cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ternak Tropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 25031007     EISSN : 25031007     DOI : -
Core Subject :
TERNAK TROPIKA, Journal of Tropical Animal Production (JTAP) provides for rapid publication of full-length papers, short communication and review articles describing of new finding or theory in Animal Production area. TERNAK TROPIKA has 1 volume with 2 issues per year. TERNAK TROPIKA is published by Department of Animal Priduction, Faculty of Animal Husbandry, Brawijaya University Indonesia in collaboration with Indonesian Society of Animal Science (ISPI
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika" : 16 Documents clear
EVALUASI GENETIK PEJANTAN BOER BERDASARKAN PERFORMANS HASIL PERSILANGANNYA DENGAN KAMBING LOKAL V. M. A Nurgiartiningsih
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.505 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi potensi genetic pejantan kambing Boer melalui produktivitas keturunan hasil persilangannya dengan kambing lokal. Materi yang digunakan adalah kambing hasil persilangan (F1) pejantan Boer murni dengan kambing local sebanyak 48 jantan dan 31 betina. Pejantan Boer yang dievaluasi berasal dari 4 galur yang berbeda (DM, PK, TZ, TY). Data bobot lahir (BL) dan bobot sapih (BS) dianalisis dengan software Genstat. BL hasil persilangan Boer dengan kambing lokal adalah 2,5380,48 kg untuk jantan dan 2,1870,56 kg untuk betina, sedangkan BS adalah  12,63  3,76 kg untuk jantan dan 9,81 2,81 kg untuk betina. Hasil persilangan Boer dengan kambing lokal dengan nilai bobot lahir tertinggi (2,62 kg) diperoleh dari pejantan PK. Hasil persilangan dengan nilai bobot sapih tertinggi (13,44 kg) diperoleh dari pejantan TZ.   Kata kunci: potensi genetik, kambing Boer , kambing Lokal. Boer’s Genetic Evaluation based on Performance of its Crosses with Local Goat ABSTRACT Research was conducted to evaluate genetic potency of Boer sire based on performance of its crosses with local goat. Materials used were 48 males and 31 females of crossbred Boer with local goat. Sire of Boer consisted of 4 different lines (DM, PK, TZ, TY). Data on birth weight (BW) and weaning weight (WW) were analyzed using software of Genstat. BW of crossbred Boer with local goat was 2,5380,48 kg for male and 2,1870,56 kg for female, WW was  12,63  3,76 kg for male and 9,81 2,81 kg female. The highest BW (2,62 kg) was resulted by sire PK and The highest WW was resulted by  sire TZ (13,44 kg).
PENGARUH JUMLAH TELUR TERHADAP BOBOT TELUR, LAMA MENGERAM, FERTILITAS SERTA DAYA TETAS TELUR BURUNG KENARI A. A Hamiyanti; Achmanu Achmanu; Muharlien Muharlien; A. P Putra
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.101 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah telur terhadap bobot telur, lama mengeram, fertilitas, serta daya tetas telur pada burung Kenari.  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah burung Kenari jenis lokal yang bertelur 1,2,3, dan 4 dengan umur  sekitar 7 bulan dengan jumlah 24 ekor. Kandang yang digunakan adalah kandang kurungan (cage system) dengan ukuran 36,5cm x 20,5cm x 20cm. Metode yang digunakan adalah dengan metode percobaan  Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 Perlakuan dan 6 ulangan. Apabila ada pengaruh antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa jumlah telur memberikan perbedaan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap lama mengeram, serta fertilitas telur burung KenarI, tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap bobot telur serta daya tetas telur burung Kenari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah burung Kenari yang menghasilkan jumlah telur yang berbeda mempunyai bobot telur dan daya tetas yang sama. Semakin banyak jumlah telur yang dihasilkan, maka lama pengeraman telurnya akan semakin lama, serta fertilitas telurnya akan berbeda. Saran yang dapat diberikan yaitu dalam pemeliharaan burung Kenari, diharapkan memperhatikan aspek kenyamanan kandang serta sarang pada saat induk mengerami telur-telurnya. Kata kunci : Kenari, Jumlah Telur, Bobot Telur, Lama Mengeram, Fertilitas, Daya Tetas THE EFFECT OF EGG NUMBER ON EGG WEIGHT, BROODING DURATION, FERTILITY, AND HATCHABILITY ON CANARY BIRD   ABSTRACT The objective of the research was to study the effect of the number of egg which were produced by Canary on egg, weight, brooding period, fertility and hatchability of egg.  The experimental material were Local Canary Strain in pairs, 7 month old which produced 1, 2, 3 and 4 eggs.  The total of Canary pairs were 24 birds.  The cage system was used for breeding activity with length, deep and height of 36.50 cm , 20.50 cm and 20 cm respectively.  The research methode was experimental arranged in Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatment of egg production level which were 1, 2, 3 and 4 eggs production with 6 replication.  The data was analysis with analyzed of variance. The result of the research indicated that the number of egg produced by Canary Bird had the similar weight and hatchability but have longer brooding period and higher hatcability.  The suggestion could be given was in breeding activity choosed Canary with high egg production.   Key words : Canary, Number of Egg, Egg Weight, Brooding Period, Fertility, Hatchability
MENINGKATKAN PRODUKSI AYAM PEDAGING MELALUI PENGATURAN PROPORSI SEKAM, PASIR DAN KAPUR SEBAGAI LITTER Muharlien Muharlien; Achmanu Achmanu; R. Rachmawati
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.451 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan  untuk mengetahui  proporsi yang tepat antara sekam, pasir dan kapur  sebagai litter terhadap produksi ayam pedaging. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai informasi dan pertimbangan bagi peternak ayam pedaging dalam penggunaan proporsi sekam, pasir dan kapur yang tepat sebagi litter untuk meningkatkan produksi ayam pedaging. Materi yang digunakan adalah 72 ekor ayam pedaging jantan strain Lohman umur 3 minggu, dengan bobot badan 424,74 ± 42,46 g Metode penelitian adalah percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan proporsi antara sekam, pasir dan kapur sebagai litter, yaitu P0 = litter dari 100 % sekam , P1 =  50 % sekam, 33 % pasir, 17 % kapur. Perlakuan P2 = 33 % sekam, 50 % pasir, 17 % kapur dan P3 = 41,5 % sekam, 41,5 % pasir dan 17 % kapur. Variabel yang diamati meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Data  dianalisis dengan sidik ragam, dan jika terdapat perbedaan yang nyata atau sangat nyata dikanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan proporsi sekam, pasir dan kapur dalam litter memberikan perbedaan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan, tetapi tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap konversi pakan. Kesimpulan, penggunaan litter yang terdiri dari 50 % sekam, 33 % pasir dan  17 % kapur dapat meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan pada ayam pedaging dan tidak menurunkan konversi pakan. Saran pada pemeliharaan ayam pedaging untuk meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan  sebaiknya digunalkan litter yang terdiri dari 50 % sekam, 33 % pasir dan  17 % kapur   Kata kunci : Ayam pedaging, konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi Pakan,  dan litter.     INCREASED  OF  BROILER PRODUCTION PASSED ARRANGEMENT OF PROPORTION  RICE HULL, SAND AND QUICKLIME AS LITTER. ABSTRACT The aim of the research was to study the correct proportion among rice hull, sand and quicklime for increasing broiler production performances. The results of research expected can be used as consideration and information for  broiler rearing by using the correct proportion of rice hull, sand and quicklime of litter to increase broiler production. The material of the research was 72 broilers, Lohman Strain of 2 weeks old and body weight was 424,74 ± 42,46 g. The research method was experimentally with Completely Randomized Design (CRD). Variables observed were feed consumption, body weight  gain and feed conversion. The data were analysis with Analysis of Variance and if there were any significant difference would  be continued with Least Significant Differences (LSD). The result of this research indicated that difference proportion of rice hull, sand and quicklime in litter had significant effect (P<0,05) on feed consumption and daily gain but had no significant effect on feed conversion. Feed consumption  (3236,13 ± 47,75 g) and body weight gain  (2174,42 ± 98,60 g) and feed conversion (1.81 – 1.85). The conclusion used of litter which consist of 50 % rice hull, 33 % sand and 17 % quicklime can increase feed consumption and  body weight of broiler. It was  suggested that on rearing broiler by using litter with  proportion of 50 % rice hull,  33 % sand and 17 % quicklime.   Keyword : Broiler, feed consumption, daily gain, feed conversion,  and litter.
STUDI TENTANG PEMOTONGAN SAPI BETINA PRODUKTIF DI RPH MALANG Bambang Soejosopoetro
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.236 KB)

Abstract

ABSTRAK Dari hasil penelitian [Case Study] selama 2 bulan diperoleh data primer  pemotongan sapi betina PO di RPH Singosari 76 ekor terdiri dari PI2= 4 ekor; PI3; 8 ekor;  dan  ³ PI4 = 14 ekor. Sapi betina PFH afkir [³  PI4] = 50 ekor. Data pemotongan sapi betina PO RPH Gadang  123 ekor terdiri dari PI2= 7 ekor PI3 = 25;  ³PI4=35  dan betina PFH afkir [³PI4] =56 ekor. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa Total pemotongan sapi betina selama 2 bulan di 2 RPH 199 ekor dengan jumlah pemotongan sapi betina umur produktif relatif tinggi, yaitu di RPH Singosari 15,10% dan RPH Gadang 26 %.   Kata kunci : Umur produktif, PI   THE STUDY OF PRODUCTIVE COW SLAUGHTERING AT RPH MALANG   ABSTRACT Primary data of 76 slaughter PO cows in RPH Singosari which is consisted PI2= 4 heads; PI3= 8 heads; and  ³ PI4 = 14 heads is resulted from two months research [Case Study ]. The number of unproductive PFH cows [³PI4] is 50 heads. PO cows slaughtering data in RPH Gadang is 123 heads that consist of PI2= 7 heads, PI3 = 25 heads,  ³ PI4=35 heads and unproductive PFH [³PI4] is 56 heads. The results indicate that the total of slaughter cows for two months in RPH is 199 heads with the number of slaughter productive cow is relatively high, 15.10% in RPH Singosari and 26% in RPH Gadang. Key words : productive age, PI
EFEKTIFITAS PENAMBAHAN HORMON GONADOTHROPIN PADA MEDIUM MATURASI mSOF TERHADAP TINGKAT MATURASI OOSIT G Ciptadi; T Susilawati; B Siswanto; Helli N. Karima
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.095 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas supplementasi hormon gonadotrophin pada medium kultur maturasi sel terhadap tingkat pematangan oosit kambing secara in vitro. Materi yang digunakan adalah oosit kambing immature, FBS (GIBCO), NaCL Fisiologis 0,9%, mSOF, FSH, LH, hCG,PMSG (Intervet) Streptomicyn, Penicillin (Meiji),. Oosit kambing diperoleh dengan aspirasi ovarium kambing dari RPH Sukun – Malang. Ovarium dibawa dalam termos suhu 38 0C, diaspirasi folikel berdiameter 2 – 6 mm. Evaluasi didasarkan expansi cumullus oophorus dan keberadaan first polar body. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan dilanjutkan dengan uji BNT, pada masing-masing perlakuan penambahan hormon .Hasil menunjukkan bahwa tingkat maturasi oosit kambing berdasarkan pengamatan ekspansi cumullus oophorus adalah 54% (FSH + LH) dan 44% (PMSG + hCG). Tidak ada pengaruh penambahan hormon yang berbeda terhadap tingkat maturasi. Tingkat maturasi berdasarkan first polar body adalah 64,5% (FSH + LH) dan 68 % (PMSG + hCG). Hasil analisa statistika tidak menunjukkan pengaruh penambahan hormon yang berbeda. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan hormon FSH + LH dan  PMSG + hCG tidak berbeda nyata. Disarankan menambahkan hormon PMSG + hCG untuk maturasi in vitro pada medium mSOF karena harga hormon tersebut lebih murah dan perlu dilakukan mengenai ukuran penambahan dosis hormon yang sesuai. Kata Kunci: medium m SOF, IVM, Gonadotrophin, Oosit, Kambing   THE EFFICIENCY OF GONADOTROPHINB SUPPLEMENTATION OF MSOF MEDIUM ON THE MATURATION RATE OF IMMATURE OOCYTE IN VITRO.   Abstract The aims of the research is to stydy effectifity of gonadothrophin supplementation on maturation rate of immmature oocyte of goat in vitro. Immature oocyte was isolated from 2-6 mm diameter of folicles. Medium stock was suplemented with different treatment of Gonadotrophin : mSOF, FSH, LH, hCG (Intervet), PMSG (Intervet) Streptomicyn (Meiji), Penicillin (Meiji), Maturation rate was evaluated base on the cumulus oocyte  expantion and fisrt polar body extruction.  Result showed that there are no significant effect of hormomal suplementation on mSOF medium, wich  cumulus expantion of  54% (FSH + LH) dan 44% (PMSG + hCG). Meanwhilebase on extruction of first polar body was 64,5% (FSH + LH) dan 68 % (PMSG + hCG). It was conluded that hormonal treatment resulted in not diffetent effect to maturation rate . Suggested to, for practical purposes, using   PMSG + hCG  for IVM for the reason of in expensive and feasibility of hormone.   Key words: medium m SOF, IVM, Gonadotrophin, Oosit, Goat
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG KETELA RAMBAT (Ipomea Batatas L) SEBAGAI SUMBER ENERGI TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI AYAM PEDAGING FASE FINISHER Heli Tistiana; Osfar Sjofjan
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.911 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengunaan tepung ketela rambat sebagai sumber energi pakan ayam pedaging periode finisher terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot dan konversi pakan, berat karkas dan berat lemak abdominal. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 80 ekor ayam pedaging jantan Strain Lohman Platinum umur 21- 35 hari dengan berat awal 866,77± 7,449 gram. Metode yang digunakan adalah metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, yakni pakan kontrol, penggantian dengan ketela rambat 10%, 20% dan 30% pakan sumber energy (jagung). Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, berat karkas dan berat lemak abdominal. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan tepung ketela rambat sebagai sumber energi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap komsumsi pakan, berat karkas dan berat lemak. Sementara pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan dan konversi pakan menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pemberian tepung ketela rambat sebanyak maksimal 10% sebagai sumber energy masih bisa memberikan hasil yang cukup baik terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, berat karkas dan berat lemak abdominal.  Disarankan penggunaan tepung ketela rambat sebagai sumber energi proporsinya kurang dari 10 persen dari total pakan. Kata Kunci: energi, tepung ketela rambat, penampilan ayam pedaging   The Influence of Cassava Flour (Ipomea Batatas L) as Energy to Broiler Performance ABSTRACT This research was conducted to determine the influenced of the adding chromium picolenate on feed to broiler performance. Method of this research was experimentally design which used ninety six male chickens Lohman strain in the 4 x 5 Completely Randomized Design. There was four level of the using cassava flour (Ipomea batatas L) on feed (P0 = 0, P1 = 10%, P2 = 20%, P3 = 30% ). Variables measured were feed intake, live weight gain, feed conversion, carcass weight and abdominal fat weight,.   The yield research shoat that utilizing cassava flour as source of energy to feed consumption, carcass weight dnd abdominal fat weight  had not give significant effect (P > 0,05).  But in body growth and feed conversion gave the significant  effect to (P< 0,01). The research yield can be concluded that utilizing cassava flour as source energy up to 10% step (PI).  The utilizing cassava flour recommended as source energy proportion last than 10% from total feed. Key Words: energy, cassava fllur, Broiler performance
PENGARUH PENAMBAHAN KACANG KEDELAI ( Glycine max ) DALAM PAKAN TERHADAP POTENSI REPRODUKSI KELINCI BETINA NEW ZEALAND WHITE MENJELANG DIKAWINKAN S. M Hadi Saputra; Sri Minarti; M. Junus
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.08 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan kacang kedelai dengan tingkatan yang berbeda di dalam pakan kelinci betina New Zealand White menjelang dikawinkan terhadap service per conception (S/C), lama kebuntingan dan litter size. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelinci jenis New Zealand White betina umur 6-8 bulan sebanyak 12 ekor dan jantan 2 ekor dengan rata-rata bobot badan adalah 2653,08 gram. Pakan yang digunakan adalah kacang kedelai, sawi, dan pollard. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan. Dilakukan dengan 3 perlakuan pakan yang berbeda dimana P0 sebagai kontrol, P1= pakan kontrol + 30gram kedelai, dan P2 = pakan kontrol + 60gram kedelai. Variabel yang diamati adalah Service per Conception, Lama Kebuntingan, dan Litter Size. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kacang kedelai tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap service per conception, lama kebuntingan dan litter size (P>0,05).   Kata kunci : kacang kedelai, flushing, penampilan reproduksi kelinci New Zealand White. EFFECT OF SOYBEAN (GLYCINE MAX) AS FLUSHING FEED ON REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF NEW ZEALAND WHITE DOES ABSTRAK The purpose of this research was to know the effect of soybean (Glycine max) as a flushing feed on reproductive performance of New Zealand White does. Research materials used were 12 New Zealand White does. The used roughage was Chinese cabbage (Brassica rugosa), while the concentrate were pollard and soybean (Glycine max). Research method was experiment based on Randomized Block Design With 3 treatments. Dietary treatment used were : P0 (control feed without soybean), P1 (control feed without soybean 30 g), and P2 (control feed with soybean 60 g).  The variables observed are service per conception,mating interval and litter size. The result showed that there was no significant effect (P > 0,05) of All treatments. Concluded that soybean meal is not appropriate as a flushing feed of New Zealand White does.   Key words : soybean, flushing, reproductive performance,does New Zealand White
PRODUKTIVITAS KAMBING HASIL PERSILANGAN ANTARA PEJANTAN BOER DENGAN INDUK LOKAL (PE) PERIODE PRASAPIH Moch Nasich
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.448 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis performan produksi kambing hasil persilangan antara pejantan kambing Boer dengan induk kambing Lokal di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi peternak kambing maupun pemerintah yang berkeinginan mengembangkan kambing Boer dan atau keturunannya. Dari 630 ekor anak kambing hasil persilangan Boer dengan Lokal (PE) yang di lahirkan, diamati litter size, berat lahir, dan berat sapih (3 bulan). Analisis data dilakukan secara deskriptif, hasilnya adalah rata-rata litter size 1,54+0,58 ekor; rata-rata berat lahir anak tunggal, kembar dua, tiga dan empat berturut-turut adalah  3,56+0,69 kg, 2,88+0,61, 2,63+0,43  dan 1,4+0,32 kg; rata-rata berat lahir jantan adalah 3,26+0,72 kg dan betina 3,09+0,74 kg. Rata-rata berat sapih anak kelahiran tunggal, kembar dua, tiga dan empat adalah 16,4+3,8 kg, 12,47+3,32 kg, 10,51+2,41 kg dan 8,93+3,04 kg, sedangkan rata-rata berat sapih jantan 14,28+4,24 kg dan betina 12,86+3,6 kg. Rata-rata pertambahan berat badan (PBB) untuk periode pra sapih adalah 122,97+43,68 g/hari untuk jantan dan 108,16+36,35 g/hari untuk yang betina.  Sedangkan untuk kelahiran tunggal, kembar dua, tiga dan empat berturut-turut adalah 141,2+41,82 g/hari, 105,93+34,78 g/hari, 87,71+25,27 g/hari dan 83,87+30,36 g/hari. Dari hasilpenelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa Litter size, berat lahir, berat sapih dan PBB kambing hasil persilangan Boer dan Lokal (PE) lebih tinggi bila dibandingkan dengan kambing Lokal (PE).   Kata kunci: Kambing hasil persilangan Boer dengan Lokal (PE), litter size, berat lahir berat sapih dan pertambahan berat badan.     PREWEANING PRODUCTIVITY OF CROSSBRED BETWEEN BOER GOATS WITH LOCAL GOAT (PE) ABSTRACT The aim of this study to determine and analyze performance of crosses goat production between Boer goats and Local parent goats (PE). The study is expected to provide information for the goat farmers and government who wish to develop and Boer goats or their crossbred.  630 head kids from crosses Boer goats with the Local (PE) were birth, observed the litter size, birth weight and weaning weight (3 months). Data analysis was performed with descriptive, the result are the average of litter size is 1.54 + 0.58 head, average birth weight of single kids, twins, triplets and four  are 3.56 + 0.69 kg, 2.88 + 0.61, 2.63 + 0.43 and 1.4 + 0.32 kg respectively; average birth weight for male and females were 3.26 + 0.72 kg and 3.09  + 0.74 kg. The average weaning weight of kid single-born, twins, triplets and quadruplets were 16.4 + 3.8 kg, 12.47 + 3.32 kg, 10.51 + 2.41 kg and  8.93 + 3.04  kg respectively, while the average weaning weight of male and female are 14.28 + 4.24 kg and 12.86 + 3.6 kg. The average of body weight gain for pre-weaning period was 122.97 + 43.68 g/day for males and 108.16 + 36.35 g/day for the females. As for single births, twins, triplets and quadruplets is 141.2 + 41.82 g/day, 105.93 + 34.78 g/day, 87.71 + 25.27 g/day and 83.87 + 30.36 g/day respectively. From this result of research, it can be concluded that the litter size, birth weight, weaning weight and the body weight gain crossbred Boer goats and Local goats (PE) was higher than the Local goat (PE).   Keywords: Boer Goats Crossing, litter size, birth weight, weaning weight and Body weight gain.
PENGGUNAAN TELUR ITIK SEBAGAI PENGENCER SEMEN KAMBING Moh Nur Ihsan
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.573 KB)

Abstract

ABSTRAK   Suatu penelitian untuk mengetahui penggunaan kuning telur itik sebagai pengencer semen kambing telah dilakukan. Diharapkan akan dapat memberikan informasi tentang kemungkinan penggunaan kuning telur itik dalam  pengencer semen kambing Boer. Penelitian dilakukan dengan metode percobaan dengan sampel semen kambing Boer. Semen diencerkan dengan menggunakan tris aminomethan kuning telur, masing-masing dengan konsentrasi kuning telur itik 0, 10, 20 dan 30% dengan pengamatan  banyak 20 kali. Pengamatan meliputi motilitas, viablitas, abnormalitas. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis ragam menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap. Disimpulkan bahwa  ternyata kuning telur itik mampu digunakan sebagai bahan pengencer semen cair kambing Boer dengan konsentrasi terbaik 30 persen.   Kata kunci: motilitas, abnormalitas, viabilitas dan semen Kambing Boer   UTILITY EGG DUCK FOR BUCK SEMEN DILLUTER   ABSTRACT   The research with aim to study using egg yolk duck for semen goat dilluter was carry out. It was expected can predict optimum dose of egg yolk duck for maintaining cooling semen quality of Boer Goat. Research was conducted by experiment method, with Boer goat  semen sample. Semen diluted with egg yolk tris amino methan  use  dose 0, 10, 20 and 30 %, with 20 times observation. Variable observed is sperm motility, viability, abnormality before freezing. The obtained data analyzed with analysis of variance.         It was concluded  that sperm motility 20-30%  egg yolk is good concentration for artificial insemination with cooling semen.   Key words: motility, abnormality, viability, semen Boer goat
VIABILITAS SPERMATOZOA KAMBING BOER PASCA PENDINGINAN DAN PEMBEKUAN MENGGUNAKAN PENGENCER DASAR TRIS DENGAN LEVEL TREHALOSA YANG BERBEDA Nurul Isnaini
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.288 KB)

Abstract

ABSTRAK Penyimpanan semen bisa dilakukan dengan pendinginan atau pembekuan. Setelah pendinginan atau pembekuan viabilitas spermatozoa akan menurun. Untuk dapat mempertahankan viabilitas spermatozoa selama pendinginan atau pembekuan diperlukan krioprotektan dengan level tepat. Trehalosa merupakan krioprotektan ekstraseluler yang mampu menstabilkan membrane dan sebagai anti oksidan bagi spermatozoa selama pendinginan dan pembekuan sehingga diharapkan dapat mempertahankan viabilitas spermatozoa. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah peranan trehalosa pada level yang berbeda dalam pengencer dasar tris mampu menekan penurunan viabilitas spermatozoa kambing Boer selama pendinginan dan pembekuan? Tujuan  dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh berbagai level trehalosa dalam pengencer dasar tris terhadap viabilitas spermatozoa kambing Boer setelah  pendinginan dan pembekuan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium. Penelitian terdiri atas 2 tahap. Tahap I. Pengaruh level trehalosa dalam pengencer tris terhadap viabilitas spermatozoa kambing Boer setelah pendinginan. Tahap 2. Pengaruh level trehalosa dalam pengencer tris terhadap viabilitas spermatozoa kambing Boer setelah pembekuan. Level trehalosa yang dicobakan pada masing-masing tahap adalah: 1,5%; 2,5% dan 3,5%, dan ulangan: 10 kali. Variabel yang diamati adalah viabilitas spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa level trehalosa berpengaruh terhadap viabilitas spermatozoa, baik setelah pendinginan maupun pembekuan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam pendinginan dan pembekuan semen kambing Boer, masing-masing penambahan level 1,5% dan 2,5% dalam pengencer dasar tris menghasilkan viabilitas spermatozoa yang optimal. Dari hasil penelitian disarankan bahwa dalam pendinginan dan pembekuan semen kambing Boer sebaiknya ditambahkan trehalosa masing-masing 1,5% dan 2,5% dalam pengencer dasar tris agar mendapatkan viabilitas spermatozoa yang optimal.   Kata kunci: viabilitas spermatozoa, trehalosa, pendinginan, pembekuan, kambing Boer VIABILITY OF BOER GOAT SPERMATOZOA AFTER COOLING AND FREEZING USING TRIS-BASED-SOLUTION SUPPLEMENTED WITH DIFFERENT LEVEL OF TREHALOSE ABSTRACT Semen storage could be conducted in cold or frozen condition. However, during this storage the viability of spermatozoa decreases continuesly. For maintaining viability of spermatozoa during this period, the use of optimal cryoprotectants is sometimes efficient. Trehalose is one of extracellular cryoprotectants that shows capability for stabiling of spermatozoa membrane during cooling and freezing process, and it was expected to be a protectant agent from spermatozoa damage. The problems in this study were: How does the role of trehalose at different level in tris-based-solution minimize the decrease of spermatozoa viability during cooling and freezing? The objectives in this study were to study the role of different levels of trehalose in tris-based medium on the viability of spermatozoa in Boer goat semen after cooling and freezing. This study was designed as an experimental laboratory study. The research consisted 2 steps. While the Step 1, studied the effect of trehalose level in tris-based medium on the viability Boer goat spermatozoa after cooling. Step 2, studied the effect of trehalose level in tris-based medium on the viability Boer goat spermatozoa after freezing. As the levels of trehalose of 1.5%; 2.5% and 3.5% were applied in this research. The results of Step 1 and 2, showed that the level of trehalose statistically affected the spermatozoa viability. It was concluded, that the trehalose levels for resulting optimal spermatozoa viability after cooling and freezing were 1.5% and 2.5%, respectively. In suggestion, for the bettet results in the cooling and freezing of Boer goat spermatozoa, trehalose should be supplemented of 1.5% and 2.5%, respectively, in tris-based medium. Key words: spermatozoa viability, trehalose, cooling, freezing, Boer goat

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 2 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 1 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 2 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 1 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 2 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 1 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 2 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 1 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 2 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 1 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 2 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 1 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 2 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 1 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 2 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 1 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 2 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 1 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 16, No 1 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 2 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 1 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 14, No 2 (2013): Ternak Tropika Vol 14, No 1 (2013): Ternak Tropika Vol 13, No 1 (2012): Ternak Tropika Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 11, No 2 (2010): Ternak Tropika Vol 11, No 1 (2010): Ternak Tropika Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika Vol 7, No 2 (2007): Ternak Tropika Vol 6, No 2 (2007): Ternak Tropika More Issue