cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Pembangunan Pedesaan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 199 Documents
PENGENDALIAN HAMA KUMBANG Callosobruchus analis PADA BIJI KEDELAI DALAM SIMPANAN DENGAN MENGGUNAKAN TEPUNG DAUN DAN BIJI SIRSAK CONTROL OF THE BEAN WEEVIL Callosobruchus analis ON STORED SOYBEAN SEEDS BY USING SOUR-SOP LEAVES AND SEED POWDER , Herminanto
Pembangunan Pedesaan Vol 4, No 3 (2004)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung daun dan biji sirsak terhadap: 1) mortalitas, 2) fekunditas, 3) kerusakan dan susut bobot biji, dan 4) kemunculan dewasa Callosobruchus analis L. pada pada biji kedelai dalam simpanan. Percobaan dilakukan dalam dua tahap, yaitu penetapan mortalitas median (LD ) dan uji pengaruh tepung daun dan biji 50 sirsak terhadap C. analis. Penetapan LD menggunakan tepung daun sirsak 50 dengan dosis 2, 4, 6,8, 10, dan 12 g/500 g biji kedelai, tepung biji sirsak terdiri atas 1, 3, 5, 7, 9, dan 11 g/500 g biji kedelai. Pengamatan meliputi persentase kematian C. analis pada tiap dosis uji dan dihitung LD 50 menggunakan analisis probit. Percobaan kedua menggunakan rancangan acak kelompok (RAKL) faktorial. Faktor pertama adalah dosis tepung daun sirsak, terdiri 0, 10, dan 20 g/500 g biji kedelai. Faktor kedua berupa tepung biji sirsak, terdiri atas 0, 3, dan 6 g/500 g biji kedelai. Tiap perlakuan menggunakan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung daun sirsak lebih rendah ketoksisan daripada tepung biji sirsak dengan nilai LD50 16,93 dan 5,20 g/500 g biji kedelai. Tepung daun dan biji sirsak secara kombinasi pada dosis tertinggi dapat menyebabkan mortalitas kumbang biji kedelai C. analis jantan dan betina masing-masing sebesar 63,33 dan 66,67%. Peningkatan dosis tepung daun dan biji sirsak dapat menurunkan fekunditas kumbang biji kedelai betina. Dosis tepung daun dan biji sirsak yang semakin tinggi menurunkan kerusakan dan susut bobot biji kedelai, serta kemunculan imago generasi berikutnya.
IDENTIFIKASI JAMUR TULAR-BENIH PADI GOGO : METODE PENCUCIAN BENIH IDENTIFICATION OF SEED.BORNE FUNGI OF UPLAND RICE : SEED WASHING METTIOD) Soesanto, Loekas; Wachjadi, Muljo
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 1 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian di bidang patologi benih ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menginfentarisasi berapa jarnur tular -benih pada padi gogo, serta rnengetahui kepadatan kondisi beberapa jamur tular -benih,lengankap dengan pencucian benih. Penelitian rnenggunakan rnetode deskriptf terhadap sepuluh variates padi gogo yaitu: Cikapundung Cisanggarung C -22, lR -36, IR-64, melati . genjah pare meninjau. Dodokan dan batur. Identifikasi dilakukan berdasarkan pengamat bentuk, ukuran, warna dan jumlah sekat denmgan beberapa pustaka sebagai pembanding, serta penghitungan kepadatan konidium beberapa jamur tular benih utama. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua variates yang diuji mengandung jamur tular benih dengan jenis dan kepadatan yang beragam, dan terbanyak dijumpai pada benih hampa, 14 spesies jamur yaitu: fusarium moniliforme, curvularia lunaia, C. trifolii, C. geniculata, C. unicunata, gibberella fujikuro, drechslera oryzae, A. (Tricoconis) padwicki, tilletia barclayana, pestalotia s, Cercospora sp dan nigrospora sp
UPAYA MEMACU PEMBENTUKAN KALUS EKSPLAN EMBRIO KEDELAI (Glycine max (L.) Merril) DENGAN PEMBERIAN KOMBINASI 2.4-D DAN SUKROSA SECARA KULTUR IN VITRO Fauziyyah, Dieni; Hardiyati, Triani; , Kamsinah
Pembangunan Pedesaan Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kultur kalus salah merupakan satu teknik yang digunakan untuk menghasilhan bibit tanaman bebas penyakit.Pembentukan kalus dapat dipacu dengan penambahan zpt dari golongan auksin seperti 2.4. D dan penambahan karbohidrat seperti sukrosa.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi 2.4-D dan sukrosa terhadap pembentukan kalus eksplan embrio kedelai dan menentukan konsentrasi 2.4-D dan sukrosa yang paling baik untuk memacu pembentukan kalus eksplan embrio kedelai dalam kultur in vitro. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial. Faktor 1: 2.4-D yang terdiri atas 4 taraf, yaitu: 0, 5, 10, dan 15 μM. Faktor 2: Sukrosa yang terdiri atas 4 taraf, yaitu: 0, 20, 30, dan 40 g/l. Oleh karena itu diperoleh 16 kombinasi perlakuan, tiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali, dengan demikian diperoleh 48 unit perlakuan. Hasil penelitian selama 6 minggu menunjukkan bahwa perlakuan 2.4-D dan sukrosa mampu menginduksi kalus eksplan embrio kedelai. Terdapat interaksi antara dua faktor yang dicoba. Kombinasi perlakuan 2.4-D 5 μM dan sukrosa 20 g/l merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk memacu pembentukan kalus eksplan embrio kedelai dengan waktu terbentuknya kalus pada hari ke-4 setelah tanam dan persentase kalus yang terbentuk mencapai 95,83%. Ada dua dua tipe kalus yang terbentuk yaitu kalus embriogenik 62,50% dan kalus proliferatif 33,33%.
DAYA TAHAN HIDUP PSEUDOMONAD FLUORESEN DI DALAM MATRIKS ORGANIK PILEN TEMBAKAU SURVIVAL OF FLUORESCENT PSEUDOMONAD IN ORGANIC MATRIX OF COATED TOBACCO-SEED Arwiyanto, Triwidodo
Pembangunan Pedesaan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strain Pf-20 of Pseudomonas putida and pseudomonad fluoresent isolate Pf- 33 are the biological control agents of tobacco bacterial wilt caused by Ralstonia solanacearum. The method of delivery of the biological control, however, is inefficient and laborious due to the need a lot of bacterial suspension for ipping the seedlings before transplanting. The use of cattle manure as a main substance for coating of tobacco seed was reported here. The cattle manure was sieved to 0.09 mm then mixed with 0.1% CMC and suspension of Pf-20 and Pf-33. Prior coating, the seeds were surface sterilized with 1% sodium hypochloride for 30 seconds then air dried. The sterilized seeds were coated with the matrix until the size is 1.5- 2.00 mm. The results indicated that fluorescent pseudomonad could survive longer in the coated seed when strain Pf-20 of P. putida and fluorescent pseudomonad isolate Pf-33 were used together in one formulation. Fluorescent pseudomonad could survive in the coated seed for 4 weeks. Seed germination, however, was not affected by coating with the materials stated above.
UPAYA PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PENGGUNAAN UNSUR HARA P DARI BATUAN FOSFAT ALAM PADA BUDIDAYA KEDELAI DI TANAH LIAT AKTIVITAS RENDAH(THE APPLICATION OF LIQUID WASTE TO INCREASE P NUTRIENT USE EFFICIENCYOF ROCK PHOSPHATE ON SOYBEAN CULTIVATION IN LOW ACTIVITY CLAY SOIL) Rif’an, Muhammad; , Suwardi
Pembangunan Pedesaan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to assess the growth and yield of white oyster mushroom on different planting medium composition and the composition of the planting medium that could generate the highest white oyster mushroom. The experiment was conducted at the home of fungi (kumbung) located in Agro Baturaden, District Baturaden, Banyumas, with altitude of approximately 325 m above sea level for 4 months (December 2009 - March 2010). The experimental design was Completely Randomized Design (CRD) with 9 treatments: 75% sawdust + 25% compost weeds; 50% sawdust + 50% compost weeds; 25% sawdust + 75% compost weeds; 75% sawdust + 25% compost dry banana leaf banana , 50% sawdust + 50% compost dry banana leaf banana, 25% sawdust + 75% compost dry banana leaf banana, 100% sawdust, 100% compost weeds and 100% compost banana dried banana leaves. Each treatment consisted of 7 baglog and took 3 baglog as samples per treatment. The variables measured were initial mycelium growth, early fruiting bodies grow, the number of fruiting bodies, clumps of fruiting bodies, the volume of fruit body, the weight of fresh mushroom, mushroom dry weight, and Biological Efficiency Ratio (BER). Based on F test and Duncan test at 5% level of error, it was found that the treatment composition 100% sawdust and dried banana leaf banana mycelium showed initial growth between 20.7 up to 26. days after inoculation or 3 days sooner. The composition of the planting medium that could produce the highest white oyster mushroom was 75% sawdust + 25% compost weeds with 171.153 g fresh weight; dry weight of 15.380 g and BER (Biological Efficiency Ratio) 24.453% and 50% sawdust + 50 % compost dry banana leaf banana with 187.230 g fresh weight, dry weight of 13.007 g and 26.747% BER.
POTENSI SUMBERDAYA MATA AIR ALAMI KOMPLEKS AWAR-AWAR SUMAMPIR UNTUK PERENCANAAN SUMBER AIR BERSIH PEDESAAN POTENCY OF WATER SPRING RESOURCES AT AWAR-AWAR COMPLEX, SUMAMPIR, FOR DESIGNING RURAL CLEAN WATER RESOURCES , Nastain; Hardini, Probo
Pembangunan Pedesaan Vol 5, No 3 (2005)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted to know quality potential, discharge, and flowing energy of water spring of Kompleks Awar-awar Sumampir Purwokerto Utara located at rural upper end for designing rural clean water resources. Variables observed were physical and chemical water quality, need of water, discharge of the spring, and flowing energy. The result of research showed that water quality of the spring was suitable for clean water resources and drinking water resources of rural, with average discharge of water was 4.07 liter/s so it could be used to fulfill the clean water requirements of the Sumampir’s people who were not served by PDAM for 16 years (100% people), 27 years (75% people), and 37 years (60% people), and based on energy potential, available gravitation flowing system could be used if pipe minimum diameter of 3 inch was used.
PERTUMBUHAN, HASIL, DAN MUTU BERAS GENOTIPE F5 DARI PERSILANGAN PADI MENTIK WANGI X POSO DALAM RANGKA PERAKITAN PADI GOGO AROMATIK GROWTH, YIELD, AND RICE QUALITY OF F5 GENOTYPES PROGENY OF CROSSING BETWEEN MENTIKWANGI AND POSO FOR DEVELOPMENT OF AROMATIC UPLAND RICE Dwi Haryanto, Totok Agung
Pembangunan Pedesaan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persilangan antara Mentik Wangi (Padi aromatik rasa nasi pulen) dan Poso (Padi gogo berdaya hasil tinggi, toleran kekeringan, rasa nasi pera) telah dilakukan dan telah diperoleh 50 genotipe F5. Tujuan penelitian adalah mempelajari penampilan pertumbuhan, daya hasil, dan sifat aromatik genotype F5 keturunan persilangan padi Mentik Wangi dengan Poso, serta menyeleksi genotipe yang aromatik dan berdaya hasil tinggi untuk diteruskan sebagai generasi F6. Sejumlah 50 genotipe tanaman F5 keturunan persilangan Mentik Wangi dengan Poso digunakan sebagai materi utama, ditanam pada tiga lingkungan yang berbeda, yaitu: L1 (pupuk NPK), L2 (pupuk kandang kotoran ayam), dan L3 (pupuk bokashi), menggunakan Rancangan Tersarang, tiga kali ulangan. Variabel yang diamati adalah pertumbuhan dan hasil, ditambah sifat aromatis. Data dianalisis menggunakan uji F dilanjutkan uji DMRT untuk variabel yang dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan. Penelitian menyimpulkan hal sebagai berikut. Penampilan pertumbuhan bervariasi dengan tinggi tanaman 57,6 sampai 96,4 cm, dan umur panen bervariasi 115 sampai 123 hari. Daya hasil (bobot biji per rumpun) bervariasi menyebar di antara 8,9 g sampai dengan 17,9 g per rumpun. Interaksi genotipe x pemupukan ada pada tinggi tanaman. Ada 25 genotipe F5 yang termasuk aromatik, 19 dari 25 genotipe tersebut termasuk berdaya hasil tinggi, dan 5 dari 19 genotipe tersebut berumur relatif pendek. Kata kunci: Aromatik, Daya hasil tinggi, Padi gogo
PERILAKU PATUH PASIEN TBC PARU DI PEDESAAN TERHADAP PENGOBATANNYA DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU PURWOKERTO DISCIPLINE BEHAVIOUR OF LUNGS TUBERCOLOSIS PATIENTS IN THE VILLAGE TO THEIR MEDICAL TREATMENT AT LUNGS CLINIC PURWOKERTO , Yuliarti
Pembangunan Pedesaan Vol 2, No 3 (2002)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan bidang kesehatan bertujuan agar penduduk hidup secara sehat. Salah satu langkah mencapai tujuan tersebut adalah dengan pemberantasan penyakit menular seperti tuberculosis paru. Di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Purwokerto, jumlah pasien penyakit ini cukup banyak. Sebagian besar pasien adalah penduduk di pedesaan Perilaku panti sangat tergantung pada pengetahuan dan sikap pasien terhadap penyakit tersebut yang diperlukan untuk pengobatan Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pengetahuan transi kapada perilaku pasien tuberculosis paru bagi yang Sudah Sembuh (SS) lebih baik dari pada mereka yang Putus Berobat (PB). Tingkat sosial ekonomi responden dari kelompok SS juga lebih tinggi dari pada kelompok PB. Secara umum, pelayanan BP4 Purwokerto menunjukkan hasil yang baik.
Pengaruh Konsentrasi Ca(Oh)2, Jenis Bahan Pengawet Alami dan Lama Simpan Terhadap Kualitas Nira Kelapa Naufalin, Rifda; Yanto, Tri
Pembangunan Pedesaan Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nira kelapa merupakan bahan baku pembuatan gula kelapa. Sifat nira kelapa mudah mengalami fermentasi karena kandungan nutrisinya merupakan substrat yang baik bagi pertumbuhan mikroba. Fermentasi terjadi selama proses penyadapan hingga saat akan diolah menjadi gula kelapa, sehingga dapat menurunkan kualitas nira yang akan diolah menjadi gula kelapa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan pemberian bahan pengawet atau laru pada proses penyadapan dengan konsentrasi yang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui efektifitas pemberian Ca(OH)2 dalam mempertahankan kualitas nira kelapa; 2) Mengetahui efektifitas pemberian berbagai jenis bahan pengawet alami dalam mempertahankan kualitas nira kelapa; 3) Mencari kombinasi perlakuan terbaik dalam mempertahankan kualitas nira kelapa. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua kali ulangan. Faktor yang dicoba yaitu konsentrasi Ca(OH)2 (K, b/v), 0% (K0), 2% (K1) dan 4% (K2); jenis bahan pengawet alami (J; 1,5% b/v), tanpa bahan pengawet alami (J0), kulit buah manggis (J1), kulit buah jeruk keprok (J2), daun jeruk keprok (J3), daun jambu biji (J4) dan daun cengkeh (J5); lama simpan (L), 0 jam (L0), 4 jam (L1) dan 8 jam (L2). Hasil penelitian menunjukkan: 1) Pemberian Ca(OH)2 2% diketahui dapat mempertahankan kualitas nira kelapa sampai 4 jam; 2) Kulit buah manggis memiliki efektifitas tertinggi dalam mempertahankan kualitas nira kelapa selama penyimpanan. Selain itu, daun cengkeh dan daun jambu biji juga memiliki efektifitas yang cukup baik dalam mempertahankan kualitas nira kelapa; 3) Kombinasi pemberian Ca(OH)2 2% dan kulit buah manggis merupakan perlakuan yang terbaik dalam mempertahankan kualitas nira kelapa.
PENGARUH PEMBERIAN PANGAN YANG DIFORTIFIKASI TERHADAP PENINGKATAN KONSUMSI GIZI DAN STATUS ANEMI IBU HAMIL1)THE EFFECT OF GIVEN FORTIFIED FOOD ON INCREASING NUTRITION CONSUMPTION AND ANEMIA STATUS OF PREGNANT , Prihananto; , Rimbawan; , Sandjaja
Pembangunan Pedesaan Vol 6, No 3 (2006)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this study was to analyze the effect of fortified foods on nutrition consumption and haemoglobin (Hb) status of pregnancy. This study was conducted in three sub-districts, i.e., Leuwiliang, Leuwisadeng and Ciampea. The 140 pregnant mothers from these sub-districts were selected for this study. From 140 pregnant mothers, 70 pregnant mothers were selected to receive fortified foods with multi-nutrients i.e. iron, iodine, zinc, folic acid, vitamin C, and vitamin A, for 6 months and 70 pregnant mothers did not receive any experimental food (control). Product selected as intervention carrier consisted of vermicelli, milk, and biscuit. The results of the study showed:(a) Compliance level of product feeding: bihun 90.72%, biscuit 94.64%, and milk 93.61%, (b) Intervention could improve nutrition consumption and fulfill energy 104% RDA, protein 80.7% iron 98.6% RDA, vitamin A 131% RDA, vitamin C 152.1% RDA, (c) intervention could reduceprevalence of anemia as much as 30% compare with control.

Page 6 of 20 | Total Record : 199