cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ruas (Review of Urbanism and Architectural Studies)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 16933702     EISSN : 24776033     DOI : -
Core Subject : Engineering,
RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies) is a scientific publication for widespread research and criticism topics related to urbanism and architecture studies. RUAS is published twice a year since 2011 by the Department of Architecture of Universitas Brawijaya.
Arjuna Subject : -
Articles 430 Documents
Evaluasi Ergonomi Pada Ruang Kantor Studi Kasus: Kantor Konsultan Arsitek “Karice Studio” di Yogyakarta Sekarlangit, Nimas
RUAS Vol. 14 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.01.2

Abstract

Bekerja di kantor merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari oleh setiap manusia. Selama 8 jam sehari, mereka melakukan kegiatan rutin di kantor yang tidak menimbulkan banyak bergerak, sehingga beberapa karyawan sering mengalami keluhan pada leher dan kaki karena terlalu banyak melihat komputer dan peletakan meja yang tidak sesuai dengan tinggi badan para karyawan. Hal itu menyebabkan karyawan menjadi merasa cepat lelah. Faktor perbedaan ukuran atau postur dan berat badan manusia, kebiasan, perilaku, sikap manusia dalam beraktivitas, serta kondisi lingkungan juga memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Sedangkan dalam perancangan desain, pertimbangan ergonomi yang nyata dalam aplikasinya untuk mendapatkan data ukuran tubuh yang akurat menggunakan pengukuran anthropometri. Penelitian ini ingin mengetahui apakah area kerja pada kantor konsultan arsitek menimbulkan keluhan subyektif bagi pemakainya dan apakah area kerja yang ergonomi dapat menurunkan keluhan subyektif. Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan melakukan pengukuran pada kondisi eksisting dari sebuah kantor konsultan arsitek di Yogyakarta serta merumuskan masalah yang menjadi keluhan para karyawan. Hasil dari penelitian ini adalah ukuran untuk furniture yang sesuai dengan ukuran karyawan kantor sehingga dapat bekerja dengan lebih nyaman. Kata kunci : kantor konsultan, ergonomi, pengukuran anthropometri
Kajian Desain Terminal Bus Tirtonadi Solo dalam Rangka Peningkatan Mutu Layanan dan Ketertiban Saryanto, Saryanto; Avesta, Riantiza
RUAS Vol. 14 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.01.3

Abstract

Terminal Bus Tipe A Tirtonadi Solo yang berkembang pesat dalam pelayanan kedatangan dan pemberangkatan bus antar kota dan antar provinsi di Pulau Jawa. Terkait dengan semakin pentingnya mutu layanan terminal bus untuk kenyamanan dan keamanan penumpang tersebut, maka  telah diterbitkan Peraturan Menteri Perhubungan No. 132 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Terminal Penumpang Angkutan Jalan. Terminal Bus Tirtonadi diwajibkan memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam PERMEN tersebut. Terminal Tipe A akan mengelola dan memiliki 4 (empat) zona. Zona I, zona bertiket bagi pengguna terminal yang sudah memiliki tiket untuk pemberangkatan penumpang dan zona ini  disebut zona steril untuk menunggu keberangkatan bus dalam terminal.  Zona II,  yaitu zona umum atau publik untuk kegiatan komersial, ticketing dan lain-lain. Selanjutnya Zona Perpindahan penumpang dari berbagai jenis pelayanan angkutan umum. Dan terakhir  Zona Pengendapan untuk istirahat awak kendaraan, pengendapan kendaraan, raamp-chek, serta bengkel perawatan dan operasional bus. Berdasarkan  peraturan tersebut maka Terminal Bus Tirtonadi memerlukan kajian mendalam tentang ketersediaan sarana yang telah dan akan dimilikinya di masa mendatang.Kata kunci : pelayanan, terminal, zona
Vertical Garden Dan Hidroponik Sebagai Elemen Arsitektural Di Dalam Dan Di Luar Ruangan Asikin, Damayanti; P. Handayani, Rinawati; Mustikawati, Triandriani
RUAS Vol. 14 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.01.4

Abstract

Area hijau tak hanya memberi manfaat visual saja, tetapi juga manfaat ekologis, edukatif, dan ekonomis.Perkembangan teknologi pertanian kota memunculkan berbagai teknik untuk dapat berkebun di lahan sempit, bahkan di dalam ruangan sekalipun. Dampak ekologis yang kini mulai dirasakan adalah perubahan visual lingkungan permukiman padat di perkotaan yang menjadi lebih hijau.Vertical garden dan hidroponik merupakan beberapa bentuk teknologi pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai elemen arsitektural, baik untuk kebutuhan lansekap (di luar ruangan) maupun di dalam ruangan. Makalah ini mengkaji pemanfaatan vertical garden dan hidroponik sebagai elemen arsitektural di dalam maupun di luar ruangan. Kajian yang dilakukan secara deskriptif berdasarkan contoh-contoh kasus yang menerapkan keduanya sebagai elemen arsitektural. Hal yang diamati adalah aspek fungsional berkaitan dengan perannya sebagai elemen arsitektural.  Hasil kajian menunjukkan bahwa keduanya dapat digunakan sebagai pembatas dan pembentuk ruang dengan teknik-teknik sesuai dengan fungsi arsitekturalnya.Kata kunci: vertical garden, hidroponik, elemen arsitektural
Butaro Hospital, a Sustainable Hospital with Participatory Design and Construction Process Tanuwidjaja, Gunawan; Yih-Jing Huang, Ellen; Sutanto, Ilena Hadi; Tobias, Antonius Archie; Ce Siong, Chen; Bahtiar, Jesslyn; Wirawan, Yohanes Richo
RUAS Vol. 14 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.01.5

Abstract

Healthcare facilities are very important for sustainable rural regions in developing countries. The Republic of Rwanda, in central east Africa, suffered massive social conflict in 1994 between the Hutu and Tutsi. Furthermore the health problem happened in Burera District because of lack of a proper district hospital. Therefore, in January 2011, the Rwandan Ministry of Health and Partners in Health (PIH) opened the 140-bed Butaro Hospital in the Burera District of Rwanda. The paper-based research was conducted based on hospital’s architecture of Hatmoko, et.al. (2010). Analysis was made with based on the secondary data of Butaro Hospital. Lastly, primary data gathering would be conducted if the funding allowed. The Butaro Hospital was an affordable solution for healthcare problems in rural regions of the developing countries, especially the infectious diseases (such as: HIV, malaria, tuberculosis, nose-ear-and-throat disease). Sustainable innovative solutions for minimum infection were implemented such as: external corridors, large-radius-low-speed fans (with diameters of 24 feet), high-louvered windows, germicidal UV lights, and non-permeable-continuous flooring. The construction of the hospital also would reduce the impact of political crisis in 1994. The project created 4,000 jobs for local craftsmen and local residents. They were initially trained for manual excavation, construction, and project management, before involving in the hospital construction. Therefore, the Butaro Hospital supported the smart regions of Burera area.Keywords: Sustainable and affordable hospital, participatory design, local material
Potensi Bahan Organik Sebagai Pengatur Kelembaban Udara Pada Bangunan Di Daerah Tropis Lembab Pramitasari, Putri Herlia
RUAS Vol. 14 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.01.6

Abstract

Kelembaban udara yang tinggi pada daerah beriklim tropis lembab berpengaruh terhadap lingkungan termal bangunan, terutama lingkungan termal ruang dalam. Sementara itu, penggunaan jenis bahan sangat berpengaruh terhadap daya serap uap air dalam ruang. Pemilihan material, khususnya material berpori memiliki kemampuan higroskopisitas (absorbsi dan desorbsi uap air) yang harus dipertimbangkan. Oleh karena itu, pemanfaatan bahan organik yang banyak dijumpai di Indonesia, yaitu sabut kelapa, gambas kering, dan ijuk dikaji lebih lanjut terkait kinerja higroskopisitas dan pengaruhnya terhadap kenyamanan termal. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental berupa uji model fisik melalui observasi lapangan. Hasil penelitian didapatkan bahwa bahan organik sangat potensial dijadikan sebagai penyerap kelembaban udara pada ruang dalam bangunan, terutama pada pukul 16.00-06.00.Kata kunci: Bahan organik, absorbsi dan desorbsi, kelembaban udara
Pelestarian Aspek Kesemestaan Dan Kesetempatan Dalam Arsitektur Bangsal Sitihinggil Di Kraton Yogyakarta Suryono, Alwin
RUAS Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.02.1

Abstract

The Sitihinggil Kraton Yogyakarta building, completed in 1926, has a EuropeanJavanese architecture style. It is originally a coronation place of the Mataram Sultans and the first Indonesia President. In the present time, it is used for royal official ceremonies and tourist attractions. The purpose of this study is to reveal the universallocal aspects of Sitihinggil architecture and describe its conservation concept. The method used is descriptive-explanatory, with the approach of Javanese CultureArchitecture-Conservation. The universal aspect is based on the Javanese culture philosophy ”unitary natural-social-spiritual interaction”, whereas the local aspects are “philosophy of tolerance” and architecture style. Natural relation associates with symmetrical space layout towards the philosophical axis and the adaptive building (to the environment). The social relation associates with the dialogue between the Sultan (inside the building) with the people (sitting in the North Square). The spiritual relation associates with the Sultan’s meditation ritual in this building while looking at the White Post’s direction. “Tolerance” philosophy could be seen through the architectural styles. Conservation concept: Preservation of space layout (opennessposition of the building); Restoration of the North Square (thickened the surrounding grass and trees); Preservation-routine maintenance of building (Roofs, ceilings, beams, gutters, windows, pillars, ornaments)Keywords: universal, local, culture, preservation.
Ekspresi Lanskap-Agrikultur dan Pola Permukiman Masyarakat Peladang di Madura Timur F, Redi Sigit.; Wulandari, Lisa Dwi; Santosa, Herry
RUAS Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.02.2

Abstract

Corn is the cultural identity of the Madurese, they being called as maize eaters and included an agrarian society with a kind of shifting agriculture landscape called “ekologi tegal”. Cornfield was once the most important hierarchy in tanèyan lanjhèng. The pattern of rural settlement in Madura is a combination of several clusters tanèyan lanjhèng formed by main moor space hierarchy, then occupancy. Indigenous land use occupancy states should not diminish arable land. But the shift in consumption from maize to rice and Islamic land inheritance system that is uksorilokal and matrilocal changing land use as residential space hierarchy utama.Tujuan this paper is to seek the embodiment and the relationship between the agricultural landscape (dost) with occupancy (tanèyan lanjhèng) so as to form a pattern of settlement , to do with a shift in consumption and a system of inheritance. Discussion method uses anthropologicalarchitectural approach. So characteristic of farming communities in eastern Madura is a problem: the hierarchy of space, the position of women, kinship, social system, as well as the limits of hierarchy, related to settlement patterns. The physical manifestation of settlements tend to the meaning and philosophy of Islam.Keywords: tegal ecology, settlement patterns, tanèyan lanjhèng, meaning and philosophy of Islam
Desain Panel Absorpsi Difusor Bunu Makainas, Indradjaja; Sela, Rieneke Lusia Evani
RUAS Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.02.3

Abstract

Panel Absorpsi Difusor Bunu adalah panel akustik yang berfungsi sebagai penyerap sekaligus pemencar bunyi yang terbuat dari sabut kelapa (bunu). Panel ini digunakan untuk mendapatkan Waktu Dengung (ReveberationTime) sesuai standar kenyamanan pendengaran didalam ruang teater rumah (home theater), ruang karaoke, studio penyiaran radio, studio rekaman, ruang kelas/siding ,ruangi badah, auditorium. Bunu sebagai bahan yang melimpah di seluruh pelosok Nusantara yang dikenal dengan sebutan kepulauan Nyiur Melambai perlu dimaksimalkan pemanfaatannya. Didaerah umumnya bunu hanya dijadikan sebagai bahan bakar memasak, malah menjadi limbah dari hasil pengolahan kopra. Panel dikerjakan di AKAS desa Rantewringin kabupaten Kebumen provinsi Jawa Tengah dengan cara manua lkecual idalam menguraikan sabut kelapa menjadi serat (coirfibre) dan serbuk (cocopeat). Bahan pembuat panel adalah seratnya yang disusun berlapis. Panel dibuat dalam 2 (dua) jenis terdiri dari yang datar yang disebut panel indrabunu 01 dan piramida disebut indrabunu 02, untuk mendapatkan nilai koefisien serap αyang berbeda. Pengujian nilai α dari panel dilakukan di Laboratorium Akustik Pusat Penelitian Metrologi LIPI Serpong.Kata Kunci : bunu,panel,absorpsi,difusor
Building Form berdasarkan Sejarah Kawasan Bangunan pada Jalan Basuki Rahmat Malang Ridjal, Abraham Mohammad; Antariksa, Antariksa; Suryasari, Noviani; Santoso, Joko Triwinarto
RUAS Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.02.4

Abstract

Human civilization had been through along with the evidence of history. The city of Malang has its own history which been proved by its buildings as the eyewitnesses. As a part of Indonesian History, Malang contributed to colonialism era in which colored this nation efforts during the independence through its buildings which became the evidence of what happened. The existence of these buildings were important for the record of history, not just political stories but also how did people acted in it. Ignorance of these could erase the history of Malang, in which could stop the transfer information about what did Malang. In this case identified and re-constructed history of Malang is needed to re-built its identity. Through this agenda by historical-description hoped Malang Identity could be found and the building form could re-arranged through its character. If this action done, development of Malang city would be synergy with its own history and identity.Keywords: conservation, history, colonialism
Pola Spasial Permukiman Tradisional Bali Aga di Desa Sekardadi, Kintamani Agusintadewi, Ni Ketut
RUAS Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.02.5

Abstract

The Bayung Gede village has derived smaller traditional settlements around Kintamani. Sekardadi is one of these settlements that has an inherent consociates with the village of origin, or the Bayung Gede. Despite the fact that the Sekardadi has a uniqueness on spatial pattern and house lay out, this village has not been welldocumented as an old village in Bali. These uniqueness are interesting to be indepth explored. It is not only on the basic philosophy of the house pattern, but also how this pattern to be physical implemented. This study aims to describe some characteristics of the village, both physical and nonphysical aspects, through the way of descriptive exploratory qualitative approach. According to the theory housing pattern of Habraken (1978) and Turgut (2001), research variables are determined into three variables: 1) Cultural setting; 2) Behavioural setting; and 3) Spatial setting. The result shows that macro spatial pattern of the Sekardadi village is divided into three zones: 1) Utama Mandala locates in the north of the village; 2) Madya Mandala is in the middle of the village, and 3) Nista Mandala in the south. Spatial pattern follows the hulu-teben conception or linear pattern with the main road as a cardinal orientation. Higher land means a sacred area (parahyangan) that is characterized by the existence of Pura Puseh. Meanwhile, the opposite is defined as a profane area (palemahan) with the presence of graves; and in the middle is the settlement (pawongan).Keywords: spatial pattern; traditional settlement; Sekardadi village