cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,224 Documents
The Image of The Prophet In The Contemporary Western Scholarship: A Study of W. M. Watt’s and M.Cook’s Thought Fatimah Husein
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.151-166

Abstract

Salah satu sumber penting untuk memahami Islam adalah figur Nabi Muhammad SAW, dan ia telah menjadi obyek kajian dalam studi keislaman, termasuk di kalangan Orientalis. Seperti biasa, kaiian ilmiah terhadap satu persoalan tidak selalu melahirkan pandangan yang sama, dan hal ini juga Nampak pada kajian Orientalis tentang figure Muhanunad yang menjadi focus telaah makalah berikut. Secara garis besar pandangan mereka terbagi menjadi dua kubu; pertama seperti terlihat pada karya-karya W.  Montgomery Watt dan kedua tergambar pada karya-karya Michael Cook. Dari satu sisi. Keduanya dapat dikatakan menggunakan pendekatan yang sama, yakni non-normative atau empeical approach; namun dari sisi lain keduanya dapat dikatakan berbeda karena ternyata keduanya memilih model empirical yang berbeda: Watt menganut irenic dan phenomenological approach yang sangat menghargai data-data tertulis warisan Islam; sedangkan Cook menggunakan a source-critical approach yang Pada dasarnya amat meragukan data-data tertulis warisan Islam dan lebih memilih data-data yang berasal dari non-muslim dan juga data arkeologi. Perbedaan pendekatan ini membawa pada kesimpulan yang berbeda pula, jika tidak dikatakan bertentangan. Watt cenderung melahirkan kesan (image) positif tentang Muhamrnad dan hampir sejalan dengan pandangan umum kalangan Muslim. Sebaliknya, Cook cenderung melahirkan image negatif tentang Muhammad terutama tentang hubungannya dengan masyarakat Yahudi pada saat itu. Artikel berikut menjadi sangat menarik karena mengkaji sejauh mana kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pendekatan yang digunakan sekaligus mengkritisi penggunaan pendekatan tesebut terhadap data-data tentang Muhammad dan hubungannya dengan Yahudi (non-Muslim). Pada akhimya makalah berikut menyarankan, bahwa untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan obyektif tentang figur Muhammad di kalangan Orientalis masih diperlukan penelitian lebih lanjut. 
Literary Interpretation of The Qur’an; A study of Amin al-khuliis Thought Mohammad Nur Kholis Setiawan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 61 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3661.89-105

Abstract

Metode para ahli tafsir dalam menafsirkan Al-Qur'an berbeda antara satu dengan lainnya.  Masing-masing memiliki kelebihan dan sudah barang tentu mengandung   kelemahan.  Metode komprehensif hingga hari ini masih merupakan cita-cita yang belum dapat terealisir.  Padahal umat tengah   menanti hasil tafsir komprehensif terhadap Al-Qur'an.  Dalam makalah ini, Nur Kholis Setiawan menawarkan metode literer Amin Al- Khūli untuk menyingkap makna Al-Qur'an.  Sulit memahami makna yang sebenarya dari ayat-ayat Al-Qur'an tanpa menerapkan metode literer, seperti   yang diusulkan    oleh Al-Khūli ini.  Al- Khūli menganggap Al-Qur'an sebagai kitab al-'arabiyya al-akbar.  Kalau   Al-Qur'an dianggap sebagai kitab suci berbahasa Arab, maka   konsekuensi logisnya adalah bahwa Al-Qur'an harus didekati dengan ilmu bahasa Arab dan sastranya untuk dapat memahami makna yang sebenarnya, yang disebut Al- Khūli sebagai pendekatan literer. Pendekatan ini memungkinkan kita untuk menyingkap pesan Al-Qur'an dari dalam (intrinsik) dan menolak pengaruh pemahamana dari luar. Konsisten dengan pendekatan yang ia kemukakan, Al-Khūli menolak tafsir 'ilmī yang tidak ada relevansinya dengan aspek bahasa dan sastra (adabī). Metode Al-Khūli ini kemudian   diterapkan oleh muridnya, yang kemudian menjadi istrinya, yaitu 'Ā'ishah   'Abd Rahman, yang dikenal dengan nama samarannya Bint al-Shāti'.  Ia menulis dua jilid tafsir Al-Qur'an atas surat-surat pendek yang berjudul al-Tafsīr al-Bayānī li al-Qur'an al-karim dengan metode literer Amin Al- Khūli. 
The Study of Islamic Law In Indonesian Islamic University (The case of the Kulliyat al-Sharī’ah of the State Institute of Islamic Studies [IAIN] Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia) M. Atho Mudzhar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.1-11

Abstract

Kajian Hukum Islam di Indonesia telah dimulai sejak masuknya Islam ke kepulauan nusantara pada abad ke-13, meskipun demikian, baru pada abad ke 17 atau 18 kajian itu mencapai momentum skriptural. Pada waktu itu, Kajian hukum Islam banyak dilakukan secara tradisional di pesantren-pesantren Kebanyakan literatur hukum Islam yang dipelajari tertulis dalam bahasa Arab, yang bercorak Syafi’i, tetapi juga ada beberapa literatur berbahasa jawa seperti kitab Al-Majma Karya Saleh Darat Semarang. Dalam artikel ini, penulis mengkaji perkembangan kajian hukum Islam di Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis menemukan pengaruh kuat seorang ulama ternama, Hasbi Ash shiddiqi, dalam membangun Fiqh Indonesia, inilah yang disebut Ibrahim Hosen sebagai Fiqh madzhab Indonesia. Penulis juga menemukan peranan yang begitu besar yang dimainkan oleh Fakultas Syari'ah dalam mengembangkan kajian hukum Islam di Indonesia. 
Al-Tadhkīr wa al-Ta’nīth fī al-Lughah al-Arabīyya wa al-Indūnīsīyya. Muhammad Pribadi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.172-192

Abstract

The present study is an attempt to compare between masculine and feminine in Arabic and Indonesian. The author applies both descriptive and comparative methods in order to discover the similarities and variances of masculine and feminine in these languages. In doing so, the author, first of all, elaborates in rather detail the general principles of masculine and feminine in Arabic, and finally, compared them to Indonesian. The essay presents some exhaustive examples and discusses them consecutively. The general principles of both masculine and feminine can be applied in teaching the two languages, particularly in translation. [Artikel ini membahas masalah mudhakkar dan mu'annath dalam dua bahasa: Arab dan Indonesia. Topik kajian ini menuntut digunakannya metode analisis deskriptif kontrastif, dengan cara mendeskripsikan gejala-gejala Bahasa yang dikaji dan menganilisisnya untuk mengetahui segi-segi persamaan dan perbedaan yang ada dalam dua bahasa tersebut. Apa yang diharapkan dari kajian ini adalah ditemukannya prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan, misalnya, dalam dunia pengajaran bahasa dan terjemah (Indonesia-Arab). Karena itu penulis, dengan metode kontrastif, berupaya mengidentifikasi titik-titik persamaan dan perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Pertama akan dibahas masalah mudhakkar dan mu'annath dalam bahasa Arab, kemudian masalah yang sama dalam bahasa Indonesia. Kedua, melakukan kajian kontrastif antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia untuk mengidentifikasi adanya persamaan dan perbedaan antara kedua Bahasa tersebut.]
Islamic Fundamentalism in Late-Colonial Indonesia: The Persatuan Islam Revisited Howard M. Federspiel
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 64 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1999.3764.39-62

Abstract

Persaman lslam, secara urnum dikenal sebagai organisasi yang cukup berpengaruh dalam tulisan keislaman di Indonesia pada awal abad kedua puluh. Meskipun tidak banyak menaruh perhatian dalam bidang politik, namun ide-idenya yang modern dan fundamentalistis serta ideologinya yang mumi mampu dianggap sebagai warisan yang penting dalam membentuk identitas lslam di Asia Tenggara. Organisasi yang didirikan oleh sekelompok cendekiawan muslim di Bandung pada tahun 1923 ini mempunyai sistem pengajaran yang berbeda dari sisrem yang banyak berlaku pada saat itu. Jika para ulama tradisionalis (kyai) menerapkan sistem pengajaran dengan pendekatan guru-murid, maka Persis menggunakan sistem klasikal. Berkaitan dengan materi yang diajarkan,75% adalah pelajaran agama dan 25% untuk pelajaran umum, khususnya dikelas-kelas dasar, adapun untuk kelas-kelas diatasnya perbandingannya adalah 50:50. Sebagai organisasi lslarn Persis mempunyai prinsip "memajukan Islarn dengan berdasar pada al-Qur'an dan al-Hadis." Para tokohnya menganggap diri mereka sebagai ulama baru yang berusaha membersihkan agama dari segala bid'ah, serta mengdaptasikan prinsip-prinsip agama pada kondisi kontemporer. Untuk menyebarkan ajaran-ajarannya digunakan majalah disamping sarana-sarana yang lain. Ada empat majalah yang diterbitkan antara uhun 1929 - 1941 yaitu ; Pambela Islam, al-Lisan, at-Fatwa dan. At-Taqwa. Gerakan yang telah dilakukan Persis ini dapat disejajarkan dengan apa yang telah dilakukan oleh para pembaharu yang lain semisal al-Afgani, Abduh dan Rasyid Rida. [The Persatuan Islam (Islamic Union; Persis) is generally recognized as an influential organization " in Indonesian Islamic writing on the twentieth century for its attempts to apply Islamic teachings to the Indonesian religious environment.2 While considered generally out of touch with political reality, its modernist, fundamentalist and ideological message has been regarded as an important legacy in the building of an Islamic identity in Southeast Asia. While the movement has moved to a very minor role in contemporary Indonesian Muslim activity, in its heyday in the 1930's and 1950's, it was an influential actor in both the Islamic community of Indonesia and on the political stage of those eras. The academic study of this movement was undertaken first by a Dutch administrator-scholar in the 1950’s in official reports and in a published study in the 1960's,3 and later through a dissertation and two ancillary studies by an American scholar in the l960's and 1970's.4 Since the appearance of those studies several Indonesian scholars have written studies of the movement and one Indonesian scholar has contributed a new dissertation on the legal teachings of one of its prominent activists.5  In view of these new studies and an extensive review of the original source materials of the movement, this essay reexamines the earlier evaluations and compares them with other Islamic thinkers movements of the twentieth century to gain fuller perspective of the persatuan Islam and its place in indonesia history. The focal point of this assessment is on the movement in the last two decades of Dutch rule in the lndies from approximately 1923 to 1942, which is the initial period of Persatuan lslam activity. What emerges from this reassessment is a fuller understanding of the role of the movement and its place in the Islamic activities of its day.]
Spiritual Hermeneutics (Ta’wīl) A Study of Hendry Corbin’s Phenomenological Approach Yusuf Rahman
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.1-13

Abstract

Hermeneutika Henry Corbin tumbuh dari pemahamannya atas filsafat Barat, khususnya pemikiran metafisika Heidegger. Tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, Corbin lebih tertarik kepada filsafat Timur dan mentransformasikan hermeneutika Heidegger ke dalam hermeneutika spiritual. Postulat pertama dari "interpretasi spiritual" (spiritual interpretation, hermeneutique esoterique, atau ta'wil) ini adalah kepercayaan bahwa dalam segala sesuatu yang nyata (ẓāhir) terdapat sesuatu yang tersembunyi dan bersifat spiritual (bāṭin). Begitu pula, agama memiliki dua aspek, yaitu ẓāhir dan bāṭin. Corbin menegaskan bahwa untuk melacak makna yang benar dan tersembunyi dari agama ini hanya dapat dilakukan dengan cara ta'wil. Penting untuk digarisbawahi bahwa interpretasi spiritual bukan merupakan interpretasi alegoris. Dalam pemahaman Corbin, alegori merupakan representsi artifisial dari abstraksi-abstraksi yang dapat diekspresikan dengan cara-cara lain. Sedangkan simbol merupakan satu-satunya ekspresi yang mungkin bagi yang disimbolkan. Interpretasi yang membawa aspek-aspek dari agama ini kepada aspek esoteriknya, oleh Corbin disebut "fenomenologi". Fenomenologi ini berarti "menyingkap penutup" atau kashf al'mahjūb, yang tidak memiliki hubungan dengan aliran fenomenologi di Barat. Fenomenologi inilah yang merupakan metode interpretasi Corbin. Dengan metode ini ia ingin menolak historisisme yang mereduksi peristiwa-peristiwa sejarah ke dalam waktu historisnya dan menjelaskan peristiwa tersebut sebagai produk keadaan atau lingkungannya.
Bingkai Teologi Kerukunan Beragama (Kembali Kepada Kitab Suci) Burhanuddin Daja
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 59 (1996)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1996.3459.187-195

Abstract

Di suatu malam, 27 Rayab, satu Tahun menjelang hiirah, Muhammad saw diisra'kan Allah dari masiid al Haram di Mekkah al-Mukarramah ke Masird al-Aqsa di Yerusalem dan dari maslid al-Aqsa Nabi naik sampai ke tingkat yang paling tinggi, Arsy Allah, di Sidratul Muntaha. Pada saat itulah Muhammad saw. dapat melihat Allah dengan persepsinya, yang tidak dapat dituturkan dengan lidah atau digambarkan dengan alat peraga apapun. Pengalaman rohaniah yang maha indah, berada diluar jangkauan otak manusia. Saat itulah Muhammad diliputi ketakiuban dan kekaguman luar biasa, berada dalam pangkuan ke Agungan Allah Maha Sempuna, dengan penuh rasa tenang damai. dan menikmati tanpa tara indahnya fana diri dihadapan Allah azza wa jalla. Seorang sufi besar, Abdul Quddus Gangoh dari India berkata: "Itu Muhammad dari negeri Arab naik ke langit yang paling tinggi lalu kembali lagi ke bumi. Demi Allab andai kata aku dapat mencapai langit itu selamanya aku tidak akan mau kembali ke bumi lagi". Memang Abdul Quddus, sufi, mencari kenikmatan untuk diri sendiri Muhammad, Rasul, membawa missi untuk seisi langit dan bumi. Dengan Isra' dan Mir'raj, jiwa dan kepribadian Rasul, yang sungguh kokoh dan kuat itu, telah dipersatukan oleh kesatuan wujud ini sampai pada puncak kesempurnaannya, untuk mengembangkan Risalah kenabianny yang terakhir yang sempuma pula, membimbing seluruh umat manusia mencapai hidup Bahagia dalam segala dimensinya.
Agama Dalam Perspektif Teori-Teori Sosial Syamsuddin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 40 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.040.20-24

Abstract

Dalam literatur Barat disebutkan bahwa Max Miiller (1829-1900) dianggap sebagai orang yang paling berjasa dalam melakukan studi tentang agama. Dia seorang sarjana Jerman yang istimewa. Dia memilih tinggal di Oxford dan bekerja di sana antara tahun 1854 dan 1876. Ia sangat ahli tentang bahasa Sansekerta dan seorang ahli Indologi yang besar. Dia mendalami literatur suci India. Dia juga yang telah menyusun The Sacred Books of the East (Kitab-kitab Suci Dunia Timur), 51 jilid banyaknya, yang dimulai pada tahun 1875. Kitab ini berisi terjemahan-terjemahan dari Kitab-kitab Suci dari agama-agama Timur. Tulisan-tulisan Miiller dapat diklasifikasikan ke dalam (1) tulisan-tulisan tentang agama (65 judul); (2) tulisan tentang astronomi, Ancient Hindu Astronomy and Chronology; (3) tulisan-tulisan tentang pribadi besar (6 judul); (4) tulisan tentang filologi (21 judul); (5) tulisan tentang filsafat (7 judul); (6) tulisan tentang mitologi (3 judul); (7) tulisan tentang sastra (3 judul) dan (8) tulisan tentang sejarah (5) judul). Perkembangan studi tentang agama selanjutnya dilatarbelakangi oleh pemikiran-pemikiran filsafat abad 17. dan 18. Dua negara yang sangat berjasa dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran filsafat, ialah (1) Jerman, (2) Perancis dan Inggris. Ciri-ciri pemikiran filsafat di Perancis dan Inggris ialah positivistis, rational, skeptis dan sekuler. Aliran ini mengklaim bahwa hal-hal yang tidak rational harus tunduk kepada prinsip-prinsip yang rational. Aliran pemikiran ini antara lain mengatakan bahwa kepercayaan-kepercayaan gaib yang diajarkan oleh agama harus ditolak dengan alasan bahwa agama adalah alat bagi para pendeta dan pejabat-pejabat agama untuk menunjukkan rakyat banyak bagi kepentingan mereka. Sebaliknya dari pemikiran-pemikiran di Perancis dan Inggris itu, ialah pemikiran-pemikiran filsafat di Jerman. Ciri pemikiran di Jerman pada waktu itu antara lain menekankan bahwa agama tidak dapat dipaharni secara rational sebagaimana diusulkan oleh pemikir-pemikir filsafat di Perancis dan Inggris. Agama secara sui generis memiliki metodanya sendiri. 
Semiotik dan Penerapannya dalam Studi Sastra Aly Abubakar Basalamah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.23-34

Abstract

Perkembangan penelitian sastra pada masa kini cukup menggembirakan. Di Fakultas Adab lAIN Sunan Kalijaga sendiri sejak beberapa tahun terakhir ada kecenderungan di kalangan para mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Arab memilih bidang sastra sebagai ajang penulisan skripsi. Hal ini tentu tidak terlepas dari adanya peningkatan bimbingan dalam bidang kajian dan penelitian sastra pada Fakultas Adab, baik terhadap para mahasiswa maupun para pengajar. Kita dilanda oleh berbagai pendekatan sastra, sehingga tidak jarang menurut pengamatan saya, mahasiswa mendapat kesukaran untuk memilih salah satu pendekatan. Mereka berlomba-lomba untuk memasukkan berbagai teori dan pendekatan ke dalam penelitiannya. Hasil penelitiannya menjadi begitu "canggih", sehingga sukar dipahami, bahkan oleh pembuatnya sendiri. Menurut hemat saya, betapapun canggihnya, teori itu hanya merupakan alat untuk melakukan penelitian, sehingga si pemakai perlu memahami cara menggunakannya. Deretan istilah atau definisi teoritis yang berupa tempelan atau hiasan belaka, hanya akan menurunkan mutu penelitian sastra. Salah satu pendekatan yang kini banyak dibicarakan adalah semiotik, yaitu ilmu tanda.
Hukum dalam KUHP terhadap Delik Susila (Suatu Tinjauan Penerapan) S. Aminah Hidayat
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 56 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.056.73-91

Abstract

Pelecehan seksual pada saat ini sedang aktual dibicarakan. Majalah. surat kabar, tabloid telah memuat pendapat-pendapat tentang ketidakpuasan masyarakat terhadap hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku pelecehan seksual terutama pelaku pemerkosaan. Hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku pelecehan seksual ini sekarang mulai merebak kembali, berbagai tanggapan dilontarkan termasuk oleh Menteri Kehakiman Oetojo Oesman di Jakarta pada tanggal 28 Mei 1994 di hadapan panitia Seminar "Perlindungan Hukum terhadap korban-korban kejahatan". Menteri Kehakiman merasa prihatin dengan meningkatnya kejahatan serta keputusan pengadilan yang sering menyebabkan aksi protes dari masyarakat. Tanggapan yang muncul pada saat ini dimana adanya tuntutan dari masyarakat untuk menjatuhkan hukuman yang berat kepada para pelaku telah terjadi pula sekitar Iima tahun yang lalu. Berbagai organisasi wanita pada saat itu yang tergabung dalam KOWANI, dalam Musyawarah Kerja I di Jakarta telah mengusulkan agar pelaku perkosaan dan pelecehan seksual lainnya dihukum mati atau dihukum seumur hidup. Usul ini didukung pula oleh organisasi ibu-ibu Eksponen Angkatan 45 "Wirawati Catur Panca" dan Kerukunan Wanita Persahi. Dan saat ini masyarakat Bengkulu menuntut kepada pemerintah dalam hal ini hamba hukum untuk menjatuhkan hukuman mati kepada mereka yang tidak bermoral.

Page 85 of 123 | Total Record : 1224


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue