cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,211 Documents
Acceptability of the Quran Translation Al Farisi, Mohamad Zaka
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2023.612.329-363

Abstract

Muslims have regarded the translation of the Quran into languages other than Arabic as valuable since its benefits for non-Arabic speakers to understand the its messages. However, those translations are not a substitute for the original Arabic Quran, and reciting the Quran in Arabic is not the same as reading its translation. Linguistically, translation is a dual act of interlingual communication that involves the source language (SL), target language (TL), and translator as the main actor. The translator is in charge of presenting the acceptable equivalence of the SL text and the TL text, either on the levels of form, meaning, or intent. Therefore, the acceptability of the translation of Quranic verses is not related merely to their forms and meanings but also to the intended purpose of the text of the SL. In practice, the acceptability of translations can be realized, among other things, by applying appropriate translation techniques and procedures when handling micro-translation units, whether on word, phrase, clause, or sentence levels. In this regard, the acceptability of the Quran translation necessitates the fulfilment of the aspects of accuracy, clarity, naturalness, and relevance. These aspects will bring an acceptability model for a Quranic translation that considered complete and representative. This model stems from the view that translation is not merely seen from the point of communication theory of the code but also from the point of communication theory of inference model. [Umat Islam melihat terjemahan Al-Quran ke dalam bahasa selain bahasa Arab sebagai sesuatu yang berharga karena manfaatnya bagi penutur non-Arab untuk memahami pesan-pesannya. Namun, terjemahan tersebut sejajar dengan Al-Quran yang berbahasa Arab, sehingga membaca Al-Quran dalam bahasa Arab tidak dianggap sama dengan membaca terjemahnya. Secara linguistik, penerjemahan merupakan suatu tindakan komunikasi ganda antarbahasa yang melibatkan bahasa sumber (SL), bahasa sasaran (TL), dan penerjemah sebagai pelaku utama. Penerjemah bertugas menyajikan padanan teks SL dan teks TL yang dapat diterima, baik dalam tataran bentuk, makna, maupun maksudnya. Oleh karena itu, keterterimaan terjemahan ayat-ayat Al-Quran tidak semata-mata berkaitan dengan bentuk dan maknanya, tetapi juga dengan maksud teks tersebut. Dalam praktiknya, keterterimaan terjemah dapat diupayakan antara lain dengan menerapkan teknik dan prosedur penerjemahan yang tepat terkait dengan satuan terjemahan mikro, baik pada tataran kata, frasa, klausa, maupun kalimat. Dalam kaitan ini, akseptabilitas terjemah Al-Quran memerlukan pemenuhan aspek akurasi, kejelasan, kealamian, dan relevansi. Aspek-aspek tersebut akan melahirkan suatu model akseptabilitas suatu terjemah Al-Quran yang dapat dianggap lengkap dan representatif. Model seperti ini berdasarkan pada pandangan bahwa penerjemahan tidak hanya dilihat dari sudut teori komunikasi tentang kode tetapi juga dari sudut teori komunikasi tentang inferensi.]
Moderating Resistances: The Reproduction of Muslim Religious Space in the Dutch East Indies Faizi, Fuad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2023.612.297-328

Abstract

This study seeks to historically elaborate on the roots of moderate Islam, focusing on the productive practices towards religious spaces in the Dutch colonial periods in the East Indies. It analyses the strategic changes in the Dutch reproduction of religious space during the Aceh War and the Sarekat Islam periods. The author argues that the Dutch government frequently seized Muslim religious space to secure its colonial power. The colonial government reproduced Muslim religious space in these two eras, representing symbolic support for the Dutch colonial hegemony. The appropriation of religious space was a spatial strategy to perpetuate the hegemony in social space. This study concludes that the reproduction of Muslim space represented a moderate position towards the Dutch colonial hegemony. Meanwhile, counter-space emerged to reverse such moderating practices. By counter-space, the Dutch moderating efforts on socio-religious space were contested, opposed, and condemned.[Kajian ini berupaya menguraikan secara historis akar Islam moderat, dengan fokus pada praktik produksi ruang keagamaan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Analisis difokuskan pada perubahan strategi pemerintah kolonial Belanda dalam melakukan reproduksi ruang keagamaan selama periode Perang Aceh dan Sarekat Islam. Pemerintah Belanda sering merebut ruang keagamaan umat Islam untuk mengamankan kekuasaannya. Pemerintah kolonial mereproduksi ruang keagamaan umat Islam pada dua era tersebut sebagai merupakan simbol dukungan terhadap hegemoni kolonial Belanda. Perampasan ruang keagamaan merupakan strategi spasial untuk melanggengkan hegemoni atas ruang sosial. Kajian ini menyimpulkan bahwa reproduksi ruang keagamaan Islam merepresentasikan posisi moderat terhadap hegemoni kolonial. Sementara itu, ruang perlawanan muncul untuk membalikkan praktik-praktik moderasi tersebut. Melalui ruang perlawanan ini, upaya-upaya moderasi pemerintah kolonial Belanda dalam bidang sosial-keagamaan ditentang, ditantang, dan dikecam.]
Sepuluh Wasiat Tuhan dalam Al-Qur’an Rochim, Abd
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 27 (1982)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1982.027.67-77

Abstract

Pada mulanya, belumlah ramai dibicarakan orang tentang 10 wasiat Tuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an, karena 10 wasiat Tuhan itu tidak termuat secara tersurat, tetapi baru dapat diketahuai oleh orang setelah memperhatikan benar-benar kandungan tiga buah ayat yang terletak dalam surat al-an’am, ayat 151-153 yang tersusun secara berturut-turut. Namun demikian bagi mufasir yang memperhatikan munasabah tiga ayat tersebut dengan ayat-ayat sesudahnya, ia akan segera mendapatkan assosiasi terhadap sepuluh perintah Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Musa.
Praduga tak bersalah dalam hukum positif di Indonesia Ma’sum, Mas’ad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 27 (1982)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1982.027.53-66

Abstract

Praduga tak bersalah yang artinya = bahwa setiap orang itu harus dianggap tidak bersalah sampai kesalahannya dibuktikan dimuka siding pengadilan, adalah suatu asas yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat. Sebab dengan asas itu antara lain diharapkan orang akan dapat hidup saling percaya mempercayai antara yang satu dengan yang lainnya dan tidak saling curiga-mencurigai antara warga yang satu dengan warga yang lain dalam masyarakat itu dan lain-lain.
Falsafah mistik Syeikh hamzah Fansuri dalam Sanggahan Syeh Nuruddin Ar-Raniry Daudy, Ahmad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 27 (1982)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1982.027.29-52

Abstract

Penentuan abad yang pasti tentang masuknya Islam di daerah Aceh memang tidak muda dilakukan, dari adanya kegiatan lalulintas perdagangan antara negara-negara timur tengah dengan kepulauaan Indonesia melalui selat malaka sejak permulaan abad-abad pertama tahu masehi, maka dapatlah diperkirakan bahwa islam telah masuk ke daerah ini, untuk pertama kali, pada masa sekitar abad-abad permulaan tahun hijriah. Para pembawah agama baru ini adalah pedagang-pedagang arab yang, karena sifat dan wataknya sebagai pedagang, lebih banyak memberikan perhatiannya kepada hasil usaha dagangnya dari pada mencatat peristiwa peng-islaman penduduk pribumi yang dilakukan secara insidentil. Ketergantungan kapal-kapal dagang pada waktu itu kepada angin musim telah menyebabkan para pedagang muslim itu tinggal beberapa bulan lamanya pada Pelabuhan-pelabuhan dagang di utara daerah Aceh, sehingga mereka didapatkan pada keharusan memperistri Wanita-wanita setempat yang tentunya sesudah di islamkan lebih dahulu. Demikian suatu metode alamiyah yang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh para pedagang yang masih awam itu pada masa-masa permulaan islam didakwakan, sementara menunggu datangnya para mubalig yang berpengalaman pada abad-abad berikutnya. Berkat kesungguhan dan kegigihan dalam berdakwah, terutama setelah jatuhnya Bagdad ketangan mongol pada tahun 1258 Masehi, para muballigh telah berhasil memperoleh kemajuaan yang mengagumkan dengan lahirnya kerajaan Islam Samudra-pasai, sebagai kerajaan Islam pertama di Kawasan Asia Tenggara, pada Pertengahan abad 13 Masehi.
Perbedaan Struktur Kata Benda Antara Bahasa Arab, Inggris dan Indonesia Sokah, Umar Asasuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 27 (1982)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1982.027.1-28

Abstract

Memang sudah menjadi kenyataan bahwa Bahasa itu berbeda-beda. Dalam perbedaan itu, seorang penutur sesuatu Bahasa menganggap Bahasa lainselain dari bahasanya sebagai Bahasa yang lucu. Seorang wartawan Mesir yang Bernama Anis Mansur, umpamanya, waktu berkunjung ke Indonesia pada tahun Enam puluhan, berkata bahwa Bahasa Indonesia itu lucu. Dia merasa heran dengan bentuk jamak dalam Bahasa Indonesia, yaitu dengan mengadakanpengulangan kata yang dijadikan jamak itu, seperti ‘ buku-buku’, ‘pelan-pelan’, dan lain sebagainya. Begitu pula seorang Amerika menganggap Bahasa Indonesia itu lucu. Dia merasa heran kenapa kalimat ‘’  How do you do” diterjemahkan dengan ‘’ apa kabar’’ padahal ‘’apa kabar’’ itu jika diterjemahkan kedalam Bahasa inggris secara harfiah akan menjadi ‘’what is the news” begitu pulah orang Indonesia merasa heran, seperti yang telah dikemukakan oleh Sdr Khazin Siraj pada waktu siding diskusi ilmiah IAIN Sunan Kalijaga tanggal 30 Juni 1978, kenapa susunan Bahasa arab begitu, seakan-akan tak enak didengar oleh telinga. Sdr. Tadi, sebagai contoh, mengutip al-Qur’an surat An Nisa’ ayat ke-134 yang menimbulkan keheranannya itu. Ayat itu berbunyi, ‘’yaa ayyuhal ladziina aamanuu billaahi war a suuli.’’ Artinya, ‘’Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.’’ Dia heran kenapa orang yang telah beriman kok masih disuruh beriman lagi.
Pola pemikiran Aliran-Aliran Mutakallimin Busyairi, Kusmin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 28 (1982)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1982.028.47-76

Abstract

Dengan judul diatas, dapat dipahami bahwa hal tersebut dikemukakan karena setiap aliran di dalam ilmu kalam memnampakkan pola yang characteristic didalam pemikirannya. Karena itulah, maka aliran yang satu berbeda dengan aliran yang lain di dalam mendekati, membahas dan menyelesaikan setiap problem akidah yang dihadapi. Oleh karena itu timbul pertanyaan: mengapa terjadi demikiaan. Yakni factor-faktor apakah yang mempengaruhinya; bahkanfaktor apakah yang lebih dominan diantara sekian factor yang ada dan mempengaruhi serta membentuk dan menentukan terciptanya pola pemikiran aliran-aliran mutakallimin itu. Di sekitar masalah inilah yang menjadi pokok permasalahan dari judul tersebut di atas.
Manusia, Filsafat dan Tuhan Ali, Mukti
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 28 (1982)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1982.028.33-46

Abstract

Dalam Ceramah yang  sekali sudah barangtentu tidak akan dibicarakan tentang pembagiaan konsep tentang manusia, filsafat dan tuhan, karena hal itu tentu sudah saudaraketahui. Saya kira akan lebih bermanfaat kalua dalam ceramah ini saya memusatkan hanya kepada satu atau dua masalah yang kini kita hadapi yang berhubugan dengan judul tersebut diatas.
Mu’jizat al-Qur’an Diteliti Dengan Komputer Aminas, Hasanuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 28 (1982)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1982.028.27-32

Abstract

Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari hasil wawancara Jamal Arief, wartawan majalah Akhirus Sa’ah yang terbit di Mesir, tentang hasil penelitiaan seorang sarjana kimia Mesir, yaitu Dr. Rasyad Khalifah yang kemudian di muat dalam majalah tersebut. Dr. Rasyad Khalifah adalah alumnus fakultas pertanian universitas AINSYAMS Mesir yang kemudian melanjutkan studinya ke Amerika Serikat dengan mengambil jurusan Bio-kimia, kemudian berhasil memperoleh gelar Doktor dengan disertasi tentang pembuatan protein dari minyak. Ia Kembali ke Kairo pada tahun 1966. Pada tahun 1968 ia Kembali lagi ke Amerika Serikat dan bekerja sebagai konsultan disebuah perusahaan industry makan di St. Louis, Misouri, yang kemudian membeli hasil penelitiaannya mengenai perbuatan protein tersebut seharga US$20.000.000.
IAIN Menghasilkan Doktor Pertama Dalam Ilmu Agama Islam Sitompul, Agussalim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 28 (1982)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1982.028.15-26

Abstract

Istitut Agama Islam Negeri (IAIN) sebagai gabungan dari Perguruan Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta dan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta berumur 31 tahun. IAIN Yogyakarta sebagai kelanjutan dari PTAIN, didirikan di Yogyakarta pada tanggal 26 September 1951 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1950 tertanggal 14 Agustus 1950, merupakan IAIN tertua. Dan IAIN Jakarta, yang cakal bakalnya adalah ADIA, yang didirikan di Jakrta berdasarkan penetapan Mentri Agama No. 1 tahun 1957, adalah IAIN kedua, yang kini berusia 25 tahun.

Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue