cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,223 Documents
Maṣlaḥah Mursalah in the Thought of Muḥammmad Abduh and Rashīd Riḍa Lubis, Nazly Hanum
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2004.421.133-152

Abstract

Artikel ini membahas konsep maṣlaḥah mursalah (salab satu metode istinbāṭ hukum Islam) yang dikembangkan oleh Muhammad ‘Abduh dan muridnya Rashīd Riḍa. Konsep yangn mereka kembangkan berbeda dengan apa yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu, yang memberikan beberapa syarat yang ketat dalam pengaplikasian maṣlaḥah. Menyadari bahwa maṣlaḥah dapat dijadikan sebagai media dalam memformulasikan hukum Islam, kedua reformis ini mengadopsi konsep ini dalam mengantisipasi perubahan sosial tanpa memberikan persyaratan ketat sebagai yang telah ada sebelumnya. Mereka lebih menekankan kemampuan akal dalam memahami syariat, dilandasi atas kepercayaan bahwa Islam merupakan agama rasional dan, dengan demikian, menuntut peran akal yang besar dalam memahami ajarannya. Pendekatan yang dirumuskan oleh ‘Abduh dan Riḍā sesungguhnya mampu mengantisipasi perubahan sosial, namun pada saat yang sama ia secara tidak langsung dapat berakibat kepada sekularisasi hukum Islam itu sendiri.
Qasīda Banāt Su‘ād li-Ka‘b ibn Zuhayr ibn Abī Salmā: Tahlīl al-Uslūb al-Adabī Pribadi, Muhammad
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 49, No 1 (2011)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2011.491.199-229

Abstract

Dalam tulisan ini, peneliti mencoba untuk melihat pentingnya puisi Suead Lakaeb bin Zuhair Ibn Abi Salma dalam menerangkan sejarah peradaban Islam, terutama di era kudeta dari masa pra-Islam hingga era Muharramain yang terkenal. Penulis menganalisis puisi ini yang fokus pada inti unsur metode dan pernyataan sesuatu dari latar belakang penampilan untuk menghormati para pembaca proporsional antara metode yang digunakan dan kondisi penyair dalam membangun puisinya. Dipercaya bahwa puisi ini adalah sebuah nilai yang berasal dari pengalaman religius dan puisi artistik yang mengubah filosofi kehidupan penyair dari ketidaktahuan tentang Islam. Puisi ini terinspirasi oleh gagasan mulia yang diungkapkan dalam bentuk artistik Galilea yang sangat baik sampai menjadi sebuah puisi yang indah.
Dinamika Islam Politik di Indonesia pada Era Reformasi (1998-2001) Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 1 (2003)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2003.411.69-106

Abstract

This article discusses the political attitude of some Indonesian Muslims to the reformation era of Indonesia. Euphorically, they responded the reformation in the same way as in the early history of Indonesian politics, i.e., they are interested much in struggling their political interest in the formalistic ways. This study has found that the Islamic figures who struggling political Islam in the substantive ways are entrapped in formalistic struggle. Compared to the era of Old and New Order political system, some politician Muslims hardly offer new political strategies. Their political attitudes have been promoted so far are merely on the following three points. First is an interest to raise their political parties to the power. Second is to pose their groups without any good quality agenda. Third, inconsistency of some figure in struggling for Muslim society, they struggling for their own group. Instead, It seem that the attitude of some elite politician Muslims is influenced by political changes and their religious understandings. It is clear that if political Islam is struggled without any good and distinct concept or agenda, the politician Muslims would face some obstacles which are difficult to be solved. Therefore, basic wide-ranging understanding is necessary for politician Muslims in comprehending some political affairs in Indonesia.
States and Local Legal Cultures in Medieval Islam: A comparative study of Akbar’s Mughal Rule and Sultan Agung’s Mataram in 16th and 17th Century Achmad, Noor; Nurcholis, Nanang
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 54, No 1 (2016)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2016.541.33-57

Abstract

This study seeks to expand the horizon of existing literatures on the dialectic of religion, legal culture and local dynamics by comparing two great Muslim rulers in two different parts of the world in the first Islamic millennium: Mughal Emperor Akbar and Mataram’s Sultan Agung. It specifically aims to analyze historical accounts on the dynamic relations between Islamic norms and local culture with corresponding results of distinctive ways of ruling by these two great rulers. While both rulers Akbar and Sultan Agung shared similar concerns in political imagination, their difference was particularly shown in the representation of religion in the courts’ political and legal culture, with the latter was heavily determined by different challenges they faced during their rule. This paper argues that a comparative overview of these two great figures, who ruled in different parts of the world and at rather successive periods, would be beneficial for the studies of religion-culture relations in flagging the variation and extent of manifestation of Islamic global norms in local legal cultures which heavily determined by their corresponding local dynamics. As a literary or library research, it uses eclectic, blended, with qualitative method in content analysis.[Studi ini berupaya memperluas horison literatur-literatur yang ada tentang dialektika agama, budaya hukum dan dinamika lokal dengan membandingkan dua penguasa besar Muslim di dua belahan dunia yang berbeda pada millennia Islam pertama yaitu Raja Akbar dari Dinasti Mughal dan Sultan Agung Kerajaan Mataram. Secara spesifik, studi ini bertujuan untuk menganalisa catatan-catatan historis relasi dinamis antara norma Islam dengan budaya lokal dengan hasil temuan yang menunjukkan cara berkuasa/memerintah yang berbeda diantara dua penguasa tersebut. Sementara keduanya (Akbar dan Agung) memiliki kemiripan dalam imajinasi politik, di sisi lain, perbedaan mereka ditunjukkan dalam hal representasi agama dalam budaya hukum dan politik terutama ditentukan oleh perbedaan tantangan yang mereka hadapi ketika mereka berkuasa. Studi ini membuktikan bahwa dengan membandingkan dua figur yang memerintah di belahan dunia yang berbeda pada masa yang berurutan, akan memberikan manfaaat terhadap studi relasi agama dan budaya dalam mewarnai variasi dan lingkup manifestasi norma-norma global Islam dalam budaya hukum lokal yang banyak ditentukan oleh dinamika lokal yang bersesuaian. Sebagai penelitian kepustakaan (literer), studi ini menggunakan pendekatan eklektik dengan metode kualitatif dalam analisis ini (content analysis)].
Before the Ethical Policy: The Ottoman State, Pan-Islamism, and Modernisation in Indonesia, 1898–1901 Supratman, Frial Ramadhan
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 54, No 2 (2016)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2016.542.447-475

Abstract

By drawing on Ottoman-Turkish documents in the Prime Minister’s Ottoman Archives, this paper investigates the role of the Ottoman state and Pan-Islamic ideology on modernisation in Indonesia. The article revisits the process defining the Ethical Policy (Politik Etis) as the turning point of the emergence of modernisation in Indonesia.  In existing scholarship, the ‘Ethical Policy’ became the grand narrative in Indonesian history, meanwhile the influence of Pan-Islamism is only seen as the unsuccessful political propaganda of Abdulhamid II on the anti-colonialism movement in Indonesia. Many Indonesian and Ottoman historians view Pan-Islamism in the context of anti-colonialism fighting against the Dutch militarily in the late nineteenth and early twentieth centuries. This article proposes an alternative view to this narrative which acknowledges Pan-Islamism as a modernisation step for Indonesians which was signed by the Jawi students arrival in Istanbul and shows the Hadhrami community as the agent of modernisation. In short, the article shows the Ottoman influence on the emergence of the Ethical Policy of 1901 in Indonesia.[Menggunakan dokumen-dokumen Turki Utsmani yang disimpan di Prime Minister’s Ottoman Archives, makalah ini meneliti peran imperium Utsmani dan ideologi Pan-Islam  dalam modernisasi Indonesia. Hal itu dilakukan dengan meninjau kembali proses mendefinisikan Politik Etis sebagai titik balik lahirnya modernisasi Indonesia. Dalam literatur yang ada sekarang, Politik Etis menjadi cerita utama dalam sejarah Indonesia, sementara Pan-Islamisme hanya dipandang sebagai propaganda gagal dari Abdulhamid II bagi gerakan anti kolonial di Indonesia. Kebanyakan sejarawan di Indonesia dan Turki dalam konteks perjuangan melawan penjajah Belanda. Artikel ini menawarkan narasi alternatif yang  mengakui Pan-Islamisme sebagai salah satu tahapan penting modernisasi Indonesia yang ditandai dengan datangnya para mahasiswa Jawa di Istambul dan menunjukkan peran komunitas Hadhrami sebagai agen modernisasi.]
Islamic History and Civilization Editorial, Editorial
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2004.421.vii-viii

Abstract

Taṣawwur al-Dawlah al-Qawmiyyah fī Mīthāq al- Madīnah Arief, Abd Salam
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 50, No 1 (2012)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2012.501.179-196

Abstract

Artikel ini membahas konsep negara bangsa dalam Piagam Madinah. Apakah konsep ‘ummah’ dalam Piagam Madinah berkonotasi kebangsaan dalam pengertian yang luas, modern, dan berskala nasional, atau sematamata bersifat eksklusif, yakni terbatas hanya di kalangan muslim saja, meski realitas masyarakat Madinah waktu itu sangatlah heterogen. Berbagai hipotesa telah muncul. Kesemuanya menggarisbawahi signifikansi Piagam Madinah sebagai dasar-dasar sosial politik bagi masyarakat Madinah serupa dengan undangundang. Karena itu, Piagam Madinah mencerminkan sebuah konstitusi berlaku dalam masyarakat Madinah yang terbentuk sebagai kesatuan politik dan diikat oleh kesepakatan bersama. Dengan piagam ini, warga yang bersifat heterogen menjadi satu kesatuan dengan hak dan kewajiban yang sama, saling menghormati walaupun berbeda suku dan agama. Tentu saja, isi Piagam Madinah merupakan suatu pandangan moderen dan merupakan suatu solusi politik dalam mengantisipasi dan mecegah persoalan yang diakibatkan karena keragaman. Ini dilakukan dengan membentuk apa yang dijelaskan dalam Piagam Madinah sebagai ‘ummah.
Book Review: Adakah Kiprah Salah Kaum Muslimin? Haikal, Husain
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 2 (2004)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2004.422.495-509

Abstract

Buku ini tengah dalam proses diceak, pada waktu Black September melumatkan bangunan WTC (World Trade Center) di New York. Peristiwa 11 September 2007 telah mencuatkan nama Osama bin Laden. Wajarlah apabila September Hitam tidak sempat diulas buku ini. Apalagi tragedi September Hitam mempertanyakan kehebatan Amerika Serikat (AS). Dengan mudah lambang kehebatan puncak kapitalisme, WTC, berhasil dihancurkan dengan biaya sangat murah, seharga tiket yang dibeli para pelakunya, dan merupakan tamparan hebat bagi AS apabila sebagian gedung Pentagon, sebagai lambang kehebatan pertahanan AS, mampu dihancurkan.
A Postcolonial Biography of Sadrach: the Tragic Story of an Indigenous Missionary Singgih, Emanuel Gerrit
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.367-386

Abstract

Nowadays, many Indonesian Christians are fully aware that evangelic mission in Indonesian context is to be involved in the dialogue of life with one’s neighbor and share their struggles. Sadrach, an indigenous missionary who lived in 19th century, can be seen as a pioneer in this mission method. However, this method was not accepted by the foreign missionaries at that time. They accused Sadrach’s method as a form of syncretism. This work is an attempt to analyze Sadrach’s biography in the framework of postcolonial theory which argues that Indonesian Christians have to learn about their colonial past and strive to maintain equal relationships with non-Indonesian Christians. It is hoped that his achievements can be appreciated by the present generation, and they will not repeat the mistakes of the past. It is also good to be aware that resistance to Sadrach’s mission nowadays will come from some contemporary international mission-bodies which continue the old way of propagating Christian faith without regard to the context of Indonesia.[Banyak orang Kristen sekarang ini sadar bahwa misi dalam konteks Indonesia adalah melibatkan diri dalam dialog kehidupan dengan sesama dan ambil bagian dalam pergumulannya. Sadrach, seorang penginjil lokal yang hidup pada abad ke-19 dapat dianggap sebagai salah satu pelopor metode misionaris seperti ini. Akan tetapi penyebaran misi ala Sadrach ini tidak diterima oleh para misionaris asing. Upaya seperti ini dianggap sebagai sinkretisme. Tulisan ini merupakan studi biografi Sadrach dalam kerangka teori poskolonial yang bertujuan untuk menunjukkan peranan Sadrach dalam penyebaran misi Injil di Indonesia. Diharapkan generasi sekarang akan belajar dari dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan masa lampau. Studi ini juga untuk menyadarkan bahwa perlawanan terhadap model misi Sadrach pada masa kini akan muncul dari badan-badan misi internasional yang tetap menjadi model-model misi Kristen yang tidak memedulikan konteks Indonesia sama sekali.]
Islamic Party and Pluralism: The View and Attitude of Masyumi towards Pluralism in Politics (1945-1960) Noor, Firman
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 54, No 2 (2016)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2016.542.273-310

Abstract

This article discusses Masyumi’s response towards pluralism, particularly about the political diversity in the first fifteen years of Indonesia independent era. As the largest Islamic party in Indonesian history, Masyumi was well known by many as the champion of democracy and one of the essential elements in the nationalist movement. However, regarding pluralism, for some, Masyumi positive attitude on this matter has been doubtful, regarding this party as the guru of intolerance for some contemporary Islamic organisations. By exploring the ideals and practical aspects of this party, this article wants to show the nature of Masyumi’s view and attitude in answering political diversity that in the long run indicates the real position of this party in pluralism in politics. The discussion indicates that despite some weaknesses in undergoing the spirit of honouring diversity, in particular when dealing with the communists, Masyumi, in general, had proven its position as one of the essential elements in Indonesian political history that in many ways eager to develop and maintain the spirit of pluralism.[Tulisan ini mendiskusikan perihal respons Masyumi terhadap pluralisme, khususnya terkait dengan politik keragaman dalam rentang limabelas tahun setelah Indonesia merdeka. Sebagai partai Islam terbesar dalam sejarah Indonesia, Masyumi dikenal luas sebagai terdepan dalam praktik demokrasi dan pemain penting dalam gerakan nasionalisme. Meskipun demikian, bagi sebagian orang, respons positif Masyumi terhadap isu pluralisme tetap diragukan mengingat partai ini dianggap sebagai model intoleransi bagi organisasi Islam dewasa ini. Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa pandangan dan sikap Masyumi dalam menjawab keragaman politik mengindikasikan posisinya yang jelas dalam pluralisme politik. Walaupun ada dukungan lemah terhadap semangat keragaman, khususnya terkait dengan kelompok komunis, secara umum Masyumi membuktikan dirinya sebagai elemen penting dalam sejarah politik Indonesia dengan berbagai cara dalam membangun dan mempertahankan semangat pluralisme. ]

Page 39 of 123 | Total Record : 1223


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue