cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,211 Documents
Misteri di Sekitar Sejarah Pengislaman Nusantara M Musa
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.26-34

Abstract

lslamisasi   Nusantara     adalah   topik yang   banyak   menarik   perhatian kalangan sejarawan.  Kapan, dari mana dan bagaimana penduduk   Nusantara mulai menganut agama Islam, telah diperdebatkan di berbagai tulisan dan seminar-seminar. Karena langkanya bukti-bukti, kesimpulan dari proses yang rumit ini belum juga sampai   ke titik yang memuaskan.   Menurut   M.C. Ricklefs, biarpun islamisasi Nusantara   adalah proses   yang sangat penuog dalam sejarah Indonesia, namun juga yang paling tidak jelas. Sejarah Islam Nusantara, terutama di masa awal, memang galau dan rumit.   Azyumardi   Azra, dalam kata pengantar   untuk buku suntingannya. Perspektif Islam di Asia Tenggara, menyebut kegalauan dan kerumitan itu terutama karena kajian-kajian sejarah   Islam   dengan   berbagai   aspeknya di wilayah ini, oleh sejarawan asing maupun pribumi, hingga kini belum mampu merumuskan    suatu   paradigma    historis   yang   dapat   dijadikan   pegangan bersama. Ada perbedaan-perbedaan dasar di kalangan para ahli yang kadang kadang sulit dipertemukan sama sekali.  Kedua, fenomena Islam di Nusantara demikian kompleks.  Islam bukanlah agama besar pertama yang tumbuh subur di sini.  Masing-masing agama itu, Hindu, kemudian Buddha, Islam dan lalu Kristen yang bergerak dan datang berurutan dalam urutan sejarah secara gars besar menawarkan model-model yang telah membentuk matriks budaya-agama pribumi selama ratusan bahkan ribuan tahun. Walaupun dampak tradisi agama agama besar ini pada pola-pola kebudayaan pribumi tingkatnya berbeda-beda dari tempat ke tempat, namun sering-sering   tampak mereka   kurang sekall meninggalkan lapisan-lapisan endapan yang dapat dibedakan dengan Islam. Justru, terjadilah persenyawaan yang unik di antara tradisi-tradisi agama itu, yang barangkali   tidak   ada   taranya   di   kawasan   lain. Islam juga  hars menghadapi  kompleksitas geografis kawasan ini,  dengan ribuan pulau dan iklim tropisnya yang sungguh-sungguh  sorga bagi rempah-rempah,   dan yang telah menarik segenap bangsa untuk datang dan mengadu untung.  Malaka, yang terletak di jantung geografis kepulauan ini, lebih dari sekedar suatu pusat perdagangan yang cosmopolitan par excellence di abad ke-15, tetapi juga pusat aktivitas budaya dan politik gerakan pribumi pemeluk agama Islam di kawasan ini. Akhirya, jumlah penduduk yang banyak dan kemajemukan etnisnya yang luar biasa, adalah keunikan Asia Tenggara di sisi lain.  Oleh karena itu, kita melihat banyak "Islam" di sini: Islam Melayu, Islam Aceh, Islam Bugis, Islam Sunda, Islam Jawa, Islam Madura dan sebagainya.  Belum termasuk kantong-kantong muslim dari belahan dunia Islam lain, yang sebagian telah menetap berabad-abad, bukan hanya menambah kompleksitas matriks agama, tetapi juga heterogenitas etnis.
Analisis Kritis Terhadap Metode Pendekatan Dalam Teologi Islam Kusmin Busyairi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 43 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.043.38-51

Abstract

Para teolog Islam selain berada dalam kesamaan sikap penerimaan dan keberimanan, juga mempunyai tujuan yang sama di dalam upaya merumuskan konsepsi teologis mereka, yaitu sama-sama untuk mengkofirmasikan masalah keakidahan dalam Islam. Namun karena latar belakang yang mempenguhi lahirnya hampir setiap aliran itu berbeda, yang karenanya metode pemikiran dan pendekatan yang mereka pergunakan itupun berbeda, maka timbullah perbedaan dan geterogenitas konsepsi teologis antar mereka. Dengan kalimat lain, walaupun mereka berada dalam kesamaan sikap penerimaan, keberimanan, dan tujuan, namun karena latar belakang bagi kelahiran mereka berbeda maka terjadilah perbedaan dan keanekaragaman, baik metode pemikiran, pendekatan maupun konsepsi teologis antar mereka. Realisasinya, Mu'tazilah tampil sebagai kelompok rasionalis dan Asy'ariyah muncul dengan metode sintesismenya - dua aliran yang dipandang  cukup mewakili bagi sekalian aliran teologi Islam pada umumnya. Kedua Aliran tersebut sedemikian Konsisten memegangi serta mempergunakan metode pemikiran dan pendekatan mereka masing-masing, sehingga karenanya menimbulkan kesan dan konsekuensi logis sendiri-sendiri, khususnya dalam masalah keadilan Tuhan, sebagai pokok kajian dalam penelitian ini.
Muslim Fertility In Indonesia a Feature of Proximate Determinants of Java-Bali Akhmad Rifai
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.224-245

Abstract

Studi ini mencoba melihat dan mengurai perbedaan dan faklor yang mempengaruhi fertilitas muslim di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali. Bersamaan dengan itu, dicoba pula melihat seberapa dalam pengaruh itu memberikan kontribusi pada fertilitas muslim tersebut. Praktek dan kebijakan fertilitas secara umum banyak berhubungan dan dipengaruhi oleh agama. Coale (1973) mengemukakan bahwa gereja memainkan peranan yang demikian penting di dalam mempengaruhi percepatan dan waklu transisi fertilitas di Eropa. Demikian Juga hal yang Terjadi di negara-negara Sub-Sahara Afrika, penurunan fertilitas sangat tergantung pada system kepercayaan agama di sana. Di negara Arab yang penduduknya kebanyakan beragama Islam, tingkat fertilitasnya lebih besar dari negara non-Arab. Sementara itu, di negara-negara Islam pun tingkat fertilitasnya juga tidak kalah besar dari negara non-islam. Bersamaan dengan tingginya tingkat fertilitas ini, baik di negara Arab dan Islam, tingkat pendidikan dan kesehatan penduduknya sangat memprihatinkan. Di Indonesia, jumlah penduduk muslim dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan, 86.3 persen tahun 1995 (Jawa dan Bali 92.3 persen). Namun secara absolut jumlah ini terus meningkat tahun 1995 penduduk muslim Indonesia sekitar 167 juta dan 111 juta berada di Jawa dan Bali. Sedangkan tingkat fertilitas muslim Indonesia juga masih yang terbesar disbanding dengan yang non muslim. Kebijakan kependudukan lndonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mengarah pada pembangunan sumber daya manusia. Tujuannya agar pembangunan nasional yang sedang berlangsung lebih efektif dan punya nilai lebih, serta meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Upaya ini ditempuh dengan cara mengontrol tingkat pertumbuhan penduduk melalui upaya penuntnan tingkat fertilitas dan mortalitas. Melalui program Keluarga berencana upaya ini telah banyak menunjukkan hasil. Meningkatnya kesehatan keluarga (terutama ibu dan anak) serta terwujudnya keluarga kecil bahagia dan sejahtera merupakan gambaran dari keberhasilan ini. Keluarga muslim Indonesia adalah yang terbanyak merasakan peningkatan ini. Melalui penelusuran data dan melihat pada berbagai upaya penerapan program tadi, telah ditemukan bahwa ada perbedaan gambaran fertilitas muslim pada masing-masing propinsi di Jawa dan Bali. Bali memperlihatkan angka fertilitas muslimnya yang paling tinggi, kemudian diikuti oleh Jawa Barat dan yang paling rendah adalah propinsi Jawa Timur. Sedangkan konstribusi pada menurunnya angka fertilitas, praktek pemakaian kontrasepsi modern menempati posisi paling tinggi. Konstribusi faktot postpartum infecundability menempati posisi kedua dan yang paling akhir adalah konstribusi dari indek perkawinan. Indek perkawinan ini menunjuk pada semakin tingginya umur kawin pasangan suami istri muslim lndonesia.
Arti Kehadiran Mu’tazilah Bagi Dunia Islam Kusmin Busyairi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 48 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.048.94-103

Abstract

Mu'tazilah adalah aliran yang tertua di antara aliran-aliran mutakallimin lainnya. Dari kenyataan ketertuaannya itu, tidak mustahil kalau di dalamnya terkandung arti tersendiri bagi dunia Islam pada umumnya yang tidak terdapat pada aliran-aliran yang lain. Penampilannya sebagai yang pertama di antara sederetan aliran-aliran yang lain, paling sedikit mempunyai arti sikap responsive mereka terhadap gejala yang terjadi di lingkungannya. Dengan judul yang secara khusus ingin mengangkat arti kehadiran Mu'tazilah sebagai aliran yang tertua itu, maka di sekitar pokok-pokok ajarannya (konsepsi teologisnya) tidak ditempatkan pada inti pembicaraan, walaupun pada tempat dan permasalahan tertentu hal tersebut perlu diungkapkan, apalagi diketahui bahwa di dalam konsepsi teologis itulah sebenarnya terletak jatidiri dan karakteristik suatu aliran. Sebagaimana diketahui, pada umumnya aliran mutakallimin mempunyai metode berpikir dan konsepsi teologis tersendiri yang berbeda dengan aliran mutakallimin lainnya. Hal itu terjadi, karena sebab yang melatarbelakangi dan mendorong lahirnya setiap aliran serta problema keakidahan yang timbul dan dihadapi oleh setiap aliran itupun, berbeda-beda. Dengan demikian juga berarti, bahwa metode berpikir yang dipergunakan dan konsepsi teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, dipandang yang paling tepat
Pemikiran Dalam Bidang Tasawwuf S Simuh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.70-72

Abstract

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tasawwuf mengandung pemikiran filsafat pula. Lalu apa bedanya pemikiran filsafat dalam tasawwuf dengan dalam ilmu filsafat? Filsafat adalah pemikiran secara murni. Tujuannya berusaha memahami segala sesuatu secara ilmiah. Jadi akal yang nomor wahid. Hal ini berbeda dengan tasawwuf. Karena tasawwuf bukan pemikiran murni seperti halnya filsafat. Akan tetapi setengah filsafat dan setengah agama atau kepercayaan. Atau dengan kata lain, tasawwuf adalah kepercayaan yang difilsafati. Jadi persis seperti tercermin dalam judul buku Ibrahim Hilal yang berbunyi AI-Tashawwuf al-Islami Bain al-Din wa al-Falsafah. Jadi merupakan filsafat keagamaan, bukan filsafat murni. Tujuannya bukan pemahaman secara ilmiah, akan tetapi rindu untuk mencari pengalaman bertemu muka dengan Tuhan secara langsung dan ber'asyiq-masyuq dengan Dia (an yatamatta'a bi 't-wushuli ila 'llah).
Pengembangan Tradisi Intelektual Dalam Pendidikan Islam Abdul Munir Mulkhan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.47-56

Abstract

Perubahan tata kehidupan masyarakat yang semakin cepat searah dengan perkembangan ilmu-pengetahuan dan teknologi serta pertumbuhan jumlah penduduk di satu sisi dan keterbatasan daya dukung sumber daya alam di sisi lain, merupakan salah satu faktor penting yang menuntut pengkajian ulang berbagai doktrin keagamaan dan teori serta metodologi pendidikan Islam. Kecenderungan inilah yang kemudian memunculkan isu Islamisasi pengetahuan dalam perkembangan pemikiran Islam. Ide dari Islamisasi pengetahuan ternyata tidak segera mendorong berkembangnya berbagai cabang pengetahuan dalam tradisi pemikiran Islam. Hal ini antara lain merupakan akibat belum berkembangnya tradisi intelektual dalam komunitas muslim, sehingga berbagai kegiatan pemikiran Islam terjebak dalam perdebatan metodologis yang terus menerus dihadapi para pemikir muslim. Sejak masa awal era pemikiran Islam baik dalam tradisi kalam maupun filsafat, pemikir muslim selalu berhadapan dengan problem metodologis di atas. Akibatnya, kebenaran firman selalu diharapkan kepada hasil temuan dan produk dari aktifitas intelekrual. Lebih khusus, agama kemudian dilawankan dengan kebudayaan sebagai paradigma pemikiran keagamaan dan atau sebaliknya. lebih jauh hal ini mengakibatkan lemahnya gerak dinamis pemikiran Islam di satu sisi dan mandegnya kebudayaan Islam di sisi lain.
Masyarakat Akademik dan Penyebaran Ilmu Pengetahuaan Alef Theria Wasim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 52 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.052.1-8

Abstract

Untuk dapat diketahui, dikenal dan diakui, masyarakat akademik perlu menginformasikan pokok-pokok pikiran baik bersifat lontaran maupun tanggapan yang berupa pemikiran-pemikiran, ide-ide, penemuan­penemuan, teori-teori keterangan-keterangan dan sebagainya, kepada masyarakat. Karena itu adanya suatu media penyampaian infonnasi akademik dipandang perlu. Media dimaksud dapat berupa jurnal, bulletin, atau yang semacam itu. Dimaksud dengan jurnal dan bulletin dalam pembicaraan ini adalah jurnal ilmiah atau jurnal akademik dan bulletin akademik. Suatu Lembaga ilmiah (atau lembaga akademik) apalagi universitas-universitas terkenal, biasanya memiliki setidak-tidaknya jurnal dan bulletin akademik. Entah diterbitkan oleh universitasnya, entah oleh fakultasnya atau oleh jurusan­jurusannya atau bahkan oleh lembaga-lembaga yang ada di lingkungan akademik dimaksud. Masyarakat akademik dimaksudkan disini bukan hanya masyarakat universitas atau masyarakat perguruan tinggi saja akan tetapi juga kelompok-kelompok profesi semisal kelompok profesi kedokteran, teknik, antropologi, sosiologi, hukum, beberapa kelompok profesi bidang budaya, "kelompok studi (ke)wanita(an)" dan "kelompok studi keagamaan ".
Sayyid Amīr ‘Alī dan Pemikiran Teologikanya Machnun Husein
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 45 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.045.21-37

Abstract

Uraian ini pada dasarnya dimaksudkan untuk mencoba menampilkan tokoh Sayyid Amīr ‘Alī dari India dan pemikiran-pemikirannya dalam bidang Teologi Islam (Ilmu Kalām). Namun kesulitan untuk mendapatkan buku-buku karangan tokoh tersebut, di samping keterbatasan kemampuan penyaji sendiri dalam memahami buku-bgku yang ada menyebabkan uraian ini relatif sangat tidak sempuma. Karena itu dengan segala senang hati penyaji akan menerima setiap kritik dan saran dari para pembaca uraian ini demi penyempurnaannya. Ada tiga buah buku karangan Sayyid Amīr ‘Alī yang dipergunakan untuk meyusun uraian ini: (l) A Short Histary of- the Saracens (2) The Spirit of Islam dan (3) Islamic History Culture, di samping buku-buku lain dari para pengarang lainnya yang dipergunakan untuk menambah kejelasan mengebangkan pemikiran-pemikiran tokoh yang dibicarakan. Sesuai dengan judulnya, pemikiran-pemikiran Sayyid Amīr ‘Alī mengenai masalah-masalah non-teologik, sampai batas-batas tertentu, tidak dibicarakan dalam uraian ini kecuali bila ada relevansinya dengan masalah teologik merjadi pokok bahasan utama. Penyaji uraian ini berusaha mengikuti sistematisasi pembahasan Prof. Dr. Harun Nasution, walau pun dengan sedikit modifikasi, dalam bukunya, muḥammad Abduh danTeologi Rasional, Mu'tazilah dan Teologi Islam: AIiran-aliran Sejarah, Analisa Perbandingan.
Rhetorical Interpretation of The Qur’ān: A Study of Zamakhsharīis Ijjāz al-Qur’ā’n Jarot Wahyudi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.50-64

Abstract

Tulisan berikut ini dimaksudkan untuk menjawab satu pertanyaan: dimanakah letaki' jaz al-Qur'an menurut Abū al-Qāsim Maḥmūd b.'umar al-Zamakhsharī al-Mu'tazifī. Ia menyatakan bahwa retak i'jāz al-Qur'ān itu ada pada naẓm-nya (susunan kata-katanya) dan berita yang disampaikannya mengenai hal-hal yang ghaib. pendapat Zamakhshari ini dapat ditela'ah dari kitab tafsirnya, al-Kashshāf 'an Ḥaqā'iq Ghawāmid al-Tanzīl wa 'uyun al-Aqāwīl fi wujūh aI-Ta'wīI dimana Zamakhsharī menganalisis ayat-ayat al-Qur'ān dengan pendekatan bahasa dan ilmu bantunya, termasuk di dalamnya Ilmu Bayan dan Ilmu Ma'ani. Ia berargumentasi bahwa keindahan komposisi ayat-ayat al-Qur'an, elegansi stilistik dan kehebatan diksinya tidak mungkin dapat diapresiasi secara penuh tanpa bantuan Ilmu Ma'ani dan llmu-Bayan, dua buah disiplin Ilmu Balaghah yang dianggapnya sebagai alat paling canggih dan efektif untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an yang diturunkan di tengah-tengah bangsa Arab yang gemar dengan sastra. Kemampuan Zamakhshari mengungkap I’Jaz al-Qur'an dari perspektif  bahasanya ini diakui oleh para sarjana. Barangkali tidak berlebihan jika Ibn Khallikan sendiri pernah mengatakan bahwa "tafsir semacam al-Kashshaf ini  belum pernah ditulis orang sebelumnya". Ibn Khaldun bahkan menasehatkan kepada muridnya agar mempelajari al-Kashshaf untuk mengetahui kekayaan analisis linguitik penulisnya, meskipun pada saat yang sama ia juga mengingatkan murid-muridnya untuk tetap hati-hati terhadap faham mu'tazilah yang juga menghiasi tafsir Zamakhshari ini.
Usūl Al-Takhrīj (Tehnik-tehnik Pelacakan Hadis) Syamsul Anwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.81-102

Abstract

Hadis adalah sumber kedua ajaran Isalam setelah Al-Qur’an. Berkat usaha para ulama mutaqaddimin, hadis-hadis itu telah dihimpun dalam kitab-kitab hadis dengan berbagai bentuk dan system. Ada yang berupa musnad; ada pula yang berbentuk musannaf. Disamping itu hadis-hadis juga terdapat dalam kitab-kitab non-hadis, seperti kitab-kitab tafsir, kitab-kitab fiqih, kitab-kitab biografi dan lain-lain.suatu hal yang harus dicatat disini adalah kenyataan bahwa kitab-kiab hadis tersebut sangatlah luas dan sangat beragam system penyusunannya, sehingga percobaan untuk mencari sebuah hadis tertentu didalamnya tidaklah mudah, terutama bagi orang yangtidak akrab dan belum bisa bergaul dengan kitab-kitab hadis. Kalua boleh dikatakan, kitab-kitab tersebut dapat diibaratkan dengan Samudra luas yang tidak bertepi dan orang yang mencoba menemukan sebuah Mutiara hadis didalamnya tak ubah laksana mencari sebatang jarum didasar laut. Perumpamaan ini tidaklah berlebihan. Kata-kata Allamah Ahmad Muhammad Syakir berikut ini bisa menjadi illustrasi yang tepat. Ia mengatakan, saya sudah bergaual dengan ilmu dan kitab-kitab hadis sejak masa selama dua puluh lima tahun. Saya sudah mempelajari banyak kitab-kitab hadis secara sama dan qiraat kepada tokoh-tokoh dan guru-guru besar hadis terutama ayah saya sendiri Muhammad syakir, mantan wakil Universitas al-Azhar, dan al-Hafiz Abdullah Ibn Idris al-Sanusi, seorang Ulama dan Syaikh terkemuka Maroko. Namun demikian saya masih mengalami kesukaran untuk menemukan beberapa hadis pada tempatnya. Bahkan yang lebih aneh lagi, pernah saya mencari sebuah hadis dalam sunan Tirmizi baru lima tahun kemudian saya temukan, padahal kitab tersebut telah saya pelajari secarasama kepada ayah saya dan merupakan spesialisasi saya serta mendapat perhatian besar dari saya. Kalua Ahmad Syakir saja, yang tidak seorangpun meragukan keahliannya dalam hadis, masih mengalami kesukaran untuk mencari suatu hadis tertentu dalam sumber-sumber aslinya, maka patah lagi orang-orang yang tidak memiliki spesialisasi dalam hadis serta belum akrab dengan kitab-kitab hadis; kesulitan-kesulitan itu tentu akan jauh lebih besar.

Page 94 of 122 | Total Record : 1211


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue