cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,223 Documents
Religion: An Ambiguous and Questionable Concept
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 2 (2004)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2004.422.295-318

Abstract

Hampir sebagian besar ahli ilmu agama, jika bukan seluruhnya, tentu akan sepakat dengan definisi agama sebagai buah hubungan manusia dengan sesuatu yang dianggap suci. Dalam sepanjang sejarah, agama dalam pengertian seperti itu memang selalu dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat manusia. Tetapi, mereka akan berbeda-beda pendapat ketika berusaha mendefinisikan dan menjelaskan agama sebagai sebuah konsep. Sungguh, agama sebagai sebuah konsep, memiliki pengertian  yang berbeda-beda. Agama adalah sebuah konsep yang ambigu, sebuah konsep yang mempunyai banyak pengertian, seperti diperlihatkan oleh tulisan ini.Perbedaan pengertian seputar konsep agama itu telah menyebabkan pemahaman tentang agama menjadi semakln kompleks dan rumit. Semua agama yang ditemukan dalam sejarah diklasifikasikan berdasarkan sekurang-kurangnya tujuh kriteria, mulai dari kriteria yang bersifat paling subjektif hingga kriteria yang dianggap paling objektif. Ketujuh kriteria tersebut adalah normatif,Geografis, etnografis-linguistik, filosofis, morfologis, dan fenomenologis. Berdasarkan klasifikasi ini dapat disimpulkan bahwa secara akademik konsep agama mencakup sebuah fenomena keyakinan dan perilaku manusia yang sangat luas yang tidak terbatas pada apa yang disebut " agama-agama besar dunia". Agama-agama mempunyai persamaan  dan perbedaan seperti secara singkat diperlihatkan pada akhir tulisan ini.
Ṣu’ūbāt al-Tarjamah min al-Nāḥiyah al-Dalāliyyah Ismail, Achmad Satori
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 1 (2003)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2003.411.171-182

Abstract

The main problem in the proses of language transfer is to find the precise word between two languages. To transfer a word of a language into another language require some conditions, i.e., word classification, socio-cultural background, metaphor, etc. It is mistaken to say that the meaning of words in any language lies in the pattern of the word used t0 express particular purpose. Instead, the meaning of a word we used as a mean to construct our knowledge is the meaning that suit to the culture of a country. Therefore, the concept of a word in a culture may not be able to be found in other cultures. It is also the cases of Indonesian language in relation to other languages. In particular, the difficulties of translating Arabic words into bahasa Indonesia or vice versa, from the semantic point of view, could be classified into some categories: (1) the semantic difference of two similar words, (2) the differences in using an expression, (3) the classification differences of words, (4) the differences in using taboo words and the softness of expression, and finally (5) the socio-cultural differences between two nations/ countries.
Metrical Verse as a Rule of Qur’anic Translation: Some Reflections on R.A.A. Wiranatakoesoemah’s Soerat Al-Baqarah (1888–1965) Rohmana, Jajang A
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.439-467

Abstract

The paper aims to analyze how literary translations of the Quran can grasp the meaning of the Quran and ‘subordinate’ it to local poetry rules, using R.A.A. Wiranatakoesoema’s Soerat Al-Baqarah as the object of study. It is a Sundanese poetic translation of the Quran in the form of guguritan or dangding and as such this study is focused on the implications of canto rules to the Quranic meaning field in the translation, analyzed using intertextual studies and semantic analysis. This research shows that the use of guguritan in the translation of the Quran might cause a problem of inaccessibility of the translated meaning. There are some implications of subordination of the translation of the Quran following the rules of guguritan. This tradition affected the expansion or constriction of the meaning, which in turn caused modification within the verses (ayat) in translation, and forced the use of loan words, particularly Malay. This study is significant not merely for demonstrating a diglossic ideology on language of the Quran that has affected Sundanese literature, but also for strengthening the thesis that ‘Sundanization’ of the Quran was performed as a form of resistance against Islam and Arabness through cultural impulses—especially Sundanese literature. Wiranatakoesoema’s Soerat Al-Baqarah is a creative effort that should be appreciated, but it must be noted that literary language can never be completely satisfactorily compared and translated.[Tulisan ini menjelaskan bagaimana penerjemahan al-Quran dapat mencapai makna seutuhnya dengan ‘menurunkan’ standarnya sesuai aturan susastra lokal, yang tersirat pada pengkajian Soerat Al-Baqarah karya R.A.A Wiranatakoesoema. Terjemahan surat ini merupakan alih bahasa dalam bentuk susastra Sunda yang disebut dengan guguritan atau dangding. Tulisan ini berfokus pada implikasi aturan pupuh pada medan makna penerjemahan al-Quran dengan menggunakan analisis intertekstual dan semantik. Dalam kajian ini menunjukkan bahwa penggunaan guguritan dalam penerjemahan al-Quran dapat menyebabkan persoalan ketidaksampaian makna terjemahan. Terdapat beberapa implikasi antara lain ‘subordinasi’ pada terjemahan. Hal ini disebabkan oleh perluasan atau penyempitan makna akibat modifikasi dalam penerjemahan ayat dan pemaksaan dalam peminjaman kata, khususnya Melayu. Kajian ini penting karena tidak hanya menunjukkan konsep diglosia dalam terjemahan al-Quran akibat pengaruh bahasa Sunda, tetapi juga menguatkan pendapat bahwa ‘Sundanisasi’ merupakan usaha resistensi terhadap Islam dan Arab melalui susastra Sunda. Karya Wiranatakoesoema layak untuk diapresiasi sebagai usaha kreatif, meskipun perlu dicatat bahwa bahasa susastra tak akan cukup memuaskan untuk dibandingkan atau diterjemahkan. ]
Editorial: Migrating to the Online Journal Management
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 54, No 1 (2016)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Veil at the Crossroads: Muḥammad Saʻīd al-‘Ashmāwī and The Discourse on the Ḥijāb in Egypt Nasir, Mohamad Abdun
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2004.421.89-131

Abstract

Jilbab telah menjadi isu kontroversial yang mengakibatkanp perdebatan sengit di kalangan feminis, Islamis maupun kelompok Liberal-sekuralis di Mesir. Muḥammad Saʻīd al-Ashmāwi melihat jilbab telah dibelokkan arah oleb kelompok Islam radikal dari masalah agama ke masalah politik untuk mencap kafir wanita Muslim yang menolak jilbab. Inilah yang menjadikan ketidaksetujuan ‘Ashmā-wī. Kelompok lslam radikal dianggap telah  memanipulasi agama demi tercapai kepentingan-kepntingan idiologis politik mereka. Dari situ Ashmāwī kemudian membuat counter discourse tentang jilbab. Menurutnya jilbab tidak wajib. Bagi dia tidak semua ayat-ayat al-Quran bersifat umurn, dan sebagian dari mereka bersifat spesifik yang terkait dengan kondisi tertentu. Ayat-ayatt tentang jilbab masuk dalam kategori ini dan interpretasi terhadap ayat-ayat tersebut harus dikaitkan dengan konteks sebab turunnya ayat (asbāb al nuzūl). 
Sharā’it Fahm al-Mutūn wa-Dawr al-Insān: al-Tafakkur al-Hirmīniwtīkī fi’l-Islām ‘ind Muhammad Mujtahid Shabistarī Marcotte, Roxanne D
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 49, No 1 (2011)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2011.491.191-198

Abstract

Isu penafsiran dan interpretasi teks apapun, terutama teks agama, masih menyita banyak peneliti yang mencoba mencari solusinya. Ini karena proses penafsirannya tidak begitu naif karena tumpang tindih dengan berbagai faktor yang membuat proses ini rumit. Artikel ini mengungkapkan pendapat ilmuwan Iran, Muhammad Mujtahid Shabstari, dalam proses penafsiran atau Hermeunetik. Proses penafsiran harus melibatkan faktor-faktor penafsir itu sendiri terlebih dahulu, dan teks kedua, dan isu menempatkan makna teks di lingkungan baru. Penelitian ini mengarahkan peneliti pada kesimpulan bahwa segala jenis proses semacam itu tidak bersifat final dan tidak memperoleh interpretasi yang benar, hanya menyangkal interpretasi lainnya, namun juga rentan terhadap kesalahan dan pada masing-masing akibat dampak dari kepentingan kepentingan penafsir.
A Defender of an “Existence": Mullā Ṣadrā on Mumkin Al Makin, Al Makin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 1 (2003)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2003.411.41-67

Abstract

Untuk memudahkan pembahasan tentang penggunaan filosofis (ontologis dan metafisik) terma "mumkin" dalam wacana Mullā Ṣadrian, dalam tulisan berikut ini akan disajikan penelusuran historisitas ide dimulai dari penggunaan konsep tersebut dalam struktur bahasa; terutama sekali adalah makna kata mumkin secara ontologis dan metafisik. Termasuk dalam pembahasan berikut adalah terma "mumkin" jauh sebelum terma tersebut dimasukkan dalam wacana Mullā Ṣadrā, seperti dalam karya-karya filosof Yunani: Aristoteles, Neoplatonisme dan filsafat Islam klasik. Historisitas ide mumkin dan konsekuensi konsepnya akan dipaparkan. Mumkin versi Mullā Ṣadrā sendiri akan dikupas terakhir setelah perbandingan-perbandingan dengan konsep mumkin yang mendahului Mullā Ṣudrā diungkap.
Causal Analysis of Religious Violence, a Structural Equation Modeling Approach Munajat, M
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.413-437

Abstract

The present study tries to investigate the causal model of religious violence using SEM (Structural Equation Modeling) approach. Previous quantitative research in social movements and political violence suggests that there are, at least, three factors, that caused violent collective actions, including religious violence: 1) the more fundamentalist people are, the more likely they justify violence, 2) people with lower trust in government is more likely to justify violence, and 3) opposing the second argument: only people with low trust in government and high political efficacy are more likely to justify violence. Based on the data of 343 respondents, the activists of Front Pembela Islam, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama, this study confirms that the more fundamentalist people are, the more likely they are to justify violence regardless of their organizational affiliations. On the contrary, this study does not support the argument for the relationship between trust in government and violence. Similarly, the relationship between violence and the latent interaction of trust and political efficacy is not supported by the data. Therefore, this study suggests that fundamentalism, a type of religiosity, is a salient factor to explain religious violence.[Penelitian ini berusaha mengkaji sebab kekerasan keagamaan dengan menggunakan pendekatan Model Persamaan Struktur (SEM). Penelitian kuantitatif terdahulu dalam bidang gerakan sosial dan kekerasan politik menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang diduga kuat menjadi penyebab kekerasan kolektif, seperti kekerasan agama, yaitu: 1) semakin fundamentalis seseorang, maka ia akan semakin cenderung menyetujui pernggunaan cara kekerasan, 2) semakin rendah kepercayaan seseorang terhadap pemerintah, maka ia akan semakin menyetujui penggunaan kekerasan, 3) berbeda dengan pendapat ke-dua, hanya orang yang rendah kepercayaanya kepada pemerintah, namun mempunyai semangat politik tinggi, yang akan menyetujui penggunaan cara-cara kekerasan. Berdasarkan pada data yang diambil dari 343 responden dari para aktivis, Front Pembela Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, penelitian ini mengkonfirmasi bahwa semakin fundamentalis seseorang, maka ia akan semakin cenderung menyetujui kekerasan, terlepas dari afiliasi organisasi mereka. Namun demikian, penelitian ini tidak mendukung hubungan antara kepercayaan terhadap pemerintah dan kekerasan. Demikian juga, hubungan antara kekerasan dan interaksi antara kepercayaan pemerintah dan semangat politik tidak dapat dibuktikan dari data dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa fundamentalisme, sebagai salah satu bentuk keagamaan, merupakan faktor yang sangat penting dalam menjelaskan kekerasan keagamaan.]
Polygamous Marriages in Indonesia and Their Impacts on Women’s Access to Income and Property Nurmila, Nina
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 54, No 2 (2016)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2016.542.427-446

Abstract

Most studies on polygamy mainly focus on the male normative interpretation of the Quran. This paper, however, will focus on the practices of polygamy. It will mainly explore whether the practices of polygamy are legal or illegal (unregistered for not following the procedure and requirements stated in the 1974 Marriage Law). This paper argues that most polygamous marriages in Indonesia are illegal. This practice can be considered a form of resistance to the Law which requires a husband to ask the permission from the Religious Court before entering polygamous marriages. This paper will also elaborate various living arrangements of legal and illegal polygamous marriages with various consequences on maintenance and property ownership among wives. [Kebanyakan studi tentang poligami berfokus pada interpretasi laki-laki terhadap al-Quran yang bersifat normatif. Akan tetapi, artikel ini akan berfokus pada praktik poligami. Artikel ini terutama akan menerangkan apakah praktik poligami itu legal atau tidak legal (tidak dicatatkan karena tidak mengikuti aturan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Perkawinan/UUP 1974). Artikel ini berargumen bahwa kebanyakan perkawinan poligami itu dipraktikan secara illegal. Praktik ini merupakan bentuk dari penentangan terhadap UUP yang mengharuskan seorang suami memohon izin terlebih dahulu kepada Pengadilan Agama sebelum berpoligami. Makalah ini juga akan menjelaskan berbagai pengaturan hidup dalam perkawinan poligami baik yang legal ataupun yang tidak legal dengan berbagai konsekuensinya terhadap nafkah dan kepemilikan harta di antara para istri.]
Ibn Al-Haytham’s Classification of Knowledge Ishaq, Usep Mohamad; Wan Daud, Wan Mohd Nor
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 55, No 1 (2017)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2017.551.189-210

Abstract

Ibn al-Haytham (d. 1039) is a well known scholar for his contributions in natural and mathematical sciences. The research focuses on his works in sciences and mathematics and only a few studies carry out on his contribution on philosophy due to the lack of the primary sources. The only known surviving Ibn al-Haytham’s work on philosophy is Kitāb Thamarah al-ḥikmah. However, few studies have examined and explored this work. Based on this work, the present study tries to scrutinize Ibn al-Haytham’s epistemology and focused mainly on his classification of knowledge. The comparative study of Ibn al-Haytham’s classification of knowledge and that of al-Fārābī‘s, Ibn Ḥazm’s, Ṭūsī’s, and al-Ghāzālī  is also carried out. The result shows that Ibn al-Haytham has two mode of classifications: the ontological and epistemological. It is also obvious that Ibn al-Haytham tries to integrate Greek philosophy and sciences within the worldview of Islām. The results of the present study also suggests that the nexus between the concept of classification of knowledge and the concept of perfect man (al-insān al-tāmm) is obvious.[Ibn al-Haytham (w. 1039) adalah sarjana yang dikenal sumbangsihnya dalam ilmu-alam dan matematika. Penelitian-penelitian hingga saat ini cenderung difokuskan pada karya-karya sains dan matematikanya saja dan hanya sedikit dilakukan pada karya-karya filsafatnya karena kurangnya rujukan primer. Satu-satunya karya Ibn al-Haytham yang ada dalam bidang filsafat adalah Kitāb Thamarah al-Ḥikmah. Namun, studi yang dilakukan untuk meneliti dan mengeksplorasi karya ini sejauh ini amat kurang. Berdasarkan karyanya tersebut, kajian ini mencoba untuk meneliti dengan seksama epistemologi Ibn al-Haytham dan utamanya difokuskan pada klasifikasi ilmu pengetahuan. Studi perbandingan antara klasifikasi ilmu Ibn al-Haytham dengan al-Fārābī‘s, Ibn Ḥazm’s, Ṭūsī’s, and al-Ghāzālī juga dihadirkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn al-Haytham memiliki dua cara klasifikasi ilmu pengetahuan. Juga sangat nampak bahwa Ibn al-Haytham mencoba memadukan filsafat dan sains Yunani dalam pandangan alam Islam. Kajian ini juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang jelas antara konsep klasifikasi ilmu pengetahuan dengan konsep manusia sempurna (al-insān al-tāmm)]

Page 37 of 123 | Total Record : 1223


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue