cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,211 Documents
Peranan Jamaluddin Al-Afghani dalam Politik Pulungan, Syahid Mu’ammar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 26 (1981)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1981.026.31-45

Abstract

Jamaluddin Al-Afghani nama aslinya adalah Muhammad bin Safar, dilahirkan pada tahun 1254 H atau 1838 M di kota Kabul Afghanistan, keluarganya adalah keturunan orang-orang ternama dan berpengaruh yaitu Attirmidzi, keturunan Husen bin Ali.  Pada umur 18 tahun dia mempelajari cabag-cabang ilmu pengetahuaan Islam dan  mempelajari filsafat serta ilmu pasti (Exacta). Dia pernah tinggal di India untuk beberapa tahun dan kemudia dia melaksanakan ibadah haji di Mekkah pada tahun 1273 H (1857 M). Sekembalinya dari ibadah haji dia langsung pulang ke Afghanistan menjabat sebagai Pembantu Amir Dust Muhammad Khan, untuk mengobarkan kampanye politiknya. Pada tahun 1285 H (1869 ) dia Kembali melakasanakan ibadah Haji untuk yang kedua kalinya, dan kemudian ke Cairo secara diam-diam mengadakan hubungan dengan Al-Azhar. Ditempat kediamannya dia mengadakan kaidah-kaidah khusus (private). Pada tahun 1287 H (1871 M) dia mengunjungi kontantinopel, yang ternyata kedatangannya dielu-eluhkan oleh masyarakat dengan penuh kemeriahan dan kehangatan.
Pengaruh Al-Qur’an Terhadap Adab Bahasa Arab Pada Abad Pertama Dan Kedua Hijriah Murai, Ma’mun Muhamad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 26 (1981)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1981.026.15-30

Abstract

Pembahasan ini berjudul PENGARUH AL-QUR’AN TERHADAP ADAB BAHASA ARAB PADA ABAD PERTAMA DAN KEDUA HIJRIAH. Dalam tulisan ini penulis hendak mengungkapkan (terlebih dahulu) tentang arti ADAB dalam sejarah pemakaiaannya, sebab kata ADAB sering diartikan tidak sebagaimana yang dimaksud dalam arti yang sebenarnya, bagaimana asal usul pemakaiannya dan bagaimana pengertianya saat ini. Disamping itu penulis berusaha menelusuri Riwayat singkat pertumbuhan dan perkembangan Bahasa harab agar bisa diketahui bahwa kedatangan al-Qur’an merupakan rahmat bagi Bahasa arab sebab ia menjadi Bahasa yang terus maju pesat, hidup sepanjang masa, mendapat perhatian dari seluruh dunia, berkat agama Islam. Sebab Bahasa-bahasa di dunia tidak ada yang menyamai Bahasa arab yang telah hidup lebih dari lima belas abad dan tetap hidup, dalam kata-kata dan susunan, serta uslub yang selalu bersumber kepada al-Qur’an. Penulis juga berusaha mengungkapkan bahwa al-Qur’an mempunyai pengaruh besar sekali terhadap sastra dan budaya arab, juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ilmu-ilmu pada masa sesudahnya. Dalam pembahasan ini kami batasi hanya sampai abad pertama dan kedua hijriyah, atau sekitar masa akhir daulah bani Umayyah. Sekalipun demikiaan tidak semua gambaran yang terjadi masa itu dapat diungkapkan disini.  Sebab untuk pembahasa yang Panjang lebar diperlukan tempat dan waktu yang cukup, karena pengaruh Al-Qur’an bukan hanya terbatas pada masa itu saja, tetapi ia terus berpengaruh kepada semua aspek kehidupan umat Islam, baik langsung maupun tidak.
Metodologi Humaniora Dilthey (Sejarah, Pemikran, dan Pengaruhnya) Risman, Abu
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 26 (1981)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1981.026.1-16

Abstract

Dalam Penelitiaan Ilmu-Ilmu Sosial serta Agama, Orang mempergunakan berbagai metode dan Teknik dalam upaya memahami subyek penelitiaan, agar memperoleh informasi yang reliabel mengenai obyek penelitiannya. Diantara metode-metode itu ialah metode verstehen, yang dalam dunia filsafat dikenal sebagai metodologi. Kata verstehen berarti memahami atau mengerti dari dalam. Maksudnya, memahami subyek dan obyek penelitiaan ataupun masyarakat informan dan masalahnya dari dalam diri mereka sendiri. Untuk itu para peneliti harus membuat diri mereka sendiri. Untuk itu para peneliti harus membuat diri mereka Bersatu mengomplot dengan subyek penelitiannya, dan merasa di dalamnya. Dengan kata lain, ia harus melakukan emphaty atau penghayatan terhadap masyarakat yang diteliti. Jadi metode verstehen ini, bersifat masyarakat-sentrik (Mulder, 1979: 7).  Yang memasarkan metode verstehen ini dalam sosiologi ialah Max weber. Tujuan sosiologi Weber ialah memahami arti subyektif kelakuaan social (A. Sartono, 1970:66). Max Webersendiri menyadap metode verstehen itu dari Dilthey, penciptannya apa dan bagaimanakah sebenarnya makna serta kegunaan verstehen itu sebagai metode penelitian seperti yang dikehendaki oleh perumusnya, inilah yang menjadi masalah makalah ini. Untuk menjawabnya, diperlukan sistematika p-embahasan sebagai berikut: Sejarah hidup Dilthey; Pemikiran Dilthey tentang metodologi Humaniora; pengaruh Pemikiran Dilthey.
Al-Maujah al-Islāmiyyah al-Ukhrā: Al-Istisyrāq wa al-Dirāsāt al-Islāmiyyah al-Mu‘āṣirah Abdullah, Muhammad Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 45, No 2 (2007)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2007.452.415-438

Abstract

This article explores the mapping of the development of Islamic studies from its inception to the present, which consists of three waves. The first wave was the study of Islam by internal Muslims themselves. This period lacks comprehensive factors to categorize as an academic study. The second wave was Islamic studies carried out by experts from outside Islam who were called orientalists. This wave of Islamic study involves academically sufficient methodology. Meanwhile, the third wave is generally carried out by internal groups of Muslims who are enlightened and equipped with contemporary sciences, especially humanities.[Tulisan ini berisi pemetaan perkembangan studi Islam dari awal pertumbuhannya hingga masa sekarang, yang dapat dipilah menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama dibangun sendiri oleh internal umat Islam. Periode ini tidak memiliki faktor-faktor yang komprehensif untuk sebuah studi akademis. Gelombang kedua merupakan studi Islam yang dilakukan oleh ahli dari luar Islam yang mendapat sebutan sebagai orientalis. Gelombang ini dipandang sebagai studi Islam yang melibatkan metodologi yang cukup sebagai kajian akademik. Sedangkan gelombang ketiga adalah yang umumnya dilakukan oleh kelompok internal Muslim yang tercerahkan dan terbekali dengan keilmuan kontemporer, khususnya ilmu humaniora.]
The Approach of Imam Abdul Hamid ibn Badis to Sufi Methods Omrani, Belkheir Ahmed
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2023.612.477-496

Abstract

This research is about Shaikh Abdul Hamid ibn Badis, the president of the Algerian Association of Muslim Scholars, who led the reformist movement during the French occupation and was one of the leaders of reformation in the Muslim world. The research aims to reveal how the Shaikh dealt with the reality of Sufism and its spiritual authority and broad influence embedded in Algerian society. The author addresses issues within Algerian society during the French occupation, the position of the Shaikh as a man of satire in general, and his relationship with the elders’ zawaya of Sufi methods. The research concludes that the Shaikh followed a middle ground in his dealings. He was clear in his opinions and convictions and expressed them through his writings and articles, while he had good connections with all the elders’ methods. His approach was not to differentiate but to assemble and remove the differences that weakened the society’s resistance towards the French occupation. As the Imam had been wise and advocative, he knew how to win the hearts and attitudes of his society.[Tulisan ini membahas Syaikh Abdul Hamid ibn Badis, Pemimpin Asosiasi Ulama Muslim Aljazair, yang memimpin gerakan reformis pada masa pendudukan Perancis dan merupakan salah satu pemimpin reformasi di dunia Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana sang Syaikh menyikapi realitas Tarekat serta otoritas spiritual dan pengaruhnya yang luas, yang tertanam dalam masyarakat Aljazair. Penulis membahas isu-isu yang terjadi di tengah masyarakat Aljazair selama pendudukan Perancis, posisi sang Syaikh sebagai satir secara umum, dan hubungannya dengan zawiyah-zawiyah Tarekat yang lebih tua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Ibn Badis telah memilih jalan tengah. Pendapat dan keyakinannya jelas, dia mengungkapkannya melalui tulisan dan artikelnya, sementara hubungannya dengan semua zawiyah Tarekat dibina sangat baik. Pendekatannya bukan untuk membeda-bedakan tetapi untuk mengumpulkan dan menghilangkan perbedaan-perbedaan yang melemahkan perlawanan masyarakat terhadap pendudukan Perancis. Karena sang Imam adalah orang yang bijaksana dan advokatif, dia tahu bagaimana memenangkan hati dan sikap masyarakatnya.]
The Approach of Imām Al-Biqāʻī in Determining the Objectives of the Quranic Chapters Misnawati, Misnawati; Elatrash, Radwan Jamal
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2023.612.455-475

Abstract

Imam al-Biqāʻī is one of the most prominent Quranic commentators who took care of the objectives of Quranic chapters and became the first scholar to draw attention to this science. Benefited from the science of the Quranic munāsabah, al-Biqāʻī analysed the objectives of the Quranic chapters in his books Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa al-Suwar and Maѕāʻid al-Naẓr li al-Ishrāf ‘alā Maqāѕīd al-Suwar. Therefore, the nature of this paper requires that the researchers rely on the inductive method to reach the views of scholars and Quranic commentators, especially that of al-Biqāʻī on the topic, to prove the approach of al-Biqāʻī in the purposes of the sūrah. The authors argue that relying on the sciences of the Quranic tanāsub and siyāq, al-Biqāʻī concluded that revealing monotheism is the ultimate goal of most of the Quranic chapters.[Imam al-Biqāʻī salah satu tokoh tafsir terpenting yang berkontribusi dalam Ilmu Maqāṣid ṣ al-Suwar al-Qur’āniyyah, bahkan beliau di garda terdepan dalam ilmu ini sebagai perintisnya. Dengan mendalami ilmu Munāsabah al-Quran, beliau menganalisis dan menentukan tujuan surat-surat al-Qur’an sebagaimana tergambar dalam kitabnya yang berjudul Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa al-Suwar dan Maṣāʻid al-Naẓr li al-Ishrāf ʻalā Maqāṣid al-Suwar. Artikel ini menggunakan pendekatan induktif untuk mengumpulkan pendapat para ulama dan para ahli tafsir, khususnya pendapat al-Biqāʻī, terkait disiplin ilmu tersebut untuk menelisik karakteristik pendekatan al-Biqāʻī dalam menentukan tujuan dari surat al-Quran. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa menurut al-Biqāʻī, tauhid adalah tujuan tertinggi di sebagian besar surat al-Quran. Pandangan al-Biqāʻī ini dia dapatkan melalui dua ilmu yang menjadi referensinya, yaitu ilmu al-Tanāsub dan al-Siyāq].
The Law of Movasat and the Moral Challenge of Staying at Home During the COVID-19 Pandemic Shiravand, Mohsen; Mirhadi, Zahra Sadat
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2023.612.441-454

Abstract

The challenge of the COVID-19 Pandemic is usually reduced to a mere medical and health problem, while one can observe its sizeable influence on economic, cultural, political and moral domains, too. In Muslim countries, moral conflict becomes one of the significant challenges of COVID-19 affecting people’s lives. Staying at home and its relationship with livelihood is one of the most complicated of these conflicts. In this essay, the authors assess and expose this moral conflict using the ethical doctrines of the Islamic religion rooted in the moral law of Movasat Altruism. There are four strategies in the principle of Movasat for overcoming the crisis: (1) uprooting poverty and reducing social-economic inequality; (2) job creation and supporting the production cycle; (3) eliminating unnecessary brokers; and (4) strengthening sympathy, empathy, and love within society.[Tantangan akibat Pandemi COVID-19 banyak difokuskan hanya sebatas masalah medis dan kesehatan saja, padahal pengaruhnya juga terlihat cukup besar dalam bidang ekonomi, budaya, politik, dan moral. Di negara-negara Muslim, konflik moral menjadi salah satu tantangan signifikan akibat COVID-19 yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Tinggal di rumah dan hubungannya dengan penghidupan merupakan contoh salah satu konflik yang cukup rumit. Dalam tulisan ini, penulis berupaya mengungkap konflik moral ini dengan menggunakan doktrin etika agama Islam yang berakar pada hukum moral altruisme Movasat. Ada empat strategi dalam prinsip Movasat untuk mengatasi krisis: (1) memberantas kemiskinan dan mengurangi kesenjangan sosial ekonomi; (2) menciptakan lapangan kerja dan mendukung siklus produksi; (3) menghilangkan perantara yang tidak diperlukan; dan (4) memperkuat simpati, empati, dan rasa cinta kasih dalam masyarakat.]
Muslim Minority in Manila: Ethnographical Studies of Minority Expression on the Archipelago Susilo, Daniel; Sugihartati, Rahma; Santos, Roberto Rudolf T.
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2023.612.419-440

Abstract

This article describes the spiritual experience of being a Muslim and minority in Manila, the capital of Asia’s most populous Catholic country, the Philippines. This research used an ethnography approach to understand how Muslims in Manila negotiate their identity as Muslims as well as Filipinos who live in Barangay as a minority and face bad sentiment, especially after the Battle of Marawi and the Maguindanao Massacre. This research found that even when facing negative stigma on most of the national media coverage after the Battle of Marawi and the Maguindanao Massacre, Muslims in Manila feel that they are free to express their identity as Muslims, as Anak Bansa, and as Filipinos with their limitations.[Artikel ini menggambarkan pengalaman spiritual Muslim minoritas di Manila, Filipina, negara dengan umat Katolik terbesar di Asia. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi untuk melihat bagaimana Muslim di Manila menegosiasikan identitasnya sebagai orang Islam sekaligus sebagai orang Filipina yang hidup di Barangay sebagai minoritas, terutama dalam menghadapi sentimen buruk pasca Perang Marawi dan Pembantaian Maguindanao. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun menghadapi stigma buruk dalam hampir semua media nasional pasca Perang Marawi dan Pembantaian Maguindanao, orang Islam di Manila tetap merasa bebas mengekspresikan identitas mereka dengan segala keterbatasannya sebagai Muslim sekaligus sebagai Anak Bangsa dan orang Filipina.]
Struggling for Recognition: Archived-based Documentary Film of the Ahmadiyya Jamaat in Indonesia Wulandari, Peny; Bawono, Harry
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2023.612.393-417

Abstract

The Ahmadiyya community has become a victim of persecution as labelled abnormal by other Muslim communities in Indonesia, especially in post-2004. Responding to the issue, the Ahmadiyya community constructs three colours of discourse, religious, humanitarian, and nationalism, to “normalise” their position in Indonesian society. The religious discourse stems from their direct citation to religious texts that confirm their legitimate standpoint. The humanity discourse arises from their action in the humanity program, such as blood and corneal donors. Meanwhile, the nationalism discourse appears in their short archives-based documentary film. This article examines the discourse of nationalism constructed by the Ahmadiyya via a short archives-based documentary film entitled, “Kiprah Ahmadiyah dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (the Ahmadiyya’s Role in the Struggle for the Independence of Indonesia)” using Van Dijk discourse analysis frame through an archival studies perspective. This research argues that the nationalism discourse portrayed in the film represents a deliberate act of archival activism planned by the Ahmadiyya community to seek recognition from diverse communities in Indonesia, including mainstream Muslims, general populations, and the state. [Komunitas Ahmadiyah di Indonesia telah menjadi korban persekusi karena label “tidak normal” yang disematkan oleh komunitas Muslim lain di Indonesia, terutama pasca-2004. Merespons isu tersebut, komunitas Ahmadiyah membangun tiga warna wacana: agama, kemanusiaan, dan nasionalisme. Wacana-wacana ini mereka bangun untuk “menormalkan” posisi mereka di tengah masyarakat. Wacana keagamaan dapat diidentifikasi dalam cara mereka mengutip teks-teks agama untuk mengkonfirmasi keabsahan keberadaan dan titik pijak mereka. Wacana kemanusiaan muncul dalam kegiatan mereka dalam program kemanusiaan, seperti donor darah dan kornea. Sementara, wacana nasionalisme dapat dianalisis dalam sebuah film dokumenter pendek. Artikel ini mengkaji wacana nasionalisme yang di konstruksi oleh Ahmadiyah melalui sebuah film dokumenter pendek berbasis arsip berjudul “Kiprah Ahmadiyah dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia” dengan menggunakan kerangka analisis wacana Van Dijk dalam perspektif studi arsip. Penelitian ini berargumen bahwa wacana nasionalisme yang dibuat dalam film tersebut mencerminkan tindakan aktivisme-kearsipan yang direncanakan oleh komunitas Ahmadiyah untuk memperjuangkan rekognisi dari komunitas lain di Indonesia: Muslim arus utama, komunitas lain secara umum, dan negara.]
Arabic Neologisms in Indonesian and Malaysian Arabic Media Sukiman, Uki; Zainuddin, Ghazali; Yoyo, Yoyo; Ramlan, Siti Rosilawati
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 61, No 2 (2023)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2023.612.365-392

Abstract

This research examines new, unique Arabic terms and vocabulary used in the newspapers Indonesia Alyoum and Aswaq, two online media based in Indonesia and Malaysia, respectively, to elaborate on the development of the Arabic language in non-Arab countries. The invention of new Arabic words in these media primarily used the methods of al-taulīd bi al-iqtirāḍ, particularly al-dakhīl, and al-taulīd al-dalālī using al-tarjamah al-ḥarfiyah. Meanwhile, the method al-taulīd bi al-majāz, a metaphorical method, is to invent new, unique, local terms. However, the authors argue that both newspapers have differences in transliteration and inconsistent use of terms. In response to this language development, Malay Muslims show their potential to develop Malay-Arabic transliteration guidelines, compile a new Arabic dictionary, and even establish Southeast Asian Majma‘ al-Lugah al-‘Arabiyah. [Penelitian ini mengkaji istilah-istilah dan kosakata baru dan unik dalam bahasa Arab yang digunakan di surat kabar Indonesia Alyoum dan Aswaq, dua media online yang masing-masing berbasis di Indonesia dan Malaysia, untuk melihat perkembangan bahasa Arab di negara non-Arab. Pembentukan kosa kata baru pada media ini terutama menggunakan metode al-taulīd bi al-iqtirāḍ, khususnya al-dakhīl, dan al-taulīd al-dalālī yang berbasis al-tarjamah al-ḥarfiyah. Sedangkan metode al-taulīd bi al-majāz, metode metafora, dipakai untuk mengalihkan istilah-istilah lokal. Namun, kedua surat kabar tersebut memiliki perbedaan dalam transliterasi dan tidak konsisten dalam penggunaan kosa kata serapan tersebut. Sementara itu, dalam menyikapi perkembangan bahasa Arab ini, umat Islam Melayu berpotensi mengembangkan pedoman transliterasi Melayu-Arab, menyusun kamus bahasa Arab baru, bahkan mendirikan Majma‘ al-Lugah al-‘Arabiyah Asia Tenggara.]

Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue