cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 505 Documents
A Retrospective Study: Trichomoniasis Umi Miranti; Dwi Murtiastutik
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-6

Abstract

Background: Trichomoniasis is sexually transmitted infection caused by Trichomonas vaginalis. It caused urethritis on male and vaginitis on female. Purpose: To find out the general description of new patient of Trichomoniasis in Sexually Transmitted Infection Division, Departement of Dermato-veneorology of Dr. Soetomo General Hospital Surabaya from Januari 2008 to December 2012. Methods: Retrospective study method was performed by evaluating medical record of Trichomoniasis patient including the patient's visitation, age, gender, marital status, occupation, patient's complain, periode of illness, coitus suspectus, sexual partner, the history of previous treatment, the description of genital discharge, laboratory examination, management, and follow up. Results: There were 31 patients with Trichomoniasis. The majority of age was 25-44 years old. The most complained is itching genital discharge, and the most characteristic is purulent. Trichomonas vaginalis was found in all patients on wet preparation. 12 patients did not return to the hospital anymore. Conclusions: Based on 5 years data in medical record, most of patient complained about itchy genital discharge, and the most characteristic is purulent. In all patient's found Trichomonas vaginalis in wet preparation and the main therapy of trichomoniasis is metronidazole.Key words: trichomoniasis, sexually transmitted infection, retrospective study.
Efikasi Seramid, Mentol, dan Polidokanol dibandingkan Jeli Petrolatum terhadap Keparahan Dermatitis Atopik Ringan Dewi Nurasrifah; Menul Ayu Umborowati; Diah Mira Indramaya; Iskandar Zulkarnain; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.295 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.91-97

Abstract

Latar Belakang: Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kompleks dengan gejala klinis berspektrum luas. Penyakit ini ditandai dengan gejala gatal yang dominan sampai dapat mengganggu kualitas tidur, dan dapat menyebabkan infeksi sekunder. Patogenesis DA meliputi gangguan sawar kulit, faktor lingkungan, agen infeksius, dan abnormalitas sistem imun. Gangguan sawar kulit menjadi faktor utama yang harus diperbaiki salah satunya dengan pemberian pelembap seawal mungkin. Tujuan: Membandingkan efikasi pelembap yang mengandung seramid, mentol, dan polidokanol dengan jeli petrolatum pada pasien DA derajat ringan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental analitik dengan menggunakan metode uji klinis acak terkontrol tersamar tunggal, membandingkan terapi pelembap yang mengandung seramid, polidokanol, dan mentol dengan pelembap jeli petrolatum pada pasien DA anak dan dewasa dengan derajat keparahan ringan yang dinilai melalui indeks scoring of atopic dermatitis (SCORAD). Hasil: Penghitungan nilai SCORAD sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok perlakuan atau kontrol memiliki perbedaan yang tidak  signifikan  dengan nilai p>0,05. Simpulan: Pemberian kedua jenis pelembap dapat menurunkan derajat keparahan SCORAD pada pasien DA.
Penggunaan Kalsineurin Inhibitor sebagai Imunomodulator Topikal pada Terapi Dermatitis Atopik Nadia Wirantari; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 2 (2014): BIKKK AGUSTUS 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.525 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.2.2014.1-7

Abstract

Latar belakang: Dermatitis atopik (DA) adalah inflamasi kronis yang kambuh-kambuhan pada kulit. Kortikosteroid topikal adalah terapi topikal lini pertama pada DA tetapi terdapat efek samping dalam penggunaan jangka panjang seperti atrofi kulit. Akhir-akhir ini kalsineurin inhibitor topikal (KIT) digunakan sebagai terapi DA. Tujuan: Memberikan pengetahuan tentang profil, mekanisme kerja, efektivitas, dan efek samping topikal kalsineurin inhibitor sebagai imunomodulator terapi DA. Tinjauan pustaka: Manifestasi klinis DA adalah gatal dan lesi kulit eksematus kronik dan kambuh-kambuhan. Pengobatan DA tergantung keparahan gejala. Kebanyakan kasus membutuhkan emolien untuk kulit kering dan kortikosteroid topikal saat kambuh. Kalsineurin inhibitor sebagai imunomodulator topikal telah disetujui oleh FDA sebagai terapi DA. Sediaan KIT terdapat dua macam, yaitu salep takrolimus sediaan 0,1% dan 0,03%, serta krim pimekrolimus 1%. Cara kerjanya melalui inhibisi kalsineurin, yang menghambat aktivasi sel T dan produksi sitokin proinflamasi. Banyak penelitian yang membandingkan KIT dengan plasebo, kortikosteroid topikal dan satu sama lain, dan telah menunjukkan efektivitas dan keamanan KIT sebagai terapi DA. Simpulan: KIT efektif dan aman untuk terapi lini kedua DA. Takrolimus dan pimekrolimus memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan plasebo, dan lebih rendah dibandingkan kortikosteroid topikal. Takrolimus lebih efektif dari pimekrolimus, dan dapat digunakan untuk DA yang lebih berat, namun dengan efek samping yang lebih besar.Kata kunci: dermatitis atopik, kalsineurin inhibitor topikal, takrolimus, pimekrolimus.
Kadar Kortisol Serum Pasien Eritema Nodosum Leprosum (ENL) Baru Prida Ayudianti; Sunarso Suyoso; Diah Mira Indramaya
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 2 (2014): BIKKK AGUSTUS 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.925 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.2.2014.1-7

Abstract

Latar belakang: Eritema nodosum leprosum (ENL) yang merupakan komplikasi serius dari kusta tipe multibasiler, merupakan bentuk reaksi hipersensitivitas tipe III menurut Gell dan Combs. Karakteristik reaksi ENL adalah peningkatan sitokin proinflamasi TNF-a dan IL-1. Pelepasan sitokin proinflamasi kronis dapat menyebabkan gangguan produksi kortisol. Tujuan: Mengevaluasi kadar kortisol serum pasien kusta dengan ENL baru, berdasarkan lamanya pemberian Multidrugs Therapy (MDT) dan derajat keparahan ENL. Metode: Dilakukan pemeriksaan kadar kortisol serum terhadap 14 pasien ENL baru, yang berusia 15 tahun, belum pernah mendapat terapi kortikosteroid atau telah mendapatkan terapi kortikosteroid maksimal 3 minggu. Hasil: Didapatkan 14 sampel dengan rerata kadar kortisol serum pada pasien BL 9,06 (SE 2,84) g/dL, tipe LL 8,83 (SE 3,37) g/dL, pasien ENL baru yang mendapat MDT < 6 bulan 2,11 (SE 0,51) g/dL, mendapat MDT 6 bulan 14,40 (SE 2,65) g/dL, pasien ENL dengan derajat keparahan ringan 19,05 (SE 0) g/dL, sedang 7,75 (SE 2,75) g/dL, berat 8,56 (SE 3,29) g/dL. Nilai normal kadar kortisol serum adalah 10 g/dl ( 276 nmol/l). Simpulan: Pasien kusta tipe MB dengan ENL baru didapatkan rerata kadar kortisol serum dibawah normal. Hasil yang sama juga didapatkan pada pasien dengan riwayat pemberian MDT < 6 bulan yang memiliki derajat keparahan ENL sedang dan berat.Kata kunci : eritema nodosum leprosum, kortisol serum, MDT, derajat keparahan.
Pure Neural Leprosy Verdy Verdy; Arief Budiyanto; Agnes Sri Siswati
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 27 No. 1 (2015): BIKKK APRIL 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.927 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V27.1.2015.70-76

Abstract

Background: Pure neural leprosy (PNL) is an infection by Mycobacterium leprae with clinical manifestation as nerve thickening, sensory nerve impairment, with or without motoric nerve involvement, and without skin lesion. Pure neural leprosy causes progressive degeneration of nerve function. Diagnosis establishement of PNL is difficult. Purpose: To discuss about PNL especifically in aspects of the diagnosis and therapy. Reviews: Gold standard in diagnosis of PNL is histopathological examination from nerve biopsy but this procedure is still difficult for various reasons. Some investigations can be done for PNL such as cytological fine needle aspiration, Mitsuda test, serology test for antibody anti-PGL1, electroneuromyography (ENMG), and polymerase chain reaction (PCR). Pure neural leprosy classification is based on findings of abnormality in neurological, immunological, and histopathological. Pure neural leprosy therapy is based on the classification of paucibacillary or multibacillary. Conclusions: The clinical and epidemiological findings plus with the electroneuromyography alteration were finally accepted as sufficient criteria to diagnose PNL. Pure neural leprosy therapy follows WHO regiment in accordance with the paucibacillary or multibacillary classification.Key words: pure neural leprosy, Mycobacterium leprae, nerve biopsy, anti-PGL-1, electroneuromyography.
Efektivitas Penambahan Terapi Klindamisin dengan Peeling Asam Laktat dan Iontoforesis Natrium Bikarbonat pada Akne Vulgaris Niken Kusumaningrum; Sri Awalia Febriana; Dwi Retno Adi Winarni
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.32 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.93-99

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris merupakan masalah jangka panjang, sehingga memerlukan waktu terapi yang lama. Terapi tambahan diperlukan untuk mencegah resistensi antibiotik topikal. Peeling asam laktat dan iontoforesis natrium bikarbonat merupakan modalitas terapi yang dapat digunakan sebagai terapi tambahan.Tujuan: Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas terapi klindamisin gel 1% dengan penambahan peeling asam laktat 40% dan iontoforesis natrium bikarbonat 8,4% pada akne vulgaris derajat ringan sampai sedang. Metode: Penelitian ini merupakan single blind randomized controlled trial, subjek siswa laki-laki Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Yogyakarta dengan akne vulgaris derajat ringan-sedang berusia 18-19 tahun. Subjek dibagi dalam 3 kelompok (masing-masing 23 orang) secara acak, yaitu (A) terapi peeling asam laktat 40% dan klindamisin gel 1%; (B) terapi iontoforesis natrium bikarbonat 8,4% dan klindamisin gel 1%; dan (C) kontrol dengan terapi standar klindamisin gel 1%.  Efektivitas terapi dinilai berdasarkan penurunan jumlah lesi akne pada pengamatan selama 4 minggu. Hasil: Penambahan terapi klindamisin dengan peeling asam laktat dan iontoforesis natrium bikarbonat pada akne vulgaris derajat ringan-sedang efektif menurunkan lesi komedo tertutup (p<0,05), namun perbandingan efektivitas penambahan peeling asam laktat dan iontoforesis natrium bikarbonat tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan: Penambahan terapi  klindamisin dengan peeling asam laktat dan iontoforesis natrium bikarbonat efektif menurunkan lesi akne vulgaris derajat ringan-sedang. Tidak terdapat perbedaan efektivitas peeling asam laktat dibandingkan iontoforesis natrium bikarbonat sebagai terapi tambahan topikal klindamisin gel untuk akne vulgaris derajat ringan-sedang.
Profil Spesies Candidapada Pasien Kandidiasis Oral dengan Infeksi HIV&AIDS Tewu Walangare; Taufiq Hidayat; Santosa Basuki
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.055 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-7

Abstract

Latar belakang:Sampai saat ini di Indonesia keberadaan spesies Candida non-albicanssebagai penyebab Kandidiasis Oral pada pasienHIV&AIDS belum banyak diteliti. Spesies ini dapat menyebabkan masalah pada penatalaksanaanya.Tujuan: Mengetahui profil spesies Candidadan jumlah sel CD4 pada pasien kandidiasis oral dengan infeksi HIV&AIDS Metode:Desain penelitian adalah deskriptif observasional potong lintang. Penelitian dilakukan selama tigabulan mulai Juli2012 di RSUD Dr.Saiful Anwar Malang. Sesuai dengan kriteria penerimaan dan penolakan pasien didapatkan jumlah sampel sebesar dua puluh tujuhsubjekpenelitian yang terdiri dari delapan belas pria dan sembilan wanita. Identifkasi spesies Candidadengan tigametode yaitu kultur Cornmeal Tween80, uji fermentasi karbohidrat, dan kultur media CHROMagar Candida. Penentuan jumlah sel CD4 dengan metode flowcytometri.Hasil: Ditemukan spesies C. albicans88,8%,C.glabrata 7,4%, dan C.tropicalis 3,8%. Perbandingan C.albicansdan C. non-albicanssebesar 8:1. Jumlah sel CD4 pada rentang 1-285 sel/mm3. Jumlah sel CD 4 terbanyak pada kelompok < 200 sel/mm3 85,2%diikuti kelompok CD4 200-350 sel/mm3 14,8%. Jenis Spesies pada kelompok CD4 < 200 sel/mm3 adalah C.albicans, C.glabarata, dan C.tropicalis. Kelompok CD4 200-350 sel/mm3 spesies C.albicansdan C.glabrata.Simpulan: Pada penelitian ini C.albicansmerupakan spesies terbanyak yang ditemukan pada pasien Kandididasis oral dengan infeksi HIV&AIDS. Kata Kunci:kandidiasis oral, spesies Candida, HIV&AIDS.
Management of Drug Eruption in Dermatovenereology Ward of Dr. Soetomo General Hospital Surabaya: Retrospective Study Dyah Ratri Anggarini; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 27 No. 1 (2015): BIKKK APRIL 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.387 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V27.1.2015.1-8

Abstract

Background:  Drug eruption is a skin alteration with or without the involvement of other organ, which appeared after administration of drug at dose used for prevention, diagnosis, or treatment. The mechanism divided into 2 groups, which are type A (can be predicted) and type B (can not be predicted). Purpose:  To evaluate the management of drug eruption in Dermatovenereology Ward at Dr. Soetomo General Hospital Surabaya. Methods: Retrospective study of drug eruption's patients was performed based on medical records within 2009-2011. Basic data, history of allergies, previous medical history, suspected drugs, diagnosis, and previous treatment were recorded. Results: The largest age group is 25-44 years, ratio of women and men is 1.4: 1, most suspected drugs as the cause of the eruption were paracetamol (59), amoxicillin (23), cefadroxil (17). Most common diagnosis was Steven-Johnson syndrome (SJS) as many as 23.4%, the most widely used treatment was steroids, and the average treatment duration was 10 days. Drug patch test (DPT) was conducted to determine the exact cause of drug eruption as the follow up. Conclusion: Drug eruptions can occur in varying degrees, potential to recur, and life-threatening thus appropriate treatment to prevent it is required. Management included given treatment, patient education regarding drug eruption causes, type of eruption, and DPT to determine the cause of drug eruption.Key words: drug eruptions, management, drug patch test (DPT), retrospective study.
Perbedaan Tipe Human Papilloma Virus antara Human Immunodeficiency Virus Positif dan Negatif pada Pasien Kondiloma Akuminata Anogenital Silvia Wilvestra; Qaira Anum; Isramiarti Isramiarti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.535 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.130-137

Abstract

Latar belakang: Kondiloma akuminata anogenital adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa anogenital. Prevalensi kondiloma akuminata anogenital meningkat setiap tahunnya, terutama pada pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hingga saat ini masih sedikit penelitian mengenai tipe HPV pada kondiloma akuminata anogenital di Indonesia. Tujuan: Mengevaluasi perbedaan tipe HPV antara HIV positif dan HIV negatif pada pasien kondiloma akuminata anogenital di RS Dr. M. Djamil, Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional cross sectional comperative study yang bersifat analitik. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Tipe HPV dideteksi menggunakan polymerase chain reaction (PCR). Hasil: Terdapat 24 subjek penelitian pasien kondiloma akuminata anogenital dengan HIV positif dan HIV negatif. Kelompok usia terbanyak adalah ≥18 – 25 tahun. Jumlah pasangan seksual terutama multipel, dan 75% merupakan lelaki seks lelaki (LSL). HPV tipe 16 merupakan tipe terbanyak pada pasien kondiloma akuminata anogenital dengan HIV positif (100%) dan HPV tipe 6 pada pasien dengan HIV negatif (66,67%). Infeksi HPV multipel lebih banyak ditemukan pada pasien dengan HIV positif dibandingkan dengan HIV negatif. Simpulan: Terdapat perbedaan tipe HPV antara HIV positif dan HIV negatif pada pasien kondiloma akuminata anogenital. 
Correlation of Expression p16 on Genital Wart Lesions with Various Degrees of Cervical Dysplasia Asri Rahmawati; Damayanti Damayanti; Cita Rosita SP; Hans Lumintang
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.416 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-7

Abstract

Introduction: Infection of Human Papillomavirus (HPV) can cause condylomata acuminata. High-risk HPV types have proteins E6 and E7 called “oncoprotein” for its role in the occurrence of cancer. E7 protein causing no active bond pRb and E2F is regulated by CDK inhibitors, such as p16INK4a . Overexpression p16INK4a could be obtained from pre cancerous lesions. Pap smear, the standard screening method, is performed to detect early malignancy of the cervix, but have low sensitivity. The presence of tumor markers, p16INK4 ,will help early detection of malignancy. Purpose: To evaluate the profile of p16INK4a expression in condylomata acuminata lesions with various degrees of cervical dysplasia. Methods: Discriptive, observational, cross seetional study by performed p16INK4a immunohistochemical examination in lesions condylomata acuminata and cytologic examination on cervical biopsy. Results: Results of cervical cytology (pap smear) from 18 samples showed Low-grade Squamous Intraepithelial Lesions (LSIL) in 10 patients (55.6%) and Negative for Intraepithelial Lesion or Malignancy (NILM) in 8 patients (44.4%). Immunohistochemical examination obtained p16INK4a expression with score of 1 (sporadic) in 8 patients (44.4%), with score of 2 (focal) in 7 patients (38.9%) and with score of 3 (diffuse) in 3 patients (16.7%).  From 3 patients with diffuse expression of p16INK4a , 2 patients (66,6%) showed LSIL from cytology cervix and 1 patient (33,3%) revealed NILM. Spearman correlation test results showed no significant correlation between p16INK4a expression in cervical dysplasia with p = 0.24 (p> 0,05). Conclusion: There were three samples of diffuse, with most of Low-grade Squamous Intraepithelial Lesions (LSIL) in cervical dysplasia, it indicates there is a potential of p16INK4a as a marker of malignancy in condylomata acuminata. Key words : condylomata acuminata, p16INK4a , cervical dysplasia.