cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Journal of Human Nutrition
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 24426636     EISSN : 23553987     DOI : https://doi.org/10.21776
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Human Nutrition (IJHN) merupakan jurnal ilmiah yang memuat artikel penelitian di bidang gizi manusia dan di terbitkan oleh Jurusan Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan terbit dua kali dalam setahun (bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2019)" : 7 Documents clear
Asupan Zat Gizi Dan Kadar Hemoglobin Wanita Prakonsepsi Di Kabupaten Semarang Fillah Fithra Dieny; Annisa Khaira Maadi; Hartanti Sandi Wijayanti; A.Fahmy Arif Tsani; Choirun Nissa
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.02.2

Abstract

Abstrak Wanita prakonsepsi yang mengalami anemia berisiko mengalami berbagai masalah saat kehamilan. Salah satu faktor risiko anemia yaitu asupan zat gizi yang tidak adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor asupan zat gizi yang berpengaruh terhadap kadar Hb wanita prakonsepsi. Penelitian ini menggunakan desain  cross-sectional dengan 70 subjek pengantin wanita di KUA Kecamatan Sumowono dan Pringapus, berusia 16-35 tahun, dipilih dengan metode consecutive sampling. Data yang diambil yaitu berat badan, tinggi badan, asupan makan, dan kadar hemoglobin. Data asupan makan diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data kadar Hb diukur menggunakan metode Cyanmethemoglobin. Analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dan regresi linear ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia dan status gizi kurang sebanyak 11,4% dan 15,7%. Asupan energi, protein, vitamin B2, seng, besi dan asam folat tergolong kurang. Asupan energi (p=0,004), protein (p=0,007), zat besi (p=0,009), dan status gizi (p=0,055) merupakan faktor yang mempengaruhi kadar Hb. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kadar Hb adalah asupan energi dan status gizi. Kesimpulannya adalah kadar Hb pada wanita prakonsepsi dipengaruhi oleh asupan energi, protein, zat besi dan status gizi. Namun, faktor yang paling berpengaruh adalah asupan energi dan status gizi.Kata kunci: asupan zat gizi, hemoglobin, wanita prakonsepsi Abstract  Preconception women who have anemia are at risk of suffering problems during pregnancy. One of risk factors for anemia is inadequate nutrient intake. This study was aimed to analyze the factors of nutrient intakes that affect the level of Hb in preconception women. This study was conducted by using cross-sectional design study that consisted of 70 brides registered at Office of Religious Affairs in Sumowono and Pringapus Subdistricts, aged 16-35 years selected by consecutive sampling method. Weight, height, food intake, and hemoglobin level were measured. Food intake was obtained by using Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Hb level was measured by Cyanmethemoglobin method. Simple linear regression and multiple linear regression test were used to analyze the data. The result showed that the prevalence of anemia was 11,4% and prevalence of undernutrition status was 15,7%. Energy intake (p=0,004), protein intake (p=0,007), iron intake (p=0,009), nutritional status (p=0,055) were factors that affected Hb level. The most significant  factors of Hb level were energy intake and nutritional status. The conclussion is Hb level in preconception women was affected by energy, protein, iron intake and nutritional status. However, the most significant factors with Hb level were energy intake and nutritional status. Keywords: nutrients intake, hemoglobin, preconception women
Kebiasaan Sarapan Berhubungan dengan Tingkat Kebugaran Jasmani pada Anak Usia Sekolah Dasar di SD Budya Wacana Yogyakarta Ave Maria Rosario; Yoseph Leonardo Samodra; Yanti Ivana Suryanto
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.02.7

Abstract

Abstrak Di Indonesia terdapat 40% anak yang melewatkan sarapan. Melewatkan sarapan dapat memengaruhi penurunan aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik ini berdampak pada penurunan kebugaran jasmani, sehingga seseorang akan lebih mudah lelah dan kurang optimal dalam melakukan aktivitas harian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan sarapan dengan tingkat kebugaran jasmani pada anak usia sekolah dasar di SD Budya Wacana Yogyakarta. Penelitian menggunakan metode cross sectional dengan subjek penelitian adalah anak usia sekolah dasar kelas IV, V, dan VI di SD Budya Wacana Yogyakarta, yang diambil dengan metode total sampling, yaitu sebesar 157 siswa. Pengambilan data menggunakan kuisioner sarapan dan tingkat kebugaran jasmani dengan lari jarak menengah (1000 meter). Analisis statistik  menggunakan spearman rank, dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan tingkat kebugaran jasmani (p=0.023), serta adanya hubungan antara status gizi dengan tingkat kebugaran jasmani (p=0.000). Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p=0.682), usia (p=0.021), penyakit kardiovaskular respirasi (p=0.781) dengan tingkat kebugaran jasmani. Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik hubungan status gizi (p= 0.000) dengan tingkat kebugaran jasmani memiliki hubungan yang lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan sarapan (p= 0.011). Status gizi dapat mempengaruhi 11,9% dari kebugaran jasmani siswa dalam penelitian ini. Kata kunci: Kebugaran Jasmani, Kebiasaan Sarapan, Status Gizi, Usia Sekolah DasarAbstract  Globally, linear growth failure is the most common form of childhood malnutrition, with around In Indonesia there are 40% of children who skip breakfast and it can reduce their physical activity. This lack of physical activity will decrease physical fitness, thus someone will be easily tired and non-optimal doing their daily activities. This research aimed to find out the correlation between breakfast habits and physical fitness levels among elementary school-age children at Budya Wacana Elementary School Yogyakarta. The study used cross sectional method and total sampling technique, with 157 students come from IV, V, and VI grades as the subjects. The data were collected using a breakfast questionnaire, as well as physical fitness level with medium distance running (1000 meters). Spearman Rank was used for bivariate analysis, with a confidence level of 95%. The results showed that there was a correlation between breakfast habits and nutritional status with physical fitness level in about p = 0.023 and  p = 0.000, respectively. Moreover, there was no correlation between gender (p = 0.682), age (p = 0.021), cardiovascular respiration disease (p = 0.781) with physical fitness level. From the results of multivariate analysis with logistic regression test the nutritional status has a greater correlation (p = 0.000) with physical fitness level than breakfast habits (p = 0.011). Therefore, this research showed that nutritional status affected in about 11,9% of students’ physical fitness. Keywords: Physical Fitness, Breakfast Habits, Nutritional Status, Elementary School Age
Formulasi Cookies Sagu, Ganyong, Dan Galohgor Sebagai Alternatif Kudapan Bagi Penderita Diabetes Melitus Tipe II Aulia Ratnadianti Suharjo; Katrin Roosita
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.02.3

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk cookies sagu, ganyong, dan galohgor sebagai kudapan alternatif bagi penderita diabetes melitus. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat taraf formula, yaitu F0 (kontrol), F1 (12.5% tepung ganyong, 0% ekstrak jamu galohgor), F2 (10% tepung ganyong, 2.5% ekstrak jamu galohgor), dan F3 (0% tepung ganyong, 2.5% ekstrak jamu galohgor). Cookies sagu, ganyong, dan galohgor memiliki tingkat penerimaan mencapai 82%. Kandungan zat gizi cookies sagu, ganyong, dan galohgor adalah 5.3% (b/b), abu 2.4% (b/k), lemak 26.8% (b/k), protein 2.4% (b/k), serat kasar 3.1% (b/k), dan karbohidrat 63.1% (b/k). Total flavonoid pada cookies sagu, ganyong, dan galohgor setara dengan 22 mg quercetin equivalen/100 gram. Cookies ganyong galohgor dalam satu kali sajian (40 gram) dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi wanita berusia 50-64 tahun sebagai berikut: 12.9% energi, 1.5% protein, 30.5% lemak, 4.9% serat, dan 10.2% karbohidrat.Kata kunci: diabetes melitus, cookies, ganyong, galohgor Abstract Preconception women who have anemia are at risk of suffering problems during pregnancy. One of risk The aim of this study was to develop sago, ganyong, and galohgor cookies as a healthy snack for diabetes mellitus patients. Study design was Complete Randomized Design. This study using four formula levels F0 (control), F1 (12.5% ganyong flour, 0% galohgor extract), F2 (10% ganyong flour, 2.5% galohgor extract), and F3 (0% ganyong flour, 2.5% galohgor extract). Sago, ganyong, and galohgor cookies had 82% acceptance level. Nutrient contents and characteristics of sago, ganyong, and galohgor cookies were as follows 5.3% (w/w) moisture,  2.4% (d/w) ash, 26.8% (d/w) fat, 2.4% (d/w) protein, 3.1% (d/w) crude fiber, and 63.1% (d/w) carbohydrate. The flavonoid value of sago, ganyong, and galohgor cookies was equal to 22 mg quercetin equivalent/100 g. Sago, ganyong, and galohgor in one serving size (40 grams) might contribute to energy and nutrients requirment of woman aged 50-64 years, as much as  follows: 12.9% energy, 1.5% protein, 30.5% fat, 4.9% fiber and 10.2% carbohydrate. Keywords: diabetes mellitus, cookies, ganyong, galohgor
Korelasi Indeks Massa Tubuh dan Kadar Albumin dengan Konversi Sputum Pasien Tuberkulosis Dina Keumala Sari; Juli Yosa Mega; Juliandi Harahap
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.02.4

Abstract

Abstrak Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama kesehatan di Indonesia termasuk di Propinsi Sumatera Utara. Telah dilaporkan efikasi yang baik dari pengobatan TB di berbagai daerah, keberhasilan pengobatan TB dipengaruhi oleh banyak factor termasuk status nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan adanya hubungan indeks massa tubuh dan albumin dengan konversi sputum pasien tuberculosis, khususnya pasien tuberculosis paru positif kuman Basil Tahan Asam. Penelitian ini dilaksanakan di dua Pusat Kesehatan Masyarakat di Kota Medan antara bulan Oktober dan Nopember 2018. Seluruh subjek penelitian sejumlah 39 pasien TB dengan positif kuman Basil Tahan Asam ikut serta. Subjek penelitian menerima pengobatan TB sesuai panduan. Indeks masa tubuh, albumin, dan sputum diukur dengan menggunakan stature meter dan timbangan digital. Proporsi subjek penelitian di bawah normal, normal dan di atas normal adalah 13 (33.3%), 21 (53.9%) and 5 (12.8%), berturut-turut. Kadar albumin termasuk kadar normal ditemukan pada 25 subjek penelitian (64.1%), dan selebihnya termasuk kategori rendah. Indeks massa tubuh normal berhubungan bermakna dengan peningkatan kadar albumin (p<0.05). setelah dua bulan pemantuan terlihat konversi sputum berhubungan bermakna dengan nilai indeks massa tubuh yang normal dan atau kadar albumin yang normal (p<0.05). Simpulan yang didapat adalah status nutrisi adalah faktor penting dalam pengobatan TB.Kata kunci: albumin, Indonesia, indeks massa tubuh, konversi sputum, tuberculosis Abstract  Tuberculosis (TB) remains a major public issue in Indonesia including in North Sumatra province. Despite reported good efficacy of TB treatment in the region, the success of treatment depends on many factors including nutritional status. This study aims to determine the relationship between Body Mass Index and Albumin level with sputum conversion in AFB-positive pulmonary TB patients.The study was done in two primary health centres in Medan between October and November 2018. A total of 39 newly diagnosed TB patients with confirmed AFB-positve were included in the study.Participants received TB treatment according to the national guidelines. Body mass index, albumin, and sputum were measured using a stature meter and a digital scale.The proportion of participants with below normal, normal and above normal BMI status were 13 (33.3%), 21 (53.9%) and 5 (12.8%), respectively. Level of albumin was determined as normal in 25 participants (64.1%), and the remaining as low. Normal BMI status was significantly associated with increased albumin level (p<0.05). At 2 months follow-up, the sputum conversion was observed in 24 individuals (61.5%), and the conversion was significantly associated with normal BMI and/or normal albumin level (p<0.05). We concluded that nutritional status is an important factor in the success of TB treatment. Keywords: albumin, body mass index, sputum conversion, tuberculosis, Indonesia
Trajektori Pertumbuhan Anak Stunting dan Normal di Indonesia Ernis Asanti; Drajat Martianto; Dodik Briawan
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.02.5

Abstract

Abstrak Secara global, kegagalan pertumbuhan linier merupakan bentuk paling umum dari kekurangan gizi  pada masa anak-anak, dimana sekitar 165 juta anak balita mengalami stunting. Akan tetapi, masih terdapat perdebatan mengenai kaitan antara stunting pada anak-anak dengan kejadian kegemukan maupun obesitas pada usia-usia selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis trajektori IMT/U dari anak-anak hingga remaja pada anak yang memiliki riwayat stunting dan normal. Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif, dengan menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS) yang merupakan kolaborasi dari Research and Development (RAND) dan Survey Meter. Subjek pada penelitian ini adalah 314 (43.6%) anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pendekatan yang digunakan untuk mempelajari trajektori IMT/U adalah Individual Growth Curve (IGC) model. Analisis IGC dilakukan dengan prosedur Linear Mixed Model pada IBM SPSS Statistics versi 25. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat selisih nilai z-score IMT/U sebesar 0.505 (β= -0.505; SE= 0.138; p<0.01) antara anak yang mengalami stunting dan normal pada awal pengukuran. Nilai z-score IMT/U anak stunted akan mengalami penurunan 0.078 kali lebih kecil (β= -0.078; SE= 0.011; p<0.01), akan tetapi kemudian mengalami peningkatan 0.011 kali lebih tinggi (β= 0.01; SE= 0.002; p<0.01) dibandingkan dengan anak normal. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan trajektori IMT/U anak yang memiliki riwayat stunting dan normal.Kata kunci: IMT/U; stunting; trajektori Abstract  Globally, linear growth failure is the most common form of childhood malnutrition, with around 165 million children under five are stunting. However, the link between stunting in children with the risk of overweight or obesity at later ages are still debated. This study aimed to analyze the trajectory of BAZ from children to adolescents in children who were stunted and normal. This study was a retrospective cohort study, using secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) which is a collaboration of RAND and Survey Meter. The subjects in this study were 314 (43.6%) children who met the inclusion and exclusion criteria. BAZ trajectory approach used was the Individual Growth Curve (IGC) model. IGC analysis was carried out by Linear Mixed Model procedure using IBM SPSS Statistics version 25.  This study indicated that there was a 0.505 (β= -0.505; SE= 0.138; p<0.01) difference in the z-score of BAZ between children who were stunted and normal at the initial measurement. The decreasing of stunted child’s BAZ was 0.078 times smaller (β= -0.078; SE= 0.011; p<0.01), but then the BAZ would increase 0.011 times higher (β= 0.01; SE= 0.002; p<0.01) than the normal children. This study showed that there were differences of BAZ trajectory between stunted and normal children. Keywords: BAZ; stunting; trajectory
Penggunaan Aplikasi Berbasis Android “Food Digital Map” untuk Panduan Konsumsi Makanan pada Remaja Surmita surmita; Widartika Widartika; Mona Fitria
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.02.1

Abstract

Abstrak Asupan gizi pada masa remaja perlu mendapat perhatian agar sesuai dengan kebutuhan dan sebagian remaja kurang dari kebutuhan. Remaja memerlukan panduan dalam mengkonsumsi makanan  agar sesuai dengan kebutuhan. Penelitian ini menggunakan aplikasi berbasis android  yang disebut “Food Digital Map” untuk membantu remaja dalam menghitung kebutuhan zat gizi dan asupan makanan yang dikonsumsi sehari-hari, sehingga remaja dapat mengkonsumsi zat gizi dalam jumlah seimbang.  Aplikasi Food Digital Map ini merupakan program yang dirancang untuk menghitung kebutuhan gizi dan asupan makanan yang diaplikasikan pada Android.  Desain penelitian menggunakan metode eksperimental untuk melihat kesesuaian asupan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) pada remaja yang diberikan aplikasi Food Digital Map untuk digunakan sebagai panduan untuk mengukur kebutuhan dan asupan makan sehari-hari. Penelitian dilaksanakan di SMPN 14 dan SMPN 7 Bandung pada bulan Maret – September 2017.  Hasil penelitian ini menunjukkan  bahwa ada pengaruh pemberian Aplikasi Food Digital Map terhadap kesesuaian asupan dan kebutuhan zat gizi karbohidrat dan lemak (p< 0,05),  tetapi untuk asupan protein belum menunjukkan perbedaan yang signifikan ( p >0,05).Kata kunci: Food Digital Map, kesesuaian asupan dan kebutuhan, karbohidrat, protein, lemak Abstract Nutrien intake in teenager must be balance with nutrient requirement. Nutrition intake in some teenagers is less than the requirement and others exceed the requirements.  Teenager need a guide to consumse food  to be equal with their nutrient requirement. This research used Food Digital Map software to help teenagers in calculating nutritional requirements and intake consumed daily. Food Digital Map are Software applied on Android Program that can use to calculate nutrient requirement and intake. Research design uses experimental to see the suitability of macro nutrient intake (carbohydrate, protein, fat) in teenager which given application of Food Digital Map to be used as a guide to measure nutritional requirement and   intake. Place of study at SMPN 14 and SMPN 7 Bandung conducted in March - September 2017. The results of this study indicate that there are significant effect of used Food Digital Map Program for balance of nutritional intake and requirement for carbohydrate and fat (p< 0.05), but there are no significant difference  for protein intake (p> 0.05). Keywords: Food Digital Map, balance of intake and requirement,  carbohydrate,  protein, fat
Potensi Penggunaan Metode In Vitro dalam Memperkirakan Pemeringkatan Indeks Glikemik In Vivo pada Beberapa Varietas Beras yang Dimasak Aprinia Dian Nurhayati; Rimbawan Rimbawan; Faisal Anwar; Adi Winarto
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.02.6

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menguji metode in vitro yang paling potensial digunakan dalam skrining indeks glikemik (IG) pada nasi yang menurut literatur memiliki IG berbeda (rendah, sedang dan tinggi). Metode Englyst et al. (2003) dan Argyri et al. (2016) menjadi metode in vitro terpilih yang diuji validitasnya untuk mengetahui kemampuan keduanya dalam menggolongkan pangan sesuai hasil pengujian IG in vivo. Sebanyak enam varietas beras dimasak menggunakan rice cooker kemudian nasi diuji kadar proksimat (protein, lemak, air, abu, karbohidrat), serat pangan total, amilosa, amilopektin dan pati. Sebanyak 20 orang yang memenuhi kriteria inklusi dibagi dalam dua kelompok sebanding untuk diukur kadar gula darah 2 jam setelah mengonsumsi makanan. Nasi hitam Cirebon, Cisokan dan Inpara 5 memiliki IG sedang, sedangkan nasi Inpari 24, Sintanur dan ketan Grendel tergolong IG tinggi. Kadar glukosa nasi pada metode Englyst et al. (2003) menit ke-20 dan Argyri et al. (2016) menit ke-120 apabila dibuat pemeringkatan terendah hingga tertinggi menunjukkan urutan peringkat yang sesuai dengan urutan nilai IG in vivo. Kesimpulan penelitian ini adalah metode Argyri et al. (2016) menunjukkan hasil yang lebih mendekati nilai IG in vivo dan prosedur pengukuran yang dilakukan lebih mirip dengan proses pencernaan pada tubuh manusia, sehingga metode ini lebih direkomendasikan dalam memperkirakan pengkategorian IG in vivo pada sampel berupa nasi (r2=0,461, p<0,01).Kata kunci: indeks glikemik, in vitro, nasi Abstract  The aim of this study was to test the most potential in vitro methods to used in screening the glycemic index (GI) of rice which according to the literature had different GI category (low, medium, high). Englyst et al. (2003) and Argyri et al. (2016) became the selected in vitro method that tested their validity by determine their ability to classify food according to the results of in vivo GI. Six rice varieties were cooked using a rice cooker then tested for proximate analysis (protein, fat, water, ash, carbohydrate), total dietary fiber, amylose, amylopectin and starch. A total of 20 subjects who met the inclusion criteria were divided into two comparable groups to measure their blood glucose levels for 2 hours after consuming test food. Cirebon black rice, Cisokan and Inpara 5 have moderate GI, while Inpari 24, Sintanur and Grendel glutinous rice were classified as high GI. Glucose levels of rice as measured by Englyst et al. (2003) at 20th minute and Argyri et al. (2016) at 120th minute has a comparable rank with in vivo GI. The conclusion of this study is method by Argyri et al. (2016) showed results that were closer to the in vivo GI and the measurement procedure was more similar to the digestive process in the human body, thus its became more recommended method to estimating the categorization of in vivo GI in rice samples (r2=0,461, p<0,01). Keywords: glycemic index, in vitro, rice

Page 1 of 1 | Total Record : 7