cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Kolesteatom Kongenital dengan Komplikasi Abses Retroaurikula indriani indriani; Yan Edward; Rossy Rosalinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1311

Abstract

Kolesteatom kongenital dapat tumbuh di telinga tengah, apeks petrosus dari tulang temporal dan mastoid. Penyakit in biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat melakukan tomografi komputer atau setelah ada komplikasi. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah mastoiditis yang menyebabkan abses retroaurikula. Diagnosis kolesteatom kongenital ditegakkan apabila ditemukan kolesteatom tanpa perforasi membran timpani, riwayat otore maupun riwayat operasi telinga sebelumnya. Operasi adalah terapi mutlak pada kasus ini. Dilaporkan satu kasus kolesteatom kongenital dengan komplikasi abses retroaurikula pada seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Pada pasien ini dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding utuh, yang di follow up selama 3 bulan dengan hasil yang memuaskan. Abses retroaurikula merupakan salah satu komplikasi kolesteatom kongenital yang sering menjadi awal gejala adanya kolesteatom kongenital. Deteksi dini dan tatalaksana yang tepat akan memberikan hasil yang maksimal.Kata kunci: abses retroaurikula, kolesteatom kongenital, membran timpani utuh
Faktor Risiko Terjadinya Epilepsi pada Anak Palsi Serebral M Luthfi Suhaimi; Iskandar Syarif; Eva Chundrayetti; Rahmi Lestari
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1282

Abstract

Pada anak yang menderita palsi serebral kemungkinan akan mengalami peningkatan risiko terjadinya epilepsy. Setiap perubahan pada otak dapat menjadi faktor risiko terjadinya epilepsi dengan berbagai manifestasi klinis. Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan terjadinya epilepsi pada anak palsi serebral di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Desain peneltian ini adalah cross-sectional study yang dilaksanakan pada Agustus 2018 sampai Desember 2019. Subjek palsi serebral diperoleh secara consecutive sampling, dengan jumlah minimal 60 subjek. Faktor risiko yang diteliti meliputi asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal. Uji statistik menggunakan Chi-square test dan Fisher’s exact test, dengan batas kemaknaan p<0,05. Hasil: Pada 60 pasien palsi serebral, ditemukan 39 pasien (65%) menderita epilepsi dan 21 pasien (35%) tidak menderita epilepsi. Perbandingan jenis kelamin perempuan dan laki-laki 1,2:1. Epilepsi umum merupakan tipe epilepsi yang paling banyak ditemukan (76,9%), pengobatan secara politerapi hampir sama banyak dengan monoterapi. Asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal tidak bermakna sebagai faktor risiko epilepsi pada anak palsi serebral. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal dengan terjadinya epilepsi pada anak palsi serebral.Kata kunci: cerebral palsy, epilepsy, risk factors
Prevalence of Exogenous Okronosis Due to the Use of Whitening Cream Containing Hydroquinone from January 2014 - January 2019 Sukmawati Tansil Tan; Rendy Singgih; Vivian Wu
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1074

Abstract

Okronosis eksogen merupakan salah satu penyakit kulit dengan gambaran deposisi pigmen kebiruan pada wajah yang disebabkan oleh penggunaan hidrokuinon dalam krim pemutih topical yang terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tujuan: Memperoleh data prevalensi penderita okronosis eksogen. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan desain cross sectional yang menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien. Sampel penelitian didapatkan sebanyak 88 pasien yang didiagnosis okronosis eksogen di satu rumah sakit dan dua klinik kesehatan dan kecantikan kulit dengan jumlah empat dokter spesialis kulit dan kelamin yang mendiagnosis okronosis eksogen pada periode Januari 2014 sampai Januari 2019. Hasil:  Sebagian besar pasien adalah wanita yaitu dari 88 orang dengan jumlah penderita 81 orang (92,04%) dan laki-laki 7 orang (7,95%). Kelompok umur terbanyak didapatkan pada usia 40-49 tahun sebanyak 43 orang (48,8%) dan diikuti antara 30-39 tahun sebanyak 20 orang (22,7%) penderita. Simpulan: Pasien paling banyak ditemukan berjenis kelamin perempuan dengan rentang usia tertinggi antara dekade ketiga dan keempat.Kata kunci: hidrokuinon, krim pemutih, okronosis eksogen
Uji Potensi Ekstrak Daun Putri Malu (Mimosa pudica Linn) yang Tumbuh di Padang sebagai Larvasida Nabati terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti Vannisa Al Khalish; Nora Harminarti; Yusticia Katar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1250

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue melalui vektor penular utama yaitu nyamuk betina Aedes aegypti. Salah satu upaya pemberantasan vektor penular tersebut adalah larvasida sintetik, namun dapat menyebabkan resistensi vektor dan pencemaran lingkungan. Ekstrak daun putri malu dapat dijadikan alternatif sebagai larvasida nabati. Tujuan: Menentukan pengaruh pemberian ekstrak daun putri malu (Mimosa pudica Linn.) yang tumbuh di Padang terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti. Metode: Penelitian ini adalah studi eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari delapan perlakuan dan satu kontrol dengan 4x pengulangan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmasi dan Laboratorium Parasitologi Universitas Andalas. Sampel terdiri dari 720 ekor larva Aedes aegypti instar III/IV. Setiap kelompok uji berisi 20 ekor larva dalam 200 ml larutan (ekstrak + akuades) dengan serial konsentrasi ekstrak 1, 2, 3, 4, 5, 10, 12,5, dan 15 mg/ml. Jumlah kematian larva dicatat setelah 24 jam pemaparan ekstrak. Hasil: Ekstrak daun putri malu yang dengan konsentrasi ekstrak 1, 2, 3, 4, dan 5 mg/ml tidak efektif sebagai larvasida, sedangkan konsentrasi 10, 12,5 dan 15 mg/ml efektif sebagai larvasida dengan persentase kematian masing-masing adalah 12,5, 30, dan 60%. Nilai LC50 ekstrak daun putri malu adalah 14,568 mg/ml. Simpulan: Ekstrak daun putri malu yang tumbuh di Padang berpotensi sebagai larvasida Aedes aegypti.Kata kunci: Aedes aegypti, larvasida nabati, Mimosa pudica Linn
Penatalaksanaan Kista Teratoid Leher Nadya Dwi Karsa; Sukri Rahman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1297

Abstract

Kista dermoid merupakan massa kistik subkutan yang terdiri dari epitel dan struktur adneksa. Secara histopatologi terdiri dari tiga jenis yaitu kista epidermoid, dermoid sejati dan teratoid. Kista teratoid merupakan variasi jarang dari kista dermoid. Kista teratoid timbul dari diferensiasi ektodermal sel multipotensial sepanjang proses fusi embrionik. Kista ini lebih sering terjadi pada laki-laki pada usia dekade kedua dan ketiga. Kista dapat terjadi di seluruh tubuh. Dilaporkan kasus seorang laki-laki usia 49 tahun dengan benjolan di leher yang membesar secara perlahan sejak 1 bulan dan hasil Computed Tomography (CT) Scan tiroid dan leher dicurigai sebagai kista tiroglosus dan didiagnosis banding dengan kista dermoid. Dilakukan penatalaksanaan dengan eksisi kista dalam anestesi umum dan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi dengan hasil kista teratoid. Kista teratoid dapat berkembang di bagian tubuh manapun, namun sangat jarang pada kepala dan leher. Jika kista teratoid dapat terdiagnosis lebih awal dan ditatalaksana dengan eksisi kista secara komplit, maka prognosisnya lebih baik. Dari ketiga variasi kista dermoid, hanya kista teratoid yang dapat mengalami perubahan kearah keganasan.Kata kunci: eksisi kista, histopatologi, kista teratoid
Pengaruh Ekstrak Pegagan (Centella Asiatica (L.) Terhadap Profil Darah dan Hepar Pada Tikus Putih yang Diinduksi Asap Rokok Yudha Anggit Jiwantoro; Miftahul Jannah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1081

Abstract

Pegagan mengandung beberapa komponen beraktivitas biologis yang sangat bermanfaat salah satunya berkasiat sebagai hepatoprotektor yaitu melindungi sel hati dari berbagai kerusakan akibat racun dan zat berbahaya seperti asap rokok. Tujuan: Menganalisis pengaruh ekstrak Pegagan (Centella Asiatica) terhadap profil darah dan hepar pada tikus yang diinduksi asap rokok. Metode: Penelitian ini adalah true eksperiment dengan desain post test only control group design. Jumlah sampel sebanyak 5 ekor tiap kelompok dengan 5 perlakuan sehingga total sampel 25 ekor tikus. Analisa data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, One way ANOVA, dan post hoct test. Hasil: Pemberian ekstrak pegagan dengan dosis terapi sebesar 250 mg/kgbb, 500 mg/kgbb, dan 1000 mg/kgbb terhadap tikus putih yang diinduksi asap rokok selama 7 minggu tidak menunjukkan perbedaan profil darah secara keseluruhan, hanya nilai limfosit dan trombosit yang menunjukkan hasil signifikan (p< 0,05). Pemberian ekstrak pegagan pada profil hepar (SGPT & SGOT) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p>0,05). Simpulan: Ekstrak pegagan berpengaruh terhadap profil darah (limfosit dan trombosit).Kata kunci: asap rokok, ekstrak pegagan, profil darah, profil hepar
Analisis Hubungan Sequential Organ Failure Assessment (Sofa) Score Dengan Mortalitas Pasien Sepsis Agustin Iskandar; Fran Siska
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1221

Abstract

Sepsis merupakan kondisi disfungsi organ mengancam nyawa yang diakibatkan oleh disregulasi sistem imun pejamu terhadap infeksi dan Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) score merupakan suatu skoring untuk menilai kegagalan organ terkait sepsis. Peningkatan SOFA score diasosiasikan dengan outcome pasien yang lebih buruk.  Tujuan: Menganalisis korelasi SOFA score dengan mortalitas pada pasien sepsis. Metode: Desain penelitian adalah kohort prospektif yang dilakukan di RSU Dr Saiful Anwar dari Maret 2018 hingga Juni 2019. Kriteria diagnosis sepsis ditegakkan berdasarkan The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). Perhitungan SOFA score dilakukan dalam 2 hari pertama perawatan pasien sepsis di rumah sakit. Analisis data dilakukan pada p < 0,05. Hasil: Didapatkan 85 pasien sepsis dengan luaran meninggal sebanyak 72,94% sedangkan 28,06% membaik. Terdapat perbedaan bermakna antara SOFA score yang meninggal dan yang hidup (p=0,015).  SOFA score dipakai untuk memprediksi kematian, didapatkan area under the curve (AUC) 0,74 (p=0,009), dengan cut off point optimum 7. Pada total SOFA score lebih tinggi dari sama dengan 7, didapatkan RR= 3.8, p=0.028. SOFA score merupakan parameter untuk menilai kegagalan organ pada pasien sepsis, dimana total SOFA score yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian. Simpulan: SOFA score pada kelompok yang meninggal lebih tinggi daripada yang sembuh. Pasien sepsis dengan SOFA score lebih besar sama dengan 7 memiliki risiko 3,8 kali lebih besar untuk meninggal.Kata kunci: risiko kematian, sepsis, SOFA score
Efektifitas Metode William's Flexion dan Yoga Terhadap Intensitas Nyeri Punggung Bawah pada Ibu Hamil Trimester III di Kota Tanjungpinang Tahun 2019 Rahmadona Rahmadona; Kartika Sri Dewi Batubara
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i4.1657

Abstract

Nyeri punggung bawah pada kehamilan merupakan nyeri pada area lumbosacral. Hal ini sangat mengganggu aktivitas harian ibu hamil yang apabila tidak ditangani dapat menyebabkan kualitas hidup ibu hamil menjadi buruk. Beberapa terapi non farmakologis seperti latihan William’s flexion dan yoga dapat diupayakan mengatasi keluhan nyeri punggung bawah pada kehamilan.Tujuan: Menentukan efektifitas metode William’s flexion dan yoga terhadap intensitas nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III di Kota Tanjungpinang tahun 2019. Metode: Penelitian ini adalah pra eksperimen dengan two group pre test post test design terhadap 60 sampel yang terbagi dua kelompok yaitu kelompok William’s flexion dan yoga. Data dikumpulkan dari Agustus hingga Oktober 2019, kemudian diukur menggunakan skala ukur numerik . Analisis data menggunakan t-test dependent  dan  independent. Hasil: Penelitian menunjukkan uji rerata dalam tiap kelompok perlakuan  menunjukkan hasil bermakna (p=0,000) dengan selisih rerata penurunan intensitas nyeri punggung bawah pada kelompok William’s flexion sebesar 1,27 dan kelompok yoga sebesar 2,50. Uji rerata antar kelompok perlakuan juga menunjukan hasil bermakna(p=0,000). Simpulan: Metode William’s flexion dan yoga efektif menurunkan intensitas nyeri punggung bawah.  Latihan yoga memberi penurunan intensitas nyeri lebih besar daripada latihan William’s flexion sehingga kedua metode ini bisa dipakai untuk mengatasi keluhan nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III.Kata kunci: nyeri punggung bawah, William’s flexion, yoga
Korelasi Kadar Adiponektin dengan Kadar Glukosa Puasa pada Penyandang Obes Isphandra Bakma; Rismawati Yaswir; Desywar Desywar; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i3.1340

Abstract

Akumulasi lemak tubuh abnormal dan berlebih pada obesitas menyebabkan low grade inflammation sel adiposit yang berkontribusi terhadap penurunan kadar adiponektin. Adiponektin berperan dalam metabolisme glukosa, sehingga kondisi hipoadiponektinemia dapat menyebabkan gangguan metabolisme glukosa. Tujuan: menentukan korelasi kadar adiponektin dengan kadar glukosa puasa pada penyandang obes. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan potong-lintang terhadap 25 orang penyandang obes yang bekerja di Instalasi Laboratorium Sentral RSUP Dr. M. Djamil Padang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilakukan mulai bulan September 2018 sampai September 2019. Kadar adiponektin diperiksa dengan metode Elisa two-step sandwich enzyme immunoassay dan kadar glukosa puasa diperiksa dengan metode heksokinase. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearson, bermakna jika p<0,05. Hasil: Subjek penelitian terdiri dari laki-laki 8 orang (32,0%) dan perempuan 17 orang (68,0%). Rerata umur adalah 33,5 (6,0) tahun dengan rentang 23-52 tahun. Rerata indeks massa tubuh adalah 34,0 (3,6) kg/m2. Rerata kadar adiponektin adalah 2,8 (1,5) μg/mL dan rerata kadar glukosa puasa adalah 92,8 (11,4) mg/dL. Uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif lemah antara log-adiponektin dengan kadar glukosa puasa dan tidak bermakna secara statistik (r= -0,217, p= 0,298). Simpulan: Tidak terdapat korelasi kadar adiponektin dengan kadar glukosa puasa pada penyandang obes.Kata kunci: adiponektin, glukosa puasa, inflamasi adiposit, obesitas
Perbandingan Tingkat Keparahan Infeksi Sekunder Virus Dengue pada Keempat Serotipe di Indonesia: Systematic Review Annelin Kurniati; Ahmad Fandi; Mardhatillah Sariyanti; Ety Febrianti; Debie Rizqoh
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v10i1.1615

Abstract

Secondary infection with the dengue virus causes mild to severe manifestations. The distribution of dengue virus serotypes varies in various areas and can change over time. There are four dengue serotypes, namely DENV-1, DENV-2, DENV-3 and DENV-4. Objectives: To knew the distribution of virus serotypes in an area and determined the pathogenesis of the disease, which can cause severe manifestations in patients with secondary infections. Methods: The data taken is the severity of secondary infections and dengue serotypes. The literature search was performed on PMC and Cochrane. Search criteria were performed using keywords (secondary infection * OR secondary dengue infection *) AND (Dengue Virus * OR Dengue Infection * OR Dengue * OR DENV) AND (Serotype * OR Serogroup) AND (severe dengue * OR severity * OR severity of illness indexs * OR dengue fever * OR dengue haemorrhage fever * OR dengue shock syndrome * OR DF * OR DHF * OR DSS *) AND (Indonesia *). Results: Literature study search found 387 literature with five studies conducted the analysis. From the results of the analysis, it was found that secondary infections were more common in patients with recurrent dengue infection with serotype 2 (DENV-2), serotype 3 (DENV-3) and serotype 4 (DENV-4). Conclusion: Secondary infection of dengue virus serotype 2 (DENV-2) and serotype 3 (DENV-3) can cause severe dengue infection.Keywords:  Dengue Virus, Indonesia, Secondary Infection, Serotype, Severity

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue