (energy, carbohydrate, fat and protein) is a risk factor forlow birth weight.Keywords:  intake of macronutrient, pregnant, birth weight, low birth weight
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Insomnia di Poliklinik Saraf RS DR. M. Djamil Padang Lydia Susanti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.391

Abstract

Abstrak Faktor risiko seperti usia lanjut, jenis kelamin wanita, penyakit penyerta (depresi dan penyakit lain), status sosial ekonomi rendah menyebabkan insomnia. Penelitian mengenai prevalensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian insomnia di Poliklinik Saraf RS DR. M. Djamil Padang belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya insomnia di poliklinik saraf RS DR. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Jumlah sampel dihitung menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Snedecor & Cochran dan didapatkan jumlah sampel 100 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara acakdimana pasien yang memenuhi kriteria inklusi langsung menjadi sampel penelitian. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan beberapa skala, Insomnia Severity Index, dan Beck depression inventory scale. Data dikumpulkan dari t 1 Juli sampai 31 Agustus 2013. Data ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dilakukan analisis bivariatdan multivariat.  Kejadian Insomnia dialami oleh 38% (38 orang) pasien yang berkunjung ke poliklinik saraf RS DR. M.Djamil Padang dengan jenis kelamin terbanyak pada wanita 24(45,3%) dan pada kelompok umur  61-70 tahun (3,3%). Insomnia berhubungan dengan depresi (p= 0,00) dan tidak berhubungan dengan umur (p=0,472), jenis kelamin (p=0,111), status ekonomi (p=0,075), riwayat insomnia di keluarga (p=0,197). Depresi (p=0,00; OR=9,20) dan nyeri  kronik (p=0,031; OR=4.253) merupakan faktor yang dominan berhubungan dengan kejadian Insomnia. Kata Kunci: insomnia, tidur, insomnia severity index, beck depression inventory scaleAbstract A number of risk factors such as advanced age, female gender, co-morbidities (such as depression and other diseases), low socioeconomic status causes insomnia. Research on the frequency of insomnia in DR. M. Djamil hospital Padang has never been done. The objective of this study was to determine the factors that influence the incidence of insomnia in neurology outpatient of DR. M. Djamil Hospital Padang. This study was a cross-sectional design. Sampling method was consecutive sampling, in which patients who met the inclusion criteria were included. Data were collected using questionnaires and some scales; Insomnia Severity Index (ISI) and the Beck depression inventory scale. Data were collected from the date of July 1 – August 31 2013. Data were displayed in the form of afrequency distribution table and performed bivariate and multivariate analysis. Insomnia was experienced by 38% (38 people) of patients who visited Neurology Outpatient of DR. M. Djamil Hospital Padang with the highest incidence in women 24 (45.3%) and in the age group 61-70 years (3.3%). Insomnia associated with depression (p = 0.00) and wasnot associated with age (p = 0.472), sex (p = 0.111), economic status (p = 0.075), family history of insomnia (p = 0.197). Depression (p = 0.00; OR=9.204) and chronic pain (p=0.031; OR=4.253) was the dominant factor associated with the incidence of insomnia.Keywords: sleep, insomnia, insomnia severity index, beck depression inventory scale
Perbedaan Kadar Interferon Gamma dan Interleukin-10 pada Orang Dewasa Terinfeksi Ascaris Lumbricoides dengan Tidak Terinfeksi yang Diinduksi Vaksin Bacille Calmette-Guerin weni Mulyani; Nuzulia Irawati; Netti Suharti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.346

Abstract

Abstrak Kecacingan merupakan penyakit yang masih banyak di negara berkembang. Infeksi cacing dapat menimbulkan penurunan respon terhadap antigen yang terjadi akibat modified Th2 response. Vaksin BCG merupakan antigen yang dikenal sebagai penginduksi respon sel Th1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar IFN-γdan IL-10 pada orang dewasa terinfeksi Ascaris lumbricoides dengan tidak terinfeksi yang diinduksi vaksi BCG.Penelitian dilakukan di Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru dengan menggunakan rancangan cross sectinal study. Populasi penelitian ini adalah orang dewasa kelurahan Muara Fajar KecamatanRumbai Pesisir Pekanbaru yang terinfeksi dan tidak terinfeksi Ascaris lumbricoides. Status kecacingan didapatkan dari pemeriksaan feses dengan metode kato-katz. Kadar IFN-γ dan IL-10 didapatkan dengan pemeriksaan laboratorium dengan metode ELISA. Pengolahan dan analisa data menggunakan uji t. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar IFNγ adalah 16,55±14,13 pg/mg dan kadar IL-10 36,13±8,83 pg/ml. Pada orang dewasa yang tidak terinfeksi Ascaris lumbricoides didapatkan kadar rata-rata IFN-γ adalah 199,36±121,86 pg/ml dan kadar IL-10 10,57±9,20 pg/ml.Terdapat perbedaan bermakna kadar  IFN-γ dan IL-10 antara orang dewasa yang terinfeksi Ascaris lumbricoides dengan tidak terinfeksi (p<0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini ialah infeksi Ascaris lumbricoides dapat menekan produksi IFN-γ terhadap pemberian vaksin BCG.Kata kunci: ascaris lumbricoides, vaksin BCG, interferon gamma (IFN-γ), interleukin 10 (IL-10) Abstract Worm infestation still happened in the develop country. Worm infection can also make low respond on antigen that is caused by modified Th2 response. BCG vaccine is antigen as known as induction Th1 cell respond. The objective of this study was to  know the differences IFN-γ and IL-10 an adult who infected Ascaris lumbricoides to uninfected who inducted by BCG vaccine. The research was conducted in Muara Fajar district Rumbai PesisirPekanbaru by Cross Sectinal Study. The research population were adults in Muara Fajar district Rumbai Pesisir Pekanbaru who infected and uninfected Ascaris lumbricoides. Worm infection was getting checked in fesses by katokatz method.IFN-y and IL-10 were getting laboratory checked by ELISA method.The data was analyzed by t-tes. The mean IFN-y of the adult who infected Ascaris lumbricoides were 16.55±14.13 pg/mg and IL-10 36.13±8.83 pg/ml and the adult who uninfected Ascaris lumbricoides were 199,36±121,86 pg/ml and IL-10 10.57±9.20 pg/ml. There was significant difference of IFN-y and IL-10 between adult who infected Ascaris lumbricoides with uninfected (p<0,05). It can be concluded that Ascaris lumbricoides infection can pressure IFN-y production on given BCG vaccine. Keywords: ascaris lumbricoides, BCG vaccine, interferon gamma (IFN-γ), Interleukin 10 (IL-10)
Efek Electro Convulsive Therapy (ECT) terhadap Daya Ingat Pasien Skizofrenia di RSJ Prof. HB. Sa’anin Padang Ikky Nabila Nandinanti; Yaslinda Yaunin; Siti Nurhajjah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.381

Abstract

Abstrak  ECT merupakan terapi kejang listrik dengan menghantarkan arus listrik pada elektroda dan dipasang pada kepala sehingga menyebabkan konvulsi. ECT terbukti dapat memperbaiki gejala skizofrenia, namun ECT juga memiliki efek samping terutama pada daya ingat. Tujuan  penelitian ini adalah mengetahui efek ECT terhadap daya ingat pasien skizofrenia. Metode : Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan jumlah sampel 15 orang penderita skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. HB. Sa’anin Padang dengan teknik pengambilan consecutive sampling.Pemeriksaan daya ingat menggunakan Tes Memori Indonesia, dilakukan sehari sebelum ECT dan 2 jam sesudah ECT. Analisis data dengan uji T berpasangan. Gangguan daya ingat sebelum ECT terjadi pada 90% sampel dengan terganggu sedang pada kemampuan immediate memory, terganggu ringan pada kemampuan recent memory, dan terganggu berat pada remote memory. Gangguan daya ingat sesudah ECT terjadi pada seluruh sampel (100%) dengan terganggu sedang pada immediate memory, terganggu berat pada recent memory, dan terganggu berat padaremote memory. Uji hipotesis pada nilai kemampuan immediate dan recent memory menghasilkan nilai p 0,018 dan 0,031 (p < 0,05), berarti Ho ditolak, sedangkan nilai p remote memory 0,678 (p > 0,05), berarti Ho diterima. Kesimpulan adalah perbedaan daya ingat immediate dan recent memory pada pasien skizofrenia sebelum dan sesudah ECT, sedangkan kemampuan remote memory tidak mengalami perubahan.Kata kunci: skizofrenia, ECT, daya ingat Abstract ECT is an electric convulsive therapy by delivering electrical current to electrodes and mounted on the head causing convulsions. ECT shown to improve schizophrenia symptoms, but ECT also has side effects especially on memory. The objective of this study was to determine the effects of ECT on memory schizophrenic patients. Current study was conducted with analytic design with sample size was 15 schizophrenia people at RSJ Prof. HB. Sa'anin Padang using consecutive sampling technique. Examination of memory using Memory Tests Indonesia is made the day before and 2 hours after ECT then the results are presented descriptively and analyzed by paired T test. Our results showed an impaired memory before ECT occurs in 90% samples with moderate impaired in the ability ofimmediate memory, mild impaired in the ability of recent memory, and severe impaired in the ability of remote memory. Impaired memory after ECT occurs in all samples (100%) with moderate impaired in the ability of immediate memory, severe impaired in the ability of recent memory, and severe impaired in the ability of remote memory. We concluded,there are differences in immediate and recent memory in schizophrenic patients before and after ECT, while the ability of remote memory has not changed.Keywords:  schizophrenia, ECT, memory

Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue